[EXOFFI FREELANCE] (IM)PERFECT: First Page

(IM)PERFECT.jpg

Damchuu Presents

( I M ) P E R F E C T

| Oh Sehun x Park Hyojin |

| School-life, Fluff, Sad, AU |

| Series / PG-15 |

| DISCLAIMER: This novel’s story and characters are fictitious. Certain long-standing institutions, agencies, and public offices are mentioned, but the characters involved are wholly imaginary. |

Look from every side she is perfect. Perfect daughter for her parents, perfect student for her teacher.

Also.

Perfect demon for her nightmare.

oOo

Oh Sehun

“Ganteng sih, tapi sayangnya gay!”

Kalimat yang paling sering masuk ke telinganya setiap tahun ajaran baru. Oh ayolah, hanya orang bodoh di sekolah yang tidak tahu Oh Sehun, ketua basket mempesona yang menghebohkan sekolah dengan berita gaynya.

Ngomong-ngomong soal gay, itu semua hanya rumor belaka. Ia laki-laki normal yang memiliki ketertarikan pada lawan jenis. Hanya karena ia tidak pernah dekat dengan perempuan, bagaimana orang-orang membuat berita konyol seperti itu?

Wanna bet with me? In a week, you have to prove to me if you are not a gay. If you can’t do that, I’ll make an announcement on a wall magazine if you’re really gay.”

Lagi-lagi kalimat itu terngiang di kepalanya, berputar di sana, dan tidak mau keluar seolah tengah mempermainkannya. Benar-benar menyebalkan mengingat taruhan konyol yang ia buat kemarin—ralat, bukan Sehun yang membuatnya melainkan teman caplangnya. Oh, ia bahkan belum sempat berkata apapun ketika Chanyeol dengan mudahnya memutuskan jika tenggat waktu taruhan mereka adalah minggu depan.

Sehun juga tidak tahu dari mana ide konyol itu berasal. Kemarin Chanyeol tiba-tiba saja menghampirinya di kantin dengan gerutuan yang tidak lepas dari mulutnya, berkata bahwa ia muak terus-terusan disebut pasangan gay-nya dan mendadak mendeklarasikan taruhan tanpa persetujuan apapun darinya. Sangat konyol bukan? Jika benar dia muak, kenapa juga harus melibatkan dirinya? Padahal Chanyeol bisa saja membuat pengumuman pada seluruh sekolah atau mungkin yang lebih masuk akal menggaet salah satu gadis untuk dijadikan pacarnya. Itu lebih dari cukup untuk membuktikan bahwa dirinya adalah laki-laki normal.

Tapi siapa yang bisa menebak isi pikiran Chanyeol? Di dalam kepalanya itu penuh dengan segala hal, dari yang paling wajar sampai yang paling tidak masuk akal sekalipun.

“Kau itu tampan. Tinggal tembak saja salah satu dari mereka.”

Mudah sekali laki-laki ini berbicara. Memangnya berpacaran tinggal tembak kemudian putuskan ketika sudah bosan, begitu? Maaf saja, tapi ia tidak sebrengsek itu. Kemudian pemikiran bahwa mengapa harus Sehun yang melakukannya ketika Chanyeol bisa dengan mudah melakukannya sendiri.

Awalnya Sehun benar-benar tidak mempedulikan semua ucapan Chanyeol tentang taruhannya dan hanya menganggapnya angin lalu. Akibatnya keesokan harinya Sehun kehilangan motor kesayangannya yang semula berada di bagasi. Ia tidak sebodoh itu untuk kebingungan mencari siapa pelakunya. Sebuah sticky note tertinggal di sana dengan rentetan kalimat ancaman khas seorang Park Chanyeol. Karena itu, mau tidak mau Sehun menuruti harus taruhan itu. Motor kesayangannya taruhannya di sini.

“Hun, ayo ke kantin?” Sehun menoleh, menatap datar laki-laki di hadapannya dengan sedikit mengintimidasi. Baru saja ia membicarakan Chanyeol—dalam hati tentunya—dan laki-laki ini sudah muncul di hadapannya kemudian merusak mood-nya tanpa sebab.

