[Sehun Birthday Project] Conlatus Creed #1 – HyeKim

1523519895754

  Conlatus Creed   

  #1 : Différentiel

  EXO`s Oh Sehun, ex-EXO`s Luhan, OC`s Kwon Runa, OC`s Kim Hyerim

  Story with Dystopia, AU, Action, Violance, slight!Romance & Politic rated by PG-17/Mature  type in Mini Series

Disclaim: This story is not suitable for readers under 15 years old. Every real ones belong to their real life and every fake ones belong to their fake appearance. OC(s) included on these stories belongs to: l18hee & HyeKim. The storyline created by: HyeKim and got little inspiration from Assassin`s Creed Unity.

Poster by : l18hee

This story was created and dedicated for:

Sehun & Luhan


Ditengah ombakan kisah pada bumi tahun 2030, ditengah kemerlut resah dengan pertumpahan darah di negeri nan semula damai. Ordo Unity dan Ordo Majesty dengan kredo bersimpangan, mencetuskan perang.

Dan di sini, kedua pemuda dan kedua gadis bersimpuh dengan menyerahkan diri pada conlatus creed yang membentang kisah keempatnya. Survive or not. Hanya dua pilihan ditengah perang politik pertumpahan darah ini.


© 2018 Storyline by HyeKim

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ║█║

PROLOG

2020. Asal-muasal tahun nan mana katastrofi ini meletup ditengah negeri yang semula damai tanpa memakan desingan senjata, pun pertumpahan darah nan keji tiap harinya. Dunia makin tua, tetapi orang silih berganti hidup. Mati dan berbuah lagi, siklus itu terus berputar layaknya roda namun bumi makin tua. Seumpama roda yang terus-menerus diputar hingga berfinal pada kegundulan roda itu sendiri.

Kuingatkan, dunia kian tua sementara presensi manusia membludak tiap tahunnya. Di mana bumi kita terkasih ini sudah ‘sakit’, sulit mencari bahan mentah tuk sekedar menjadi lauk pauk yang tersaji di atas piring yang mana dapat meningkatkan eklarasi air liur para manusia.

Ditengah kesulitan ditengah bumi nan bungkuk, manusia-manusia berbondong-bondong mencari kebutuhan ditengah krisis dunia ini. Siapa cepat, dia dapat. Naas, bukan perihal siapa cepat dia dapat. Namun perihal yang dibawa di sana adalah bila ia beraliran darah biru; konglemerat, petinggi negara, keturunan Raja. Maka dia berhak menerobos menjadi yang pertama, menyampingkan para jelata yang kian kesulitan. Alasannya klise: karena mereka pemimpin, bila pemimpin mereka ‘hilang’ atau mati  ditengah dunia yang bungkuk, maka tidak ada yang memimpin para rakyat yang kesulitan untuk mencapai kesejahteraan lagi. Tetapi alasan tersebut malah menjerumus ke hal yang tak semestinya.

Hal tersebut juga terjadi di Korea Selatan—negara masyur dengan pemerintahan monarki yang masih jaya di abad ini. Jurang antara Si Kaya dan Si Miskin makin saja meluas, amat sangat jauh dan  miris. Dikala ètats ketiga—rakyat jelata—terhuyung-huyung kemiskinan, dehidrasi, pun kelaparan. Ètats pertama dan kedua nan terdiri dari: keluarga kerajaan dan jejeran atas lainnya, menyajikan jamuan mewah dengan senyum merekah, berbalut pakaian bagus, pun riasan yang tersolek luwes.

Hak asasi manusia tinggal nama. Ètats ketiga murka. Angkara mereka meletup-letup hingga berfinal dengan ledakan dahsyat. Mereka menginginkan revolusi, kudeta terhadap raja. Di berbagai negara pun terjadi demikian. Beda halnya dengan Korea Selatan yang dipimpin kerajaan, negara yang tak berbalut sistem monarki juga ingin menggulingkan presiden mereka; atau siapapun yang berkuasa dibalik singgasana kepemimpinan dengan sumpah busuk menjunjung tinggi kesejahteraan rakyat.

Dan ditengah haru biru berbalut katastrofi itulah, beberapa massa berbelah dengan kredo bersimpangan. Kredo yang tidak menginginkan kudeta serta-merta menandaskan kekuasaan kaum biru disebut dengan Ordo Majesty. Sementara kredo yang mengikrarkan kesamarataan dengan kudeta sebagai tancapan disebut dengan Ordo Unity.

Kedua ordo itu mulai berperang; menjadikan negeri damai yang hanya dibelit kesengsaraan harus pasrah menerima desingan peluru dan pertumpahan darah keji. Kedua ordo memiliki kekuatan nan seimbang hingga tidak bisa diterka kapan perang ini berakhir atau bagaimana mereka menjunjung kredo mereka masing-masing untuk ditancapkan dengan mutlak tanpa perlawanan dari yang lain. Sebab nyatanya dunia terlanjur hancur.

║█║♫║█║—CONLATUS CREED—║█║ ║█║

Maret, 2030

Adalah Kwon Runa, gadis delapan belas tahun yang meluncurkan tungkai secara piawai di atas rerumputan hijau kediaman keluarga angkatnya. Tangannya menari-nari luwes dengan pedang terkukung. Gerakan tubuhnya seimbang, pun tak luput dengan maniknya yang setajam elang.

Gauman pedang menari-nari menebas udara menjadi latar belakang gadis bersurai pendek itu. Tubuhnya lihai bergerak-gerak dengan imaji akan musuh nan mengepungnya meskipun realitanya dirinya seorang diri; Runa mengisolasikan dirinya di taman belakang.

Well, ada alasannya, tentu saja. Runa mendekam iri pada Oh Sehun—putra semata wayang keluarga Oh yang telah mengurusnya selama sepuluh tahun. Iri harus disajikan penampilan terampil Sehun dengan pedangnya, pun pistolnya. Dapat bermain-main dengan kedua senjata tersebut, melatih badan hingga piawai dalam pertarungan.

Kwon Runa iri, amat iri. Karena Madame Oh—ibunda Sehun sekaligus pengganti sosok ibunya—menekankan Runa untuk berperilaku selayaknya gadis sejati. Berbalut gaun, bersolek bedak dengan alis tertekuk—mahakarya pensil alis yang menurut Runa membuat alisnya menjadi menyeramkan—, perjamuan minum teh dikalangan gadis belia dan wanita ètats biru, dan paling-paling kesukarannya dalam pelajaran hanyalah pelajaran menghitung; lain halnya dengan Oh Sehun, kesukaran ilmunya adalah bertarung.

