[EXOFFI FREELANCE] Universe in His Eyes (Chapter 11)

Universe in His Eyes POSTER

Title        : UNIVERSE IN HIS EYES – Chapter 11

Author        : Arifia Pahlawan (Wattpad: @arifiart)

Length        : Chaptered

Genre        : AU, Friendship, Romance, School-life.

Rating        : PG 17

Main cast    :

Oh Serin (OC)

Do Kyungsoo (EXO)

Byun Baekhyun (EXO)

Park Chanyeol (EXO)

Additional cast:

Park Yoora (Chanyeol’s older sister)

Yeri (Red Velvet) as Kim Yeri

Summary    : Serin bertemu dengannya lagi, pemilik mata tajam yang selalu membayangi pikirannya selama bertahun-tahun. Ia selalu ingin menghindar dari ingatan akan lelaki itu, namun semesta justru membuat Serin semakin terjebak dengannya.

Disclaimer    : Cerita ini merupakan bentuk dari imajinasi author. Jika terdapat kemiripan pada nama tokoh, tempat ataupun jalan cerita, hal itu merupakan unsur ketidaksengajaan.  Dilarang keras untuk memplagiatkan atau merepost karya ini tanpa seizin author. Please leave comment after reading. Thank you so much and happy reading! ❤

̶

̶

̶

Kumohon tetaplah di situ, kali ini aku yang akan datang padamu…

̶

̶

̶

CHAPTER 11

-Our First Day-

_

_

_

“Aku menyukaimu!”

Langkah Kyungsoo terhenti. Lelaki itu tertegun sesaat, ia berdiri mematung di sana selama beberapa detik. Punggungnya sama sekali tidak ingin berbelok menghadap gadis itu. Ia merasakan jantungnya sempat terhenti selama sepersekian milidetik dan sekarang dadanya terasa sangat berdebar. Sejak kapan Serin…

Wajah Serin begitu memerah. Ia tak  menyangka tiba-tiba mulutnya bisa berkata seperti itu. Gadis itu menyipitkan matanya, sedikit menyesal dengan ucapannya barusan. Yang benar saja, Oh Serin.

Situasi canggung mencuat kembali di antara mereka berdua. Sebenarnya sudah beberapa waktu ini Serin terus terganggu dengan sosok Kyungsoo yang selalu menghantui pikirannya, awalnya ia berpikir mungkin ia hanya sedikit terlalu membenci Do Kyungsoo, namun belakangan ini ia semakin sadar bahwa kenyataannya tidak seperti itu. Ia sadar bahwa tiap kali melihat Kyungsoo, jantungnya selalu berdebar dan telapak tangannya kerap menjadi dingin karena gugup ketika berhadapan dengan lelaki itu.

Kyungsoo masih berdiri memunggungi Serin, matanya menatap lurus ke depan. Ia sama sekali tidak pernah mengalami situasi seperti ini sebelumnya. Ia begitu pendiam sehingga orang-orang saja hampir tidak ada yang mengenalinya karena tidak seorang pun pernah berbicara dengannya. Tapi Oh Serin berbeda, entah bagaimana selalu gadis itu yang memulai membangun hubungan lebih dulu dengan Kyungsoo, walaupun awalnya itu bukanlah sebuah hubungan yang baik.

Kyungsoo cenderung terbiasa melakukan semuanya sendiri, bahkan biasanya ia tidak pernah peduli pada orang lain, tapi sejak ia ditunjuk sebagai ketua kedisiplinan di sekolah, ia jadi terpaksa terlibat dengan urusan orang lain, tidak terkecuali Serin. Dan siapa sangka ketika tak sengaja ikut campur dalam kehidupan Serin, kini ia justru tidak dapat lepas dari bayang-bayang gadis itu.

