[EXOFFI FREELANCE] Universe in His Eyes (Chapter 13)

Universe in His Eyes POSTER

Title        : UNIVERSE IN HIS EYES – Chapter 13

Author        : Arifia Pahlawan (Wattpad: @arifiart)

Length        : Chaptered

Genre        : AU, Friendship, Romance, School-life.

Rating        : PG 17

Main cast    :

Oh Serin (OC)

Do Kyungsoo (EXO)

Byun Baekhyun (EXO)

Park Chanyeol (EXO)

Additional cast:

Park Yoora (Chanyeol’s older sister)

Yeri (Red Velvet) as Kim Yeri

Summary    : Serin bertemu dengannya lagi, pemilik mata tajam yang selalu membayangi pikirannya selama bertahun-tahun. Ia selalu ingin menghindar dari ingatan akan lelaki itu, namun semesta justru membuat Serin semakin terjebak dengannya.

Disclaimer    : This story is from author’s imagination. All cast are belong to God, parents, and agencies. OC and the whole story were come from author’s mind. Don’t plagiarize and repost this story without author’s permission. Also don’t forget to leave comment after reading and your like is really appreciate me. Thank you so much and happy reading! ❤

Previously:

Chapter 1Chapter 2Chapter 3Chapter 4Chapter 5Chapter 6Chapter 7Chapter 8Chapter 9Chapter 10Chapter 11Chapter 12

“Ini salahku karena tidak mampu mengendalikan perasaanku padamu.”

CHAPTER 13

-Friend Zone-

Chanyeol benar-benar tidak bisa tidur. Ia sudah membolak-balik tubuhnya berulang kali dan terus mengganti posisi tidurnya di kasur. Terkadang ia menutup wajahnya dengan selimut namun beberapa detik kemudian ia menendang selimut itu karena merasa terlalu panas. Entah apa yang sedang mengganggu pikirannya saat ini.

Untuk ke sekian kalinya ia terus teringat dengan kalimat Serin saat ia menjemputnya di bandara. Tiba-tiba sekali gadis itu berkata bahwa ia telah berpacaran dengan lelaki bernama Do Kyungsoo yang selama ini ia ketahui bahwa Serin sangat tidak menyukainya. Ia pun begitu, ia juga tidak suka pada lelaki itu hanya karena Serin juga tidak menyukainya. Entah sejak kapan dan bagaimana bisa keduanya tiba-tiba memiliki hubungan seperti itu.

Aaaah! Gadis itu, kenapa sih ia tidak pernah cerita sebelumnya?

Bukan hanya ia saja yang kaget bukan main dengan perkataan Serin, Baekhyun pun juga begitu. Malah ia lebih syok karena gadis yang ia anggap sahabat sejak kecil bahkan tidak pernah mengatakan hal itu. Tapi ia sendiri sebenarnya juga tidak tahu apakah Baekhyun benar-benar baru mengetahui hal ini atau justru sebenarnya ia sudah tahu tapi sengaja menutupinya dari Chanyeol? Entahlah, hanya mereka berdua yang tahu pikiran mereka masing-masing.

Chanyeol bangun dari tempat tidurnya. Dengan gusar ia pergi menuju dapur, membuka kulkas dan mengambil sebotol minuman bersoda dan menuangkannya ke gelas. Diteguknya minuman itu dengan cepat hingga ia tersedak dengan sendirinya. Chanyeol batuk dengan keras karena gas yang terkandung dalam minuman itu masuk ke dalam kerongkongannya dengan cepat, hingga ia tak sadar bahwa kakak perempuannya sudah datang ke dapur dan melihatnya.

“Kau belum tidur?” tanya Yoora yang melihat Chanyeol sedang terbatuk-batuk akibat minuman bersoda yang diteguknya.

Chanyeol terdiam dan hanya menatap kakaknya.

Gwaenchana?” Yoora kembali bertanya pada Chanyeol karena adiknya tidak menjawab dan hanya diam menatap dirinya.

Yoora merasakan sesuatu yang aneh pada adiknya. Ia datang menghampiri Chanyeol, menarik kursi dan duduk di dekat lelaki itu.

Wae geurae?” tanya Yoora sekali lagi.

Chanyeol menghela nafas. “Nuna…

Waeee?” Yoora menjaga nada bicaranya selembut mungkin.

