[Sehun Birthday Project] Conlatus Creed #2 — HyeKim

1523519895754

  Conlatus Creed   

  #2 : Le Chemin Pour Sortir ⌉

  EXO`s Oh Sehun, ex-EXO`s Luhan, OC`s Kwon Runa, OC`s Kim Hyerim

  Story with Dystopia, AU, Action, Violance, slight!Romance & Politic rated by PG-17/Mature  type in Mini Series

Disclaim: This story is not suitable for readers under 15 years old. Every real ones belong to their real life and every fake ones belong to their fake appearance. OC(s) included on these stories belongs to: l18hee & HyeKim. The storyline created by: HyeKim and got little inspiration from Assassin`s Creed Unity.

This story was created and dedicated for:

Sehun & Luhan


Ditengah ombakan kisah pada bumi tahun 2030, ditengah kemerlut resah dengan pertumpahan darah di negeri nan semula damai. Ordo Unity dan Ordo Majesty dengan kredo bersimpangan, mencetuskan perang.

Dan di sini, kedua pemuda dan kedua gadis bersimpuh dengan menyerahkan diri pada conlatus creed yang membentang kisah keempatnya. Survive or not. Hanya dua pilihan ditengah perang politik pertumpahan darah ini.


© 2018 Storyline by HyeKim

Prview : [1]

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

Derap langkah yang berbolak-balik tersebut membuat rasa senewen Kwon Runa begitu kentara. Parasnya pias, jemarinya resah bergerliya di mahkota legamnya, pun ranum bawahnya digigit keras-keras.

Ingin rasanya menyugestikan bahwa hal yang baru ia ketahui adalah bohong belaka ataupun Runa kini sedang berada di mimpi terburuknya setelah kematian kedua orangtuanya. Namun nihil, semuanya nyata bahwa dirinya selama ini tumbuh besar  dengan orang bertopeng dua: baik di depannya tetapi sesungguhnya merekalah yang membuat Runa yatim-piatu.

“Kamu sedang apa?” aksara tanya itu sungguh membuat jantung Runa melompat dan refleks kepalanya berputar, pandangannya bertumpu pada sosok Sehun yang ada di pangkal pintu kamarnya.

Luapan amarah Runa meletup, rasa dikhianati sangat sarat ia rasa. Bagaimana bisa Oh Sehun—yang Runa yakini tahu semuanya—menyembunyikan semuanya bahkan dengan lancang mempromasikan diri untuk menjadi kekasihnya dan keparatnya, Runa juga harus terjatuh kedalam lubang yang sama: saling jatuh cinta.

Buang pandang dengan terlukis keketusan di tampang, Runa berimbuh: “Bukan urusanmu.”

Reaksi gadisnya menimbulkan tanya dalam Sehun, kernyitannya tercipta dengan iris menusuk lekat punggung Runa yang tampak sedang menetralkan diri.

“Apa aku membuat kesalahan?” tanya Sehun, kepalanya ditelengkan walau ia rasa tak memiliki kesalahan apapun.

Kepala Runa setengah menengok ke arahnya berserta pancar kesinisan dalam logam maniknya.

“Tidak.” pungkas Runa, kelit dengan melihatkan kebohongan dalam jawabannya.

Air wajah Sehun mulai berubah khawatir.

“Apa kamu masih merasa perang ini tidak adil dengan mengorbankan banyak nyawa? Mau sampai kapan kamu marah cuma karena—“

Leher Runa berbalik, kobaran amarah terpancar dari netranya serta-merta kepalan tangannya tercipta.

“—Tutup mulutmu!” bentak Runa membuat Sehun bungkam dalam kagetnya dengan mata membola. “Kamu sungguh yakin tidak punya dosa apapun kepadaku huh?” kelit Runa, diafragmanya kembang-kempis menahan sesak bercampur angkara.

Kembali Sehun mengernyit, telunjuk kanannya menunjuk parasnya.

“Aku?” imbuhnya, linglung. “berbuat dosa padamu?”

Lakon polos Oh Sehun membuat angkara yang membelit Runa kian menggebu. Air mata seketika meluncur di pipi Runa dengan ranum bergetar.

“Orangtuamu juga, sayangku,” seloroh Runa, berusaha terlihat tenang dengan sunggingan sinis di kurvanya. Kala Sehun hendak berlisan, Runa menambahkan dibanding berbelit-belit layak dalam labirin nan mana hanya menguras emosi. “Kalian—keluarga Monsieur Oh Sehyung, telah membunuh Kwon Ruddock, Master Agung Unity dan merangkul putrinya yang naif serta belia itu untuk bergabung kedalam ordo yang berisikan para pembunuh orangtuanya sendiri.”

Sontak obsidian Sehun melebar dengan huruf o terpampang di mulutnya. Salivanya dengan sukar tertelan ke kerongkongan.

“Bagaimana bisa…”

Seongok foto lecek terlempar ke arah Sehun kemudian secara menyedihkan terongok di atas lantai dingin kamar Runa. Lekas Sehun merunduk, mengambil foto tersebut yang memampangkan keluarga besar Kwon Ruddock. Dwimanik Sehun otomatis melebar dan jantungnya mencelos tatkala membaca aksara bertinta merah dibalik foto kolot itu.

Sehun mengangkat kepala dengan air wajah kosong. Dwimaniknya melebar disaat Runa sudah menodongkan pistol taser—

“Jadi kamu—“

SRASH!!!

—lidah Sehun yang tengah bercakap pun harus menelan kalimat dan tergantikan oleh bunyi gedebuk dari tubuhnya yang tumbang di marmer dingin kamar Runa. Tembakan Runa tepat mengenai lengan Sehun yang kala ini matanya membelalak lalu menutup, setidaknya Sehun tidak mati dan hanya lumpuh sebab efek dari listrik yang disalurkan pistol taser.   

