[EXOFFI FREELANCE] Secret Wife Season 2 (Chapter 13)

Poster Secret Wife Season 2 ''

Tittle    : Secret Wife Season 2

Author    : Dwi Lestari

Genre     : Romance, Friendship, Marriage Life

Length     : Chaptered

Rating    : PG 15

Main Cast :
Park Chanyeol, Kim Soah (Aiko)

Support Cast :

Oh Sehun, Min Aera, Kim Nara, all member EXO and other cast. Cast dapat bertambah atau menghilang seiring berjalannya cerita.

Summary:

Soah terpaksa menjalani pernikahan rahasia dengan artis papan atas Park Chanyeol, demi menghindari kutukan keluarganya. Meski sebenarnya dia tak pernah percaya jika kutukan itu masih berlaku.

Disclaimer    : Cerita ini murni buatan saya. Juga saya share di wattpad pribadiku: @dwi_lestari22

Author’s note    : Sekedar mengingatkan, jika ini berbeda dengan SECRET WIFE yang pertama. Ini bukan kelanjutannya. Cerita ini berdiri sendiri. Tapi akan ada beberapa hal yang sama. Dijamin tidak kalah seru. Maaf jika alurnya gj. No kopas, no plagiat. Jangan lupa komentarnya. Gomawoyo. Sorry for Typo. Happy Reading.

Chapter 13

(May I Love You?)

Satu langkah, dua langkah hatiku melompat

Perasaanku tumbuh dan aku tidak bisa menyembunyikan itu

Soah menarikan jarinya diatas nuts-nuts piano. Matanya terpejam sebari mengingat nada lagu yang dimainkannya. Sesekali dia menuliskan nada untuk lagu tersebut. Mengulang beberapa kali nada yang baru dituliskannya. Dia mendengus kesal kala nada tersebut tak enak di pendengarannya. “Ternyata susah juga?”, ucapnya sendiri.

Ya, dia sedang mencoba melanjutkan lagu yang dulu ditulis kakaknya. Lagu itu dipersembahkan untuknya, belum selesai karena memang kakaknya berjanji menyelesaikannya setelah mereka pindah ke Amerika. Namun nasib berkata lain, hingga membuatnya harus berpisah dengan pria yang selama ini dikaguminya.

Bagi Soah, sosok Hyunmin adalah sosok yang hangat, perhatian meski kadang terkesan cerewet, dan juga baik. Masih membekas dalam ingatannya bagaimana kebaikan hati pria itu. Yang membuatnya mengerti arti dari persaudaraan yang sesungguhnya.

Netranya kini ia tujukan pada foto yang terpajang rapi di atas piano. Seorang siswa SMA yang tengah tersenyum manis. Dia memang sengaja membawa foto dari ruang kerjanya itu ke tempat dia duduk sekarang. “Oppa, seharusnya waktu itu kau menyelesaikan lagumu dulu”, ucapnya dengan dengusan kesal.

“Aku akan memainkan lagu untukmu”, ucapnya lagi.

Setelah mengambil nafas dalam, tangannya mulai menari di atas nuts-nuts piano tersebut. Dia masih hafal lagu itu. Lagu pertama yang dibawakan kakaknya ketika konser pertamanya digelar. Itu adalah lagu ciptaan ayahnya. Dan itu diberi judul, Promise.

“Bagaimana menurut oppa?”, Soah kembali bertanya pada foto yang dipajang di depannya.

Dia mendengus kesal setelah lama terdiam. “Iya, aku tahu aku memang tak sebagus dirimu. Itulah mengapa aku berhenti bermain piano”. Hanya helaan nafas pasrah yang terdengar lagi setelahnya. Netranya kembali menelisik seisi ruangan tersebut. Tak disangka disana berdiri seorang pria yang melipat tangannya di depan dada.

Gadis bersurai panjang itu mengangkat alisnya. Wajahnya menunjukan keheranan. Jarinya juga menunjuk sang pria, seolah berkata sejak kapan pria itu berdiri disana.

Pria itu berjalan mendekat dan ikut duduk di bangku yang sama dengan Soah. “Jadi itu alasanmu. Pantas saja aku tak pernah melihatmu bermain piano. Ku pikir kau tak bisa memainkannya”, ucap pria itu yang masih mendapat tatapan tajam Soah.