Adik kesayangannya itu menarik kursi meja makan dan ikut duduk di depannya. Sepertinya ada yang sedang ia pikirkan.

Nuna, pernahkah kau merasa kehilangan saat mengetahui temanmu sudah memiliki pacar?”

Yoora tersenyum. “Tidak lah, aku justru malah senang ketika teman baikku sudah memiliki kekasih. Kenapa aku harus terganggu dengan itu?”

“Aku tidak tahu, tapi entah kenapa aku justru malah merasa terganggu, apalagi aku baru mengetahuinya setelah sekian lama. Temanku itu bahkan tidak memberitahu sama sekali sampai akhirnya ia baru mengatakannya setelah beberapa waktu.”

“Itu kan hak dia ingin memberitahumu atau tidak, apalagi itu mengenai kehidupan pribadinya. Jadi mengapa kau merasa harus mengetahui setiap rahasia yang ia punya?” kata Yoora kemudian meraih sebuah gelas dan menuangkan air ke dalamnya.

Alis Chanyeol mengkerut. “Jadi ia sengaja merahasiakannya padaku?”

“Tidak, bukan begitu maksudnya Chanyeol-ah. Sebaik apapun hubunganmu dengan temanmu, masih ada hal-hal yang tak bisa kau raih hanya karena kau sangat dekat dengannya. Ada hal-hal yang tidak bisa selalu ia katakan padamu walaupun ia sebenarnya sangat percaya padamu. Itu tergantung dari perspektif dia. Kalian adalah dua kepala yang berbeda, jika menurutmu hal seperti itu bisa kau ceritakan dengan mudah pada orang lain, belum tentu ia juga merasa begitu.” jelas Yoora panjang.

“Tapi entah kenapa aku merasa terkhianati–” ujar Chanyeol pelan sambil tersenyum pedih pada dirinya sendiri.

“Kau sangat menyukai temanmu itu ya?” Yoora bisa membaca gelagat adiknya dengan jelas.

Mata Chanyeol mengarah ke sudut lain, ia membayangkan wajah seseorang dan kemudian tersenyum. “Ya, aku sangat menyukainya.”

Yeoja?” tanya Yoora memastikan.

Dengusan pelan keluar dari nafas Chanyeol, ia menaikkan sebelah sudut bibirnya. Tanpa dijawab pun sudah jelas hal itu mampu menjawab rasa penasaran Yoora.

“Aku tahu itu.” kata Yoora dengan nada sedikit menggoda ke Chanyeol. Yoora tahu persis siapa yang dimaksud Chanyeol. Tanpa perlu observasi pun ia sudah mengetahui dengan jelas bahwa itu adalah Serin. Ia tahu betul bahwa adiknya sejak dulu tidak pernah berteman dekat dengan seorang gadis sampai ia bertemu Serin sejak mereka kembali ke Korea.

Mwoga?!” raut wajah Chanyeol berubah panik setelah menyadari kakaknya sudah memasang ekspresi itu pada dirinya. “Ini bukan seperti yang kau pikirkan, nuna.”

Yoora terkekeh. “Memangnya apa yang sedang aku pikirkan? Aku tidak mengatakan apa-apa, kok.” ujar Yoora sambil menahan senyum kemudian berdiri dari duduknya dan hendak meninggalkan Chanyeol. Sebelum Yoora masuk ke kamarnya, ia sempat menoleh balik pada adiknya. “Kalau kau memang menyukainya, seharusnya kau katakan sejak dulu, jangan baru menyesal ketika ia sudah punya kekasih. Kau terjebak dalam hubungan yang buat sendiri Chanyeol-ah.” katanya panjang lalu langsung masuk ke kamarnya.

Chanyeol masih terduduk diam di kursi makan sambil merenungkan kalimat kakaknya barusan.

***

Chanyeol mengikat tali sepatunya dengan malas. Entah kenapa ia begitu tidak bersemangat untuk datang ke sekolah pagi ini. Rasanya ia ingin tidur-tiduran saja di rumah dan bermain video game, tapi hal itu tentu saja tak mungkin bisa dilakukannya karena ibunya sudah pasti akan memarahinya. Ia berdiri sambil membetulkan kerah kemeja seragamnya, Chanyeol menarik nafas dalam-dalam. Kaja! Serunya dalam hati, mencoba mengirim energi positif pada dirinya sendiri.

