[EXOFFI FREELANCE] (IM)PERFECT: Second Page

(IM)PERFECT

Damchuu Presents

( I M ) P E R F E C T

| Oh Sehun x Park Hyojin |

| School-life, Fluff, Sad, AU |

| Series / PG-15 |

| DISCLAIMER: This novel’s story and characters are fictitious. Certain long-standing institutions, agencies, and public offices are mentioned, but the characters involved are wholly imaginary. |

Look from every side she is perfect. Perfect daughter for her parents, perfect student for her teacher. Also. Perfect demon for her nightmare.

Previous: [First Page]

 

oOo

“Nilaimu turun lagi, Hyojin!”

Suara perempuan paruh baya itu terdengar nyaring di ruang keluarga. Salah satu tangannya berkacak pinggang dengan tatapan mata tajam  yang seolah siap menghunus targetnya kapan saja. Sedangkan orang yang menjadi sasaran kemarahannya itu hanya bisa menunduk pasrah di sofa, tidak berani untuk sekedar mendongak apalagi berbicara mendebat.

“Maaf.” ucapnya lirih, nyaris tidak terdengar.

“Matematika 98. Kimia 97. Fisika 95. Bahasa Inggris 98—” Wanita yang notabenya adalah ibunya sendiri itu menghentikan kegiatannya membaca daftar nilai ulangan Hyojin. Matanya terpejam. Sudah sekian kali ia menghela napasnya berat, berusaha meredam kemarahannya yang sudah meledak-ledak. Tapi sepertinya percuma. Kemarahannya terlalu mendominasi. Benar kata orang, emosi selalu bisa mengalahkan akal sehat di setiap puncak terpanasnya.

“Kau bahkan mendapat 100 di ulangan matematika kemarin, tapi kenapa sekarang hanya 98? Fisika juga, apa kau sebegitu bodohnya sampai mendapat 95? Kau masih waras kan?”

Hyojin lagi-lagi hanya bisa menunduk. Bibirnya bungkam, seolah terkunci untuk mengeluarkan barang sepatah kata pembelaan walaupun yang paling logis pun. Hanya lantai yang bisa ia jadikan kawan disaat menghadapi kemarahan ibunya seperti ini. Keberadaan ayahnya pun tidak akan membantu. Pria paruh baya yang tengah duduk di sudut ruangan dalam diam itu malah lebih parah. Sebatang rokok bertengger diantara jari-jarinya sejak tadi tidak henti-hentinya mengeluarkan kepulan asap yang semakin mempertegang suasana.

“Kumpulan angka ini bahkan tidak pantas untuk disebut nilai. Kau pikir universitas mana yang akan menerimamu dengan nilai serendah ini? Kau tahu kan kalau ingin menjadi dokter butuh nilai yang jauh lebih baik dari ini.”

Dokter lagi. Hyojin muak dengan semua ini. Memangnya siapa yang ingin menjadi dokter? Ibunya kan? Lalu kenapa selalu dirinya yang dijadikan pelampiasan dalam menggapai mimpinya yang tidak pernah terpenuhi itu? Kalau memang sebegitu inginnya, kenapa tidak ibunya saja yang sekolah kedokteran? Toh, di mana ada uang dia pasti akan diterima.

“Pokoknya mom tidak mau tahu, sekarang kau kembali ke kamarmu dan kerjakan lagi soal-soal ulanganmu. Cari dimana letak kesalahannya dan jangan keluar kamar kalau belum selesai!” titah ibunya tegas. Dibanting kertas-kertas ulangan di tangannya dengan keras.

Hyojin lagi-lagi hanya mengangguk. Dirinya tidak punya kuasa di sini, bagaimana ia mau melawan? Toh, melakukan itu juga tidak ada gunanya, yang ada ia malah akan tambah dimarahi habis-habisan. Hyojin lantas mengambil lembar-lembar ulangannya kemudian berlalu ke kamar. Begitu sampai di kamarnya langsung direbahkan dirinya di kasur. Melelahkan sekali. Mendengarkan ibunya marah-marah selalu membuat tenaganya terkuras habis. Ngomong-ngomong, wanita tua itu tampaknya sudah kehilangan urat emosinya. Ia bisa marah-marah sebanyak tiga kali sehari—hampir sama kadarnya dengan makan—dan itu benar-benar menjengkelkan. Kantuk tanpa permisi mulai menyerangnya, membuat matanya terpejam secara perlahan-lahan. Persetan dengan ucapan ibunya tadi, lebih baik ia tidur daripada terus memikirkan kumpulan angka bodoh itu.

oOo

Hyojin tidak mengira dirinya bisa tidur pulas di dalam suasana mencekam seperti kemarin. Ketika terbangun tengah malam karena kehausan pun bukannya segera belajar, ia malah menghabiskan waktunya dengan membaca setumpuk novel Harry Potter. Menggelikan kalau diingat-ingat sekali lagi. Tapi apa boleh buat, ia mau mendinginkan kepalanya dari semua hal berembel-embel ‘pelajaran’. Hyojin tidak ingat dengan jelas pukul berapa  ia tertidur. Tahu-tahu saat bangun jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi. Beruntung ia ingat jika ini hari Minggu.

