[EXOFFI FREELANCE] Secret Wife Season 2 (Chapter 11)

Poster Secret Wife Season 2 ''.jpg

Tittle    : Secret Wife Season 2

Author    : Dwi Lestari

Genre     : Romance, Friendship, Marriage Life

Length     : Chaptered

Rating    : PG 15

Main Cast :
Park Chanyeol, Kim Soah (Aiko)

Support Cast :

Oh Sehun, Min Aera, Kim Nara, all member EXO and other cast. Cast dapat bertambah atau menghilang seiring berjalannya cerita.

Summary:

Soah terpaksa menjalani pernikahan rahasia dengan artis papan atas Park Chanyeol, demi menghindari kutukan keluarganya. Meski sebenarnya dia tak pernah percaya jika kutukan itu masih berlaku.

Disclaimer    : Cerita ini murni buatan saya. Juga saya share di wattpad pribadiku: @dwi_lestari22

Author’s note    : Sekedar mengingatkan, jika ini berbeda dengan SECRET WIFE yang pertama. Ini bukan kelanjutannya. Cerita ini berdiri sendiri. Tapi akan ada beberapa hal yang sama. Dijamin tidak kalah seru. Maaf jika alurnya gj. No kopas, no plagiat. Jangan lupa komentarnya. Gomawoyo. Sorry for Typo. Happy Reading.

Chapter 11

(Parents In Law)

Kau memegang tanganku saat aku jatuh
Kau dengan hangat dan dengan erat memelukku

“Chanyeol-ssi, bangun”, ucap Soah sambil mengguncang tubuh suaminya yang masih terbungkus selimut. “Bukankah kau ada rekaman hari ini”, ucap Soah lagi. Dia sudah tak lagi mengguncang tubuh suaminya. Dia memilih diam dan menatap wajah pria itu yang masih enggan membuka mata.

Ini sudah lewat beberapa hari sejak peristiwa itu. Hubungan mereka kini terbilang dekat. Meski Soah masih belum bisa membuka hatinya untuk pria itu, tapi dia berusaha untuk memahaminya. Mencoba untuk membangun kepercayaan pada pria itu.

Dia mendesah pasrah, pria itu masih rapat menutup matanya. Dia tahu jika pria itu masih lelah karena konsernya semalam. Tangannya terulur merapikan anak rambut di kening pria itu. Senyum kecil juga menghiasi wajahnya.

“Jam berapa sekarang?”, gumam pria itu. Matanya masih tertutup.

Soah melirik sekilas jam dindingnya. “Jam delapan lewat lima belas menit”. Dia masih setia duduk di samping suaminya terbaring.

“Sebentar lagi, aku masih mengantuk”, gumam pria itu kembali. Dia mengeratkan pelukannya pada guling.

“Ya sudah kalau begitu. Aku mau ke minimarket sebentar, persediaan makanan kita habis”, ucap Soah kembali. Dia segera beranjak meninggalkan pria itu.

“Emmh”, pria itu menjawabnya dengan gumaman.

-o0o-

Chanyeol sudah rapi dengan penampilannya. Setelah mengambil jaket, ponsel serta kunci mobilnya dia meninggalkan kamarnya. Dia menuju dapur. Dia melihat seorang wanita berdiri membelakanginya sambil menata makanan di kulkas. Dia tersenyum, karena dia pikir itu istrinya. “Soah-ya, kau sudah kembali”, ucapnya sambil berjalan mendekat.

Wanita itu menoleh. Dugaannya salah, itu bukan istrinya. Melainkan, bibinya. Dari belakang mereka terlihat sama memang. “Owh, Nara imo. Maaf, ku pikir Soah tadi”, ucapnya sambil tersenyum malu. Dia juga mengusap tengkuknya yang tak gatal.

“Kau baru bangun?”, tanya wanita itu sambil tersenyum. Senyum yang terlihat mirip dengan istrinya.

“Iya”, jawab Chanyeol.

“Duduklah! Kau belum sarapankan?”, tanya wanita itu kembali.

Chanyeol duduk mengikuti saran wanita itu.

“Memangnya Soah kemana? Bukankah dia seharusnya sudah berangkat ke kantornya?”, tanya wanita itu kembali. Dia menata beberapa jenis masakan di piring.

“Dia bilang pergi ke minimarket”, jelas Chanyeol kembali.