Ia berjalan ke luar rumah sambil menaruh kedua tangannya di saku celana. Masih pagi tapi sudah terasa begitu panas, sayang sekali di Korea belum memasuki liburan musim panas, sehingga semangatnya sudah menguap duluan karena tidak sabar ingin libur panjang. Chanyeol berjalan melewati persimpangan jalan tempat biasa ia bertemu Serin setiap akan berangkat sekolah, namun ia belum melihat batang hidung gadis itu.

Palingan juga sudah dijemput pacarnya, cih. Kata Chanyeol sok menebak dalam hatinya.

Sayang sekali semesta justru membuat keduanya bertemu di belokan itu. Chanyeol bisa melihat dengan jelas sosok Serin yang sedang berjalan mendekatinya.

“Oh? Chanyeol-ah!” sapa Serin penuh senyum ketika ia tak sengaja melihat Chanyeol di depan matanya. Chanyeol hanya diam di sana dan tidak membalas sapaan Serin. Gadis itu langsung segera datang mendekatinya.

Melihat Serin yang setengah berlari menghampirinya, Chanyeol langsung membalikkan tubuhnya, mengacuhkan Serin dan terus berjalan seperti sedang tidak ada apa-apa. Langkah Serin semakin dekat dengannya dan langsung menepuk pundak lelaki itu.

Yah! Tunggu aku.”

Tidak direspon oleh Chanyeol.

Serin langsung memotong jalan Chanyeol dan berdiri di depannya. “Chanyeol-ah, wae geurae?” tanya penasaran karena lelaki itu mengacuhkan dirinya.

Aniya, amudo eobseo (tidak ada apa-apa).” jawab lelaki itu singkat dan kembali melanjutkan langkahnya.

Chanyeol melangkah begitu saja dan berjalan lurus ke depan melewati Serin yang barusan sedang berdiri di depannya. Serin hanya menoleh dan matanya tidak lepas dari Chanyeol yang baru saja berjalan melengos di hadapannya. Ada apa dengan anak ini?

“Chanyeol-ah…”

Lelaki tinggi itu masih tidak menjawab.

“Ish, Park Chanyeol!!!” panggil Serin keras seperti sedang membentaknya. Sayangnya bentakan itu tidak membuat Chanyeol bergeming. Pemuda itu terus saja berjalan lurus menuju sekolahnya.

Kenapa sih anak itu?

Serin hanya berdecak dan mengerutkan alisnya, ia sungguh tidak mengerti dengan situasi ini.

***

Baekhyun menguap sangat lebar sampai rasanya Serin ingin melempar penghapus ke dalam mulutnya.

“Tutup mulut besarmu itu!” omel Serin yang melihat kelakuan Baekhyun dan benar-benar langsung melemparkan sebuah penghapus padanya, sayang penghapus itu justru malah mendarat kasar di mata Baekhyun.

Yah! Sialan!” teriak Baekhyun kesal karena ia gagal jadi tidak bisa menguap dengan tuntas gara-gara sakit tertimpuk penghapus karet itu.

Serin tertawa terbahak-bahak melihat Baekhyun mengusap kelopak matanya yang kesakitan.

Baekhyun menoleh ke kursi Chanyeol, dilihatnya lelaki itu sedang menyandarkan kepalanya di atas meja. Seperti biasa, Chanyeol pasti tertidur selama jam pelajaran tadi dan sepertinya ia tertidur cukup pulas sampai tak mendengar bel istirahat yang berbunyi sejak beberapa menit yang lalu.

“Oi, Chanyeol-ah.” panggil Baekhyun dari kursinya.

Chanyeol tidak menjawab.

“Park Chanyeol!”

Tubuh Chanyeol tetap tak bereaksi dengan panggilan Baekhyun.

Serin mencolek Baekhyun, ia memberi kode padanya bahwa Chanyeol berperilaku aneh hari ini. Namun Baekhyun tidak mengerti aneh seperti apa yang dimaksud Serin karena ia merasa temannya itu baik-baik saja sepanjang pagi ini.

Akhirnya Serin berdiri dari kursinya, ia menghampiri Chanyeol dan mengguncangkan bahu sahabatnya itu dengan pelan agar ia bangun dari tidurnya. Sesuai dugaan, Chanyeol memang telah tertidur, ia langsung menegakkan punggungnya setelah dibangunkan oleh Serin.