Lelaki bertubuh pendek itu menoleh membalikkan tubuhnya. Dilihatnya gadis bernama Oh Serin yang sedang berdiri di hadapannya itu, gadis tersebut memasang wajah yang tak mampu dideskripsikan. Kyungsoo menatap gadis di hadapannya ini dengan seksama, dengan sorot mata tajamnya yang selalu dibenci Serin. Serin membalas tatapan itu seolah ia tak pernah takut dengan tatapan lelaki itu yang seakan akan menusuk netranya. Ia mencoba tenggelam dalam tatapan Kyungsoo yang seperti sedang mengintimidasi tapi entah kenapa kali ini ia merasakan ada keteduhan di dalamnya.

Kyungsoo bukannya membenciku, ia hanya tidak tahu bagaimana harus bertindak di hadapanku.

Begitulah yang ada di pikiran Serin.

Mata Kyungsoo terus menatap Serin yang juga belum melepas pandangannya dari tatapan akan dirinya. Dilihatnya wajah gadis itu lekat-lekat, ia mengamati baik-baik ekspresi gadis itu. Serin tidak cantik, pun terkadang wajahnya terlihat begitu dingin dan arogan, matanya yang sipit dan bentuk alis yang tajam, serta mulutnya yang kecil. Wajah seperti itu bukan tipe ideal menurut Kyungsoo, namun Kyungsoo sendiri sebenarnya tidak terlalu mempermasalahkan bagaimana rupa seseorang, selama orang tersebut bisa membuatnya nyaman dan serasa ingin terus melihatnya dan ingin selalu berada di dekatnya. Setidaknya Serin memiliki hal itu.

Kyungsoo sudah membuat keputusan. Ia akan mencoba berjalan pelan menuju Serin sambil berhitung sampai angka lima. Ia pernah mendengar jika laki-laki bisa langsung jatuh cinta pada seorang gadis hanya dalam waktu lima detik. Jika dalam lima detik itu ia merasakan perubahan atau jika dadanya semakin berdebar kala jaraknya yang semakin dekat dengan Serin, Kyungsoo akan meneguhkan keyakinannya.

Dengan berani Kyungsoo mulai melangkahkan kakinya pelan menuju Serin. Gadis itu hanya terdiam sambil memerhatikan sosok Kyungsoo yang mulai berjalan pelan mendekatinya.

1…

Aku masih tidak yakin dengan perasaanku, tapi aku akan mencari tahu sendiri…

2…

Oh Serin, jangan bergerak, tetaplah di situ…

3…

Kumohon tetaplah di situ, kali ini aku yang akan datang padamu…

4…

Aku semakin dekat, jadi tunggulah…

5…

Aku sudah di sini…

Langkah Kyungsoo terhenti. Kini ia sudah berdiri di hadapan Serin. Kyungsoo tidak melepaskan pandangannya dari gadis itu. Serin tidak mengatakan apa-apa dan hanya menatap dalam Kyungsoo. Mereka hanya tidak tahu bahwa keduanya sama-sama menahan sebuah bom di dada masing-masing yang bisa saja dapat meledak sewaktu-waktu karena terus menahan perasaan berdebar itu.

Serin benar-benar hampir tidak mampu menahan dorongan untuk langsung mendaratkan tubuhnya di pelukan Kyungsoo, namun ia memilih diam dan tetap berdiri di sana, masih menghadap mata Kyungsoo yang terus menatapinya.

Kyungsoo memutuskan pandangannya dari Serin, lelaki itu melirik ke bawah. Perlahan ia meraih ujung jemari Serin yang dingin. Ia hanya memegangi ujung jari telunjuk Serin, itu saja. Kemudian matanya kembali menatap Serin. Gadis itu seperti tersengat listrik saat jemari Kyungsoo meraih ujung jari telunjuknya. Sentuhan itu seperti langsung mengalirkan kehangatan pada jari-jarinya yang dingin. Kenapa rasanya… senang sekali?

Serin membalas tatapan Kyungsoo yang datar tapi entah kenapa tatapan mata itu memancarkan kehangatan. Lelaki itu memang tidak memiliki banyak ekspresi pada wajahnya, tapi Serin bisa dengan mudah memahaminya hanya dengan melihat bola mata Kyungsoo. Tanpa sadar Serin melingkarkan sebuah senyuman di bibirnya.