Tapi siapa tahu? Dengan kebaikan hati—oh ralat, keangkuhannya—Oh Sehun menyodorkan sebuah ilmu bertarung tersebut pada Runa. Cuma sebatas pamer pada awalnya tetapi disambut serius dengan balutan penuh tekad dari Si Dara manis yang kala itu berusia sembilan tahun.

Sehun adalah mentornya, mentor diam-diamnya hingga Runa seluwes ini dengan pedang serta pistol yang sudah menjadi perlengkapan inti ditengah Kerajaan Korea Selatan yang porakporanda pada tahun 2030.

TANG!

Tabrakan yang terjadi antara pedang dan pedang itu menimbulkan bunyi demikian. Dengan menyugestikan sikap tenang agar tidak membuat diri terpojok jikalau bersitatap dengan lawan yang sesungguhnya, Runa berakting biasa meski kaget merayapinya tatkala tiba-tiba pedang lain muncul menabrak pedangnya.

Sunggingan senyum miring menyapa retina Runa. Senyum menggoda yang sialnya membuat hatinya menghangat. Senyuman yang berasal dari oknum yang menyerongkan pedang ke arahnya dan membuat pedang keduanya berciuman.

Runa balas tersenyum miring. Dia putar tungkainya hingga badannya berputar luwes dan suara ciuman pedang lain terdengar lagi kala Runa menghantamkan badan pedangnya pada badan pedang Sehun. Dwimanik keduanya bersibobrok, saling melempar senyum penuh arti sebelum memulai duel pedang di atas rerumputan hijau.

Sebagai mentor, Sehun merasa takjub dimana Kwon Runa dengan lihai membelokan badan menghindari serangannya, menyapukan pedang ke arahnya dengan pandai. Gerakan tungkai dan tangannya seimbang. Sehun merasa puas, walau dalam sudut hatinya merasa tertinggal sebab sudah dari umur tujuh tahun dirinya berlatih pedang.

Usai berlatih, kedua insan itu berbaring di atas rumput hijau dengan menghirup udara segar musim semi nan damai walau realita mengumandangkan bahwa di luar kediaman megah yang menaungi dua remaja itu sedang terjadi perang berdarah dengan kesengsaraan merajalela persis seperti hama.

Keduanya dengan damai memandangi langit biru lepas yang memayungi mereka. Runa tersenyum disertai kepala berbelok ke sampingnya, tempat Sehun berada. Lalu dara satu itu menggeser tubuh, menjulurkan tangan melingkar di pinggang Sehun lantas berbisik lembut di telinga prianya:

“Aku rindu padamu.”

Terbitlah senyuman hangat Sehun dengan kupu-kupu bertebaran di perutnya. Ia iring tubuhnya menyamping, menyebabkan dirinya dan Sang Kekasih berhadap-hadapan. Tangan kanan Sehun bergeliya lembut di pipi kanan Runa.

Sembari menyemat senyum tak kalah lembut, Oh Sehun beraksara: “Aku juga merindukanmu, Runa.”

Timing berikutnya, ranum keduanya berpangutan menciptakan ciuman lembut di bawah langit musim semi nan damai.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ║█║

Desember, 2020

Desing peluru bersautan. Pecahan kaca bermuncratan. Darah menyiprat. Teriakan mendominasi. Kekacauan terlukis di hadapan obsidian gadis belia yang tengah direngkuh hangat Sang Ibunda—rengkuhan yang tak pernah ia sangka sebagai rengkuhan terakhirnya dari sosok wanita jelita yang berjuang melahirkannya di dunia.

Kwon Runa. Gadis itu masih amat belia saat itu, saat ukiran tahun berada diangka 2020. Dirinya juga tidak paham betul akan katastrofi yang terjalin di luar sana, pun takdir yang kelak menyambutnya dan harus ia terima.

“Madame!” teriakan Mister Ahn menggelegar, banjuran air di wajahnya terlukis pias dengan netra berkilat-kilat ketakutan. “Monsieur… Monsieur Kwon telah tewas.” kelakarannya hanya berdampak akan tubuh Madame Kwon yang kian-kian bergetar memeluk tubuh ringkih putrinya nan ketakutan.

Dan kenaasan menimpa Mister Ahn nan murah hati serta setia itu usai mengumandangkan kematian majikannya; sebuah belati menancap di dahinya. Runa refleks menjerit ketakutan kala dilihatnya dwimanik lelaki yang karap kali menebar senyum dengan kelakaran menyejukan hati padanya, membelalak menyeramkan, darah merembes dari mata ketiganya di dahi, lalu tubuhnya terongok mengenaskan di marmer rumahnya lantas menjadikan beberapa percik darahnya menjadi genangan kolam kecil di sana.

Tangis Runa pecah. Ibunya makin memeluknya erat, merunduk dalam-dalam di bawah sebuah meja emas yang di atas terhias pajangan mahal keluaran benua biru dengan harga menjulang tinggi serta keantikan memanjakan iris.

Pelukan ibunya mengendor sementara suara bising adu pedang dan pistol di luar makin mengaum-ngaum secara bengis. Netra lembut Sang Ibunda menusuk Runa yang terguncang dalam kemerlut takutnya. Bila saja Runa tahu itu kala terakhir ibunya menatap dan tersenyum amat lembut begitu padanya, Runa lebih memilih menghentikan tangis dan merekam lamat-lamat figur ibunda terkasihnya. Akan tetapi sayang, Runa tak tahu, gadis belia itu terus menangis.

Jemari Madame Kwon bergerayang di mahkota legam putrinya yang masa itu masih panjang sepinggul, setia jua senyumannya terkulum.

“Runa,” panggil Madame Kwon, selembut simfoni tetapi putrinya tak gentar dan masih menangis dengan sesegukan. “apapun yang terjadi setelah ini. Ibu hanya ingin kamu bertahan. Bagaimanapun caranya, tetaplah hidup. Dan jungjunglah tinggi cita-cita ayahmu, cita-cita orang yang membutuhkanmu.”

Kala itu ketidakpahaman membelit Runa. Otaknya terperas kuat memikirkan cita-cita yang dimaksud Sang Ibunda. Serta tak sempat utaran tanya diayatkan Runa sebab dirinya malahan sibuk menangis ketakutan alih-alih  menikmati momen yang harusnya sudah ia terka: momen terakhir dengan ibunya.