Mari lupakan semua yang terjadi semalam karena seminggu ini akan menjadi hari-hari paling membahagiakan untuknya. Barusan Hyojin mendengar kabar jika tadi pagi orang tuanya pergi ke luar kota karena ada perjalanan bisnis. Ditambah kabar gembira lainnya jika Nara mengajaknya menonton film. Tentu saja Hyojin mengiyakan ajakan itu dengan senang hati. Buru-buru Hyojin mandi dan segera mengganti bajunya dengan sebuah kaos putih bergaris yang dipadukan dengan sebuah legging hitam.

Di tengah persiapannya itu Hyojin mendengar pintu kamarnya diketuk. Mengganggu saja. Dengan malas ia membukakan pintu. Betapa terkejutnya Hyojin saat mendapati ibunya tengah berdiri disana dengan seorang pria di belakangnya.

Mom? Bukannya sedang di luar kota?” Hyojin menunjuk pria di belakang ibunya, “Siapa itu?”

“Tadinya begitu, tapi tiba-tiba ada urusan mendadak di kantor.” ibunya menjeda ucapannya sejenak, “Ini Lee Jungshin, guru les barumu.”

Hyojin mendesah pelan, “Lagi?”

“Tapi semua jadwalku selama seminggu sudah penuh,” ucapnya merajuk.

Sedangkan ibunya hanya memutar bola matanya jengah, “Kamu tahu sendiri konsekuensi kalau nilaimu turun.” Ia memijat pelipisnya. Tidak biasanya Hyojin membantah ucapannya seperti ini. “Pokoknya, sekarang kamu ganti baju. Les kamu sama Pak Jungshin dimulai dari hari ini!”

Mengindahkan ucapan ibunya barusan, Hyojin lalu berjalan mendekati—orang yang katanya—guru les barunya, “Maaf tapi aku ada acara sekarang. Di mejaku ada setumpuk soal kimia yang belum kukerjakan, kalau kau bosan menungguku tidak ada salahnya membantu mengerjakannya,” sarkasnya.

PLAK!

Sebuah tamparan melayang ke pipinya. Cukup keras hingga terlihat warna merah disana.

Hyojin yang terkejut karena tamparan ibunya itu hanya membelalakkan matanya tidak percaya. Tangan kanannya ia gunakan untuk memegang pipinya yang masih berdenyut nyeri. Perahan ia menggumamkan sebuah umpatan kepada ibunya. Pelan sekali, namun masih cukup untuk sampai ke telinga ibunya dan kembali mendapatkan tatapan menghunus di sana.

“PARK HYOJIN!”

Bukannya bertekuk lutut karena bentakan ibunya yang kelewat keras itu, Hyojin malah berjalan melewati ibunya menuju ruang tamu untuk mengambil kunci mobilnya yang tergeletak bebas di sofa. Persetan kalau ibunya mau marah. Ia tidak peduli. Setelahnya Hyojin bergegas berlari menuju parkiran dan langsung dikendarai mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata.

oOo-

Dentuman keras itu mengiri permainan keduanya yang semakin memanas. Peluh sudah membanjiri tubuh mereka, tapi sepertinya keduanya masih enggan menyelesaikan pertandingan. Termasuk Sehun yang menyadari jika Chanyeol sedang bermain keras saat ini.

I saw you,” ucap Chanyeol di sela-sela pertandingan sembari menatap Sehun intens. Tangan kanannya masih sibuk mendribling bola, “with her at library.”

Sehun mengabaikan ucapan temannya itu. Ia dengan lincah mengambil bola dari tangan Chanyeol lalu memasukkannya dalam ring, “Lalu apa masalahnya? Kau sendiri yang menyuruhku membuktikan padamu kalau aku tidak gay.”

“Aku menyuruhmu untuk membuktikan jika kau tidak gay, bukannya untuk menikungku.”

Sehun menghempaskan badannya ke lapangan sembari terkekeh, “Menikungmu? Sejak kapan kau pacaran dengannya?”

Chanyeol tidak menjawab, ia ikut merebahkan dirinya di lapangan.

“Memangnya apa yang kau harapkan dari gadis seperti itu?”

You may don’t know, but she’s diffrent with other girls.

“Dari yang kulihat sejauh ini dia terlihat persis seperti gadis lainnya, murahan.”

“Jangan dekati dia kalau begitu. Dia jatahku.”

Sehun mengendikkan bahunya tanda tidak tahu, “Aku tidak janji.”

