[EXOFFI FREELANCE] MY POSSESSIVE HUSBAND (Chapter 6)

MY POSSESSIVE HUSBAND [Chapter 6]

Author    : IFAngel (Wattpad: ifangel04)

Length : Chapter || Genre : Romance, Family, Drama || Rating : T – Teen

Cast : Oh Sehun, Park Hyunji, Park Hyunhee, Kim Jongin a.ka Kai.

Additional cast : Park Chanyeol as Hyunhee and Hyunji’s old brother || Kim Minseok a.k.a Xiumin as Sehun’s assistant || Kim Junmyeon a.k.a Suho as Kai’s old brother  || Do Kyungsoo a.k.a Dyo as Kai’s assistant || Han Raerim as Chanyeol’s wife || Etc.

Summary: Dengan semua trauma yang dialami olehnya terkait kekasihnya dimasa lalu, membuatnya menjadi pria yang posesif. Namun sekali lagi hal buruk menimpanya dan dia tak dapat menerima hal tersebut. Kira-kira bagaimana dia menjalani hidupnya jika kehilangan kekasihnya lagi?

Chapter 1 || Chapter 2 || Chapter 3 || Chapter 4 || Chapter 5

Disclaimer: FF ini merupakan hasil dari pemikiran aku sendiri. Apabila ada kesamaan dalam alur, tokoh maupun latar itu merupakan unsur ketidaksengajaan. Maaf, atas adanya kesalahan maupun kekurangan dalam penulisan

Don’t be silent readers! Please, leave comment after reading

Don’t copy without permission! Don’t plagiarize!

This story is mine and my work

Setiap kritik & saran yang membangun sangat aku tunggu, butuhkan dan hargai guna membantu perbaikan aku dalam penulisan. Gomawo~

-ooOoo-Happy Reading-ooOoo-

Hyunhee duduk termenung di atas ranjang sembari bersender, dia masih memikirkan perkataan Nyonya Oh kemarin. Hingga sebuah ketukkan pintu kembali menyadarkannya.

“Sedang apa?” tanya sang Ibu dari balik pintu.

Hyunhee menoleh. “Tak ada. Kenapa Eomma?”

Ibu menghampiri Hyunhee dan duduk di sampingnya. “Eomma perhatikan, sedari tadi kau terus melamun. Apa yang kau pikirkan?” Ibu membelai rambut Hyunhee.

“Entahlah, aku hanya bingung dengan maksud perkataan Nyonya Oh.”

“Memang dia bilang apa?” tanya Ibu.

[Flashback]

Nyonya Oh membawa Hyunhee ke ranjang tempat Sehun berbaring.

“Dia putraku satu-satunya,” ucap Nyonya Oh bicara dengan pelan dan terdengar pilu. “Di hari biasanya aku bahkan sudah kesepian, karena dia sibuk bekerja dan tinggal terpisah dariku. Lalu sekarang, dia tepat di hadapanku, terbaring dengan lemah.” Nyonya Oh menggenggam tangan Hyunhee, membuatnya menatap kearah wanita paruh baya itu. “Hyunhee –ya, bolehkah aku minta tolong padamu?”

“Minta tolong apa, Eomeoni?”

“Bisakah kau sering datang kesini? Untuk menemani Eomeoni.” pinta Nyonya Oh. Hyunhee tak lekas menjawab, dia menarik tangannya dari genggaman Nyonya Oh.

[Flashback END]

“Menurut Eomma bagaimana? Maksudku, aku bukan Hyunji dan aku tidak ada hubungannya dengan Sehun. Lalu kenapa aku yang harus menemaninya.”

“Kenapa memangnya? Kalau kau ingin membantu orang, bantu saja. Kenapa perlu alasan.” Ibu menepuk paha Hyunhee dan pergi.

Sepeninggalan Ibu, Hyunhee beranjak dari tempat tidur dan langsung melesat ke kamar mandi. Beberapa puluh menit kemudian dia sudah siap dan berangkat.

___ ___ ___

Saat perjalanan ke Rumah Sakit, Hyunhee mampir dahulu ke Super Market untuk membeli beberapa barang. Dan pada saat itu, dia bertemu dengan Hyung –nya Jongin.

“Eoh, Junmyeon oppa. Annyeonghaseyo,” sapa Hyunhee lalu membungkuk.

“Akh … ne annyeong, Hyunhee –ya. Kau sedang apa?” tanya Junmyeon.

“Belanja,” jawab Hyunhee singkat.

Junmyeon mendengus. “Itu aku juga tau,” ucapnya malas. Hyunhee terkekeh. “Kau belanja sendiri?” tanyanya lagi. Hyunhee mendehem. “Kalau begitu kita belanja bersama saja.”