“Kenapa?”, tanya pria itu lagi. Dia sedikit risih dengan tatapan tajam istrinya.

“Sudah berapa lama kau berdiri disitu?”, ucap Soah akhirnya bersuara.

“Sejak kau mulai memainkan lagu itu. Itu lagunya Kim ahjussi kan. Tidak, maksudku abeonim. Promise kalau tidak salah”, ucap pria itu kembali.

Soah memejamkan matanya sambil membuang muka. Itu adalah hal memalukan yang dilakukannya, menurutnya. Dia memang jarang bermain piano, karena menurutnya permainannya payah. Alasan dia berhenti mempelajari piano adalah kenyataan dimana kakaknya lebih handal dalam bidang ini daripada dia. Dia tak ingin dibanding-bandingkan dengan pria itu. Alasan klasik.

Aish. Seharusnya kau bilang jika sudah datang. Memalukan”, ucap Soah lirih.

“Apa yang memalukan?”.

“Tentu saja permainan pianoku”, ucap Soah. Dia juga mengangkat tangannya saat pria itu akan mengucapkan sesuatu. Memberi isyarat untuknya agar tak mengeluarkan suara. “Aku sudah tahu jika aku payah dalam hal ini. Jadi jangan berkomentar apapun”, jelasnya kemudian.

“Tidak. Kau tidak sepayah itu. Tadi bagus kok”, ucap Chanyeol meyakinkan. Entah kenapa kali ini dia tak setuju dengan pendapat istrinya. Kenapa gadis itu bersi keras mengatakan jika dirinya payah. Padahal kalau boleh jujur dia cukup terkesima mendengar permainan piano gadis itu.

“Jangan bohong hanya untuk menyenangkanku. Kalau memang buruk ya katakan saja jika itu buruk. Dasar menyebalkan”, ucap Soah memukul pelan lengan Chanyeol.

“Aku serius”.

Soah menatap dalam mata pria itu. Tak ada kebohongan disana. “Terserahlah!”, ucapnya pasrah. “Kau mau memainkannya untukku”, lanjutnya.

“Kau mau lagu apa?”, tanya Chanyeol dengan senyuman khasnya.

Soah mengambil buku yang dipajangnya di atas piano. Membalik beberapa halaman. Lalu menunjukannya pada Chanyeol. “Ini”, ucapnya.

Chanyeol menerima buku itu dengan senang hati. Dia membolak-balik beberapa halaman untuk mengetahui isi buku tersebut. Dia menatap Soah dalam. Seolah bertanya buku milik siapa itu.

Soah yang paham tatapan dalam Chanyeol, akhirnya membuka suara. “Itu buku milik Appa yang diwariskan pada Hyunmin oppa. Aku akan memberikannya padamu, jika kau mau menyelesaikan lagu itu”.

“Memangnya lagu ini belum selesai?”, tanya Chanyeol saat melihat halaman yang ditunjuk Soah.

“Coba saja kau mainkan dulu”.

Chanyeol mengangguk. “Baiklah!”. Tangannya dengan terampil menyentuh nuts-nuts piano tersebut. Terdengar rangkaian nada yang begitu merdu dipendengaran.

Perasaan kagum menghinggapi diri Soah. Ini kali pertama dia melihat pria itu bermain piano di depan matanya. Tepat seperti yang orang-orang katakan, dia begitu mahir memainkannya. Seulas senyum tersungging begitu saja di wajah cantiknya. Perasaan bahagia juga menghinggapinya. Seolah berjuta kupu-kupu menari menggelitik perutnya. Kalau boleh jujur, dia benar-benar terpesona.

Benar-benar tipe pria idaman, pikir Soah. Tipe ideal Soah sebenarnya adalan pria yang terlihat mempesona saat bermain piano, seperti ayah dan juga kakaknya. Sepertinya dia menemukannya sekarang. Tapi, ini rahasia. Hanya Tuhan dan dia yang tahu. Dia bahkan tidak memberitahu Sehun. Dia hanya memberitahu jika tipe idealnya adalah pria yang bisa memasak.

“Kau benar, ini memang belum selesai”, ucap Chanyeol.