“Sendirian saja. Aku sedang malas,” jawabnya singkat. Sejujurnya Sehun masih belum bisa mengalihkan kekesalannya dari taruhan yang dibuat Chanyeol kemarin. Lihat kan, mengingatnya saja sudah membuat suasana hatinya buruk kembali. Berusaha mengabaikan Chanyeol, Sehun kemudian merebahkan kepalanya di meja seolah tengah bersiap untuk tidur. Mendengar jawaban cuek dari Sehun, Chanyeol mengerucutkan bibirnya mulai dan merajuk. Laki-laki itu bahkan tidak segan-segan membuat aegyeo dengan suara bass-nya yang membuat Sehun semakin muak melihatnya. Hal itu pun tak ayal membuat atensi di kelas perlahan beralih pada sejoli itu.

Ah, Sehun hafal atmosfer ini.

“Sudah kubilang aku tidak punya uang!” Sehun meninggikan nada suaranya. Ia sudah jengah mendengar segala macam rengekan dari temannya itu. Dengan gestur mengusir Sehun meyuruh Chanyeol untuk segera pergi karena ia ingin melanjutkan aksi tidur siangnya yang terganggu.

Chanyeol mendelik, tanpa aba-aba ia merogoh saku temannya itu. Sehun yang kaget dengan tindakan Chanyeol itu sontak saja berteriak, membuat seluruh mata di kelas semakin menatap sejoli itu dengan aneh. Tidak berhenti sampai di sana, Chanyeol yang masih belum menemukan apa yang dicarinya semakin berani merogoh saku Sehun. Bahkan sampai mendorong Sehun hingga keduanya jatuh ke lantai dalam posisi yang benar-benar memuaskan pandangan teman-teman sekelasnya. Setelah menemukan benda cokelat kesayangannya, Chanyeol buru-buru menarik tangannya. Diambil beberapa won dari dalam sana dengan sebuah senyuman mengejek, “Lalu ini apa?”

Sehun mendengus sebal. Wajahnya sudah merah padam menahan malu karena menjadi pusat perhatian seluruh penghuni kelas. Entah sudah berapa macam umpatan yang ia lontarkan kepada sahabat bodohnya yang satu ini karena sudah berani melakukan hal senekat itu tadi. Tanpa pikir panjang, Sehun lalu menarik Chanyeol keluar kelas. Setidaknya ia butuh tempat yang lebih sepi jika masih ingin mengobrol dengan Chanyeol. Di dalam terlalu panas mengingat teman-temannya yang setelah ini pasti akan menggodanya dengan sekumpulan kalimat menjijikkan, apalagi Sehun sempat mendengar tawa mereka ketika keduanya keluar dari kelas. Tidak ada niatan sedikit pun di benaknya untuk menjelaskan ke teman-temannya kejadian tadi—dan tampaknya mereka juga cukup kenyang untuk mendengarnya.

“Kamar mandi belok ke kanan!” teriak Baekhyun yang langsung disambut dengan tawa yang menggelegar dari seisi kelas.

Sialan!

oOo

Park Hyojin

Pagi kembali menyapa, memaksa semua orang untuk bangun dari mimpi indahnya. Tak terkecuali Hyojin. Jam baru menunjukkan pukul enam pagi, tapi gadis itu sudah berada di perjalanan menuju kelasnya. Sekolah masih tampak sepi, hanya ada satu-dua murid yang sudah datang karena tergolong salah satu anak super rajin.

“Park Hyojin!”

Suara panggilan yang cukup keras itu menggema di lorong bersahutan dengan suara derap kaki yang kian mendekat. Merasa namanya dipanggil Hyojin pun menoleh ke belakang, mendapati Nara tengah berjalan ke arahnya dengan tergesa.

“Ada ap—”

“Kau tidak apa-apa? Matamu masih utuh? Tangan dan kakimu masih genap dua? Hidungmu yang pesek itu tidak berubah jadi mancung kan?” Nara  mengucapkan rentetan kalimat itu sembari memegang wajah Hyojin khawatir. Manik yang biasanya banyak tertawa itu mendadak berubah serius.