Serin mencoba menjentikkan jarinya di depan wajah Chanyeol yang masih kusut. Pemuda itu hanya diam kemudian menyingkirkan tangan Serin pelan.

“Bangun, sudah waktunya makan siang.” kata Serin pelan sambil memerhatikan wajah lecek Chanyeol.

Belum sempat Chanyeol merespon kalimat Serin, tiba-tiba suara langkah kaki muncul dari depan ruang kelas. Serin menoleh, dilihatnya seorang gadis bertubuh mungil sedang mendekat ke arahnya. Ia memerhatikan gadis itu dengan seksama. Cantik, pikir Serin. Tapi ia sama sekali tak mengenalnya, namun gadis itu masih melangkah penuh percaya diri menuju dirinya. Serin bertanya dalam hati, apakah si mungil ini mengenalnya?

Oppa, annyeong.” sapa Yeri memamerkan senyum manisnya pada Chanyeol.

Serin terus memerhatikan Yeri yang sama sekali tidak menyapanya walau ia sedang berdiri persis di samping gadis itu.

Nugu–

Yeri langsung menoleh ke arah Serin. Yeri menatapnya dengan tajam seolah sedang mengatakan bahwa ia tidak menyukainya. Namun tiba-tiba wajahnya langsung berubah ramah dan tersenyum pada Serin.

Annyeonghaseyo eonni, namaku Kim Yeri dari kelas 1-3.” sapa Yeri tersenyum manis pada Serin.

“O-oh, annyeong.” jawab Serin sedikit gugup. Ia barusan tidak salah lihat kan bahwa raut wajah Yeri tadi benar-benar terlihat sinis padanya.

Oppa, ayo makan siang bersamaku.” ajak Yeri sedikit membungkukan tubuhnya agar wajahnya sejajar dengan wajah Chanyeol.

Chanyeol hanya terdiam, menoleh ke arah Yeri dengan malas. Ia sempat melirik Serin yang sedang ikut melihatnya dari sudut matanya yang lain, namun tatapannya kembali jatuh pada Yeri.

“Ayo.” jawab Chanyeol singkat langsung bangkit dari kursinya.

Jinjja?” Yeri benar-benar sangat terkejut dengan jawaban Chanyeol hingga ia membulatkan matanya lebar-lebar. Benarkah Chanyeol baru saja mengiyakan ajakan Yeri? Luar biasa! Ini pertama kalinya Yeri mendapatkan respon positif dari pria yang sangat ia suka itu.

Tanpa mengatakan apapun, Chanyeol langsung meninggalkan Serin dan Baekhyun yang masih menatapnya heran karena ia lebih memilih makan siang bersama seorang gadis yang selalu ia sebut menyebalkan selama ini. Aneh sekali.

Setelah Chanyeol dan Yeri menghilang dari ruangan kelas, Serin langsung duduk di sebelah Baekhyun. “Yah, apa itu barusan?” tanyanya heran.

Baekhyun menggeleng tidak mengerti.

***

Serin dan Baekhyun baru saja mendapatkan makan siang mereka dan hendak akan mencari meja untuk ditempati, tiba-tiba sudut mata Serin menangkap Kyungsoo yang masih mengantri. Lelaki pendek itu dengan cepat langsung sadar dan menoleh ke arah Serin sambil tersenyum padanya. Ia melihat mulut Kyungsoo memberi kode seperti sedang berucap ‘makan yang banyak’ padanya. Serin mengangguk dan tersenyum kemudian mengikuti Baekhyun duduk di meja makan.

Tanpa sengaja meja makan yang ditempati Serin dan Baekhyun berseberangan dengan meja yang ditempati Chanyeol dan Yeri. Diam-diam Serin mengamati keduanya yang tidak terlihat saling berinteraksi. Yang ia lihat dari tadi hanyalah Yeri yang terus mengoceh sendiri bercerita pada Chanyeol, sedangkan lelaki itu hanya diam dan fokus pada menu makan siangnya.

“Mereka pacaran?” tanya Serin pada Baekhyun.

Baekhyun langsung menoleh ke objek yang dimaksud Serin dan kemudian menggeleng pelan. “Aniya, setahuku Chanyeol tidak menyukai gadis itu.”

“Lalu kenapa bisa begitu?”

