[EXOFFI FREELANCE] 15 Minutes (Oneshot)

15 Minutes

★ Tittle : 15 Minutes

★ Author : Aurora

★ Length : Oneshoot

★ Genre : Romance, Sad

★ Rating : General, PG-15

★ Main Cast & Additional Cast : Oh Sehun (EXO) & OC Jihyun

★ Summary : Aku tidak akan pernah menyesali perasaanku yang pernah mencintaimu.

★ Disclaimer : Fanfic pernah di publish di blog pribadi (clairedelun.wordpress.com).

Jalan cerita adalah murni dari hasil pemikiran penulis.

Caffee Bene 9:49

“Aku tahu kau sedang menatapku. Berhentilah menatapku atau aku tidak akan tanggung akibatnya.”

Ia berceloteh, lagi. Walau hanya senyuman kecil yang menggumai ujung bibirnya, aku bisa melihat lengkung sabit kembar di matanya menandakan bahwa ia sedang tersenyum geli.

“Oh Sehun, jika kau akan terus berdiam diri, aku akan pergi dari sini.”

Aku hanya tersenyum. Memandangi parasnya dari jarak sedekat ini bahkan sudah berhasil menghempas seluruh jagatku. Aku tidak butuh seluruh dunia berpihak padaku, asal dia tidak pernah meninggalkan sisiku. Hanya itu.

“Baiklah, aku menyerah,” kataku.

Disusul dengan bahana yang memecah hening sejemang. Jujur, aku juga tidak tahu, mengapa aku bisa menjadi sebahagia ini saat berhadapan dengan gadisku. “Ya, sayang. Ada apa?”

Kulihat dia memasukkan kembali ponselnya ke dalam clutch-bag, jemari lentiknya meniti helaian coklat yang menjuntai sembarangan untuk ia selipkan ke belakang telinga sebelum memagut pandang ke arahku dengan tatapan kosong.

“Sudah berapa lama kita berhubungan?”

Oh. Pertanyaannya membuatku tersedak, bahkan sebelum aku berhasil menautkan jariku terhadap pegangan cangkir di hadapan.

Mengurungkan kembali niatku untuk menikmati Vanilla Latte, aku berdeham selagi menegakkan punggung lebarku dari sandaran sofa yang sedang kusinggahi. Manik kembarku tak berani melabuh pandang ke arahnya. Bukan takut, aku hanya sedikit kurang suka ketika dia membicarakan persoal hubungan kita berdua.

“Sekitar … 22 atau 23 bulan, betul?”

Aku menelan salivaku dengan susah payah. Oh, ayolah, untuk apa tiba-tiba membahas yang seperti itu ketika kita sedang berkencan.

Jihyun tidak berniat memutuskanku, ‘kan?

Aku bahkan tidak tahu menahu persoal perasaan tidak enak yang tiba-tiba hinggap padaku. Rasanya, seluruh bulir oksigen di sekitarku terbang menjauh ketika pupil mataku berhasil menangkap gerak ranum milik Jihyun mencipta jarak.

Oh Tuhan. Kumohon, jangan.

“Kau tahu sudah berapa lama kita tidak saling menghubungi?”

Jihyun meraih cangkir kopinya dalam diam, kemudian membiarkan cairan kental Cappuccino miliknya melewati kerongkongannya dengan lancar.

Aku bahkan tidak berani menarik cangkirku untuk kusesap, kunikmati menu kesukaanku yang kupesan seperti yang saat ini tengah ia tunjukkan padaku. Iris gandanya menatap lekat ke arahku, seolah tidak memberiku kesempatan untuk melakukan hal lain sebelum menjawab pertanyaanya.

Embusan karbondioksida membelah bibir. Mengawali rangkaian frasa yangㅡmungkinㅡakan kulontarkan untuk menjelaskan keadaannya pada gadisku.

“Aku tahu ini bukan salahmu. Ini semua kesalahanku. Oh Sehun, aku yang tidak pernah bisa meluangkan waktu untukmu.”

Aku tidak tahu harus berbuat apa saat ini. Haruskah aku tertawa? Haruskah aku merasa lega lantaran ia tidak sepenuhnya melimpahkan vonisnya padaku? Atau, haruskah aku merasa tidak enak hati dan meminta maaf padanya karena kejadian ini?