Oppa mau beli apa?”

“Membeli pesanan istriku, dia sedang mengidam.”

“Ahhh~ benarkan, Nara eonnie sedang hamil? Chukkae Oppa, sebentar lagi kau akan jadi Ayah. Semoga Ibu dan Bayinya sehat.”

Gomawo.” Junmyeon merangkul bahu Hyunhee. “Tapi, Adik ipar,” ucapnya memanggil Hyunhee dengan sebutan itu, membuat Hyunhee melongo. “Kalau kau mengidam, tolong jangan yang aneh-aneh. Bagaimanapun, kami para suami yang repot mencarinya,” keluh Junmyeon.

Hyunhee langsung melepaskan rangkulan Junmyeon, dan menatapnya. “Oppa ini, jadi suami tidak perhatian sekali. Mau enak pas buatnya saja. Semoga Jongin oppa tidak sepertimu,” ucap Hyunhee ketus lalu mendorong trolinya dan meninggalkan Junmyeon.

Sementara itu Junmyeon masih tampak terkejut dengan ucapan Hyunhee barusan. “Adik ipar, kau mau kemana?” panggil Junmyeon.

°°°

Kamsahamnida Junmyeon oppa,” ucap Hyunhee saat turun dari mobil calon Kakak iparnya itu. Sehabis berbelanja Junmyeon mengantar Hyunhee ke rumah sakit, meskipun hanya sampai di depan gedungnya saja.

“Iya, sama-sama. Kau yakin tak mau kuantar sampai keruangannya?” tawar Junmyeon.

“Tidak Oppa, terima kasih. Lagipula Oppa harus segera pulang dan mengantarkan pesanan Nara eonnie,” tolak Hyunhee sopan.

“Baiklah, aku pergi.” Junmyeon melambaikan tangannya dari dalam mobil, Hyunhee membungkuk. “Semoga temanmu lekas sembuh, ya,” sambungnya lagi.

___ ___ ___

Hyunhee masuk ke kamar rawat inap Sehun dengan repotnya karena membawa sejumlah belanjaan, tapi tak ada Nyonya Oh ataupun orang lain yang sedang menunggu Sehun diruangan tersebut. Hyunhee masuk begitu saja dan menghampiri ranjang Sehun, diperhatikannya wajah pria itu sebentar. Dia beralih mengambil vas bunga dan membawanya ke kamar mandi untuk diisi dengan air, setelah itu dia memasukkan bunga kedalam vas tersebut dan menaruhnya di meja dekat ranjang Sehun. Pada saat itu Nyonya Oh datang dengan sebuah bungkusan di tangannya.

“Eoh … Hyunhee –ya kau datang?” Hyunhee membungkuk. “Eomeoni tadi keluar sebentar untuk beli roti, kau mau?” tawar Nyonya Oh.

Kamsahamnida  Eomeoni, aku sudah makan sebelum kesini,” tolak Hyunhee sopan. “Ah … aku tadi beli buah, Eomeoni  ku –kupaskan buah untukmu, ya?” Hyunhee membawa buah-buah tersebut ke wastafel untuk di cuci dan kembali dengan pisau dan piring, lalu dia mulai mengupas kulit buahnya. “Eomeoni … selain karbohidrat, Eomeoni juga memerlukan vitamin. Dan buah sebaiknya dimakan sebelum makan berat.” Hyunhee memberikan piring berisi buah yang sudah dia kupas sebelumnya, terdiri dari: Apel, Jeruk dan Pir.

Gomawo.” Nyonya Oh menerima piring berisi buah tersebut. “Aigoo … ini banyak sekali, bisa-bisa Eomeoni kenyang sebelum makan besar.”

Hyunhee tersenyum. Dia membereskan sampah kulit dan pisaunya. Berjalan ke kamar mandi dan kembali dengan baskom berisi air hangat dan handuk kecil. Hyunhee berdiri di samping ranjang Sehun, dia terlebih dahulu memeras handuk kecil itu sebelum menyekanya pada kulit Sehun.

Hyunji –ya, sebagai rasa terima kasihku karena kau telah meluangkan waktu agar aku bisa berdua dengan Jongin oppa saat di London, aku akan membalasnya dengan menjadikan pacarmu tetap tampan. Dan kau cepatlah kembali,’ gumam Hyunhee.

Sementara itu, dalam diam Nyonya Oh memperhatikan Hyunhee, wanita paruh baya itu tampak terharu.