Hal itu membuat lamunan Soah buyar. Dia menatap intens pria itu yang masih mengamati sederet tulisan dalam buku tersebut. Sepertinya pria itu tak sadar jika istrinya tengah menatapnya lekat. Tatapan kagum dan memuja jelas terpanjar dari iris Soah. “Moshita”, ucapnya tanpa sadar.

Chanyeol yang mendengar istrinya bergumam menoleh. Ada raut kaget ketika hal pertama yang dilihatnya adalah istrinya tengah memandang kagum padanya. Hanya sebentar, yang kemudian digantikan senyum manis khasnya. “Kau baru sadar jika aku keren”, ucapnya dengan penuh percaya diri.

“Emmh”, jawab Soah disertai anggukan.

Pria itu tersenyum semakin lebar, memperlihatkan gigi putihnya yang tersusun rapi. Mereke hanya saling menatap untuk beberapa detik. Tangan Chanyeol terulur menyelipkan anak rambut Soah ke belakang telinga saat pandangannya terhalang. Dia teramat merindukan wajah gadis itu. Haruskan dia menyebutnya sebagai wanita? Sepertinya iya, Soah bukan lagi seorang gadis sekarang. Dialah membuat gadis itu menjadi seorang wanita.

Soah menurunkan tangan Chanyeol yang masih mengusap lembut rambutnya. Menyatukannya dengan tangannya. Dia menggenggamnya. Menatap Chanyeol intens. “Terima kasih untuk semuanya”, ucapnya tulus.

“Kau tidak perlu berterima kasih. Memang ini yang seharusnya aku lakukan”, jelas Chanyeol. Dia menarik genggaman Soah, mengecup punggung telapak tangan istrinya kemudian. “Aku tulus mencintaimu. Kau tak perlu meragukannya”, lanjutnya kemudian.

Entah perasaannya apa yang menimpa Soah sekarang. Rasanya seperti melayang di atas awan. Jantungnya sudah tak terkontrol sejak tadi. Bibirnya juga tak henti menyunggingkan senyum. Pipinya sudah memerah seperti tomat. Dia bisa gila jika terus seperti ini. “Kau sudah makan?”, ucapnya mengalihkan perhatian. Dia juga perlahan menarik tangannya.

“Belum”. Chanyeol menggeleng.

“Kau mau makan apa? Spagetti, steak, pasta”.

“Apapun yang kau masak”.

“Kau harus memilihnya. Aku tidak suka jawaban seperti itu”, ucap Soah memasang wajah kesalnya. Memajukan bibirnya dan melipat tangan di depan dada.

Chanyeol gemas dibuatnya. Dia memajukan wajahnya dan mengecup singkat bibir Soah. Salahkan kenapa bibir istrinya terlalu menggoda. “Pasta saja”, ucapnya kemudian.

Soah menatap tajam Chanyeol, seolah tak terima dengan apa yang pria itu barusan lakukan padanya.

Chanyeol mengacak pelan puncak kepala Soah. Dia tahu jika istrinya masih kesal, apalagi setelah seenaknya dia menciumnya. “Aku akan menyelesaikan lagu itu untukmu. Itu buatan Hyunmin kan!”, ucapnya mengalihkan pembicaraan.

Soah mengangguk sebagai jawaban. Wajah kesalnya sudah hilang. “Kau mandi saja dulu. Aku akan memasak untukmu”. Dia berdiri yang diikuti Chanyeol. Dia berbalik bermaksud pergi. Saat kakinya akan terulur untuk melangkah, dia membatalkannya. Kembali berbalik dan tersenyum ramah pada Chanyeol. Kakinya menjinjit, memajukan wajahnya, dan mengecup singkat bibir pria itu. Sangat singkat karena dia dengan cepat berbalik. Berusaha pergi secepat mungkin. Namun sayang, tangannya sudah lebih dulu ditarik pria itu.

Chanyeol dengan cepat melumat bibir Soah. Dia juga menarik tengkuk istrinya untuk memperdalam ciumannya. Memiringkan kepalanya untuk mendapat pasokan oksigen.

Soah hanya pasrah membiarkan pria itu menguasai bibirnya. Tanpa sadar tangannya terulur merangkul leher suaminya.

Ciuman itu terlepas setelah tak ada lagi pasokan oksigen yang memasuki paru-paru mereka. Mereka terengah dan tertawa setelahnya.

