[EXOFFI FREELANCE] (IM)PERFECT: Third Page

Damchuu Presents

( I M ) P E R F E C T

| Oh Sehun x Park Hyojin |

| School-life, Fluff, Hurt, AU |

| Series / PG-15 |

| DISCLAIMER: This story and characters are fictitious. Certain long-standing institutions, agencies, and public offices are mentioned, but the characters involved are wholly imaginary. |

Look from every side she is perfect. Perfect daughter for her parents, perfect student for her teacher. Also. Perfect demon for her nightmare.

Previous: [First Page] [Second Page]

 

oOo

“Aku tidak suka uang.”

“Lalu apa?”

How if you date with me?

Hyojin lantas berdecih mendengar hal itu. Ia tahu ada banyak laki-laki brengsek di dunia ini, hanya saja ia tidak pernah berpikir akan bertemu dengan salah satu dari mereka, “Lalu selanjutnya apa? Kita berkencan dan kau akan menutuskanku tiga hari kemudian?”

“Apa?”

“Jujurlah padaku, kau sedang kalah taruhan dengan Chanyeol kan?”

Jantung Sehun berpacu dengan cepat. Tidak, bukan seperti ini rencananya. Seharusnya gadis itu sekarang sedang mengangguk dengan pipi yang bersemu merah. Sehun memutar otaknya, mencari alasan yang tepat untuk berkelit dari tuduhan Hyojin. Sayangnya efek dari keterkejutannya barusan tampaknya memperlambat kerja otaknya. Menyadari tidak ada tempat untuk mengelak lagi Sehun lantas menghela nafasnya pelan, “Terlalu kentara ya?” ucapnya yang dibalas dengan sebuah anggukan mantap dari Hyojin.

That obvisious. Perpustakaan, mobil, lalu ajakanmu barusan.” Hyojin menyeringai, “Walaupun sebenarnya aku mendengar dari beberapa gadis tempo hari. Tapi tidakkah kau pikir caramu terlalu picisan?”

Gadis ini tidak bodoh.

Seharusnya Sehun menyadarinya dari awal.

“Picisan, ya?” Sehun menerawang, tertawa singkat dengan kedua tangan yang berkacak pinggang, “Aku tidak percaya akan dikatai seperti ini oleh seorang gadis.” Hei, ia bahkan dijuluki cassanova oleh teman-temannya di SMP dulu, tapi ini?

“Aku pulang.” Tanpa ingin tahu lebih dalam lagi, Hyojin mengabaikan sindiran laki-laki di depannya itu dan beranjak pergi. Namun belum sempat ia berbalik, Sehun lebih dulu menahan tangannya agar tidak pergi.

“Kau pulang? Setelah semua ini?” tanyanya menggebu.

Hyojin mengangguk sembari menepis tangan Sehun yang tidak mau melepaskan genggamannya, “Jangan salahkan aku jika rencana picisanmu itu gagal.”

Menyerah dengan semua tingkah keras kepala Hyojin, Sehun lantas memilih mengalah. Ia melepaskan genggamannya sembari mendengus sebal, “Baiklah, kuakui rencanaku memang picisan. Tapi kau ingat kau masih punya hutang padaku kan?”

“Terserah.”

Tanpa mendengarkan perkataan Sehun, Hyojin lantas melangkahkan kakinya pergi. Hal tersebut lantas membuat Sehun menggeram kesal. Sedari tadi ia sudah berusaha mengalah tapi tampaknya Hyojin sama sekali tidak peduli. Kelewat kesal, Sehun lantas berkata, “You’re a fox, isn’t it?

“Apa maksudmu?”

First, you act like a little cat, then you turn into a fox.” Sehun menyeringai. Rencananya berhasil. Hyojin mulai mau mendengarkannya.

Hyojin tahu jelas makna dari perkataan Sehun barusan. Rubah? Ia hanya mengungkapkan fakta yang ada sebelum semuanya menjadi lebih buruk. Baiklah, ia memang hampir jatuh pada perangkap awal laki-laki itu—ia juga gadis normal yang pasti akan meleleh jika diperlakukan seperti itu—tapi bukan berarti ia sengaja bersikap seperti itu. Ia hanya baru menyadari niatan brengsek Sehun ketika mereka mengobrol tadi. Dan bisa-bisanya Sehun menyebutnya rubah?

I’m not a fox,” ucap Hyojin tegas.