“Minimarket”, ulang wanita itu. Dia juga mengangkat alisnya. Ini hal baru hal di dengarnya. Keponakannya pergi berbelanja ke minimarket? Ini kemajuan. Selama ini keponakannya juga tak pernah suka pergi ke tempat itu. Jangankan untuk membeli makanan, membeli kebutuhan pribadinya saja dia enggan. Selalu saja wanita itu yang membelikannya. Jika bukan begitu, maka wanita itu akan menyuruh sekretaris keponakannya untuk membelanjakan kebutuhan keponakannya.

“Katanya persediaan makanannya habis”.

Wanita itu menata beberapa jenis masakannya di meja. “Memangnya selama dia memasak?”, tanyanya kembali. Tangannya sibuk menata beberapa piring makanan.

“Iya”, jawab Chanyeol sambil mengangguk.

Ini kemajuan baru. Keponakannya itu tak pernah suka berkutat dengan panci dan wajan, dia sangat tahu itu. Dan dia tak pernah tahu jika keponakannya bisa memasak. Wanita itu tersenyum kemudian. Ada untungnya juga menikahkan mereka lebih awal.

“Aku baru tahu dia bisa memasak. Bagaimana rasanya? Kuharap tidak buruk, mengingat bagaimana tak sukanya dia berurusan dengan yang namanya dapur”, tanya wanita itu kembali.

“Masakannya selalu enak”, ucap Chanyeol sambil tersenyum.

“Kau mengatakan itu bukan karena ingin membela istrimu kan”.

“Tidak. Aku berkata benar”, jelas Chanyeol lagi.

“Ya, dia memang selalu tak terduga”, jawab wanita itu. “Hari apa ini?”.

“Jum’at”.

“Pantas saja. Dia tidak suka bekerja di hari jum’at”. Wanita itu memberikan sumpit pada Chanyeol. “Makanlah”.

“Iya”. Chanyeol menerima sumpitnya dan mulai memasukan makanan ke mulutnya. “Imo tidak ikut sarapan?”.

“Aku sudah sarapan tadi”.

Chanyeol hanya mengangguk mengerti. Dia kembali menikmati makanan di depannya.

Sementara wanita itu sibuk menata makanan yang tadi sempat tertunda. Dia memang selalu membawa masakan untuk keponakannya tersebut. Seperti yang dibilangnya tadi, keponakannya memang tidak suka memasak sebelum menikah.

“Kau sudah pernah mengajak Soah ke rumah orang tuamu?”, tanya wanita itu setelah menutup kulkasnya. Dia juga memberikan segelas air pada Chanyeol.

“Belum”, ucap Chanyeol disertai gelengan.

“Kau pasti sibuk. Ku dengar kau akan merilis album baru lagi”.

“Iya. Hari ini aku ada rekaman”.

“Kalian bahkan tak sempat berbulan madu”, wanita itu menghela nafas panjangnya. “Jika memang kau punya waktu senggang, ajaklah dia ke rumah orang tuamu. Tidak etis rasanya jika menantu tak pernah mengunjungi mertuanya, bukankah begitu”.

“Iya, anda memang benar”, jawab Chanyeol sambil tersenyum kikuk.

Imo, kau disini”, suara itu mengintrupsi mereka untuk menoleh. Seorang gadis tengah yang meneteng tas belanja tengah berjalan ke arah mereka.

“Kau belanja?”, tanya bibinya.

Soah tersenyum aneh. Dia kemudian mengangguk membenarkan. “Iya. Bahan makananku habis, jadi aku harus melakukannya”, jawabnya. Dia menaruh barang belanjaannya di meja dekat kulkas.

“Itu bagus. Jadi aku tak perlu menyuruh Aera untuk membelanjakanmu”, jelas wanita itu. “Imo pergi dulu”.

“Iya. Mau ku antar?”, ucap Soah.

“Tidak perlu. Baik-baiklah dengan Chanyeol”. Wanita itu menepuk pelan pundak Chanyeol. “Ingat pesanku”, lanjutnya, namun kali ini ditujukan untuk Chanyeol.

“Iya”, jawab Chanyeol.

“Tentu saja. Terima kasih makanannya. Hati-hati di jalan imo”, Soah melambaikan tangan pada bibinya yang sudah berjalan meninggalkan dapur.

Soah mengambil sumpit kemudian. Ikut duduk di depan Chanyeol. Tangannya terulur mengambil makanan tersebut. Dia mengunyah pelan setelah memasukan ke mulutnya. “Masakan imo memang yang terbaik”, ucapnya disela-sela mengunyah.

“Lebih enak masakanmu”, ucap Chanyeol. Dia juga kembali fokus makan.

