[EXOFFI FREELANCE] I Hate (Love) You (Chapter 6)

I Hate(Love) You 6

Author : Haiwind

cast :

  • Suho
  • Yoo Hana
  • Irene (red velvet)

Duration : chapter

Rating : PG 15+

Genre : Romantic

 Disclaimer : ff ini asli buatan aku. Dan baru di publish di salah satu group fanfict di FB.

Summary

Aku sangat membencimu, sangat… tapi kenapa kau membuatku mencintaimu juga?

-Hana-

Suho

 

Masih dalam posisi yang sama sejak 3 jam yang lalu. Aku masih tetap di ruangan ini berhadapan dengan layar laptopku. Hufft…aku sangat lelah dan ingin rasanya aku mengakhiri semua ini. Aku ingin pulang dan menikmati ranjang empukku.

 

Tapi aku tak bisa melakukannya untuk saat ini. Pekerjaan sialan ini harus segera selesai, ini adalah salah satu dari sekian banyaknya syarat agar aku bisa kembali ke Korea. Dan ini yang terakhir.

 

Ayahku mengatakan kalau aku harus bisa menaikkan harga saham kami sebanyak 3% dalam satu malam ini. Dan kalau berhasil, besok aku bisa kembali ke Korea.

Jelas ini adalah sesuatu yang susah, dan aku sudah berhasil menghadapi lebih banyak kesusahan dari pada ini. 5 tahun terkurung di negara kincir angin ini aku sudah melakukan segala syarat bodoh dari ayahku. Semua itu hanya untuk sebuah kepulangan ke tanah kelahiranku.

 

Tok…tok…

 

Ku dengar suara ketukan dari pintuku dan pintu coklat itu terbuka. Seorang wanita yang sangat tak ku harapkan kehadirannya memasuki ruangan ku.

 

Dia Irene, salah satu makhluk yang harus ada di sisiku karena syarat bodoh dari ayahku. Aku yakin itu bukan ide ayah, ini pasti ide ibu tiriku. Wanita ini adalah tunanganku.

 

“Kenapa aku di sini? Aku sudah katakan tadi kan kalau aku sangat sibuk malam ini, tolong jangan mengangguku!”

 

“Aku tak akan menganggumu, aku hanya ingin menemanimu.”

 

Irene duduk di sofa abu-abu yang ada di ruanganku, dia mengambil ponselnya dari tas dan mulai memainkannya.

 

Biarlah dia di situ, tak masalah selama dia tak mengangguku. Semua ini harus selesai malam ini, saham harus naik dan aku harus kembali besok!

 

Mataku masih tetap memperhatikan layar laptopku, grafik saham perusahaanku perlahan mulai naik. Dan sudah mengejar salah satu perusahaan yang sedari tadi menjadi saingan kami.

 

Dan…ok!

 

Titik pada grafik itu yang menjadi simbol perusahaan kami akhirnya berhasil menembus angka 3 dan bahkan lebih.

 

“Yessss!”

 

Aku berdiri dari kursi kebesaranku sambil bersorak senang. Bukan karena saham perusahaanku yang naik, tapi karena aku akhirnya bisa kembali ke Korea.

 

Seoul I’m come.

 

“Kau berhasil oppa?”

 

Irene berdiri dan menghampiriku. Dia melihatku dengan senang juga. Akhirnya kami bisa pulang.

 

Ya! Sama denganku, Irene juga di tahan di negara ini. Dia juga tak di perbolehkan pulang ke Korea jika dia tak bertunangan denganku.

 

Irene langsung memelukku, bisa ku rasakan air matanya yang membasahi bajuku. Aku tahu dia juga senang dengan kepulangan kami ini.

 

“Gomawo oppa…akhirnya aku bisa pulang, aku rindu keluargaku oppa…gomawo Suho oppa….”

 

Rasa kasihan muncul di hatiku, aku selama ini sangat membencinya bahkan sangat menolak kehadirannya. Tapi jika melihatnya seperti ini, aku rasanya seperti melihat diriku.

 

Sebenarnya aku dan Irene memiliki banyak kesamaan. Dan kami bisa saja cocok bersama, tapi hatiku bukan untuknya.

