[EXOFFI FREELANCE] Our Story (Chapter 00)

Our Story(1).jpg

Our Story [00]

aliensss

Genre : au, drama, romance, friendship, sad/hurt, school life

Length : Chaptered

Rate : T

Cast:

Park Chanyeol (exo) ǁ Oh Sehun (exo) ǁ Kim Sae Jin (oc) ǁ Kim Ah Ra (oc)

etc

Summary

Chapter 00

We Lived

Disclaimer : ide cerita dan alur asli milik saya. Cast milik Tuhan YME dan semua yang berhak atas mereka. Terinspirasi dari berbagai sumber (real life, cerpen, novel, ff, film, dan lagu). Dibuat untuk hiburan semata. Cerita yang masih banyak kekurangan, kesalahan ejaan, alur yang aneh, penokohan yang kurang maksimal dsb, jadi harap maklum.

Komentar anda akan sangat membantu…

Happy Reading..

♣ ♥ ♣

Hidup. Pertanyaan sederhana, darimana kau tahu jika dirimu itu hidup? Jawaban sederhana, aku bernafas. Tapi kita semua juga tahu bahwa hidup tak se-sederhana itu dan tak akan pernah jadi demikian. Hidup bukan hanya soal kau bernafas, hidup lebih dari itu. Ada dirimu, ada orang lain, ada tujuan, ada pencapaian, ada harapan, ada tanggungjawab, ada kecewa, ada sedih, ada bahagia, ada iri, ada cemburu, ada marah, dan  ada hidup itu sendiri. Lantas kenapa kita perlu sadar bahwa kita itu hidup? Sederhana, agar kau tahu caranya bersyukur.

~

Hari ini adalah salah satu pagi yang lumayan bersahabat. Seorang gadis bernama Kim Sae Jin tampak melahap sarapannya dengan tenang. Gadis itu sarapan bersama kedua orangtuanya seperti biasa. Tenang. Bukan tenang, tapi sepi. Orang diluar sana mungkin mengira keluarga kecil ini adalah keluarga paling bahagia. Sang ayah, Kim Jae Min adalah seorang pengusaha sukses yang punya banyak perusahaan yang bisa diwariskan pada keturunannya kelak. Sang ibu yang bersahaja dan penuh kasih sayang, yang juga seorang guru music, Lee Jin Ah. Dan juga putri semata wayang mereka Kim Sae Jin.

Dilihat dari sudut manapun, keluarga ini sempurna. Hanya saja, semua kesempurnaan itu hanya bisa dilihat oleh orang lain. Jika dilihat dari dalam, keluarga ini rapuh. Penyangganya hanya beberapa pilar kesabaran, juga ego. Bukankah harusnya kita tak perlu heran? Tak ada kehidupan yang sempurna di bumi.

“aku sudah selesai, aku akan berangkat duluan, ayah” Sae Jin yang sudah selesai dengan sarapannya, bangkit berdiri dan memberi salam pada sang ayah. Sae Jin saat ini berada di bangku SMA kelas 2

“jangan lupa, besok kita ada pertemuan dengan keluarga Shin. Setidaknya buat kepintaranmu itu berguna untuk-ku” tanpa menatap pada putrinya Kim Jae Min berucap dengan nada dingin. Pria itu bahkan tampak lebih tertarik pada tajuk koran ditanganya daripada melihat wajah putrinya sendiri.

Sae Jin hanya bisa tersenyum kecut mendengar perintah ayahnya itu. Gadis ini sudah lelah meminta penjelasan mengenai kenapa ayahnya itu selalu bersikap dingin padanya. Alasan yang pria itu berikan tak lebih dari sekedar alasan konyol yang nanti ujung-ujungnya hanya akan membuat ibunya menjadi tersangka utama.

“baiklah. Aku pergi dulu” Sae Jin pun segera pergi menuju sekolah.

“selamat pagi, nona” sapa sang supir pada Sae Jin saat gadis itu memasuki mobil. Supir saja bisa bicara dengan nada ramah seperti tadi, kenapa ayah Sae Jin tak bisa?

“selamat pagi, Pak Jang” Sae Jin balas menyapa sambil mengeluarkan buku pelajaran dari tasnya. Kebiasaan gadis ini selama perjalanan menuju sekolah adalah membaca buku pelajarannya. Sae Jin itu gadis yang rajin, pantas jika dia selalu mendapat rangking pertama dikelas sejak sekolah dasar hingga sekarang.

“aigoo..sayang sekali” ucap Pak Jang sembari menjalankan mobil

“apanya?” Sae Jin menanggapi tanpa mengubah focus matanya dari buku tadi

“harusnya di pagi yang cerah ini, nona bisa sedikit tersenyum. Bukankah langitnya berwarna biru? Nona menyukainya ‘kan?” mendengar ucapan tadi Sae Jin dengan cepat memastikan.