Soah berhenti mengunyah. Dia menelan kasar makanannya. Menatap tajam pria yang duduk di depannya. Namun pria itu justru sibuk dengan makanan-makanan itu. “Itu tidak mungkin. Bagaimana bisa kau membandingkan masakanku dengan masakan imo. Kau tahu, imo pernah sekolah chef di Amerika. Bahkan tanpa sekolahpun sebenarnya dia akan tetap bisa memasak. Ini karena bakat keluarga”, jelas Soah.

“Bakat keluarga”, ulang Chanyeol.

Soah mengangguk. Dia menyuapkan sepotong daging ke mulutnya. “Ya, bakat keluarga dari ayahku adalah memasak. Semua yang berasal dari keluarga ayahku bisa memasak. Appa juga, Sera imo juga, Nara imo jangan ditanya. Dia yang paling pandai diantara saudaranya. Dan itu juga menurun pada Hyunmin oppa. Kau sudah tahukan bagaimana kemampuan memasaknya”, jelas Soah disela-sela mengunyahnya.

Chanyeol mengangguk. “Itu juga menurun padamu kan”, ucap kemudian.

“Sepertinya iya”, jawab Soah sambil tersenyum.

“Bagaimana dengan keluarga ibumu?”, tanya Chanyeol lagi.

“Menggambar adalah bakat keluarga ibuku. Kakek dari ibuku adalah seorang pelukis. Itulah kenapa ibuku juga pandai melukis, dia mewarisinya dari ayahnya. Adiknya juga, meski bukan melukis tapi dia sangat pandai mendesain perhiasan”, jelas Soah kembali.

“Lalu ibumu mewariskannya padamu, iya kan. Hyunmin buruk dalam hal menggambar”.

Soah mengangguk. Dia kembali mengunyah makanannya.

“Jadi kau bisa melukis?”.

Soah kembali mengangguk. “Meski tak sebagus eomma”.

“Kau juga bisa mendesain kan”.

“Iya, itu karena aku masuk sekolah desain, baju khususnya. Aku juga bisa menggambar webtoon”.

Mereka diam setelahnya. Sibuk dengan makanan masing-masing. Sesekali Chanyeol menyodorkan lauk untuk Soah. Soah awalnya menolak, namun setelah mendapat tatapan tajam dari suaminya dia akhirnya mau memakannya.

-o0o-

“Aku berangkat dulu”, ucap Chanyeol. Mereka memang sudah menyelesaikan sarapannya.

“Emmmh. Hati-hati”, ucap Soah. Dia mengantarnya sampai di pintu depan.

“Kau benar-benar tak ke kantormu?”, tanya Chanyeol kembali.

“Emmh. Mereka sudah tahu jika hari ini aku tak akan datang ke kantor”.

“Lalu apa yang akan kau lakukan seharian ini”.

“Menggambar. Aku sudah bilang kan jika aku bisa menggambar webtoon. Mau baca webtoonku”.

“Lain kali saja. Aku pergi”. Baru dua langkah pria itu kembali berbalik ke arah Soah. “Apa judul webtoonmu?”.

Soah tersenyum miring. “Katanya nanti. Aishitteru”, ucap Soah.

“Aku juga”.

“Itu judul webtoonku”.

“Ku pikir kau mengatakan itu untukku”.

“Cepat pergi. Kau bisa terlambat”.

Chanyeol mendekat ke arah Soah. Dia memeluknya. “Aku tak akan pulang hari ini. Aku pasti akan merindukanmu”.

“Pastikan makan tepat waktu”.

Chanyeol mengangguk. Dia melepaskan pelukannya. “Aku pergi dulu”, dia mengacak pelan puncak kepala Soah. Juga mengecup singkat keningnya.

Soah mematung dibuatnya. Dia bahkan tak sadar jika kini pria itu sudah menghilang di balik pintu.

-o0o-

“Bwahahaha”, Chanyeol tertawa keras saat menatap layar ponselnya. Dia sedang duduk di sofa  dormnya setelah sesi rekaman tadi.

Yak, bisakah kau memelankan suaramu. Berisik tau. Kau lihat apa sampai tertawa seperti itu?”, ucap Baekhyun yang ikut duduk di sampingnya. Dia menyalakan TV di depannya kemudian. Dia juga melirik sekilas layar ponsel Chanyeol.

“Sejak kapan kau jadi penggemar webtoon?”, tanya Baekhyun kembali.

Chanyeol masih tidak merespon. Dia masih tertawa meski tak sekeras tadi.

