[XIUMIN BIRTHDAY PROJECT] The Named Cattleya – trwtd

The Named Cattleya © trwtd 2018

.

Minseok Kim to Cattleya
Oneshot for General
Campus-Life with a lilttle bit Romance 

.

Aku sayang kamu.
Tapi aku bisa apa?
Kata ya cuma kata.
Aku sayang kamu.
Ya sudah. begitu saja.

-Dewita Senja-

 

 

Namanya Cattleya.

Aku tidak tahu marganya apa. Aku tidak begitu peduli. Orang-orang di sekitar memanggilnya Leya.

Dia bukan gadis dengan tubuh tinggi semampai atau bertubuh aduhai yang sukses menggoda iman. Bukan juga pemilik wajah cantik yang siap menawan mata nakal yang nyalang.

Sungguh, dia bukan gadis yang patut ditengok dua kali saat tak sengaja berpapasan.

Dia hanya seorang Cattleya. Yang akhir-akhir ini baru kutahu kalau namanya diambil dari salah satu spesies anggrek yang artinya pesona dewasa.

Aku mendengkus.

Orang tuanya pasti kecewa. Karena harapan mereka belum juga terkabul bahkan di usia gadis itu yang kini sudah terhitung cukup dewasa. 23 tahun.

Mana ada gadis berumur 23 tahun yang masih gemar menonton serial kartun seperti Dora The Explorer? Bahkan sampai repot-repot pergi ke bioskop di tengah kesibukan jadwal kuliah dan bimbingan skripsinya?

Namanya Cattleya.

Tidak ada pesona kedewasaan yang tampak seperti arti namanya. Ketika orang-orang mendengar namanya, dan tahu makna di balik itu, aku berani jamin mereka pasti tertawa. Karena pada nyatanya, Leya tidak pernah terlihat dewasa.

Tapi, tidak pernah terlihat dewasa, bukan berarti dia tidak dewasa.

Don’t judge a book by it’s cover. Because u’ll never get the chance to find out what lies within it.

Yaa… begitulah kurang lebih.

Aku tidak mengenalnya dengan baik, dan aku menyesal sudah menyiakan kesempatan untuk mengenalnya lebih dekat.

Dia bukan hanya sekadar dewasa dengan caranya sendiri, tapi dia juga memesona dengan pola pikir dan kepribadian yang berbeda dari kebanyakan gadis seusianya.

***

“Kau gila?!”

Adalah kalimat pertama yang kudengar ketika memasuki restoran milik Chanyeol. Ini sudah nyaris tengah malam, beruntunglah karena tidak ada lagi pelanggan yang datang atau sekadar duduk menghabiskan waktu sambil menikmati restoran bergaya Italia tersebut.

Di salah satu meja, Kyungsoo duduk berhadapan dengan Leya. Wajah lelaki itu mengeras dengan urat-urat leher yang terlihat; kentara sekali sedang menahan amarahnya. Sementara Leya memberengut. Sungguh menggelikan karena itu sama sekali tidak cocok dengan wajahnya yang terkesan keras dan dingin kalau sedang diam.

“Aku sehat! See!” gadis itu mengangkat kedua tangan untuk memperlihatkan otot lengan yang sebenarnya tidak ada.

“Leya,” Kyungsoo melepas kaca mata lalu memijat pangkal hidungnya. Tidak tahu lagi harus bersikap bagaimana agar gadis itu mau mendengarkan saja tanpa menyela. Kyungsoo butuh melepaskan amarahnya kalau tidak ingin sakit kepala.

Jadi, aku biarkan saja.

Lama sekali Kyungsoo diam. Sampai akhirnya dia sadar bahwa berhadapan dengan Leya hanya akan membuatnya ingin melepas kepala. Lelaki itu memutuskan untuk bangkit dari tempatnya dan menyambar kotak rokok berikut pemantiknya dari atas meja.

Aku hanya tersenyum tipis ketika Kyungsoo melirikku sekilas sebelum meninggalkan restoran.

Sepeninggal Kyungsoo, aku bangkit untuk mengambil kopi robusta yang selesai Chanyeol siapkan di atas meja konter. Lelaki itu menyerahkan nampan dengan dua piring roti panggang, segelas susu pisang dan kunci restoran. Dia juga berpesan untuk menjaga Leya sebelum bergegas pergi menyusul Kyungsoo.

“Makanlah.” Kusodorkan segelas susu pisang dan sepiring roti panggang, lalu duduk di kursi yang sempat Kyungsoo tempati.

“Kopi?” Dia mengernyit ketika menyadari isi dari cangkir yang baru saja kusesap.

“Robusta.”