Benar. Langit tampak sangat indah pagi ini. Biru. Satu lagi yang Sae Jin sukai, langit biru.

“nona menyukainya ‘kan?” sambung Pak Jang lagi. Ia tetap berusaha memunculkan satu senyuman di wajah Sae Jin. Bertahun-tahun menjadi supir pribadi Sae Jin membuat pria yang seumuran dengan ayah Sae Jin ini mengenal Sae Jin dengan baik. Ia juga terkadang tak terima dengan alasan ayah Sae Jin yang bersikap dingin pada putrinya sendiri.

“aku menyukainya” Sae Jin berucap tanpa mengalihkan tatapan matanya dari langit biru itu. Jangan perhatikan raut wajahnya yang datar itu, ia memang selalu berekspresi demikian. Sudah terlalu lelah dan bosan dengan ekspresi sedih, gadis ini memilih wajah tanpa ekspresinya ini sebagai topeng.

“kenapa nona sangat menyukai langit biru?”

“karena saat melihatnya, jantungku berdegup lebih kencang dan saat itu juga aku tahu bahwa, aku hidup”

~

Bel tanda dimulainya pelajaran akan berbunyi lima menit lagi. Beberapa siswa di kelas 2-3 tampak sibuk dengan laptop mereka masing-masing. Ah, terkecuali Sae Jin. Gadis itu duduk dibangkunya yang terletak di sudut kanan paling belakang kelas-persis disamping jendela- dengan tenang sembari membaca buku.

“Sae Jin, apa Ah Ra ta datang hari ini?” salah satu gadis di barisan kedua bertanya pada Sae Jin

“setahuku dia datang” jawab Sae Jin santai

“jika dia tidak datang habislah kami. Dia ‘kan ketua kelompok” gadis itu meremas jemari tangannya cemas. Hari ini adalah jadwal untuk mempersentasikan tugas kelompok pelajaran sejarah, dan gadis tadi berada satu kelompok dengan Ah Ra, teman sebangku Sae Jin.

“tenang saja, meski dia sekarat dia tetap akan datang demi kalian” Sae Jin berucap dengan senyuman miring. Sae Jin bukannya tanpa alasan berucap demikian. Ah Ra itu terkenal sebagai gadis paling baik dikelas. Dia gadis yang selalu siap membantu siapapun, demi terlihat dan dipandang baik. Bagi gadis bernama Ah Ra itu, pendapat dan omongan orang lain soal dirinya sangatlah penting. Karenanya gadis itu tak segan mengorbankan dirinya sendiri untuk kepentingan orang lain. Dan tak jarang pulang orang lain, terutama teman sekelasnya memanfaatkan kebaikan Ah Ra.

Ucapan Sae Jin benar, tak lama setelahnya gadis bernama Ah Ra itu datang. Dengan segera beberapa siswi yang memang satu kelompok dengan Ah Ra mengerubunginya.

“Ah Ra, apa tugas kita sudah selesai?” tanya gadis yang sebelumnya bertanya pada Sae Jin tadi

“sudah, kalian tenang saja. Aku sudah mengerjakannya dengan sebaik mungkin agar kelompok kita mendapat nilai yang hampir sama dengan nilai kelompok Sae Jin” Ah Ra tersenyum ramah dan manis seperti biasa. Sementara itu Sae Jin hanya bisa mengangguk paham sambil terus memperhatikan Ah Ra bicara
“aku sudah membagi materi persentasinya, ini” Ah Ra lagi membagikan paper bagian masing-masing anggota kelompoknya

“terima kasih Ah Ra..” tiga gadis lain itu serempak berucap demikian, “untung ada kau Ah Ra” sambung mereka kemudian kembali ke bangku mereka masing-masing. Ah Ra tahu harusnya ia marah. Harusnya ia memarahi atau bahkan mendepak ketiga gadis tadi dari kelompoknya karena tak berkontribusi apapun untuk tugas mereka. Tapi Ah Ra bisa apa? keinginan untuk dianggap baik dan penting mengalahkan rasionalitasnya. Bukankah setiap kau mendapatkan hal baik, kau harus kehilangan sesuatu yang baik pula? Maka Ah Ra tak keberatan begadang semalaman dan mengerjakan tugas itu seorang diri, asal dia mendapat pujian seperti barusan. ‘untung ada Ah Ra’ bukankah itu artinya dirinya penting bagi orang lain? Kau mendapatkan sesuatu, maka kau harus mengorbankan sesuatu, itulah hidup.

Selepas anggota kelompoknya pergi Ah Ra kemudian menatap Sae Jin yang sekarang melipat tangan didepan dada dan berekspresi aneh. Sungguh, Ah Ra tak pernah bisa membaca apa yang sedang Sae Jin pikirkan dari ekspresi datarnya itu.

