[Luhan Birthday Project] Conlatus Creed #3

1523519895754

  Conlatus Creed   

  #3 : La Finale 

  EXO`s Oh Sehun, ex-EXO`s Luhan, OC`s Kwon Runa, OC`s Kim Hyerim

  Story with Dystopia, AU, Action, Violance, slight!Romance & Politic rated by PG-17/Mature  type in Mini Series

Disclaim: This story is not suitable for readers under 15 years old. Every real ones belong to their real life and every fake ones belong to their fake appearance. OC(s) included on these stories belongs to: l18hee & HyeKim. The storyline created by: HyeKim and got little inspiration from Assassin`s Creed Unity.

This story was created and dedicated for:

Sehun & Luhan


Ditengah ombakan kisah pada bumi tahun 2030, ditengah kemerlut resah dengan pertumpahan darah di negeri nan semula damai. Ordo Unity dan Ordo Majesty dengan kredo bersimpangan, mencetuskan perang.

Dan di sini, kedua pemuda dan kedua gadis bersimpuh dengan menyerahkan diri pada conlatus creed yang membentang kisah keempatnya. Survive or not. Hanya dua pilihan ditengah perang politik pertumpahan darah ini.


© 2018 Storyline by HyeKim

Prview : [1] [2]

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

Angin sepoi-sepoi yang menghujam pori-pori seorang chasseur teramat keji dari Majesty itu tak berpengaruh pada kelutan amarah dan sikap siaganya.

Luhan, nama Sang Chasseur nan tengah tergesa-gesa berkawan dengan senjata api yang siap sedia di balik jubahnya nan dimainkan angin musim gugur yang ringkih. Di belakangnya terdapat jua beberapa rombongan Majesty dalam bimbingannya.

Sebuah pondok sederhana dengan pekarangan luas nan asri menyambut indera Luhan. Jaka dengan manik setajam elang itu menghentikan langkah, pangkal pedangnya ia sentuh sebagai ancang-ancang.

Commencer!” imbau Luhan lantang, dengan secepat cahaya jua senjata yang diseludupkan dalam jubah pun muncul dengan kilatan badan pedang nan berpendar.

Pembantaian pun dimulai. Secara paksa para chasseur Majesty itu memasuki rumah Kim Taejun dengan mengdobrak pintu belakang hingga rusak total sebagaimana pintu kayu itu telah reyot.

Si Pak Tua bermarga Kim itu cuma bisa membelalak dan kalah telak dengan Luhan yang lebih muda dibanding dirinya, pun gesit, hingga akhirnya Kim Taejun dilucuti total dengan pistol berdentingan keras di atas lantai kayu pondok reyotnya serta-merta tubuh membeku yang dicodongkan pistol Luhan nan kini menyungging senyum miring.

Lain sisi, chasseur yang lain sibuk bergulat dengan beberapa Unity yang tengah bersua di mari. Kalah sanding dengan jumlah, mayat para Unity berjatuhan seiring berjalannya waktu membuat danau darah tercipta di atas lantai kayu reyot pondok. Sedangkan itu, istri dari Kim Taejun, Park Seyoung digilir dengan tangan terborgol dan angkara berpendar-pendar di mimiknya setelah didorong paksa sampai bertekuk lutut di depan Luhan.

Taejun sendiri pun telah dibelengungi borgol dan tersumpal sebuah kain, meski ketekadannya tak pudar dari manik serta-merta wajah yang tak sedikit pun menggambarkan keterguncangan dikeadaan terhimpit ini.

Senyum miring Luhan kian terulas, mocong pistolnya silih berganti membidik suami-istri Kim dengan tatapan mengolok seakan melakukan hal tersebut untuk mengancam anak kecil yang ketakutan terkena desing peluru bukannya sepasang suami-istri Unity yang siap mati kapanpun demi ordo.

Ujung pistolnya diberi tiupan gontai oleh Luhan. “Wah. Aku tak menyangka kalian sangat nekat untuk memberi pesan kepada Kwon—” frasa yang Luhan rangkai tertelan kembali, bibirnya kelu tatkala memutar leher secara asal dan menemukan satu potret dalam bingkai yang terpajang di dinding ruang tamu.

Kedip-mengedip mata saja yang dapat Luhan lakukan, tubuhnya membeku, hatinya berdesir hebat. Potret seorang gadis belia berumur delapan tahun itu amat familiar dalam lingkup memorinya, bahkan figur dalam potret itu seseorang yang berarti dalam hidupnya.

“LARI HYERIM! LARI!” vokal sopran mengudara dari Park Seyoung yang berteriak.

Sontak atensi Luhan beralih ke jendela yang membiaskan versi dewasa sosok gadis dalam potret yang menyita Luhan. Pahatan perempuan yang presensinya hanya mampu Luhan sambut dengan kedipan dan keterpakuan.

Hyerim, Kim Hyerim. Namanya Hyerim. Seluet-seluet memori berkilas balik di otak Luhan. Sedang bising-bising di sekitar mulai mengaum-ngaum. Teriakan, derap langkah, tembakan, serta gedebug lincah dari sosok Kim Hyerim yang lihai bin majur berguling ke dalam rumahnya melalui celah pintu yang ia cacati tanpa terkena tembakan yang melolong di luar sana.

Luhan masih terperangkap dalam dunianya sendiri. Tak mengidahkan sosok penyita atensinya ialah seorang troupes Unity nun seperkian detik telah berpijak di depannya dengan belati mengacung. Tapi gelar chasseur yang melabeli Luhan tak bisa disepelekan, dia lengah namun cepat tanggap dan lekas membawa diri melompat ke samping dimana serangan Hyerim hanya berupa angin lewat saja baginya, pun Si Gadis kini tersungkur di atas lantai kayu rumahnya dengan hadiah darah bercorak di paras ayunya.

“Ugh.” Hyerim mengerang lalu mendesis dengan delikan tajam pada Luhan yang menatapinya terkaget-kaget. “Pergi dari sini, Majesty biadab! Jangan sentuh orangtuaku!” hardik Hyerim, bangkit kemudian menderapkan langkah ke arah Luhan bersama belati nan mengawani.

Lagi, Chasseur Luhan tak patut diremehkan kala sebuah belati pun muncul dengan cepat serta lantas menghadang belati Hyerim hingga suara dentangan dari kedua belati itu menggema. Kobaran angkara terpampang di dwimanik Hyerim, bukan tergetar merasa tertantang, Luhan malah terlena.

“Tak peduli apa hubunganmu dengan orang yang berada di ordo bersimpangan, kamu harus mengesampingkannya, relakan hatimu dan tumpahkan lah darah. Apa kalian sanggup bersumpah seperti ini untuk menjadi Majesty sejati?”

Sumpah yang diikrarkan itu mendoktrin Luhan agar melenyapkan rasa terlenanya dan doktrinan tersebut berdampak pada langkah yang diambil Sang Chasseur termahsyur di Majesty itu, dirinya mendorong tubuh Hyerim dan melakukan sapuan di kaki Si Dara Kim sampai gadis tersebut berdentuman dengan kayu reyot pondok kembali sembari meloloskan desisan.

Tatkala Hyerim ingin bangkit, pemblokan terjadi pada dirinya disebabkan belati Luhan menempel di lehernya membuatnya tak mampu berkutik sama sekali. Tak sampai sana, tangannya terbelengu oleh borgol yang seperkian detik Luhan kenakan di lengannya. Sialan, Hyerim benar-benar dilucuti habis.

“Maaf.”

Bagai angin, aksara tersebut melewati telinga Hyerim, amat samar dan bahkan Si Gadis tak yakin akan frasa tersebut. Maaf? Bagaimana bisa orang yang menyergapnya mengatakan kalimat tersebut?

DOR! DOR!

Ekspresi dan respon yang semestinya terlukis histeris hanyalah angan tatkala seharusnya Hyerim bereaksi begitu dimana sekarang kedua orangtuanya berlumur darah dengan satu mata di masing-masing dahi. Namun Kim Hyerim tidak bisa berekspresi sama sekali bahkan berteriak histeris ataupun meneteskan pasokan airmata sebanyak-banyaknya, semuanya buntu.  Jangankan airmata ingin mengalir dari matanya yang membelalak kaget, satu frasa pun tak lolos dari mulutnya yang kering.

SRAKK!

Tubuh kaku bin dingin kedua orang terkasihnya kini terongok naas dengan ajal yang sangat tergambarkan berat; mata membeliak nyaris seperti bolanya akan copot ditambah mulut membentuk o. Manakala mayat kedua orangtuanya menguarkan suara gedebug dengan kayu lah, Hyerim baru sanggup mengedip, pun memecahkan teriakan soprannya.

“AKHHH!! AYAH!! IBUUU!!! ARRGHHHH!”

Miris, auman teriakan itu hanyalah percuma, pun lelehan likuid yang membanjiri paras ayu Hyerim yang meronta ingin melepas diri dari Luhan—Si Pembunuh orangtuanya—yang hanya bergeming lalu finalnya meloloskan Hyerim yang lekas menggeret tubuh mendekat ke arah ayah-ibunya.