Tangan Runa turun. Irisnya menembus tubuh Sehun yang pingsan dengan rasa sesak yang mencetuskan likuid menganak sungai di pipinya. Pistol tasernya diseludupkan Runa ke dalam ikat pinggang yang berisikan senjatanya yang lain. Tungkai Sang Dara mulai beranjak dan saat melewati tubuh kekasihnya, Runa membisikan kalimat:

“Maafkan aku, Sehun.”

Lantas Runa pun raib dengan menggunakan jalan rahasia di taman belakang chateau keluarga Oh untuk bersua dengan gadis bernamakan Kim Hyerim yang telah memberitahu siapa jati dirinya.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

Manakala di depannya musim panas mulai mati dan angin musim gugur mulai menyambut di akhir bulan Agustus yang ringkih itu, Kwon Runa di belakang jok sebuah taksi juga sedang meringkuk dalam keringkihan setelah berusaha berlapang dada menerima siapa dirinya. Maniknya termenung menatap jalanan yang sunyi sebagaimana hal musim panas yang segera mati diganti musim berikutnya.

“Anda ingin ke Seo-gu, Madame?” tanya supir taksi berserta lirikan dari spion.

Runa tersentak, kepalanya beralih ke supir dengan topi hitam menutupi wajahnya nan mana menguarkan aura misterius ditambah supir ini terlihat tak ingin menatap Runa langsung seakan dara satu itu mayat hidup dengan luka menganga kemudian masuk ke dalam taksinya yang sejujurnya sudah butut itu.

Tercuat anggukan Runa. Imbauannya mengambang singkat. “Ya.” lalu atensinya tersita lagi dengan pendestrian kosong yang malah menyuguhkan pemandangan menyayat hati: massa yang terluka dan beberapa sungai darah.

Berselimut hening dengan berputar-putar dalam labirin otaknya sendiri, perjalanan yang menembus waktu kurang lebih satu jam empat puluh menit tersebut akhirnya rampung dengan taksi butut yang mesinnya sudah merengek-rengek itu berlabuh di sebuah rumah minimalis dengan serambi yang telah bobrok serta beberapa kaca pecah—well, lumrah akan efek perang rezim yang tak kunjung kelar diusia kesepuluh.

“50₩ saja, Madame.” kelakar supir taksinya, setia tak bersibobrok pandang langsung dengan Runa.

Alih-alih mengorek saku untuk mengambil kocek, dara marga Kwon ini malah mengernyit dengan alis bertaut.

“Mahal sekali.” tukas Runa sebab uang yang dibawa tak sebanyak itu.

Kalimat tersebut pun meluncur saja tanpa peringatan, membuat muka Runa merah padam setelahnya. Ayolah, pakaian yang membaluti Kwon Runa bukan pakaian biasa. Sebuah jins levis dengan kaus oblong berwarna putih—baju nan tergolong ‘mewah’ ditengah negara porakporanda apalagi tanpa compang-camping yang melucuti pakaian Runa, benar-benar mulus ditambah Runa muncul di daerah Gangnam, daerah nan mewah.

Upaya menyamarkan malu, Runa pun menunduk dengan deheman canggung. Sedang Si Supir Taksi mengamati dari kaca spionnya lagi, tentu saja tanpa mau bersilih pandang dengan Runa.

“Maaf, dompetku tertinggal,” ucap Runa. Kepala terangkat, dia suguhkan senyuman canggung pada supir yang beralih tanpa menatapnya. “Aku akan meminta uang pada kawanku yang tinggal di rumah ini. Oh tenang saja, Sir, aku tak akan menipumu kok. Aku tinggalkan—“ meski ragu, Runa lepas ikat pinggang berisikan senjatanya lalu  menaruhnya di jok usang taksi. “—barangku di sini. Senjata  amat berharga, bukan ditengah perang rezim dan kredo pada masa kini? Jadi aku pastikan aku akan kembali.”

Dalam hati asa Runa terurai, yakni bahwa Kim Hyerim memiliki uang untuk membantunya membayar kocek. Aneh, biasanya hanya membabat kocek sekitar 15₩. Mengapa kocek yang ditarifkan menjadi meningkat? Sebab kesengsaraan? Rasanya ada secuil perasaan mencemooh dalam hati Runa bahwa tak pantas sama sekali taksi yang sudah meradang-radang mesinnya itu mengeluarkan tarif mahal. Okey, mungkin masalah perang yang mengsengsarakan massa.

Si Supir tak merespon, jadi bisunya itu dianggap mufakat dalam kata setuju bagi Runa. Maka Runa meloloskan diri dari bawah atap taksi yang tua itu, tungkainya berayun ke arah rumah keluarga Kim yang seperti tak berpenghuni—terbesit dalam hati bahwa sebenarnya Runa salah alamat atau mungkin… ditipu?

Ah, tidak. Penipuan tak mungkin menghampirinya kala ini sebab reaksi Sehun telah menggambarkannya: bahwa Runa, kekasih yang amat ia kasihi ini, memang begitulah adanya, seorang dengan benang merah menjadi seorang Unity. Dan—

DZING!!

—Sial! Kwon Runa tolol, naif, dan amat ungu untuk pergi tanpa persiapan mental yang seharusnya ia tata terlebih dahulu dimasa sebuah desing peluru meluncur dari mocong pistol dan tepat mengenai bahu kanannya.

Runa tumbang tidak sepenuhnya lantaran kedua lututnya menekuk dengan mencium tanah. Perlahan dengan memegangi samsak peluru di bahunya, Runa menstir leher ke belakang dan melihat supir taksi yang harusnya sudah ia amati gerak-gerik ganjalnya sejak perjalanan, membidikan pistol ke arahnya dengan seringaian.

Desisan Runa tercetus, bola matanya berkilat-kilat marah.

