[XIUMIN BIRTHDAY PROJECT] Hambar by l18hee

46eccafc41a2efca0a9d9ddb927c1768.jpg

Hambar

―by l18hee

Minseok & Reen

Ficlet / Life / Romance

Teen

.

.

You make me alone. Feel so alone.

And we’re alone.

―Suho & Jane Jang ‘Dinner’

.

.

Ini adalah sudut pandang Minseok. Yang secara keseluruhan melingkupi perasaan yang kini lelaki itu resapi. Napasnya terembus teratur, degubnya pun punya ritme yang sama.

Pukul 07.30 tepat, denting jam terdengar berisik selama tujuh kali tiga puluh menit yang lalu. Namun gaungnya terasa masih melekat di setiap sudut ruangan. Gelap mengintip dari kaca jendela, beruntung angin tak punya kesempatan untuk mengusik karena rapatnya celah pintu balkon.

Minseok menggoyang pelan gelas berisi anggur yang ada di atas meja. Maniknya menatap bagaimana gadis di depannya memotong steak dengan anggun. Kuku-kuku penuh poles indah milik si gadis memapar pandangannya. Aneh, tak memberi dorongan bagi lidahnya untuk memuji.

“Pekerjaanmu lancar, Reen?” tanya Minseok.

Iris Reen jatuh tepat ke wajah Minseok, sebuah jawaban mengikuti, “Seperti biasa. Bagaimana denganmu?”

Sebuah anggukan Minseok suguh, “Sama saja seperti kemarin.” Dia mengambil pisau dan garpu, mulai memotong steak. Hening lagi. Mereka sibuk memotong daging menjadi kecil-kecil, memasukkan ke mulut secara berkala. Tidak terburu, tidak pula bersemangat.

Ini adalah sudut pandang Minseok. Tapi dia bisa tahu jika wajahnya sedatar tembok sekarang. Tidak ada perasaan berarti. Pikirannya entah melaju ke mana. Minseok sibuk memerhatikan bagaimana ia memotong daging agar mudah dicacah gigi-giginya.

Sejemang, lirikannya jatuh pada Reen. Membuatnya mendengus secara imajiner. Gadis itu, begitu-begitu saja. Tidak tahu sejak kapan, hubungan mereka mulai penuh dengan kehambaran. Terus terang saja Minseok bahkan tak punya niatan untuk mencairkan suasana. Karena jika dipikir lagi, ia tak begitu keberatan dengan situasi seperti ini. Bukankah dengan begitu tak ada pertengkaran lagi? Hubungan mereka akan tenang walau tak berasa. Minseok dapat melakukan banyak hal dalam hidupnya selain berorientasi pada kebersamaannya dengan Reen.

Oh, jangan salah sangka dulu. Begini juga Minseok masih menyayangi gadisnya. Seluruh hati Minseok sudah diberikan pada Reen. Lelaki itu bahkan tak berniat untuk pergi. Sebuah permasalahan yang rumit jika dilihat dari kondisi hubungan mereka sekarang yang rasanya mengambang.

Tak disangka, pukul 7.45 suara Reen terdengar, “Ada hal yang sedang ingin kaulakukan akhir pekan ini?”

“Tidak ada. Kau ingin melakukan sesuatu?” Minseok dapat melihat begitu cantiknya Reen kala meminum anggur. Ah, sudah biasa.

“Tidak juga.” Kedikan bahu Reen tunjukkan. Dia tidak lapar lagi walau belum kenyang. Namun tangannya terus memotong daging hingga potongan terkecil. Minseok tahu, Reen sama hampanya dengan dirinya.

Ini adalah sudut pandang Minseok. Dia tahu hubungannya dalam masa genting walau tak banyak pertengkaran yang terjadi. Hambar penyebabnya. Bosan biang keladinya.

Tidak ada pembicaraan seru. Tidak ada saling tukar senyum dan tawa. Tidak ada tatapan yang bertahan lama.

Bagian paling aneh adalah kesemuanya tak kunjung mendapat kejelasan. Baik dari pihak Minseok atau Reen, tak ada yang mencoba memperbaiki. Mereka lebih suka diam dan mengikuti arus yang tenang dan menghanyutkan, seakan menunggu kapal hubungan mereka karam sendiri karena terombang-ambing oleh ombak lautan. Kini kapal mereka seolah tanpa kemudi.

Harusnya Minseok sebagai seorang lelaki sadar bahwa dirinya punya kewajiban mengendalikan arah hubungan jika pihak Reen tak punya inisiatif apa-apa.

Harusnya.

Tapi yang terjadi, ya, begini-begini saja.

Denting delapan kali terdengar, pukul 8 tepat dan Minseok beranjak dari duduknya. Acara makan telah rampung walau piring-piring yang ada tak tersapu bersih. Bahkan gelas anggur masih terisi seperempatnya.

Ini adalah sudut pandang Minseok. Dia tahu Reen pun bosan. Namun pada dasarnya keegoisan kuat masih saja membelenggu seluruh inci hati si lelaki. Minseok tak akan pernah rela melepas Reen, sehambar apa pun mereka berdua. Dia akan bertahan sampai nanti, walau satu-satunya penghubung antara ia dan Reen hanyalah sebuah makan malam. Setiap hari, pukul 7 sampai 8.

“Besok aku akan datang lagi. Pukul 7 tepat,” tutur Minseok. Tidak ada niat memberi kecup di dahi atau tepukan menenangkan di pucuk kepala Reen.

Reen mengangguk. Dia mengantar Minseok sampai ke pintu depan, mengucapkan hal sejenis hati-hati di jalan sambil melambai.