Waktu dua tahun kurasa belum cukup untuk mengenalmu, Jihyun-ie.

“Kau tahu karirku saat ini, ‘kan?”

Jihyun mencoba menusuk pandangannya ke dalam netraku. Mungkin ia juga ingin berenang di dalam pekatnya rurna irisku, sehingga ia bisa mendapatkan jawaban yang ia harapkan tanpa perlu aku membuka mulut.

Aku sedang tidak ingin menimbulkan perdebatan, jadi sebuah anggukan kurasa cukup untuk menjawab pertanyaan yang baru saja dilontarkan olehnya.

“Aku tidak bisa, Oh Sehun. Ini terlalu berat untukku.”

Kulihat kepalanya tertunduk, sedang kuasanya disibukkan dengan benda perak yang melingkar dengan manis pada salah satu jemari tangannya. Aku terkesiap.

Cincin dengan hiasan kecil pada salah satu sisinya teronggok di atas meja, di antara cangkir Latteku dan Cappuccinonya.

Kedua alisku menggerus jarak, mencoba mencari maksud tersirat dari parkataannya yang berhubungan dengan cincin pemberianku pada perayaan hari jadi yang ke 20 bulan. Dua bulan yang lalu.

Aku masih mengikuti gerak-geriknya dalam diam. Memilih bungkam dan tidak melakukan apa-apa, pun ketika sebulir air mata berhasil menggenang di pelupuk matanya.

“Jihyun-”

“Maafkan aku, Oh Sehun. Seharusnya, dari awal aku tidak boleh bermain dengan perasaan.”

Kulihat genangan air matanya sedikit demi sedikit bertambah ketika Jihyun sedang sibuk membereskan barang-barangnya. Tak ayal ia tak jua mengindahkan kehadiranku yang ada di hadapannya.

Kedua sudut bibirku terangkat. Beban yang berhimpitan di dalam sanubari seolah menguap, melebur bersama lelehnya air mata yang jatuh dari sudut mataku. Aku menangis, dengan esem yang teradun di ujung bibirku.

“Waktuku sudah habis. Carilah gadis lain yang setidaknya bisa menghabiskan waktu denganmu lebih daripadaku. Kau bisa mencari seseorang yang lebih baik dariku, Oh Sehun.”

Bohong.

Aku melihatmu menyeka air mata yang berhasil menganak sungai di pipi kirimu, Jihyun. Kau pikir aku bodoh soal membaca air mukamu? Aku tahu, kau belum siap untuk melepasku. Dan aku sadar, kau tenggelam terlalu dalam dengan perasaanmu yang awalnya hanya menganggap hubungan ini hanyalah sebuah percobaan.

Kau terjebak.

Aku mengulurkan tanganku, mencoba menahan kepergian Jihyun dari hadapanku, menariknya, lalu memelukknya seperti yang pernah kulakukan ketika Jihyun sedang dihadapkan dengan siklus emosinya yang tidak menentu.

Aku masih bergeming, membiarkan Jihyun menangis di pundakku, mungkin untuk yang terakhir kalinya, karena keputusannya sudah bulat. Tidak bisa diganggu gugat. Dan aku tidak bisa membantah. Jadi, biarkan aku memelukmu untuk yang terakhir kalinya, sebelum aku benar-benar tidak bisa bertemu denganmu, Jihyun.

“Dengar, Park Jihyun. Aku, Oh Sehun, tidak akan pernah menyesal pernah bertemu denganmu. Aku tidak akan pernah kecewa pernah disakiti olehmu. Aku juga tidak akan pernah bisa berpaling walau kau telah mendepakku keluar. Aku bahkan masih akan tetap berharap dan memohon pada Tuhan, seandainya aku kembali hidup di masa yang berbeda, maka aku akan meminta seorang Park Jihyun yang akan menjadi satu-satunya gadis yang aku cintai. Aku tidak peduli seberapa besar rasa bencimu terhadapku. Aku berjanji, aku akan menemukanmu lagi, kemudian jatuh cinta padamu lagi. Aku … mencintaimu, Park Jihyun.”

