[EXOFFI FREELANCE] Take You Home (Chapter 6)

take you home (2)

TAKE YOU HOME (Sixth)

Sháo Xī

Chaptered

Romance, Married life, Drama, Angst

PG-15

Byun Baekhyun [EXO] x Go A Young [OC]

Park Chanyeol [EXO]

Special appearance: Oh Sehun [EXO]

©

Summary:

Tujuanku bersamanya hanya ada satu: Demi wanita nomor satu dalam hidupku

Disclaimer:

Cerita ini murni karya saya sendiri. Beberapa adegan mungkin terinspirasi dari buku maupun film yang pernah saya baca dan tonton. Tidak ada hubungannya sama sekali dengan kehidupan asli tokoh. Tinggalkan jejak karena jejak adalah vitamin penulis J

©

.

.

.

Aku tak yakin bahwa aku bisa karena rasanya aku hanya akan menyakitinya

.

.

                                                                                   .

Pernahkah kau merasa, bahwa apa yang ada di hadapanmu sekarang ini hanya bagian dari imajinasi liarmu? Hanyalah fantasi yang selalu kau karang sebelum tidurmu? Hanyalah …. yah, pokoknya itu hanya akan terjadi dalam mimpi, seratus persen tidak akan terwujud.

Pernahkah?

Kalau belum, sepertinya Go A Young adalah saksinya.

Karena sekarang wanita itu tengah menatap mimpinya persis di hadapannya.

Rasa-rasanya cathedral dengan atapnya yang menjulang tinggi itu hanya diisi oleh degup jantung A Young sendiri. Bahkan suara pendeta yang tengah membacakan sumpahnya terasa samar di telinga A Young. Semua ini karena laki-laki yang tengah berdiri di depannya sembari memegang jemari tangannya. A Young menarik nafasnya perlahan, berusaha mengenyahkan rasa gugupnya karena ia tahu bahwa ini adalah hari pentingnya. Sangatlah tidak lucu ketika pendeta masih membacakan sumpahnya, lalu tiba-tiba ia pingsan karena kehabisan nafas. Ah ya, kalau itu benar terjadi, salahkan saja laki-laki di depannya ini yang menaikkan sedikit sudut alisnya kemudian tersenyum dengan luar biasa tampannya.

Oh, baiklah, mungkin ini terdengar konyol, tapi ajarkan A Young caranya bernafas!

.

.

Baekhyun tahu ini tidak boleh, tapi rasanya ia ingin terkekeh melihat wajah wanita yang sebentar lagi akan sah menjadi istrinya itu. A Young beberapa kali tampak menarik nafas dan tangannya yang Baekhyun genggam terasa dingin. Walau ia tidak menginginkan semua ini, tapi apa yang gadis itu rasakan, Baekhyun paham karena ia juga merasakannya. Bagaimana kau bisa tidak gugup ketika semua pasang mata hanya menatap ke arahmu, beberapanya menangis―Baekhyun tak mengerti mengapa mereka menangis―dan sebentar lagi kau akan berubah status sekaligus menanggung hidup seseorang―atau mungkin dua orang, Baekhyun tak ingin memikirkannya―semua itu pasti akan membuatmu gugup, kan? Apa istilahnya? ‘Kupu-kupu beterbangan di perutmu’?

Baekhyun mengenyahkan pikiran-pikiran yang semakin membuatnya gugup dan memilih untuk melihat wajah wanita yang sebentar lagi akan menyandang kata –nya. Wajah A Young memang luar biasa cantik walau hanya dengan riasan tipis dan jujur, Baekhyun mengagumi itu. Namun, rasanya ada yang kurang dari gadis itu sekarang. Ya, senyumnya yang selalu terkembang dalam setiap suasana. Jadi, Baekhyun sedikit meremas jemari A Young yang ia genggam supaya atensi gadis itu benar-benar teralih padanya. Mata bening dan besar gadis itu menatapnya yang Baekhyun balas dengan mengucapkan kata ‘senyum’ tanpa suara. Gadis itu sepertinya paham karena sekarang sudut bibirnya mulai melekuk membentuk senyum simpul. Baekhyun mengangguk tak kentara sampai suara pendeta mengambil alih fokusnya.