-o0o-

“Kenapa dia belum juga kemari?”, tanya Soah entah pada siapa. Dia meletakkan pasta yang sudah jadi ke meja. Menuang air putih kemudian. Dengan penuh pertanyaan Soah berjalan menuju kamarnya. Takut sesuatu terjadi pada pria yang sudah sah menjadi suaminya.

Tungkainya berjalan cepat membawanya ke tempat dimana suaminya berada. Dia membuka pintu kamarnya dengan hati-hati. Pemandangan pertama yang dilihatnya adalah, suaminya berdiri di tengah ruang dengan masih memakai bathrobe dan mengusap rambunya dengan handuk. Pandangan pria itu terfokus pada foto besar yang dipajang di dinding tepat di atas ranjangnya.

“Kau sedang apa?”, tanya Soah yang berjalan mendekat.

“Sejak kapan kau memasang foto itu?”, bukannya menjawab pria itu justru bertanya balik. Dia sudah melempar handuknya ke keranjang tempat baju kotor.

“Sejak kau tak pulang. Imo yang mengirimkannya”, jelas Soah. “Di depan juga ada. Yang bersama keluarga”, imbuhnya.

Chanyeol menarik pinggang Soah. Dia memeluknya dari belakang. Kepalanya ia sandarkan di pundak kanan Soah. Pandangannya masih betah memandang foto pernikahan mereka. Walau dia tahu senyum yang dipasang istrinya saat itu adalah senyum palsu. Dia tak peduli, yang terpenting wanita itu sudah menjadi miliknya sekarang.

“Kenapa? Kau tidak suka aku memasangnya?”, tanya Soah hati-hati. Dia bergerak gelisah saat merasakan hembusan nafas pria itu di tengkuknya. Jika dibiarkan mereka tidak jadi makan malam. Yang ada dia yang akan dimakan pria itu.

“Aku menyukainya”, jawabnya masih dengan posisi yang sama.

“Chanyeol-ssi, ganti baju dulu. Kita makan, katanya kau belum makan”, ucap Soah. Dia semakin bergerak gelisah karena pria itu sudah menciumi tengkuknya.

“Sebentar saja. Kau tahu seberapa besar rindunya aku padamu?”, ucapnya disela-sela kegiatannya.

“Iya, aku tahu. Tapi kau tetap harus makan. Kesehatan itu yang paling utama”, bantah Soah.

“Bersiaplah tidak tidur malam ini”, bisik Chanyeol. Dia melepaskan pelukannya. berjalan cepat menuju walk in closetnya.

“Tidak, tidak.  Kau tidak akan dapat jatah malam ini”, jelas Soah.

“Apa?”, pria itu berhenti dan berbalik. Menatap tajam Soah.

Soah hanya menanggapinya dengan senyum. “Aku sedang datang bulan”, ucap Soah masih dengan senyum yang mengembang.

“Kim Soah”, ucap Chanyeol sedikit berteriak.

“Haruskah aku menunjukannya padamu!”, jawab Soah masih dengan senyum yang sama.

Chanyeol mengacak kesal rambutnyanya yang masih setangah basah. “Terserahlah!”, dia kembali melanjutkan perjalannya, memasuki walk in closet.

“Aku tunggu di meja makan”, teriak Soah karena pria itu sudah menghilang dibalik pintu. Dia meninggalkan kamarnya dengan senyum. Senang karena melihat raut kesal di wajah suaminya.

-o0o-

Chanyeol berjalan menuju ruang makan dengan wajah yang ditekuk. Raut kesal masih tergambar jelas disana. Dia sudah tampak rapi dengan kaos putih lengan pendek dan celana selututnya. Langkahnya terhenti kala melihat hal indah di depannya.

Ruang itu bercahaya remang-remang yang berasal dari lilin. Mejanya dihiasi bunga mawar yang cantik. Dua piring pasta sudah tertata manis disana. Jangan lupakan beberapa makanan pendamping. Dua gelas air putih juga bediri kokoh disana.

“Kau mau wine?”, tanya Soah yang menyadari kehadiran suaminya.

“Boleh”, jawab Chanyeol sambil mendekat. Dia masih memandang kagum meja makannya. “Kau yang menyiapkan ini semua?”.