Lunglai, letih, Hyerim cuma bergeming dengan mata panas bercucur genang likuidnya memandangi dua tubuh tak bernyawa ayah serta ibunya. Teriakan Sang Gadis parau bin menyesakkan dada. Sedangkan itu, para Majesty memaksa masuk ke dalam, sigap dengan senjata di masing-masing  tangan.

Wajah Luhan terangkat dan paras para plus vieux menyiram retinanya. Salah satu plus vieux pun maju dan dapat Luhan kenali memiliki posisi sebagai penasehat dengan nama Marcus Cho.

“Kerja bagus.” tutur Marcus, tersenyum puas dengan tangan bergerliya mengelus bahu Luhan yang hanya menundukan kepala santun. “Kamu memang pantas menyandang chasseur terbaik di ordo, Luhan,” lantas tatapan Marcus bersarang pada Hyerim yang kelelahan dan kini tatapannya cuma menerawang pedih ke arah mayat orangtuanya. “dan bagaimana dengan gadis ini? Dia putri dari salah satu plus vieux Unity, tawanan yang sangat penting karena dimasa mendatang dia bisa menjadi seperti orangtuanya.”

Saliva Luhan terteguk mendengar kalimat Marcus yang layaknya surat kematian baginya; menyerahkan Kim Hyerim pada Marcus Cho berarti menyodorkan Sang Gadis pada ajal yang lebih menyeramkan—disetrum listrik berfrekuensi tinggi di dalam ruang bawah tanah—ajal yang lama bin menyakitkan, amat sangat menyiksa korban.

Hyungnim,” berlandasan rasa ragu diintonasinya, Luhan memanggil Marcus hingga lelaki itu membelokan leher kepadanya dengan alis bertekuk. Kembali ludah Luhan tertelan dengan jantung berdetak keras. “bagaimana bila aku yang menawannya?”

Obsidian Hyerim mendelik dengan rasa benci ternguarkan kala mendengar kalimat Luhan. Sementara Marcus melipat dahi dan Luhan kembali meneguk ludah dengan gugup.

“Aku ingin diberi kehormatan menawan seorang plus vieux Unity dimasa depan.” tandas Luhan, mantap dengan senyum agak dipaksakan.

Balasan Marcus ialah tersenyum dan menepuk-nepuk bahu anak asuhnya sebagaimana dahulu Marcus adalah mentor Luhan dalam lika-liku perjalanannya menjadi Majesty.

Anggukan Marcus terlaksana, “Tentu,” pungkasnya, memberikan tepukan terakhir di bahu Luhan. “aku yakin kamu bisa membabatnya.”

Senyuman tipis Luhan tersungging, tungkainya kemudian dibawa ke arah Hyerim, bersimpuh di samping Sang Gadis dengan memandang dalam parasnya walaupun dara ayu itu mengibarkan bendera perang di dalam kelereng matanya. Luhan tersenyum lemah sebelum menggeret Hyerim berdiri lalu memukul keras tengkuk gadis berkeluarga Kim tersebut hingga kesadarannya terengut.  

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

20 April 2014.

Tanggal dua puluh, bulan April. Semestinya anak belia yang terduduk kesepian di bangku taman itu tidak meringkuk dalam kesepian, menulikan indera ditengah keramaian, pun merasakan kebahagiaan berlimpah. Disebabkan hari ini usianya bertambah diangka delapan tahun.

Luhan, namanya, dirinya baru menjadi sebatang kara ketika kedua orangtuanya secara tega membuangnya ke negeri penghasil gingseng—Korea Selatan—dengan alasan ekonomi keluarga yang tak mampu membesarkan seorang putra.

“Hai, kenapa sendirian?”

Vokal sopran khas anak sebayanya itu membuat Luhan tersentak. Secara lucu pula Luhan melihatkan mimik ketakutan dengan mengenjang waspada, dirinya sedikit menggeser tubuh dari anak perempuan yang main duduk dan memamer senyum di sebelahnya.

Hey, aku tidak menggigit kok, jangan takut.” seloroh anak perempuan tersebut kemudian tertawa. Luhan sendiri tetap dilanda waspada, netranya bergerak-gerak ketakutan menyensor gadis sebayanya di balik kepalanya nan menunduk. “Aku dengar kamu anak baru di sini dan saat aku lihat biodatamu tadi yang kuminta ke ibu panti, kamu sedang ulang tahun hari ini.”

Akhirnya kepala Luhan terangkat, sedikit demi sedikit ketakutannya lenyap berganti jadi keterpakuan memandang anak perempuan surai panjang di hadapannya yang sedang merongoh sesuatu dari dalam sakunya.

Si Anak Perempuan tersenyum pada Luhan sambil menyodorkan sebuah jam analog kalung berwarna emas. Jam tersebut terbuka menampakan jarum jam dan angka-angkanya, pun Luhan cuma memandangnya saja.

Tak ada penggerakan, Si Anak Perempuan menarik tangan kanan Luhan serta menaruh jam analog kalung tersebut di telapak tangan anak yang tengah bertambah usia tersebut dan menutup telapak tangan Luhan difinalnya. Sematan senyum manis anak perempuan ini membuat Luhan terbius bin terlena, ingin sekali ia bersibobrok pandang dengannya tanpa terputus.

“Untukmu,” tandas anak perempuan tersebut. “aku membelinya di toko jam di depan panti. Dan oh, ya, aku bukan anak panti jadi tidak bisa menemanimu terus. Aku cuma sering ke sini untuk melakukan kegiatan amal. Tapi mulai hari ini aku akan pindah ke Gwangju,” tahu-tahu anak perempuan manis ini mengusak surai Luhan, otomatis pipi Luhan merona menerima kontak fisik tersebut apalagi sematan senyum anak perempuan ini kelewat manis. “jadi kuharap kamu bisa berteman dengan yang lain, ya. Kali-kali aku berkunjung lagi. Aku ingat namamu kok, Luhan, bukan? Aku lihat dibiodatamu.”

Kini surai Luhan diacak-acak namun hal itu termasuk hal yang tidak dia sukai. Tubuh Luhan bergerak menjauhi Si Anak Perempuan, menepis tangannya lalu mengeleng-geleng sambil menunduk.

“Tidak suka.” pungkas Luhan, geleng-geleng sambil cemberut nan menghantarkan kegemasan kepada anak perempuan di depannya yang lantas tertawa.

Seketika seorang wanita mendekati kedua anak belia itu dengan tersenyum dan anak perempuan yang sejak tadi sok akrab dengan Luhan ini segera paham, mengangguk kepada wanita tersebut lalu menatap Luhan dengan cengiran.

“Aku pulang dulu, ya. Kapan-kapan jika ke Seoul, aku sempatkan mampir ke sini. Asal kamu jangan kelihatan kesepian begitu lagi ya sampai aku menghampirimu begini. Intinya kamu harus lebih ceria, okay?”

Itulah penutup konversasi singkat keduanya, anak perempuan itu beranjak, menggandeng tangan wanita nan datang itu yang nyatanya ibunya, kemudian berjalan menjauh. Luhan hanya bisa menatapi punggungnya hingga lenyap sampai akhirnya pun dia sadar bahwa dirinya belum tahu nama anak perempuan yang kala itu belum ia sadari sudah membuatnya jatuh cinta seperkian detik saja. Dan akhirnya setelah enam belas tahun berlalu ia kembali berjumpa dengan anak perempuan cinta pertamanya itu yang nyatanya bernama Kim Hyerim.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

Sejemang cahaya menyebabkan penyipitan terjadi di kurva mata Kim Hyerim yang baru sadar kembali dari pingsannya. Ruang gelap yang cuma dicahayai setitik cahaya yang menariknya bangun menyambut Hyerim. Lengannya terperangkap dalam borgol, tubuhnya terongok menyedihkan di atas lantai dingin ditambah beberapa luka gores melukis kulitnya, pun pakaiannya telah menjadi lusuh.

KRIET.

Pintu yang terbuka menyubungi runggu Hyerim, kepalanya sontak mendongak dan dilihatkan tungkai berbalut pentofel hitam mendekatinya, serta-merta muka familiar menyiram retinanya kala mendongak lebih. Refleks terkulum seringaian sinis di ranum Hyerim.

Luhan lah yang datang bersama sepiring nasi dan beberapa lauk-pauk. Tanpa ekspresi, pria Lu ini berjongkok dan meletakan piring tersebut di hadapan Hyerim nan tak luput melayangkan tatapan sinis. Manik keduanya bersipandang dengan binar bertolak belakang; dalam bersirat penuh arti dari Luhan dan sinis penuh dendam dari Kim Hyerim.

Helaan napas Luhan mengudara, dia menunduk sebelum meraih lengan Hyerim sembari berkata: “Ini makanan untukmu. Kamu harus memakannya.”

Dan borgol tersebut terlepas membebaskan lengan Kim Hyerim. Serta sepertinya Luhan sedang dungu atau Hyerim sedang mujur sebab lawannya ini lengah karena hal ini merupakan setitik asa bagi Kim Hyerim walaupun berlandasan kenekatan belaka namun dirinya mesti mencoba. Oleh sebab itu, sebuah tonjokan bersarang di pipi Luhan membuat pemuda itu jatuh terlentang beberapa meter di depan Hyerim. Timing itu diambil mulus oleh Hyerim yang lekas berdiri dan melompat ke atas badan Luhan, kembali menonjoknya yang masih mendesis kemudian meraba-raba bagian pinggangnya yang terselip ikat pinggang nan bertengger senjata. Gotcha! Sebuah belati Hyerim dapatkan, lantas senyum miringnya terulas bersamaan dengan menarik belati tersebut dari ikat pinggang Luhan kemudian bangkit dengan berlari menuju pintu yang berjarak lumayan jauh dikarenakan besarnya penjara yang mengurungnya.