“Apa Anda bersedia?”

Mendengar itu, Baekhyun kembali menatap A Young. Lalu selanjutnya atensinya berpindah ke arah para hadirin, mencari wajah ibunya yang berada di barisan paling depan, tengah menatapnya sambil menghapus sudut matanya dengan sapu tangan. Wajah ibunya benar-benar bahagia dan rasanya, ini pertama kalinya Baekhyun melihat ibunya begitu.

Baekhyun berpaling, ia tak ingin kembali teringat di masa saat ia harus menuruti permintaan ibunya. Jadi ia menarik nafasnya, lalu berucap, “Aku bersedia.”

.

.

“Aku bersedia.”

A Young ingin menangis ketika ia mendengar suara lantang itu berasal dari seorang Byun Baekhyun, laki-laki yang selama ini hanya ada dalam angannya saja.

“Dan Anda, Nona Go A Young, apakah Anda bersedia?”

“Aku bersedia,” jawab A Young langsung tanpa perlu menatap pendeta atau para hadirin yang mulai bersorak.

“Sekarang, kalian bisa bertukar cincin,”

Seorang pendamping wanita dari keluarga A Young mendekat dan membawakan sebuah baki berisikan cincin mereka berdua. Baekhyun mengambil satu, lalu meraih tangan A Young dan memakaikannya di jari manis gadis itu. Sekarang giliran A Young yang mengambilnya dan memakaikannya di jari Baekhyun. Setelah ia selesai, para hadirin langsung heboh dan bertepuk tangan.

“Sekarang kau boleh mencium mempelaimu,”

Perkataan pendeta tadi sontak membuat A Young membulatkan matanya. Ia menatap pendeta itu tak percaya yang hanya dibalas oleh senyuman. Baiklah, ia tak memikirkan hal ini akan terjadi. Kalau ia sadar akan hal ini, seharusnya inilah yang membuatnya gugup tadi!

Namun sepertinya laki-laki di depannya ini sama sekali tak ambil pusing akan kata-kata pendeta. Baekhyun malah mendekat, meraih pinggang A Young, lalu menarik tengkuk gadis itu dan secara perlahan mengaitkan bibirnya di bibir A Young. Mata gadis itu terbelalak, tapi mendengar para hadirin yang semakin heboh, membuatnya menutup mata karena ia tak mau melihat apapun untuk saat ini.

Beberapa saat kemudian, Baekhyun melepaskannya bibirnya, menatap A Young yang rona wajahnya sudah berubah seperti warna sakura. Ia mengamati wajah gadis itu dari dekat, tetap mempertahankan tangannya di pinggang dan tengkuk A Young. “Terima kasih banyak,”

A Young mengerjapkan matanya. “Untuk?”

Baekhyun tak menjawab. Ia menggantikan jawabannya dengan kecupan ringan di kening A Young yang membuat gadis itu kembali menatapnya kaget.

Terima kasih untuk apa?

Untuk saat ini, cukup Baekhyun saja yang tahu.

.

.

“Aku bersedia.”

Chanyeol hanya bisa tersenyum miris saat mendengar dua kata itu keluar dari bibir wanita yang selama sebelas tahun terakhir ini telah mengikir hati Chanyeol dan memahat namanya di sana. Ia ikut bersorak dan bertepuk tangan mengikuti hadirin yang ada di sana. Tak terhitung berapa banyak bulir pahit yang harus ia telan demi menjaga topeng kepalsuan yang selalu ia tampakkan. Chanyeol tahu, sudah sesering apa ia mengabaikan perasaannya, namun lelaki Park itu seolah masa bodoh akan semuanya. Ia hanya ingin orang yang ia kasihi bahagia, meskipun itu hanya akan membuat lukanya makin menganga, ia takapa. Hhh … lelaki dengan senyum menawan itu sungguh ahli dalam menyimpan perasaannya sendiri, kan?

