[EXOFFI FREELANCE] Our Story (Chapter 5)

Our Story [Chapter 5]

aliensss

Genre : au, drama, romance, friendship, sad/hurt, school life

Length : Chaptered

Rate : T

Cast:

Park Chanyeol (exo) ǁ Oh Sehun (exo) ǁ Kim Sae Jin (oc) ǁ Kim Ah Ra (oc)

etc

Summary

Chapter 5

Him

Her

Disclaimer : ide cerita dan alur asli milik saya. Cast milik Tuhan YME dan semua yang berhak atas mereka. Terinspirasi dari berbagai sumber (cerpen, novel, ff, film, dan lagu). Dibuat untuk hiburan semata. Cerita yang masih banyak kekurangan, kesalahan ejaan, alur yang aneh, penokohan yang kurang maksimal dsb, jadi harap maklum.

Komentar anda akan sangat membantu…

♣ ♣ ♣

Sae Jin sedang membaca sebuah buku diperpustakaan siang itu. Dua temannya lebih memilih menghabiskan waktu mengobrol di kelas. Perkembangan lainnya, Sehun dan Ah Ra jadi semakin sering menghabiskan waktu berdua sekarang. Kembali pada Sae Jin, gadis itu tampaknya terlalu focus dengan bukunya hingga tak menyadari seseorang sudah duduk didepannya sejak lima belas menit yang lalu. Meski pemuda itu juga sedang menatap buku didepannya, tapi perlu diketahui ia tak benar-benar sedang membaca. Ia diam-diam mencuri pandang pada Sae Jin yang sama sekali tak terusik akan kehadirannya.

“hey, Sae Jin” tak tahan diabaikan lagi, pemuda yang tak lain adalah Chanyeol itu pun bersuara. Dia Park Chanyeol

Sae Jin pun menatap Chanyeol. Sae Jin terkejut. Tapi yang Chanyeol lihat hanyalah ekspresi tak beremosi dari gadis itu.

“kau? Kenapa kau disini?” tanya Sae Jin mencoba menyembunyikan gugupnya.

“kau tahu sejak kapan aku sudah duduk disini?” balas Chanyeol sambil menutup buku Sae Jin. Ia tak mau bersaing lagi dengan buku itu
“aku sudah disini sejak enam belas menit lalu. Dan kau bahkan tak sadar akan itu” ucap Chanyeol

“lalu?”

“…” Chanyeol diam. Benar. Sae Jin benar. Memangnya kenapa Sae Jin harus menyadari kehadirannya?
“kau menyebalkan” Chanyeol berucap dengan ekspresi tak terbaca yang berhasil memacu jantung Sae Jin untuk berdetak lebih cepat. Ekspresi macam apa itu? Tampan? Sejak kapan Sae Jin pandai menilai pria?

“ma_maafkan aku. Aku tak bermaksud bersikap menyebalkan padamu” Sae Jin merasa menyesal. Ia juga takut Chanyeol akan marah padanya. Jika saja dia bisa bicara semanis Ah Ra, Chanyeol pasti tak akan menyebutnya menyebalkan seperti tadi

“sekarang kau tambah menyebalkan dengan wajah menyesal seperti itu” Sae Jin terkejut akan ucapan Chanyeol barusan. Darimana pria ini tahu Sae Jin sedang menyesal?

“lalu aku harus bagaimana?”

“apanya?”

“aku harus bagaimana agar tak menyebalkan dimatamu?”

“oh, kau tak ingin terlihat menyebalkan dimataku? Kenapa?” Chanyeol berucap dengan sedikit tersenyum. Ternyata Sae Jin lumayan mudah untuk di jahili, pikirnya. Chanyeol tentu saja tak benar-benar menganggap Sae Jin menyebalkan. Setidaknya bukan menyebalkan yang seperti itu.

Sae Jin menggigit bibirnya. Ia baru sadar jika sudah salah bicara. Oh, Sae Jin ingin segera berlari dari hadapan Chanyeol sekarang. Dia malu. Apa tadi yang sudah ia katakan?