Tetapi, kepala Runa masih sanggup mencuatkan anggukan dengan derai air mata tanpa mempedulikan mata sembabnya. Madame Kwon tampak puas walau cuma anggukan singkat bin pelan yang merespon wasiatnya, beliau mengusak lembut surai putrinya—

DZING!!

—hingga peluru menancap di tengkuknya, mendorong darah keluar dari mulutnya  dengan manik membelalak menyeramkan. Mata Runa melebar, syok dan terlalu terkejut. Tubuh ibunya mulai ringan, semakin ringan dan keringanan itu menyelunsupkan perasaan perih di hati Runa sebab ia makin merasa ibunya kian jauh serta jauh hingga akhirnya ikut terongok mengenaskan di atas marmer rumahnya.

Tangis Runa pecah, lebih histeris dibanding sebelum-belumnya. Persetan dengan pria bertudung yang menyerongkan mocong pistol padanya. Toh jikalau menyabung nyawa dan memuaskan Malaikat Maut dengan hasil panennya yang bertambah, Runa akan berjumpa dengan kedua orangtuanya, tak masalah baginya karena sudah tak punya tujuan hidup.

DZING! SRASH!

Ketika berserah diri pada kematian dengan menerka akan disarangkan peluru nan menyebarkan kesakitan ke seluruh syaraf tubuhnya. Suara gaduh lain menyusup ke selaput dengar Runa. Lekas-lekas gadis delapan tahun itu berhenti menangis dan memutar leher hanya demi melihat pembunuh ibunya sudah menjadi mayat yang tertembak peluru revolver dan tertebas pedang runcing.

Netra Runa beralih ke sosok penyelamatnya: sosok lelaki setengah baya yang memiliki senyum selembut ayahnya. Monsieur Oh, pria yang kelak mengurusnya hingga sepuluh tahun kedepan.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ║█║

Agustus, 2030

Kalau-kalau waktu diumpamakan secepat kilat, sepertinya tepat. Runa baru selesai bernostalgia, nostalgia yang sesungguhnya tidak menyenangkan: hari dimana ordo—entah ordo apa yang menjadi lawan keluarganya karena Runa masih amat belia jadi tidak tahu-menahu takdirnya bermuara dipihak mana—musuh menyerang keluarga Runa yang memiliki salah satu kekuasaan tertinggi di ordo—Monsieur Oh lah yang mengatakannya, sekaligus hari kedua orangtuanya dibunuh dan dirinya digilir menjadi anak yatim-piatu yang diurus oleh keluarga Oh dalam bimbingan resmi Madame Oh.

“Jadi bagaimana pelantikanmu, Sehun?” sebuah utar tanya dicetuskan Runa ketika sepasang kekasih itu menggeret tungkai di jalanan batu paving di sekitar pekarangan rumah.

Cetusan anggukan ringan Sehun terlaksana, senyum lebar-lebar terpampang di wajahnya.

“Menakjubkan!” tandas Sehun, bertepuk tangan singkat dengan berbinar-binar. Runa hanya mampu menimpali dengan senyum tipis. “Aku anggota resmi Ordo Majesty sekarang. Keren, bukan? Dan kelak akan menggantikan posisi ayahku menjadi Letjen Ordo Majesty diperkirakan sepuluh tahun lagi bila tidak terjadi sesuatu.”

Ya, terjadi sesuatu disini ialah nyawa yang ditebas. Bila ayah Sehun—Monsieur Oh—gugur, terpaksa ditengah kabung duka, Sehun menjadi Letjen Ordo Majesty.

“Tentu, keren sekali,” komentar Runa seraya membetulkan sarung tangan kainnya yang diselipi pangkal pedangnya—well, pedang zaman sekarang itu berbeda, kita bisa menyembunyikan badan pedangnya dengan menekan tombol yang ada di pangkal pedang serta menyisakan pangkalnya saja dan itu memudahkan pedang disembunyikan, salah satunya dengan diseludupkan di sarung tangan kain.

“Andai aku sebaya denganmu. Andai aku satu tahun lebih dulu lahir, aku juga pasti dilantik menjadi Majesty hari ini, bukan?” imbuh Runa, kepalanya bertumpu pada Sehun dengan berlandasan perasaan iri mengoyak.

Ya, Oh Sehun berusia sembilan belas. Sedang Runa setahun dibawahnya. Anggota yang resmi dilantik di ordo ialah pada usia sembilan belas tahun, tepat usia Sehun saat ini.

Kala melintasi labirin yang terbuat dari tumbuhan, “Apa kamu yakin akan menjadi Majesty, Mademoiselle Kwon?” Sehun bersajak demikian dengan mata berkerling mengamati ekspresi Runa yang berkerut.

Runa menengok ke arahnya. “Tentu,” seloroh Si Dara, keyakinan terpancar dari anggukan kuatnya. “ayahmu menyelamatkan aku. Jadi aku sudah menarik kesimpulan, keluargaku berada di Ordo Majesty, bukan Unity. Lagipula kami berada dikaum bangsawan walau well, tak semua bangsawan berada di Majesty begitupula rakyat jelata tak semua ada di Unity karena ingin derajatnya diangkat dan hidup enak ditengah dunia yang makin sakit ini.

“Kenapa kamu harus menanyakan hal itu, Sehun? Aku sudah besar selama sepuluh tahun dibawah didikan ayah dan ibumu; dibawah didikan Majesty. Sudah sepantasnya aku bergabung dalam ordo, bukan begitu?”

Raut heran Runa tergambar di parasnya yang sekon ini menatap lurus-lurus Sehun yang mengulas senyum simpul serta mengangguk-angguk.

“Benar, sayangku, cintaku, kasihku. Benar sekali,” ucap Sehun membuat Runa mendelik kendati rona merah menyiram pipinya. “Kamu sudah semestinya masuk ordo kami. Harus,” penegasan aksara Sehun malahan membuat Runa menyikukan alis dengan dipupuki rasa janggal. “Dan yang pasti, ingatlah aku selalu mencintaimu.”

Wah, Oh Sehun benar-benar lancang telah membuat Kwon Runa berada ditingkat kewarasan dibawah dengan jantung tak sehat akan frasa cinta yang sejujurnya sering tervokalkan.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ║█║

Gesekan ban mobil serta motor dengan desing mesin halusnya membelah jalanan kota Seoul yang bisa dikategorikan tidak tertata: sebagian hancur hasil dari berbagai gencatan antara dua ordo sementara Raja malahan bersikap pengecut dengan mengisolasikan diri di tempat tak terjangkau dan masih memimpin dalam bayangan.