“Enak saja, hidungku itu mancung tau!” Hyojin mendengus sebal namun tangannya refleks memencet-mencet hidungnya untuk memastikan kebenaran perkataan Nara, “Kenapa kau tiba-tiba jadi aneh begini?”

“Kulihat nilaimu turun kemarin, jadi aku takut kalau kau dimutilasi ayahmu.”

Hyojin mendesah pelan. Sesaat kemudian Hyojin menyesal telah bertanya pada Nara, “Mana ada orang yang dimutilasi hidungnya jadi mancung?”

Namun Nara malah mengendikkan bahunya, “Soalnya akhir-akhir ini hidungmu kelihatan mancung. Kau operasi plastik ya?”

Hyojin memutar bola matanya malas. Sahabatnya ini suka sekali bicara seenaknya, “Terserahlah.” Balasnya yang kemudian ditanggapi dengan sebuah umpatan oleh Nara.

Melihat Nara tampaknya sudah selesai dengan semua perkataannya, Hyojin pun memutuskan untuk beranjak menuju kelasnya. Namun belum ada selangkah ia berjalan tangannya lagi-lagi ditarik oleh Nara, “Aku sungguh-sungguh. Kau tidak apa-apa kan?”

“Memangnya aku kenapa?”

“Kau lupa? Terakhir kali kau bahkan sampai drop.”

Tapi bukannya merasa bersalah atau apa, Hyojin malah tertawa mengingat hal itu, “Kau terlalu banyak berkhayal!”

oOo

Jam istirahat selalu tampak membosankan bagi Hyojin. Padahal jam-jam itu adalah waktu bebas bagi siswa untuk melepas penat setelah berkutat dengan tumpukan buku selama berjam-jam. Tapi berbeda dengan gadis yang satu ini. Baginya bercumbu dengan setumpuk buku di perpustakaan jauh lebih menyenangkan daripada bergosip tentang topik yang sedang hot saat ini. Oh, tentu saja kalian bisa memanggilnya kutu buku. Lagipula hampir semua anak di kelasnya menjulukinya demikian, ia tidak akan marah. Jadi jangan heran jika tidak menemukan batang hidung Hyojin di daerah-daerah sekitar kantin, karena yang jelas gadis ini tidak mungkin akan berkeliaran di sekitar sana. Kehidupan sekolahnya hanya berputar disekitaran kelas-perpustakaan-ruang guru-kelas-pulang. Kalaupun Hyojin memang sedang kelaparan parah, ia hanya akan menitipkan beberapa kue pada Nara. Kantin terlalu ramai dan itu sangat menguras tenaganya.

Hyojin terkesiap ketika seseorang menarik kursi di depannya. Perlahan ia menoleh, mendapati seorang pria berperawakan tegap tengah duduk disana. Dengan gerakan kikuk yang sangat kentara, ia melebarkan senyumannya sebagai bentuk sopan santun kemudian kembali fokus pada bukunya. Hyojin kenal dengan laki-laki ini. Oh Sehun, seniornya sekaligus ketua basket sekolah yang selalu menjadi topik pembicaraan nomor satu gadis-gadis di sekolahnya. Tumben sekali laki-laki berada di perpustakaan. Biasanya ia selalu membuat ricuh para gadis di kantin bersama teman satu gengnya-itu yang dikatakan Nara.

Tangannya tanpa sadar mengetuk di meja, menimbulkan sebuah irama yang beraturan yang lebih tampak sebuah melodi. Hyojin benci suasana canggung seperti ini. Ditambah lagi hanya ada mereka berdua di ruangan seluas ini. Seertinya tuhan tengah menguji seberapa kuat imannya dengan menempatkan Sehun di sini. Tahu begini ia akan ikut Nara saja ke kantin tadi.

“Santai saja.” Laki-laki itu memecah keheningan. Suara bass yang mengalun dengan tiba-tiba itu membuatnya tampak seperti orang bodoh karena bingung harus menjawab apa saking terkejutnya. Hei, jangan bilang seniornya ini memperhatikan semua gerakan kikuknya sejak tadi?