Sehun baru saja akan membalas ucapan Hyojin, jika saja ponselnya itu tidak berbunyi kemudian menampilkan sebaris huruf yang berisi perintah mutlak dari seseorang, “Aku harus pulang.” Sehun memasukkan ponselnya ke dalam saku, “Hutangmu padaku masih belum lunas, ingat itu!”

“Terserah!”

oOo

Hidup memang terlalu random untuk dikatakan semulus kulit Yoona. Setelah ditampar ibunya, mobilnya tiba-tiba mogok sehingga harus mencari montir dadakan yang berakhir dengan sebuah perdebatan dengan Sehun. Bahkan ketika ia sampai di rumah Nara, ia harus rela mengubah rencana karena Nara terus membobardirnya dengan ratusan pertanyaan yang menyebabkan mereka gagal pergi ke bioskop.Jadi disinilah mereka, menonton film di kamar Nara ditemani oleh sebuah kripik kentang. Hyojin tentu saja protes. Ia sudah menunggu berbulan-bulan hingga film Pitch Perfect ini dirilis, tapi Nara dengan mudahnya mengubah rencana.

“Kau benar-benar sudah gila.” Entah sudah keberapa kali Nara mengatakan hal yang sama dengan gestur yag sama pula. Tangannya kembali memasukkan keripik ke dalam mulutnya tidak peduli jika di dalam sama masih banyak yang belum sempat dikunyah.

“Diamlah,” ucap Hyojin dengan mata yang menatap lurus televisi. Ia terlalu malas untuk berdebat saat ini. Terlebih Nara yang biasanya menjadi moodmaker tiba-tiba berubah menjadi moodbreaker sesaat setelah ia menceritakan tentang Sehun seharian ini.

“Jika aku jadi kau, maka akan kukencani terlebih dulu Oh Sehun itu.” Nara mengarahkan jari telunjuknya pada Hyojin, “Lagipula kau juga aneh sih. Kemarin kau senang bukan main ketika bertemu dengannya di perpustakaan, setelah itu kau berubah 180°. Jangan salahkan dia kalau memanggilmu rubah.”

Heol, kau membelanya?”

“Aku tidak membelanya!” Nara berteriak frustasi yang dibalas oleh sebuah dengusan kesal oleh Hyojin, “Ngomong-ngomong, kau benar-benar tidak mau pulang?”

Hyojin menggeleng.

“Jangan terlalu sering bertengkar,” peringat Nara. Nadanya mendadak berubah melembut bak seorang kakak, “Ibumu pasti juga punya alasan sendiri untuk itu.”

“Tapi setidaknya mereka juga harus meminta pendapatku terlebih dulu.”

Then go talk to her.

Hyojin menghembuskan nafasnya kasar. Menbanting kripik yang ada di tangannya, Hyojin kemudian membuang muka dari televisi. Film di depannya kini seakan tidak menarik lagi, “I can’t,” ucapnya lirih.

“Sebuah keluarga seharusnya saling terbuka satu sama lain kan?” Ah, Hyojin benci ini. Saat di mana Nara selalu bisa memaksanya pulang dengan rayuannya. Seharusnya ia tidak kabur kemari jika pada akhirnya hanya akan kembali setelah beberapa jam.

“Baiklah, aku pulang.” Menyerah, Hyojin akhirnya berucap demikian setelah sekian lama terdiam. Setelah benar-benar memantapkan hatinya, ia kemudian bergegas menggapai kunci mobilnya, meninggalkan Nara yang kini tengah membuat finger heart dengan kedua tangannya sebagai bentuk semangatnya.

Hyojin mengendarai mobilnya dalam keheningan malam. Jarak rumahnya dengan rumah Nara memang sedikit jauh. Dengan kecepatan normal mungkin akan memakan waktu sekitar 15 menit. Namun entah bagaimana perjalanan panjang itu terasa begitu singkat kali ini. Hyojin bahkan bisa melihat rumahnya sudah berada di ujung jalan.

Gelap, kesan pertama yang didapati Hyojin ketika memasuki rumahnya. Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam, tentu saja semua orang sudah berada dalam mimpinya masing-masing. Dengan langkah megendap-endap Hyojin naik ke kamarnya. Belum sampai ia berjalan lima langkah, suara berat dari ruang tamu membuatnya sedikit tersentak. Dengan takut-takut ia berjalan mendekati asal suara itu. Matanya membelalak mengetahui siapa yang tengah duduk disana.