Si Supir menyeringai puas. “Senjata amat berharga di zaman sekarang, Madame,” aksara amat itu dilolongkan penuh penekanan serta sarkastik, tak luput pandang mencela tersorot kepada Runa. “Huh, ternyata dirimu sudah tahu siapa kamu sebenarnya, ya? Seorang gadis yang harusnya damai tinggal di chateau bersama kedua orangtuanya dengan memikul beban sebagai penerus Ordo Unity dan mempelajari kredo yang bertentangan dengan kami.”

Saliva Runa terteguk. Kami yang dimaksud sudah pasti Majesty. Sungguh, Runa sepertinya tidak memiliki kemujuran sama sekali tatkala ingin mengorek jati dirinya lebih dalam, dia malah membuka kecelaannya sendiri kepada salah satu Majesty yang sudah tahu siapa dirinya dan pasti paham ketika Runa minta diantar ke mari.

“Bodoh.” umpat Runa, alih-alih merespon karena sekarang dia benar-benar dilucuti tanpa seongok senjata sama sekali.

Umpatan itu tertiup hingga menyapa selaput dengar pria dengan identitas palsu sebagai supir taksi itu. Senyum miringnya makin-makin tersungging, puas merayapi runggunya.

Sembari merenggangkan otot leher, “Ya. Anda bodoh, Mademoiselle Kwon,” timbalnya lalu terdengar suara ‘krek’ yang mensinyalkan peluru hendak dimuntahkan kembali. “Sepertinya membunuh Anda tidak jadi masalah sekarang. Oh persetan dengan rencana awal kami ingin membimbingmu ke ordo dan membuat Unity mengibarkan bendera putih. Alangkah baiknya kini membunuh Anda kemudian mencetuskan perang sesungguhnya.”

Perang sesungguhnya. Adu senjata antara pasukan Unity dan Majesty untuk memfiniskan perang, itulah maksud Si Pemuda Majesty ini. Dan Runa tak mau itu, pertumpahan darah yang lebih keji dengan menebas banyak nyawa tak berdosa akan makin menumpuk.

Tapi kini Kwon Runa terhimpit, lehernya seperti dicekik kuat dengan kedua tangan serta kakinya terikat oleh tali bersimpul mati, tak punya ruang gerak sekalipun. Jadi Runa hanya berserah diri dimana pelatuk mulai ditarik kemudian peluru akan menembus runggunya hingga Malaikat Maut menjemputnya dan Runa hanya dapat menutup kelopaknya sekarang, berasa-asa akan keajaiban.

Kebisingan memang menyapa Runa yang membutakan indera melihatnya. Bunyi dentuman akan barang jatuh berserta erangan penuh sarat emosi kemudian disusul lolongan pistol yang membuat waktu seakan berhenti. Sunyi. Runa seperti sudah ada di surga namun tubuhnya tak nyeri, apa ajal tidak sesakit itu?

Kelopak Runa terekspos kembali secara perlahan. Dan jawaban akan ajal: tentu saja, ajal itu mengerikan serta amat sakit. Ditarik kesimpulan, kemujuran Runa mulai nampak kini dengan masih bernapas dikarenakan seorang gadis sekarang berpijak di depannya.

Baju gadis berambut panjang bergelombang itu dijejali darah muncrat. Ketika menyerong pandang ke bawah, jawaban tersodorkan segera pada Runa dengan fakta bahwa supir taksi tersebut sudah berubah menjadi mayat dengan ajal yang brutal: gadis penyelamat Runa datang ditiming nan tepat, datang dari arah samping dengan meloncat melewati taksi yang ada di samping Si Pembunuh yang terbunuh menyebabkan tubuhnya berdentuman dengan alotnya tanah kemudian Si Gadis Penyelamat menjatuhkan diri di atasnya, merebut pistol dan menembakannya ke mulut Si Pembunuh yang malah sibuk mengerang.

Insiden secepat kilat itu masih ditata dalam otak Sang Dara Kwon. Obsidiannya sibuk mengerjap. Sedangkan Si Gadis Penyelamat membungkuk hormat sebagai sapaannya.

“Selamat datang Mademoiselle Kwon. Kenalkan, saya Kim Hyerim yang mengirimkan Anda pesan di depan bistro yang tengah kacau balau tempo itu. Sepertinya saya datang tepat waktu, bukan? Mari kita masuk. Setidaknya saya harus menjamu tamu, apalagi tamu spesial seperti Anda.”

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

“Semoga kamu suka teh pahit, Runa.”

Kim Hyerim menyuguhkan teh dengan gula minim disebabkan persediaan di rumah lamanya itu memang seadanya karena sudah tidak ditinggali. Omong-omong, Hyerim sekarang menggunakan bahasa tak formal atas perintah Runa yang berlandasan agar batas-batas kecanggungan tidak menyelubungi persuaan keduanya kala ini.

Cangkir yang disodorkan Si Marga Kim, Runa terima dengan merekahkan senyum tipis. “Tidak masalah asal menuntaskan dahagaku untuk saat ini.” ujarnya lalu meneguk teh pahit itu sampai ludes sebab dahaga yang telah mencekiknya apalagi dirinya baru menyabung nyawa.

Teh milik Hyerim juga ludes. Dengan santun ia meminta cangkir Runa lalu menaruhnya di wastafel dapur yang masih agak terawat—mungkin dapur masih sering digunakan lantaran cuma ruangan inilah yang masih terlihat sedikit hidup—serta berembuk dengan cangkirnya. Singkat timing, Hyerim telah finis mencuci dan Runa yang sejak barusan  sibuk mengelus sayang pangkal pedangnya yang sudah ia ambil di taksi lapuk itu, mengangkat kepala dan disuguhkan senyum simpul Hyerim dengan wajah menguarkan aura misterius.

“Ayo kita menuju kesepakatan yang kutulis di pesan sebelumnya,” pungkas Hyerim.

Memori Runa dengan rinci mengingatkan kesepakatan tersebut, yakni: membeberkan lebih detail jati dirinya sebagai Unity. Selagi keduanya menggeret langkah di tengah lantai lapuk kediaman keluarga Kim nan mengenaskan ini, dengan Runa yang mengikuti arah bahu Hyerim bergerak, Si Gadis Tuan Rumah sibuk berceloteh.