Baekhyun hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dia kembali memfokuskan pandangannya ke layar kaca di depannya.

“Aku tidak pernah menyangka Soah memiliki selera humor yang bagus”, ucap Chanyeol setelah menyelesaikan bacaannya. Ya, dia membaca maraton webtoon yang dibuat Soah. Karena memang wentoon itu sudah sampai di episode yang ke 27. Webtoon itu bertajuk romance-comedy, itulah mengapa dia tak bisa berhenti tertawa.

Baekhyun mengangkat alisnya kala mendengar sebuah nama keluar dari mulut rekannya. Dia tak salah dengarkan tadi. Angannya menerawang mengingat kejadian beberapa hari lalu di kantor milik gadis yang namanya tadi disebutkan oleh Chanyeol. Dia mendengar dengan jelas jika gadis itu menikah dengan Chanyeol. Tapi dia masih ragu, apakah itu Chanyeol rekannya atau orang lain yang memang memiliki nama sama dengan rekannya.

Bukankah pria itu bilang jika orang tua mereka berteman bukan. Kemungkinan besar memang rekannyalah yang dimaksud bibi gadis itu. Tapi, kapan mereka menikah? Tunggu! Akhir-akhir ini, Chanyeol memang jarang pulang ke dorm. Dia lebih sering pergi dan kembali saat ada jadwal untuknya. Jangan-jangan, Chanyeol yang dimaksud bibi gadis itu memang rekannya?

“Soah. Soah siapa?”, tanya Baekhyun. Dia ingin memastikan pemikirannya.

“Maksudmu?”, tanya Chanyeol yang tak paham. Sial, dia keceplosan menyebutkan nama istrinya tadi.

“Kau menyebut nama Soah kan tadi. Soah siapa? Kim daepyo ?”, ucap Baekhyun kembali.

“Ah, iya”, jawab Chanyeol disertai anggukan.

“Memang kau dekat dengannya?”, Baekhyun tak bosan-bosannya melemparkan pertanyaan.

Chanyeol tampak ragu saat akan membuka mulutnya. “Kau bisa menyebutnya seperti itu. Ternyata dia mengingatku”, ucapnya terdengar ragu.

“Ku yakin dekat hanya karena itu?”.

Chanyeol mengangguk. Ada yang terdengar aneh dari ucapan Baekhyun. Rekannya yang satu itu sedikit sensitif jika menyangkut topik seputar istrinya. Sebenarnya ada apa dengannya. “Memangnya kenapa? Kau selalu menjadi aneh jika berbicara seputar Kim daepyo ”, ucap Chanyeol akhirnya menyuarakan isi hatinya.

Bekhyun membuang kasar nafasnya. “Sebenarnya hari itu aku mendengar pembicaraan Kim daepyo  dengan bibinya”, ucap Baekhyun cukup lirih.

Chanyeol mendengarnya. Dia memasang pendengarannya dengan baik untuk mendengar setiap kata yang terucap dari rekannya.

“Awalnya, aku tak paham dengan apa yang mereka bicarakan. Karena memang aku mendengar ditengah-tengah pembicaraan, bukan sejak awal. Setelah aku fikir-fikir, kini aku paham. Dia kembali ke Korea karena hubungannya yang tak direstui oleh bibinya. Dia sudah dijodohkan dengan seseorang. Mereka mungkin sudah menikah sekarang. Bukankah begitu?”, jelas Baekhyun. Pandangannya yang tadi lurus ke depan kini beralih pada rekannya yang duduk di sampingnya.

Chanyeol mengangkat alisnya. Berpura-pura tak paham dengan apa yang di ucapkan rekannya. “Mana aku tahu. Dia tak bercerita”, ucap Chanyeol. Dia mebuang mukanya setelah berkata.

“Begitukah! Bukankah kau yang menikah dengannya?”.

Chanyeol menoleh. Dia menatap tajam ke arah Baekhyun.”Bagaimana bisa kau mengatakan hal itu?”, tanyanya.

“Sudah ku bilang kan, jika aku mendengar pembicaraan mereka”.

Chanyeol hanya bisa diam. Untuk beberapa saat mereka hanya saling terdiam dan saling menatap. Chanyeol yang bingung harus menjawab apa. Sedang Baekhyun menanti jawaban dari pria jakung yang menjadi rekannya tersebut.

“Kenapa kalian berdua masih disini? Kalian lupa jika kita ada latihan”, jelas seseorang yang tak lain adalah sang leader.