Soah yang sudah kembali dari mengambil botol wine mengangguk. Dia mengambil gelas di lemari dan kembali mendekat. “Kita tidak akan bisa makan malam romantis di luar. Jadi, aku akan membuat makan malam romantis di rumah”, jelasnya. Tangannya tergerak menuangkan wine.

Chanyeol tersenyum senang. Dia kembali memeluk istrinya dari belakang. Mencium kilat pipinya. “Terima kasih. Seharusnya aku yang berinisiatif seperti ini”.

“Aku tahu kau tak akan punya waktu untuk hal-hal seperti ini”, jelas Soah. Dia meletakkan botol wine di meja setelah selesai.

“Kau marah!”.

“Tidak. Aku paham kok. Suamiku kan artis terkenal. Jadi orangnya pasti sibuk”, ucap Soah dengan nada manis. Tidak ada nada kesal disana. “Duduklah. Kita makan dulu”.

Chanyeol mengangguk dan melepaskan pelukannya. Dia duduk di kursi yang ditarik Soah.

“Seharusnya kita makan steak. Tapi karena kau meminta pasta, ya sudah”, ucap Soah kembali setelah mendudukan dirinya.

“Pasta juga enak. Selamat makan”. Chanyeol mulai menyuapkan pasta ke mulutnya.

Soah tersenyum senang melihatnya. Perasaan bahagia menghinggapi hatinya. Entah karena melihat pria itu makan dengan lahap atau karena adanya pria itu dihadapannya. Yang pasti, dia mulai merindukan pria itu jika tak ada didekatnya. Mungkin perlahan, dia mulai menyukai pria itu.

-o0o-

“Aku ambil mobil dulu ya”, ucap Aera pada Soah. Mereka ada di depan gedung SM setelah meeting dengan sang CEO.

Soah hanya mengangguk mengiyakan. Dia memilih menunggu di tempat itu daripada harus mengikuti sekretarisnya ke tempat parkir. Dia melirik jam tangannya sekilas. Jam makan siang sudah lewat dua jam dan dia belum makan. Pantas saja perutnya berbunyi sejak tadi. Dia akan mengajak sekretarisnya untuk mampir di rumah makan lebih dulu nanti.

Tiba-tiba saja tangannya ditarik oleh seorang pria. Pria itu memakai masker dan topi.

Daepyonim”, teriak Aera yang menyadarinya.

Soah mengangkat tangannya di dekat telinga. Memberi isyarat jika dia akan menelfonnya nanti. Dan dia hanya pasrah mengikuti pria itu.

Aera hanya membuang pasrah nafasnya saat tahu bosnya sudah masuk ke dalam mobil pria itu. “Sepertinya itu bukan Chanyeol. Lalu?”, dia mengangkat alisnya mencoba mencari tahu siapa yang mengajak Soah. “Sehun”, ya itu nama yang terlitas di fikirannya. “Pantas saja dia tak protes”, lanjutnya. Dia kembali meneruskan perjalanannya.

Sementara itu Soah hanya duduk diam di kursi kemudi. Dia tahu siapa pria yang kini duduk di kursi kemudi. Dia bisa tahu hanya dari postur tubuh pria itu. “Kau seperti orang yang mau menculikku tadi”, ucap Soah.

Pria itu masih diam. Dia mendekat ke arah Soah yang membuat Soah terpaksa harus mundur. Menarik sabuk pengaman di samping Soah, dan memakaikannya. “Aku memang sedang menculikmu”, ucapnya setelah selesai.

Soah hanya tersenyum miring mendengarnya.

“Kau sudah makan?”, tanya pria itu. Dia melepaskan maskernya.

Perut Soah berbunyi, membuatnya terpaksa membuang muka karena malu.

Pria itu tertawa. “Kita cari makan dulu”, ucapnya yang dilanjutkan dengan melajukan mobilnya.

Mereka hanya diam sepanjang perjalanan. Tenggelam dalam fikiran masing-masing. Tak ada yang berinisiatif membuka pembicaraan. Hingga mobil itu berbelok di sebuah restoran Jepang.

“Kau masih suka sashimi kan?”, tanya pria itu membuka pembicaraan. Dia membuka sabuk pengamannya.

Soah yang sedari tadi sibuk memandang ke jendela menoleh. Tersenyum dan mengangguk. Dengan antusias dia melepas sabuk pengamannya. Dan turun mengikuti pria itu.