“kenapa kau tak ingin terlihat menyebalkan dimataku, Sae Jin?” Chanyeol kembali bertanya dan semakin memojokkan Sae Jin

“bisakah kau tak bertanya lagi? Kepalaku rasanya mau pecah, karena tak bisa mengucapkan jawabannya”

“kenapa tak bisa kau ucapkan?”

“…” Sae Jin diam. Gadis itu memilih mengajak kedua mata Chanyeol beradu. Dia memang tak bisa mengucapkan alasan kenapa ia tak ingin terlihat menyebalkan dimata Chanyeol. Tapi semoga saja jika ia menatap Chanyeol seperti sekarang, pemuda itu bisa tahu.

‘karena aku takut kau tak akan mau tersenyum padaku lagi’

Sae Jin mengucapkan kalimat tadi di dalam hati sembari masih menatap mata Chanyeol

Satu menit kemudian Chanyeol memilih menatap bukunya dan mengakhiri adu pandang antara dirinya dan Sae Jin. Pemuda itu lalu menutup bukunya dan berdiri. Sae Jin mendongak dengan bingung, saat Chanyeol juga kembali menatap padanya

Dia orangnya.

“aku suka Sae Jin yang menyebalkan itu, percayalah” ucap Chanyeol sembari tersenyum sangat manis. Tidakkah Chanyeol tahu senyumannya itu sudah membuat Sae Jin ingin berteriak.

Tapi sepertinya Sae Jin bukan hanya ingin berteriak. Ia ingin meledak ! Karena setelah mengucapakan kalimat tadi, Chanyeol malah mendaratkan tangannya diatas kepala Sae Jin dan mengusapnya dengan lembut.

“aku pergi dulu, kurasa aku bisa gila jika terus didekatmu” Chanyeol pun pergi meninggalkan perpustakaan

“Tuhan, apa kau menghukumku dengan cara seperti ini? Jika benar, kau berhasil. Aku merasa akan mati sekarang juga” Sae Jin bersungut sambil meletakkan kepalanya diatas buku. Gadis itu lalu menepuk-nepuk dadanya seakan dengan begitu detakan jantungnya yang menggebu itu bisa berhenti.

Sementara itu, di ruangan kelas yang terisi beberapa siswa karena jam istrahat yang belum usai, Ah Ra dan Sehun masih asyik dengan obrolan mereka. Tak jarang Ah Ra tertawa karena Sehun yang melemparkan lelucon payah.

Sehun diam-diam menatap lama pada Ah Ra yang masih tertawa. Cantik? Tentu saja. Sejak mereka menjadi siswa baru di sekolah ini, Ah Ra adalah satu-satunya gadis yang berhasil menarik perhatian Sehun. Ah Ra cantik dan semua sikap manisnya membuat Sehun menyukai gadis itu.

“Sehun !” Ah Ra setengah berteriak karena sedari tadi Sehun tak menyahut saat ia panggil, “kau melamun?”

“tidak”

“bilang saja iya. Kau sedang melamunkan apa? Atau jangan-jangan kau sedang takjub dengan kecantikanku. Sudahlah Sehun, kau tak perlu heran. Aku memang secantik itu” Ah Ra berkata dengan percaya diri

“astaga, kau gadis mengerikan” Sehun berpura-pura tak setuju dan bergidik. Padahal dalam hati ia juga setuju dengan apa yang Ah Ra katakan

Tak lama obrolan mereka berhenti karena Sae Jin yang baru saja duduk dibangkunya. Gadis itu kembali membaca bukunya.

“Sae Jin, kau tak bosan membaca terus?” Ah Ra berucap sembari mengamit salah satu lengan Sae Jin

“lepaskan tanganku, Ah Ra. Kepalaku sedang sakit” Sae Jin menarik lengannya dari Ah Ra dan berhasil  membuat Ah Ra cemberut. Satu hal yang sampai sekarang Ah Ra tak tahu sebabnya, Sae Jin selalu merasa tak nyaman saat orang lain menyentuhnya. Bahkan jika itu hanya tak sengaja. Karena hal ini juga Ah Ra tak bisa leluasa memeluk temannya itu. Paling-paling Ah Ra hanya bisa memukul Sae Jin, tidak pernah lebih.