Mereka berdua otomatis menoleh dan menghentikan acara tatap menatap tersebut. “Iya, hyung. Kami akan bergabung”, jawab Baekhyun akhirnya. Dia menoleh ke arah Chanyeol sebentar. “Kau masih punya hutang penjelasan denganku”, lanjutnya kemudian. Tangannya terulur mengambil remot dan mematikan TV. Berjalan mengikuti sang leader.

Chanyeol membuang nafas leganya. Untuk hari ini dia selamat. Tapi untuk hari-hari berikutnya, dia tak yakin. Dia ikut berdiri dan menyusul kedua orang tersebut kemudian.

-o0o-

“Kenapa kita berhenti disini? Dan juga, rumah siapa itu?”, tanya Soah yang terlihat penasaran. Ya, mereka kini sudah berhenti di sebuah rumah yang belum pernah Soah kunjungi sebelumnya. Setelah dua malam tak pulang ke apartemen Soah, pria itu berdalih ingin  mengajaknya jalan-jalan. Nyatanya, pria itu malah mengajaknya ke kediaman seseorang.

Pria itu membuang pasrah nafasnya setelah mendapat pertanyaan dari Soah. Dia melepas sabuk pengamannya. Pandangannya kini ia alihan ke arah Soah. “Ini rumah eomma”, jelas pria itu.

Mwo?”, Soah terlihat benar-benar kaget.

“Ayo masuk”, ajak pria itu lagi.

“Kenapa kau tak bilang sejak tadi? Jika aku tahu sejak awal, aku pasti akan membawa sesuatu untuk ommonim”, bantah Soah. Dia menarik lengan pria itu saat akan beranjak.

Eomma tidak akan kecewa meski kau tak membawa apapun. Kau sudah mau datang, itu sudah membuat eomma senang”, jelasnya lagi.

“Tetap saja Chanyeol-ssi, itu tidak sopan namanya. Dan lagi, ini kali pertama aku datang ke rumah mertuaku”. Soah nampak kecewa.

“Kenapa? Kau takut?”, goda pria itu. Dia juga mengusap pelan puncak kepala Soah.

Soah mengusap tengkuknya, wajahnya juga ditekuk. “Eoh”, jawabnya singkat. “Aku baru dua kali bertemu mereka. Saat makan malam itu dan saat pernikahan kita. Itupun kami tak mengobrol banyak. Aku takut jika mereka tak menyukaiku sebagai menantu”, lanjut Soah lagi.

“Jangan khawatir, mereka menikah kita itu berarti mereka sudah siap menerima konsekuensinya. Tidak peduli seperti apa menantunya, mereka akan menerimanya dengan tangan terbuka. Percaya padaku, mereka tidak semenakutkan itu”, ucap pria itu menenangkan. Dia juga menggenggam erat tangan Soah.

“Itu karena kau sudah tinggal dengan mereka dari lahir”, Soah masih membantah. Masih terlihat ragu untuk menerima ajakan pria itu.

“Kalau kau tidak menemui mereka, kau tak akan tahu reaksinya bukan”, pria itu masih mencoba menenangkan Soah.

“Hah”, Soah membuang pasrah nafasnya. “Memang iya”, ucapnya kemudian. “Apa abeonim juga di rumah?”.

“Ini hari minggu Soah, mereka semua ada di rumah. Aku yakin noona juga ada di rumah”.

“Baiklah, ayo masuk”, jawab Soah pasrah.

Mereka memasuki kediaman orang tua Chanyeol. Dengan saling berpegangan tangan. Meski sebenarnya Soah masih setengah hati tak terima dengan tindakan pria itu hari ini.

“Sepi sekali”, ucap Soah saat mereka sampai di ruang keluarga.

“Mereka mungkin di belakang”, ucap Chanyeol. “Tunggu disini, aku akan memanggilkan mereka”.

Soah mengangguk mengiyakan. Setelahnya Chanyeol pergi entah kemana. Dia hanya memandang foto-foto yang terpajang manis di dinding. Foto keluarga suaminya. Juga ada foto-foto lucu suaminya, kedua mertuanya serta kakak iparnya. Soah ikut tersenyum melihatnya.

Dia merasakan sesuatu yang menggelitik di kakinya. Soah menoleh ke bawah untuk memeriksanya. Seekor kucing putih tengah bergelut manja dengan kakinya. “Meong”, suara kucing itu terdengar jelas di telinganya. “Aaaa”, Soah menjerit histeris.