Namun belum jua sejengkal mencapai pintu, tungkai Hyerim diblokir oleh tangan kekar Luhan membuat Si Dara tersandung dan detik selanjutnya berdentuman keras dengan lantai dingin penjara. Desisan Hyerim lolos, dirinya membalik tubuh dengan belati mengacung yang kemudian ujungnya menyentuh paras Luhan serta mendadak menjadi sebuah kuas yang melukis luka segaris menciptakan darah tampak di pipi kiri tepat beberapa meter di bawah mata pemuda Lu itu yang kembali mengerang.

Senyum miring Hyerim tersungging, puas. Tetapi kepuasannya bersifat sementara saat Luhan menampik keras tangannya, sejatinya gadis bernama Kim Hyerim ini sudah keletihan baik fisik maupun batin, tampikan keras tersebut membuat belati yang ia kukung berdentangan dengan lantai kemudian terpental jauh oleh dorongan yang dilakukan tangan Luhan.

Sial, kembali Hyerim tersungkur dalam genggaman Luhan. Tubuh Hyerim dibalik paksa oleh Luhan lalu pemuda ini menatapnya tajam dan Hyerim balas tak kalah tajam. Pun Luhan mencengkram kedua lengannya keras dengan kedua tangannya.

“Jangan melawanku Nona Kim atau kamu akan mati.” ancam Luhan dengan manik mengobarkan api.

Dengusan Hyerim tercuat, kesinisan menguar dari obsidiannya, ludah pun menyembur dari mulutnya dan sedikit menciprat ke paras Luhan yang refleks memejamkan mata lalu membukanya lagi dengan picingan.

“Bunuh saja aku!” tantang Hyerim, terlukis rinci jua di wajahnya. “Lebih baik aku mati dibanding ditawan oleh brengsek sepertimu. Setidaknya setelah mati aku bisa bertemu ayah dan ibuku.”

Diafragma Luhan mengempis. “Jaga mulutmu, Kim Hyerim!” sentaknya dengan tatapan tajam lalu mengikis spasi dengan Sang Gadis hingga napas keduanya saling sapa di paras masing-masing.

Jaraknya dan Luhan membuat adrenalin Hyerim memuncak serta-merta rasa gugup menggerogoti, ia terperangkap di obsidian jernih milik Luhan.

Kepalanya ditelengkan oleh Luhan dengan senyum miring tersungging. “Berani-beraninya kamu meludah padaku?” seloroh Luhan yang mana membuat Hyerim merinding. “Dan beraninya kamu mengatakan ingin mati sementara aku ingin kamu hidup, huh?!” Hyerim meneguk ludah walaupun tak paham maksud ucapan Luhan untuk membiarkannya hidup. Sedang pandangan Luhan tersita oleh plum merah jambu Hyerim. “Mulutmu butuh pelajaran.”

Dan rasanya tubuh Kim Hyerim meremang habis tatkala spasi antaranya dan Luhan dibabat total oleh pemuda itu, mempertemukan bibir keduanya dalam ciuman sepihak; Hyerim diam tak berkutik dan Luhan melumat kasar ranumnya dengan rakus.

Hyerim meronta, sebagaimana rontaannya terjadi semakin kuat jua cengkraman Luhan membelengu lengannya, pun pemuda tersebut kian membabi-buta membubuhkan ciuman serta lumatan kasar di plum manisnya. Anyir darah membelai disela ciuman berhasrat dari pihak Luhan itu, membubuhkan kemanisan dikegiatan tersebut, darah dari ranum manis Si Gadis Kim yang kini hanya bisa bersimpuh pasrah dengan airmata tatkala Luhan mulai bergeliya di lehernya. Ia merasa hina, lebih hina dibanding kalah luwes dalam pergulatan.

Dalam hatinya Luhan memberontak, pun terjadi jua pertikaian. Barbel yang mengangkat pemberontakan turun total dan barbel yang mendorongnya menyiksa Sang Gadis terangkat amat atas. Luhan hanya marah, kecewa, sakit hati ketika gadis manis dalam perangkapnya ini tak mengingatnya sama sekali.

“… jadi kuharap kamu bisa berteman dengan yang lain, ya. Kali-kali aku berkunjung lagi. Aku ingat namamu kok, Luhan, bukan? Aku lihat dibiodatamu.”

“Untukmu. Aku membelinya di toko jam di depan panti.”

Bersamaan dengan lelehan likuid dan desahan tertahan dari bibir mungil Kim Hyerim, Luhan juga meneteskan airmata mengingat memoar masa lalu yang merupakan salah satu ingatan terbaiknya dikala belia. Setia Luhan masih bergeliya menandai leher gadisnya, cengkramannya pada Hyerim mengendor namun gadis garis Kim ini terlalu letih untuk melawan dan hanya bertekuk lutut pada Luhan yang mulai meraba pakaiannya.

Kembali angkara lebih mengendalikan Luhan yang akhirnya melakukan sesuatu yang menyakiti sosok gadis cinta pertamanya. Belaian-belaian Luhan merayap di setiap inci tubuh Hyerim, melucuti pakaian yang membalut Sang Gadis, pun cumbuannya menjalar ke seluruh tubuh Sang Dara. Desahan, erangan, dan peluh memenuhi penjara dingin itu yang seketika menjadi hangat untuk kedua insan tersebut.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

“Aku dengar akan ada rapat besar petinggi Majesty.” bariton Oh Sehun menyentak Runa yang duduk termenung di sofa sobek-sobek di ruang keluarga kediaman keluarga Kim nan tertinggal.

Sorot manik Runa terarah kepada kekasihnya yang sibuk meneguk minuman alkohol bertipe brendi dengan menyender di dinding lecet yang di sebelahnya terdepata televisi nan sudah pecah layarnya.

“Kapan?” imbuh Runa, lurus-lurus menatap Sehun. Sejujurnya Kwon Runa masih mengejang waspada, takut-takut ini cuma perangkap Oh Sehun untuk membantunya.

“Besok malam, sehari sebelum pembantaian di malam berikutnya.” Sehun meneguk nikmat brendinya hingga ludes lalu memainkan gelas kosongnya.

Kelereng mata Runa berputar-putar, susunan rencana berlarian di benaknya. Dia harus bergegas, jika tidak pembantaian massal bisa terjadi dan kekuatan ordo Unity bisa dipastikan menipis setelahnya.

“Kita harus membunuh Raja besok malam,” pungkas Runa, menatap Sehun dalam dengan rasa mantapnya. “Intinya kita harus membunuhnya sebelum kekuatan Unity menjadi menipis karena pembantaian. Ingat, di ordoku juga banyak orang biasa, états bawah.” desak Runa sebab Sehun seperti menggambarkan ketidaksetujuan di mimiknya mendengar ide nekat Runa.

Sehun mendesah, diraihnya botol brendi yang berdiri di meja ruang keluarga kemudian menuangnya ke gelas kosongnya.

“Terlalu gegabah,” ucap Sehun, brendinya ia teguk beberapa. Sedang Runa yang duduk beberapa meter di depannya menatap dengan tatapan tajam karena tak suka penolakan. “Well, dengarkan dulu, sayangku. Terlalu gegabah jika kamu hanya berpikir bunuh Raja apapun yang terjadi. Kita harus punya rencana yang apik dikeadaan terhimpit sekalipun.”

Benar, Runa cuma memikirkan bunuh saja Raja tanpa rencana apapun. Dan itu sama saja hal tolol seperti sukarela melemparkan diri ke habitat harimau tanpa persiapan apapun.

Okey,” seloroh Runa, mengembuskan napas lalu menariknya lagi. “jadi apa yang akan kita lakukan? Apa perlu membubuhkan racun ke minuman atau makanan Raja?”

Gelengan kuat Sehun adalah respon. Brendinya yang sudah ludes lagi membuatnya meletakan si gelas kosong berembuk di atas meja ruang tamu bersama botol berisikan minuman alkohol tersebut.

“Jangan. Cepat ketahuan. Mereka tahu wajahmu Runa. Apalagi ayahmu dulu adalah adik Raja yang memberontak dan kamu diasuh oleh keluargaku. Sukar menyamar untuk menyusup ke dapur begitupula aku. Ditambah ayah dan ibuku pasti menjadikan kita buronan karena mendapati penjara kosong melompong.”

Diafragma Runa mengempis, ia merasa pejuangannya akan sia-sia sebelum mencoba sama sekali. Seakan dia disuruh menyerah sebelum melawan.

“Tapi aku punya ide,” cetus Sehun, berjalan mendekat ke arah Runa dengan senyum misterius. Runa menatapnya dengan mendongak ketika Sehun berdiri di depannya. “Kim Hyerim,” dahi Runa berlipat. “aku mengorek informasinya sedikit dan melihat rincian-rincian di ruang bawah tanah rumah ini. Dirinya pandai merakit bom dan orang-orang tidak mengenalnya sama sekali.”