Hari beranjak malam, Hyunhee pamit pada Tuan dan Nyonya Oh untuk pulang. Namun sepertinya Nyonya Oh tidak membuatnya mudah, wanita paruh baya itu malam meminta Hyunhee menginap.

“Eyy … kau ini, anak orang kau larang-larang untuk pulang. Bisa-bisa, besok dia tak mau balik lagi karena kapok. Jangan begitu, Hyunhee sudah berbaik hati mau datang hari ini dan merawat Sehun. Padahal dia tak ada hubungannya dengan Sehun,” ucap Tuan Oh mengomel pada Istrinya. “Sudah Hyunhee, kau pulanglah. Mari Abeoji antar,” ucapnya kali ini ramah.

Hyunhee diantar Tuan Oh sampai ke Lobi Rumah Sakit. “Kau yakin tak mau Abeoji antar sampai ke rumah? Ini sudah malam, bahaya. Abeoji juga tak enak pada orang tuamu,” ucap Tuan Oh.

“Tidak, terima kasih Abeoji. Lagipula aku dijemput Chanyeol oppa,” tolak Hyunhee sopan.

“Kalau begitu, Abeoji akan menemanimu sampai Chanyeol datang.”

Kamsahamnida Abeoji sudah menjagaku.” Hyunhee tersenyum simpul.

Cukup lama Hyunhee dan Tuan Oh menunggu kedatangan Chanyeol, mereka sampai pegal dan memilih duduk. Hingga Hyunhee melihat siluet pria jangkung yang dikenalnya, dia segera beranjak dari duduknya.

“Chanyeol oppa, disini!” teriak tertahan Hyunhee saat memanggil Oppa –nya.

Chanyeol menoleh ke kanan dan kekiri mencari sumber suara, pasalnya keadaan lobi cukup ramai dan membuatnya susah mencari keberadaan Hyunhee. Saat Chanyeol sudah melihat adiknya itu, dia berlari menghampirinya. “Maaf saya datang sangat lama dan membuat Abeoji menunggu,” ucap Chanyeol sembari membungkuk.

“Tak apa, kau pasti punya banyak pekerjaan. Abeoji –lah yang seharusnya minta maaf karena telah merepotkanmu,” ucap Tuan Oh.

“Ahhh … tidak sama sekali, Abeoji. Tadi hanya ada sedikit halangan di jalan,” ucap Chanyeol merasa tak enak hati, karena Tuan Oh malah meminta maaf padanya disaat dia –lah yang salah. “Kalau begitu kami pamit, Abeoji. Salam juga untuk Eomeoni.”

___ ___ ___

Chanyeol dan Hyunhee sedang berada di dalam mobil menuju perjalanan pulang kerumah, tapi tampaknya tidak juga. Hyunhee tak ingat jika jalan yang tengah mereka lalui ini tampak seperti jalan ke rumah.

“Mau kemana kita, Oppa?” tanya Hyunhee.

“Nanti kau juga tau. Sudah diam saja, aku harus fokus menyetir,” ucap Chanyeol galak. Hyunhee tampak merengut.

Namun sepertinya Hyunhee tak dapat menahan untuk tak suara, rasa penasaran –lah yang kembali mendorongnya. “Bunga itu untuk apa?” tanya Hyunhee saat dia melihat sebuket bunga di jok belakang.

Chanyeol mendesis. Itu cukup untuk membuat Hyunhee diam. Oppa –nya tampak menyeramkan bagi Hyunhee disaat seperti ini, dan sialnya dia terjebak berdua dengan Oppa –nya di dalam mobil entah sampai kapan.

Dalam beberapa kilometer selanjutnya Chanyeol memakirkan mobil.

“Bandara? Kau mau apa? Apa ada seseorang yang hendak Oppa jemput? Siapa?” rentetan pertanyaan keluar dari mulut Hyunhee, sebab dia telah menahan diri sebelumnya.

“Ambil bunganya,” titah Chanyeol tanpa menjawab pertanyaan Adiknya yang bawel itu. Tanpa penolakkan, Hyunhee mematuhi perintah Chanyeol dan mengambil bunga tersebut di jok belakang.

Chanyeol memegang lengan Hyunhee, menuntunnya saat berjalan di dalam Bandara. Hanya berjaga-jaga, takut Adiknya yang tersisa juga hilang. Mereka berhenti dan menunggu di pintu kedatangan Luar Negeri.

Oppa, siapa yang akan datang?” Hyunhee menarik-narik dasi yang terpasang di leher Chanyeol.

“Kau ini cerewet sekali. Kita akan menjemput Eonnie kesayanganmu,” jawab Chanyeol setengah berteriak, terselip nada kesal di ucapannya. Namun Hyunhee bukannya takut, dia malah tampak girang.