Tanpa pikir panjang dia menaikan kakinya ke sofa. Mengambil bantal dan mengarahkannya ke kucing tersebut. Dia berusaha mengusirnya. “Hush, hush. Pergi, pergi sana. Hush, hush”, usirnya.

Namun sepertinya kucing itu tak mengindahkannya. Kucing itu justru duduk dan menatap sendu Soah. Kadang dia mengeluarkan suara. Sepertinya berniat mengajak Soah bermain. Wajahnya sangat lucu, membuat siapapun yang melihatnya akan merasa gemas. Bulunya putih dan matanya berwarna biru.

Tapi tidak bagi Soah. Itu adalah hewan yang paling dibencinya. Hewan yang akan membuatnya bersin jika dia mencium bulunya. Dan bersinnya sulit hilang meski sudah meminum obat alergi. “Hush, hush”, usirnya kembali.

Dari arah lain datanglah suaminya beserta keluarganya. Dia menatap aneh Soah, setelah melihat tingkahnya. “Soah, kau kenapa?”, tanya Chanyeol. Dia berjalan mendekat ke arah Soah. Tangannya terulur menggendong kucingnya.

“Singkirkan kucing itu Chanyeol-ssi”, ucap Soah. Dia masih menaikan kakinya di sofa. Dia juga menutup hidungnya. Tangannya juga memberi isyarat untuk menjauhkannya.

“Kau takut. Lihatlah, bukankah dia lucu. Namanya Snowy”, ucap Chanyeol. Dia mendekatkan kucing itu pada Soah.

“Akh”, teriak Soah. Cukup kecang, membuat semua orang terlihat panik. Dia menutup wajahnya. Juga menundukkan badannya. Tapi sepertinya terlambat, dia terlanjur mencium bulu kucing tersebut.

“Chanyeol, apa yang kau lakukan? Soah alergi kucing”, ucap ibunya. Dia teringat percakapannya dengan Kim Nara yang tak lain bibi Soah saat berkunjung ke rumahnya setelah melihat kucing peliharaannya.

“Apa?”, ucap Chanyeol kaget. Dengan segera dia menurunkan kucingnya. Menjauhkannya sesegera mungkin.

Kakaknya merebut kucing tersebut. “Aku akan membawanya ke belakang, kau tenangkan saja istrimu”, ucapnya.

“Soah kau baik-baik saja?”, tanya Chanyeol yang terlihat panik. Dia mendekati Soah yang masih menyembunyikan wajahnya. Mengangkat kepala Soah dan melepaskan tangannya. “Kau baik-baik saja?”, tanyanya kembali.

Soah mengangguk sebagai jawaban. Namun tubuhnya bereaksi lain. Dia mulai bersin. Semakin lama bersinnya semakin sering.

-o0o-

Malam sudah semakin larut. Namun suara berisik di kamar itu masih terdengar. Ya, Soah masih bersin hingga sekarang. Hidungnya sangat merah karena terlalu banyak bersin. Selalu saja seperti itu jika dia berhadapan dengan kucing. Untuk itulah, dia menjadikan hewan itu sebagai benda nomor satu yang paling dibencinya. Tidak peduli seberapa lucu warna, bulu, maupaun sikap kucing tersebut, dia tak akan terpengaruh.

Chanyeol memasuki kamar dengan membawa segelas minuman yang masih mengeluarkan asap. Dia adalah orang pertama yang merasa bersalah melihat keadaan istrinya. Ya, karena ketidaktahuannya dia sudah membuat istrinya bersin sepanjang hari. Sudah berbagai cara dia lakukan untuk menghentikan bersin tersebut. Namun hasilnya tetap nihil. Seolah bersin itu sudah berada pada tempatnya dan enggan beranjak.

“Minum ini”, ucapnya menyodorkan minuman hangat itu pada Soah.

Soah meminumnya dengan perlahan. Dia juga sempat mengalami bersin di sela-sela meminumnya. Dia memberikan gelasnya kembali setelah menghabiskannya.

“Maaf ya. Gara-gara aku kau jadi seperti ini”, ucap Chanyeol setelah meletakkan gelasnya di nakas. Dia merapikan anak rambut Soah, menyampirkannya ke belakang telinga.

“Sudah berapa banyak kau minta maaf seharian ini…. haching…. Sudah ku bilang ini bukan salahmu ……haching ….. “ ucap Soah disertai bersinnya.

“Tetap saja, aku….”, ucap Chanyeol terpotong karena tiba-tiba Soah memeluknya.

“Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri … haching…”, Soah menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya.