Mereka hanya saling menatap untuk beberapa saat. Beberapa detik itu terasa begitu sunyi karena mereka tidak mengatakan sepatah katapun seolah keduanya hanya saling menyalurkan isi pikiran masing-masing melalui tatapan mata mereka.

“Mianhae, Serin-ah.”

Wajah Serin berubah bingung. Tiba-tiba ia merasakan sesak di dadanya. Kyungsoo menundukkan kepalanya, pandangannya teralihkan.

“Maaf karena tadi aku tiba-tiba marah padamu.” ujar Kyungsoo pelan.

Jujur saja untuk sesaat Serin merasa sedikit lega dengan kalimat Kyungsoo karena sebenarnya ia sudah sempat berpikiran yang macam-macam.

“Sebenarnya aku sangat khawatir padamu, aku sangat kesal soal kejadian kemarin. Tapi entah kenapa kau santai sekali saat membahasnya. Itu makin membuatku kesal.”

“Kyungsoo-ya…”

“Aku mohon, jangan mengatakan apapun yang membuatku jadi khawatir lagi padamu.”

Serin meraih tangan Kyungsoo. Kini ia paham mengapa Kyungsoo tadi berubah tiba-tiba saat ia membicarakan kejadian yang ia alami dengan Kai waktu itu. “Kyungsoo-ya…”

Dengan sedikit ragu Kyungsoo menggenggam tangan Serin lembut. “Serin-ah, mulai sekarang aku janji akan selalu di dekatmu.”

Serin menatap Kyungsoo. Dadanya begitu berdebar saat ini. Ia tak dapat menjelaskan bagaimana perasaannya begitu gembira saat Kyungsoo bersikap manis seperti ini padanya. Lelaki itu telah membuat kupu-kupu di perutnya berterbangan.

“Mulai sekarang aku yang akan selalu menjagamu. Aku ingin melindungimu.”

***

Seoul, Korea Selatan.

Ponsel Chanyeol berbunyi lagi. Ia sudah bisa menebak kali ini siapa yang sedang terus mencoba menghubunginya. Ia melirik ponselnya, dilihatnya nama yang sama muncul di layar. Chanyeol mendengus kesal sedikit tidak percaya karena ia kerap melihat nama yang sama terus-menerus meneleponnya. Dengan cepat Chanyeol menolak panggilan tersebut dan langsung menelepon Baekhyun.

“Dimana kau?”

“Rumah. Wae?”

“Mau makan ayam goreng tidak? Ayo keluar.”

Percakapan mereka tidak lebih dari setengah menit dan setelah itu Chanyeol langsung mengambil jaketnya dan segera berjalan ke luar rumah.

“Mau ke mana kau?” tanya sebuah suara yang tiba-tiba muncul dari belakang. Suara yang datang dari sosok seorang wanita muda berparas tinggi dan berwajah persis dengan Chanyeol. Itu Park Yoora, kakak perempuan Chanyeol yang berusia tiga tahun lebih tua darinya.

“Aku mau keluar sebentar dengan Baekhyun.”

Yoora menoleh ke arah jam dinding. “Jam segini?”

“Eeey, ayolah nuna, kau seperti tidak pernah seumuranku saja. Lagipula ini urusan laki-laki.”

Yoora pura-pura mengangguk mengiyakan perkataan adiknya. “Baiklah, baiklah, urusan laki-laki.”

“Aku pergi dulu. Aku akan segera kembali.” Chanyeol tersenyum dan memberi isyarat pada tangannya.

“Jangan pulang terlalu malam.”

“Araseo.”

Malam itu Chanyeol dan Baekhyun bertemu di sebuah restoran cepat saji. Ini merupakan momen yang cukup langka karena biasanya mereka tidak pernah bertemu berdua saja tanpa Serin karena biasanya kedua lelaki ini kerap mengisi obrolan mereka dengan berdebat jika tidak ada Serin sebagai penengah. Namun kini gadis itu sedang tidak ada, Chanyeol dan Baekhyun pun juga perlahan semakin dekat dengan sendirinya.