Netra Runa mengerjap-ngerjap, mencoba paham lebih dahulu sebelum Sehun membeberkan maksudnya.

“Jadi maksudmu kita harus membebaskan Kim Hyerim dari Luhan lalu menyusun rencana pemboman dengan rakitan yang dibuat Hyerim, begitu?”

Sehun tersenyum puas, anggukannya tercetus. “Benar, sayangku. Kita bebaskan dulu kawanmu lalu menyuruhnya menyeludup ke tempat rapat dengan bom yang ia rakit. Bukan hanya Raja, petinggi Majesty yang lain pun bisa mati. Kemudian game over, Unity bisa mengambil alih.”

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

Pagi sepertinya telah tiba sebab cahaya di sela jendela teralis kecil itu memancarkan hangatnya mentari. Kim Hyerim masih sama, masih terongok di atas lantai dingin penjara akan tetapi tanpa borgol di lengan, berganti dengan borgol di pergelangan kakinya. Dan pakaiannya telah berubah, sebuah dress sampai selutut berwarna pink lah yang membaluti tubuh rampingnya sebab pakaian sebelumnya telah dilucuti paksa darinya dan terkoyak-koyak menjadi bahan kain tak layak, bukannya pakaian yang menghangatkan runggu.

Keletihan yang membelit Hyerim masih berkesinambung, malah kian-kian memuncak. Belum ada makanan ataupun air yang terstor ke dalam tubuh, ia menolak makanan dan minuman yang kini cuma dia tatapi saja karena makanan itu dari brengsek yang memperkosanya semalam. Dan karena insiden semalam itulah, keletihan Hyerim membuncah dalam runggunya, baik fisik maupun batin.

Decit pintu penjara merembes masuk runggu Hyerim disusul oleh derap langkah yang sudah ia ketahui siapa pemiliknya. Oleh sebab itu dirinya tak memandang bahkan melirik sekalipun siapa sosok yang kini berpijak di depannya serta menatapnya. Hyerim merasakan sinar laser seakan menusuk pipinya dan dipastikan tatapan yang Luhan berikan setajam silet.

“Kenapa makananmu masih utuh dari subuh tadi?!” bentak Luhan dan Hyerim hanya mendesah berat lalu mendelik ke arah pemuda itu yang membingkai wajah marah. “Sudah kubilang kamu harus makan!” hardik Luhan. Hyerim menanggapinya dengan wajah tak acuh membuat angkara Luhan berkobar-kobar.

Dengan amarah membelit hebat, Luhan menarik tubuh Hyerim hingga bertekuk lutut di depannya secara kasar.

“Hei!” Hyerim berseru karena kulitnya berdecitan keras dengan lantai penjara, dia tatap Luhan serupa dengan pria itu; penuh kobar angkara. “Brengsek sialan.” umpat Hyerim, napasnya tersenggal seraya saling menatap dengan Luhan.

Geligi Luhan berkelatuk. Tangan kanannya menekan keras kedua pipi Hyerim lalu mengangkat wajahnya. “Dan kamu harus menuruti brengsek sialan ini, Kim Hyerim. Kamu milikku sekarang, ingat itu!”

Netra Hyerim bergetar, setia memendarkan api amarahnya. “Sejak kapan?” sengitnya tanpa gentar menatap Luhan bengis. “Sejak kapan aku ini milikmu, brengsek?!”

Aksara tersebut amat fatal, tekanan di pipi Hyerim makin diperkuat Luhan. “Sejak semalam.” ucap Luhan, aura menyeramkan membuat bulu kuduk Hyerim meremang mendengarnya. Si Gadis Kim merasa dihina, dilecehkan.

Lelehan airmatanya mendesak ingin keluar tetapi Hyerim menahannya tatkala Luhan mendekat ke kupingnya, melumatnya lembut. Dan kala cumbuan tersebut membelainya, likuid hangat Hyerim merembes keluar dengan isakan tertahan.

Napas Hyerim tertahan saat Luhan berhenti mencubuinya dan bernapas di samping telinganya, menghantarkan rasa takut membelengunginya. Alih-alih penyiksaan lahir batin entah dicumbui atau diperilakukan kasar dan hina lagi, sebuah bisikan lembut bin perih bersarat kecewa lah yang didengar telinga Hyerim.

“Bagaimana bisa kamu melupakanku padahal kamu sendiri yang mengatakan akan menemuiku lagi? Bahkan kamu lah yang mengetahui namaku, tidak denganku yang hanya mengingat wajahmu enam belas tahun yang lalu tanpa tahu namamu.”

Hyerim terpaku, bisu seribu bahasa dengan kebingungan yang memikulnya. Memangnya… siapa lelaki yang melecehkannya ini, selain chasseur kejam dari Majesty yang telah membunuh orangtuanya?

Sebelum Hyerim sempat merespon dan masih terperangkap dikebingungan, Luhan menjauhkan diri dari kupingnya dan menyentak kasar wajahnya. Hyerim menatapinya bingung tetapi Luhan menolak bersibobrok pandang dengannya. Borgol yang memblokir kaki Hyerim diloloskan oleh Luhan.

Perlahan Luhan berdiri tegak kembali tanpa menatap Hyerim yang terus-menerus menatapnya. “Makan!” kembali Luhan menjadi kasar dengan membentaknya. “Jangan jadi jalang tidak tahu diri.”

Kembalilah rasa dendam Hyerim menghampiri, napasnya terhela dengan tatapan tajam memicingnya. Dirinya hanya bergeming berlutut di depan Luhan tanpa menyentuh makanan yang disediakan jaka tersebut.

Melihat kegemingan Hyerim, Luhan ambil tindakan dengan sedikit membungkuk kemudian menjambak surai gadis manis di depannya sampai kepala Hyerim mendongak. Rasa sakit yang menjalar ditahan Hyerim dengan mulut terbuka serta gemetar sebab menahan rintihan.

Luhan mendekatkan sedikit wajahnya ke Hyerim dan mengeluarkan aksara berintonasi tajam, penuh penekanan.

“Kubilang makan!”

Tak gentar, alih-alih bersimpuh pasrah, Hyerim malah melotot tajam. “Apa urusanmu bila aku tidak makan, huh?”

Oleh sebabnya, Luhan makin menarik rambutnya dan rintihan tak terelakan keluar dari bibir mungil Hyerim. Kepalanya pening dan rasanya gadis garis Kim itu dilecehkan kembali oleh chasseur brengsek di hadapannya.

“Kamu ingin dihukum lagi seperti semalam?” vokal Luhan memecah dengan amat menyeramkan di liang dengar Hyerim selayak surat kematian yang dikumandangkan kepadanya dari Malaikat Maut.

Bola mata Hyerim bergetar, pun ranumnya juga demikian. Ditengah siksaannya itu, gelengan pelan Kim Hyerim terlaksana. Tak mau memoarnya bersemayam diinsiden kemarin malam yang mana menyebabkan seluruh tubuhnya kesakitan bahkan batinnya pun tersiksa, cuma Luhan saja yang menikmatinya.

Gelengan yang merupakan timbal balik tersebut membuat Luhan menyungging senyum puas lalu menyentak kasar tangannya dari surai Hyerim yang tubuhnya gemetaran hebat sembari menunduk menatapi makanannya. Sebab teror Luhan melalui sorotnya, Hyerim pun lekas mengambil piringnya dan menyantapnya dengan memikul hatinya nan berat.

Tungkai Luhan berbalik berniat pergi tetapi tertunda tatkala isakan yang menghantam hatinya menyusup kependengarannya. Ketika menoleh sekilas, Kim Hyerim lah yang memejam netra dengan tangisan mengawani. Hati Luhan terenyuh, nyeri sebab alasan Sang Gadis menangis adalah dirinya, kekecewaannya yang membuatnya menjadi seperti ini.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

“Kamu yakin kita bisa berhasil?” utar tanya yang berbisik pelan di tengah mentari terik tersebut memasuki runggu Sehun yang baru berhasil meloncat dari tembok.

Kwon Runa lah yang barusan bertanya dan sudah lebih dulu meloncat, kini ia pun menatap profil samping Oh Sehun yang sedang memasang sikap siaga. Anggukan Sehun ialah respon dari tanyanya beberapa timing kebelakang.

“Ya,” tukas Sehun, kepalanya menyisir ke sekitar, memastikan anak buah Luhan tidak terlihat karena sekarang keduanya baru berhasil masuk ke markas pemuda Lu itu. “sementara aku mengalihkan perhatian. Kamu selamatkan Kim Hyerim.”

AIr wajah Runa berkerut khawatir walaupun keduanya telah menyusun strategi sejak barusan.

“Kamu yakin Luhan akan percaya?” beo Runa, tak yakin dengan menggigit bibir bawah. “Apa dia akan menyambutmu dan percaya akan dalih palsumu?”

Ya, Sehun akan menarik perhatian dengan cara sederhana; bersua dengan Luhan sembari dijamu dengan menceritakan bahwa Runa kabur darinya dengan membuatnya tertidur dengan racikan obat diminumannya, pun pemuda Oh ini akan berakting menyesal telah membuat Runa hidup.