 

Hatiku masih tetap untuk seorang gadis yang sudah menyembuhkan ku 5 tahun yang lalu. Aku tak perduli dengan kakakku yang menyuruhku menjauhinya dan melupakannya. Bahkan aku juga tahu kalau gadis itu pasti sangat membenciku karena aku sudah menyakitinya tapi aku masih tetap mencintainya.

 

Bukan sebagai pengganti Yoo-Mi tapi sebagai dirinya. Sebagai Yoo Hana.

 

-*******************-

 

Ku hirup dalam-dalam udara Seoul yang terasa memenuhi paru-paruku. Sudah lama aku tak merasakan sejuknya udara negri kelahiran ku ini. Aku sangat merindukannya dan rindu ini sudah terbalas.

 

“Oppa….”

 

Tanganku rasanya berat sebelah, jelas saja Irene sudah menggandengku dengan erat. Dia seperti anak kecil yang yang tak ingin kehilangan ayahnya.

 

“Yak! Jangan menarik tanganku, bisa putus kalau kau terus begini.”

 

Percuma aku menegurnya, dia tak akan mendengarkanku. Dia akan melakukan apa yang di inginkannya. Irene dia ini mengidap princes Syndrome, yang membuatnya selalu merasa paling cantik, paling berharga, paling benar. Dan tak ada yang bisa melarangnya.

 

“Aku ingin begini! Jangan melarangku, atau aku akan menangis!!!”

 

Ohh Tuhan bunuhlah aku! Ku rasa aku tak akan sanggup kalau nantinya harus hidup selamanya dengan wanita ini. 5 tahun bersamanya di Belanda saja rasanya sudah seperti 50 tahun di neraka. Apalagi nanti harus menghabiskan sisa hidupku bersama si gila ini.

 

Ku harap pernikahan kami tak akan pernah terjadi.

 

“Oppa…kau harus menemaniku ke rumah sakit!”

 

“Wae? Kenapa harus ke rumah sakit? Aku mau tidur di apartment ku Irene, aku sudah sangat lelah!”

 

“Andwee! Kau akan menikahiku dan kau harus bertemu seseorang, kita harus meminta restunya!”

 

‘Kita tak akan menikah!’

 

Ingin aku menyuarakan hal ini sekeras-kerasya, tapi aku pasti akan di pulangkan ke Belanda kalau aku mengatakannya. Jangan sampai kerja kerasku di sana sia-sia hanya karena pernikahan konyol ini. Hal seperti ini pasti biasa di kalangan kami.

 

Mobil kami berhenti di salah satu rumah sakit. Dan aku tahu rumah sakit ini.

 

6 tahun yang lalu aku bertemu lagi dengan Hana di tempat ini. Dan aku berharap kami tak akan bertemu lagi.

 

Ya Tuhan, jangan pertemukan kami lagi. Jangan sampai aku melukainya lagi dengan pertemuan kami.

 

Kakiku melangkah memasuki rumah sakit megah ini yang ku ketahui juga salah satu dari milik keluargaku. Paman Kim yang menjadi pemimpinnya di sini.

 

Irene masih saja bergelayut manja padaku, apa dia berencana mengumumkan pada seluruh dunia kalau kami ini pasangan?

 

Ya ampun…aku kesal dengan gadis ini. Ingin rasanya aku menghempaskannya jauh-jauh. Aku sudah bosan dengan tingkahnya ini.

 

“LEPASKAN!!!!”

 

Aku terkejut dengan teriakan dari dalam ruangan itu dan kami berdiri tepat di depan ruangan yang mengeluarkan suara teriakan itu.

 

Irene melepaskan rangkulannya pada lenganku. Dia mengintip ke dalam ruangan melalui kaca kecil pada pintu. Wajahnya tampak sendu dan air matanya mulai mengalir membasahi wajahnya.

 

Aku juga ikut mengintip ke dalam ruangan itu dan aku bisa melihat seorang wanita paruh baya yang berteriak bahkan histeris kepada para perawat yang mencoba untuk memegang tangannya. Wanita itu meronta bahkan memukuli para perawat.

 

Melihat ini, aku seperti melihat diriku sendiri 5 tahun yang lalu saat aku stress karena ulah ibu tiriku. Aku mengepalkan tanganku mencoba untuk menahan amarahku saat mengingat itu semua.

 

Irene membuka pintu kamar inap itu dia menggenggam tanganku membawaku serta ke ruangan itu. Jujur saja, aku tak mau ikut.

 

“Tolong…lepaskan ibuku….” ucapnya lirih.

