[EXOFFI FREELANCE] Our Story (Chapter 1)

ourstory

Our Story [Chapter 1]

aliensss

Genre : au, drama, romance, friendship, sad/hurt, school life

Length : Chaptered

Rate : T

Cast:

Park Chanyeol (exo) ǁ Oh Sehun (exo) ǁ Kim Sae Jin (oc) ǁ Kim Ah Ra (oc)

etc

Summary

Chapter 1

I found my friends

Disclaimer : ide cerita dan alur asli milik saya. Cast milik Tuhan YME dan semua yang berhak atas mereka. Terinspirasi dari berbagai sumber (cerpen, novel, ff, film, dan lagu). Dibuat untuk hiburan semata. Cerita yang masih banyak kekurangan, kesalahan ejaan, alur yang aneh, penokohan yang kurang maksimal dsb, jadi harap maklum.

Komentar anda akan sangat membantu…

 

Our Story [Chapter 00]

♣ ♥ ♣

Sae Jin dan Ah Ra berjalan melewati koridor kelas dengan sesekali tertawa. Dua gadis SMA kelas dua ini bersahabat sejak mereka menjadi siswa baru di sekolah. Awalnya tak ada yang menyangka dua orang ini bisa bersahabat seperti sekarang. Mereka jelas-jelas berbeda. Kim Ah Ra, gadis cantik dengan rambut panjang hitam yang punya semua hal yang bisa membuatnya disebut sebagai gadis manis. Dia gadis yang ramah, periang, dan juga supel. Semua orang merasa nyaman saat bicara dengannya. Sedangkan Sae Jin, dia gadis dengan tubuh langsing, rambut sebahu, dan berwajah datar. Dia punya semua hal yang bisa membuat orang berpikiran bahwa ia hanya seorang gadis sombong, yang sayangnya pintar. Sae Jin itu gadis pendiam, sangat tertutup, dan selalu memasang wajah datar dalam setiap keadaaan.

Mereka berdua sangat berbeda, tapi entah mengapa mereka merasa lengkap saat sedang bersama. Meski baru menjalin persahabatan selama satu tahun, baik Ah Ra maupun Sae Jin merasa sudah sangat dekat.  Ah Ra bisa membuat Sae Jin yang berwajah datar tersenyum bahkan tertawa saat bersamanya. Dan Sae Jin bisa menjadi satu-satunya tempat Ah Ra bersikap layaknya yang ia mau.

“kau harusnya melakukan itu padanya, bukan hanya menceritakan rencana itu padaku. Kau pantas memakinya, dia sudah berteriak tanpa alasan padamu” Sae Jin berucap sambil menaruh tasnya diatas meja. Ia dan Ah Ra sudah sampai di bangku mereka. Bangku disudut kelas, tempat yang Sae Jin sukai.

“hey, dia bisa berpikir aku ini gadis aneh dan tidak sopan” balas Ah Ra yang sekarang duduk disebelah Sae Jin

“kau terlalu sering memikirkan pandangan orang tentangmu, Ah Ra” Sae Jin membuka tasnya dan mengeluarkan buku darisana

“itu penting Sae Jin. Memangnya aku ini kau, yang sama sekali tak peduli apa yang orang pikirkan dan bicarakan tentangmu?” Ah Ra menopang dagunya dan menatap Sae Jin sambil tersenyum

“benar. Kita berbeda” Sae Jin menoleh pada Ah Ra dan mengangguk dengan senyum mengejek. Sebenarnya Sae Jin senang karena seperti ini. Ah Ra selalu bilang bahwa ia perlu menciptakan citra yang baik di mata semua orang, tapi Ah Ra selalu bersikap blak-blakan didepannya. Bukankah itu artinya Ah Ra jujur saaat bersamanya? Sae Jin suka itu.

“lihat, kau harusnya marah karena barusan aku mengataimu. Kau memang tak normal Sae Jin”

“lalu?”

“lalu, aku berjanji tak akan membiarkan orang lain mengambilmu dariku” Ah Ra mengedipkan matanya cepat, memasang wajah imut yang selalu membuat Sae Jin ingin memukul kepala sahabatnya itu.