“Kau sudah lama menunggu?” tanya Baekhyun yang baru saja sampai dan langsung duduk di hadapan Chanyeol.

Chanyeol berhenti menyeruput sodanya. “Sangat lama sampai minumanku sudah habis.” kata Chanyeol sambil menggoyangkan gelasnya di depan wajah Baekhyun.

“Yah, kau sendiri kan sudah tahu aku sudah tidak tinggal di daerah sini. Lain kali carilah titik temu yang lebih efisien dan tidak merugikan satu pihak, aku sampai harus naik bus dulu dari sini.” omel Baekhyun yang tidak terima karena ia harus berpergian agak jauh malam-malam begini.

“Araseo, araseo, lain kali kau saja yang memilih tempat.”

Mereka memesan sepaket ayam goreng dengan minuman ringan sebagai camilan.

“Kau sudah dengar kabar dari Serin?” tanya Chanyeol sambil menggigit ayam gorengnya.

“Hm, kemarin aku melakukan panggilan video dengannya.”

Chanyeol mendelik. Ia tidak percaya Serin hanya menghubungi Baekhyun dan lupa dengan dirinya. Dalam hati ia sedikit cemburu dengan Baekhyun yang selalu mendapat perhatian lebih dari Serin. Tapi kemudian ia berpikir lagi, sebenarnya tidak ada salahnya sih, lagipula Baekhyun memang sudah bersahabat dengan Serin sejak kecil, jadi tidak heran jika Serin lebih perhatian padanya. Tapi bagaimanapun juga Chanyeol kan sudah menjadi sahabatnya juga saat ini. Apa salahnya berlaku adil?

“Apa-apaan gadis itu, kenapa dia hanya menghubungimu saja? Aku bahkan belum mendengar apapun darinya.”

“Memangnya kau sudah menghubunginya?” tanya Baekhyun yang bingung kenapa hanya dirinya yang dihubungi Serin.

“Tidak.”

Baekhyun mendengus. “Hah, bagaimana bisa kau berharap gadis itu akan menghubungimu sedangkan kau saja tidak pernah menanyakan kabar apapun padanya?”

Chanyeol berpikir sebentar. Ia baru sadar kalau selama ini hubungannya dan Serin bisa terjalin karena gadis itu duluan lah yang perhatian padanya. Sedangkan dirinya lebih cuek pada gadis itu, dan kini ia baru merasa kesepian sekarang karena Serin sedang jauh dan tidak mengabarkan apapun padanya.

Tapi tetap saja, Oh Serin, kau lupa padaku?

“Lalu bagaimana keadaannya? Ia baik-baik saja?” tanya Chanyeol akhirnya mencari tahu lewat Baekhyun.

“Dia sangat bersemangat seperti biasa. Tentu dia baik-baik saja.” mendadak Baekhyun teringat percakapannya kemarin dengan Serin. Percakapannya mengenai Do Kyungsoo dan ia belum boleh memberi tahu Chanyeol mengenai hal itu. “Aku sudah berjanji padanya bahwa kita akan melakukan panggilan video bertiga.”

“Baguslah kalau dia baik-baik saja.”

Baekhyun dan Chanyeol terdiam masing-masing. Mereka masih agak canggung karena sebelumnya tidak pernah memiliki obrolan lain selain bersama Serin sebagai media di antara keduanya. Walau mereka sesama pria, namun karakter mereka sungguh berbeda. Obrolan yang terjadi biasanya tidak lebih dari sekedar omelan dan makian. Namun kini mereka duduk bersama, sibuk mengunyah makanan masing-masing.

Ponsel Chanyeol berdering. Lelaki itu segera meraih ponselnya dari saku dan melihat nama penelepon. Chanyeol menatap layar sebentar lalu mengabaikan panggilan tersebut.

“Kenapa tidak diangkat?” tanya Baekhyun yang penasaran mengapa Chanyeol tidak menjawab telepon itu.