“Maaf?”

“Hanya ada kita berdua disini, kenapa tengang sekali?” Sehun terkekeh. Ia mengalihkan atensinya dari buku yang ada di tangannya. Dengan gaya sok akrab ia melihat-lihat buku catatan Hyojin, “Mengerjakan apa?”

“Kimia,” Jawab Hyojin. Bibirnya tanpa sadar melanjutkan, “Park Saem benar-benar jahat kalau memberi tugas.” Ditatapnya nanar buku yang ada di hadapannya. Tak lama kemudian terdengar suara tawa menggelegar dari Sehun. Hal itu tak ayal membuat Hyojin mengerutkan dahinya. Apa Sehun lupa jika mereka sedang berada di perpustakaan? Kalau saja sekarang perpustakaan sedang ramai, laki-laki ini pasti sudah mendapatkan berbagi macam umpatan dari semua orang. Lagipula memangnya ada yang lucu dari perkataannya sampai laki-laki ini tertawa sekuat itu?

“Aduh, perutku sakit.” Keluhnya setelah sekian lama tertawa.

“Kau aneh, senior.”

“Ayolah, apa harus seformal itu sampai harus memanggil senior segala?” Yang dibalas dengan sebuah aggukan polos oleh Hyojin, “Panggil Sehun saja.”

Sehun kira Hyojin akan menolak dengan alasan itu tidak sopan dan sebagainya. Tapi yang ada gadis itu tampak mengangguk tidak masalah.

“Kau lucu,” perkataan Sehun barusan sukses membuat pipi Hyojin bersemu merah. Seniornya ini masih waras kan? Tidak ada angin ataupun hujan tiba-tiba mengatakan hal aneh seperti itu. Hyojin kembali fokus pada bukunya untuk menyembunyikan pipi merahnya, “Kutebak Park Saem memberimu soal dari bukunya yang super tebal itu.”

“Tentu saja, darimana lagi pria tua itu mendapatkan semua soal-soalnya kalau bukan dari alkitabnya itu.” Hyojin mendesah berat. Untuk kesekian kalinya ia tatap nanar bukunya. Hyojin tahu seharusnya ia mengerjakan tumpukan soal yang ada di sana, bukannya hanya menatapnya kemudian menggerutu tidak jelas. Tapi bagaimana mau mengerjakan kalau caranya saja ia tidak tahu. Bahkan sudah tiga buku kimia ia buka untuk mencari jawabannya, tapi apa yang dicarinya tidak kunjung ketemu juga. Apa ia memang sebodoh ini sejak dulu?

“Perlu bantuan?”

“Tidak terima kasih—” tolaknya halus. Tapi Sehun tetap nekat meraih buku Hyojin. Air mukanya tampak begitu serius ditambah bibirnya menggumamkan kumpulan angka yang Hyojin yakini adalah jawabannya. Mulutnya membulat takjub. Ia tidak pernah tahu jika seniornya sejenius ini. Setelah cukup lama membaca buku tugas Hyojin, ia kemudian berucap dengan wajah bodohnya, “Aku tidak tahu.” Sehun melemparkan buku itu sedikit keras pada pemiliknya kemudian mengeluarkan ponselnya untuk bermain.

“Bodoh!” Saking terkejutnya Hyojin bahkan tidak sadar mengatakan hal itu. Bagaimana tidak, beberapa menit yang lalu laki-laki itu jelas menunjukkan kepercayaan dirinya kalau ia akan berhasil mengerjakan semua soal itu. Tapi lihat sekarang? Ia tarik kata-katanya yang mengatakan Sehun jenius.

“Kau bilang apa tadi?”

“Kau tampan,” bohongnya dengan raut acuh tak acuhnya.

“Begitu ya.” Sehun tampak menerawang sebelum akhirnya menunjukkan ponselnya yang kini berisi sekumpulan rumus. Ujung bibirnya kembali membentuk seringaian puas, “Kenapa harus sulit-sulit berpikir kalau kau bisa menemukan jawabannya di internet?”