“Benarkah Raerim eonnie akan datang?” mata Hyunhee berbinar.

“Ya,” jawab Chanyeol singkat. “Tadinya aku ingin memberikan kejutan, tapi kau terlampau cerewet,” marah Chanyeol. Hyunhee menyengir.

“Eoh! Itu Raerim eonnie,” seru Hyunhee sembari menunjuk kearah seorang pramugari. Raerim eonnie, di sini!” teriak Hyunhee semangat sembari melambaikan tangannya. Setelah melihat Hyunhee, Raerim eonnie langsung berlari dengan menarik kopernya. “Raerim eonnie bogoshipoyo.” Hyunhee langsung berhambur ke pelukkan Raerim, membuat Chanyeol tersenyum kecut. Dia kecolongan start oleh adiknya, di saat dirinya –lah yang seharusnya menyambut Istrinya duluan.

Raerim melepas pelukkannya pada Hyunhee dan menghampiri Suaminya yang tampak cemberut itu. “Merajuk, eoh?” tanya Raerim sembari menarik bibir Chanyeol yang tadi tampak dia kerucutkan. Chanyeol melipat tangannya di dada dan memalingkan wajahnya. Raerim menelungkupkan tangannya di wajah Chanyeol, berjinjit dan menciuminya.

“Aihhh …,” pekik Hyunhee. Dia tampak salah tingkah saat berhadapan dengan pasangan yang tengah dilanda rindu mendalam, dengan tangan dia menutupi matanya. “Sudah?” tanya Hyunhee hati-hati, masih dalam posisi menutup matanya.

“Sudah,” jawab Chanyeol sembari meraih tangan Hyunhee yang dia gunakan untuk menutupi matanya.

Hyunhee membuka matanya. “Argh!” jerit Hyunhee seperti dia baru saja melihat adegan dalam film horror. Hyunhee lantas mendorong Chanyeol yang menjadi pemandangan menyeramkan di depan matanya. “Aish …  jinja!” Hyunhee memburu Chanyeol dengan cubitannya.

“Ya! Ya! Keumanhae. Apa kau akan menyiksaku didepan Istriku sendiri?” ucap Chanyeol dengan hebohnya.

Hyunhee berhenti mencubiti Chanyeol, beralih menarik Raerim eonnie dan kopernya. Namun beberapa detik kemudian, Hyunhee menelantarkan koper itu. “Berat. Kau saja yang bawa Oppa.”

Chanyeol menghentakkan kakinya, kesal. Tapi Chanyeol perlu banyak bersabar, karena ujian sabarnya masih berlanjut.

– Chanyeol membukakan pintu mobil depan di sebelah bangku kemudi untuk Raerim, tapi Hyunhee menyeret Raerim untuk duduk di kursi belakang bersamanya. “Eonnie duduk denganku saja, aku kesepian di belakang,” pinta Hyunhee. “Chanyeol oppa katanya harus fokus menyetir,” ucap Hyunhee terdengar licik.

– Sampai dirumah, Hyunhee masih bergelayut manja di lengan Raerim. “Eonnie tidur denganku, ya?” pinta Hyunhee lagi. “Hyunji tak ada, aku jadinya tidur sendirian.”

Chanyeol memisahkan Raerim dari jerat Hyunhee. “Ya! Kalau kau tak mau tidur sendiri, makanya cepat menikah,” omel Chanyeol. Lalu dia menarik Raerim untuk masuk ke kamar mereka dan segera mengunci pintunya.

“Ada apa dengan Hyunhee? Kenapa sikapnya begitu? Tidak biasanya,” tanya Raerim heran. Chanyeol menepuk-nepuk ranjang disisi sebelahnya. Saat Raerim telah berbaring di sebelahnya, Chanyeol mulai menceritakan tentang kejadian yang menimpa Hyunji dan mungkin itu juga menjadi penyebab Hyunhee jadi uring-uringan.

– Pada pukul dua dini hari, Hyunhee menghampiri kamar Chanyeol dan mengetuknya, membuat pasangan suami istri itu terpaksa bangun. Raerim membukakan pintu untuk gadis itu. “Eonnie, bisakah kau tidur denganku? Aku mimpi buruk,” jelas Hyunhee.

Raerim menatap Hyunhee cemas, dia menyeka keringat pada dahi Hyunhee. Chanyeol datang menghampiri mereka. “Tidak,” tolak Chanyeol tegas. “Kembali ke kamarmu dan tidurlah,” titah Chanyeol.

Hyunhee menatap kakak iparnya itu, dengan wajah penuh iba dan membuat Raerim luluh. “Oppa, kasihan Hyunhee. Biarkan aku menemaninya tidur, dia sepertinya ketakutan,” ucap Raerim meminta persetujuan dari suaminya itu.