Kedua mempelai itupun berbalik menghadap hadirin lalu membungkuk terima kasih yang disambut dengan tepuk tangan dan sorakan. Chanyeol juga ikut andil di dalamnya, malahan ia berteriak dan bersiul paling keras hingga Baekhyun yang ada di depan altar menatapnya seolah-olah ia akan mencekik lelaki bertelinga lebar itu. Dan A Young … gadis itu … ia tersenyum lebar dengan cara yang paling disukai Chanyeol. Bolehkah, sejenak saja, Chanyeol mengagumi senyum yang gadis itu tunjukkan untuknya? Walau dirinya tahu pasti bahwa gadis itu sudah menjadi milik kakaknya?

Chanyeol membalas senyum A Young lalu melambai-lambaikan tangannya dengan semangat sembari berteriak ‘semoga kau bahagia’ yang ditanggapi dengan kekehan dan anggukan antusias gadis itu. Ya, ia sungguh-sungguh mengucapkannya. Ia … sungguh ingin gadis itu bahagia.

“Chanyeol, terima kasih ….”

Chanyeol menoleh ke kanan dan mendapati ibunya yang tengah menatap dirinya. Ia berlutut, menyejajarkan matanya dengan sang Ibu yang duduk di kursi roda. Ia mengelus tangan ibunya yang terlalu kurus, memberikan senyum terbaiknya. Ia sebenarnya takjub akan kesungguhan ibunya untuk hadir di pernikahan putranya walau sehari sebelumnya, dokter sempat melarang ibunya pergi. Namun karena tekad kuatnya, dokter hanya bisa menghela nafas dan mengizinkan ibunya pergi untuk satu hari.

“Terima kasih akan apa, Ibu? Aku tak melakukan apapun,”

Ibunya diam sejenak lalu mengelus rambut Chanyeol dengan sayang. “Aku memang bukan ibu kandungmu, tapi aku sama sekali tidak buta akan perasaanmu, Chan,” ibunya perlahan merajut senyum. “Terima kasih karena sudah mau merelakan orang yang kau cintai,”

Chanyeol hanya bisa termangu menatap ibunya yang mulai berkaca-kaca. Tiba-tiba, satu air mata lolos dari bola mata ibunya, mengalir menuruni pipinya hingga sampai ke dagu, lalu jatuh tepat kepangkuannya. Chanyeol mengulurkan tangannya menghapus air mata ibunya, sembari menelan bongkahan pahit yang menghalangi kerongkongannya. Ia tak bisa mengelak akan pernyataan ibunya tadi, bukan?

“Ibu, jangan menangis. Aku tak suka,” ucapnya pelan.

Ibunya masih terisak. Ia menggenggam tangan Chanyeol yang ada di pipinya. “Kenapa … aku harus menyakiti kalian berdua? Kenapa aku harus menyakiti anak-anakku sendiri?”

Chanyeol berusaha tersenyum walau sulit baginya. “Apa maksud Ibu? Menyakiti apa? Aku baik-baik saja sekarang, kan?”

Ibunya tidak menjawab. Ia masih terisak sambil menggenggam erat tangan Chanyeol. Sementara Chanyeol, ia memeluk ibunya, membisikkan kata-kata yang ia harapkan dapat menenangkan ibunya. Walau sejujurnya … ia juga butuh kata-kata itu.

.

.

“Berhenti tersenyum seperti itu atau mulutmu akan sobek,”

A Young mengalihkan atensi ke arah gadis yang sedikit lebih tinggi darinya dengan gaun putih gading khas keluarga mempelai wanita. Ia mengabaikan kata-kata gadis itu dan makin memperlebar senyumnya hingga gadis tadi mencubit kedua pipinya hingga A Young mengaduh.

“Sesenang itukah dirimu, sampai-sampai kau bisa tersenyum lebih dari lima senti?” tanya gadis tadi sambil menatap heran A Young.

