[SEHUN BIRTHDAY PROJECT] D E C I S I O N – trwtd

PicsArt_04-13-10.11.16

D E C I S I O N © trwtd 2018

.

Aera to Sehun
Oneshot for General
Sad-Romance
Related with The Way | Foreigner | A Distance 

 

It will probably be erased
It will probably become faint
We will probably forget each other

-The Way to Break Up [Kyuhyun]-

“Hun-a.”

“Hun-a?”

“Sehun?”

“Oh Sehun?”

Kuhela napas lelah. Ini bukan kali pertama Sehun berlaku serupa. Matanya menatap lurus tanpa fokus. Cukup bagiku menyadari bahwa pikirannya sedang tidak berada di sini. Sudah kucoba untuk memahami, mungkin Sehun memang seperti itu orangnya. Senang berpikir dan tanpa sadar tenggelam dalam pikirannya sendiri. Aku tidak mau mengatakan ini sulit, tapi enggan pula menyebutnya hal mudah.

Jelas, ini menyebalkan.

Aku bukan tipe pemikir seperti Sehun. Aku lebih suka melakukan hal-hal secara spontan.

Jadi, saat aku mendapati diriku tidak merasa nyaman akan sesuatu, aku akan mengatakannya secara gamblang.

“Oh Sehun!” seruan saja tidak pernah cukup untuk membuat fokus lelaki itu tertuju padaku, oleh karenanya aku berseru sambil menggebrak meja yang sejak tadi menjadi pembatas jarak di antara kita.

“Ya?” dia mengerjap lalu mengedarkan pandangan ke sekitar. Orang-orang menatapku heran. Hah, lagi-lagi aku melakukan hal ceroboh di tengah keramaian dan berujung menjadi pusat perhatian.

“Ada apa?” Sehun berbisik lembut disertai senyuman hangat di bibirnya. Tak lupa dia meraih kedua tanganku dan mengusap-usapnya. Tak pernah gagal membuat seluruh organ tubuhku merasa tenang dan damai.

Awalnya, aku menyukai fakta itu, tapi lama-lama aku muak dan benci karena dia Oh Sehun, bukan orang lain.

Dengan berat hati, aku menarik kedua tanganku. Sedikit ganjil, tapi ya sudahlah. Lain kali bisa aku pikirkan penyebabnya.

“Apa yang sedang kamu pikirkan?”

Kedua alisnya bertaut, “Pikirkan? Siapa? Aku? Aku tidak memikirkan apa pun.”

Bohong.

Matanya goyah sesaat lalu.

“Tadi pagi Runa di bawa ke rumah sakit, demam tinggi.”

“O…Oh ya?”

Kulipat kedua tanganku di atas meja dan mencondongkan tubuh ke arahnya. Menatap dengan saksama setiap perubahan ekspresi yang tampak di wajah Sehun.

“Sudah tahu ya?”

Sehun tidak lekas menjawab. Dia meraih gelas bubble tea dan menyeruput isinya.

“Sudah ditengok?

“Belum.” Dia tersenyum tipis, tapi matanya tidak. “Mau menjenguk setelah ini?”

Hah. Benar-benar membuatku muak.

“Sehun, tidak ada hal yang ingin kamu katakan padaku?”

“Ada hal yang kulupakan?’

Mataku berputar untuk menyamarkan emosi sesaat lalu. Seharusnya aku tidak pernah membiarkan semuanya berjalan terlalu lama. Kenapa aku begitu naif dan percaya dengan istilah cinta akan muncul karena terbiasa? Harusnya aku sedikit cermat dan berlapang dada, bahwa sejak awal tak ada pintu hati yang bisa kubuka.

“Ini hari jadi kita yang ke-3.”

“Oh, ya. Tidak terasa sudah selama itu. Bukankah seperti baru kemarin kita—”

“Apa rencanamu?” aku tidak mau mendengar omong kosong dan berakhir dengan putusan yang sama untuk menunggu.

“Rencana apa?”

“Rencananya, aku ingin jatuh cinta padamu berkali-kali. Tapi sepertinya jika kulakukan, itu hanya akan menyakiti diriku sendiri. Bukankah harusnya tidak seperti ini?”

“Aera—”

“Sehun, cinta itu harusnya saling melengkapi, bukan saling menyakiti kan?”

“Aku tidak—”

Aku menggeleng. Menopang dagu seolah berpikir keras.

“Kita belum sampai pada tahap cinta, baru saling suka.”

Aku berharap Sehun akan menyanggah seperti sebelumnya. Tapi seperti biasa, harapanku tidak pernah terwujud jika itu terkait dengan Oh Sehun. Hal konyol apa yang baru kukatakan? Baru saling suka kataku?

HAH.

“Sehun, mari kita berpisah sebelum rasa suka itu berubah jadi luka untuk salah satu di antara kita.”

Hanya orang tolol yang percaya kata-kataku sebelumnya. Mungkin Sehun tidak sepintar yang kupikirkan karena dia percaya begitu saja tanpa banyak bertanya.

3 tahun bersama dan belum sampai pada tahap cinta?

Adakah hal yang lebih lucu dari argumenku ini?

Sehun berbalik sebelum meraih gagang pintu keluar. Dia menatapku sekilas, tampak ragu. Namun pada akhirnya dia tetap melangkah keluar—dari ruangan yang sama denganku, keluar dari hubungan kita yang semu.

Aku tersenyum menatap cangkir latte yang sudah tidak mengepulkan asap. Art di dalamnya juga sudah memudar. Lalu beralih pada gelas bubble tea yang Sehun tinggalkan. Ada titik-titik air di sepanjang sisi gelasnya.

Aku butuh teman bicara, tapi rasa-rasanya jika aku bicara satu kata saja, aku bisa meledak karena rasa kecewa.

Kukira, aku hanya perlu sedikit patah. Tapi faktanya aku sudah pecah.

 

*T A M A T*

HBD Paman sayaaaaaaang ❤
sesungguhnya diri ini lupa wkakak
/Ponakan durhaka/
fiksi ini didedikasikan buat tante Runa.
Noh, sudah dedeq bikin mereka putus! semoga tante berbahagia /HAHA/
Find my other story: Nona Story or Dewita Senja

Satu komentar pada “[SEHUN BIRTHDAY PROJECT] D E C I S I O N – trwtd”

  1. EMANG BRENGSEK KAU KISANAK, ANAK PERAWAN DIMAININ SEENAK UDEL TIGA TAUN WEEH
    tapi aku lagi mood baca baca yang patah patah gini seh jadi sukak wqwq palagi kalimat terakhir, sukakkkk
    dan kenapa malah aku ngebayangin runa lagi sama juhyuk HAHA IYA JAHAT DIKIT BIAR SAYA SENANG TA APA LA
    ya plis udah tiga taun itu lho :’) apa coba, kebetulan aku baru nonton TTM, visualnya goyah ke adipati /nid ah
    mendadak ada versi teman tapi menikah sehun-runa /g runa sama juhyuk ajah/g
    jadi… intinya adalah sehun pergi gitu aja? dia gak nyoba njelasin apa apa sama aera? enak bener yaampun pingin ngebacok 🙂 kesel sama model begitu /nid ah/ bilang sih yang jelas harusnya 😦 kenapasi 😦
    (ini apasi nid)

    intinyaaa…. MAKASEH YAK, SUKA HAHAW AKHIRNYA PUTUS JUGA LU HUN AH

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s