“Tentu,” seloroh Sehun, menatap Runa dengan setitik senyuman. “dia human diaryku dalam berhubungan denganmu. Dan jangan salah, Luhan juga punya cinta pertama yang belum bisa dia lupakan dan pasti paham posisiku.”

Disarangkan oleh Sehun sebuah elusan lembut di bahu Runa. Tersenyum lembut, Sehun pun mulai beranjak dengan melontar aksara tuk terakhir kalinya pada Runa sebelum keduanya bergunjing dalam misi sederhana ini.

“Sekarang saatnya kita bergerak. Tunggu sampai aku masuk dan masuk lah ke jalan yang kuberitahukan, paham?”

Lantas Sehun pun bergerak, berlakon biasa dengan akting dalam mental terbawah. Mengetuk pintu, Sehun dibukakan oleh seorang anak buah Luhan, keduanya berkonversasi singkat dan dipastikan Sehun ingin bertemu dengan bos anak buah tersebut. Saat Sehun dipersilakan masuk, dirinya menoleh ke tempat Runa bersembunyi dengan mengedipkan mata.

Ya, kini saatnya Runa bergerak di bawah terik mentari yang menyelupkan cahaya senja yang akan datang sebentar lagi untuk memasuki jalan rahasia yang dibeberkan Sehun.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

Terlelap. Gadisnya kini terlelap setelah meludeskan makanannya. Kim Hyerim seperti tak beristirahat sama sekali dalam bunga tidurnya, keletihan masih menjerat di parasnya walaupun napasnya teratur dengan nyaman. Luhan pun memandangnya perih, tak menyangka egonya membuat keadaan Sang Gadis seperti ini.

Tubuh Luhan bersimpuh di sebelah Hyerim, membawa perlahan tubuh perempuan tersebut ke dalam gendongan gaya bridalnya. Dengan Hyerim di dalam gendongannya, Luhan membawa diri keluar penjara dan menuju kamarnya nan hangat. Seakan benda rapuh, dia letakan Kim Hyerim secara lembut di ranjangnya tanpa mengusik tidur Sang Gadis.

Saat dipastikan Hyerim sudah nyaman dalam posisinya, Luhan pun terduduk di atas ranjangnya, memandang lembut paras gadis yang enam belas tahun lalu telah membobol hatinya kemudian membelainya dengan tak kalah lembut oleh sinar manik yang ia curahkan.

“Maaf.” frasa Luhan getir seraya menyelipkan sehelai surai di belakang telinga Hyerim. “Maaf telah membunuh orangtuamu, aku terpaksa. Dan maaf karena menyiksamu sebab rasa kecewaku. Aku sekarang malah berharap perang berhenti sekarang juga agar keadaan kita membaik.”

Luhan menarik diri ke atas ranjang tatkala puas mencurahkan uneg-unegnya pada Hyerim yang sejatinya tidak mendengarnya sama sekali. Kemudian dirinya berbaring di sebelah Hyerim. Senyum Luhan mengembang ketika wajah tidur gadis Kim ini tepat berada di hadapannya lalu menarik Hyerim ke dalam pelukannya.

Bergulir demi bergulirnya waktu, alam bunga tidur Hyerim berakhir. Kelopak matanya terekspos, menyipit dan mencoba mencerna sosok siapa yang memeluknya begini. Wajah Luhan tercelup ke dalam retinanya, sontak kurvanya nan menyipit pun menjadi melebar. Segera Hyerim menjauhkan diri dari Luhan hingga pemuda itu melompat dari alam mimpinya ke alam sadar, duduk di atas ranjang serta-merta menyilangkan tangan di depan dada dengan gemetar.

“Apa yang kamu lakukan?” todong Hyerim, menunduk disaat nyawa Luhan masih setengah.

Kim Hyerim meringkuk ke dalam ketakutan, tangisan rasanya sukar dibendung, kepalanya menunduk tanpa mau bersitatap dengan Luhan, trauma membelitnya akan insiden kemarin malam. Sekon ini Luhan sudah terduduk juga di ranjang dengan menatap Hyerim sembari tersenyum tipis.

“Aku hanya memindahkanmu ke ranjang dan ikut tidur di atasnya.”

Tanpa dikomando, Luhan membelai lembut puncuk kepala Hyerim. Spontan perempuan Kim ini menjauhkan tangan Luhan darinya yang mana membuat jaka di depannya menarik bibir ke bawah; kecewa.

“Bos, Oh Sehun mencari Anda.”

Panggilan dari luar kamar mengintrupsi atmosfer aneh bin canggung diantara dua insan di dalam. Sedang Hyerim mengerjap sebab nama yang diucapkan tak asing. Luhan pun mulai beranjak.

“Aku akan segera ke sana.”

Punggung Luhan menjauh tanpa menoleh padanya, pintu pun tertutup; melenyapkan total sosok Luhan. Seusai pemuda itu raib dari sisinya, Hyerim memeriksa tubuhnya jikalau Luhan mengatakan omong kosong belaka tidak melakukan hal-hal yang membibitkan trauma dalam dirinya. Hembusan napas mengklarifikasi rasa lega akan ucapan Luhan yang benar adanya.

Ketika Hyerim ingin beranjak, berniat hengkang dari ruangan ini, pun jeratan Luhan, sebuah benda nan tergeletak di atas ranjang menusuk iris matanya. Hyerim mengernyit, familiar akan jam analog kalung yang kentara terlihat telah berumur. Perlahan bercampur keraguan yang dibubuhi, Hyerim memanjangkan lengan, mengambil jam analog yang terbuka itu.

Teksture, warna, pun segala yang merancang jam analog tersebut amat Hyerim kenali dengan umur yang sepertinya sudah enam belas tahun dipelihara oleh Luhan. Berdegup kencang lah jantungnya sembari membuka lebih lebar jam analog tersebut. Lantas selain jam dengan jarumnya yang sudah mati bergerak, sebuah foto berukuran 2×3 terselip di dalamnya, mengguncang keras tubuh, pun hati Kim Hyerim.

Bagaimana tidak bila foto tersebut adalah potret dirinya enam belas tahun lalu? Foto yang dia selipkan ke dalam jam analog kalung yang dia hadiahkan pada anak panti nan kelihatan kesepian serta mengiba padahal hari itu ialah hari penambahan umurnya. Maka Hyerim memberikannya hadiah karena iba padanya yang masih baru di panti, tak punya teman, dibuang ke negara orang, dan tengah merayap dalam kesepian di hari spesialnya. Sengaja jua Hyerim selipkan fotonya di jam analog kalung pemberiannya agar anak lelaki kesepian itu mengingatnya, minimal parasnya.

Tanpa komando, semua keterguncangan, kegetaran, dan rasa sesal itu melebur menjadi airmata yang menyusuri pipi. Dipegang erat jam analog kalung itu dalam genggamannya dengan ranum gemetar. Hyerim merasa bodoh, padahal dirinya sudah menyugestikan diri tuk mengingat nama anak lelaki itu. Luhan, namanya Luhan. Luhan brengsek yang kini mengurungnya yang beberapa timing lalu mengatakan bagaimana bisa dia melupakan dirinya.

DUK.

“Aduh! Sial, aku salah masuk ruangan.”

Suara gedebug disusul rintihan menyusup ditengah kemerlut sesal serta-merta kesesakan Kim Hyerim. Spontan dirinya menghapus jejak airmata dan siap menatap sosok yang menyeludup ke dalam kamar Luhan.

Adalah Kwon Runa dengan cengiran girangnya sebab kesalahannya menghasilkan keuntungan sebab menemukan Hyerim di sini. Runa merangsek ke ranjang dengan binar manik antusias.

“Akhirnya aku menemukanmu,” imbuh Runa, senyumnya makin mengembang. “ayo kita pergi dari sini, Hyerim. Kamu harus merakit bom secepat mungkin untuk rencana kita.”

Antara masih berkabung karena masa lalunya dengan Luhan, Hyerim mengernyit akan kalimat Runa namun tak bisa mengelak tatkala gadis Kwon ini mengamit jemarinya serta menggeretnya pergi melalui jalan rahasia di dekat penghangat tempat Runa muncul barusan. Sekali lagi Hyerim harus merelakan hatinya dikeadaan begini, conlatus creed antaranya dan Luhan tidak bisa menyatukan keduanya sama sekali sampai kapanpun. Sungguh, Hyerim berasa perang ini berakhir, dia kewalahan, amat kewalahan.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

Malam bergunjing dengan hembusan angin malam menusuk itu menandakan rencana yang dirancang Sehun serta Runa akan segera dituntaskan. Tetapi batang hidung jaka Oh itu belum jua muncul di daun pintu kediaman keluarga Kim yang porakporanda, spontan membingkai kekhawatiran di mimik Runa yang senewen di serambi rumah dengan remas-meremas tangan.

Sedang di dalam rumah lamanya, Kim Hyerim tercenggung dengan rakitan bom yang telah piawai terakit di atas meja yang berdiri beberapa meter di depannya. Tubuh Hyerim sendiri terpekur di sofa dengan mengukung jam analog kalung milik Luhan yang terselip fotonya dan jam nun telah mati.