Beberapa sepatu kuda—kuda terbuat dari besi yang bahan bakarnya diisi dengan dicharger guna menanggulangi bahan bakar yang mulai menipis. Ingat, bumi sudah sakit—bertabrakan dengan jalanan aspal yang geradakan tersebut. Kuda besi banyak dipakai karena lebih awet bahan bakarnya dan juga dapat mengirit persediaan bensin. Jadi semacam di tahun 2030 menggeret kita kembali ke tahun 1780-an, dimana marak sekali kereta kuda di jalanan walau zaman kini berbaur dengan mobil serta motor yang kian canggih saja.

Di atas pelana kuda besinya, pahat rupawan Oh Sehun terduduk dengan menarik tali kekang dan mengiringnya—menyetir kuda besinya—ke suatu gang kumuh yang jauh dari hiruk pikuk ramai kota. Batu-batu paving menyambut jalanan sepatu kudanya yang berdentuman keras ke penjuru gang yang dikelilingi apartemen dengan serambi-serambi kumuh, di mana berpijak beberapa orang berpakaian biasa—sepertinya dari ètats tiga yang tidak punya kuasa dalam Ordo Unity sebab berlakon biasa saat Sehun melintas dengan pakaian ‘agak’ mewah dan cuma menatap aneh Sehun—dan jaka satu itu tak mengubris tatapan yang terhunus padanya, alih-alih peduli akan tatapan penuh minat, Sehun selalu sedia meraih pangkal pedangnya yang terselip di ikat pinggangnya.

Sebuah pondok di tepian kota menjadi tujuan Sehun. Dirinya menarik tali kekang kuda lalu menekan tombol stop di leher kudanya setelah memarkirkan kudanya di pekarangan pondok yang lumayan terurus itu. Sepatu pantofel Sehun menyentuh tanah, merajut langkah menuju pintu pondok kemudian mengetuknya.

CKLEK.

Si pembatas antara Sehun dengan sisi dalam pondok pun dibukakan oleh seorang pemuda yang beberapa meter tingginya dibawah dirinya yang sangat jangkung, pun wajahnya yang dingin tidak sedatar mimik Oh Sehun.

“Ah, ternyata dirimu, Sir,” sambut pemuda yang bisa diklaim sebagai pemilik pondok—walau nyatanya pondok tersebut didapatkannya setelah membunuh pemilik aslinya yang berpegang teguh pada kredo  Unity—tanpa mengubah raut muka tanpa ekpresinya.

“Masuklah, Monsieur.” kata pemuda pemilik pondok, badannya menyingkir ke samping menciptakan celah agar Sehun melesatkan badan masuk ke pondoknya yang di dalamnya sudah sebelas-dua belas dengan penjara—baik suasana ataupun alat-alat menyiksa di situ, diperjelas pondok ini sepertinya biasa dipakai menyekap orang dibanding menjadi tempat tinggal sepantasnya.

Tubuh Sehun melesat masuk, diekori pemuda pemilik pondok setelah sebelumnya menutup pintu yang langsung otomatis terkunci meski kunci tidak diputar karena dari luar orang tidak bisa membukanya kecuali dari dalam bila kunci tidak diputar.

Dua spesies jantan itu membanting bokong di kursi dengan sampanye mengawani. Si Jaka Oh meneguk sampanyenya. Pemuda pemilik pondok yang bisa kita sebut sebagai Luhan, melakukan hal serupa.

Selagi menuang botol sampanye ke gelasnya, Luhan berkasara, “Tumben kamu datang, Sehun,” tanpa menggunakan formalitas seperti beberapa timing nan lalu, dia lirik Sehun dengan alis berjungkit kemudian meneguk sampanyenya. “Apa kamu ingin mendongengkan ceritamu tentang Runa? Kalian berkelahi lagi?”

Tatapan mengolok Luhan dilemparkan kepada Sehun yang dengan refleks mendengus bersamaan dengan tatapan memicingnya. Yah, Luhan semacam human diary antara kisah-kisah elegi serta euforia pasangan tersebut. Apalagi keduanya karap kali beraksi kekanak-kanakan yang meletuskan pertikaian tak mutu dihubungan keduanya.

“Bukan, tapi hampir mendekati—maksudku, ini masih tentang Runa,” ujar Sehun, digaruk tengkuknya dimasa jakunnya ikut naik-turun berserta senyum canggungnya terulas. Tatapan lurus-lurus dilayangkan Sehun pada Luhan yang sejak tadi menatapnya dalam. “Kamu tahu maksudku, bukan?”

Deheman Luhan mengudara, posisi duduknya dibenahi, anggukan teraksikan.

“Aku sudah menemukan le trésor tersebut. Le trésor akan kebenaran sepuluh tahun lalu atas penyerangan kediaman Monsieur Kwon Ruddock yang menewaskannya serta istrinya, Helena.” pungkas Luhan dengan bersidekap serius membuat Sehun membola dengan mendekatkan wajah ke wajah Luhan.

“Lalu? Bagaimana?” desak Sehun, seperti tengah dikejar massa yang hendak menggilirnya ke tali gantung karena sudah melakukan perbuatan hina.

Luhan melemaskan jemari-jemarinya, seringaiannya nampak dengan binar obsidian misterius yang mana meningkatkan hasrat terdesak Sehun yang menjilat bibir atas dan bawahnya berulang kali.

Punggung Luhan berbantingan dengan punggung kursi, kepalanya teriring agak mendongak dengan raut santai.

“Menarik,” selorohnya, angguk-mengangguk kepalanya sedang dilakoni. Detik berikut netranya terserong ke arah Sehun yang mukanya terus mendesaknya untuk berlisan lebih rinci. “Le trèsor yang berisikan wasiat tangan Kwon Ruddock dengan barang bukti mutlak bahwa Runa berada di Ordo Unity ada ditangan seorang petani, petani di kota Gwangju yang bernama Kim Taejun yang benar-benar seperti petani biasa padahal dia sangat ‘luar biasa’.”

Kelegaan agak terpancar dari muka Sehun, bahunya bisa melemas serta  punggungnya bertabrakan dengan punggung kursi, pun binar mata mendesaknya berganti menjadi binar mata serius—dimana otaknya sedang memutar-mutar mencari kunci jawaban.

