[EXOFFI FREELANCE] Universe in His Eyes (Chapter 7)

Universe in His Eyes POSTER

Title        : UNIVERSE IN HIS EYES – Chapter 7

Author        : Arifia Pahlawan (Wattpad: @arifiart)

Length        : Chaptered

Genre        : AU, Friendship, Romance, School-life.

Rating        : PG 17

Main cast    :

  • Oh Serin (oc)
  • Do Kyungsoo
  • Byun Baekhyun
  • Park Chanyeol

Summary    : “Aku harap kita bisa berteman baik.”

Disclaimer    : Cerita ini merupakan bentuk dari imajinasi author. Jika terdapat kemiripan pada nama tokoh, tempat ataupun jalan cerita, hal itu merupakan unsur ketidaksengajaan.  Dilarang keras untuk memplagiatkan atau merepost karya ini tanpa seizin author. Please leave comment after reading. Thank you so much and happy reading! ❤

̶

̶

̶

̶

̶

CHAPTER 7

-Hadiah Dari Hujan-

Matematika.

Serin tak dapat menahan kantuknya selama pelajaran. Ia sama sekali tidak bisa fokus pada setiap kalimat yang dikatakan guru Hwang. Kepalanya terangguk-angguk sesekali karena matanya yang terus memaksa agar menutup. Matanya terasa begitu berat seakan ada beban berkilo-kilo yang menempel di pelupuk matanya.

Gadis itu meletakkan kepalanya di meja. Ia menyerah kali ini. Ia sungguh tidak peduli jika guru Hwang akan memergokinya sedang tertidur selama pelajaran.

Aku mohon, izinkan aku memejamkan mata lima menit saja. Aku… aa… zzzzz…

Rasa kantuk ikut menyerang Baekhyun. Ia mengedipkan matanya dengan pelan karena merasa agak sedikit kering dan pedih karena mengantuk. Ia melirik ke samping kanannya, dilihatnya Serin yang sedang tertidur di tengah-tengah pelajaran. Gadis itu terlihat pulas, bahkan mulutnya sampai sedikit terbuka. Baekhyun jadi sedikit agak kasihan pada gadis itu karena sudah dua minggu belakangan ini ia harus mengikuti kelas tambahan untuk bekal programnya ke Jepang nanti. Sepertinya gadis itu benar-benar berusaha keras.

Baekhyun hanya membiarkan gadis itu dan tidak membangunkannya. Ia menoleh ke sisi satunya dan terus menengok sedikit agak ke belakang. Ada pemandangan yang mirip dari meja Chanyeol. Wajah lelaki Park itu sedang menghadap ke jendela dengan posisi menempel yang sama di meja. Ia tak bergerak sama sekali. Baekhyun berdecak, ia bahkan tidak kaget melihat keadaan Chanyeol yang seperti itu. Apakah anak itu pernah sekali saja memerhatikan guru saat pelajaran?

Bel tanda istirahat berbunyi. Beberapa siswa mulai keluar dari kelas untuk menikmati jam istirahat dan membeli beberapa cemilan. Serin terbangun dari tidurnya setelah mendengar bel istirahat berbunyi.

“Kau lelah?” tanya Baekhyun yang melihat Serin menguap dengan lebar.

“Hmmm,” jawab gadis itu tanpa menengok ke arah Baekhyun. “kali ini aku benar-benar merasa seperti seorang pelajar yang sesungguhnya. Belajar terus.”

“Yah! Park Chanyeol, bangun!” panggil Baekhyun sambil mengguncang lengan Chanyeol yang masih dijadikan alas untuk kepalanya.

Chanyeol terpaksa mengangkat kepalanya dengan lemas. Matanya sedikit agak bengkak karena ia telah tertidur agak lama. Rambutnya acak-acakan. Ia mengerjapkan matanya sembari mengumpulkan nyawa, kemudian menatap Serin dan Baekhyun.

“Kalian berdua bangunlah! Ayo kita beli sesuatu untuk dimakan, aku lapar!” kata Baekhyun mulai merengek. Namun kedua sahabatnya tak kunjung bergerak dan hanya terduduk bengong masih mengumpulkan nyawa masing-masing.

“Oh Serin!” tiba-tiba sebuah suara memanggil dari arah pintu kelas.

DEG!