 

Para perawat melihatnya dengan ragu dan akhirnya mengikuti perintah Irene. Dia mendekati ibunya dan langsung memeluk wanita paruh baya itu.

 

“Eomma….Joo-Hyeon pulang eomma…hiks….”

 

Wanita itu terdiam dia meraih wajah Irene dan memandang putrinya itu dengan sendu bahkan aku bisa melihat air mata yang mulai muncul di pelupuk matanya.

 

“Putriku…Joo-Hyeonku…kau datang? Eomma sangat merindukanmu….hiks….” keduanya menangis dan para perawat pun keluar dari ruangan itu. Mereka mungkin tahu kalau kehadiran Irene sudah menenangkannya.

 

Aku pun turut keluar dari kamar inap itu dan terduduk di bangku yang di sediakan di luar ruangan itu. Menyandarkan kepalaku di dinding sambil menutup mataku.

 

Melihat Irene dan ibunya aku jadi teringat pada ibuku. Ibu yang bahkan tak akan bisa lagi ku lihat, tapi aku merasa lebih baik ibu pergi dari pada harus menderita seperti ibu Irene. Aku tahu mengapa ibunya seperti itu, kisah ibunya tak jauh beda dengan kisah ibuku yang akhirnya meninggal di tangan ayahku.

 

Kami memiliki banyak kesamaan kan?

 

Tapi selain teringat pada ibu, aku juga teringat pada Hana. Saat aku seperti ibu Irene, hanya Hana yang bisa menenangkanku. Hanya dia yang bisa membuatku mengendalikan emosiku. Aku sangat merindukannya juga. Aku rindu dengan ketenangan yang di berikannya padaku.

 

Suara langkah kaki seseorang yang memenuhi indra pendengaranku langsung membangunkanku dari khayalan ku. Aku membuka mataku dan langsung mencari sosok yang menganggu itu.

 

Aku berdiri dan kembali memasuki kamar inap ibu Irene dan aku mendapatkan seorang dokter berambut pendek tengah memeriksa ibu Irene.

 

Aku mendekat dan Irene langsung meraih lenganku, kembali bergelayut manja. Oh tolonglah! Ini sangat menganggu.

 

Aku memicingkan mataku mencoba mengenali dokter itu. Dokter ini tampak tak asing bagiku. Melihat tampak sampingnya saja aku bisa mengenalinya.

 

Dokter itu melihat ke arahku dan Irene.

 

Sejenak dia terdiam saat mata kami bertemu.

 

“Bagaimana dok?”

 

“Emosi beliau tampaknya tadi sedang memuncak, tapi kami sudah memberi obat penenang jadi anda tak perlu khawatir. Dan kami juga sangat bersyukur karena anda datang dan menenangkannya. Sepertinya anda yang di tunggunya.”

 

Dokter itu kembali melihat ibu Irene.

 

“Bagi pasien seperti ibu anda, yang di perlukannya hanyalah seseorang yang bisa menenangkannya. Hanya kedamaian hati yang mereka perlukan. Mereka akan selalu merasa terancam dan histeris karena ketakutan itu dan saat orang yang mereka butuhkan datang, mereka akan tenang bahkan penyembuhan mereka pun akan sangat cepat dengan bantuan orang yang mereka butuhkan. Saya juga pernah menghadapi seseorang yang seperti ini.”

 

Hana…dia Hana ku.

 

Sepertinya Tuhan memang tak ingin mengabulkan doaku, aku dan dirinya kembali bertemu lagi.

 

-*******************-

 

Irene sudah pulang duluan dan aku masih tetap di rumah sakit ini. Paman Kim tadi menahanku dan kini aku berada di ruangannya menunggunya selesai operasi.

 

Pintu ruangan ini terbuka dan paman ku yang terkenal karena kepintarannya ini memasuki ruangan ini dan duduk di hadapanku.

 

“Jadi gimana Belanda?”

 

“Begitulah…tak ada yang special. Aku menghabiskan 5 tahun di sana dengan duduk di balik meja kerjaku mengetik berbagai laporan dan berusaha menaikkan saham juga bertunangan.”

 

Paman Kim tersenyum kecil. Ku rasa dia menertawai diriku yang melakukan semua itu.

 

“Kau menjadi budak ayahmu eoh?”