Chanyol hanya bisa mengambil nafas dalam. Dia mengusap pelan surai panjang istrinya. Suara bersin masih ia dengar meski tak sekeras sebelumnya, karena memang Soah menyembunyikan wajahnya.

Soah kembali mengangkat wajahnya. Hal pertama yang dilihat di wajah suaminya adalah raut khawatir. Untuk sesaat mereka saling menatap dan berakhir ketika dirinya bersin.

Chanyeol menangkup wajah Soah dengan kedua tangannya. Menatapnya sendu. Dia melihat hidung istrinya benar-benar merah karena terlalu banyak bersin. Saat tahu istrinya akan bersin, dia mendekatkan wajahnya. Membungkam mulut istrinya dengan bibirnya. Melumatnya pelan hingga meredamkan bersinnya. Dia kembali melumatnya kala tahu istrinya akan bersin kembali. Diulangnya beberapa kali, dan menjauhkan wajahnya setelah kehilangan pasokan oksigen.

Mereka sama-sama terengah. Sama-sama mencari pasokan oksigen yang mulai menipis. Hidung mereka masih menepel. Hingga membuat mereka bisa merasakan deru nafas masing-masing. Soah kembali merasakan dirinya akan bersin. Dengan sigapnya Chanyeol kembali membungkamnya. Kali ini terkesan lembut, bahkan pria itu memiringkan wajahnya. Memberikannya ruang untuk mengambil nafas.

Soah kembali menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya setelah pria itu melepaskan lumatannya. Dia malu tentu saja. Ya, meski kini mereka sudah resmi menjadi suami istri tetap saja ada saat dimana dia merasa malu dengan apa yang dilakukannya. Seperti tadi, dengan seenaknya pria itu menciumnya dan dengan sengaja pula dia membalas lumatan pria itu.. Owh God, siapa yang tak tergoda dengan bibir seksi pria itu.

“Apa bersinnya masih ada?”, tanya Chanyeol.

Soah mendongakkan wajahnya. Memeriksa dirinya. Rasa gatal dihidungnya, sudah menghilang. Dan ajaibnya, bersin itu juga hilang. Soah mendengus beberapa kali mencoba meyakinkan. Benar saja bersinnya sungguh hilang. “Ini aneh, tapi bersinnya memang benar-benar hilang”, ucap Soah.

“Benarkah!”, ucap Chanyeol tak percaya. Wajahnya memancarkan ketidakpercayaan dan lega sekaligus. Dia tak pernah menyangka jika apa yang dilakukannya akan membuat istrinya menjadi lebih baik. Dia senang tentu saja.

Soah kembali mengangguk sebagai jawaban. “Gomawo”, ucapnya kemudian yang diselingi dengan senyum tulusnya.

“Syukurlah”, Chanyeol mengusap pelan puncak kepala Soah.

Mereka saling terdiam setelahnya. Saling menatap. Seolah bicara lewat tatapan tersebut. Chanyeol mulai mendekatkan wajahnya. Dengan sigap Soah memundurkan wajahnya. Tangannya membentuk silang di depan dada seolah berkata jangan.

“Jangan mendekat”, ucap Soah menyuarakan isi hatinya.

Sepertinya Chanyeol tak mengindahkannya. Terbukti dengan wajahnya yang semakin mendekat. Tersenyum miring, mencoba menjalankan ide gila yang terlintas dalam fikirannya.

Soah semakin memundurkan tubuhnya, karena keseimbangannya yang goyah tubuhnya terhempas ke ranjang. Dia yang semula duduk kini sudah berbaring telentang. Itu semakin mempermudah Chanyeol menjalankan aksinya. Saat Soah sudah merasakan nafas Chanyeol di wajahnya, dia menutup matanya. Dia sudah tidak bisa menghindar. Apalagi kini pria itu mulai menindih tubuhnya. Mungkin ini akan menjadi olahraga malam untuknya.

Mereka tidak sadar jika sepasang mata tengah mengawasinya dari pintu yang sedikit terbuka. Ya, mereka memang masih di rumah orang tua Chanyeol. Wanita paruh baya yang tak lain adalah ibu Chanyeol tersenyum melihat mereka. Dia tak bermaksud mengintip sebenarnya. Dia hanya sedang memeriksa menantunya, karena sudah tak mendengar suara bersinnya. Tapi yang dilihatnya justru hal tak terduga. Dia berbalik hendak meninggalkan tempat itu, namun dia sudah dikagetkan oleh putrinya.