Jantung Serin seperti berhenti selama beberapa milidetik. Ia langsung tersadar penuh setelah mendengar panggilan tersebut. Suara itu  yang menyebabkannya. Suara yang agak berat yang datang dari mulut seorang pria. Dalam otaknya langsung muncul bayangan lelaki pemilik suara itu. Kemudian tiba-tiba saja ia merasa seperti ada ribuan kupu-kupu di perutnya.

Do Kyungsoo.

Serin menoleh ke arah datangnya suara. Seorang pria yang bertubuh agak kecil sedang berdiri di depan pintu ruang kelasnya sambil tersenyum menatapnya. Serin merasakan ada sesuatu yang geli dari dalam perutnya setelah ia melihat senyuman itu.

“Guru Kim memanggilmu.” ujar Kyungsoo yang kemudian membuat Serin langsung tersadar sepenuhnya dari lamunannya.

“A-ada apa?” seperti biasanya, Serin masih terdengar gugup di depan lelaki itu.

“Sepertinya ada beberapa dokumen yang harus diurus. Beliau meminta kau dan aku untuk membantunya.”

Serin langsung berdiri dari posisi duduknya. Ia setengah berlari langsung menghampiri Kyungsoo.

“Sibuk terus, huh?” sindir Baekhyun dengan nada agak keras. Sepertinya ia sedikit kesal karena lelaki bernama Do Kyungsoo itu makin kesini semakin mencuri waktu sahabatnya.

Mendengar sindiran Baekhyun tadi, Serin langsung menoleh ke belakang. “Aku tidak lama, nanti akan kususul. Mian.” tanpa mengatakan apapun lagi, Serin langsung mengikuti Kyungsoo ke ruang guru.

Chanyeol yang melihat adegan itu hanya memandang diam. Diam-diam ia melemparkan tatapan tajam kepada siswa bernama Do Kyungsoo tersebut. Ia memerhatikan setiap detail yang ada pada lelaki itu. Sedangkan Baekhyun hanya mengeluh selepas Serin pergi dari hadapannya.

“Yah, apa kau juga merasa akhir-akhir ini Serin jadi terlalu dekat dengan anak itu? Ini sungguh menggangguku. Aku merasa seperti ditinggal saja.” Baekhyun terus saja mengoceh, sementara netra Chanyeol tetap tidak lepas dari punggung Serin sampai gadis itu lenyap dari pandangannya.

Chanyeol mengarahkan matanya ke Baekhyun. “Mau bagaimana lagi? Untuk beberapa bulan ke depan, hanya laki-laki itu yang akan terus berada di sampingnya.”

***

Jam sudah menunjukkan pukul lima lebih tiga puluh menit. Hari sudah semakin sore. Samar-samar terdengar suara gemuruh dari kejauhan. Langit yang awalnya berwarna sedikit oranye perlahan berubah sendu dengan warna keabu-abuan yang perlahan semakin mendekat. Sepertinya akan turun hujan.

Serin merentangkan tangannya lebar-lebar. Hari lain yang melelahkan di sekolah baru saja berhasil ia lalui. Ia tak sabar ingin cepat-cepat sampai rumah, namun niatnya mendadak tertunda karena guru Kim memanggilnya.

“Do Kyungsoo, Oh Serin, hasil tes IELTS kalian sudah keluar. Ambillah di meja saya.” kata guru Kim yang berhasil membuat Serin menunda kepulangannya.

“Ne, saem.”

Serin dan Kyungsoo berdiri dari kursi mereka dan segera mengikuti guru Kim ke ruangannya.

“Hasil tesmu tidak pernah mengecewakan, Do Kyungsoo.” ujar guru Kim tersenyum sambil menyerahkan map berisikan skor hasil tes IELTS pada Kyungsoo. Serin melirik Kyungsoo dan dilihatnya lelaki itu ikut tersenyum sambil menerima map miliknya.

Guru Kim menyerahkan sebuah map lain kepada Serin. “Kau juga lumayan. Sering-seringlah belajar, Serin-ah.”

Serin hanya tersenyum kecil. Agak malu karena Kyungsoo jadi ikut mendengarnya. Lelaki ini pasti cukup cemerlang dalam kemampuan berbahasa asing. Serin dan Kyungsoo membungkuk pada guru Kim dan setelah itu keduanya pamit pulang.