Dad …,” ucapnya terbata. Great mom! Your last card always calling dad.

“Duduk!” Titah ayahnya tegas. Dengan takut-takut Hyojin menuruti perintah ayahnya itu. Pria yang menjadi lawan bicaranya itu kembali mengisap sebatang rokok di tangannya. Ekspresinya sulit ditebak, namun jelas sekali beliau tengah berusaha meredam amarahnya. Gerak-gerik itu sudah menjadi tontonannya selama 17 tahun terakhir. Hyojin sudah dapat mengira apa yang akan terjadi padanya setelah ini.

“Darimana saja kau?”

“Rumah Nara,” jawab Hyojin dengan susah payah, berusaha agar tidak terlihat lemah dengan memperlihatkan suaranya yang bergetar.

“Kau masih berhubungan dengan gadis bodoh itu?” ucapnya mencibir, “Jauhi dia! Karenanya nilaimu turun.”

“Ta.. Tapi-“

Ayahnya menaruh lembaran ulangannya di atas meja, “Kita sudah sepakat sebelumnya. Jika nilaimu turun kau akan menerima semua konsekuensinya. Jadi apa masalahnya?” Suara berat nan tegas itu perlahan menyayat Hyojin.

“Aku tahu. Tapi cukup dengan semua omong kosong tentang les, aku muak dengan semua itu.”

“Lalu kau mau apa? Membiarkan nilaimu itu terus turun?”

“Aku akan belajar lebih giat.”

“Cih, alasan klasik itu lagi. Kau tahu, untuk mendapat posisi pertama giat saja tidak cukup.”

Tentu saja, Hyojin sudah mengira hal ini akan terjadi. Mana mungkinayahnya akan mengiyakan secepat itu.

“Aku tidak mau ikut les itu.”

“Apa kau sedang belajar menjadi gadis pembangkang?”

“Tidak! Tapi mengertilah, aku itu manusia bukan robot yang bisa kau kendalikan sesuka hatimu. Aku juga butuh istirahat. Tidakkah kau belajar dari kesalahan pertam—AKH!” Hyojin menjerit di kala bilah rotan itu mengenai punggungnya. Rasa panas dan sakit itu berkumpul menjadi satu. Entah bagaimana lagi menggambarkannya.

“Diam! Berani sekali kau berbicara seperti itu!” Dan sebuah pukulan lain mengenai punggungnya. Tidak ada lagi ekspresi datar seperti tadi. Wajahnya kini berubah bak monster yang siap menerkam putrinya sendiri. Mukanya merah padam. Bahkan otot-otot di lehernya sampai keluar ketika ia mengangkat rotan itu tinggi-tinggi. Malam itu begitu sepi. Ibunya yang biasanya ikut keluar menonton pertunjukan heboh di ruang tamu juga tidak tampak hari ini.

“Kau anakku, tentu saja. Tapi tidakkah kau ingat siapa yang sudah menghidupimu selama ini? Seharusnya kau berterima kasih padaku, bodoh!” Lagi, rotan itu menerjang punggungnya tanpa ampun. Hyojin ingin berteriak, menangis, atau setidaknya merintih kesakitan. Sayangnya jika ia melakukan itu sama saja menggali kuburannya sendiri karena ayahnya pasti akan semakin gencar memukulinya. Sehingga satu-satunya pilihannya adalah bertahan dalam kebisuan.

oOo

Hyojin mengerjapkan matanya ketika cahaya matahari perlahan masuk. Lampu kamarnya yang masih menyala menjadi pemandangan pertamanya pagi ini. Tubuhnya remuk. Ia bahkan heran bagaimana dirinya bisa berakhir di sini ketika kebanyakan pelayan lain yang bernasib sama sepertinya sudah terlebih dulu masuk UGD. Dengan susah payah, Hyojin berusaha bangkit dari kasurnya. Punggungnya terasa kaku. Ia yakin, warna ungu bercampur darah kini tengah berjejer rapi di sana.

Ketika sudah mendapatkan kesadarannya sepenuhnya, ia baru menyadari jika ibunya kini tengah berdiri di ujung kasurnya dengan pandangan sengitnya, “Cepat bangun! Kudengar kau ada ulangan fisika pagi ini. Jangan sampai terlambat ke sekolah!”

Oh, seriously? Setelah semua yang terjadi tadi malam ibunya masih tega mengatakan hal ini?