Aku bisa merasakannya. Pundaknya bergetar, kemeja putihku basah. Tangisnya belum juga berhenti.

Park Jihyun, aku tidak pernah bercanda. Aku akan menemukanmu lagi.

“Terima kasih.”

Bisikannya terdengar pilu, namun aku tidak bisa menahan kepergiannya, Tidak untuk saat ini. Satu pelukan hangat cukup untuk menghantarnya, menguatkannya sebelum ia benar-benar sakit.

“Terima kasih atas semuanya, Oh Sehun.”

“Kecelakaan beruntun yang melibatkan 100 mobil terjadi di jembatan dekat Bandara Internasional Incheon, Seoul, Korea Selatan, pada Rabu pagi. Sedikitnya dua orang dilaporkan tewas dan lebih dari 60 lainnya terluka dalam insiden tersebut.”

Satu frasa lagi yang lolos dari ranum peachnya berhasil menciptakan jarak antara ragaku dengan dirinya. Senyumku masih terpatri pada paras, menghantar kepergian Jihyun ke arah pintu keluar kafe, sedang aku tetap tinggal di ambang pintu.

“Diberitakan, tabrakan terjadi pada pukul 9:34 di jembatan yang menghubungkan Incheon dengan pulau tempat bandara berlokasi. Total ada 65 orang yang terluka dan langsung dilarikan ke rumah sakit, tujuh di antaranya dalam kondisi parah.”

“Maaf, aku tidak bisa mengantarmu pulang. Namun aku berjanji akan selalu melindungimu dengan segala kemampuanku, Park Jihyun.”

Ekor mataku masih menguntit figur Jihyun yang menghilang di balik pintu mobil dengan kaca yang tertutup rapat. Gurat asimetris jelas tercetak pada parasnya ketika aku melambaikan tanganku ke arahnya.

“Menurut hasil identifikasi dari tim forensik, identitas korban tewas yang sudah diketahui adalah pengendara Mercedes, Oh Sehun 24 tahun dan Park Yongjae 45 tahun, diduga keduanya baru saja meninggalkan Bandara Internasional Incheon pagi tadi.”

Aku berjanji, dikehidupan yang selanjutnya aku akan tetap menemukanmu. Karena aku tidak pernah menyesali perasaanku yang pernah mencintaimu.

“Demikian berita kami sampaikan.”

 

..

..

❝Aku berjanji, dikehidupan yang selanjutnya aku akan tetap menemukanmu. Karena aku tidak pernah menyesali perasaanku yang pernah mencintaimu.

 

9 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] 15 Minutes (Oneshot)”

  1. Akh … keren >o< Jinjja Daebak! suka deh~
    Sependapat sama Jiuaena, diksinya bagus dan mengalir. Jadi macam baca poetry..
    Terus aku juga gak sadar sebelum di jelasin sama Author -nya, kalau ternyata itu arwah Sehun yang menui Jihyun. Macam Almeera, aku kira Sehun putus dulu, baru itu meninggal.

    1. Haloo! Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca.

      Salam kenal, Aurora’s speaking.
      Penjelasan sedikit mengenai alurnya :
      Jadi, kenapa judulnya 15 menit? (Ada yang bertanya-tanya nggak ya, kira-kira?)

      Memerhatikan latar waktu di awal cerita (Cafe Bene 9:59), kemudian bandingkan dengan kejadian kecelakaan yang diberitakan (9:34). Ada selisih berapa menit? 15 menit, ya.

      Jadi, itu arwahnya Sehun menepati janji, sepulang dari kepergiannya (yang entah kemana) diajak ketemuan dengan Jihyun di Kafe itu. Tapi karena ada kejadian yang tak terduga, nyawa Sehun melayang sebelum menepati janji. Karena tidak ingin meninggalkan janji yang tidak bisa ditepati, makanya arwahnya menemui Jihyun yang ternyata ngajakin ketemu buat putusin hubungan mereka.

      (Nggak tahu pada ‘ngeh’ atau nggak.)

      Tapi, terima kasih sudah membaca cerita Aurora!

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s