“Kamu mungkin berpikir ditipu olehku ketika mendapatkan rumah ini kosong tak terurus sementara aku mengatakan ingin menunjukan sesuatu yang penting di sini,” cetus Hyerim seperti sudah membuka kotak pikiran Runa yang memang berpikir begitu barusan.

Tanpa menoleh, Hyerim melanjutkan ayat katanya. “Well, tak bermaksud angkuh, ya. Ayahku pemilik ladang termahsyur se-Gwangju dulunya. Dan dulunya rumah ini merupakan rumah kami. Sederhana, memang. Tapi karena kesederhanaan inilah kami nyaman dibanding hidup dibalik dinding chateau mewah walau kami sanggup saja hidup dalam sebuah chateau. Hingga rumah ini diserang oleh Ordo Majesty, mereka kira ayahku mati padahal ayahku meminum ramuan yang diracik untuk menghentikan denyut nadi dan jantung selama tiga puluh menit. Bila tak langsung diselamatkan maka baru ayahku benar-benar mati.

“Setelah kematian ayahku menyebar, aku, ibu  dan ayahku yang sudah diselamatkan oleh ibuku, tentunya. Meninggalkan rumah kami ini dan menyamar sebagai petani di ladang milik ayahku sendiri dan menjadikan sebuah pondok sebagai tempat berlindung,”

Sekon ini keduanya berada di pintu ruang bawah tanah setelah melewati tangga panjang yang disamarkan oleh lukisan besar keluarga Kim dengan Hyerim yang masih berusia enam tahun, tangga panjang yang menghubungkan ruang bawah tanah rahasia.

Tangan Hyerim melayang, menekan-nekan pintu yang memiliki keyboard transparan untuk memasukan kode sandi. Selang beberapa detik pintu terbuka, kedua makhluk hawa itu lekas melesat ke dalamnya.

“Namun rumah ini, rumah yang diklaim bahwa tuan rumahnya sudah mati, tidak pernah benar-benar kami tinggalkan. Kami menyimpan barang-barang dan bukti bahwa kamu adalah orang kami dan sesungguhnya bisa menjadi master agung. Kami tahu bahwa barang ini akan menjadi le trèsor bagi Majesty jadi kami menyimpannya di sini alih-alih kami bawa sebab kami rasa di sini lebih aman.”

Hyerim lanjut menututurkan hingga final kalimatnya terjadi tatkala mempause langkah di sebuah kotak yang merupakan satu-satunya barang terurus tanpa debu secuil pun di dalam ruang bawah tanah yang nyaris sebagian besar barangnya diselimuti debu. Le trèsor, Runa sudah belajar beberapa istilah Prancis yang digunakan di ordo, dan sudah pasti bila Hyerim tidak ambil jalan nekat untuk mengirim pesan padanya siang tadi, mungkin barang peninggalan orangtuanya lebih dahulu ditemui oleh Majesty yang mengkalimnya sebagai le trèsor.

Tubuh Hyerim bergeser, posturnya mempersilakan Runa dikawani oleh senyuman simpulnya. “Silakan buka, Runa. Kamu yang berhak membukanya, kode sandinya adalah ulang tahunmu.”

Perlahan Runa mendekat. Mentalnya tengah dia tata dengan menarik pasokan oksigen banyak-banyak ke dada kemudian diafragmanya mengempis tuk mengeluarkan karbondioksida beberapa sekon selanjutnya. Lututnya bersimpuh di depan kotak itu kemudian menekan angka yang merangkai hari lahirnya di atas keyboard yang ada di kotak.

Likuid hangat milik Runa merembes menyusuri pipi ketika melihat barang peninggalan orangtuanya berserta catatan-catatan berisikan gagasan milik ayahnya. Pertahanan Runa runtuh, dalam bisu ia menangis dengan menutup rapat-rapat kurva maniknya.

Hyerim memandang Runa iba walau ia tahu Runa tidak mau mengiba sama sekali dan ingin dikira kuat, tetapi aksi Hyerim adalah menunjukan keibaannya dibanding membantu Runa bangkit dari keterguncangan dengan memeluknya dan ikut menangis.

“Aku tahu rasanya,” bisik Hyerim, tepat di telinga gadis Kwon yang mulai terang-terangan melolongkan isakan pedihnya. “aku juga pernah melihat bagaimana anggota keluargaku yang lain—pamanku, bibiku, saudaraku, kakekku, nenekku—yang tengah kumpul keluarga tempo itu ketika kediamanku diserang, mati mengenaskan di depanku, gadis yang masih berusia enam tahun kemudian mengalami sebuah keterguncangan ketika tahu itu ulah sebuah ordo yang dapat menebas nyawanya.”

Perilaku Runa bisa dicap tidak tahu terima kasih saat menepis agak kasar Hyerim, membebaskan diri dari belengu pelukan gadis Kim itu serta-merta menatap tajam.

“Tapi kamu tidak tahu rasanya menjadi seseorang yang dikira memiliki kredo Majesty kemudian mendapati bahwa kedua orangtua angkatnya adalah pembunuh kedua orangtua kandungnya dan nyatanya ia memiliki kredo menyimpang dengan kredo yang digagaskannya selama ini untuk dijungjungkan.” sengit Runa, air matanya dihapus kasar dengan wajah memberengut marah bercambur dengan patah hati.

Senyum tipis Hyerim terkulum. “Memang tidak. Tapi setidaknya aku tahu rasanya memiliki orang terkasih dari kredo menyimpang,” seloroh Hyerim membuat Runa terpaku dengan labirin memorinya bemuara pada figur Oh Sehun lantas hatinya tertohok setengah mati. “Bedanya, sahabatku lah yang memiliki kredo menyimpang. Terpaksa aku… membunuhnya.” Hyerim berucap agak menggantung sebelum mencapai klimaksnya.