 

“Ya…begitulah, dia bilang kalau aku berhasil bertahan di sana dan melakukan semua perintahnya aku akan mendapatkan posisi di HK corp saat aku kembali. Dan semua itu juga sebagai syarat agar aku bisa kembali. 5 tahun di sana sangat menyiksa paman.”

 

“Aku tahu rasanya Joon-Myeonna…karena aku juga pernah mengalami itu dulu, saat kakek mu masih hidup. Ayahku sendiri yang menjauhkanku dari Korea agar aku tak menginginkan posisi ayahmu.”

 

Ternyata gen kejam keluarga ku ini sudah turun temurun? Ku harap itu tak turun kepadaku.

 

“Hana…kenapa dia masih di sini?”

 

Paman Kim melihatku dengan tajam. Aku yakin kalau dia pasti sudah tahu apa yang terjadi 5 tahun yang lalu.

 

“Jangan dekati dia lagi! Jangan sakiti dia!”

 

Paman masih menatapku tajam seolah-olah aku ini berbahaya tapi memang benar aku sangat berbahaya bagi Hana. Menjauhi Hana seperti yang di katakan paman memang lah jalan terbaik. Dia dan aku sudah memiliki jalan yang berbeda, jangan sampai aku membuatnya masuk dalam hidupku yang rumit ini.

 

Masih banyak hal yang harus ku lakukan, masih ada dendam yang harus di balaskan dan aku tak mau dia juga terluka dengan segala keserakahan dan keegoisanku.

 

Mencintai mungkin memang tak harus bersama. Membiarkannya hidup dalam ketenangan adalah cara yang benar dalam mencintai.

 

-*********-

 

Hana

 

Jantungku masih saja berdegup kencang bahkan setelah aku meninggalkan kamar inap itu. Semua ini karena Suho. Pria sialan itu kembali lagi!

 

5 tahun tak melihatnya hidupku sudah sangat tenang. Tapi aku kembali bertemu dengannya dan ini adalah bencana. Aku bisa gila karenanya lagi.

 

Masih jelas di ingatanku bagaimana aku menjadi hancur karena dirinya 5 tahun lalu. Aku bahkan melepaskan pria baik seperti Juna hanya karena aku tak bisa melupakannya. Tidak! Aku tidak mencintainya, aku bahkan sangat membencinya. Seluruh nadiku pun berteriak membencinya. Tapi itulah yang aneh aku bahkan sempat berpikir kalau aku mengalami sakit jiwa. Di mana-mana saat kau membenci seseorang kau akan sangat menolakn untuk bertemu dengannya.

 

Tapi aku sangat semangat saat bertemu Suho tadi. Jantungku meneriakkan namanya tadi dan tubuhku merindukannya. Rindu akan kehadirannya dan rindu akan sentuhannya yang sempat ku rasakan.

 

Memang tak sampai pada tahap yang menjijikkan itu tapi pelukannya yang ku rindukan.

 

Oh! Bodohnya diriku karena merindukan pria gila sepertinya. Ingat Yoo Hana! Kau itu sangat membencinya! Sangat! Jangan sampai kalian berhubungan lagi! Ingat itu!

 

Aku mengacak-acak rambutku sambil berjalan. Aku tak memperhatikan jalanku lagi dan membiarkan beberapa orang menabrakku. Aku memang psikiater yang membutuhkan psikiater lainnya.

 

Bukkk….

 

Aww…sakit. kepalaku rasanya berdenyut. Jangan bilang kalau aku menabrak tembok.

 

Ku tengadahkan kepalaku dan….

 

Oh my God! Kesialan sepertinya akan menimpaku lagi.

 

Deg…deg…

 

Bahkan jantung bodoh ini pun bertingkah lagi. Tak bisakah mereka diam sejenak.

 

Oh jangan! Aku bisa mati kalau jantungku berhenti berdetak. Tapi berdetak kencang seperti ini juga tak wajar.

 

Adegan ini seperti di drama saja. Semua ini seperti takdir yang di buat-buat saja. Saat kau hendak menjauhi seseorang tapi di takdirkan untuk bertemu.

 

See you on next chap…..

 

2 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] I Hate (Love) You (Chapter 6)”

  1. Ihhh..thor..TBC pas hana ketemu si suho ya?..namanya takdir..mau di jauhi..mau di benci..pasti bakal kembali seperti semula..,,semangat thor..

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s