Kepala Hyerim menunduk, mengangkat tangan, pun membuka kepalan tangan. Sontak iris mata Hyerim tertimpa kilauan yang terpancar dari kaca jam, ia menatapinya kuyu, pun demikian dengan potret 2×3-nya yang telah termakan usia menjadi foto kolot sebagaimana biasanya.

Conlatus creed. Hanya karena hal tersebut yang membentang, Kim Hyerim pun paham kegundahan Luhan, angkara dan dendamnya lenyap tertiup jauh pada pria itu. Luhan tak punya opsi lain selain membunuh orangtuanya di tempat namun dapat Hyerim ingat frasa maaf yang meluncur masuk ke runggunya sebelum orangtuanya dibunuh oleh Sang Chasseur. Dan jika diingat-ingat, Luhan berusaha melindunginya walau dengan cara yang menyimpang. Andai kata Hyerim dibawa oleh plus vieux, mungkin dirinya tidak masih bernapas sekarang dan mengkhatamkan perang yang menyekik batin dan raga ini.

“Sehun…” aksara Runa yang seperti tersumbat itu membuat Hyerim mengenjang waspada dan mengangkat tubuh siaga serta-merta secara luwes mengeluarkan pangkal pedangnya yang kala tombolnya ditekan memunculkan badan pedangnya yang cuma beberapa senti—sebuah pedang pendek.

Tungkai Hyerim bergerak hati-hati dengan pedangnya. Saat beberapa langkah lagi mencapai serambi, dirinya ditikung dengan munculnya sosok yang lebih gesit melompat ke dalam rumahnya serta menerjangnya hingga Hyerim tumbang di atas lantai berlumut rumahnya dengan sosok penyerang di atas tubuhnya.

Ya! Menjauh dari—”

Bibir Hyerim mengatup, gurat angkaranya lenyap berganti wajah kakunya, maniknya yang bersibobrok dengan obsidian tulus Luhan itu membuatnya terbuai serta tanpa sadar meloloskan pedang pendeknya dari sela-sela jemarinya.

Luhan mengukir senyum. “Senang bertemu denganmu lagi, Kim Hyerim.” kelakarnya, penuh rasa rindu yang menghantarkan kesesakan di dada Hyerim.

Airmata Hyerim nampak di pelupuknya, bibirnya bergetar seraya menguntai frasa: “Luhan.” yang tersendat dan rasanya sukar ia lafalkan.

Bangkitnya tubuh Luhan seperti menghipnotis Hyerim yang juga melakukan hal serupa. Keduanya berhadap-hadapan sebelum Luhan menjatuhkan diri kepelukan Hyerim, erat-erat memeluk tubuh gadis Kim itu yang cuma bisa tersentak dan menalari apa yang baru terjadi.

“Maafkan aku,” ucap Luhan, tepat di samping telinganya. “aku tidak punya pilihan lain karena conlatus creed yang terbangun diantara kita.” rasanya Hyerim nyaris bergumul dengan aura sedih Luhan yang membuatnya ingin menangis, tetapi perempuan Kim ini berhasil menghalaunya. “Aku mencintaimu dari sejak enam belas tahun yang lalu.”

Ungkapan tersebut membuat kinerja tubuh Hyerim berhenti, matanya membeliak lalu mengerjap-ngerjap tak yakin. Luhan merenggangkan pelukannya, kedua insan itu pun saling melempar pandang.

“Aku…”

Kalimat Hyerim menggantung, bingung ingin merespon bagaimana. Labirin otaknya berputar-putar ke pertemuan pertamanya dan Luhan hingga ungkapan Si Jaka padanya. Jika diingat-ingat, Hyerim juga sama-sama terjatuh dari enam belas tahun lalu. Iba pada anak lelaki yang meringkuk dalam sepi di taman panti, terbuai akan perilakunya yang kelihatan menggemaskan, tak luput jua melupakan wajahnya yang senantiasa hadir di bawah bunga tidurnya setelah pertemuan pertama yang berlandaskan keberanian Hyerim memberikan jam analog kalung tersebut.

Manakala semua hepotisisnya bergumul dan yakin akan perasaannya, Hyerim mengulas senyum manis yang ingin sekali Luhan saksikan beberapa waktu terakhir ini.

“Aku juga mencintaimu.”

Dan setelah pengungkapan tulus itu, Luhan menekan bibirnya ke plum manis Hyerim, mempetemukan ranum keduanya dalam ciuman yang saling berbalas dengan penuh kelembutan, tidak seperti cumbuan-cumbuan Luhan sebelumnya.

Sementara itu, di serambi, Oh Sehun dan Kwon Runa memperhatikan dengan senyum di wajah salah satunya.

“Bisa kamu jelaskan?” tuntut Runa sembari menatap samping wajah Sehun dengan gurat tanya.

Senyum Sehun masih terukir ketika menoleh ke arah Runa.

“Kim Hyerim adalah cinta pertama Luhan yang kuceritakan,” jelas Sehun menyebabkan manik Runa membeliak kaget. “mereka bertemu enam belas tahun lalu. Well, singkat kata mereka bertemu di panti asuhan. Lalu Luhan ternyata sudah menyadap perbincangan kita mengenai bom. Dia mengenalku lebih baik dibanding orangtuaku, dia diasuh oleh keluargaku lebih lama darimu sampai bisa menjadi chasseur Majesty. Dia tahu aku akan membawa lari dirimu dan mengamankan diri di kediaman keluarga Kim yang tak ada hubungannya dengan kita berdua. Sebelum menyerang pondok Kim Taejun, dirinya meletakan penyadap suara di sini.

“Bukannya memberitahu kepada plus vieux, dirinya malah tersadar bahwa pemboman ini bisa menuntaskan semuanya. Dimana Majesty sudah korup dengan topeng palsu akan perdamaian dunia yang malahan menindas orang tak bersalah. Jadi, dirinya berbelot untuk bergabung dengan kita selain alasan perdamaian, Luhan juga berbelot karena,” Sehun melirik Luhan dan Hyerim yang sekarang sedang saling melempar senyum dengan tangan Hyerim yang melingkar di leher Luhan, tangan Luhan di pinggangnya. “Ya, alasannya sama sepertiku, cinta dan hati. Perang mematikan hati kita dan kita berusaha menghidupkannya kembali, hati nurani dan kemanusiaan kita.”

Ayat kata Sehun pun klimaks, dia pun mendekat ke dua insan yang berombak asmara. “Hei, sudah hentikan drama romannya. Kita harus lekas-lekas menuntaskan misi malam ini.”

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

Rapat perencanaan pembataian massal Majesty dilaksanakan di Balai Kota Seoul. Dengan celupan sinar rembulan tanpa bintang menghiasi langit yang terasa hampa. Mobil berpemilikan Oh Sehun yang dinaungi pemiliknya dan Kwon Runa, berlabuh di dekat taman yang ada di depan Balai Kota. Keduanya mengamati gerak-gerik dari luar sedangkan Kim Hyerim dan Luhan sudah bergumul ke dalam Balai Kota.

Runa menoleh, dapat dilihatnya kemerlut resah bergurat di muka Sehun yang memandang Balai Kota dengan kuyu, alih-alih was-was bila misi malam ini tidak bisa tuntas.

“Kamu mengkhawatirkan orangtuamu?” kelakar Runa, paham apa yang menjadi fokus Sehun dibandingkan misi mereka sekarang.

Bagian bawah bibirnya diberikan gigitan oleh Sehun, usainya ia mengangguk pelan. Runa pun tersenyum maklum.

“Aku paham, sebagai anak kamu pasti khawatir apalagi tahu mereka akan….” Runa mengambangkan kalimatnya, tak berniat membuatnya mencapai klimaks karena jujur saja dia pun memikul rasa berat untuk sekedar mengucapkan kalimat terkutuk itu.

Sehun tersenyum pedih, mengembuskan napas berat kemudian berkata: “Mereka pantas mati sebagai Majesty,” tergores sudah hatinya usai menuai kalimat keji pada orangtuanya. “Bukan aku durhaka, tapi apa yang mereka tuai dan itulah yang akan menjadi bumerang untuk mereka sendiri. Orangtuaku menjungjung kredo yang salah, termasuk pula kedalam plus vieux. Mereka ikut andil dalam korupsi negara kita tercinta. Jika aku ingin egois dan menyelamatkan orangtuaku, Majesty masih mempunyai satu tiang; keluargaku dan pemboman ini hanya sia-sia bila kredo Unity yang digagaskan mendiang ayahmu tidak bisa didirikan.”

Termenung, itulah yang Runa lakukan. Atensinya tertuju ke arah depan, tepat ke Balai Kota yang tenang dan beberapa waktu nanti akan meringkuk dalam keadaan porakporanda.

“Mungkin kita bisa mendoktrin orangtuamu, Sehun.”

Spontan Sehun tersenyum kecut, dia melirik Runa dengan mencela gadis Kwon itu yang tampak matang-matang akan tuturannya.

“Mana ada,” dengus Sehun. “mereka bahkan memilih membunuhmu yang notabene sudah diayomi oleh mereka sebagai anak kandung. Orangtuaku amat setia pada ordo, mereka pasti lebih memilih mati dengan kain kafan jubah Majesty dibanding berbelot dengan berembuk bersama Unity untuk menghentikan perang serta mengurus bumi kita terkasih ini agar seperti sediakala.”