Kian Runa membeku, memikirkan apakah nanti ia akan saling todong-menodong untuk menebas nyawa satu sama lain dengan Oh Sehun, kekasihnya sendiri? Sementara itu, Hyerim sudah memunggungi Runa, diam-diam menyembunyikan sisi rapuhnya mengingat kenangan yang dia dongengkan.

“Tapi kita punya jalan keluar, Runa.” ucap Hyerim, kembali menatap Runa dengan senyum bersarat penuh arti.

Alis Runa berjungkit, tubuhnya bangkit dengan kelereng mata ingin tahu.

“Apa itu?”

Terulas senyum misterius ala Kim Hyerim.

“Unity, kutegaskan unity. Ayahmu menjungjung kesatuan dikredo baru ordo kami tapi kita tidak bisa menegakannya sesegera mungkin sebelum kamu berpindah tangah ke kami lagi. Dan syukurlah kamu kembali pada kami,” senyum kecil Runa terlengkung. “lalu kami punya jalan keluar, Runa. Jalan yang bisa menyatukan kedua ordo. Well, harus ada sedikit kekacauaan memang. Kamu pasti sudah tahu bahwa Kwon Ruddock—mendiang ayahmu—dan pendiri Ordo Unity, Han Jisung, ialah anggota keluarga kerajaan yang memberontak dengan merasa tidak adil dengan rezim-rezim kerajaan yang sudah korup.

“Maka kesimpulannya, keluarga kerajaan yang korup dengan para ètats pertama dan kedua yang tergabung dalam pemerintahan yang  tidak tahu diri itulah yang mencetus Ordo Majesty dengan menghimbau para ètats pertama dan kedua yang lain, yang bukan terlibat hubungan pemerintah dengan menjanjikan kemakmuran ditengah bumi yang sakit. Padahal mereka, para anggota kerajaan itu hanya ingin mengenyangkan diri tanpa mau sengsara dengan berbagi bersama ètats bawah ditengah bumi yang sekarat.

“Ya brengsek sekali mereka yang akhirnya menimbulkan pemberontakan ditengah keluarga kerajaan sendiri yang dicetuskan Han Jisung dan sepupunya, Kwon Ruddock yang kemudian mendirikan Unity dengan menarik ètats bawah dan beberapa ètats atas yang tidak setuju dengan rezim tak lazim kerajaan dan para anggotanya yang tak mau ikut sengsara ditengah bumi yang sekarat.”

Tatapan jengan Runa melayang, sudah malas mendengar penuturan panjang lebar Hyerim yang telah ia ketahui masalah timbulnya dua ordo berbeda kredo ini. Ya, awalnya Majesty hanya beranggotakan keluarga kerajaan dan para anggota pemerintah yang akhirnya menarik beberapa kaum atas dan bangsawan agar tidak memberontak karena sesungguhnya mereka hanya tidak mau sengsara dan memberikan kaum bangsawan hak istimewa. Kemudian Han Jisung dan ayahnya menentang dan terjadilah perang antara dua ordo.

“Jangan berbelit-belit, Hyerim.” Runa mengintrupsi agak sedikit berseru.

Kalimat Hyerim tertelan, dirinya tersenyum menampilan deretan giginya. “Maaf, aku hanya ingin menuturkan rinci,” bola beriris Runa memutar lalu menatap Hyerim datar dengan senyum miring yang mengolok serta mengisyaratkan bahwa dia sudah tahu semuanya. “Well, seperti kataku tadi, ini berawal dari anggota pemerintah dan keluarga kerajaan yang tamak. Jadi jalan keluar kita adalah…”

Senyum misterius Hyerim mengembang lagi. Penasaran membelit keras runggu Runa yang melebarkan mata, menanti kelanjutan aksara Hyerim yang sedang melemaskan jemarinya dan dengan sorot ambius melanjutkan aksaranya.

“Membunuh Raja.”

Dan kalimat itu bagaikan surat kematian yang menyambar keras hati Runa dengan tubuh menegang.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

“Membunuh Raja? Yang benar? Kamu—ah tidak, kalian gila?! Itu akan menimbulkan persiteruan lebih rumit!” kelakar Runa dengan wajah horror di samping jok kemudi yang diisi Hyerim.

Fokus Hyerim tersita penuh ke depan, lakonnya kalem bahkan sepertinya dia tidak mendengar deretan protes Runa.

Punggung Runa berbanting dengan jok mobil, napasnya berembus letih, pun pandangannya nanar ke jalanan rusak nan membentang di depannya seraya mulutnya mencetuskan ayat kata lagi.

“Aku tidak mau banyak nyawa tertebas lagi. Banyak nyawa tak berdosa telah tertebas, Hyerim.”

Sekilas, dilirik oleh Hyerim, Runa yang tampak keletihan batinnya sebab akan perang yang sudah sepuluh tahun ini berjalan dan tak pernah mencapai mufakat akan perdamaian sementara bumi kian bungkuk dan mungkin bisa mati kapan saja.

Fokus Hyerim beralih lagi sepenuhnya ke jalanan. Bertepatan dengan mobil yang sedikit terguncang karena melewati polisi tidur, Kim Hyerim melontarkan responnya terhadap kata-kata Runa.

“Malah dengan membunuh Raja, kita bisa mencapai kedamaian,” Hyerim merasakan sinar manik Runa menusuk profil sampingnya. “Raja mati sama dengan game over. Sisanya kita bisa membabat beberapa anggota kerajaan yang pastinya memiliki peran penting dalam ordo. Saat Majesty kacau, Unity bisa mendominasi dan kita lakukan persatuan, menarik para ètats pertama dan kedua dengan mendoktrin mereka balik kemudian bersama-sama mencari solusi ditengah bumi yang sekarat. Bila begitu, bila kita merawat bumi ini, maka bumi juga sedikit demi sedikit bisa membaik seperti sediakala. Seperti orang sakit, bila dirawat akan sembuh. Bukan diperilakukan dengan setengah-setengah, dirawat namun juga diabaikan.”