Mereka berjalan menyusuri koridor menuju pintu keluar. Ujung mata Serin menangkap sosok Kyungsoo yang sedang berjalan beriringan dengannya, hanya saja ada jarak di antara keduanya. Mereka hanya berjalan lurus dan tidak mengatakan apapun. Kedua insan itu hanya diam dan lenyap dalam pikiran masing-masing.

Suara gemuruh kembali datang. Kali ini petirnya lebih besar dan terdengar begitu dekat. Beberapa langkah lagi Serin dan Kyungsoo hampir tiba di ujung bangunan sekolah dekat pintu keluar lobby utama. Namun sebelum keduanya sampai, ribuan tetes air turun dengan begitu cepat.

Mendadak hujan deras.

Serin dan Kyungsoo hanya berdiri di ujung lobby sambil memandangi hujan yang langsung turun sangat deras. Mereka pasti sedang meratapi nasib masing-masing karena tidak bisa pulang kerumah. Padahal beberapa hari belakangan ini langit begitu cerah sehingga tak satupun dari mereka yang kepikiran untuk membawa payung.

Serin duduk di antara anak tangga dekat pintu lobby. Ia merangkul lututnya. Hari ini sungguh melelahkan, ia bahkan sangat ingin menyandarkan kepala di lututnya dan memejamkan mata sebentar.

Kyungsoo meletakkan tangan ke dalam saku celananya. Ia sedikit menghela napas lalu ikut duduk di sebelah Serin. Lelaki itu sedikit mengarahkan bola matanya ke Serin, namun gadis itu tidak menyadarinya.

“Deras sekali.” ujar Kyungsoo pelan seperti bicara pada dirinya sendiri. Ia kembali melirik Serin, gadis itu diam saja tidak merespon ucapan Kyungsoo. Suara hujan terlalu keras, mungkin ia tidak dengar.

“Aah, aku ingin pulang ke rumah.” keluh Kyungsoo lagi dengan suara lebih keras, sedikit berharap Serin akan merespon suaranya kali ini.

Gadis itu akhirnya mengangkat kepalanya. Ia terus memandangi ribuan tetes air yang berjatuhan ke tanah, kemudian menghela nafasnya panjang. “Aku juga. Lelah sekali.”

Kyungsoo menoleh. Bola matanya sedikit membesar ketika melihat gadis itu.

“Kau lelah?” tanya Kyungsoo bingung karena gadis itu malah menjawab yang lain.

“Hmm. Harusnya saat ini aku sudah di rumah. Aku mulai bosan dengan kelas pembekalan ini. Aku terus bertanya kapan aku akan segera ke Jepang. Belum mulai pun rasanya aku sudah lelah.”

Kyungsoo memandanginya. Gadis itu berbicara tanpa sempat menatap matanya. Ia justru malah terus memandangi air hujan yang masih saja berjatuhan di depannya.

“Kau… kenapa ingin ikut program ini?” tanya Kyungsoo tiba-tiba yang berhasil membuat Serin teringat akan tujuan awalnya. Program exchange ini seharusnya membuatnya lupa dengan Kyungsoo, tapi ia justru malah terjebak bersama lelaki ini.

“Aku-“ Serin berpikir sebentar, mencoba mencari tahu alasan apa yang akan ia katakan untuk menjawab pertanyaan itu.

Kyungsoo menunggu jawaban gadis itu, namun gadis itu tidak melanjutkan kalimatnya.

“Sebenarnya aku ke Jepang karena ingin menghindar dari seseorang.” kata Kyungsoo memberikan jawabannya duluan karena ia tak kunjung mendengar suara gadis itu. Kali ini ia ikut memandangi tetesan air hujan.

Mendengar kalimat Kyungsoo seperti itu tiba-tiba membuat Serin menoleh ke arahnya. Ia langsung berpikir apakah lelaki ini baru saja membaca pikirannya?

“Kenapa?” tanya Serin.

Lelaki bermarga Do itu hanya tersenyum. “Sejujurnya, awalnya aku ingin mengundurkan diri dari program ini karena suatu hal, tapi setelah kucoba menjalaninya, aku rasa pilihanku ini memang yang terbaik.”

Serin terus memerhatikan Kyungsoo. Ia menatap mata lawan bicaranya. Mata yang selama ini selalu ia benci karena tatapan lelaki itu hampir selalu seperti ingin merobek kornea matanya. Namun kali ini ia merasakan aura berbeda yang dipancarkan mata itu. Untuk pertama kalinya tatapan yang diberikan lelaki itu terasa hangat, sama sekali tidak seperti biasanya.