“oh, Tuhan ! kenapa kau ciptakan makhluk seperti dia? Berhenti, atau kupukul kepalamu dengan buku-ku ini !”

~

Bel istirahat berbunyi, tanpa buang waktu Ah Ra dan Sae Jin segera melangkahkan kaki mereka menuju kantin. Seperti biasa, mereka makan sembari bicara tentang hal-hal yang mereka sukai. Sesekali, tanpa Sae Jin ketahui Ah Ra menatap padanya dengan penuh arti. Ah Ra hanya merasa sangat bersyukur. Semua orang yang ia temui selalu menuntut dirinya untuk bersikap baik, semua orang yang pernah ia kenal bahkan tak jarang memanfaatkan kebaikannya. Tapi Sae Jin, gadis aneh itu datang dan membuatnya merasa penting. Gadis itu datang dengan semua hal yang Ah Ra pikir tak ada di dunia ini. Ketulusan dan terus terang. Disaat semua orang bersikap seperti yang orang lain inginkan, Sae Jin malah bersikap seperti apa yang memang gadis itu inginkan. Awalnya Ah Ra hanya merasa kagum pada Sae Jin, tapi seiring berjalannya waktu, ia merasa Sae Jin adalah orang yang selama ini ia tunggu-tunggu. Seseorang yang pantas dan sangat layak dijadikan teman.

“yaah, ada racun di makananmu itu? kau menatapku seperti orang gila sekarang” ucap  Sae Jin setelah menyadari jika sedari tadi Ah Ra menatapnya dengan aneh.

“kenapa kau mau jadi temanku Sae Jin?” tanya Ah Ra balik

“kenapa? kau tidak suka? kau tak suka berteman denganku?” tanya Sae Jin lagi

“tidak, aku hanya bingung. Bukankah awalnya kau menyebut orang sepertiku sebagai orang munafik? Aku pura-pura tersenyum, aku berkata iya pada semua orang agar mereka menyukaiku, dan aku selalu ingin tampak baik dimata semua orang. Kenapa orang sepertimu mau berteman denganku?”

“orang sepertiku? Memangnya orang seperti apa aku ini?” Sae Jin menghentikan acara makannya dan menatap Ah Ra dengan serius

“kau orang yang melakukan apa yang hatimu inginkan, kau orang yang tak peduli apa pendapat orang lain, selama kau yakin bahwa tindakanmu tidaklah salah. Kau orang yang selalu jujur pada dirimu sendiri, dan kau selalu terlihat bahagia atas hal yang kau miliki. Itu semua terlihat sangat keren untuk-ku yang palsu ini. Kita tak harusnya menjadi teman apalagi sahabat”

“lalu? apa ini artinya kau ingin kita tak berteman lagi?”

“bukan begitu, aku hanya ingin bertanya alasan kenapa kau memilihku diantara banyaknya orang” Ah Ra mengingat  saat pertama kali Sae Jin menyebut ia teman. Entah kenapa saat itu Ah Ra merasa sangat bahagia.

“aku tidak tahu. Dia bilang, aku bisa percaya padamu. Dia yang memilihmu, bukan aku” Sae Jin kembali melanjutkan makannya. Gadis itu menyuapkan se-sendok makanan dan mengunyahnya sambil mengamati reaksi Ah Ra

“dia? Siapa?” tanya Ah Ra yang tak mengerti

“dia” Sae Jin menjawab sambil menunjuk ke dadanya

Maka detik berikutnya, Ah Ra menunjukkan senyuman sepuluh jarinya. Terkadang Ah Ra merasa dirinya menjadi gila semenjak berteman dengan Sae Jin. Gadis itu bisa membuatnya merasakan perasaan berbunga-bunga yang sering orang kasmaran rasakan. Dan itu tak wajar ‘kan? Sae Jin itu seorang gadis, bukan pria.