Iris Sehun terangkat menghunus Luhan dalam, lalu dirinya berlisan, “Kamu tahu tempat tinggal petani itu? Petani yang diam-diam orang penting di Unity?” Luhan merespon dengan anggukannya sembari menyesap sampanyenya nikmat lalu mendesis seraya memejamkan mata akan kadar alkohol yang menyerangnya. “Kalau begitu lekas-lekaslah kamu lakukan attaquer, Luhan untuk membinasakan le trèsor tersebut. Orangtuaku sudah cukup gelisah saat tahu ada le trèsor yang masih tersisa akan kejadian itu. Bunuh anggota keluarga Kim Taejun, habisi semuanya tanpa sisa, paham?”

Senyum miring Luhan tersungging, merasa diremehkan karena tanpa Sehun menegaskan dengan menatap lurus-lurus begitu, Luhan sudah paham untuk membabat habis keluarga petani itu dengan tangan dingin. Ayolah, ini bukan kala pertama dirinya membunuh.

Luhan meneguk sampanye terakhirnya, mengangkat gelasnya dengan senyum paksanya. “Tentu, Sir. Aku pembunuh handal di ordo, ingat? Kita sudah berhasil merangkul Kwon Runa ke ordo kita. Ya nyaris sebab dia belum dilantik karena usianya. Jadi tenang, kita bisa memenangkan perang ini sebab kita merangkul Kwon Runa.”

Ya, pada nyatanya, Runa bukan berada di ordo dengan kredo yang sama dengan Sehun berserta keluarganya. Malah sebaliknya, Runa berada di ordo yang menyimpang dengan kredo yang dijungjung tinggi keluarga Sehun: Ordo Unity.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ║█║

Oranye yang berbinar di ufuk barat menandakan sore hendak lenyap. Mentari akan meredupkan sinar meski pertumpahan darah sama sekali tidak meredup sedikit pun. Dan dibalik pertumpahan darah tersebut, Raja dengan nyaman berjamu makan malam—perilaku yang sangat brengsek, bukan?

Dan hal tersebut jua terjalin di kediaman keluarga Oh. Tenang tanpa porakporanda—atau mungkin belum? Sebab penyerangan bisa kapanpun terjadi. Dan di satu ruangan dengan meredupkan lampu, bergelut dalam kabut gelap, Sehun terpekur seraya membolak-balik jurnal berisikan gagasan lugas Kwon Ruddock—mendiang ayah kekasihnya, Master Agung Unity—yang Luhan berikan padanya diakhir perjumpaan keduanya pagi tadi.

“Sehun,” vokal lembut menerobos kabut gelap bin hening dalam ruang pribadinya. Sontak Sehun lekas-lekas menyembunyikan jurnal di balik laci dan mengedar ke arah suara. Ibunda terkasih tengah berpijak dengan senyum tipis yang kentara dibalik gulita. “Bagaimana perkembangan Runa?” tanya Madame Oh, tungkainya menyusuri marmer kamar putranya, lengannya meraih saklar yang lekas menderangkan lampu-lampu.

Punggung Sehun menegak, senyuman terulas di parasnya. “Amat pesat, Mama,” respon Sehun dengan mimik puas nan menular kepada ibunya yang sekon ini terduduk nyaman di atas ranjang king sizenya. “Latihan berpedangnya amat lihai, pemahamannya akan pistol juga amat luwes. Sesuai takdir yang mendarahdaging dalam dirinya.”

Aura intimidasi dibalik paras lembut tersalurkan dari Madame Oh yang refleks menusuk tatap pada Sehun kala mendengar aksara yang dilontar lisan putranya.

“Takdirnya yang harus diubah,” serobot Madame Oh. Meski mengutarkannya dengan lembut, ketajaman ternguar dari aura ibundanya menyebabkan bibir Sehun terbungkam. “Le trèsor yang tersisa itu sudah kamu temukan, bukan? Sementara itu, Runa sudah dibimbing oleh kita pada takdir yang berbeda. Pemahamannya akan ordo sejalan dengan pemahaman kita. Ingat, ordo kita bisa menang dengan menggandengnya. Ketika dirinya dilantik, mocong pistol kitalah yang teracung kepada Unity yang terpaku dengan tangan kosong.

“Kamu mencintai Runa, ‘kan, Nak? Kamu harus konsisten dalam dirimu, jangan lengah bahwa Runa sudah seharusnya menjalani takdir seperti ini. Memang kejam merengut orangtuanya, kejam menutupi jalan yang orangtuanya bentangkan padanya.” seloroh Madame Oh, lekat-lekat maniknya menerobos obsidian Sehun.

Bagaimana ibunya tahu jika Sehun tengah bimbang? Alasannya sederhana: jurnal Kwon Ruddock atas gagasannya membuat Sehun berpikir. Sebagaimana Sang Master Agung yang meninggal amat naas itu jungjungkan: seharusnya para umat bersatu ditengah bumi yang sakit, bersama-sama memangkas hama yang membuat orang lain sengsara. Bukan bertentangan jalan, seharusnya kedua ordo bersatu dengan menggulingkan raja kemudian menyamaratakan hak dan saling membantu.

“Aku ibumu, Sehun,” kelakar Madame Oh selagi membetulkan sarung tangannya yang besemayam belati di dalamnya. Sehun diterjang keterpakuan, matanya mengedip-ngedip sedang Madame Oh menyungging senyum tipis. “Aku tahu keresahan dan keraguanmu. Intinya, kamu harus yakin bahwa ayah juga ibu memberikan jalan yang terbaik untukmu, untuk kita, pun Runa. Pastikan dia berada dibawah pengaruh ordo kita dan tetaplah latih dia bertarung—yang selama ini dia kira aku tidak tahu padahal aku yang menyuruhmu,”

Tubuh Madame Oh beranjak. Sebelum raib dari kamar Sehun, beliau melongok ke belakang dengan senyum simpul.

“Kamu ada jadwal kencan dengan Runa, ‘kan? Dia sudah menunggu dari tadi. Dan kuharap kamu membawanya ke tempat yang layak. Dia tidak pernah keluar saat kecil dan bisa jadi terkejut akan keadaan sekitar sebagaimana kamu akhir-akhir ini laporkan padaku.”

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ║█║

Naas. Lubang-lubang sudah menjadi mahakarya di aspal ditambahi bumbu darah manusia di atasnya. Serpih-serpihan bangunan merajalela di pesisir pendestrian. Kwon Runa hanya bisa menatapinya miris. Ini resiko perang, namun hatinya tetap berdenyut sakit bila melihatnya lagi dan lagi walau tiap hari sudah layaknya sarapan lah pemandangan seperti itu.