Hyojin hanya membalas dengan deheman singkat. Dengan tertatih, ia berjalan menuju kamar mandi, menbiarkan semua lukanya tersiram oleh air dingin.

 

Hyojin turun dari kamarnya. Ia melirik ke maja makan. Kosong. Hanya ada beberapa pelayan yang sedang membersihkan piring-piring kotor. Orang tuanya pasti sudah berangkat bekerja sekarang. Hyojin menghembuskan nafasnya kasar. Terkadang rumahnya terasa lebih kejam dari neraka.

-oooOooo-

 

What do you think about Hyojin’s father? Actually, I want make him more cruel than this, but failed (I think I need to look some book to reference)

Also published on:

https://justdamchuu.wordpress.com/ (Personal blog) and https://www.wattpad.com/story/116878757-im-perfect-osh (Wattpad)

Regards,
Damchuu

27 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] (IM)PERFECT: Third Page”

  1. Kalau jadi hyojin dipaksa kaya gitu, aku bakalan stress abis… Pliss deh nilai segitu dibilang rendah, apa jadi nasip nilai ku 😥

  2. Aku kira bapanya diem diem tapi masih bisa dengerin omongan hyojin tapi ternyata lebih parah:(
    Pengen mati aja kalo aku jadi hyojin

  3. Kasian banget rencana Sehun gagal. Hahaha.. terlalu meremehkan Hyojin sih. Tapi aku juga gk nyangka loh kalo Hyojin bkalan seberani itu sama Sehun, pokoknya dia bukan gadis sembarangan 🙂
    aku ngeri bayangin kehidupan Hyojin apa dia gak tertekan??

    1. Of course, nggak ada orang yg nggak tertekan kalo diperkakukan kaya gitu. Sebenernya ada kok di chap 1, si Nara bilang kalau Hyojin sampai drop

  4. Ngeri banget klo punya orang tua kaya gitu. Untung adanya cuma di fiksi or drama, eh di dunia nyata juga ada sih.

    Tuh kan Hyojin gk gampangan, aku suka klo pemeran cewe sifatnya tangguh gini nih, tpi klo udah cinta mah gk tau ya.. Wkwk

    1. Namanya juga fiksi, aku aja ini terinspirasi dari drakor 🤣 Eh, masa di dunia nyata beneran ada?

      Wkwk, aku nggak suka kalo sifat pemeran cewenya lempeng-lempeng, rasanya gimana gitu… :v

  5. Itu..ortunya hyojin..ortu kandung bukan sih thor..atau ada rahasia..yang ternyata si hyojin bukan anak mereka..makanya..maksa banget nyuruh belajar.belum keliatan nih siapakah yg jadi “ksatria kuda putih” buat hyojin..biar ada tempat to hyojin berkeluh kesah..kasian…,lanjut thor..i like this story..

    1. Gimana yaa… liat aja nanti :v

      Kesatria putih yaa, nanti deh aku buat lebih jelas. Padahal sebenernya udah aku kasih clue disini :v

  6. Nyesek loh, klo jadi Hyojin. Udah kena tampar emaknya, terus ini bapaknya pake ngerotan..
    Belum lagi Sehun, si abang pedes bgt ngomongnya. Ngatain Hyojin rubah.. Padahal dia juga nyebelin.. >_<
    Berharap ada seseorang yg bisa jd sandaran buat Hyojin. *Chanyeol, ku mengandalkanmu..

    1. Makannya aku kasih judul cerita ini (IM)Perfect, tentang Hyojin yang dituntut sama orangtuanya jadi sempurna di segala aspek. Tapi namanya juga manusia, pasti nggak ada yang sempurna kan? (gaada yg nanya -_-) oke abaikan 🤣🤣

      Kalo sandaran, sebenernya kalo kamu teliti di chapter ini orangnya udah kujelasin secara gamblang (atau emang kurang jelas aku jelasinnya?) :v

  7. Jadi pengen nabok bapaknya..syebek deh eyke..makny juga ga kalah nyebelin..😑
    Etapi..ntr jadiny deket sma chan chan apa sehun sih???chanyeol kyaknya tak ada pergerakan berarti deh..
    Fighting 😊

    1. Ditabok aja gapapa, Hyojin-nya ikhlas kok :v
      Enaknya deket sama siapa yaa?? Wkwk, ditunggu aja masih banyak yang belum keluar 😊

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s