“kau bohong, kepalamu sakit tapi kau membaca buku” kata Ah Ra

“karena kepalaku sakit maka aku membaca buku” jelas Sae Jin lagi

“kau tidak ke UKS?” tanya Sehun pada Sae Jin

“tidak perlu, aku hanya butuh suasana tenang sebentar saja” Sae Jin menutup bukunya dan menatap Ah Ra malas, “tapi sepertinya tak akan bisa” kata Sae Jin menyindir Ah Ra

“yaah, aku bisa diam jika memang kau mau. Orang sakit kepala butuh obat, tapi kau malah butuh ketenangan. Apa dengan begitu sakit kepalamu bisa hilang?” ketus Ah Ra

“lihat? Kau tak bisa tidak berisik” balas Sae Jin lagi

Sembari Sae Jin dan Ah Ra bicara Sehun mengeluarkan sebuah headphone dari tasnya beserta pemutar music miliknya.

“jam istirahat akan sedikit lebih lama karena guru-guru kita sedang rapat. Kurasa kau bisa tidur sebentar disini” kata Sehun sembari berdiri. Ia kemudian memasangkan headphonenya pada Sae Jin, “jangan berkomentar apapun, aku sudah sangat baik karena meminjamkan ini padamu” Sehun memperingatkan Sae Jin sebelum menekan tombol play.

Sae Jin tak tahu lagu apa yang diperdengarkan Sehun padanya. Tapi lagu itu bisa membuatnya merasa tak ada suara apapun lagi di dunia ini selain suara dari headphone tadi.

“orang sepertimu mendengarkan lagu begini?” kata Sae Jin mengejek. Gadis itu kemudian meletakkan kepalanya diatas meja dan memejamkan mata

“Sae Jin, kau akan ti_”

“Shhut…” Sehun menyuruh Ah Ra diam dan dengan cepat gadis itu menurut. Mereka berdua kemudian sama-sama tersenyum.

Sae Jin itu teman yang baik. Gadis itu selalu bisa tahu kapan teman-temannya butuh bantuan. Tapi tidak sebaliknya. Baik Ah Ra maupun Sehun tak pernah tahu kapan Sae Jin butuh bantuan mereka. Gadis itu selalu terlihat sama setiap hari. Jika beruntung Sehun dan Ah Ra baru akan mendengar Sae Jin mengeluh tentang beberapa hal.

Sae Jin juga selalu terlihat baik-baik saja setiap hari, Tapi entah kenapa Sehun sendiri merasa ada sesuatu yang coba gads itu tutupi. Karenanya setiap Sae Jin mengeluh tentang apapun, bahkan untuk hal kecil, Sehun dan Ah Ra selalu berusaha membuat diri mereka berguna. Mereka akan mencoba melakukan dan menemukan cara apapun untuk membantu Sae Jin. Bagi Sehun, Sae Jin itu hadiah. Seseorang yang dikirimkan untuk membantunya. Sedangkan bagi Ah Ra, Sae Jin itu rumah. Satu-satunya tempat ia bisa pulang.

~

Sakit kepala Sae Jin berlanjut hingga tengah malam. Tapi sayangnya baik ibu ataupun ayahnya tak tahu bahwa dirinya sedang sakit. Saat hendak kedapur untuk mencari obat sakit kepala, Sae Jin tak sengaja mendengar suara isakan tangis ibunya. Gadis itu lalu pergi keruang tamu dan mendapati ayah serta ibunya disana. Ayahnya berdiri sambil berkacak pinggang dan ibunya tersungkur di lantai sambil menangis. Mereka bertengkar lagi.

“apa sampai kau mati kau akan terus bersikap begini pada Sae Jin?” teriak sang ibu masih sambil menangis. Kenapa ibu Sae Jin tidak jera menasehati suaminya itu? Bagi Jae Min adalah sebuah kesalahan karena wanita yang menjadi istrinya itu tak bisa melahirkan anak laki-laki untuknya

“ini semua salahmu ! jika ada orang yang patut disalahkan atas semua ini, orang itu adalah kau !” masih tak mau mengerti, Kim Jae Min terus menyalahkan istrinya. Jauh dalam hatinya ia hanya takut. Sae Jin putri satu-satunya. Dalam kepala pria tua ini telah terdoktrin bahwa seorang wanita tak akan bisa mengurusi perusahaan. Dia takut jika nantinya semua jerih payahnya membangun perusahaan sebesar itu akan sia-sia. Jika saja Sae Jin punya kakak laki-laki, maka ia tak akan se-cemas ini.