“Entahlah, gadis itu memang terobsesi sekali padanya, padahal sudah ditolak berkali-kali. Waktu itu saja Chanyeol terang-terangan sekali menolak si Yeri. Jangankan bertemu, menjawab teleponnya saja tidak pernah mau.” Baekhyun sendiri ikut terheran kenapa sikap Chanyeol mendadak sangat berubah.

Aneh sekali, ia sama sekali tidak terlihat seperti itu. Yang Serin tangkap dari kedua matanya malahan sebaliknya.

“Lalu sejak kapan mereka dekat seperti itu?” tanya Serin lagi yang masih penasaran dengan hubungan Chanyeol dan Yeri.

Baekhyun meletakkan sumpitnya dan menatap Serin kesal. “Berhentilah bertanya soal Chanyeol dan makanlah dulu!” omel sahabatnya itu kesal karena Serin sejak tadi belum menyentuh makanannya sama sekali.

Aigoo… araseo araseo.

Akhirnya percakapan mereka berdua terhenti sesaat dan fokus menghabiskan makan siang masing-masing. Namun mata Serin masih tidak lepas dari Chanyeol dan Yeri. Lelaki itu sungguh mencurigakan, kenapa Chanyeol tiba-tiba saja berubah sinis padanya? Dan lagi, Kim Yeri, sejak kapan mereka dekat begitu? Ia sama sekali tidak pernah menceritakannya pada Serin, bahkan Baekhyun pun tidak pernah mengatakan apapun soal gadis itu. Aneh, ada sesuatu yang salah di sini.

“Ngomong-ngomong, kau belum cerita mengenai hubunganmu dengan Do Kyungsoo.”

Eh? Serin hampir saja tersedak mendengar kalimat Baekhyun barusan.

Mwoga?” tanya Serin sambil tertawa kecil.

“Ceritakan padaku bagaimana kau bisa sampai pacaran dengannya. Apa yang telah kalian perbuat di sana?”

“Kami tidak melakukan apa-apa!” jawab Serin keras.

Heol… kau ini mikir apa? Maksudku, apa yang sudah terjadi sampai membuat kalian bisa sedekat ini? Padahal setahuku kau itu selalu bergidik ngeri tiap mendengar namanya.”

Serin tertawa kecil. Ia berpikir sebentar, mencoba mengingat-ingat hal yang terjadi padanya dengan Kyungsoo. Kasus stalker, Kai, dan ciuman pertamanya dengan laki-laki itu– mendadak wajah Serin bersemu merah, membayangkannya lagi saja ia sudah deg-degan.

“Dan kenapa waktu itu kau melarangku untuk memberitahu Chanyeol saat kau masih dekat dengannya?” tanya Baekhyun bingung. Kenapa kini ia merasa semua sahabatnya memiliki rahasia yang tidak ia ketahui?

Akhirnya Serin menceritakan dari awal bagaimana hubungannya dengan Kyungsoo dapat terjalin. Ia juga mengatakan alasannya kepada Baekhyun mengapa Chanyeol tidak boleh mengetahui itu pada awalnya. Serin sebenarnya tahu kalau Chanyeol tidak menyukai Kyungsoo, pun sepertinya Kyungsoo juga merasakan hal serupa. Ia hanya tidak mau hubungan dengan sahabatnya jadi renggang setelah lelaki itu tahu Serin berpacaran dengan orang yang tidak ia suka. Tapi mau bagaimana lagi, Serin juga tidak bisa terus menahan perasaan bergejolak tiap kali berada di dekat Kyungsoo.

“Baekhyun-ah, apa Chanyeol bersikap begini karena kesal aku pacaran dengan Kyungsoo ya?”

***

Jam sudah menunjukkan pukul empat sore. Sekolah baru saja bubar dan puluhan siswa terlihat berjalan meninggalkan sekolah. Begitupun dengan Chanyeol, dengan santai ia berjalan sendirian pulang menuju rumahnya. Namun ia terkejut setengah mati ketika Serin tiba-tiba saja muncul di hadapannya sambil merentangkan kedua tangannya lebar-lebar.

“Park Chanyeol, ayo kita bicara.”

Serin dan Chanyeol melewati jalan pulang yang biasa mereka lewati bersama. Sunyi. Dari tadi keduanya sama sekali tidak mengatakan apa-apa, hanya suara helaan nafas Chanyeol yang terus terdengar. Sesekali Serin melirik Chanyeol, ingin tahu apakah sahabatnya itu sedang baik-baik saja atau tidak.