Eomma sedang apa?”, tanya gadis itu. Dia melirik sekilas ke arah pintu yang sedikit terbuka. Dia membalikkan tubuhnya dengan cepat. “Jangan bilang eomma sedang mengintip mereka?”, ucap putrinya.

“Ssst”, wanita itu mencoba menyuruh putrinya untuk tidak menimbulkan suara. Dia menutup pintu itu dengan hati-hati, takut menganggu kegiatan putra dan menantunya. “Eomma tak bermaksud mengitip. Aku hanya ingin memeriksa bagaimana keadaan Soah. Ternyata dia sudah mendapat obat yang mujarab”.

“Mereka kan pengantin baru eomma, jadi wajar saja”.

“Aku tahu. Tidur sana, ini sudah malam”.

“Iya, iya”.

to be continue……..

Hai,hai. Saya kembali lagi dengan chapter 11.

Maaf baru bisa update. Habis jaga ibu di rumah sakit selama seminggu. Trus aku ikutan sakit juga pas udah pulang ke rumah.

Dan baru bisa nulis lagi deh…..

Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya.

See you next time……

20 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Secret Wife Season 2 (Chapter 11)”

    1. Dari selesai mendengar percakapan Soah ma bibinya Bang Baek kan udah ada virus” curiga…
      Bang Chan emang hebat, makanya obatnya mujarab untuk Soah….
      😍😍😍

  1. Haloo author,aq pembaca baru di cerita author,ngebut baca dari pagi..hehe..ceritanya seru dan seneng dengan cerita perjodohan,cuma chapther 10 kemana ya thor..,tetep sehat dan semangat ya thor

    1. Owh, halo…
      Salam kenal…..
      Maksih ya, udah dikebut bacanya….

      Chapter 10-nya di password…
      Kalau mau dpt passwordnya, tanya aja disalah satu akunku ini:

      Line: @tari_dwi23
      IG: @tari_dwi22
      E-mail: lestaridwi8395@gmail.com
      Wattpad: @dwi_lestari22

  2. Gapapa thor, kita tetap nungguin author update kok, btw itu Chanyeol sama Soah udah makin dekat aja ya thor, udah makin intim wkwkwk
    Maknya Chanyeol lucu juga ya ngintip “aktifitas malam” anak ama mantunya hahahaha
    Ditunggu next chapnya ya thor, oia buat author semangat terus ya nulisnya dan jaga kesehatan ya thor karna kalau author sakit kan jadi gabisa lanjutin ceritanya

    1. Makasih udah Setia nunggu…
      Oya nih, mereka udah makin dekat saja….
      Emak-emak jama now kan, wkwkwkwk…. 😂😂😂
      Ditunggu saja ya

      Makasih….. 😘😘😘

  3. asik tuh olahraga malam uppps wkwk,semoga makin sweet di next chap nya ya.jangan sakit lagi thor biar gk lama nunggunya hhhha.hwaiting…

    1. Hahaha… 😂😂😂
      Iya, semoga tambah sweet ya….
      Sedang diusahakan jaga kesehatan….
      Makasih ya….

      Fighthing…. 💪💪💪

  4. Baru thu klo bersin bisa dhilangkan dg cium mencium..hbis ne coba ah sma misua huahahahahahhaa
    Jgn atit atit dundd..nti aku cedih klo km atitttt hiks hiks..tp udh sembuhkan???smoga sehat trusss yaaaaa sekeluargaaa amin…:*

    1. Itu resep rahasia milik mereka, 😁😁😁
      Silahkan dicoba, siapa tahu manjur…. 😁😁😁
      Sudah kok ini….
      Makasih ya….
      Amin…..

    1. Iya, udah kok ini… Makasih do’anya….
      Terima kasih….
      Sebenarnya udah tahu cuma masih ragu….
      😊😊😊

  5. Hai” semoga kamu dan keluarga sehat selalu ya…
    Omaygat kok aku yg baper yak bacanya haha…
    Duh makin sweet biarpun belom sepenuhnya moveon…
    Ciye ada yg kepo sama bang ceye…
    Jadi penasaran sm reaksi baeki kalo tau yg sebenernya ..
    Ok ditunggu lanjutannya, love you…

    1. Amin, makasih do’anya….
      Jangan baper” deh, nanti kepikiran terus…
      Iya nih, semoga tambah sweet ya….
      Kita lihat saja nanti bagaimana reaksinya bang Baek jika tahu…
      Ditunggu saja, jangan bosan pokoknya….
      😘😘😘

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s