“apa hanya perusahaan itu yang ada di pikiranmu? Tak ada Sae Jin ataupun aku? Sae Jin tak butuh semua hartamu ! anak itu hanya butuh kau anggap ada. Dia hanya ingin mendengar kau memanggil namanya. Apa itu sulit buatmu? Dunia tak akan kiamat hanya karena kau tak punya anak laki-laki, Kim Jae Min !”

“lalu siapa yang akan menjaga Sae Jin setelah aku mati? Apa kau kira ada banyak laki-laki baik diluar sana? Mereka hanya akan mendekati Sae Jin karena menginginkan harta yang aku wariskan padanya ! kau kira aku hanya memikrikan hartaku? Aku takut tak ada yang bisa menjaganya nanti ! Jika saja kau bisa melahirkan anak laki-laki, maka aku tak akan menjadi ayah yang jahat  !”

“hentikan” Sae Jin memberanikan dirinya untuk ikut bicara. Sae Jin merasa sudah cukup ia diam. Ini saatnya ia didengarkan, “kalian bertengkar karena aku lagi?” tanyanya dengan suara lirih

“tidak, Nak. Kenapa kau turun dari kamarmu?” Ibu Sae Jin mencoba membuat Sae Jin tak ikut campur. Wanita itu menghapus air matanya dan berdiri

“karena aku bukan anak laki-laki. Itu alasan yang sangat tak masuk akal ayah. Meski aku seorang perempuan, aku bukan orang yang tak tahu caranya untuk hidup”

“kau bahkan tertabrak saat menyebrang jalan beberapa minggu lalu, Sae Jin” sang ayah mengingatkan kejadian beberapa minggu lalu. Saat Sae Jin marah dan pergi dari rumah tapi malah berakhir dengan tertabrak sebuah mobil.

“tetap saja itu bukan alasan !” Sae Jin berteriak. Sakit kepalanya bertambah karena teriakannya sendiri.

“kau tak tahu apapun tentang hidup, Sae Jin. Kau tak tahu seberapa kejam kehidupan diluar sana”

“sikapmu padaku sudah lebih kejam dari apapun didunia ini, ayah” Sae Jin tak bisa menahan air matanya lagi. Semua luka itu seakan menganga lagi dan membuatnya sulit bernafas. Tak ada yang lebih menyakitkan daripada menjadi anak yang tak diharapkan
“seharusnya, saat kau tahu aku ini seorang perempuan dan bukan anak laki-laki, kau lebih baik membunuhku sewaktu kecil. Kenapa kau membesarkanku, tapi selalu bersikap tak menginginkanku?”

“aku tak pernah tak menginginkanmu. Aku hanya marah pada ibumu ! jika aku tahu dia tak akan bisa melahirkan seorang anak lagi, maka dari dulu aku sudah menceraikannya !” ayah Sae Jin terkejut atas apa yang ia ucapkan sendiri. Ia benar-benar sudah tersulut emosi.

“pada intinya, semua ini karena aku ‘kan? Maafkan aku, tapi hingga saat ini aku belum punya keberanian untuk mengakhiri hidupku sendiri” Sae Jin lantas pergi darisana. Ia benar-benar tak tahan lagi berlama-lama disana.

~

Katanya dengan tertawa kita bisa melupakan rasa sakit. Hari ini Sae Jin mencobanya. Dibantu lelucon dari Sehun, gadis itu mencoba tertawa dengan susah payah.