Benar seperti itu adanya lah perkataan Sehun. Monsieur dan Madame Oh tidak akan sudi dengan wancana damai dan berkerjasama dengan Unity, mereka pasti lebih memilih mati dan membiarkan mereka hidup sama saja dengan meninggalkan jejak nan keliru karena keduanya adalah plus vieux yang diandalkan. Tetapi, Runa melihat cela kerapuhan dalam diri Sehun yang memilih tak memandangnya kemudian gemetar terjadi di bahunya.

Senyum tipis bersarat pedih dari bibir Runa melengkung, dia mengikis spasi dengan Sehun, membawa kekasihnya ke sebuah pelukan hangat menenangkan. Runa menepuk perlahan punggung Sehun yang segera memeluk erat-erat dirinya.

“Keluarkan, lepaskan,” bisik Runa, tangannya masih menepuk halus punggung pemuda garis Oh ini. “Lepaskan semuanya, Sehun. Menangislah, aku mengerti perasaanmu.”

Dan dengan begitu, tangisan Sehun bersama isakan tertahan pun memenuhi mobil diiringi dukungan dari pelukan serta-merta tepukan hangat dari Runa padanya.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

Balai Kota masih berada dalam kabut tenang, para plus vieux Majesty bergumul di dalam sebuah ruang rahasia yang menuju bawah tanah. Menyamar sebagai pelayan yang menyiapkan jamuan dan ruangan rapat, Hyerim dan Luhan pun memperhatikan dari jarak yang aman.

Rombongan para plus vieux sudah memadati tempat bersua dengan membisikan kode dalam bahasa Perancis ke penjaga pintu ruangan. Salah satu diantaranya terdapat Monsieur dan Madame Oh, Luhan yang dulu diayomi sebagai anak asuh pun menatap dua paruh baya itu lesu namun berusaha mengabaikannya dengan fokus kepada misinya.

“Apa semuanya sudah datang?” Hyerim dengan topi menyamarkan sebagian wajahnya, bertanya sembari menunduk dan sibuk dengan alat bersih-bersih—sebagaimana pekerja kebersihan melakukan kewajibannya.

Luhan yang merupakan orang dalam Majesty pun tentu tahu para plus vieux  dalam ordo, dia mengangguk sebab Madame dan Monsieur Oh merupakan plus vieux yang terakhir datang. Rencana selanjutnya dilaksanakan oleh sebab kekomplitan massa dalam rapat. Hyerim beranjak masih dengan akting bersama alat bersih-bersihnya. Sedang Luhan terpekur di balik dinding tak jauh dari pintu tempat rapat, mengawasi untuk terakhir kali tetapi sepertinya Luhan terkena sial tatkala pintu ruangan terbuka serta menampakan sosok Marcus Cho.

Kurva mata Luhan membeliak sebab kemujurannya sedang redup, Marcus menoleh ke tempatnya. Nyaris Luhan kelabakan, namun dia berhasil berakting biasa lalu membalik tubuh. Sial, semoga saja mentornya itu tak mengenali dirinya. Sembari mendambakan harapan begitu, Luhan lekas-lekas menuju tempat Hyerim menyiapkan bom peledak.

Di sebuah sudut dekat alrm darurat kebakaran, Kim Hyerim jadikan tempat bomnya bersarang di sebelah alrm. Bom rancangannya dia letakan secara piawai di tembok, menekan-nekan tombol yang tak Luhan pahami sama sekali.

“Aku akan mensettingnya meledak—”

“—Wah, ckckckck. Aku mencium bau pembelot dan gadisnya di sini.”

Obsidian kedua insan yang berada di dekat bom peledak tersebut membola, terlebih kepada Luhan sebab baritone dengan frasa sarkas tersebut amat familiar di gendangnya. Luhan serta Hyerim berbalik bersama mata melebar dan tubuh menegang hanya untuk melihat Marcus Cho berkacak pinggang dengan senyuman sarkastik.

Hyung…” imbuh Luhan, salivanya terteguk tanpa tahu harus menguntai frasa apa lagi.

Marcus mendelik sinis kepada Hyerim yang menatapnya secara berani, senyuman mencela Marcus terukir karena pancaran binar manik tersebut.

“Kamu bilang ingin merasa terhormat menahan calon plus vieux ini, Luhan,” seloroh Marcus, tajam menjulingkan mata kepada Luhan yang mengiba dengan rasa bersalah membingkai. “Tapi sepertinya nona manis ini telah mendoktrinmu. Kamu jatuh kepesona ular.”

“Aku memang mencintainya,” tandas Luhan, mulai berani mengangkat wajah lebih tinggi sedang Hyerim menatapnya khawatir dari samping. “tapi semua yang kulakukan, hal yang menurutmu tercela ini. Aku melakukannya karena keinginanku, bukan cuma-cuma karena conlatus creed antaraku dan dirinya. Majesty menyimpang dengan pimpinan Raja yang rakus. Kita hanya mengenyangkan diri ditengah bumi yang sekarat. Sementara Unity berusaha membuat dunia damai dan menyembuhkannya.”

“Persetan bila kamu memang melakukan ini karena conlatus creedmu dengan jalang satu ini,” sarkas Marcus, lirikannya sangat merendahkan Hyerim yang berusaha menahan emosinya bermuncratan ke hal nekat. “tetapi kredo tersebut omong kosong, Luhan. Bah, peduli setan dengan kedamaian, kita harus bertahan hidup. Survive or not. Jika kamu memiliki kredo begitu dengan pembelotan yang amat tercela. Maka,” pedang Marcus muncul dari balik jubahnya, berkilat menembus lorong yang gemerlap. “aku harus menghabisimu.”

Bersamaan dengan munculnya pedang Marcus, pedang Luhan pun juga muncul. Mentor dan murid tersebut pun terlibat dalam pergulatan. Suara khas duel pedang menggema di lorong yang sepi tersebut. Gesekan-gesekan tungkai dua makhluk Adam itu bergerak-gerak luwes dengan seimbang seakan tengah berdansa di atas lantai dansa.

Hyerim yang bergeming pun segera menyelesaikan tugasnya; menyusun bom peledak dan mulai menekan-nekan tombol dalam bom dengan resah yang berada di ujung telunjuknya, pun terburu-buru. Walkie talkie diloloskan oleh Hyerim, bibirnya berucap dengan tergesa-gesa sementara suara duel pedang di belakang bahunya makin terdengar mengerikan.

“Sehun, Runa. Kita diserang, cepat ke titik bom diletakan, kita tidak bisa kabur sekarang.”

Tanpa menunggu respon, Hyerim menyeludupkan walkie talkie di balik ikat pinggangnya yang tersamarkan di sela-sela pakaiannya. Mengeluarkan pedang kemudian meloncat diantara pertikaian Luhan dan Marcus, menghalau pedang Marcus nan hendak merajam Luhan. Hyerim menyungging senyum miring, membalikan tubuh dan menabrakan pedangnya ke pedang Marcus. Perduelan berganti haluan, kini Marcus dan Hyerim lah yang sibuk mengayunkan pedang.

Sejatinya Hyerim hanya seorang troupes dan Marcus seorang plus vieux dan mantan chasseur, kelengahan sedikit yang terjadi pada Hyerim pun merupakan cela untuk membuatnya terlucuti. Ditengah perduelan itu, Marcus berhasil mendorong pedangnya kuat-kuat saat berciuman dengan pedang Hyerim hingga gadis itu terdorong jauh serta jatuh mengenaskan. Saat Marcus hendak merajamnya, tubuh Luhan membentengi dan sukarela menjadi sasaran tusukan di bagian perut sebelah kiri.

Manik Hyerim melebar, pun mulutnya menganga. Marcus melakukan hal serupa sebagai reaksinya, tak sesuai ekspetasi akan menghujam anak muridnya sendiri tatkala ingin mengoyak habis-habisan seorang gadis jalang berkredo Unity. Luhan sendiri hanya menggertakan geligi, keperihan yang menjalarnya dia tahan sebisa mungkin sementara pedang Marcus mulai ditarik kembali oleh pemiliknya.

Lutut Luhan keletihan, refleks dirinya ambruk dengan lutut bertekuk. Barulah sanggup kurva Hyerim mengedip dengan keresahan luar biasa, Hyerim menyerukan nama Luhan dan merangsek mendekati tubuh pemuda itu, memeluknya erat.

Adegan melodarama di hadapannya hanya disambut Marcus oleh gelengan prihatin lalu perhatiannya teralih kepada bom yang barusan Hyerim setting, menitnya masih menghitung mundur dan dua puluh menit lagi akan meledak. Cepat-cepat Marcus mendekati bom itu, dirinya juga berbakat masalah rakit-merakit bom dan segera tahu opsi yang dia pilih dengan mengotak-atik bom tersebut sementara Hyerim serta Luhan—yang menahan rasa sakitnya dengan menekan luka yang terus meneteskan darah—bangkit guna mencegah upaya Marcus.