“Jang Jae In,” ucap A Young melafalkan nama gadis tadi yang diketahui sebagai sepupu dari pihak ibunya. “Kau ini seperti tidak tahu apa-apa saja,”

Jae In menghela nafas. “Kau pasti sangat bahagia bukan, bisa menikah dengan cinta pertama yang selalu kau tunggu selama sebelas tahun lamanya? Hhh … kurasa aku mulai iri terhadap dirimu,”

A Young menggeleng. “Kau pasti juga punya cerita istimewa sendiri nanti, Jae In.”

Jae In tersenyum mendengar ucapan A Young dan gadis mempelai itupun balas tersenyum dengan lebih lebar sampai-sampai Jae In harus menarik kedua pipi A Young karena senyumnya dirasa sudah terlalu mengerikan.

Jae In melempar atensinya ketika A Young kedatangan tamu dari teman kantornya. Ia menelusuri keseluruhan gereja di depannya dan memperhatikan semua orang yang berlalu lalang. Tidak ada satupun yang ia kenal karena Jae In tidak berasal dari sini. Gadis manis itu tinggal di Gwangju.

Tatapan Jae In terhenti pada seorang laki-laki yang ia kenal sebagai cinta pertama A Young, Byun Baekhyun. Laki-laki itu tengah mengobrol dengan saudaranya yang tinggi―Park Chanyeol namanya kalau tidak salah―dengan seorang temannya yang tidak Jae In kenal. Dua orang itupun Jae In mengenalnya karena A Young sudah banyak mengoceh tentang mereka berdua.

Jae In menatap Baekhyun lamat-lamat, memperhatikan keseluruhan profil laki-laki itu. Lelaki itu termasuk tampan menurut Jae In―walau ia menyukai laki-laki yang memiliki bahu lebar―dan ia sungguh tampak bersinar saat ini. Entah karena ini memang hari bahagianya atau karena laki-laki itu memang pembawa sinar, entahlah. Jae In juga merasa bahwa laki-laki itu adalah orang yang baik, walau ia tampak sedikit dingin, namun harus Jae In akui bahwa senyumnya luar biasa indah.

“Kau sedang melihat apa?”

Jae In menoleh menatap A Young yang sedang melihatnya dengan raut penasaran. Sepertinya teman gadis itu tadi sudah pergi.

“A Young-a,”

“Hem?”

Jae In menarik sudut bibirnya lalu memegang kedua pundak A Young. “Young-a, sesulit apapun kau, jangan lupa untuk tersenyum, ya! Ingat selalu, bahwa kebahagiaan akan datang saat kau sudah berhasil melewati kesulitan. Itu artinya, kau orang hebat, mengerti?”

A Young menatap Jae In bingung, tapi memilih untuk tersenyum. “Uhm. Aku akan ingat pesanmu, Sepupu. Dan lagi, bukannya Baekhyun Sunbae akan membuatku bahagia?”

Jae In diam sebentar, kemudian mengangguk. “Bukankah itu harus?”

.

.

“Hei, Park Chanyeol,”

Chanyeol yang tengah mengobrol dengan teman lamanya saat SMA menoleh. Ia mendapati seorang laki-laki jangkung dengan kulit pucat dan hidung tinggi yang tengah melambaikan tangan ke arahnya. Alis Chanyeol awalnya bertaut bingung, namun sekelebat bayangan tentang lelaki itu terputar di kepalanya yang membuat Chanyeol menatap kaget dan langsung menghampirinya setelah memohon izin pada teman-temannya.

“Astaga, Oh Sehun, itu kau?”

Lelaki bernama Sehun itu terkekeh dan mereka berdua langsung melakukan high five ala mereka yang sudah hampir dua belas tahun terlupakan. Chanyeol memeluk kawannya itu sembari menepuk-nepuk punggung Sehun bersahabat. Ia masih menatap Sehun tak percaya.

“Kenapa melihatku seperti itu? Kau seperti melihat hantu, kau tahu?” tanya Sehun.