“benarkah? Hahahaha..” Sae Jin kembali tertawa. Gadis itu berusaha menyembuhkan dirinya sendiri sekarang. Mungkin tertawa bisa membantu

“Sae Jin..” tawa Sae Jin berhenti saat Sehun memanggilnya dan menatapnya dengan aneh, “kau salah makan obat?” tanya Sehun. Entah kenapa Sehun merasa ada yang salah dengan tawa itu

“benar, kau banyak bicara dan tertawa hari ini. Kau baik-baik saja?” timpal Ah Ra yang juga merasa ada yang berbeda dari Sae Jin hari ini

“aku? aku baik-baik saja. Yaah, apa ada yang salah jika aku tertawa?” Sae Jin berucap layaknya orang baik-baik saja

“bukan begitu, tapi kau terlihat aneh hari ini” Sehun menyerah, ia tak bisa menemukan apa yang salah itu. Sehun mulai merasakannya. Sae Jin seolah selalu membangun tembok tak kasar mata.

“kalian hanya berlebihan. Aku harus ke perpustakaan dulu, ada buku yang harus aku cari” Sae Jin pun pergi. Melarikan diri. Ia tak mau tertangkap basah sedang sangat sedih. Ia tak mau teman-temannya itu mendengar cerita kelam hidupnya. Sae Jin tak mau itu terjadi. Biar dirinya sendiri yang merasakan semua ini

Sehun dna Ah Ra bukannya tidak tahu. Mereka hanya belum menemukan cara yang tepat untuk memaksa Sae Jin sedikit terbuka pada mereka. Jujur saja. selama kedekatan mereka beberapa bulan ini Sae Jin masih terasa sangt jauh. Gadis itu masih saja tertutup untuk semua hal.

Sae Jin tidak pergi ke perpustakaan. Gadis itu pergi ke lantai paling atas sekolah. Seperti biasa, ia duduk dan menatap langit darisana. Mungkin berdiam diri sebentar disini bisa membuatnya sembuh. Sae Jin menikmati keheningan disana. Tapi itu hanya sebentar, karena tak lama Chanyeol datang

“kenapa kau disini?” tanya Chanyeol

“kau memang sengaja kesini?” Sae Jin membalas dengan pertanyaan lagi dan dengan cepat memakai topengnya

“iya. Temanmu bilang kau perpustakaan. Aku kesana, dan malah menemukanmu disini” jelas Chanyeol terus terang. Chanyeol lalu menoleh dan akhirnya menatap wajah Sae Jin. Itu hanya beberapa detik karena Sae Jin langsung menatap ke arah lain. Chanyeol tahu gadis itu sedang menghindari bertatapan dengannya, “kenapa Sae Jin? Apa ada yang terjadi?” Chanyeol tak perduli mengenai sopan tidaknya ia bertanya demikian. Ia sudah pernah melihat Sae Jin menangis, dan situasi sekarang tampak sama.

“aku tidak apa-apa” jawab Sae Jin tanpa menatap pemuda itu. Mendadak Sae Jin takut. Ia takut ia akan menangis lagi seperti kemarin

“bagaimana ini? Kenapa aku merasa kau sedang berbohong padaku ya?” ucap Chanyeol

“sudah kubilang aku tidak apa-apa” Sae Jin berucap sembari berdiri. Saat Sae Jin bersiap untuk pergi, Chanyeol malah menahan tangan gadis itu hingga sekarang mereka berdiri berhadapan

“kau baik-baik saja?” tanya Chanyeol tak mau menyerah. Ia tahu bagaimana perangai Sae Jin. Gadis itu tak akan mengatakan apapun, jadi memaksa adalah satu-satunya cara. Chanyeol bukannya ingin mencampuri urusan orang lain, ia hanya merasa perlu melakukan ini. Sae Jin kembali menekan tombol SOS yang hanya bisa dilihat oleh Chanyeol

“aku baik-baik saja, Chan” Sae Jin berucap demikian, tapi yang ia lakukan malah sebaliknya. Ia malah menangis. Oh, kau kalah lagi Sae Jin..

Chanyeol terdiam. Awalnya ia hanya ingin membuat Sae Jin bicara. Tak ia sangka gadis itu akan menangis seperti sekarang. Dia tidak baik-baik saja, pikir Chanyeol.

“kau sangat menyebalkan, Sae Jin “ Chanyeol tak bisa berpikir dengan baik. Ia hanya memikirkan bagaimana cara membuat Sae Jin berhenti menangis. Chanyeol melepaskan tangan Sae Jin dari tangannya lalu menarik gadis itu kedalam pelukannya. Maka saat itu juga, tangis Sae Jin pecah.

