[EXOFFI FREELANCE] I Hate (Love) You (Chapter 4)

hate love

I Hate (love) you 4

Author : Haiwind

cast :

  • Suho
  • Yoo Hana
  • And other cast that you can find on story

Duration : chapter

Rating : PG 15+

Genre : Romantic

 Disclaimer : ff ini asli buatan aku. Dan baru di publish di salah satu group fanfict di FB.

Summary

Aku sangat membencimu, sangat… tapi kenapa kau membuatku mencintaimu juga?

-Hana-

Happy reader yeoreobeun…  🙂

“Yoo Hanassi…sebenarnya aku ingin mengatakan ini dari awal, tapi aku menunggu saat yang tepat dan aku memutuskan untuk berteman dulu denganmu agar aku mengenali mu lebih lagi. Dan aku kini yakin dengan pilihanku. Jadi….” Juna menghela nafasnya “Apa kau mau menjadi Yeojachinguku?”

Hana terdiam. Dia tak tahu harus berkata apa saat ini.

“Berdirilah!” ucap Hana. “Aku tak tahu harus bilang apa sekarang–”

“Aniya…kau tak harus menjawab sekarang aku akan menunggu.” Juna menunduk dan dia menyimpan kembali kotak merah yang akan di berikannya tadi.

Hana meraih pipi Juna dan tersenyum pada pria itu. Dia berkata pada Juna kalau dia bukannya tidak suka pada pria itu, hanya saja dia belum bisa menjawabnya sekarang.

Juna tersenyum kembali pada Hana dan cupp….

Mata Hana terbelalak. Juna mengecup bibirnya dan ini ciuman pertamanya.

Hana menatap Juna dengan pipinya yang merona, Juna tersenyum jahil pada Hana dan berlari meninggalkan gadis itu yang masih tak bergeming. Jantungnya berdetak dengan kencang dia merasa tak menginjak tanah lagi, kakinya terasa lemas dan dia terjatuh.

Tapi Hana tak marah dengan perbuatan Juna, dia tersenyum.

-***********************-

“Suhoya….” Hana mencoba membangunkan adiknya itu, tapi Suho sama sekali tak menghiraukan kakaknya itu dan tetap tidur.

Hana memukul bokong Suho, “yak!!! Ireona palli!” Hana mendesah pasrah. Dia menyerah kalau soal membangunkan Suho.

Kyuhyun memasuki kamar Suho, “Chagiya…waeirae?” kyuhyun mengusap lembut bahu istrinya.

Hana yang saat ini tengah kesal menepis tangan Kyuhyun.

“Apa semua kalian tuan muda dari keturunan chaebol begini eoh?” Hana melipat kedua tangannya di depan dadanya.

“Aniya! Aku tak seperti itu chagiya,” ucap Kyuhyun “Aku tuan muda yang baik.”

Kyuhyun memeluk pinggang istrinya itu dari belakang dengan dagu yang bertumpu pada bahu Hana.

“Ku harap kau tak lupa bagaimana perlakuan mu dulu padaku!” Hana melepas pelukan Kyuhyun darinya dan berjalan keluar dari kamar Suho.

Kyuhyun yang di tinggalkan Hana hanya terdiam. Dia melirik ke arah Suho yang masih tertidur pulas pria itu tak tahu kalau dia adalah dalang dari perkelahian Kyuhyun dan istrinya pagi ini.

“Yak!!! IREONA!!!” Kyuhyun memukul bokong SUho dengan kuat, bahkan pria itu sampai terbangun dari mimpi-mimpinya.

Berkali-kali Suho mencuri pandang pada Nunnanya dan juga Kakak iparnya itu. Dia heran dengan kedua orang itu pagi ini, tumben mereka saling mendiamkan. Biasanya mereka selalu pamer kemesraan di hadapannya.

“Hyung,” Suho berbisik, “Kalian kenapa?”

Kyuhyun memandang sinis Suho. Ingin rasanya dia mengumpat adik iparnya itu tapi dia tak mungkin melakukannya. Bisa-bisa istrinya tambah marah padanya.

“Suhoya…cepat selesaikan sarapanmu dan bereskan barang-barangmu! Abeoji sudah pulang dari Belanda, jangan sampai dia tak melihatmu di rumah lagi.” Hana berdiri dari duduknya dan membereskan piring kotor di atas meja makan.

Suho tak menanggapi ucapan nunnanya itu, dia hanya diam.

Hana menoleh ke arah Suho yang masih tak bergeming, “Kau harus pulang! Tak mungkin selamanya kau berada di sini Suhoya….”