“kenapa kau melihatku seperti itu? kau tak suka jika kelompok kami mendapat nilai yang sama bagusnya dengan nilai kelompokmu?” tanya Ah Ra dengan wajah kesal dibuat-buat. Hanya sepersekian detik dari itu, Ah Ra kemudian merutuki dirinya sendiri. Kenapa dia selalu seperti ini saat berhadapan dengan Sae Jin? kenapa dia tak bisa bersikap manis dan malah bersikap blak-blakan. Sial..Ah Ra selalu gagal mempertahankan citra gadis malaikat jika didepan Sae Jin
“kau tidak bosan menjadi juara kelas dan selalu baik dalam semua mata pelajaran?” sambung Ah Ra lagi
“kami hanya mencoba yang terbaik, aku juga yakin bahwa tugasku ini tak sebaik milikmu. Tapi tidak bisakah aku berandai? A_”

“kau hampir terlambat karena harus terjaga semalaman untuk tugas itu?” Sae Jin memotong ucapan Ah Ra dan berhasil membuat Ah Ra diam seribu bahasa

Ah Ra diam karena dia bingung. Kenapa Sae Jin selalu memberikan pertanyaan yang aneh padanya? Kenapa kau tersenyum seperti itu Ah Ra? Kau tidak lelah tersenyum seperti itu Ah Ra? dan pertanyaan barusan. Disaat anggota kelompoknya sendiri tak memikirkan hal itu, Sae Jin malah bertanya demikan. Meski gadis itu tak bertanya dengan raut wajah khawatir atau wajah turut bersimpati, tetap saja pertanyaan tadi berpuluh-puluh kali lebih berharga daripada seribu pujian.

“kau diam lagi” Sae Jin memutar matanya malas melihat ekspresi Ah Ra dan kediaman gadis itu
“kau ingat kita satu kelompok untuk tugas etika bukan? aku sudah mengerjakan sebagian dan merangkum semua materinya” Sae Jin menyodorkan sebuah usb didepan Ah Ra
“sisanya urusanmu. Dan aku yakin kau akan bisa mengerjakannya sebaik mungkin” Sae Jin mengangguk untuk sekedar mengejek Ah Ra
“dan aku harus ke toilet, ada dua buah roti di tasku. Jika sampai salah satunya hilang maka aku yakin kau pencurinya. Kau pasti belum sarapan karena tugas terbaik itu” Sae Jin berdiri dan melangkahkan kakinya keluar dari kelas

Ah Ra dengan cepat menyadarkan dirinya dan mengeluarkan ponsel pintarnya dari saku. Ia lalu mencolokkan usb yang Sae Jin berikan tadi ke ponselnya dan membuka file bernama ‘tugas etika’

“dia memang menyebalkan” ucap Ah Ra. Ah Ra tak terlalu bodoh untuk tahu urutan materi serta isinya. Tugas itu sudah selesai, hanya saja ada beberapa bagian yang belum sempurna. Atau memang sengaja Sae Jin buat tidak sempurna agar Ah Ra bisa menyempurnakannya.
“siapa dia ini?” Ah Ra kemudian meletakkan ponselnya dan membuka tas Sae Jin. Didalam sana memang ada dua buah roti. Tapi Ah Ra yakin salah satu dari keduanya bukan milik Sae Jin. Sae Jin tak suka roti dengan lapisan saos. Gadis itu suka roti satunya lagi. Dan roti isi daging ini adalah kesukaan Ah Ra.
“kau menyebalkan Sae Jin, kau harus tahu itu” Ah Ra mengeluarkan roti isi daging tadi dan bersiap memakannya.

Hidup memang tak bisa sempurna. Karenanya kau yang harus membuatnya sempurna. Temukan potongan yang tepat, maka puzzlemu akan sempurna. Hidup juga seperti itu, temukan langkah yang tepat dan juga orang yang tepat.

To be continued…

Note:

Terasa familiar? Benar, ada kisah kita disini. Kutulis agar jika suatu saat kita lupa, kita bisa membacanya lagi.

 

11 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Our Story (Chapter 00)”

  1. Enggak sedikit orang yg ke pribadiannya kyk Ahra, ingin citra dirinya di kenal baik. Tp kebanyakan, itu karena mereka gak bisa nolak permintaan org lain.
    Anak sekolah bgt ceritanya, namanya doang kerja kelompok, tp yg ngerjain satu orang. Giliran tugas individu, ngerjainnya bareng-bareng 😀
    Suka karakternya Saejin >0< Tsundere ❤
    Terkadang org lebih butuh perhatian dari pada pujian..
    Terkadang orang lebih butuh tindakan dari sekedar kata-kata..
    Makan yg lahap Ahra -ya, rotinya.. 😉

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s