“Ew. Itu pahit sekali!” Leya memeletkan lidah dan membuat ekspresi ngeri yang tampak lucu. Astaga!

Aku berdeham dan mengalihkan fokus pada piring roti milikku. “Hanya karena gala premiere SOA kau melewatkan—”

“S-A-O. Sword Art Online.”

Whatever.” Aku berdeham lagi dan membenahi posisi dudukku. “Sadar tidak? Kau melewatkan kuis penting.”

“Mana aku tahu ada kuis kan.” jawabnya enteng.

“Leya,” kutatap matanya, tapi dia menghindar. “Kau tahu, sebagai sepupu Kyungsoo hanya mengkhawatirkanmu. Kau tidak lulus mata kuliah itu tahun lalu, kalau tahun ini kau tidak juga lulus, kau tidak akan bisa lulus sarjana tepat waktu.”

“Aku tahu!”

“Lantas?”

“Aku sudah bilang, aku tidak tahu kalau hari ini akan ada kuis.”

“Harusnya kau tidak pernah melewatkan kelas, ada atau tidaknya kuis dengan alasan apa pun.”

“Berhenti terlihat begitu peduli padaku, Minseok sunbae. Kau membuatku sulit.”

“Aku tidak bermaksud membuatmu kesulitan. Aku hanya—”

“Tapi kau melakukannya.”

“Kenapa kau merasa aku menyulitkanmu?” sungguh, aku tidak mengerti. Lagipula aku tidak merasa demikian.

Leya masih menghindari tatapanku. Dia mengambil roti dari piringnya tanpa repot-repot menggunakan tisu atau memotongnya menjadi bagian-bagian kecil.

Setelah menelan satu gigitan, dia berdecak. “Sunbae tidak lupa dengan pernyataan cintaku tempo hari, kan?”

Hampir saja aku tersedak air liur sendiri.

“Saat ini, aku sedang melakukan tahap move on! Dan apa yang baru Sunbae lakukan padaku membuatku sulit!” terangnya.

“Kalau sulit, kau bisa berhenti move on dariku.”

Akhirnya mata kami bertemu.

“Jangan gila!” dia menunjuk-nunjuk wajahku dengan roti panggang yang habis seperempat.

Senyumku terbit, “Kenapa?”

Sunbae sudah menolakku.”

“Jadi kau menyerah karena satu penolakan?”

“Untuk kasus ini, ya.”

“Kenapa?”

Dia terlihat jengkel, namun akhirnya menjawab juga. “Karena aku bukan pengemis cinta. Sekali meminta dan ditolak, ya sudah. Lagi pula bukankah tidak nyaman untukmu kalau aku bersikeras padahal kau sudah menolak dengan kalimat yang jelas?”

“Apa kau menyesal?”

“Untuk apa? Untuk menyatakan perasaanku pada Sunbae?”

“Tidak. Kenapa juga aku harus menyesal. Aku melakukan apa yang menurutku harus dilakukan. Meski hasilnya mengecewakan, sih. Karena Sunbae menolakku. Tapi bukan masalah. Itu hal lumrah.”

Senyumku melebar. “Bukan itu, maksudku apa kau menyesal melewatkan kuis hari ini?”

Fuck!

Leya bangkit lalu mencekikku dengan kedua tangannya.

“Oh Tuhan! Untung aku menyukaimu!” pekiknya setelah melepaskan cengkaman.

Aku terbatuk dan mengusap-usap leher. Leya sungguhan berniat membunuhku sepertinya.

“Kau masih menyukaiku?”

Leya melotot.

“Terus bagaimana?”

“Apanya?!”

“Kau masih menyukaiku.”

“Ya sudah. Biar saja. Bukan urusanmu.”

“Tapi sepertinya, aku mulai menyukaimu.”

 

-END-

 

2 tanggapan untuk “[XIUMIN BIRTHDAY PROJECT] The Named Cattleya – trwtd”

  1. Aku udah 18 taun tpi masih suka dora the explorer kok (meskipun skarang gapernah tayang lagi)

    Tadi kakak nulis ‘lil bit romance, TAPI MNURUTKU INI ROMANCE SKALI KAK. Mungkin romensnya lbih ke fluff yg sederhana ya. Tpi karena sederhana itulah kesannnya malah gk maksa.

    Udahlah min, buruan digebet si catleya ini. Minseok ini emang tipe2 yg gk sadarr kalo lagi naksir cewek. Btw leya di sini judes amat wkwkwk tapi lucu. Suka sama karakternya dia.

    Tadi aku nemu masalah penulisan dialog sih, tpi gapapa gamasalah. Yang penting fic nya bisa menghibur malamku yg kelam tanpa sehun /halah

    Bbabay kak 😘😘😘

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s