“araseo! Aku akan pulang, tapi ku harap kau tak menyesal setelah kau menyuruhku pergi hari ini.”

Hana memandang adiknya yang berjalan ke arah kamarnya dengan wajah marah. Tak lama Suho keluar dari kamarnya sambil membawa tasnya.

“Aku pergi.” Suho berjalan keluar dari rumah Hana dan Hana melihat kepergian adiknya itu dnegan wajah sedih. Dia tak mau adiknya itu jauh darinya tapi dia harus melakukannya. Hana tak mau kalau ayah mereka marah lagi dan memukul Suho.

“Mianhae Joon-Myeonna….”

-**************-

Hana dan Juna memasuki salah satu Coffee Shop. Hana sungguh bahagia hari ini, hal itu tampak pada wajahnya yang terus berseri-seri dan terus tertawa selama bersama Juna.

Gadis itu merasa nyaman dengan pria yang saat ini tengah duduk di hadapannya itu.

“Hanassi…masa koas mu akan berakhir kan?” tanya Juna pada Hana.

“nee….” jawab Hana, “Waktu berjalan begitu cepat bahkan aku baru merasa kemarin kita saling mengenal. Sekarang kita akan berpisah saja.”

Raut wajah Juna berubah seketika, jujur saja dia tak suka kalau harus berpisah dengan Hana. Dia ingin Hana lebih lama lagi di rumah sakit. Dia masih ingin melihat wajah Hana lebih lama lagi.

“Apa kita masih bisa bertemu?” Juna menggenggam tangan Hana.

Hana tersenyum pada Juna dan meletakkan tangannya di atas tangan Juna yang tengah menggenggam tangannya.

“Tentu…kenapa tidak?”

Rasa lega muncul di hati Juna, tapi dia juga masih harus menagih jawaban Hana. Apakah Hana bersedia menjadi kekasihnya atau tidak.

“Hanassi,” Juna menatap Hana “Apa kau bisa memberi ku jawabn itu sekarnag?”

Seketika jantung Hana berdegup kenacang. Benar! Dia harus memberi jawaban pada Juna, tak mungkin dia terus menggantung hubungan mereka seperti ini.

Jujur saja Hana merasa nyaman dengan Juna, dia juga menyukai Juna, jantungnya juga selalu berdegup saat bersama pria ini dan dia nyaman dengan pria yang di hadapannya ini. Rasanya tak salahkan kalau dia menerima pria ini?

“Junassi…”

Juna mendongak melihat Hana.

“Aku juga menyukaimu, aku nyaman bersamamu,” ucap Hana. “aku mau menjadi kekasihmu.”

Wajah Juna yang awalnya muram langsung tampak berseri. Dia senang, dia bahagia dan berbagai perasaan yang tak bisa di ungkapkannya dengan kata-kata.

Juna yang sangat bahagia langsung memeluk Hana.

“Gomawo Hanassi…saranghae…saranghae Hanaya.”

Hana yang berada dalam pelukan Juna tersenyum juga. Sama dengan Juna, dia juga menginginkan hubungan ini.

Dokter Kim memandang Hana dengan bangga. Tentu dia sangat bangga dengan mahasiswanya yang satu ini. Setelah masa koas dia mengikuti EXIT EXAM (kalau di Indonesia sama dengan UKDI) dan memperoleh nilai sempurna. Tak sia-sia selama ini dokter Kim mendidiknya.

“Kau berhasil Yoo Hana.” Dokter Kim memeluk Hana dan Hana juga membalas pelukan Dosen sekaligus Dokter yang membimbingnya selama masa koasnya.

“Kamsahamnida seonsaengnim.” Hana membungkukkan badannya sebagai tanda hormatnya.

“Gomawo karena kau sudah mau mengikuti bimbinganku selama ini. Aku sudah yakin kalau kau pasti bisa melewati semuanya. Kini kau akan mengikuti internship, ku harap kau bisa juga melakukannya dengan baik.” DOkter Kim menepuk bahu Hana, dia memiliki rasa percaya yang besar pada Hana. “Dan jangan lupakan semua peringatanku padamu Hanaya….”

“Nee seonsaengnim, aku akan selalu mengingat segala yang telah anda ajarkan padaku”

-***********-

“NAGA!!!” suara amukan seorang pria memenuhi ruangan putih itu.

Para perawat itu ketakutan melihat pria muda itu. Bagaimana tidak takut? Pria itu memegang pisau dan mengarahkannya pada para perawat.