Ini adalah sudut pandang Reen. Dia bosan luar biasa, dia merasa hambar, kepalanya ingin meledak karena Minseok. Dia tidak bisa tertawa, tidak pula menangis. Sikap Minseok, seratus juta persen ia mengerti. Hubungan mereka akan terus begini. Sebuah masalah, tentu saja. Tapi Reen akan mengatasinya.

Biarlah semuanya hambar beberapa saat, anggap sebagai jeda. Semuanya akan kembali baik beberapa saat lagi. Reen hanya perlu menunggu perasaan hangatnya kembali, sebab hatinya tak sampai jika harus berhenti bersandar pada Minseok. Dia memang kesepian, Minseok pasti sama. Mereka kesepian.

Namun bagaimanapun juga, Reen pikir selama Minseok tidak melepaskannya, semuanya cukup.

.end


Sambil dengerin Suho-Jane Jang yang Dinner, makin hambar wkwk Hambar banget, aku habis ngetik ini malah jadi kebawa hawa-hawa hambar gitu wakakak apa banget dah. Bebas diterjemahkan, tergantung gimana kalian nangkepnya pas baca. Tapi, pada intinya (kalok kata aku) adalah Minseok sama Reen sama-sama bosen, hubungan mereka lagi di masa ‘gak asyik’. Tapi dua-duanya sama-sama gak pingin ngelepasin. Mereka nyoba buat ngejalani, toh bosen dalam hubungan itu biasa dan bisa diatasi. Ya intine gitu deh :’v

Lama gak nulis hihiw Gini aja deh ya. Intinya fanfic ini dibuat buat ngerayain ULANG TAUN KIM MINSEOK dan ngeramein EXOFFI ❤ ❤ ❤ Gitu aja, lafyu!

p.s: Reen, so sowrey hubunganmu kubikin burem sama Umin WKWK

.nida

9 tanggapan untuk “[XIUMIN BIRTHDAY PROJECT] Hambar by l18hee”

  1. Hmmmm hubungan yg realistis. Sering terjadi dan biasanya kalo di dunia ff cenderung berakhir cheesy karena salah satu dari mereka ada yg introspeksi. Tapi fic ini memberi kesempatan pada pembaca untuk ‘merangkai’ sendiri gimana kelanjutan hubungan mereka yg penuh kehambaran itu wkwkwk aku suka karakter minseok di sini. Reen juga suka. Tipe pasangan yg sbenernya Saling menyayangi, tulus, gamau pisah, tapi kurang komunikatif dan dua2nya bersifat terlalu mengalir.

    Agak nyebelin sih, tpi justru itu yg bikin suasana terasa real be like “weh ini nih hubungan yang gaada mary sue & gary stue nya” hahaha /gagitu juga kali ji

    Tapi sekali lagi aku suka alurnya. Sangat mengalir dan gk maksa (meskipun gk maksa, tpi sama sekali jauh dari bertele-tele). Tulisan kak nida (ini Kak nida kan?) juga bagus, rapih, dan gaada typo

    Udah. Bacot unnfaedahnya sampe sini dulu. Sampe ketemu di fic selanjutnya kak muah muah muah 😘😘😘

    1. iyak, bener, sebenernya ini endingnya jenis open ending gitu sih, aku serahin aja yang baca pinginnya minseok sama reen jadi udahan atau tetep lanjut wkwk karena pada intinya aku cuma ngangkat rasa bosen mereka di sini.
      iyap ini nida ❤ aduh masih inget aja kamu sama namaku, Ji wkwk
      makasih banyak udah mau baca yaaa ❤ lafyaa ❤ semangat buat kamuu

  2. Waktu pertama kali baca ini aku langsung ngangguk-ngangguk paham bcs i can relate kayak apa yang dirasain minseok sama reen disini tuh hal yang bener-bener-sangat manusiawi. Suka banget gimana kamu ngangkat tema yg sederhana tapi gambarin kalau emang mereka beneran manusia, ya terkadang kita emang punya perasaan-perasaan macam itu and that’s okay, yang ndak harus melulu hapilly ever after hehe. Kamu ngemasnya apik dan sumpah ini beautifully written dan im so in love sama karakter minseok yang agak kompleks gitu. Ini dari sudut pandang minseok yah? Kalo dari sudut pandang reen gimana? (Nahloh ceritanya ngode buat bikin sekuel). Keep writing!

    1. ihiww makasih banyakk
      tema bosen bosenan sebenernya yang aku suka sih, karnaaa, yaa gitu, realistis aja gitu pasti manusia tu pernah sampai di titik bosen, gak mungkin sukaaa terus atau benciii terus wkwk
      iyaa, bisa dibilang sih ini porsi sudut pandang minseok lebih banyak daripada punya reen
      kalok buat sekuel umm uhuk
      wqwq
      makasih banyaak udah mau bacaa ❤ semangat buat kamuu ❤

  3. Ini nida bukan
    Emg lagunya Suho sehambar itu ya hahaha
    Kesan fic ini monokrom nyesek yaapa gitu ya hmmm tapi Somehow walaupun Min-seok pov menyatakan dia ga ingin pergi aku merasa potensi beranjak nya lebih besar daripada reen yg optimis. Oh plis jgn tinggalin reen
    Gambaran settingnya kuat bgt suka!
    Keep writing!

    1. iyaaaaa, ini nidaaa. mau boong bilang ini irene tapi langsung nampar diri sendiri/g
      aku ngerasainnya hambar gitu sih kaak wkwk mungkin efek akunya juga sih yang pas nulis ini kebetulan lagi gak enak hati aja
      nah nah nah ituuu, minseok emang ke-gakjelasannya lebih keliatan dari pada reen walau porsi reen justru paling sedikit muncul wkwk
      makasih kakli udah baca ff akuuuuuh, lafyaa ❤

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s