“Lalu bagaimana dengan –ku? Aku tidur sendirian, begitu?” protes Chanyeol. “Istriku sudah pulang, tapi aku masih saja tidur sendiri. Shireo!”

“Kalau begitu, tidur bareng-bareng saja. Aku, Oppa dan Eonnie,” saran Hyunhee.

Chanyeol hendak melakukan penolakkan lagi, tapi sebelum cicitan itu keluar, Raerim telah lebih dulu menyetujuinya. “Sepertinya tidak buruk,” ucap Raerim.

“Tunggu sebentar, aku ambil bantalku dulu,” ucap Hyunhee dan kembali ke kamarnya.

Chanyeol dengan jahatnya hendak menutup dan mengunci pintu kamarnya, sementara Hyunhee masih mengambil bantal. Tapi tingkah busuk Chanyeol di cegah oleh Raerim.

Dan jadilah mereka tidur bertiga, diranjang yang sama. Beruntung ranjang itu berukuran besar, jadi muat untuk mereka bertiga, hanya saja harus tidur berdempetan seperti sarden.

Posisi saat ini, Raerim –lah yang berada ditengah. Dan Hyunhee kembali melakukan penawaran. “Eonnie, bisakah aku yang tidur di tengah? Aku bisa jatuh kalau tidur di pinggir.”

“Tidur! Atau kembali ke kamarmu,” ucap Chanyeol dengan mata terpejam.

Hyunhee diam, tapi tidak dengan Raerim. Dia beranjak dari tidurnya dan pindah ke pinggir ranjang, maka Hyunhee –lah yang ada di tengah saat ini.

Gomawo Eonnie,” ucap Hyunhee memeluk Raerim dan membuatnya memunggungi Chanyeol.

___ ___ ___

Alarm dari ponsel berbunyi, membuat Raerim terbangun dan segera mematikannya. Dan setelah itu, dia menyadari jika Hyunhee sudah tidak ada. Raerim mengikat rambutnya, lalu membangunkan Chanyeol. Selanjutnya dia pergi ke kamar Hyunhee untuk menemukan gadis itu, tapi tidak ada. Pikirnya–– ‘Kemana gadis itu pergi pagi-pagi begini?

Terlepas dari itu, Raerim memilih pergi ke dapur untuk membuat sarapan. Jika soal memasak, tak usah di tanya bagaimana kemampuannya. Tinggal jauh dari rumah dan juga karena profesinya sebagai Pramugari yang terbang ke banyak daerah dan negara, itu cukup menjadikannya seorang ahli dalam memasak.

Tak lama, Ibu datang. Dia menghampiri menantunya itu. “Raerim –ah, kau masak apa? Wanginya sampai tercium ke ruang sebelah.” Jelas Ibu tengah memuji menantu kesayangnnya itu.

Raerim tersenyum. “Hanya masakan biasa, Eomeoni,” jawab Raerim merendah. “Oh ya … Eomeoni, apa Hyunhee pergi pagi-pagi sekali? Saat bangun, aku tak melihatnya.”

“Entah, dia tak ada bilang mau pergi,” jawab Nyonya Park.

Setelah selesai memasak, Rearim menyajikan semua makanan di meja, di bantu juga oleh Ibu. Tak lupa dia membereskan peralatan masak yang tadi dia gunakan. Seperti ada yang membisikkan, saat makanan sudah tersaji di meja, baik Ayah maupun Chanyeol langsung turun untuk sarapan.

“Eum~ wangi sekali, kelihatannya enak.” Chanyeol sedikit membungkuk untuk membaui makanan yang ada diatas meja.  Siapa yang memasak?” ucap Chanyeol jelas ketara dia sedang memuji Istrinya itu.

Ibu menjewer telinga Chanyeol. “Kalau Eomma yang memasak, kau tidak pernah memuji setinggi ini,” protes Ibu.

“Masakanmu juga enak, Yeobo,” ucap tuan Park membela Istrinya.

“Kedua suami tampaknya membela Istri masing-masing, kita seri Raerim –ah,” ucap Nyonya Park.

Chanyeol duduk dengan tenang. Biasa dia menyiapkan makanannya sendiri, kini tak perlu lagi karena ada Istrinya. “Hyunhee kemana?” tanya Chanyeol saat tak melihat sosok yang mengganggu ketenangannya sejak kemarin.

Oppa, semalam kau mengusirnya dan sekarang malah mencarinya,” ucap Raerim.