Wajah pria itu pucat, lingkaran hitam juga tampak pada matanya bibirnya membiru dan keringat membasahi wajahnya.

“Jangan ada yang menyentuhku!” ancam pria itu. Tanpa di katakannya pun tak akan ada perawat yang mau menyentuhnya. Semuanya begitu takut melihatnya.

Sementara itu di luar ruangan Nunna dari pria itu menangis pilu melihat adik kesayangannya itu kembali seperti ini.

“Kyuhyunna…apa yang harus ku lakukan pada Suho?” Hana berhambur ke pelukan Kyuhyun. Jujur dia tak tahan melihat adiknya itu begini.

“Nyonya…dokter yang akan menangani tuan Suho sudah tiba.” Ucap seorang perawat.

Dengan cepat Hana berjalan menuju tempat dokter baru yang akan merawat adiknya itu.

“Anyeonghaseyo uisanim….”

“Nee…anyeonghaseyo. Yoo Hana imnida.” Dokter muda itu memperkenalkan dirinya.

“Nee? Nama anda juga Hana”

Keduanya saling berpandangan. Dan seketika senyum merekah di wajah keduanya.

“Saya Kim Hana, tapi anda juga bisa memanggil saya Nyonya Cho….”

“Nee…nyonya Cho. Memang sebaiknya saya memanggil anda seperti itu. Rasanya janggal kalau memanggil nama sendiri. Dan anda juga bisa memanggil saya Yoo Uisa.”

“Saya dengar anda adalah koas terbaik dan yang meraih nilai terbaik.” Ucap nyonya Cho.

“Aniyo…saya tidak sebaik itu,” Hana tersenyum pada nyonya Cho, dia tak terlalu ingin di puji seperti itu.

“Saya memang sengaja meminta pada universitas anda agar yang terbaik yang di kirim ke tempat ini. Saya membutuhkan orang seperti anda untuk menangani adik saya.”

Keduanya berjalan menuju ruangan Suho. Nyonya Cho memerintahkan beberapa orang untuk menampilkan isi ruangan itu.

“yang di dalam sana adalah adik saya, dia sudah seperti itu sejak beberapa bulan yang lalu. Tepatnya saat saya memulangkannya ke rumah orangtua kami. aku tak tahu apa yang terjadi, tiba-tiba dia di kirim kembali ke rumah saya dalam keadaan seperti ini. Tolong…bantu adik saya untuk sembuh uisanim.” Nyonya Cho menggenggam tangan Hana, dia menaruh harapan yang besar pada dokter muda ini.

Sedangkan hana, dia takut akan kegagalannya untuk menyembuhkan pria yang ada di dalam sana.

-**************-

“usianim…anda harus mencek keadaan pasien sekarang!” ucap salah seorang perawat.

Hana mengangguk dan dia pergi ke ruangan pria itu. Dia saja tak tahu bagaimana wajah pria itu, dia baru aktif bekerja hari ini.

Sebelum memasuki ruangan itu Hana mengumpulkan keberaniannya terlebih dahulu.

Dia membuka pintu, dan pria itu tampak menggerakkan tubuhnya.

“Nuguya?” tanya pria itu yang membuat jantung Hana ingin meloncat keluar.

“Chaega Yoo Uisa imnida, aku adalah dokter pribadi anda.” Jawab Hana gugup.

“Aku tak butuh dokter!”

Hana tertegun, dia menelan ludahnya. Sungguh dia takut, dia tadi mendengar cerita para perawat tentang pria ini. Dia bukan psikiater dia tak bisa menangani pria ini.

Ranjang tempat pria itu berbaring berdecit. Hana menengadahkan kepalanya dan melihat pria itu telah bangun dari tidurnya. Tapi sepertinya dia mengenal sosok itu. Dia bisa mengenali siapa pria itu hanya dari tampak samping.

Hana mendekat pada pria itu. Dia tak bisa membiarkan pasiennya itu bangun dari tempat tidurnya sekarang, dia harus memberi pria itu obat.

“Anda harus meminum obat.” Hana menahan pria itu.

Pria itu menolehkan kepalanya dan matanya terbelalak melihat siapa yang kini tengah menahan tubuhnya.

“Yoo…Yoo….”

“Diamlah!” Hana mengabaikan Suho dan melakukan tugasnya. Dia mengambil suntiknya yang sudah di isi sebuah cairan dan menyuntikkannya pada Suho.

Sesaat Hana melihat tangan Suho yang di penuhi lebam, dia tak tahu entah apa yang dialami Suho selama ini.