“awuuh..senyumanmu membuatku tak selera makan” Sae Jin bergidik ngeri dan mengangkat nampan nasinya. Ia pergi meninggalkan Ah Ra yang masih betah dengan senyum sepuluh jarinya. Sae Jin bukannya sedang membual atau berucap berlebihan. Bagi Sae Jin yang punya kesulitan percaya pada orang lain dan juga menarik diri dari dunia social, menemukan seseorang yang ingin dijadikan teman adalah hal yang langka juga ajaib. Itu yang Sae Jin rasakan pada Ah Ra. Terkadang hatimu hanya memilih dan tak memberikan alasan yang masuk akal

Kembali ke kelas mereka, Sae Jin dan Ah Ra mendapati beberapa siswi mengerubungi meja guru. Ah Ra mendatangi meja itu dan berhasil tahu apa yang sedang terjadi. Gadis itu kembali ke bangkunya, menepuk pundak Sae Jin dengan lumayan keras dan membuat Sae Jin meringis

“kau gila, Ah Ra? Setelah semua pertanyaan anehmu tadi, sekarang kau memukulku? Apa yang terjadi, hah?”

“kau tidak ikut kesana?” tunjuk Ah Ra pada kerumunan gadis-gadis tadi
“mengerubungi kakak kelas yang tampan” Ah Ra mengedipkan sebelah matanya

“kakak kelas?”

“hmm, Chanyeol oppa” Ah Ra bicara soal salah satu kakak kelas yang kebetulan ia kenal

“Park Chanyeol, maksudmu?” Sae Jin memastikan dengan wajah datarnya

“iya. Semua gadis menyukainya, kau tidak?”

Sae Jin menatap kedepan dan berhasil melihat orang itu. Park Chanyeol. Siswa kelas tiga yang kelewat tampan itu. Sae Jin sudah tahu Chanyeol sejak kelas satu, di taman belakang sekolah.

“kau suka?” Ah Ra kembali mengulang pertanyaannya, sekedar menggoda.

“….” Sae Jin tidak menjawab, gadis itu masih menatap pada Chanyeol yang saat ini sedang bicara pada beberapa siswi kelasnya

“hey, Sae Jin !” Ah Ra kembali menepuk pundak Sae Jin, kali ini gadis itu bahkan berteriak hingga seluruh isi kelas menatap aneh pada dirinya dan Sae Jin
“maaf, oppa” Ah Ra meminta maaf pada Chanyeol yang juga menatap pada mereka dengan heran. Mereka berdua baru saja menciptakan kegaduhan

“kenapa kau memukulnya?” tanya Chanyeol sambil tersenyum. Chanyeol itu memang tipe kakak kelas yang ramah, jadi tak heran dia bertanya sambil tersenyum seperti tadi.

“sial..” Sae Jin tiba-tiba saja berdiri dari duduknya. Gadis itu kemudian mendapat tatapan bingung dari Chanyeol.
“kurasa aku sudah gila” kata Sae Jin sambil pergi keluar dari kelas. Gadis itu bahkan berlari dan membuat Chanyeol yang melihatnya semakin bingung.

~

Sae Jin melarikan diri ke atap sekolah. Gadis itu duduk dengan nafas memburu karena berlari. Apa yang membuat Sae Jin berlari? Jantungnya

“yaah, kenapa kau berdetak secepat itu? kau gila? Kau ingin membuatku mati?” Sae Jin bicara sambil menepuk dadanya.

Jangan tanya Sae Jin kenapa dia bersikap dan merasa demikian. Jangan tanya kenapa jantungnya berdetak secepat itu, karena Chanyeol. Karena gadis itu sendiri tak tahu kenapa ia demikian. Semua ini berawal dari satu tahun lalu. Saat itu Sae Jin si murid baru sedang berjalan-jalan mengelilingi sekolah barunya. Sae Jin berhenti di taman yang ada dibelakang sekolah. Sae Jin menemukan satu orang siswa laki-laki disana, dia sedang bicara lewat ponsel dengan seseorang.

Sae Jin hanya menatap pada punggung orang itu dengan wajah datar. Dan saat orang itu berdiri, berbalik, Sae Jin merasa dia sudah gila. Orang itu tersenyum, tentu saja bukan pada Sae Jin, tapi Sae Jin merasa ada yang salah padanya. Dia merasa sangat bahagia saat melihat senyuman pria itu. Semua sangat tiba-tiba. Jantung yang berdegup kencang tiba-tiba dan rasa bahagia yang tiba-tiba.

