[XIUMIN BIRTHDAY PROJECT] Melatah Dilan — Joongie

Melatah Dilan

Xiumin – OC’s Mia | AU – Romance – Slight! Comedy | T

Joongie © 2018

.

Minseok tengah mengorek popcorn dari cone ketika Mia berkicau, “Andai pacarku seromantis Dilan, sumpah aku tidak akan lirik cowok lain! Dibonceng motor klasik, pakai jaket jeans sambil diromantisi, kyaa!”

Pacarnya yang bermata belok agaknya terjangkit demam Dilan. Gejala umumnya ialah: Milea yang dirayu tapi Mia yang tersipu lalu meremas pipi dan menggeleng-geleng. Tanpa peduli ocehannya akan jadi spoiler, Mia bercerita keras-keras sepanjang perjalanan mereka melalui restoran siap saji, butik muda-mudi, toko pernak-pernik, hingga turun dengan eskalator Mall. Semua memandangnya norak, cuma Mia yang tidak sadar. Gadis dengan logat Jawa kental, setelan tabrak warna, dan yang terparah bando ikatnya yang bermotif Yaoming. Jangan tanya kenapa Minseok memacarinya. Namanya juga cinta.

Bae, dengar tidak?” Mia berbalik, mencubit Minseok sampai popcorn terakhirnya jatuh. Bicaranya merengek seperti anak anjing. “Peka kayak Dilan apa susahnya sih? Tanggapi dong kalau aku bicara.”

“Katanya kamu suka aku apa adanya,” sahut Minseok terus terang. Ia berlalu santai ke tong sampah, menamparkan fakta ke muka Mia kalau dirinya tidak berbakat romantis.

“Sudahlah, dasar batu. Mana mungkin bakal peka,” ketus Mia. Sekian detik matanya menguliti Minseok, menekan lelaki itu menerka salahnya—wanita kan memang begitu, mengode enggan menjelaskan.

“Mau ke mana? Kita kan parkirnya di basement,” cegah Minseok sembari menggait Mia dari arah lobi. Ia melihat Mia mengerutkan dahi, menarik napas dan menepis tangannya.

“Tidak usah diantar. Aku punya kaki bisa pulang sendiri.”

“Kamu PMS ya? Mau cokelat atau pembalut?” tawar Minseok, menggaruk kepala sambil melongok mencari gerai retail. “Tunggu sebentar biar aku belikan.”

BAKAYAROU!” seru Mia pergi meninggalkan Minseok.

Blus cerah yang dikenakannya tampak kontras dengan langit mendung. Sering Mia mengeluh banyak hal, terutama soal Minseok yang monoton dan otaknya cuma makan. Siapa sih perempuan yang tidak mau diperlakukan romantis? Apalagi hubungan yang datar gampang terjerumus perpisahan. Besok kan—TIIN!

“Eh, ayam!”

Bunyi klakson menggagaukan Mia. Datang dari Minseok yang parkir di bawah pohon kamboja, tampil beda dengan jaket jeans dan helm retro. “Selamat sore. Kamu Mia ya?”

Mia terperangah, menatap Minseok dengan asing. “Kenapa ka—”

“Sst, aku Dilanmu sekarang. Aku tahu kamu rindu. Itu berat. Kamu tak akan kuat, biar aku saja,” goda Minseok beranjak menyerahkan jaket varsity kepada Mia. “Dipakai, bentar lagi hujan nanti masuk angin.”

“Aku ramal kamu pasti mau naik,” katanya lagi, menaiki motor lalu menepuk jok.

Mia mengulum senyum, meloncat naik ke Honda CB 100 yang bergemuruh ketika diengkol. Melaju santai membelah Yogyakarta menuju senja. Gulungan awan kelabu bak tersapu tirai oranye, hatinya menghangat melihat betapa fasih Minseok menirukan Dilan. Minseok salah mengerti, ia tak berharap pacarnya bertransformasi jadi Dilan; lebih perhatian saja sudah cukup. Ini seperti sebongkah Oreo dalam Cadbury.

Dengan tatapan cinta, Mia memeluk pinggang Minseok, perlahan-lahan kian erat. Ia mengamati garis wajah Minseok dari balik rahangnya yang runcing, serta menghirup aroma maskulin yang dibaurkan angin. Buai-buai kasmaran itu masih kentara. Keheningan bagai lagu merdu. Senyum tertuang di bibir Mia sesaat setelah kepalanya bersandar di punggung Minseok. Hangat dan nyaman seperti bantal. Semoga ini bukan mimpi yang akan berakhir saat Mia tersungkur dari ranjang. Semoga.

“Mia.”

“Ya?”

“Kamu cantik. Aku sudah mencintaimu. Tidak tahu kalau malam, tunggu saja.”

Mia terpingkal, sensasi geli dan tersipu membuatnya merinding.

“Kenapa ketawa? Aku lucu?” Minseok melirik spion, melihat Mia merona.

“Iya, lucu banget. Cuma kamu Dilan yang sipit,” sahut Mia setengah terkikik. “Tapi aku tetap cinta kamu.”

Minseok meringis, mengusap tangan Mia sekilas. Ia tidak menjawab karena merasa Mia tahu. Motor bertambah laju, langit kemerahan yang membentang kini terkepung sapuan indigo yang merayap dari penjuru cakrawala. Aktivitas malam Yogyakarta mulai menggeliat. Deru mesin tanpa putus, kendaraan berangsur memadati tiap sisi jalan, jeritan klakson beradu kencang, kemacetan menjebak di beberapa persimpangan. Potret klise malam Minggu.