“Aku hampir percaya bahwa aku melihat hantu,” ujar Chanyeol. “Kapan kau sampai dari Jerman?”

“Kemarin malam,” jawab Sehun.

Mata Chanyeol membola. “Kemarin malam? Ya! Kenapa tidak menghubungiku? Kalau kau mengatakannya padaku, kita bisa minum-minum kemarin!”

Alis Sehun terangkat. “Kau mau minum-minum di saat besoknya kau harus menghadiri pernikahan kakakmu? Wah … kau memang gila, Park.”

Chanyeol mengangkat bahunya tak peduli. “Kau tahu kan, banyak yang ingin kuceritakan?”

Sehun mengangguk paham yang membuat Chanyeol ingin memukul laki-laki itu karena tak memberitahu kedatangannya ke Seoul.

Sedikit info, Sehun dan Chanyeol teman sekelas saat masih kelas satu SMA. Pertemuan mereka tidak begitu baik karena wajah mereka yang luar biasa visual, sedikit persaingan terjadi antara mereka. Tapi entah mengapa dua orang keras kepala itu akhirnya mendeklarasikan damai dan memulai pertemanan mereka. Setahun kemudian, saat semester empat kelas dua, Sehun memutuskan pindah ke Jerman mengikuti keluarganya yang memilih untuk mengembangkan perusahaan mereka di sana. Namun itu tidak serta merta mengakibatkan pertemanan mereka putus. Chanyeol menceritakan apapun pada Sehun walau ia harus menyaksikan wajah Sehun yang terkantuk-kantuk menungguinya bercerita.

“Aku tak menyangka bahwa Baekhyun akan mengundangmu,” mulai Chanyeol saat mereka sampai di  balkon gereja sebagai tempat perbincangan mereka.

“Kau ini sudah lupa atau tidak saat aku dulu sering main ke rumahmu lalu kita mengguncangkan rumahmu dengan alat musik dan kakakmu datang lalu menendang kita berdua? Kurasa ia cukup kenal denganku sampai mau mengundangku, walau aku hampir merubuhkan rumah kalian.”

Chanyeol terbahak saat mengingat memori itu. “Dia tidak terlalu buruk, kan?”

Sehun melejitkan bahunya. “Sedikit,”

Chanyeol dan Sehun lalu terdiam, memandang ke depan dengan isi pemikiran yang berbeda. Angin lembut menggoyangkan anak poni mereka, membuat jiwa visual mereka muncul. Sehun menyusurkan jari ke anak rambutnya, sementara Chanyeol membiarkan angin membelai lembut surainya.

“A Young masih sama seperti dulu, kan?” mulai Sehun. “Dan dirimu juga masih sama seperti yang dulu, kan?”

Chanyeol melirik Sehun, lalu menghela nafas perlahan dan menyuguhkan senyum tipis. “Kita berdua sama-sama tahu jawabannya, kan?”

“Kau luar biasa sekali, Park,” puji Sehun. “Kau baik-baik saja melihat semuanya tadi?”

Baik-baik saja? Baik-baik itu … seperti apa?

“Aku bisa menahannya sampai sekarang.”

“Baekhyun tahu?”

Chanyeol menggeleng. “Aku harap tidak,” Chanyeol menarik nafasnya, membiarkan udara mengisi paru-parunya. “Aku ingat sekali perbincangan kami saat ia pertama kali dijodohkan. Aku ingat ia yang ingin menolaknya mati-matian tapi tetap bertahan karena Ibu. Dan aku … juga ingat saat ia memintaku untuk menggantikannya. Aku tahu nadanya bercanda, tapi aku juga tahu … bahwa saat itu ia sungguh-sungguh memintaku melakukannya. Hidupnya berat, lebih berat dari aku. Aku menyayanginya sebagaimana saudara kandung saling menyayangi dan aku ingin … sedikit saja, bisa meringankan bebannya,” Chanyeol menoleh menatap Sehun lalu tersenyum miris. “Andaikan, seandainya saja, aku tahu lebih cepat siapa wanita yang akan dijodohkan dengannya … kurasa kau akan melihatku di depan sana.”