Itulah awal dari semua hal aneh ini. Sejak itu Sae Jin mulai mencari tahu siapa murid laki-laki itu, kelas berapa dia, dan seberapa hebatnya senyumannya itu. Dan dia adalah Chanyeol, Park Chanyeol kakak kelasnya, dan senyumannya memang semenakjubkan itu.

Pria itu punya senyuman yang saat Sae Jin melihatnya, gadis itu juga ikut bahagia. Masuk akal? Tidak bukan?

“ah, kenapa aku bisa seperti ini?” Sae Jin menekuk lututnya dan menenggelamkan wajahnya disana. Sae Jin itu tipe gadis yang tidak gampang menggunakan perasaan, tapi senyuman Chanyeol mampu membuatnya merasa gila seperti sekarang. Untung saja Ah Ra tidak tahu semua ini. Jika gadis itu tahu, Sae Jin pasti akan diejek habis-habisan.
“kenapa dia harus tersenyum seperti itu?!” Sae Jin berucap dengan nada meninggi

“kenapa kau harus berisik?” sebuah suara mengagetkan Sae Jin. Bukankah tadi disini tak ada orang? Lalu suara siapa itu? Sae Jin mendongak dan mendapati seorang pemuda berseragam sama sepertinya berdiri dihadapannya. Dia Sehun, Oh Sehun, teman sekelas Sae Jin. Sehun jarang terlihat dikelas karena sering membolos. Tipikal murid yang keren menurut Sae Jin. Pembangkang sejati

“sehun? Kapan kau disini?” tanya Sae Jin

“kau mengenalku?” Sehun bertanya

“kita sekelas”

“ah, maaf aku tak tahu kau” Sehun mengangguk asal
“kau mau terus berisik disini?” tanya Sehun lagi. Sebenarnya ia sednag penasaran

“tidak, aku hanya ingin duduk disini” Sae Jin membalik tubuhnya dan kembali menatap lurus kedepan, sementara Sehun berdiri dibelakangnya

“aku juga hanya ingin berdiri disini, jangan berisik seperti tadi” balas Sehun sambil ikut menatap lurus

Detik dan menit berikutnya berlalu dengan hening. Baik Sehun maupun Sae Jin larut dalam pikiran mereka sendiri.

Bel tanda berakhirnya jam pelajaran berbunyi dan terdengar hingga ke atap sekolah. Sehun dan Sae Jin saling menatap. Sudah selama itu mereka diam dan menatap langit dari atap gedung sekolah. Bahkan Sehun dan Sae Jin sekarang sudah duduk bersebelahan. Mereka membolos

“kau juga murid tak baik sepertiku?” tanya Sehun memecah keheningan
“jarang ada siswa perempuan yang membolos” sambungnya sambil mengeluarkan sebatang rokok dan pemantik api

“kau merokok?” Sae Jin terkejut, tapi ekspresi wajahnya biasa saja. Itu membuat Sehun mengangkat sebelah alisnya bingung. Gadis itu terkejut atau tidak, pikirnya

“kenapa? kau mau mengadukanku?” Sehun menghisap rokoknya dan menghembuskan kepulan asap dari mulut

“tidak, kukira kau hanya suka membolos. Kenapa kau merokok?” tanya Sae Jin tanpa takut

“apa aku butuh alasan?”

“tentu saja. Semua hal ada alasannya. Apalagi jika itu hal buruk. Tidak ada perilaku buruk yang terjadi tanpa alasan” Sae Jin berucap sambil sedikit menunduk, membuat Sehun ikut menunduk untuk mengamati wajah gadis itu. Baru kali ini Sehun mendengar sesuatu yang seperti itu. Pernyataan yang tidak menyalahkan untuk seseorang yang di anggap nakal seperti dirinya

“lalu kau? Kenapa kau disini dan bukannya dikelas? Seingatku, Sae Jin di kelasku adalah juara kelas. Apa kau Sae Jin yang itu?” Sehun bukannya tak mengenal Sae Jin tadi, ia hanya pura-pura.