“Chanyeol-ah…” panggil Serin pelan, namun Chanyeol tidak menjawab. “Kau- marah padaku?”

Lelaki itu diam.

“Apakah aku berbuat salah padamu?”

Chanyeol tetap diam dan terus melangkahkan kakinya ke depan.

“Apakah aku menyakiti perasaanmu?”

Chanyeol menghentikan langkahnya, menghela nafasnya dengan pelan dan panjang. Sementara Serin tidak sadar dan terus saja berjalan ke depan.

“Oh.” suara berat Chanyeol akhirnya terdengar dari mulutnya. Serin langsung ikut berhenti dan menoleh ke belakang, melihat Chanyeol yang sedang berdiri menatapnya.

Serin mendekati Chanyeol, diraihnya telapak tangan lelaki itu. “Yah, kau sedang ada masalah ya? Maaf jika aku tidak peka.”

Chanyeol merapatkan bibirnya. Ia menarik nafas dalam-dalam. “Aniya, ini semua salahku, Serin-ah.”

Serin mendengakkan kepalanya, ditatapnya wajah Chanyeol yang sedang serius. “Ada apa? Kenapa bisa itu adalah salahmu?” tanya Serin lembut, ia juga merasa bersalah di waktu bersamaan karena telah gagal menjadi sahabat sekaligus pendengar yang baik untuknya. Apakah seberat itu masalah Chanyeol sampai ia tidak bisa mengatakannya sendiri pada Serin?

“Salahku karena…” Chanyeol menelan salivanya. “karena– karena tidak bisa mengendalikan perasaanku padamu.”

Mwo?

“Aku sebenarnya menyukaimu, Oh Serin.”

Serin kehilangan ingatannya selama beberapa detik. Ia mengerjapkan matanya berkali-kali, mencoba menelaah kalimat Chanyeol barusan. Matanya mengarah ke atas menuju raut wajah serius Chanyeol. Apa ini?

“Yah– kau…”

Gwaenchana,” potong Chanyeol cepat. “kau tak perlu memikirkannya, kau juga tak harus membalas perasaanku. Aku tahu kau sudah menjadi milik Kyungsoo.”

Kali ini Serin yang terdiam, ia sama sekali tak mampu berkata-kata. Kalimat yang dilontarkan Chanyeol barusan benar-benar diluar perkiraannya. Ia sama sekali tak menyangka bahwa sahabatnya sendiri akan memiliki perasaan semacam itu padanya. Apa yang harus kulakukan?

Serin merasakan sebuah tekanan yang menyengat di tulang hidungnya, ia ingin menangis. Ia sungguh tidak tahu harus berbuat apa, ia tak pernah berada dalam situasi seperti ini sebelumnya. Bahkan hubungannya dengan Baekhyun, walaupun hubungannya sama-sama dengan lawan jenis, tapi persahabatannya sama sekali tidak pernah masuk ke zona seperti ini. Ia harus mengakui bahwa hubungannya dan Baekhyun lebih seperti saudara, sama halnya dengan ia dan adik kandungnya, Sehun.

Tapi Chanyeol… ia baru sadar bahwa Chanyeol berbeda dengan Baekhyun. Ia tidak berteman dengannya sejak kecil, hubungannya dengan lelaki itu tergolong masih baru. Harusnya ia sadar bahwa kemungkinan seperti ini memang bisa saja terjadi dalam persahabatan antara pria dan wanita.

Serin memegang keningnya, ia sama sekali tidak ingin hubungannya dengan Chanyeol berubah setelah kejadian ini. Ia tidak bisa menerima perasaan Chanyeol, tapi di sisi lain ia juga tidak ingin kehilangannya sebagai sahabat. Kau egois sekali, Oh Serin. Sesalnya dalam hati.

Chanyeol menyentuh bahu Serin. “Mianhae, aku sudah bertingkah kekanak-kanakan hanya karena tidak bisa mengendalikan perasaanku padamu. Sejujurnya aku kesal pada diriku sendiri karena terlambat satu langkah padamu. Aku sungguh menyesal kenapa aku baru menyadarinya sekarang–disaat aku sudah tidak bisa memilikimu.”