Sehun diam sebentar. “Ya, mungkin benar. Tapi apa kau yakin, senyum A Young akan selebar tadi?” Sehun bisa melihat Chanyeol terpaku sejenak sebelum lelaki itu kembali memasang raut ‘tidak apa-apa’ walau Sehun yakin, wajah itu hanya topeng belaka. “Kita berdua tahu pasti, siapa yang gadis itu cintai, kan?”

Chanyeol menarik nafasnya lalu membuangnya dengan kasar. “Setelah dua belas tahun tak bertemu, kau hanya ingin mengatakan hal-hal tadi? Bukannya kau sedikit kejam?”

Sehun terkekeh. Ia menepuk-nepuk pundak Chanyeol yang sudah menatap garang ke arahnya. “Baiklah, baiklah, ayo ceritakan hal-hal yang menyenangkan padaku selama dua belas tahun terakhir. Kau juga bisa menceritakan perubahan Seoul selama aku tidak di sini, oke?”

.

.

Ramai. Baekhyun tidak terlalu suka ini.

Lelaki itu berjalan menyusuri hall gereja, mencari seseorang yang sedari tadi ingin ia jumpai. Baekhyun melonggarkan sedikit dasinya selama ia berjalan. Saat matanya menangkap seseorang yang ia cari, langkahnya terhenti sebentar, lalu ia kembali melanjutkannya. Baekhyun bisa melihat ibunya yang tengah berbincang dengan beberapa orang dan jujur, Baekhyun tak suka itu. Ia bisa melihat ibunya terlalu memaksakan diri untuk tertawa di tengah-tengah orang itu walau ia sudah hampir pada batas limit.

“Ibu,”

Percakapan orang-orang itu dengan ibunya terhenti saat mendengar suara Baekhyun yang menginterupsi. Wajah ibunya mendadak cerah. Senyum tulusnya terpatri di wajahnya, membuat Baekhyun langsung melangkah lebih dekat.

“Selamat siang, Nyonya-Nyonya,” sapa Baekhyun sambil menunduk ke arah para wanita yang ada di sekitar ibunya.

“Ya ampun Oh Mi Rae, anakmu lebih tampan jika dilihat dari dekat,” ujar salah satu wanita itu.

“Kau merawatnya dengan sangat baik,” ujar satu wanita lagi.

Mendengar itu, Baekhyun hanya balas tersenyum dan ibunya mulai mengucapkan terima kasih disertai senyum tulus. Baekhyun bergerak ke belakang ibunya, menggenggam pegangan kursi roda, lalu menunduk sekali lagi. “Aku permisi ingin membawa ibuku,”

“Silakan, silakan! Pasti banyak yang ingin kau katakan pada ibumu, kan?”

Baekhyun tersenyum lalu pamit undur diri. Ia mendorong kursi roda ibunya menjauh, membawa ibunya ke tempat yang hanya ada mereka berdua saja karena banyak hal yang ingin ia katakan pada ibunya. Baekhyun membawa ibunya ke ruang rias karena rasanya ruangan itu tak akan terpakai. Setelah sampai, ia memasang rem pada kursi roda, lalu berlutut di depan ibunya.

Baekhyun yakin bahwa banyak hal yang sudah ia susun di kepalanya, namun entah mengapa semua itu menguap saat ia melihat wajah ibunya. Jadi ia hanya diam memandang ibunya, seolah-olah ia ingin mengabadikan profil ibunya di kedua bola matanya. Namun sepertinya, ibunya tahu bahwa ada banyak hal yang ingin putranya sampaikan, namun entah mengapa tidak bisa.

“Katakan saja,” mulai ibunya. “Katakan apa yang ingin kau katakan.”

“Ibu bahagia?” tanya Baekhyun langsung.