Dilihat oleh Runa, orang-orang terseok dengan luka-luka di sekujur tubuh bahkan anak-anak belia pun harus berlumur darah dengan tangisan yang menyalurkan hasrat sakitnya. Runa tersenyum pedih menontoninya.

“Sudah, jangan dilihat,” intrupsi Sehun di sebelahnya, tepat di kursi supir. Tak menurut, Runa setia menaruh fokus pada keadaan sekitar yang porakporanda. “kamu dengan mentalmu yang begitu, tidak pantas masuk ordo. Dikit-dikit mengiba pada efek perang. Jika kamu punya mental begitu, kamu tidak punya kekuatan untuk membunuh dan malahan akan terbunuh.”

Napas Runa terhela saat Sehun mengikrarkan aksara yang sama.

“Apa kamu tidak iba?” ucap Runa, kepalanya berserong ke arah Sehun yang menukikan sebelah alisnya. “Anak-anak belia di luar sana juga menjadi korban, Sehun. Aku sudah bilang berapa kali, ‘kan? Tidak masalah membunuh orang dalam ordo yang bersebrangan, tapi aku tidak tega kita berperang ditengah massa yang tak tahu apa-apa.”

Olokan terbit dalam senyum jaka Oh tersebut, berbanding terbalik dengan getaran di hatinya yang setuju akan ucapan Runa—bisa dikata ini efek membaca gagasan persatuan dengan menghentikan perang dari jurnal mendiang ayah dara Kwon ini.

“Anak-anak itu tidak terlibat?” ketus Sehun, kelereng matanya berputar. “Mereka secara tidak langsung anggota Ordo Unity, ètats bawah.” Sehun sejujurnya cuma mengutip kata-kata ibunya perihal anak-anak belia yang sangat menyedihkan itu.

Menyalin perilaku kekasihnya, Kwon Runa turut memutar biji maniknya dengan helaan napas berat.

“Ya sudah, terserah.” pungkas Runa, membanting punggung di jok mobil yang mengalasi bokongnya.

Dirinya letih berdebat hal yang sama dengan Sehun. Ini bukan kala pertama ketika beberapa bulan terakhir sebelum pelantikan Sehun, keduanya karap kali bersetapak atau berkemudi di jalanan yang habis menumpahkan darah dan banyak retina Runa lihat anak-anak belia yang terluka. Dia memang yakin akan kredo Majesty, sebagaimana dirinya akan menyerahkan takdir dalam ordo namun tidak dengan menyakiti anak-anak belia.

Desing mesin mobil berlabuh di dekat sebuah bistro—tempat kencan pasangan kekasih itu. Tatkala keduanya mengayunkan tungkai keluar, bising-bising dalam bistro mengusik Runa dan Sehun yang terpekur di sebelah masing-masing pintu mobil kemudian seorang anak perempuan berusia sekitar tujuh tahun terlempar dari dalam bistro, bersimpuh di atas pendestrian dengan tatapan mengiba.

Sementara itu, seorang lelaki berpakaian koki keluar dengan belati teracung nan mana mengedikan bulu kuduk Runa. Angkara terlukis keras di raut Si Koki.

“Hei! Sudah kukatakan ini tempat untuk para Majesty bukan kaum bawahan sepertimu!” hardik Si Koki secara tega menendang anak perempuan tersebut yang nyatanya ketahuan mencuri di dapur.

Manik Runa membelalak, pun Sehun. Kala Si Koki mulai menginjak-injak anak malang itu, Runa hendak beranjak namun tercekal lengannya oleh Sehun. Diberi tatapan bersirat tanya, Sehun hanya menggeleng pada Runa.

“Jangan,” tukas Sehun sementara koki tersebut membabi buta menendang, pun menginjak-injak anak dari ètats bawah itu yang menjerit serta-merta melolongkan tangis. Keadaan sekitar yang disesaki kaum biru malahan bersorak-sorak, sudah tak punya welas kasihan sama sekali. “Jika kamu membelanya, kamu secara tidak langsung berkhianat. Ingat, ini sering terjadi. Bahkan kaum bangsawan dikeroyok massa yang nyatanya ètats bawah saat sedang mengisi besin di pom bensin biasa karena bahan bakarnya terlanjur habis. Seakan salah tempat berarti menjerumuskan diri ke neraka. Bila kaum bangsawan mendekam di tempat kaum biasa, dia mati, begitupun sebaliknya seperti anak itu, dia berhak menerimanya.”

Omong kosong macam apa itu? Oh, bukan omong kosong, itu realitanya. Tetapi sebagai gadis rumahan, Runa jarang mengintai keadaan sekitar. Persis Rapunzel yang terjebak di menara yang dibangun oleh keluarga Oh—keluarga Oh mengurungnya karena takut Runa ditemui Ordo Unity, untuk sekedar informasi. Jadi saat Runa sering diajak kencan di luar oleh Sehun akhir-akhir ini, dia syok akan keadaan yang terjadi di balik semilir tenang dinding mansion yang menaunginya selama ini.

“Tapi dia anak-anak, Sehun,” sembur Runa, tidak terima dan berusaha memutuskan belengu tangan Sehun di lengannya tetapi tak membuahkan hasil.

Lolongan jeritan nyeri anak malang itu kian-kian berdengung di tengah kemerlut kaum Majesty yang bereuforia akan tontonan tersebut, disebabkan oleh koki yang menyayat-nyayat pergelangan lengan Si Anak dengan senyum psikopat.

“Apakah adil jika anak-anak yang mencuri karena kelaparan dibunuh keji dan tak layak?” tuntut Runa dengan pelototan, membuat Sehun gundah.

Kegundahannya, Sehun hempaskan. Matanya bersibobrok tegas pada obsidian Runa.

“Mereka juga membunuh anak-anak dari ètats kita!” bass Sehun berbarengan dengan jeritan terkeras yang terngaum dari Si Anak Unity yang ditusukan pisau di perut, merenggang nyawa dengan mata membelalak.

Berdasari keletihan yang memerasnya, Runa lagi-lagi mengeluarkan gas karbonnya lalu melepaskan cekalan tangan Sehun di pergelangannya yang telah mengendor kala kericuhan di sekitar keduanya redup setelah anak malang ètats ketiga tersebut dijemput Malaikat Maut.

Kornea Runa kosong menatap mayat nan terongok tersebut digilir lelaki ètats kedua secara brengsek, membiarkan darah menjadi karpet baru di pendestrian.