“Aku ingin memberinya pelajaran.” Chanyeol tampak melakukan peregangan pada tangannya.

“Kenapa memangnya?” tanya Ibu penasaran.

“Semalam dia datang ke kamar dan meminta Raerim untuk menemaninya tidur, aku tak mengijinkannya. Tapi yang terjadi malah kami tidur seranjang bertiga,” jelas Chanyeol dengan nada kesal.

Ibu menghela nafas. “Kemarin malam –nya Hyunhee tidur di kamar Ibu.”

“Bukan hanya itu Eomma, dia menyerobot tempat di tengah dan tidur memunggungiku,” adu Chanyeol lagi.

“Itu juga yang terjadi pada Appa kemarin malam, dia tidur dengan memeluk Ibunya, tapi memunggungi Appa sepanjang malam,” ucap Ayah.

“Wah! Anak itu benar-benar mengganggu ketenangan seisi rumah dengan tingkahnya, dia tak kalah ajaib,” cibir Chanyeol.

“Tapi saat menjelang pagi Hyunhee bangun, dia menciumi Appa dan membisikkan sesuatu.”

“Ya, dia juga melakukannya pada Eomma.”

“Benarkah?” tanya Chanyeol seakan tak percaya.

“Emm … Hyunhee juga membisikkan sesuatu padaku,” jelas Raerim. “Dia manis sekali,” sambung Raerim.

Mwoya? Hanya aku yang tidak di bisikkan sesuatu olehnya,” protes Chanyeol. Saat ini dia bertingkah layaknya anak kecil yang iri pada saat temannya yang lain mendapatkan permen, dan dia tidak.

“Mungkin kau tidur sangat nyenyak, Oppa. Makanya tak mendengarnya,” imbuh Raerim.

“Ch! Akan ku tanyakan sendiri saat bertemu dengannya,” ucap Chanyeol.

Saat Keluarga Park baru akan hendak makan, mereka mendengar suara seperti sesuatu terjatuh ke dalam air dari halaman belakang. Lantas mereka segera berlari kesana, dilihatnya Hyunhee –lah yang terjatuh ke kolam renang, dan lambat laun tak terlihat ke permukaan. Tanpa pikir panjang Chanyeol langsung meloncat masuk ke dalam kolam renang, berenang kearah Hyunhee yang terus turun ke dasar kolam, memeluknya dan kembali berenang membawa Hyunhee ke permukaan.

Ayah menarik tubuh Hyunhee ke bibir kolam, dibantu Chanyeol yang mendorongnya naik dari dalam kolam. Setelah Hyunhee berada di dataran, Chanyeol baru baik.

“Hyunhee –ya,” panggil Ayah sembari menepuk-nepuk pipi Hyunhee, agar gadis itu membuka matanya. “Bangun, Nak.”

Karena Hyunhee tak kunjung sadar, Chanyeol kembali maju untuk memberikan pertolongan pertama berupa CPR. Dengan menggunakan dua tangannya yang dia saling tumpang tindihkan, Chanyeol menekan bagian tengah dada Hyunhee secara bertempo beberapa kali. Chanyeol mendekatkan telinganya pada hidung Hyunhee, untuk memeriksa apakah Adiknya sudah bernafas kembali.

“Hyunhee –ya, tolong sadarlah,” ucap Chanyeol lirih. Hyunhee belum sadar juga.

Chanyeol tak menyerah. Kali ini dia terlebih dahulu menengadahkan kepala Hyunhee dan mengangkat dagunya untuk membuka jalan pernafasan. Chanyeol menekan hidung Hyunhee dan meniupkan udara kearah rongga mulut. Dan kembali melakukan CPR, hal tersebut terus Chanyeol lakukan berulang kali secara bergantian.

Uhuk-huk!

Hyunhee terbatuk dan mengeluarkan sejumlah air dari dalam mulutnya. Chanyeol jatuh terduduk di samping Hyunhee. “Syukurlah,” ucapnya lega saat Adiknya sudah kembali bernafas.

Perlahan Hyunhee membuka matanya. “Cepat bawa dia kedalam,” titah Ayah.

Chanyeol mengangkat tubuh Hyunhee dan mengendongnya untuk dibawa ke kamar. Hyunhee di baringkan di ranjang, Raerim dengan sigap mengambil handuk untuk mengeringkan tubuh Hyunhee.

“Kalian keluarlah,” ucap Ibu bermaksud bicara pada Ayah dan Chanyeol. Ibu hendak menggantikan pakaian Hyunhee yang basah. “Raerim –ah, bisa ambilkan krim hangat di kamar Eomeoni.” Raerim segera berlari keluar dan selang beberapa waktu dia kembali dengan sebotol krim penghangat yang Nyonya Park minta.