Mereka diantar seorang pelayan ke tempat dimana pria itu memesan. Ya, ternyata pria itu sudah memesan tempat sebelum mereka datang. Katanya agar tempat makan mereka lebih privasi. Tidak asyik nantinya jika ketika makan mereka dikejar-kejar penggemar kan.

Berbagai jenis makanan sudah terhidang di meja ketika mereka memasuki ruang tersebut. Hidangan utama adalah sashimi. Mereka langsung duduk bersipu seperti cara makan orang Jepang.

“Selamat makan”, tanpa ba bi bu Soah menyuapkan potongan daging ke mulutnya. “Sashimi memang yang terbaik”, lanjutnya. Dia kembali memasukan potongan daging ke mulutnya.

Pria itu tertawa melihat tingkah kekanakan Soah. Dia tahu jika gadis-lebih tepatnya wanita meski pria itu tak tahu-di hadapannya sangat menggilai makanan yang satu itu. Perasaan senang menyelimuti dirinya. Sudah lama sekali dia tak melihat ekspresi itu di wajah Soah. Hatinya menghangat. Seulas senyum terpatri di wajah tampannya. Dia ikut mengambil sumpit dan mulai memakan makanannya.

“Pelan-pelan”, ucapnya yang melihat Soah memakan makanannya dengan tergesa.

Soah tak menghiraukannya. Dia terus saja memakan potongan daging itu yang tinggal setengah.

Pria itu hanya sesekali memasukan makanan. Dia lebih fokus memandang Soah dengan segala kekonyolannya ketika makan. Masih sama seperti beberapa tahun yang lalu. Ingatan kebersamaan mereka berputar-putar di otaknya. “Ai-chan”, panggilnya.

Soah mendongakan kepalanya. “Sudah ku bilang jangan panggil aku dengan nama itu lagi”, ucapnya diikuti dengan tangannya yang memegang sumpit sambil menunjuk-nunjuk. Dia terlihat kesusahan saat berbicara karena mulutnya penuh dengan makanan.

“Makanya pelan-pelan saat makan. Kau bisa tersedak. Lagi pula tidak akan ada yang merebut makananmu. Kalau kau ingin tambah nanti kita bisa pesan lagi”, jelas pria itu panjang lebar. Tangannya terulur mengusap sisa makanan di sudut bibir Soah.

Soah menelan susah payah makanannya. Dia tersipu karena perbuatan pria itu. Sial, ada apa dengannya? Kenapa dia merasa malu? Dia tak pernah seperti ini sebelumnya. Dia selalu bersikap biasa dan bahkan terkesan tak tahu malu jika bersama pria itu. Tapi sekarang, dia merasa malu! Owh God! Ini benar-benar aneh.

Soah meminum minumannya untuk mengurangi rasa malunya. Dia kembali makan, namun tak setergesa tadi. Kali ini terlihat lebih anggun. Bahkan terkesan canggung. Dia terlihat tak nyaman karena pria dihadapannya selalu memandang aneh padanya.

“Soah-ya”.

“Sehun-ah”.

Mereka memanggil nama masing-masing secara bersamaan. Mereka diam karena melakukan kebetulan yang aneh.

“Kau duluan”, ucap Sehun akhirnya.

“Tidak, kau duluan yang bicara”, jawab Soah.

“Baiklah!”, ucap Sehun pasrah. “Kau mau ke pantai?”, ajaknya kemudian.

“Pantai”, Soah tampak berfikir. Dia melirik sekilas jam tangannya. Masih siang, dan lagi dia sedang malas kembali ke kantor. “Boleh”, jawabnya sambil mengangguk. Wajahnya tampak berbinar karena senang.

“Jadi, apa yang ingin kau katakan tadi?”, tanya Sehun setelah mengungkapkan perkataannya.

“Tidak jadi”, ucap Soah.

“Curang. Tahu gitu aku tak akan bilang duluan tadi”, ucap Sehun. Ada raut kesal di wajah tampannya.

Soah tertawa. Dia senang melihat wajah kesal pria itu. “Lagipula itu tak penting. Habiskan saja makananmu”, jelasnya kemudian.