Runa termenung. Otaknya terperas kuat. Kelakaran Hyerim benar dan masuk akal. Ditengah bumi yang sekarat dan harusnya dirawat, kerajaan dan pemerintah malah melakukan hal bodoh untuk mengenyangkan diri. Sayangnya, ideologi yang dicetuskan kerajaan Korea ini hampir diterapkan di seluruh dunia—kebanyakan di daerah Asia—dengan pikiran sempit bahwa tanpa pemimpin mereka tidak bisa memimpin massa untuk menyuguhkan bumi seperti sediakala dan sebagiannya ya… karena korup dan ketamakan yang menyebut mereka diri sebagai Majesty dalam pimpinan Raja Korea. Alih-alih merawat bumi agar sembuh.

Ban Hyerim berhenti bergesekan di aspal, berlabuh di dekat sebuah pondok dengan pekarangan luas serta terawat. Si Gadis Kim yang lebih dulu membuka sabuk pengaman dan keluar kemudian diekori Runa.

Runa setia membututi Hyerim melintasi pekarangan tempatnya selama ini bersembunyi dengan orangtuanya. Terpaksa pula Runa menghentikan uraian langkahnya tatkala Hyerim berhenti di depan pondok rumahnya, tubuhnya dengan tegang  menatap ke dalam melalui kaca jendela.

Refleks Runa mengerutkan dahi. “Ada a—“

“—LARI HYERIM! LARI!”

Imbuhan Runa terpenggal oleh teriakan dari dalam rumah, teriakan putus asa seorang wanita paruh baya. Segera rasa panik mengalir deras dalam runggu Runa disusul suara gaduh menyapa telinganya dari arah belakang.

Kepala Runa berbelok ke belakang, kurvanya membelalak melihat kuruman massa dengan jubah Majesty berserta persenjataan lengkap tengah mendekati mereka.

“Lari Runa!” titah Hyerim tanpa berbalik badan menatap Runa.

Runa menatapnya kaget dengan mata yang seakan ingin lepas dari persarangannya.

“Apa?!” pekiknya.

“Kubilang lari!” Hyerim membentak dengan menatap tajam Runa, sekilas menatap massa yang hendak menyergap mereka dan sekarang sudah menjelajahi pekarangan luas rumahnya serta tengah menuju serambi—tempat kedua dara ayu itu berada—kemudian mengiring bola mata ke arah jendela rumahnya. “Aku tidak bisa membiarkan orangtuaku mati! Jadi kabur sekarang! Pasti supir sialan tadi sudah mengirim pesan kepada rekannya sebelum membiarkanmu sampai selamat di depan rumah lamaku. Jadi lari!” desak Hyerim, mendorong Runa hingga terjembab ke samping ketika peluru meluncur dan mengenai tembok di sebelah Hyerim yang berguling lihai ke depan pintu rumahnya lalu menendangnya keras karena berbahan dari kayu dan lekas langsung rusak menciptakan celah yang ia gunakan untuk masuk.

Runa yang kelinglungan hanya bisa bangkit, terseok berlari dengan meraba-raba ikat pinggangnya. Pistolnya dikeluarkan, badan Runa berbelok dengan siaga membidikan pistol ke sasaran terdekat. Desing peluru dari pistolnya meletus, tepat mengenai dahi seorang pemuda Majesty yang juga tadi sama-sama membidik ke arahnya. Runa yang tengah mujur, seperkian detik saja dirinya yang mungkin terluka tembak padahal lukanya baru dibalut oleh Hyerim beberapa timing kebelakang.

Berlandasan keangkuhan, kegigihan, dan keberanian yang sebenarnya hanya lah rasa nekat yang membara, Runa terus meletuskan pelurunya sembari berlari. Si Gadis amat lihai dengan terus-menerus menyarangkan peluru ke tubuh para Majesty yang mengejarnya. Dan kemujuran tengah berlimpah padanya tatkala terus-menerus tembakan musuh melesat dan sekali terkena hanya melintas bahunya serta mencetak luka baret sedikit.

“Sial!” umpat Runa ketika pelurunya habis. Oh, kemujurannya juga turut habis sepertinya.

Dengan jengkel, geligi Runa berkelatuk kemudian melesat seperti cheetah ke hutan yang ada di depannya, tenggelam di hiruk pikuk pohon rindang yang menyamarkan eksitensinya dari pandangan musuh.

Baru beberapa langkah menyusuri hutan, Runa disergap oleh sebuah tangan kekar dan dirinya berusaha memberontak. Namun pemberontakannya terhenti ketika melihat sosok bertatapan sayu yang menyergapnya dan tengah tersenyum pedih.

“Oh Sehun…” desis Runa dengan tatapan kosong.

Bibir Sehun mengulum senyum tipis bersirat maaf dan memang itulah yang ia vokalkan.

“Maaf Runa.”

Cairan obat bius ditembakan Sehun dan tepat tersarangkan di dada Runa, lantas  pandangannya pun menjadi gelap setelah merasakan kecupan hangat Sehun yang menangkap tubuh tumbangnya, di puncuk kepalanya.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

Kian bergunjingnya malam membuat kegelapan menyebar apalagi di ruang gelap yang cuma mendapatkan sejemang cahaya dari rembulan. Oh Sehun bersimpuh di depan tubuh tak sadarkan diri Kwon Runa yang secara malang tergeletak tanpa alas di atas dinginnya lantai penjara ditambahi oleh borgol yang membelengu lengan Sang Gadis.

Belaian diberikan Sehun nan menyemat senyum tipis bercampur sedih, di paras Runa. Sebuah jarum suntik dikeluarkan oleh Sehun kemudian silih berganti memandang benda tersebut dengan paras gadisnya.