Sae Jin seperti baru saja menemukan selimut untuk menutupi wajahnya yang basah karena air mata. Ia baru saja menemukan dinding yang bisa menyembunyikannya dari seluruh dunia. Ia baru saja menemukan sebuah tempat persembunyian. Sebuah tempat untuk bisa menangis tanpa harus takut dibilang aneh atau lemah. Pelukan Chanyeol terasa seperti itu. Maka Sae Jin tak menahan tangisnya lagi. Ia menumpahkan semuanya disana.

“yaah, kau menangis hanya karena aku bilang menyebalkan?” Chanyeol mencoba mengajak Sae Jin bicara. Sebenarnya ia juga sedang mengontrol dirinya. Posisi ini membuat jantungnya ingin melompat keluar. Ia memeluk Sae Jin sekarang. Gadis yang tak tersentuh itu adalah dalam pelukanya saat ini !

“kau yang menyebalkan..” Sae Jin berucap disela isakannya. Ini sudah dua kali terjadi. Ia yang tak bisa menahan diri saat dihadapan Chanyeol, “kenapa aku selalu seperti ini? Kenapa kau seperti ini padaku?”

“aku tak melakukan apapun Sae Jin. Kau yang menangis. Memangnya apa salahku?”

Sae Jin melepaskan dirinya dari Chanyeol dan memandangi wajah pemuda itu. Wajah sok kesal itu. Mata bercahaya itu. Sae Jin tak tahu kenapa, tapi ia seperti baru saja menemukan sesuatu yang berharga.

Dia orangnya.

“kenapa aku tak bisa menyembunyikan tangisku darimu? Siapa kau?” tanya Sae Jin

“kenapa aku selalu tersenyum karenamu? Siapa kau?”

 

To be continued

10 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Our Story (Chapter 5)”

  1. Please sisain cowo kek Chanyeol buat gua 1 aja
    Eh Thor ini aku dapetin password chapter 4 gimana caranya? Ku bingung kalo baca ff chapter di loncat jadi bingung sendiri wkwk

    1. Hai, Mickyhyun. Terima kasih udah mau baca dan komentar di ff ini. Nanti kita cari sama-sama cowok yang kayak Chanyeol ya.
      Untuk password chap.4 bisa diminta di page got password.
      atau kalau mau minta langsung sama aku juga bisa. Taruh alamat email kamu di chapter yg ini.Nanti aku kirim pass-nya kesana.
      Terima kasih banyak ^^

  2. Sae jin..itu sinyal2 cinta dari si abang chanyeol..jangan terlalu lama ah.berdua..PDkatenya..hehe..sehun..juga..cuma diliatin doang si ah ra..tinggal bilang..”aq suka kamu..ah tidak..kayaknya..aq cinta kamu deh..”wkwk..kayak saya authornya..maaf thor. Saya suka ” bagi sehun sae jin adalah hadiah,bagi ah ra saejin rumah,tapi bagi sae jin ahra dan sehun harusnya obat penenang buat saejin..” semangat ya thor…

  3. Iyailah.. Sehun masih aja pura-pura.. Segera nyatakan perasaanmu bang!
    Dan ini, belum lagi kelakuan saejin sama chanyeol ..
    Ampun-ampun dah, mereka itu..

  4. uugghhhhlalaaaaaaaaa
    manisnyaaaa chanyeol,,,jadi pengen nyulik hhahahahaha
    jangankan diseyumin diliat selama bebereapa detik aja bisa bikin kacau detak jantung hahahahahaha
    betewe baswe yang chapter 4 buat passwordnya minta ke authornim apa ke pihak staff??
    akyu syedih karena tak bisa baca yang chapter 4,,,aku juga setia kok ninggalin jejak hiks hiks

    1. Oh, ampuni aliensss yang tak tahu diri ini…
      Chapter itu di password karena ada bagian yg agak privasi
      Sekali lagi maafkan aliensss ini kak..
      Passwordnya bisa minta ke kakak staf.
      Makasih kak…

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s