“Kenapa kau di sini? Bukannya Paman melarnagmu berada di dekatku?”

“Aku di utus ke sini. Bukan karena kemauanku.” Hana membereskan peralatannya dan hendak beranjak dari ranjang Suho, namun pria itu menahannya.

“Joon-Myeonna…jebal lepaskan. Kau harus istirahat.” Hana mencoba melepaskan genggaman Suho namun pria itu malahan menarik Hana sehingga gadis itu kini sudah berada di pangkuannya.

“Kajima….” Suho memeluk Hana dan dapat di rasakannya badan Suho yang bergetar sambil memeluknya.

“Tolong jangan pergi…aku tak sanggup menghadapi ini sendirian….”

Suho menangis di pelukan Hana dan entah mengapa hati Hana terasa teriris melihat pria konyol satu ini menjadi begini.

Tangan Hana bergerak untuk mengelus pundah Suho namun dia mengurungkan niatnya.

“Aku akan berada di sini, aku yang akan merawat mu sementara. Aku memang bukan psikiater tapi aku akan membantu dokter utama di sini.” Hana melepaskan pelukan Suho dan menyuntikkan seuatu ke lengan pria itu.

“Tidurlah….”

Mata Suho terasa mulai berat dan Hana yang berada di hadapannya mulai samar-samar dan akhirnya sleuruhnya gelap. Dia tertidur.

“huft….” Hana menghela nafas lega, akhirnya pria ini tertidur.

Hana keluar dari ruangan SUho dan dia langsung mendapatkan kakak Suho berdiri di hadapannya.

“Yoo uisanim, sepertinya kita harus bicara.”

Keduanya kini berada di lobi rumah sakit kejiwaan itu. Kim Hana menatap dokter muda di hadapannya itu. Setiap kali melihat dokter ini dia teringat dengan seseorang.

“Dokter Yoo ku dengar kau anak didik dari Dokter Kim Hae-Jun?” tanya wanita itu yang di balas anggukan oleh Hana.

“Nee…saya anak didik dokter Kim, tapi kenapa anda bertanya tentang itu?”

“Aniyo…aku hanya teringat akan paman kami itu. Dia adalah paman yang baik, tapi Suho pernah buat kesalahan yang fatal dan sejak itu keluarga kami dnegan keluarga Dokter Kim agak bermasalah.”

“Ahh…nee.” Hana tersenyum canggung menanggapi cerita dari nyonya Cho, dia menyeruput teh yang berada di gelas pinknya itu. Namun pikirannya beralih pada kejadian tahun lalu saat Dokter Kim menyuruhnya menjauhi Suho. ‘Ku rasa ini ada hubungannya dengan kesalahan fatal Suho.’

-*********************-

Pranggg………

Lagi-lagi Suho melemparkan sebuah piring ke dinding. Dia marah lagi.

Para perawat ketakutan setengah mati melihat Suho padahal sudah berapa hari ini Suho tak kambuh. Tapi ada apa dengan hari ini?

“Waeyo?” tanya Hana begitu dia memasuki ruangan Suho.

Suho yang melihat Hana memasuki ruangannya langsung berlari ke arah wanita itu dan memeluk Hana dengan erat.

“Ha..hanaya….mereka…mereka ingin membunuhku.” Suho meremas erat jas putih Hana. Tubuhnya bergetar dan dia sungguh-sungguh ketakutan.

“Tidak ada yang mau membunuhmu Suhoya….” Hana mencoba menenangkan pria itu.

“Aniya! Kau tak lihat pisau dan pemukul itu? Aku…aku taku…mereka juga pasti sudah meracuni makananku.” Suho masih memeluk erat Hana.

Hana memberi isyarat pada para perawat untuk keluar dan tak lama ruangan itu hanya di huni oleh mereka berdua.

Hana memapah Suho untuk kembali ke ranjangnya dan keduanya duduk di situ.

Suho masih saja memeluk Hana dan air mata pria itu sudah membasahi jas putih nya.

“Gwencahana…sekarang hanya kita berdua. Tak akan ada yang menyakitimu Suhoya….”

Suho melepas pelukannya dan menatap wajah gadis itu. Matanya sembab karena menangis dan pipinya juga memerah. Dia tenang dengan melihat Hana ada di hadapannya sekarang.

“Kau kemana kemarin?” tanya Suho.

“Aku harus ke rumah sakit pusat kemarin.” Jawab Hana.

Tak lama sarapan Suho yang baru datang dan Hana langsung memberi pria itu makan.