Chanyeol baru saja akan mengatai Sehun dengan sebuah umpatan khas lelaki, tapi sahabatnya itu sudah terlebih dulu bangun, kemudian berjalan meninggalkannya, “Mau kemana?” Tanyanya setengah berteriak.

“Pulang,” jawabnya sembari melambaikan tangannya. Ini sudah sore. Ia bisa-bisa dibunuh ibunya jika sampai terlambat pulang—walaupun alasan sebenarnya ia ingin menghindari perdebatan lebih lanjut dengan pria berkuping caplang itu. Percayalah, sahabatnya itu sangat pandai bermain dengan kata-kata hingga sering membuat orang beradu dengannya termakan omongannya sendiri.

Sehun melangkahkan kakinya menuju belakang sekolah tempat motornya terparkir. Ketika akan menaiki motornya, manik matanya tidak sengaja melihat seorang gadis yang tengah terduduk di depan sebuah mobil.

“Setelah rumus kimia sekarang mobil, hm?”

Hyojin yang terkejut dengan kedatangan Sehun sontak menoleh. Mulutnya berdecih. Ia sebenarnya lebih mengharapkan kehadiran orang lain dibandingkan laki-laki jangkung ini, “Salahkan Dewi Fortuna yang selalu membenciku.”

“Kenapa mobilmu? Mogok?”

“Sepertinya.”

“Perlu bantuan?”

Hyojin tampak menimang-nimang terlebih dulu. Ini sepertinya sedikit memalukan karena menerima bantuan dari Sehun—lagi—sayangnya ia tidak melihat orang lain berlalu lalang di sekitar sini. Akhirnya Hyojin menganggukkan kepalanya sebagai tanda setuju.

Sehun menyeringai. See? Dia gadis gampangan—pikir Sehun. Tanpa basa-basi lagi ia segera membuka kap depan mobil Hyojin yang dengan gencar mengeluarkan asap. Membuatnya sedikit terbatuk saat tidak sengaja menghirup asap itu.

“Bisa diperbaiki?” tanya Hyojin khawatir karena melihat gurat di sekitar pelipis Sehun.

“Seharusnya.”

“Perlu kucarikan panduannya di internet?” Hyojin memperlihatkan ponselnya pada Sehun, “Sebenarnya aku sudah membukanya dari tadi, hanya aku tidak tahu mana komponen-komponen.”

Sehun yang sedang mengutak-atik aki mobil Hyojin menatap layar ponsel Hyojin dengan pandangan tidak percaya. Gadis ini mudah beradaptasi rupanya—atau malah sekarang Hyojin tengah mengerjainya? Walaupun begitu ini sesikit melukai harga dirinya. Kalau sekedar memperbaiki mobil mogok, ia bahkan bisa melakukannya dengan mata tertutup, “Tidak usah. Aku sudah tahu caranya.”

Kemudian hening selama beberapa saat. Tidak ada yang berinisiatif memulai pembicaraan. Sehun masih sibuk memperbaiki mobil sedangkan Hyojin sibuk memperhatikan montir dadakannya tersebut, “Kenapa diam?” tanya Sehun akhirnya karena gerah dengan suasana canggung ini.

“Tidak. Aku hanya berfikir wajah tampanmu ini sungguh sia-sia kalau tidak dimanfaatkan. Dari sekian banyak gadis cantik di sekolah kenapa kau harus memilih Park Chanyeol?” Kalimat itu meluncur dari bibirnya tanpa permisi. Hyojin bahkan tidak percaya ia bertanya sefrontal itu tentang hal yang masih mengambang. Sayangnya, rasa pensarannya kali ini lebih besar daripada egonya.

“Lalu kau ingin aku memilihmu, begitu?” Sehun mlah menimpali dengan sebuah candaan—atau mungkin lebih mirip sebuah goodan—dengan pandangan tetap fokus pada pekerjaannya.

“Orang sepertimu mana tertarik pada perempuan.”

“Oh ayolah, kau percaya rumor itu?”

“Kalau semua orang percaya kenapa aku tidak?” Hyojin megendikkan bahunya acuh, “Lagipula aku melihat dengan mata kepalaku sendiri kalau kau me—”

Sehun yang semula fokus pada pekerjaannya mendongakkan kepalanya, tampak menunggu kelanjutan kalimat Hyojin yang terpotong, “Aku apa?” tanyanya penasaran karena Hyojin tidak kunjung menyelesaikan kalimatnya.

“Lupakan!”

“Aku apa?” Sehun masih tidak mau kalah.

“Kau tampan!”