“Maafkan aku, Runa.” lirih Sehun, maniknya kentara ingin meloloskan likuid hangat.

Jarum suntik itu pun menusuk kulit Runa, cairan yang ditampung di sana pun terhantarkan ke dalam tubuh Sang Dara. Timing bergulir, denyut nadi, pun napas Runa pun tak lagi dirasa persis raga yang ditinggalkan pemiliknya. Dan Oh Sehun hanya mengukir senyum pedih.

KRIET.

Spontan tubuh Sehun dibawa diri oleh pemiliknya, atensinya berputar ke arah belakang di mana tempat ibundanya berpijak dengan wajah mengerut serta-merta biasan manik tajam.

“Bagaimana?” tanya gamblang dilontarkan oleh Mademe Oh, tatapannya tak ingin bertumpu pada Runa yang jiwanya telah pergi, seakan gadis tersebut bangkai binatang menjijikan. “Kamu sudah membunuhnya, ‘kan?” frasa tersebut membentur tajam di dinding penjara, ditambahi biji mata Madame Oh yang berkilat-kilat dengan perasaan angkara membelit.

Sehun mengangguk dengan ekspresi tak terbaca. Diam-diam ibunya menyimpan curiga sebab tahu perasaan tulus putra semata wayangnya pada seorang Kwon Runa. Oleh sebab itu, Madame Oh ingin mengeceknya sendiri dengan mendekat ke tubuh Runa kemudian memeriksa tanda-tanda kehidupan yang tentunya sudah lenyap.

Madame Oh berdiri, anggukan puasnya tercetus sembari menatap samping wajah Sehun dengan senyum mengembang. “Bukan hanya kamu,” pungkas Sang Ibunda, tangannya mengelus lembut bahu Sehun. “Bukan hanya kamu yang sedih, Sehun. Runa juga sudah kuanggap putriku sendiri tetapi ini semua harus dilakukan untuk ordo.” tandas Madame Oh yang kemudian berlalu keluar penjara yang terletak di ruang bawah tanah di taman asri chateau keluarga Oh.

Tahu, bahkan Sehun amat tahu bahwa ibunya amat menyayangi Runa sebagaimana selama ini ibunya mengayomi gadis yang ia cinta selayak anak kandung meskipun ada kedok dibelakang semua itu tetapi hati ibunya juga tergerak sebagaimana hati milik Sehun. Bisa dilihat dengan caranya terseok keluar penjara bersama bahu naik-turun menahan tangis.

Namun, ibunya tak memiliki keberanian yang nekat seperti Sehun hanya untuk melindungi Runa dan menjungjung tinggi ordo yang bagi Sehun hanya berupa sampah saat ini.

Leher Sehun bergerak-gerak, melongok untuk memastikan keadaan sekitar. Dipastikan aman tanpa mata menyaksikan, Sehun merangsek buru-buru ke tubuh Runa dengan wajah pias kemudian mengeluarkan beberapa botol air dari plastik yang disamarkan di balik punggungnya. Botol air tersebut disiram ke seluruh tubuh Runa, ada sekitar tujuh botol dan sanggup membuat tubuh Runa agak basah kuyup.

Bibir bawah Sehun digigit selagi dirinya mulai melakukan CPR dengan menekan-nekan dada Runa serta-merta memberikan napas buatan.

“Sadarlah, Runa, sadar.” ucap Sehun risau, masih dengan melakukan CPR agar denyut nadi, pun jantung Runa kembali seperti orang yang ketika tidur rohnya pergi dan lantas kembali lagi untuk bangun.

Rasanya Sehun sudah ada diambang putus asa ketika Runa tak kunjung kembali padanya. Gerakan menekan dada Sang Dara pun melemah, airmata yang ditahan pun meluncur juga pada akhirnya.

“Uhuk!”

Kurva Sehun melebar dengan rasa bahagia yang tak terbendung, spontan senyum lebarnya pun terukir disaat bersamaan kelopak Runa mengekspos diri dengan menyipit untuk menerima rangsangan.

Mulut Runa terbuka. Akan tetapi satu kata pun tak lolos dari sana, kerongkongannya tercekik dan lekas Sehun menyodorkan botol yang masih utuh pada Runa untuk meludeskan dahaganya. Pun Runa menerimanya tanpa pikir panjang serta-merta meneguknya.

Tatkala Runa mengatur penapasan dengan difargama kembang-kempis, Sehun mengimbuhkan kata: “Kita tidak punya cukup waktu, Runa. Cepat atau lambat, Majesty akan meluncurkan serangan dengan membunuh para petinggi Unity dan rakyat jelata yang tak salah apa-apa. Mereka mengatakan ini upaya supaya sumber daya alam cukup, yaitu dengan membabat para penggunanya menjadi lebih sedikit: membunuh orang-orang tak bersalah. Dan ini perintah langsung dari Raja brengsek negara kita. Selagi mereka tahu kamu mati, kamu akan bergerak, tentu tidak sendiri.”

Per-kalimat yang Oh Sehun tuturkan sedang Runa serap. Tetapi aksara terakhir lah yang menarik lebih perhatian Runa yang refleks menatap wajah Sehun yang tertampar cahaya rembulan dari celah jendela penjara nan dingin, wajah yang mengukir sebuah senyum.

Senyum yang disaratkan bahwa Sehun akan membelot dengan membantu Runa.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ♪ ║█║

Bersama kabut malam dengan berpayung sinar bulan nan minim, sepasang kekasih itu menyeludup keluar dari penjara. Sebagaimana Sehun mengenal organ tubuhnya dengan baik, pun begitupula Runa, keduanya bisa dengan mudah keluar dari chateau keluarga Oh menggunakan selak-beluk jalan rahasia yang tak terjamah. Tak butuh waktu lama, kini keduanya sudah berada di luar dengan desing mobil Sehun mengawani, sengaja pemuda itu meletakan mobilnya di dekat jalan rahasia.