Kalau kau melihat Suho sekarang dia seperti anak kecil. Serbet putih di gantungkan di lehernya dan Hana menyuapinya.

“Suhoya…apa kau tak mau sembuh?” Hana menyuapkan bubur ke mulut Suho.

Suho mengunyah dan menelan makanan itu.

“Aku ingin sembuh Hanaya.” Ucapnya.

Hana meletakkan mangkuk bubur Suho yang sudah kosong dan menatap pria itu.

“Kalau begitu kau tak boleh lagi marah pada perawat Suhoya…Nunna mu sudah bekerja keras untuk mempekerjakan mereka.”

“Hanaya…mereka semua bukan orang-orang nunnaku.”

Dahi Hana mengerut dia tak mengerti ucapan Suho, “Maksudmu?” tanyanya untuk memastikan.

“Mereka itu di pekerjakan oleh ibu tiriku, aku sudah mengatakannya pada Nunna tapi dia tak percaya dan menganggapku hanya beromong kosong karena aku sedang tak waras sekarang.”

‘Jadi dia tahu kalau dia sekarang sedang gila?’ Batin Hana.

“Ibu tiriku itu orangnya sangat keji, dia yang membuatku seperti ini.”

Hana menatap Suho yang sepertinya sangat geram dengan ibu tirinya yang tengah di bicarakan mereka sekarang. Apa yang sudah di lakukan ibu tirinya itu?

“Begitu lepas dari tempat ini aku pasti akan mengusirnya dari sisi Abeoji.” Lagi wajah SUho tampak geram, “Wanita itu, dia menipu nunna dan abeoji, dia ingin mengambil apa yang menjadi hakku dan memberinya pada anaknya…hah…dia kira aku akan menyerah?”

Hana merinding melihat wajah geram dan ngeri Suho. Dia bisa merasakan kebencian Suho pada ibu tirinya itu.

“Hanaya….” Suho menggenggam tangan Hana, “Kau…hanya kau yang harus membantuku sembuh. Aku hanya membutuhkan mu Yoo Hana.” SUho menarik Hana ke dalam pelukannya dan membelai lembut punggung gadis itu. Dia tenang bersama Hana, wanita yang dulu sering di hinanya ini. Tapi sekarang menjadi kekuatan baginya.

Hana tak perlu berkata apa-apa, bagi Suho ada Hana saja dia kuat.

-******************-

“Mwo? Suho tenang hanya dengan Yoo uisa?” Kim Hana heran dengan apa yang baru saja di laporkan oleh seorang perwat padanya. Benar dugaannya, Suho pasti membayangkan  Yoo-Mi dalam diri dokter muda itu.

“Aniya…dokter muda itu tak boleh berlama-lama di dekat Suho. Suho pasti akan mengulangi kesalahan yang sama.” Gumam Hana.

-*************-

Kim Hana memperhatikan Suho yang tengah mengikuti terapi bersama Yoo Uisa. Dan tak henti-hentinya senyum tampak di wajah adiknya itu. Dia senang adiknya mulai membaik seperti ini, tapi dia juga khawatir akan keadaan dokter muda itu nantinya.

“Akh….” Suho terjatuh dan dengan cepat Hana membantunya untuk kembali berdiri.

“Hati-hati, kau tak boleh terbawa emosi dalam terapi ini. Pelan-pelan saja Suhoya….” ucap Hana dengan senyuman yang masih lekat di wajahnya.

Program terapi mereka telah selesai dan kini keduanya tengah istirahat.

Tiba-tiba ponsel Hana berdering dan dengan cepat gadis itu menjawab panggilan yang masuk itu.

“Yeobseyo….”

“……”

“Mm…aku sedang istirahat, tadi baru selesai terapi dengan pasien.”

Sementara Hana asyik dengan teleponnya dengan Juna, Suho menatap Hana dengan kesal. Dia bisa melihat rona merah yang ada di pipi Hana, Suho tahu kalau yang sedang bertelepon dengan Hana itu adalah namjachingunya. Kesal dan cemburu bercampur baur dalam hatinya saat ini.

‘Tak ada yang boleh mencuri Hanaku’

Tbc…

Silahkan tinggalkan komentar dan saran yang membangunnya….gomawo sudah mau membaca.

One thought on “[EXOFFI FREELANCE] I Hate (Love) You (Chapter 4)”

  1. Suho kok stress gitu sih,..kasian..Kayaknya dia tertekan ya sama ayahnya.penasaran apa sih kesalahan suho dimasalalu nya.gak ada flasback nih thor..biar g penasaran gitu..hehe..semangat thor..

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s