“Aku tidak menyangka. Perang antara kedua ordo berdampak seperti ini.” gumam Runa, beranjak dan membatalkan rencana kencannya dengan Sehun secara sepihak setelah raib di gang sebelah bistro.

Di tempatnya, Sehun menghela napas sembari menunduk.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ║█║

Hiruk pikuk bistro di sekitarnya, tak Oh Sehun perhatikan sebab jemarinya bersemayam di sela-sela kertas yang ditorehkan tulisan bertinta hitam oleh Kwon Ruddock. Jurnal mendiang ayah Runa itu lagi-lagi Sehun sisiri isinya, menyerapi aksara-peraksara yang dia baca.

Setelah paman pergi, kurasa ini jalanku untuk diangkat menjadi Master Agung selagi paman tidak punya keturunan. Namun, kredo baru ingin kubentang. Selayak nama ordo kita, unity: kesatuan. Maka aku ingin menukaskan kesatuan para massa tanpa jurang yang mencetuskan pertumpahan darah. Perang amat meletihkan bagiku, sebab ordo yang berserbrangan kredonya beranggotakan keluarga sendiri.

Jadi, bagaimana bila kita hentikan…., hentikan saja perang ini. Ya, perang ini. Kita satukan kedua ordo untuk silih membantu, tidak egois dengan urusan masing-masing. Kita tebas akar permasalahan yang membuat kredo bertentangan terjadi, kita kudeta saja Raja atau para pemimpin. Kita buat peraturan baru, kita satukan kekuatan kita tanpa tumpah darah.

Aku letih, hanya itu. Aku juga mengiba pada nyawa yang terengut dalam keegoisan kita menjungjung tinggi kredo masing-masing. Sebelum terlambat, sebelum kita berperang selama bertahun-tahun, alangkah lebih baiknya kita sadar untuk bersatu.

—Oktober, 2020.

Tangan Sehun meraba tulisan penuh kelugasan tersebut, seakan merasakan jiwa terketir Monsieur Kwon didalamnya tatkala menuahkan gagasannya itu. Hati, perasaan, jiwa, otak, pemikiran Sehun seakan terhisap kedalamnya. Sebagaimana lakon Runa beberapa menit lalu. Sehun juga merasa ada baiknya perang ini dihentikan sebab sudah sepuluh tahun terjadi nan mana daftar nyawa yang tertebas sudah amat banyak.

Andai kata orangtuanya tidak membunuh orangtua Runa, mungkin pertumpahan darah kental antara Majesty dan Unity tidak seerat ini. Jika demikian, Monsieur Kwon masih bernapas dan menukaskan persatuan, pun mungkin tahun sekarang: 2030, tidak akan berakhir makin mengenaskan seperti sekarang.

KRANG!!

Kyaa!!”

Terpecahnya salah satu kaca bistro merupakan awal mula kericuhan lain tercetus. Para golongan biru yang ada di dalam bistro otomatis bersembunyi dengan merunduk di balik meja, tak terkecuali Sehun. Dapat ujung maniknya rangkum, massa berpenampilan khas ètats ketiga bersebaran di pendestrian depan bistro sambil mengacungkan: pistol, belati, pedang, pun revolver yang cuma sebagian saja yang memilikinya dikaum mereka.

Salah satu pemuda dengan pistol putar berlaras tiga diacung-acungkan, naik ke kursi bistro yang terpajang apik di depan. Mukanya mengerut penuh amarah, pun dendam kemudian dia berorasi dengan lantang.

“Mereka telah membunuh anak berumur tujuh tahun dari ordo kita!”

Munafik. Padahal mereka juga sama, membunuh anak tak bersalah dari ordo kita.

Hati Sehun menggumam, setia pada posisi merunduk dengan tangan meraih pistol di balik ikat pinggangnya.

“Kita harus membalaskannya!” ucap pria itu lagi, mengompori serta disambut sorakan bersemangat dari massa ètats ketiga.

Timing-timing berikut, bistro mewah tersebut segera diserang. Kursi dan meja terbalik. Kaca pecah. Beberapa golongan biru nan tak berdaya disandera, disiksa tak layak seperti Si Anak tujuh tahun beberapa waktu lalu: diinjak, dijambak, dipukuli, ditendang dengan tawa puas ètats ketiga. Tetapi bukan hanya kesenangan semata dari golongan ketiga saja, golongan atas yang merasa ini wilayah mereka tak tinggal diam. Desing peluru kemudian menyambut liang dengar, Sehun juga turut berkabung dalam aksi tembak-tembakan tersebut. Tak luput ciuman dari pedang pun menggema dalam kabut pertarungan.

Bercak darah menjadi sungai baru, anyirnya seakan parfume yang dibubuhkan di sana. Mayat-mayat nan terongok seakan bibit baru untuk menanam di pendestrian yang mendadak jadi karpet merah berbalut darah.

BRAKK!!

Dwimanik Sehun membelalak tatkala dilihat figur Kwon Runa muncul, tungkainya mendarat di perut salah satu bajingan ètats ketiga. Tubuhnya secara piawai berputar lalu menyarangkan tamparan dengan ujung kakinya di wajah bajingan tersebut yang lekas tumbang di atas ‘karpet merah’ pendestrian. Dalam hati Sehun mengucapkan kekagumannya akan kelincahan Runa yang sudah bergelut dengan adu pedang dengan para Unity.

Namun, ditengah kesibukannya bertarung melawan pria berkumis tipis, Runa tak sadar akan sosok bertudung—yang Sehun yakini perempuan dari postur tubuh ramping dan beberapa helai surai nan mencuat di balik tudung gelapnya—mendekati Runa dengan memacu lari serta-merta kedua pedang pendek di kedua genggamannya.

Cengkeng mata Sehun melebar, panik mendadak. “Runa!” hanya itu yang lolos dari Sehun diotaf tinggi.

Sayang, oh sayang, gadis garis Kwon itu tak sampai tuk mendengar panggilan mengintrupsi dari Sang Kekasih. Runa terlalu larut akan pertarungan pertamanya yang dia akhiri dengan menusukan pedang ke mulut musuhnya yang lekas membelalak dengan darah merembes dari mulutnya persis seperti air terjun.

Dan sosok bertudung sudah ada tepat di belakang Runa dan tanpa mengizinkan Runa menarik pedangnya dari mulut musuhnya yang sudah tak bernyawa, sosok bertudung itu melesat secepat cahaya di samping Runa, membentangkan kedua tangannya nan mengukung pedang pendeknya lalu menorehkan luka di pinggang Runa. Hanya sebatas luka segaris yang sebelah mata memandang menganggapnya sepele.

