[EXOFFI FREELANCE] I’m Not (Chapter 1)

Tittle : I’m Not

Author : Byeolbitn☆

Length : Chapter

Genre : Drama

Rating : PG-17

Main Cast : Kim Jisoo, Park Chanyeol

Additional Cast : Kang Seulgi ( Bertambah sesuai alur)

Summary : Bisakah kita membedakan mimpi dan kenyataan? Atau membedakan masa lalu dan masa depan…

Disclaimer : Ide membuat ff ini terus berseliweran di kepala. Dan bikin aku gak tahan untuk nulis. Maaf jika ceritanya kurang menarik bagi pembaca, aku Cuma ingin menyalurkan ide yang aku punya. Tapi tentu saja, like dan comment sangat membantu aku untuk Chapter selanjutnya. Terima kasih… 😊

Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi dalam hidup. entah dia pengganti cintaku yang telah pergi, atau orang berbeda yang datang dalam kehidupanku. Tapi kenapa, paras mereka harus begitu sama? -Kim Jisoo-

 

 

Denting suara bel menandakan beberapa orang yang keluar masuk tempat itu. Sebuah cafe tempat dimana orang-orang menghabiskan waktu bersama teman atau kekasih, di antara mereka duduk seorang gadis di meja paling sudut cafe itu sendirian. Memandang keluar jendela di mana hiruk pikuk berlalu lalang di musim dingin.

Pandangan gadis itu tampak begitu kosong, seolah menyimpan ribuan beban yang menyedihkan. Di tengah lamunannya, secangkir coklat hangat di letakan dihadapannya.

“ Apa yang menarik dari jalanan yang kau pandangi? “ tanya seorang gadis yang meletakan minuman itu.

“ Tidak ada… “ jawaban itu membuatnya tersenyum entah karena apa.

“ Apa kau belum menemukan hal menarik disini selama empat bulan? “

“ Entahlah, lagi pula untuk apa aku memiliki hal menarik? “

“ Tentu mengembalikan senyumu, dan membuatmu menemukan hidupmu kembali… “

“ Menurutmu saat ini aku tidak hidup? “

“ Tidak, tubuhmu memang hidup. Tapi jiwamu… “

Surai coklat gadis itu sedikit menjuntai saat kepalanya tertunduk mengingat sesuatu. Hal yang menjadi beban pikirannya selama ini.

“ Jisoo… “ namanya dipanggil oleh gadis dihadapannya.

“ Aku berharap kau tidak terlarut terus menerus. Kehilangan separuh jiwamu memang menyakitkan, tapi selalu ada obat untuk rasa sakit. “

“ Apakah ada obat untuk rasa sakit seperti ini? “ gadis dihadapannya tersenyum kembali.

“ Tentu ada, kau hanya belum menemukannya… “ senyum gadis itu menimbulkan garis mata yang begitu cantik di wajahnya. Sayangnya, gadis bernama Jisoo itu masih enggan untuk ikut tersenyum.

“ Aku juga berusaha menjadi obatmu, jadi jangan menyerah pada kesedihan…! Jangan sungkan bercerita padaku… “ tambahnya.

“ Terima kasih Seulgi… “ ungkapnya mengucap nama gadis di hadapannya.

“ Coklatmu hampir dingin, aku harus kesana sebentar. Apa itu oke? “ Seulgi bertanya yang hanya di angguki pelan oleh Jisoo. Ia mengerti gadis itu pasti sibuk mengurus cafe ini yang adalah miliknya. Di tengah kesibukan itu ia begitu baik memperhatikan dirinya, padahal mereka belum saling mengenal dalam waktu yang lama.

Kim Jisoo baru kembali menginjakkan kaki selama empat bulan di korea. Sebelumnya ia menetap di USA semenjak kuliah dan bekerja di sebuah kantor majalah harian. Ia mungkin tidak akan kembali kesini jika saja sebuah kejadian tak merenggut separuh hidupnya. Kang Seulgi adalah orang pertama yang menyambutnya disini selain keluarganya. Pertama kali keluar dari rumahnya, Jisoo mengunjungi cafe ini. Ia abaikan tatapan pertanyaan semua orang karena selalu menyendiri di sudut cafe itu. Melihat gadis itu selalu duduk terdiam sendirian, Seulgi mulai mendekati dan sering menemaninya selama empat bulan ini. Dan ia pun sudah tahu perihal apa yang membuat Jisoo seperti kehilangan semangat hidupnya.

Sepeninggal Seulgi, Jisoo kembali terdiam dengan lamunannya. Sebuah alunan lagu terdengar cukup memikat di telinganya. Hanya sebuah lagu akustik yang di iringi gitar dan suara penyanyi yang merdu, namun cukup membuat dirinya betah mendengar lagu tersebut.

Sejenak, Jisoo meraih cangkir coklat hangat yang belum diminumnya seraya matanya melirik ke arah panggung kecil dimana sang penyanyi baru saja menyelesaikan lagunya di iringi tepuk tangan pengunjung. Seorang pemuda bertubuh tinggi dengan rambut coklat ikal tampak tengah membungkuk membalas tepuk tangan pengunjung yang menikmati lagunya.

Namun hal yang tak di duga, saat pemuda itu kembali menegakan tubuhnya membuat mata Indah Jisoo terbelalak lebar, tubuhnya seolah melemas menatap pemuda itu.

PRANKK

Cairan coklat pekat itu tercecer bersama pecahan cangkir yang di jatuhkannya tanpa sadar, seketika tatapan seluruh mata tertuju padanya tak terkecuali sang pemuda yang di tatapnya. Dan Jisoo tidak akan pernah lupa siapa yang memiliki mata yang begitu persis dengan mata itu. Yang dahulu, mata itu sering menatapnya penuh Cinta juga yang sering ia pandangi saat mata itu terpejam. Begitu persis, tapi mungkinkah dia…?

“ Ti-tidak mungkin… “ dengan bibir bergetar ia mencoba menampik pikirannya sendiri.

Apa ini sebuah keajaiban? Atau akan menjadi beban kedua baginya?

 

TBC

2 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] I’m Not (Chapter 1)”

  1. Bagus thor,tapi..ceritanya cepet TBC . Jangan2 si pemuda jangkung adalah orang yang mirip jisoo cintai nih..atau..matanya si pacar jisoo di donorin ke tuh pemuda kali..makanya mirip..daripada nebak2,mending tunggu author lanjut..semangat thor..

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s