Ibu segera membalurkan krim –nya keseluruh tubuh Hyunhee, setelah itu memakaikannya pakaian kering dan menyelimutinya. “Eomeoni mau buat sup hangat dulu,” ucap Nyonya Park.

Saat Ibu keluar, baik Ayah dan Chanyeol masih menunggu di balik pintu kamar Hyunhee. “Dia sudah ganti baju,” ucap Ibu. Ayah dan Chanyeol segera masuk.

“Hyunhee –ya, bagaimana keadaanmu?” tanya Ayah masih cemas.

“Aku baik-baik saja, Appa,” jawab Hyunhee pelan. “Oppa, kenapa kau basah begitu?” tanya Hyunhee pada Chanyeol, dia bermaksud meledek.

“Heh … disaat seperti ini –pun, kau masih saja meledekku. Aku basah karena menyelamatkanmu, eoh! Bisa-bisanya kau malah menertawakanku,” gerutu Chanyeol.

Raerim menepuk bokong Chanyeol. “Oppa, ganti baju sana. Kau bisa masuk angin nanti,” ucap Raerim.

“Aku belum selesai bicara dengan bocah ini,” elak Chanyeol. “Kau kenapa bisa tenggelam di kolam renang, eoh? Bukannya kau bisa berenang,” selidik Chanyeol.

Ayah menjewer telinga Chanyeol. “Tak dengar tadi Istrimu bicara? Ganti bajumu dan segera berangkat kekantor!”

Chanyeol keluar dari kamar Hyunhee untuk berganti pakaian dan saat itu Ibu masuk dengan semangkuk sup panas. “Anak ini, masih belum ganti baju juga,” omel Ibu dan Chanyeol kembali mendapatkan jeweran di telinganya.

___ ___ ___

Chanyeol sudah mengganti pakaiannya jadi lebih layak, dia mencari Ayah untuk berangkat ke kantor bersama. Pikirnya, Ayah masih di kamar Hyunhee dan benar, termasuk Raerim juga Ibu masih berada di kamar Hyunhee.

“Sudah baikkan?” tanya Chanyeol pada Adiknya itu. Hyunhee mendehem. “Bagaimana bisa kau tenggelam di kolam renang?” Chanyeol kembali menanyakan pertanyaan yang sama.

“Terpeleset,” jawab Hyunhee singkat.

“Aku tanya kenapa kau bisa tenggelam, bukan jatuh,” ucap Chanyeol menegaskan kembali pertanyaannya. “Kau kan bisa berenang.”

Hyunhee tak segera menjawab, setelah beberapa detik kemudian dia baru menjawabnya. “Kram … kakiku tiba-tiba kram,” jawab Hyunhee seolah sedang menjawab tebak-tebakkan.

“Kenapa tidak teriak minta tolong?” Chanyeol terus memburu Hyunhee dengan pertanyaan, seolah dia melakukan kesalahan. Tapi memang begitu maksud Chanyeol terus menanyai Hyunhee, dia merasa ada yang janggal dari Adiknya hari ini, seperti dia sengaja membuat dirinya sendiri tenggelam. “Kau tidak bermaksud bunuh diri, bukan?” selidik Chanyeol.

Ayah mendesis. Menginterupsi Chanyeol yang sedang mengintrogasi Hyunhee. “Chanyeol –ah, cepat siapkan mobil. Kita bisa terlambat ke kantor.”

[TBC]

Seperti apa kejadian sebenarnya yang membuat Hyunhee sampai tenggelam? Apakah dugaan Chanyeol benar, jika Hyunhee sengaja menenggelamkan dirinya sendiri?

○○○○○○○○○

Pojok Istilah>> CPR atau Cardiopulmonary Resuscitation adalah teknik kompresi dada dan pemberian napas buatan untuk orang-orang yang detak jantung atau pernapasannya terhenti. Tindakan CPR yang disebut juga resusitasi jantung paru (RJP) tersebut juga bisa dilakukan pada orang yang tenggelam atau terkena serangan jantung. –Google

[Preview Chapter 7]

Sebelumnya mereka hanya sedang bicara, hingga tiba-tiba pintu terbuka. Melihat seseorang datang, lantas pria itu langsung mencium wanita yang jadi lawan bicaranya tadi.

Menyaksikan dua orang yang tengah berciuman itu, membuat matanya memanas dan lidahnya terasa kelu.

Karena mendengar suara, maka wanita tersebut langsung melepaskan tautan bibirnya dari pria yang menciumnya itu.