Ponsel Chanyeol masih berdering. Dengan malas ia menunjukkan ponselnya pada Baekhyun tanpa mengatakan apa-apa. Sontak Baekhyun langsung menaikkan alisnya begitu melihat nama yang tertera pada ponsel Chanyeol.

“Kim Yeri? Serius kau?” Baekhyun begitu terkejut melihat nama Kim Yeri di layar ponsel itu. Chanyeol tidak menjawab dan meletakkan ponselnya kembali.

Ponsel Chanyeol terus berdering sampai akhirnya mati dengan sendirinya.

“Yah, sejak kapan?”

“Apanya?”

“Kim Yeri! Kau berkencan dengannya?” tanya Baekhyun penasaran.

“Aniya! Entah kenapa gadis itu akhir-akhir ini sering sekali mengejarku.” jawab Chanyeol yang kelihatannya sangat terganggu dengan ulah gadis bernama Yeri itu.

Gadis yang dimaksud mereka adalah Kim Yeri, siswi junior tahun pertama yang sepertinya sangat menyukai Chanyeol. Entah sejak kapan, yang jelas akhir-akhir ini gadis itu sedang giat mendekati Chanyeol. Yang mengejutkan Baekhyun adalah gadis itu merupakan junior paling populer di sekolah mereka karena Yeri terkenal dengan kecantikannya dan pribadinya yang periang. Hampir seluruh siswa laki-laki di sekolah tertarik padanya, dan rumor di sekolah mengatakan ia menjadi trainee sebuah perusahaan besar untuk debut sebagai idol, oleh karena itu tentu saja banyak laki-laki yang semakin memujanya.

Tapi tidak dengan Chanyeol. Menurut Baekhyun, ia merasa Chanyeol seperti tidak menyukai perempuan selain kakaknya. Kakak Chanyeol sangat cantik dan populer sehingga dari kecil Chanyeol seperti memiliki kewajiban untuk melindungi kakaknya. Sejauh Baekhyun mengenal Chanyeol, lelaki itu sama sekali tidak pernah terlihat dekat dengan perempuan lain, kecuali Serin tentunya.

“Lalu bagaimana dia bisa tahu nomor teleponmu?” tanya Baekhyun yang masih penasaran bagaimana gadis secantik dan sepopuler Yeri bisa mendekati sahabatnya yang tukang rusuh begini.

“Molla! Aku jadi kesulitan menggunakan ponselku karena gadis itu terus saja menghubungiku dan mengirimiku SMS. Ponselku jadi berisik karenanya.”

Baekhyun tertawa keras. “Kalau kau tidak mau, dia buatku saja.” canda Baekhyun sambil menggoda Chanyeol.

“Ambil sana, buat kau saja.” jawab Chanyeol tidak peduli.

“OPPA!” teriak sebuah suara yang datang dari pintu masuk restoran cepat saji tempat Baekhyun dan Chanyeol berada. Seorang gadis bertubuh mungil masuk dengan tergesa-gesa menuju meja yang sedang diduduki mereka.

Itu Kim Yeri.

“Chanyeol oppa!” panggil Yeri yang langsung berjalan cepat menuju meja yang ditempati Baekhyun dan Chanyeol. “Kenapa kau tidak pernah menjawab teleponku?”

Chanyeol yang terkejut setengah mati karena didatangi Yeri langsung mengalihkan pandangannya dan menyembunyikan wajah kesalnya dari gadis itu. Tanpa menunggu jawaban  Chanyeol, Yeri langsung mengambil posisi duduk di sebelah Chanyeol. Baekhyun yang ikut terkejut karena adegan yang sangat tiba-tiba ini hanya dapat menonton kebingungan.

“Yeri-ah, annyeong.” sapa Baekhyun mencoba ramah pada Yeri.

“Oh, oppa, annyeong.” jawab Yeri cepat kemudian fokusnya kembali pada Chanyeol.

Baekhyun nyengir tidak percaya bahwa junior favorit itu baru saja mengabaikannya, apalagi junior populer macam Kim Yeri. Untuk pertama kalinya ia merasa seperti agak diacuhkan karena Baekhyun sepertinya sudah terlalu terbiasa dengan perlakuan baik dari teman-temannya. Hey, ia juga tidak kalah populer kok dengan gadis ini. Menyebalkan sekali.