“Jadi, apa yang akan kita lakukan?” Runa mengutar tanya sekaligus membuka konversasi, diliriknya Sehun yang serius menyetir di sampingnya.

Tanpa mengalihkan tatapan, Sehun menjawab, “Sementara ini mencari tempat persembunyian,” setirnya dibelokan ke kiri. Runa memperhatikan jalannya yang amat familiar, pun spontan dirinya mengerutkan kening. “Kemudian menyusun rencana.”

Runa yang merasa familiar akan jalan tersebut dan berusaha mengingat-ingat dengan alis menukik menjadi satu, hanya menyisir pandang ke depan tanpa merespon jawaban Sehun. Setelah mendapat jawaban, mata Runa membola.

“Tunggu!” seru Runa, menatap Sehun masih dengan mata melebarnya sedang jaka itu masih gontai menyetir. “Ini jalan menuju Gwangju, jangan bilang kamu—“

“—Ya, aku akan menggunakan rumah tak terurus milik kawanmu, Kim Hyerim.” seloroh Sehun dengan kalem.

Runa kaget, tentu saja. Tapi omong-omong Kim Hyerim yang disinggung, Runa jadi mempertanyakan gadis itu dan segera lidahnya berlisan.

“Lalu? Bagaimana Kim Hyerim?”

Dapat Runa lihat, tubuh Sehun menegang. Dalam hati, Runa merapal asa jika gadis Kim itu belum mati.

“Dia belum mati,” tutur Sehun seakan bisa membaca pemikiran Runa, tanpa menatapnya sama sekali. Hendak Runa merealisaikan leganya dengan mengembus napas— “Orangtuanya yang mati dan dia disekap oleh seorang Majesty yang biasa kami perintahkan untuk memburu, seorang chasseur bernama Luhan. Kamu mungkin pernah sekilas mendengar tentangnya.” —tapi diurungkan setelah Sehun menambahkan.

Sontak Runa diselimuti perasaan khawatir.

“Apa kita bisa menyelamatkannya?”

“Bisa. Tapi kuyakin dia tetap akan hidup.”

Mendengarnya, Runa mengernyit. “Bagaimana mungkin?” kelakar Runa, ditatapinya paras samping Sehun dengan alis menyatu. “Bukannya kamu bilang dia bersama seorang chasseur dari Majesty? Dia bisa dibunuh kapanpun.”

Janggalnya, alih-alih respon serius, Sehun malahan mendengus menahan senyuman.

“Aku juga berpikir seperti itu mengingat Luhan adalah chasseur terkeji di ordo. Tetapi ada satu ciri khas darinya,” sedang alis Runa menukik, Sehun meliriknya dengan senyuman lalu kembali berfokus ke jalanan lenggang di depannya. “Luhan tidak akan setengah-setengah dalam membunuh. Jika dia bisa membunuh dua burung dengan satu batu, dia akan melakukannya, tidak bertele-tele. Harusnya Kim Hyerim mati dengan orangtuanya kemarin. Tapi itu tidak terjadi.”

Benar juga, Runa dibelit bingung jadinya. “Lalu? Kenapa dia tidak membunuh sekalian Kim Hyerim?”

Tersungging senyum tipis Sehun mendengarnya. “Karena dia cantik, menurutku sih,” sontak membuat Runa meliriknya tajam. Lekas jaka Oh ini menyengir. “Tapi bagiku lebih cantik dirimu kok,” alih-alih tersipu, bola mata Runa berputar jengah. “Ya, aku tidak tahu alasan spesifiknya apa. Tapi bukannya menyerahkan Hyerim pada plus vieux yang ada di sana atau langsung membunuhnya, Luhan malah membawanya dan menjadikannya tawanan pribadi. Sudah kupastikan dia tertarik pada kawanmu itu.”

Bahu Runa berkedik. “Terserah,” tandasnya. Dirinya hanya cukup memastikan Hyerim tetap bernapas ketika diselamatkan nanti atau setidaknya mereka bisa bertemu dengan entah bagaimana caranya, gadis Kim itu melarikan diri dari Luhan. “Perjalanan kita masih lumayan lama dan aku tidak bisa tidur. Bisa kamu jelaskan beberapa rencana kita?”

Deheman Sehun mengudara disertai anggukan. “Aku tidak tahu bagaimana jalan keluarnya. Tapi yang pasti, kita harus menghentikan pembantaian yang akan Majesty lakukan. Aku dengar, Raja meminta bantuan negara lain juga. Aku yakin kawanmu itu sudah memberi jalan keluarnya, pemikiran Unity untuk mengakhiri semua ini.”

Kelopak Runa mengerjap, ingatannya tergali pada konversasinya dengan Hyerim senja tadi.

“Membunuh Raja…” desis gadis garis Kwon ini, mengangguk-angguk. “kita harus membunuh Raja untuk jalan keluarnya, Sehun.”

—계속 / TBC—

Glosarium :

Tingkat-tingkatan yang ada di ordo :

-Grand Maître = Master Agung/Ketua/Pemimpin.

-Grand Maître Candidat = Calon Master Agung/Ketua/Pemimpin.

  -Plus Vieux = Tertua. Memiliki jabatan tinggi di ordo selain pemimpin. Bisa jadi penasehat Master Agung, wakil, Letjen, dan yang lainnya.

-Chasseur = Pemburu. Semacam intel yang memiliki tugas khusus dalam ordo, biasanya dan lebih seringnya membunuh.

-Troupes = Pasukan. Hanya pasukan biasa dalam ordo.

Oh Sehun

19 y.o

Majesty (Troupes)

Lu Han

23 y.o 

Majesty (Chasseur)


Kwon Runa

18 y.o

Unity (Grand Maître Candidat)


Kim Hyerim

23 y.o

Unity (Troupes)

2 tanggapan untuk “[Sehun Birthday Project] Conlatus Creed #2 — HyeKim”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s