Mendengar kalimat tersebut lagi Sehun kembali terkekeh, “Berhenti mengelak dengan kalimat itu. Aku sudah cukup kenyang untuk mengetahui bahwa diriku tampan,” ujarnya kelewat percaya diri, “dan perlu kutegaskan kalau aku bukan seorang gay, mengerti?” Sehun menutup kap mobil Hyojin, kemudian beranjak ke bagian kemudi untuk mengetes apakah starternya sudah dapat berfungsi. Tidak butuh waktu lama hingga mobil bermerek porche itu bisa menyala seperti semula.

“Cih, percaya dirimu itu perlu diturunkan.” Hyojin mencibir namun tetap mengekori Sehun, “Sudah selesai?”

“Sudah.” Sehun mengangguk kemudian keluar dari mobil Hyojin.

“Terima kasih.” Hyojin berucap dengan riang. Namun saat mencoba meraih kunci mobilnya, Sehun terlebih dulu menjauhkannya. Ia kemudian menyodorkan telapak tangannya, membuat sang gadis membeo tidak mengerti, “Apa?”

“Biaya perbaikan.”

Hyojin mendengus tidak percaya. Laki-laki itu jelas yang menawarkan bantuan tadi dan sekarang dengan mudahnya ia minta biaya perbaikan? Bolehkah ia mengumpat saat ini? Masih dengan mulut yang setia mengucapkan sumpah serapah Hyojin mengeluarkan beberapa lembar won dari dompetnya. Namun tangannya langsung ditahan oleh Sehun, “Aku tidak suka uang,” ucapnya seolah menegaskan jika ia bukan laki-laki matre.

“Lalu apa?” Hyojin meninggikan satu oktaf nadanya. Ia kesal—sangat! Tapi ingatkan dirinya jika tidak ada Sehun maka ia mungkin terjebak semalaman di sini.

How if you date with me?

Percayalah Sehun ingin segera mengakhiri taruhan konyol ini.

                                                                     -oooOooo-

Whether the plot was too fast?

Yes? Or not?

Don’t hesitate to tell me, so I can fix it for next chapter.

Anyway, thank you for everyone who read and comment in the previous chapter. I never thought if someone will read this story XD. Also published on:

https://justdamchuu.wordpress.com/ (Personal blog) and https://www.wattpad.com/story/116878757-im-perfect-osh (Wattpad)

Regards,
Damchuu

32 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] (IM)PERFECT: Second Page”

  1. Fisika dapet 95??? Mau nangis aja aku mah. Ini nih yang bikin anak di bumi terteken, rata2 orangtuanya pada pemaksaan (kali)
    Curiga, kayanya dimasa depan bakalan ada konflik antara sehun-hyojin-chanyeol wkwk abaikan klo salah 😂

    1. Cup cup.. jangan nangis :v miris juga sih sebenernya liat nilai dijadiin tempat ngukur kepintaran anak, jadi yang nilainya rendah kaya dianggap bodoh gitu, padahal kenyataannya…..
      Haha, nanti bakalan ada konflik nggak yaaa?? :v

  2. wah tuh ibu nya hyeojin stres kali ya? nilai segitu dibilang jelek,klo gw mah dah syukuran wkwk..
    kasian tuh hyeojin cuma buat taruhan tp ntar ujung² nya pasti suka beneran

  3. gilee, itu nilai bagus BGT ibunya marah2?
    sumprit aku penasaran sama ceritanya.

    mana sehunnya karakternya kyk gitu, greget…

    kalau menurutku mungkin kedekatan antara hyojin sama sehun terlalu cepet. tapi secara keseluruhan bagus kokk…

    semangat!!!

    1. Aku mikirnya juga gitu, kecepetan… Udah rombak berkali-kali belum nemu yang pas juga. Malah setelah ini kayaknya hubungan mereka tambah cepet lagi (malah spolier -_-) Maklum yaa… yg nulis masih abal-abal 🤣

      Btw, makasih sarannya (>.<)

  4. Nilai 90+ masih dibilang, bodoh? Super sekali orangtua Hyojin.
    “Aku menyuruhmu untuk membuktikan jika kau tidak gay, bukannya untuk menikungku.” Author, jgn bilang klo Chanyeol suka Hyojin?
    Dan jangan bilang klo Sehun ngajak Hyojin pacaran, itu cmn untuk main-main.. Sehun jadi kelihatan jahat, klo gitu. Mana sebelumnya Sehun bilang, klo Hyojin cewek murahan.
    Kesian Hyojin -nya T_T

    1. ibunya emang terlalu wkwk. Btw, Sehun emang main-main kok. Udah kelihatan dari kalimat terakhir kalau dia pengen cepet-cepet nyelesain taruhannya sama Chanyeol.

      Makasih udah mau baca XD

  5. Itu si ibu galak pisan euyy..nilai segitu mah dah bersyukur..,sehun..ketemu hyojin pas banget “timing” nya..pas mogok pas ketemu deh,langsung lancarkan aksi mu..wkwk..,semangat thor..lanjut..

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s