Ibunya diam sejenak, lalu mengangguk. “Kenapa harus tidak bahagia? Ibu bahkan tidak bisa mengatakan seberapa besar kebahagiaan Ibu saat melihatmu tadi.”

Baekhyun meraih tangan ibunya, menggenggamnya, dan menyandarkan kepalanya ke pangkuan ibunya. “Kalau Ibu bahagia … aku juga harus bahagia, kan?”

Hening memeluk. Baekhyun mengangkat kepalanya saat tak mendengar tanggapan apapun dari ibunya. Namun, alangkah terkejutnya ia saat melihat ibunya sudah berlinang air mata, terisak tak bersuara. “Ibu ….”

“Ibu … sungguh minta maaf, Baekhyun. Maaf … karena selama ini hidupmu jadi sulit karena Ibu. Maaf … karena Ibu tidak bisa membahagiakanmu, dan … maaf karena selalu melibatkanmu dalam kesengsaraan. Aku … sungguh ibu yang tidak berguna, kan?”

“Ibu!” seru Baekhyun. “Kenapa bicara seperti itu? Memangnya aku tampak penuh penderitaan?”

“Ibu tak pernah memikirkanmu, maaf,” ibunya semakin terisak. “Ibu hanya memikirkan diri Ibu semata, tanpa pernah memikirkan ‘apakah Baekhyun-ku senang?’ atau ‘apakah ia akan bahagia dengan pilihan ini?’, hal-hal semacam itu luput dari pemikiran Ibu sendiri. Jadi … Ibu sungguh minta maaf ….”

Baekhyun mempererat genggamannya pada tangan sang Ibu. Ia menghapus air mata ibunya. “Ibu … aku sudah pernah mengatakan dan selalu mengatakan bahwa asal Ibu bahagia, aku sungguh takapa. Bahkan ketika Ibu bahagia kalau aku tidak ada, aku akan rela melenyapkan diriku. Semua ini karena aku hanya ingin Ibu tersenyum. Ibu menginginkan pernikahan ini, kan? Aku sudah melakukannya. Apa lagi yang salah? Apa lagi yang ingin Ibu sesali?”

“Seharusnya kau bisa menentukan sendiri, siapa gadis yang ada di sampingmu. Tetapi karena Ibu―”

“Ibu,” potong Baekhyun. “Aku tak masalah kalau A Young yang ada di sampingku tadi,”

Iya, aku … sungguh tidak masalah.

“Aku menyayangi Ibu, jadi aku hanya ingin Ibu bahagia. Mulai saat ini, berhenti mengkhawatirkanku dan fokus pada penyembuhan Ibu saja. Jangan lagi menangis karena aku, oke?”

Ibunya diam sejenak lalu mengangguk. Baekhyun tersenyum lalu menghapus sisa-sisa air mata yang masih menempel di pipi ibunya. Ia kembali meletakkan kepalanya di pangkuan ibunya, memejamkan matanya, dan membiarkan ibunya membelai lembut kepalanya.

“Jangan biarkan gadis itu menangis,”

Baekhyun mengangguk dan ia tahu kalau sekarang ibunya tengah tersenyum.

Aku tidak janji Ibu ….

… karena kurasa, aku hanya akan menyakitinya.

.

.

To be Continue

 

36 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Take You Home (Chapter 6)”

  1. Nyesek banget yaa… Lagi bayangin Baekhyun jadi opaa oppa cool agak gimana getoh… Btw kisah cintanya Chanyeol kok hampir mirip kayak gw yaa 😩😩

    1. cocok ga nih Baekhyun nya jadi cowok cool? hehehe, btw thanks ya kamu udah mau meninggalkan jejak ❤ sampai dua kali lagi hehehehe

  2. Kok nyesek yaa 😢 semoga aja baekhyun gak nyakitin ayoung dalem2… Btw kisahnya Chanyeol kok mirip yaa sama gue 😣😣

  3. Ga boleh ngatain ga boleh ngatain ga boleh ngatain. Tapi minta dikatain tapi minta dikatain tapi minta dikatain. Baek lu gue kibas deh sini awas aja sampe bini lo mewek lu gue cekek hahahah

    1. aduhhh ampun … kasihan baeknya kalau sampai digituin wkwkwk, makasih ya kamu udah mau mampir dan meninggalkan jejak 🙂

  4. Aku janni tapi tidak janji.. kau yang berjanji kau yang mengingkari lu baek! Awas aja lu! Hahaha semoga lancar terus updatenya ya author.