Seakan tertancap dua bilah pisau di jantungnya, orang tersebut tak kalah terkejut saat melihat wajah wanita yang barusan di cium oleh pria tersebut. “Ka … kau?” ucapnya kembali terbata-bata. Tanpa banyak bicara dia segera pergi meninggalkan tempat tersebut.

°°°

Buat yang nanyain Istrinya Chanyeol kapan pulang, akhirnya penantianmu tiba. Tentunya juga penantian Chanyeol ya~ 🙂  🙂 Tapi kayaknya Chanyeol belum bisa manja-manjaan sama Istrinya, karena terus di ganggu sama Hyunhee. Enaknya itu anak di apain, ya? Biar gak gangguin Pasutri yang lagi di landa rindu mendalam.

Terima kasih aku ucapkan sekali lagi pada para pembaca, atas apresiasi kalian. Saranghaeyo~ ❤ dan tetap menantikan setiap kesan/pesan pengalaman kalian setelah membaca FF aku ini. ^^

Btw … aku penasaran, kalian ada di tim siapa.

  1. Jonghee (Jongin-Hyunhee)
  2. Hunji (Sehun-Hyunji)
  3. Yeolrim (Chanyeol-Raerim)

Atau kalian punya tim sendiri?

See you next chapter

#XOXO

35 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] MY POSSESSIVE HUSBAND (Chapter 6)”

  1. Aku suka ketiganya. Terlepas bagaimana hyunji marah sama sehun, sehun yang possessive terhadap hyunji. Hanya cara yang salah yang jadi memisahkan kedianya.

    Tapi aku lebih suka chan~rim

    1. Silakan tanya sama Chanyeol, dia masih buka pendaftaran calon adek atau gak. Kkkk~ :’)
      ngurusin Hyunhee-Hyunji aja udah repot dia.
      Bukannya kamu tim #Jonghee sebelumnya?
      Pindah haluan nih ^.~

  2. Annyeong thor.. Aku reader baru di ff ini.. Maaf baru ngasih komen di chapter ini krna bacanya ngebut.. Hehe
    Ff ini bagus banget deh.. Ceritanya jga bnyak ttg family, suka banget deh pokok.ny. Aku jadi ngebayangin seandainya punya oppa kyk Chanyeol Oppa, pasti seru.. Maaf jdi curhat thor.. 😁 Kira” Hyunhee knapa ya bisa tenggelam? Apa dia bener” lagi percobaan bunuh diri?
    Kepo deh pokokny ama kelanjutannya,, ditunggu next chaptnya ya thorr.. Fighting.. 👊👊😊
    Btw, aku tim yeolhee aja deh.. (chanyeol-hyunhee)

    1. Hallo juga.. salam kenal ya~
      terima kasih atas apresiasinya 🙂
      CY cocok berarti ya jadi oppa, the best -lah dia! aku juga kepincut >o<
      Uoh~ ada tim baru, Yeolhee. Gak aneh sih, emang lebih byk momen kakak-adik itu. :'-)

    1. Duh .. kesian bgt donk klo Hyunji baru dateng tapi udah disuguhkan pemandangan tidak mengenakkan. bisa-bisa ada perang saudara.. jangan sampe deh .. 😦

  3. Kalo tim baehyun ada gak thor…hehe..,just kidding.., thor kok menghilangnya hyunji gak ada yang sedih keluarganya? Si hyunhee kenapa tuh tenggelem,apakah ada hub nya dengan preview chapter selanjutnya?? Semangat deh thor..

    1. Tim baekhyun? baekhyun sama siapa? kamu? Hmmm~ boleh juga. coba tanya dulu sama orangnya, dia masih single gak? hahha 😀
      Keluarga Park sedih kok pas Hyunji hilang.
      Chanyeol juga sempat nangis kan, pas di Jeju yg dia dengar kabar Hyunji hilang dari petugas. klo Hyunhee, pas baru pulang dari London langsung mewek ke emaknya. trus Hyunhee juga jadi uring-uringan.
      Part sedihnya emang sedikit, karena aku mau menunjukkan image kuat & harmonis di Keluarga Park. Jadi aku gak terlalu memperlihatkan kesedihannya.
      Hayo~ kenapa tuh Hyunhee tenggelam? xD di tunggu aja ya chapter selanjutnya ..
      Hehe.. panjang ya, balasnya. Khilaf aku :’D

    1. Wah~ ternyata ada yg suka Pasutri LDR ini … xD
      kalau gitu tetap tunggu moment mereka ya..

      Keadaan Hyunji? masih sama seperti sebelumnya, belum di ketahui. harap sabar, karena semuanya juga sedang menunggu kembalinya Hyunji.

Tinggalkan Balasan ke April Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s