Tangis Serin langsung pecah. Ia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Dalam hatinya ia sungguh menyesal sekaligus merasa bersalah karena tidak bisa membalas perasaan itu untuk Chanyeol. Serin sangat menyayangi Chanyeol, tapi hanya sebagai sahabat. Ia sama sekali tidak pernah berpikir untuk memberikannya perasaan layaknya hubungan pria dan wanita padanya.

“Chanyeol-ah, mianhae.” kata Serin di sela tangisnya.

Chanyeol maju selangkah dan segera memeluk Serin. “Sssshhh…” bisiknya pelan. Tangannya mengusap kepala Serin dengan lembut. Ia peluk erat gadis yang ia sukai itu sambil menepuk pelan bahunya agar tangisnya mereka.

Maafkan aku, Chanyeol.

Uljima (jangan menangis). Jangan dipikirkan, jangan merasa terbebani karena perasaanku, jalanilah hidupmu seperti biasa. Aku mau kau bahagia dengan orang yang kau cintai.” bisik Chanyeol berusaha menenangkan Serin agar tidak merasa bersalah padanya. “Jangan khawatir, aku takkan menjauh lagi. Aku akan selalu menjadi sahabatmu.”

Chanyeol sungguh terdengar sangat bijak saat ini, padahal di balik itu semua, Chanyeol sedang menyembunyikan senyumnya yang pedih setelah mengatakan hal itu pada Serin. Tapi ia merasa sedikit lega, paling tidak ia sudah mencoba jujur akan perasaannya. Tak perlu muluk-muluk, bisa melihat Serin setiap hari dan menjaganya sepanjang waktu saja sudah membuatnya bahagia. Ia sudah rela melepas gadis yang ia suka untuk orang lain, kini giliran ia yang harus memastikan bahwa gadis itu tak akan pernah disakiti oleh lelaki manapun. Chanyeol bertekad akan selamanya melindungi Serin.

Mereka tidak sadar bahwa di antara pepohonan itu ada sepasang mata yang telah mengawasi keduanya. Mata itu menatap nanar tajam, dan pemiliknya memutuskan berbalik setelah melihat sang gadis berada di pelukan si pria tinggi. Sepertinya ia tak sanggup berlama-lama melihat adegan itu.

Namun langkahnya mendadak terhenti karena seorang pria dewasa berdiri di hadapannya. Pria itu kemudian tersenyum menatapnya, dirogohnya kantong celana dan mengeluarkan sebuah kartu nama dari dompetnya. Pria asing itu segera menyerahkan kartu nama tersebut pada si pemilik mata tajam itu.

Pemilik sepasang mata elang itu, ya, Do Kyungsoo, menatap bingung si pria dewasa tersebut dan mengamati kartu yang diberikan padanya sekali lagi. Han Semin, SM Entertainment. Kening Kyungsoo terenyit. SM? Bukankah itu adalah perusahaan hiburan terbesar di Korea Selatan?

Ahjussi nuguseyo?” tanya Kyungsoo tidak mengerti.

Pria itu tersenyum padanya. “Aku? Aku adalah orang yang akan membantu membesarkan namamu.”

-To be Continued-

6 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Universe in His Eyes (Chapter 13)”

  1. Galaunya abang ku ini…kasiannnnn…, makanya bang chanyeol..besok2 ada kesempatan,cepet ungkap..jangan lama2, akhirnya disambar orang, gpp sama yeri aja lah..,wow..wow..kayaknya bakal ada yang jadi artis nih.., my baeki.
    g di ajak jadi artis thor..jangan deh tar aq makin jauuuuuuhhh..(pletak..digetok author). Lanjut ya thor..seru..

    1. iya payeh dah si chanyeol, namanya juga kejebak prenjon.
      bacon jadi artisnya entaran dulu deh yaa, lagi sibuk nyabe dia di dapur wkwkwk😜

  2. Dan setelah ini apakah yg akan terjadi???jengjengjeng…..do jd trainee trus waktuny brkurang dg serin..trus chanyeol mulai dekat dg serin…heemmm..tak boleh trjadi…hahahahhaahhahaha
    Mana mana aja lah…yg ga sma serin bisa lmpar ksni satu?kasian drpda mreka d anggurin 🤣🤣🤣🤣
    Fighting!!!😊😑

    1. hahaha aduuuh jadi kakak mau dukung siapa sih nih😂😂😂 biarin aja biar rebutan dulu lagi seru😋

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s