-o0o-

Setelah melepas heelsnya, Soah berlari menuju pantai tanpa memperdulikan Sehun yang berjalan pelan di belakangnya. Dia berdiri di pasir tepat dipinggir air. Kakinya kadang terkena sapuan ombak, namun hanya sebatas mata kaki. Dia enggan masuk lebih dalam.

Sehun yang masih cukup jauh dari Soah tersenyum. Entah mengapa hari itu suasananya sangat mendukung. Selain karena cuaca cerah, juga sepinya pengunjung. Hampir tidak ada orang, hanya mereka berdua. Dia merogoh ponsel dari saku celananya. Dan diam-diam mengambil gambar Soah yang tengah menunduk mengamati air. Dia tersenyum kala melihat hasil foto yang tampak bagus.

Dengan cepat dia menyimpan ponselnya di saku jaketnya. Melemparnya asal. Melepas sepatu dan berlari menyusul Soah dengan bertelanjang kaki. Dia masuk lebih dalam ke air. Menyipratkan air ke arah Soah.

Yak”, teriak Soah protes. Dia berjalan mundur.

“Untuk apa datang ke pantai kalau tidak main air”, ucap Sehun. Dia masih gemar menyipratkan air ke arah Soah.

“Jangan, jangan”, Soah masih bersi keras menolak. Dia tak ingin tubuhnya basah. Karena memang dia tak bawa baju ganti. Dengan cepat dia berlari menghindar.

Semakin Soah menghindar semakin gemar Sehun mencipratkan air. “Kemarilah, ini seru lo”, ucap Sehun masih dengan kegiatannya.

Saat Sehun mendekat, Soah justru menjauh. Dan jadilah mereka kejar-kejaran sepanjang pantai. Soah berhenti karena lelah. Dia menunduk, mencoba menormalkan nafasnya. “Cukup, aku sudah lelah”, ucap Soah. Dia mendudukan dirinya di pasir pantai yang berwarna coklat keputihan tersebut.

Sehun tersenyum miring. Dia berjalan mendekati Soah. Ikut duduk di sampingnya. Dia menatap intens Soah yang masih terengah karena lelah. Keningnya juga basah karena keringat. Tanpa aba-aba dia menggendong tubuh Soah ala bridal. Berjalan cepat menuju air.

Yak, turun kan aku. Oh Sehun”, protes Soah. Dia meronta minta di turunkan.

Sehun tak mengindahkannya. Dia semakin masuk ke dalam air. Setelah air yang dimasukinya mencapai pinggang, dia melempar Soah ke dalam air. Dia tersenyum senang karena sudah berhasil membuat gadis itu basah. “Aku sudah basah. Tidak adil jika bajumu masih kering”, ucapnya kemudian.

Soah berdiri. Mengusap pelan wajahnya yang basah. “Awas kau ya”, ucap Soah. dia menyipratkan air ke tubuh Sehun. Dia juga berjalan mendekatinya, mendorongnya hingga membuat pria itu terjatuh ke dalam air. Dia tertawa keras, berhasil membalas pria itu.

Sehun yang tak terima mengejar Soah. Mereka kembali saling mengejar dalam air. Kadang mereka juga saling melempar air. Raut bahagia jelas tergambar di wajah mereka.

Soah merebahkan dirinya di pasir setelah lelah. Seluruh tubuhnya sudah basah. Dia bahkan tak memperdulikannya sekarang.

Sehun memilih duduk di samping Soah. Pandangannya lurus ke arah hamparan air yang luas di depannya. “Sudah lama ya kita tidak seperti ini. Dulu tiap kali ada kesempatan kita selalu datang kemari”, ucap Sehun.

“Emmh”, gumam Soah. Dia memejamkan matanya sebentar.

Langit sudah berubah menjadi jingga. Matahari sebentar lagi akan terbenam di ufuk barat. “Sebentar lagi matahari akan terbenam”, ucap Sehun kembali.

Soah terlonjak. Dia ikut duduk di samping Sehun. “Kau benar. Langitnya indah ya”, tutur Soah. Dia menyandarkan kepalanya di bahu Sehun.

Eoh”, ucap Sehun.

Tak ada kata yang terucap setelah itu. Mereka sama-sama terdiam. Tenggelam dalam fikiran masing-masing. Langit yang tadi berwarna jingga kini mulai menghitam. Matahari juga sudah menghilang. Semilir angin malam mulai menerpa wajah mereka. Menimbulkan kesan dingin, yang juga karena tubuh mereka masih basah.