Kyungsoo menoleh dan menatap Serin. “Oleh karena itu kau jangan mengeluh. Kau bahkan belum memulainya. Nikmati saja, siapa tahu ada hal baik yang akan terjadi. Kau tidak pernah tahu.” katanya sambil tersenyum.

Serin menyukai senyuman itu. Mata Kyungsoo terlihat melengkung seperti sedang ikut tersenyum. Ia tak dapat menahan sudut bibirnya untuk tidak ikut tersenyum juga.

“Matamu… bagus.”

Serin tidak sadar apa yang baru saja dikatakannya. Ia menegakkan punggungnya dan mengubah arah tubuhnya dengan canggung. Apa sih yang baru saja dikatakannya itu?

Ia mendengar lelaki itu sedikit tertawa melihat dirinya yang berubah canggung tiba-tiba.

“Matamu juga bagus.” balas Kyungsoo. Ucapannya barusan sepertinya membuat wajah Serin sedikit merona. Gadis itu melirik ke kaca ponsel yang sedang dipegangnya. Kaca hitam itu memantulkan sedikit bayangan wajahnya yang terlihat kusam karena seharian beraktivitas. Ia melihat wajahnya sesaat. Dilihatnya matanya yang sipit dan kecil seperti orang sedang mengantuk. Apakah lelaki itu baru saja meledeknya? Cih, bagus dari mananya?

“Dasar pembual.” ujar Serin sedikit mendelik.

Mendegar dirinya dikatai seperti itu tawa Kyungsoo langsung pecah. “Kau itu lucu sekali.” senyum Kyungsoo malah semakin menjadi-jadi.

“Aku pikir kau itu membenciku.”

“Memang.”

Serin melotot ke arah lelaki itu. “Kau ini sungguh terang-terangan sekali, ya.”

Kyungsoo mengubah posisi duduknya. Ia menekuk sebelah kakinya. “Aku pernah membencimu karena aku tidak mengenalmu.”

“Jadi?”

“Setelah aku mengenalmu, aku jadi sedikit mengetahui tentang sifatmu. Ternyata kau ini sama sekali berbeda dengan apa yang kupikirkan dulu.”

“Memangnya dulu apa yang kau pikirkan mengenai aku?”

Kyungsoo tidak menjawab pertanyaan Serin. Ia hanya senyum-senyum sendiri melihat raut wajah gadis itu yang penasaran akan jawabannya.

Mereka diam selama beberapa detik. Keduanya hanya saling menatap mata dan menemukan bayangan mereka masing-masing.

“Aku harap kita bisa berteman baik.” ujar Kyungsoo sambil memasang wajah serius. Mata tajam itu memberikan tatapan yang agak berbeda ke Serin. Kali ini gadis itu mampu membalas tatapan dari mata itu. Ia tak menyangka bahwa tatapan dingin yang selalu muncul dari mata itu kini berubah menjadi tatapan yang bersahabat dan sama sekali tidak terlihat menakutkan.

Serin tersenyum.

Langit masih menunjukkan warna abu-abunya dan awan perlahan mulai sedikit menurunkan tetesan airnya. Namun ujung pelangi mulai terlihat dari tempat Serin dan Kyungsoo berada. Pelangi yang begitu indah, sama seperti senyuman keduanya.

-To Be Continued-

5 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Universe in His Eyes (Chapter 7)”

  1. Tak kenal maka tak sayang, memang bener tuh pepatah, kita kudu kenal baik dulu orang baru kita bisa liat sifatnya,sudah kenal baik tinggal benih benih cinta deh tumbuh antara serin dan kyungsoo..ah..indahnya kebersamaan..hehe..

  2. ahhh uri cimol….ga cuma matamu yg bagus mol…suara…senyuman…ahh semuanya bagus,,,jadi pengen nyulik trus dkarungin trus dibawa pulang deh ahahahahhahahahaha
    daann ksihan yoda….uri yoda yg ganteng sni m noona aja deekk..noona ikhlas kookkk hahahaahahaha

    1. Jadi delu sendiri kan neduh bareng Uco berduaan nunggu ujan sambil dengerin suaranya yang berar. Aduh aduh, hahahaha.
      Btw terima kasih banyak eonni udah rajin mampir ke sini💕

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s