Hyojin mengerjab tidak percaya. Bagaimana ia bisa melupakan benda yang selalu berada di sakunya itu, “Baiklah, aku kalah.”

“Ngomong-ngomong terima kasih pujiannya. Aku tahu kalau aku tampan.”

“Cih, siapa juga yang memuji.”

“Ah, benar juga. Ungkapan bodoh itu sebuah digunakan sebagai sebuah hinaan bukan pujian, benar kan?”

“Baiklah-baiklah. Kau tampan dan aku bodoh. Puas?”

Sehun hanya menimpali jawaban Hyojin dengan tawa renyah. Egonya benar-benar tinggi. Dilihatnya jam yang bertengger di tangannya. Sebentar lagi masuk, “Aku pergi dulu.” Sehun beranjak dari kursinya. Namun sebelum benar-benar pergi, tangannya ia sempatkan mengacak surai Hyojin. Membuat pemiliknya terdiam karena terkejut. Bahkan saking terkejutnya Hyojin sekarang tampak bodoh di hadapan Nara yang baru saja kembali dari kantin.

“Kau darimana? Dari tadi aku tunggu tapi tidak muncul-muncul.”

“Tampar aku!”

“Apa?”

“Coba tampar aku.”

Nara yang jengah dengan perilaku Hyojin mengendikkan bahunya, kemudian menampar Hyojin dengan cukup keras.

“Sakit!” pekik Hyojin.

“Kau sebenarnya kenapa?”

Hyojin menampakkan senyum bodohnya seolah mengatakan ini bukan mimpi. Ia lalu memegang kedua bahu Nara, kemudian mengguncangnya pelan, “Kau benar-benar menyesal karena tidak ikut denganku ke perpustakaan tadi.”

Nara hanya memutar matanya malas mendengar ocehan temannya ini, “Apa kelaparan membuat otakmu tiba-tiba gila? Sudah kubilang kau seharusnya ke kantin bukannya ke perpustakaan.”

“Aku bertemu Sehun disana.”

“Iya, terser—apa?” Nara membulatkan kedua matanya, “Oh Sehun ketua basket itu?”

Hyojin mengangguk. Nara baru saja akan meminta penjelasan pada Hyojin. Tapi segera mengurungkan niatnya ketika tidak sengaja melihat Park Songsaengnim yang berada di ujung lorong dan menarik Hyojin untuk segera masuk ke kelas, “Pokoknya kau berhutang penjelasan padaku,” ucap Nara berbisik.

-oooOooo-

Hello Dear!

I’m gladly present you my first story in this blog. I know I ruin the plot so much but hope you enjoying it! This story also published on:

https://justdamchuu.wordpress.com/2018/05/03/imperfect-first-page/ (Wattpad) and https://www.wattpad.com/story/116878757-im-perfect-osh (Personal blog)

Regards,
Damchuu

34 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] (IM)PERFECT: First Page”

  1. Marvelous, ku nemu cerita menarik lagi. Suka deskripsi narasinya, suka diksinya, suka karakter mereka. Kalimat2nya sanggup bikin aku ngakak mulu… 😂
    Tadi baru lirik2 di chapter 2, dan menarik, yodah ku putuskan jadi baca dari awal. So semangat kak!

  2. Menarik sekali ceritanya. Bahkan dari awal kalimat “Ganteng sih, tapi sayangnya gay!” udah suka >o<
    Dear Sehun, kesian bgt sih elu bang.. kena gosip kyk gitu..
    Chanyeol ampun-ampun dah kelakuannya.. Untung Sehun sabar ya..
    Udah bang Sehun, deketin aja terus Hyojin. Kkkk~
    Semoga gosipnya segera ilang ya ..

  3. Aduh..chayoel..sehun..gimana g di anggap gay..si chanyoel disengajain begitu cara ngerampas uang sehun..yang normal pasti berfikir aneh dong..,sehun..deket aja ama hyojin tar ga dianggap gay deh..tapi dianggap kutu buku..hehe..cakep thor..

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s