“Soah-ya. Kau mau berkencan denganku”, ucap Sehun membuka pembicaraan. Tangannya mengenggam erat tangan Soah yang berada dipangkuannya. “Aku tahu ini konyol. Tapi aku tak bisa memungkirinya. Sejak pertemuan kembali kita, aku mulai merasakan perasaan aneh. Semakin aku menepisnya, semakin aku tersiksa”, lanjutnya.

Soah diam. Dia tak menjawab. Tak memberi respon.

Sehun menoleh. Dia tersenyum miring. Gadis itu tertidur. Pantas saja dia merasakan nafas teratur di bahunya. “Percuma aku bicara panjang lebar tadi”, ucapnya pada diri sendiri.

“Tapi lebih baik seperti itu. Kau pasti akan marah jika mendengar pengakuanku tadi”, dia kembali tersenyum setelahnya. Tangannya yang lain terulur merangkul Soah. Mengusap pelan surai panjangnya untuk membuatnya semakin terlelap.

to be continue……..

Hai,hai. Saya kembali lagi dengan chapter 13.

Maaf, lama baru bisa update. Lagi cari inspirasi, tetep aja gak dapat. Seadanya saja. Semoga tetep suka.

Terima kasih sudah setia menunggu FF receh ini.

Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya.

See you next time……

 

20 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Secret Wife Season 2 (Chapter 13)”

    1. Bisa jadi…. 😂😂😂
      He’em… Mereka memang makin sweet….

      Thanks ya…. 😘😘😘

  1. Untung soah tidur, coba kalo gak, bakal bimbang lagi tuh, antara sehun ataw chanyeol..,tapi semoga soah tetap mencintai chan yeol.

    1. Untung aja ya….
      Tapi bisa jadi Soah pura-pura tidur lo…. 😂😂😂
      Semoga saja ya…
      Thanks bingit…. 😘😘😘

  2. Omg ….
    Tehun kamu kalah cepet sm chanyeol….
    Duh kok si bang ceye gak cemburu ya soah pergi sm laki” laen…
    Ok semoga cepet dapet penerangan ya…
    See you next time…

    1. 😊😊😊
      Iya nih, bang Sehun kalah cepat….. 😁😁😁😁😁

      Lha kan bang Chan-nya gak tahu….
      Semoga saja….
      Thanks ya….. 😘😘😘

    1. Maksih banyak….. 😽😽😽
      Pasti lah, asal jangan bosan menunggu saja….. 😊😊😊

  3. Ok Soah udah mulai beneran suka sama Chanyeol, walaupun blm dia ungkapin ke Chanyeol langsung, tapi kenapa sekarang malah sama Sehun juga begitu? Ntar akhirnya Sehun gimana ya segelah tau Soah udah nikah sama Chanyeol?
    hah penasaran sama kelanjutannya, ditunggu next chapnya ya thor. Fighting

    1. Iya nih, kayaknya mbak Soah ku udah mulai fall fall ma bang Chan…. 😍😍😍
      Soah sm Sehun kan udah sahabatan dari kecil…. 👫👫👫
      Reaksi abang Sehun gimana? 🤔🤔🤔#tebak_aja….
      Ditunggu ya… 😘😘😘
      Terima kasih…. 🙏🙏🙏

      Fighthing… 💪💪💪

  4. no no no..anak ayam,,,soah sudah ada yang punya…dan itu si caplang….relakan saja soah brsama caplang..sini sam noona ja wkakkaakkkakakakaka
    sian amat chanyeol tak dpat jatah pdahal sudah ditunggu tunggu smp mandi biar wangi n menggoda..huahahahahhahaha

    1. Bang Sehun-nya kan gk tahu kalau Soah udah nikah……
      Jangan, bang Sehun kan udah sama author…. Wkwkwkwk…. 😂😂😂

      Iya, kacian abang Chan-ku… Udah Wangi menggoda, tp tak dapat jatah….

      Terima kasih ya…
      Ditunggu saja next chapter…. 😘😘😘

    1. Iya nih, bang Sehun gk nyangka ya….
      Kita lihat saja nanti….
      Ditunggu saja…
      Thanks ya…. 😘😘😘

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s