“raporku bilang aku memang juara kelas” Sae Jin mengangguk
“aku disini karena jantungku tak mau berhenti berdetak” ucapan Sae Jin membuat Sehun terbatuk. Pemuda itu membuang rokoknya dan menatap heran pada Sae Jin

“kau mau mati? Jika jantungmu berhenti berdetak, bukankah itu artinya kau mati?” tanya Sehun. Apa gadis pintar seperti Sae Jin juga frustasi seperti dirinya, Sehun cukup terkejut jika memang benar demikian

“benar…” Sae Jin berucap sambil tertawa. Ia baru sadar ia mengucapkan kalimat yang salah. Oh, senyuman itu sepertinya merusak semua organ tubuh Sae Jin. Otaknya tak bekerja dengan benar
“maksudku, berhenti berdetak tak normal..” gadis itu memperbaiki kalimatnya masih sambil tertawa.

“kurasa kau tak sepintar yang mereka bilang”

“mereka yang bilang aku pintar. Jadi, kau? Kenapa kau disini? Dan kenapa kau merokok?” Sae Jin kembali bertanya

“kurasa kita tak sedekat itu hingga aku harus memberitahumu alasanku membolos dan merokok” Sehun menjawab dengan senyum menang

“ah, benar. Aku saja heran kenapa kita bisa mengobrol”
“tapi setidaknya kau harus adil. Aku sudah menjawab pertanyaanmu tadi, kau juga harus menjawab pertanyaanku”

“aku hanya bertanya satu pertanyaan, bu_”

“kalau begitu, kenapa kau merokok?” Sehun terdiam, gadis didepannya sekarang sepertinya benar-benar pintar dan sedikit berbeda dari gadis lainnya.

“aku sedang marah” jawab Sehun sambil membuang wajahnya. Untuk pertama kalinya Oh Sehun bicara jujur pada orang asing.

“oh..” Sae Jin mengangguk paham

“kenapa kau mau bicara padaku?” tanya Sehun lagi. Ia merasa penasaran. Semua orang dikelas menghindarinya karena tak suka perangai yang ia miliki atau takut dipukul olehnya. Tapi kenapa Sae Jin mau bicara sejauh ini dengannya?

“apa aku harus tidak mau?”

“setahuku kau itu kau bukan gadis yang banyak bicara dan ramah seperti Ah Ra. Dikelas kau hanya bicara pada Ah Ra, jadi aku merasa cukup aneh saat kita bisa bicara sepanjang ini” Sehun berucap masih sambil menatap wajah Sae Jin. Sementara Sae Jin, gadis itu masih dengan wajah biasanya, tapi otaknya sedang berpikir sekarang. Tak lama, sebuah senyuman gadis itu torehkan

“kau ternyata jujur sekali. Akan kujawab pertanyanmu itu, tapi jawab aku dulu. Siapa yang kau lihat dan amati?” Sae Jin bertanya pada Sehun dengan wajah penasaran

“siapa apanya?”

“siapa yang kau lihat? Aku atau Ah Ra?” Sae Jin baru saja mendapat fakta baru. Sehun diam-diam tahu bagaimana dirinya, tapi pria itu juga menyebut nama Ah Ra tanpa canggung. Bukankah itu artinya Sehun mengamati mereka selama ini? diam-diam? Pasti ada maksud dari itu semua. Oh Sehun tak mungkin mengamati seseorang tanpa alasan ‘kan?

“perta_” Sehun menyadarinya. Dia sudah ketahuan oleh Sae Jin. Gadis ini benar-benar pintar, Sehun merutuki diri dalam hati

“kau menyukaiku?” pertanyaan Sae Jin semakin memojokkan Sehun

“yaah, jangan besar kepala ! mana mungkin aku menyukai gadis dengan wajah tanpa ekspresi sepertimu, kau juga sangat diam, kau persis seperti batu. Ka_”