Tercenggang, Runa merasakannya dengan maniknya yang melebar kemudian dapat dia lihat perempuan bertudung itu tersenyum penuh arti alih-alih tersenyum miring menyiratkan hasrat puasnya. Maniknya dengan manik penyerangnya bersibobrok. Runa kehilangan ekuilibriumnya dan nyaris punggungnya menyentuh pendetsrian berkarpet darah itu jikalau Si Perempuan Bertudung tidak meraih punggungnya dan menatapnya lekat-lekat.

Waktu seakan berhenti bagi Runa dan berjalan sangat cepat ketika gadis bertudung menariknya berdiri tegak, mengembalikan ekuilibriumnya kemudian secepat cheetah berlari, tenggelam dalam kabut massa yang sibuk bertarung dengan ujung jubah berkibar-kibar.

Manik Runa baru berkedip ketika punggung gadis itu hilang ditelan massa yang seketika berhenti bertarung sebab pasukan tambahan dari Ordo Majesty datang, membuat massa beranggotakan Ordo Unity pun mundur menyerah secara teratur dengan cepat-cepat dibanding tertangkap pasukan Majesty yang sudah pasti akan menyiksa mereka hingga ajal mengulurkan tangan dengan senantiasa.

“Runa! Runa!” seruan khas Oh Sehun menyadarkan Runa. Lehernya tersetir ke samping dan mendapat rengut khawatir Sehun yang sekarang sibuk mencekal bahunya dan menyensornya dari atas hingga bawah. “Kamu baik-baik saja?” tanya Sehun lalu baru sadar ada kelecetan di pinggang gadisnya. “Ya Tuhan! Pinggangmu terluka!”

Tetapi gerakan Sehun selanjutnya yang menuntun Runa ke mobil tidak terlalu diperhatikan Sang Dara yang jiwanya tengah berkeliaran ke hal lain.

║█║♫║█║♪ ║█║♫ ║█║ ║█║

Resah. Hanya itu yang Runa rasa setelah insiden yang dialaminya siang tadi di depan bistro yang sudah disulap menjadi sungai darah. Manik Runa berpendar ke sekeliling ruang tidurnya, bokongnya secara nyaman duduk di atas seprai kasur, sedang pikirannya berselancar jauh kepada biji mata perempuan bertudung yang menyerangnya. Tatapan perempuan itu bersirat banyak arti, rasanya ganjal seumpama dengan jarak sedekat itu hanya melukai pinggang dan berbicara dalam pandangan.

Leher Runa bergerak: menggeleng, kemudian kepalanya ditelengkan. “Aneh sekali.” imbuhnya lantas jemarinya merayap ke pinggangnya yang diserang dan telah diobati.

Sesuatu yang ganjal teraba oleh jemari Runa. Sontak kurvanya melebar dengan mimik kaget. Lekas-lekas sesuatu itu ditarik Runa dari saku celananya.

Sebuah foto lusuh menusuk iris Runa. Dirinya mengernyit sebelum membalikan foto tersebut dan sedikit memberi jasa setrika dari telapaknya agar potret yang terpampang tergambar rinci tuk disensor retinanya.

Perasaan mencelos merayapi Runa. Bulatan di matanya sepertinya bisa saja lebih lebar daripada sekarang. Tangannya yang tak mengukung foto tua bin lusuh itu, membekap mulutnya dan refleks likuid hangat mengenang di pelupuk obsidiannya serta-merta ditiming selanjutnya mengucur ke pipinya.

“Tidak, tidak mungkin.” Runa menggumam, turut kepalanya bergeleng-geleng.

Di foto itu terlihat dirinya yang masih belia—sekitar tiga atau empat tahun—tengah di pangku mendiang ibunya nan terduduk di sebuah kursi sementara ayahnya berdiri di sebelahnya. Tak ada yang bisa membuat hati Kwon Runa bergelinding jauh jikalau tak ada jubah Unity membungkus tubuh gagah Sang Ayahanda, pun bendera kebangaan dengan logo Unity berkibar di sebelah foto keluarganya. Ya, walau Runa tak ingat kapan foto ini diambil, dia tahu betul bahwa anak belia yang berada di gendongan wanita yang dia kenal sebagai ibunya ialah dirinya.

Dengan gemetar, Runa membalik kembali foto tersebut sebab ada beberapa aksara dengan tinta merah terukir di belakang foto dan belum sempat dibaca olehnya.

Mademoiselle Kwon, Anda sekarang tengah diasuh oleh keluarga Oh yang merupakan penyerang kediaman Anda beberapa tahun silam. Pembunuh Master Agung Unity, Kwon Ruddock dan berusaha mendoktrin putri semata wayang Master Agung Unity yang tak lain Anda sebagai bagian dari Ordo Majesty. Jika Anda bergabung maka game over untuk ordo kita dan kesengsaraan ini tidak akan berakhir.

Jika Anda tidak percaya dengan satu foto ini atau ingin memperoleh informasi lebih lanjut datanglah ke alamat ini:

117, Byeokjin-dong, Seo-gu, Gwangju.

Salam,

Kim Hyerim

계속 / TBC—

GLOSARIUM :

Ètats = golongan.

Le trésor = bahasa Inggrisnya ada treasure atau harta. Istilah yang dipakai dalam Ordo untuk menyebut barang misi yang penting.

Attaquer = dalam bahasa Inggris adalah attack. Istilah yang dipakai dalam Ordo untuk menyerang.

Mademoiselle = bahasa Perancis yang berarti Miss.

Monsieur = bahasa Perancis yang berarti Mister.


Entah efek apa aku mau banget nulis tapi mager, ngeedit aja mager maka ini pasti ranjau typo. Dan haduhh kecanduan novel Assassin’s Creed Unity emang fatal sampai buat FF tentang ordo berbeda gini kan 😦 Dan fyi, ini bersambung sampai ultah Luhan nanti. Aku udah memperingati ini ratingnya tinggi ya, bisa diliat adegan sadis di part 1 aja udah begini wkwkwk apalagi di bagian Luhan, makin-makin dan gak cuma sadis /gaK/

Udah ah aku pamit, tunggu besok yha buat bagian duanya. Aku gak tau mau ngoceh apa lagi :((( sesungguhnya aku rindu ber-FF ria huhu TT___TT

[ Wattpad & WordPress ]

3 tanggapan untuk “[Sehun Birthday Project] Conlatus Creed #1 – HyeKim”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s