    1. waduh jadi keingat suatu lagu wwkwkw, aamiin semoga aku bisa cepet update dengan bawa cerita lebih baik lagi. makasih karena kamu sudah mau mampir dan meninggalkan jejak ❤

  5. Sedih banget sih.. kebayang perasaan a young kalo tau aoaoun yang dilakukan baekhyun cuma atas dasar bakti sama ibunya. Tapi kasian juga baekhyun yang kayak robot ngikutin apa mau ibunya hweeeeeee so saad

    1. Aduh, jadi serba bingung ya wkwkwk. btw makasih ya kamu udah mau menyempatkan diri buat mampir dan meninggalkan jejak di sini ❤

    1. Astaghfirullah, jangan atuh, kasihan Baek-nya wkwkwk. btw makasih ya kamu udah menyempatkan diri untuk mampir dan meninggalkan jejak di sini ❤

  6. Awalnya gue mendeklarasikan diri si baekhyun bakal gue tusuk jadi sate kalo nyakitin ceweknya. Tapi kan dia juga menderita ya. Aku jadi galau. Gara2 author sih! Lho? Hahahha

    1. Huaaa ini memang gara-gara aku
      Btw plis ya jangan ditusuk Baekhyun nya, kasihan wkwkwk
      btw makasih ya sudah baca dan meninggalkan jejak<3

  7. Yeaaay akhirnya update. Aku udah menunggu nunggu. Semoga nilai uts nya sukses2 ya. Btw semangat terus update nya aku suka suka suka sama ceritany bahasa nya juga rapi.

    1. AAMIIN nilai UTS ku huhuhu
      Btw aku makasih banget karena kamu udah nungguin dan meninggalkan jejak di sini ❤
      aku akan berusaha untuk tetap update kalau ga ada hal yang menghalangi kok 🙂

  8. Gue ga tega sama semuanya deh. Tapi gils sih disini a young gimana perasaannya ya kalo tau baek ga suka ama dia. I can’t feel you a young ah wkwkwkw.

  9. I really wait and check this story almost everyday ahahahahaha. Haduh gimana ya ini kenapa jadi kasian semuanya. Ya baekhyun ya a young ya chanueol ya mamanya juga. Terus aku kudu otokkeeeee

    1. Aduhhh makasih banget udah ditungguin. iya, ya, kudu gimana nih wkwkwk. makasih banyak ya kamu udah mau mampir dan meninggalkan jejak ❤

  10. Aku mrembes mili hiks. Bahasa nya bagus konfliknya dapet. Bukan cuma sekedar cinta2an cowok cewek. Alurnya ga ketebak ternyata mamanya tau perasaan anak2nya hwaaaa

  11. tau gak thor,karna banyak nya fanfic yg aku baca dan karna ff ini lama gk update aku lupa ama ceritanya jadi aku ulang dari chapter 5.hehe
    jangan lama2 ya updatenya aku tunggu terus pokoknya.dan semoga next chapnya ada sweet moment nya baek ama a young ya..eh btw kasian chanyeol haha.hwaiting

    1. Wkwkwk, maaf banget ya udah lama banget ga ngepost, soalnya aku UTS kemarin. Btw makasih banget karena udah mau nungguin, aku bakalan lebih semangat lagi buat nulis 🙂

  12. Izin baca thor..untung baru masih chapter pendek, jadi bacanya ngebut dari 1-6..hehe.,ceritanya bagus, cinta sepihak..semoga baehyun bisa juga mencintai dengan tulus a young nantinya..semangat author

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s