“Nah!” seru Marcus, tersenyum puas dan berbalik hanya sekedar memberikan senyum mengolok kepada pasang kekasih yang berusaha menghentikannya. “Bom telah berhenti, jika kamu mensettingnya untuk menyala kembali, bom akan langsung meledak dan… yang mengaktifkannya akan ikut mati.”

Keparat. Sialan. Umpatan tersebut rasanya mewakilkan perasaaan hilir hudik dalam diri Hyerim dan Luhan yang tubuhnya diterjang ketegangan. Mocong pistol kini terarah ke arah keduanya oleh Marcus yang kian menyungging senyum miring.

“Maaf, Luhan,” frasa Marcus dengan senyum kecut. “mau tak mau aku harus membunuhmu juga.” ujarnya, pelatuk pistolnya mulai ditarik.

DOR!

Bau bubuk mesiu dengan peluru yang terlempar memang terjadi, sayang tak sesuai ekspetasi seorang Marcus Cho. Alih-alih menyarangkan peluru ke sepasang kekasih di hadapannya, peluru pistol lain malah menembus dadanya. Netra Marcus membeliak seram, darah merembes di bagian dada yang terkena tembakan mulus dari Kwon Runa, tak butuh tempo lama tubuhnya bersimpuh mengenaskan di atas lantai dengan Malaikat Maut siap menjemputnya.

Setelah itu, suara gedebug bising-bising derap langkah terdengar menuju tempat keempatnya berada dengan tubuh tak berdaya Marcus. Sehun dan Runa saling tatap lalu menatap Hyerim serta Luhan yang hanya menganga dengan kejadian secepat cahaya tadi.

“Cepat aktifkan bomnya lagi!” desak Sehun sebab suara bising para Majesty yang siap menyergapnya pun mulai kian mendekat walau masih terdengar agak jauh tapi dipastikan sudah lebih dekat dibanding barusan. “Mereka pasti terusik oleh tembakan yang Runa ciptakan kemudian menemukan beberapa mayat penjaga yang kita bunuh untuk masuk ke sini secara tenang.” dilihat dari beberapa bercak darah di baju keduanya, Runa dan Sehun pasti menumbangkan beberapa nyawa agar bisa masuk secara luwes ke mari.

Luhan bangkit dengan susah payah bin kewalahan. “Tidak bisa,” tukasnya, menyebabkan kernyitan terjadi pada Sehun berserta Runa. “jika mengaktifkannya lagi, bom langsung meledak tidak sesuai dengan intruksi kita untuk menekan tombol peledaknya dari jarak jauh atau menghitung mundur waktu. Otomatis yang mengaktifkannya juga akan mati.”

“Baiklah,” lisan Runa, menjilat bibir atasnya. “kita pending saja—”

“—Tidak! Aku sudah muak dengan perang!” potong Hyerim kemudian menarik pistolnya keluar, mendesingkan peluru yang membuat mesiu berembun di sana ketika seorang troupes Majesty yang minim jumlahnya untuk keperluan menjaga tempat rapat harus tambah sedikit saja ketika muncul di balik tangga yang menuju tempat keempatnya dan tertembak oleh Hyerim nan piawai.

“Kemudian kamu ingin apa?” bentak Luhan.

Kembali mesiu berembun dari desingan peluru Sehun saat troupes yang lain muncul.

“Aku akan berkorban.” ujar Hyerim tanpa ragu sekalipun.

Runa dan Sehun nan tengah sibuk mencetuskan tembakan pada para  troupes  yang akhirnya berjejer membentuk barisan mayat bersimbah darah di tangga, membulatkan netra kemudian memekik sembari menatap Hyerim.

“Apa?!”

“Mereka di bawah! Marcus mengirimkan pesan beberapa waktu lalu! Cepat!” suara tersebut dipastikan ialah ayah Sehun, Monseiur Oh dengan troupes tambahan yang dia bawa dari rumahnya.

“Cepat pergi!” titah Hyerim, matanya berkobar-kobar. “Ini kesempatan untuk menghentikan perang. Nyawaku tak seberapa dibanding banyak nyawa di sana. Cepat pergi!”

Berdayung dalam keresahan, Sehun dan Runa menggigit bibir bawah lalu akhirnya mengembuskan napas berat dimana pasukan Monsieur Oh makin mendekat. Mereka pun menggeret Luhan yang terluka untuk dibawa pergi. Dalam ketermenungannya, Luhan memandang kosong Hyerim yang juga memandangnya dengan senyuman manis.

“Ayo Luhan, kita pergi. Ini kemauan Hyerim.” ucap Sehun, menggeret Luhan ke sebuah pintu berukuran sedang yang langsung menuju keluar.

Tanpa mau lama-lama menatap Luhan, Hyerim berbalik dan mensetting bom untuk menyala kembali. Dalam otaknya, memoar-memoarnya yang amat singkat dengan Luhan namun berhasil membubuhkan sebuah rasa sekuat ini di danau hubungan mereka yang juga singkat, terputar ulang di otaknya. Airmata Hyerim merembes, jemarinya dengan lesu menekan tombol. Ketika tombol terakhir hendak ditekan….

Luhan yang sudah ada di luar bersama Sehun dan Runa, tahu-tahu membuka pintu yang telah Sehun tutup, masuk kembali ke ruang bawah tanah Balai Kota, tak menghiraukan lukanya yang meluberkan darah serta-merta teriakan Sehun dan Runa nan memanggilnya, Luhan berlari ke arah Hyerim, memeluk gadisnya dari belakang dan secara bersamaan tombol terakhir ditekan.

Suara ledakan dahsyat terngiang di telinga Sehun serta Runa yang memasang ekspresi kosong. Raja mati, plus vieux Majesty pun demikian. Akar dari Majesty telah dibabat, pohon ordo mereka sudah tumbang. Namun, kedua kawan sepasang kekasih itu juga gugur untuk menegakan kedamaian dan menghentikan perang.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

Runa, aku tak tahu harus menulis surat untuk siapa lagi selain dirimu. Anggap saja ini wasiatku sebelum… mati? Entah, aku merasa aku sepertinya akan mati di misi malam ini sebab aku dikelilingi oleh para macan di kandangnya.Kemungkinan misi ini berhasil dengan aku hidup sepertinya agak… kecil, hahaha. Tapi aku menulis ini karena aku tengah gundah. Aku mengalami cinta pada pandang pertama pada seorang anak lelaki enam belas tahun lalu, kemudian dengan berani mendekatinya. Aku mengatakan akan mengunjunginya dan terus mengingat namanya, tetapi aku ingkar dengan tidak pernah berkunjung sekalipun. Bahkan ketika kita bertemu lagi karena takdir itu tak pernah tidur dan maha adil, aku malah tak mengingatnya. Yang membuatku gundah adalah anak lelaki yang kucintai kini seorang chasseur Majesty yang bahkan telah membunuh orangtuaku.

Dan yang ingin kukatan di wasiatku ini, tolong beritahu anak lelaki yang kucintai ini bila aku mati, bahwa aku mencintainya sejak enam belas tahun yang lalu dan bilang rasa benciku hilang karena paham posisinya yang terpaksa harus membunuh orangtuaku (ingat bukan aku juga pernah ada diposisi begini dan harus membunuh sahabatku). Ucapkan juga terima kasih karena menyelamatkanku dari tangan plus vieux yang mungkin akan menyiksa lebih darinya menyiksaku saat menjadikanku tawanan. Nama chasseur ini adalah Luhan, omong-omong. Jangan jatuh cinta padanya, ya jika bertemu dengannya. Hehehe.

Dan satu pesanku, tolong tegakan perdamaian setelah misi malam ini tuntas, aku ingin melihat bumi seperti sediakala dan tanpa perperangan. Jadilah master agung yang layak sebagaimana harapan orangtuamu dan pamanmu serta orang-orang di ordo kita. Aku ingin gagasan dalam jurnal ayahmu terealisasi.

Dan kuharap kamu hidup bahagia bersama Sehun.

Salam kasih dari kawanmu,

Kim Hyerim.

“Perdamaian yang kamu inginkan sudah terwujud dan bumi mulai membaik serta kuharap aku menjadi master agung yang diinginkan. Begitupula perasaanmu pun sudah kamu ungkapkan sendiri pada Luhan, bahkan kalian hidup bahagia bersama di sana. Pun sekarang aku hidup bahagia bersama Sehun. Semua hal yang kamu harapkan dan kita harapkan sudah tuntas, bukan, Kim Hyerim?”

—끝내다/END—

Oke, maaf atas ketelatan karena kesibukan dan kemageran yang hqq. Lalu ending yang kayak dipaksain. Tadi mau dibagi 2 tapi rasanya udah satuin aja huhu. Kali-kali kubuat lagi FF dengan tema seperti ini deh hehehe. Dan mungkin doakan saja aku bakal datang dengan FF bertema skaifi ala-ala chouseishin. Gak tau chouseishin? Itu hampir sama kayak power ranger tapi di Jepang gitu ngehehehe. Ya wajar daku masa kecilnya suka nontonin ultraman sama chouseishin dan akhirnya freaked out sama pacific rim karena hell yeah… mengingatkan akan chouseishin tanpa berubah gitu XD XD

Udah ya, kuizin pamit bubay!

One thought on “[Luhan Birthday Project] Conlatus Creed #3”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s