Yeri terlalu sibuk sendiri dengan Chanyeol hingga Baekhyun sengaja berdehem dengan keras. Awalnya ia pikir Yeri ini tipikal gadis yang menyenangkan karena hampir semua pria menyukainya. Tapi setelah melihat tingkahnya yang begitu agresif terhadap Chanyeol, seketika ia jadi sebal.

“Sudah malam, ayo kita pulang!” ajak Baekhyun dengan suara keras. Chanyeol yang mendengar langsung mengiyakan ajakan Baekhyun dengan cepat.

“Tunggu oppa!” Yeri dengan cepat menyambar lengan Chanyeol dan memintanya duduk kembali.

“Waeee?” Chanyeol akhirnya merespon gadis mungil ini dengan nada sedikit kesal.

“Oppa bisakah kau mendengarkan ucapanku sekali saja?” pinta Yeri sedikit manja.

Chanyeol menarik lengannya dari rengkuhan gadis itu dengan kasar. “Katakan saja dengan cepat.”

“Aku menyukaimu, oppa.”

Chanyeol menghela nafasnya. “Itu saja yang ingin kau katakan?”

“Ayo kita jadian.” ajak Yeri blak-blakan.

Baekhyun hampir tertawa mendengarnya.

***

Pagi yang dingin masih menyelimuti Tokyo. Padahal ini sudah memasuki musim semi tapi suhu di Tokyo masih belum juga bersahabat. Kyungsoo menggosok telapak tangannya yang kedinginan kemudian memasukkan kepalannya ke saku celananya. Beberapa kali ia menghentakkan kaki untuk mengusir hawa dingin yang terus berusaha masuk ke tulangnya. Ia sudah menunggu selama lima menit.

Serin keluar dari bangunan dorm-nya dengan terburu-buru. Baru saja ia hendak berlari namun langkahnya terhenti karena kaget melihat Kyungsoo sedang berdiri di sana.

Canggung.

“Kau- belum berangkat?” tanya Serin malu-malu.

“Lama sekali! Kita sudah hampir terlambat!” omel Kyungsoo kesal karena sudah berdiri terlalu lama dalam cuaca menusuk di luar.

Kalau begitu kenapa tidak duluan saja? Gerutu Serin dalam hati.

Serin tidak merasakan adanya perubahan pada raut wajah Kyungsoo. Lelaki itu tetap dingin seperti biasanya. Benarkah dia lelaki yang sama saat ia temui kemarin malam?

Dengan cepat Kyungsoo langsung menarik tangan Serin dan segera berlari di depannya. Keduanya setengah berlari menuju sekolah mereka. Dingin sekali sampai Serin masih bisa merasakan embun yang keluar dari nafasnya, namun suasana berubah menjadi begitu hangat saat mendapatkan tangannya berada di genggaman Kyungsoo. Diam-diam ia tersenyum sendiri di balik punggung lelaki itu.

Tentu saja, lelaki itu adalah orang yang sama. Do Kyungsoo.

It is our first day, aren’t we?

̶

̶

̶

-To be Continued-

 

10 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Universe in His Eyes (Chapter 11)”

  1. Horeeee..chapter ini..so sweet banget..ceweknya pada nembak sang pria..haha..kyungsoo akhirnya jadian..deh, abang jangkung yoelie ditembak ama yeri,trus my sweet heart baekie ditembak ama siapa..aq deh yang nembak…love you..,lanjut thor..

  2. Uhhh cimol kau sangat manus sayang😘😘 gue baper thor yuyu😁 semangat thor nulisnya😘 cepet di next ya😉

  3. Nooooo cimol…dirimubhnya milik noona ga boleh sama yg lain wkakakakakkakakaka
    Akhirnyaaaaa akhirnyaaaa..setelah penantian sekian chapter..huahahahahahaha
    Plg dr jepang kykny bkal ad yg dmarahin caplang dehhh 🤣🤣

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s