“jadi kau menyukai Ah Ra?” Sae Jin memotong ucapan Sehun, dan berhasil membuat Sehun membulatkan mata. Dia ketahuan ! matilah kau Oh Sehun !
“ya ampun, jadi kau benar-benar menyukainya?” Sae Jin akhirnya menyimpulkan setelah reaksi canggung yang Sehun perlihatkan. Pemuda itu membuang wajahnya dan menggaruk kepalanya yang Sae Jin yakin tidak gatal sama sekali

“kau gadis menyebalkan” Sehun menyerah. Dia mengatai Sae Jin dengan wajah kesal. Sehun itu memanglah murid yang suka membolos, ia juga sering lebih memilih menggunakan tinju daripada kepala, tapi tetap saja. dia tetaplah remaja SMA yang sebenarnya punya perasaan lembut.

“ha..ha..haa” Sae Jin tertawa setelah mendengar ucapan dan melihat wajah Sehun.
“kenapa aku selalu bertemu dengan manusia seperti kalian?” kata gadis itu sambil masih tertawa

“kau memang menyebalkan, hentikan tawamu itu atau kupukul kau nanti” ancam Sehun

“hey, aku temanmu sekarang. Kau mau memukul temanmu sendiri?” Sehun terdiam. Teman kata Sae Jin? Sae Jin mengaku sebagai temannya?

“ka_kapan kita berteman?”

“kau menyukai temanku, itu artinya kau harus jadi temanku dulu. Lagipula, wajah ketahuanmu itu cukup lucu, kurasa tak rugi berteman denganmu” Sae Jin lagi-lagi tertawa. Gadis itu lupa akan alasan kenapa ia berlari ke atap tadi.

“awas saja kau memberitahunya, aku akan benar-benar memukulmu” Sehun berucap sambil bangkit berdiri. Pemuda itu kemudian pergi meninggalkan Sae Jin yang masih tersenyum senang.

Hidup dengan segudang masalah tak terlalu buruk. Dan tak akan pernah menjadi sangat buruk, saat kau punya teman. Seseorang yang bisa membuatmu tertawa, bahkan dikeadaan yang harusnya kau tangisi. Sae Jin punya dua teman sekarang. Mungkin banyak orang yang tak tahu, tapi sebelum ini Sae Jin adalah gadis yang tak percaya akan sebutan ‘teman’. Menurutnya, tak akan ada orang yang bisa benar-benar menerimanya. Tak akan ada seseorang yang bisa berbagi tawa dan tangis bersamanya. Tapi sekarang, Sae Jin punya Ah Ra, gadis yang bisa menerima dirinya yang sangat tak perhatian dan aneh itu. Sae Jin sangat bersyukur saat Ah Ra mau menjadi temannya.  Dan barusan ia sudah menemukan Sehun, pembangkang yang sangat jujur. Sae Jin sepertinya sudah punya semua amunisi untuk menghadapi kejamnya dunia, teman-temannya dan senyuman menakjubkan itu.

 

To be continued…

 

 

14 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Our Story (Chapter 1)”

  1. Ternyata Sejin ska ama abang chanyeol..abang sehun ska ama ah ra
    pnsaran lanjutan.x gmn..
    Keep writing ya thoor..

  2. Tipikal murid yang keren > Pembangkang sejati => Oh Sehun. Aku baru tau ada rumus begitu.. XD
    Saejin -ah, you are genius! Sehun mati kutu, kartu As nya kebuka.. hahha … :’D

    1. Ini aneh…
      Kenapa saya girang lhat authornya my possessive husband komen di ff abal2 ku?
      Oke, ini aneh.
      Oke, karena aku malu, segini aja dulu.
      Terima kasih…#treak

  3. Ahhh benar tebakanku..tak mungkin sesama wajar datar tanpa ekspresi bersama 😂😂😂😂😂
    Mmbyangkanny sajo sudah lelah..mau pcaran cemana mreka klo sma sma tak punya ekspresi huahahhaahhaha
    Fighting!!!😊😊

  4. Sahabat itu emang harus saling melengkapi.kayak ah ra ama sae jin,semoga g ada kesalahpahaman. Sehun kejebak deh ama pertanyaan sae jin..haha.di pikir anak bandel sukanya ama yang muka datar kayak sae jin, taunya naksir ah ra.lanjut thor..

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s