Mereka bercerita hal-hal remeh, tertawa dan saling mengejek. Mia menolak sewaktu ditawari mampir menyantap bakso favoritnya atau sate Madura Cak Kumis yang melegenda. Ia hanya tidak ingin melepas pelukannya, tidak dalam momen ini. Sampai motor Minseok berkelok ke perumahan di pinggiran kota. Yang tiap sisi jalannya ditanami pohon perdu, jauh dari keramaian dan sunyi—tanpa hitungan bunyi jangkrik. Saat motor berhenti dan pohon sawo di rumahnya menjulang di depan mata rasanya waktu bergulir tergesa.

Ia dan Minseok berhadapan, disaksikan pagar berkarat yang berkeriut bila dirapatkan. Angin berembus dari selatan, meniupkan udara dingin di sekitar pundak dan menepis permukaan kolam lele milik ayah Mia. Ia dan Minseok kompak menggaruk tengkuk, saling melirik kemudian melempar senyum lembut.

“Aku masuk dulu, ya? Kamu hati-hati di jalan,” pamit Mia antara canggung juga setengah tak rela. “Lihat-lihat kalau ada lubang, malam begini susah cari tambal ban. Begal yang banyak.”

“Kamu masuk duluan, biar aku lihat dari sini,” tanggap Minseok, mendorong Mia melewati pagar. Matanya mengekori jalan Mia sampai si gadis tegak di beranda, balik memandangnya sambil melambai.

“Mia!” imbaunya.

“Apa?”

“Jangan lama-lama di sana, aku takut.”

“Takut apa?” Sontak Mia menengok kanan-kiri, desir angin yang menyelisik daun sawo serta kisah seram mendadak terbayang membuatnya menghambur kembali ke Minseok. “Kamu lihat apa? Ada penampakan mbak-mbak?”

Minseok tertawa renyah dan menjawab enteng, “Takut kamu digigit nyamuk, sekarang lagi musim demam berdarah. Aku tidak mau kamu sakit, jenguknya repot.”

Tinju Mia bertubi melayang sampai Minseok menangkap tangannya. Membawanya ke dada, meletakkannya di sana dan bicara lewat tatapan intens, “Aku bukan Dilan. Aku Minseok yang tidak humoris dan romantis. Kamu bukan Milea. Kamu adalah Mia, Miaku yang kugilai semua tentangnya.”

“Aku ju—”

Minseok memotong, “Aku tidak mungkin selamanya begini, ini bukan gayaku. Jadi aku harap kamu mengerti. Cintai aku sebagai Minseok,” dirapikannya poni Mia, “Jangan marah-marah lagi, kamu lebih manis kalau senyum.”

Mia tersenyum samar, menyesap hangat sentuhan Minseok di pipinya.

“Jangan senyum melulu, nanti orang naksir. Aku cemburu.”

“Ide dari mana semua ini?” Mia menatap Minseok geli.

“Dari Jongin, dia juga pernah jadi Nathan buat Krystal. Biar pun akhirnya putus,” jelasnya sambil mengedikkan bahu. Bicara serius, Minseok menggenggam tangan Mia, “Selamat ulang tahun, Lunamia Aprila. Aku tidak lupa. Aku mau jadi yang pertama, yang mendahului hitungan tanggal untuk menyelamati pertambahan usiamu.”

Bagai tersihir, yang meluncur dari bibir Mia cuma nama Minseok.

“Aku juga punya hadiah, coba raba saku jaketmu. Bukan TTS yang sudah diisi.” Minseok menuntun jemari Mia, memerhatikannya tersentak setelah tahu. “Aku menabung cukup lama untuk beli yang permatanya paling besar.”

Dari binar matanya, Minseok sukses melelehkan hati Mia. Lidahnya kelu sesaat, bahagianya meluap jadi air mata. Sebelah tangannya membekap mulut, matanya masih mencelang tak percaya. “Kamu tuh ya ….”

“Aku tidak punya materai untuk mengikatmu, gantinya aku berikan ini,” genap Minseok, mencopot cincin dari kotak, lalu disematkan ke jari manis Mia. “Kamu boleh bosan dengan sikapku, asal jangan bosan cintai aku.”

“Karena itu kamu, aku jatuh cinta …” bisik Mia ketika jarinya menelusuri alur rambut Minseok, kakinya berjinjit, dan lengannya melingkar di tengkuk si lelaki. Kemudian menjejakkan kecup di pipinya. “… karena kamu, Minseok-ku, milikku.”

Dekapan mengerat, perasaan kasih membanjir, mengalir deras bersama endorfin. “Malam ini aku bahagia,” tutur Minseok, selembut ciumannya di kening Mia.

Terlampau bahagia sampai baru sadar kalau sejak tadi sepasang mata mengawasi. Pria lima puluhan, bertampang garang sedang bertengger di gorden sambil memelintir kumis. Di jarinya bersusun batu akik. Rahangnya berkedut-kedut, matanya melotot nyaris keluar. Minseok mati kutu, peluh membutir sebesar jagung dari pelipis.

“E-eh … sehat, Om?”

—Tamat—

Bakayarou! = Dasar bodoh! | Kkk, selamat ulang tahun dan semoga panjang umur buatmu, Tuan Pipi Gembul! ❤

3 tanggapan untuk “[XIUMIN BIRTHDAY PROJECT] Melatah Dilan — Joongie”

  1. BUSET AKU NGAKAK DULUAN LIAT COVERNYA. WOE ITU MAS DILAN JAMAN KAPAN MATANYA SIPIT BANGET MIRIP XIUMIN EKSOH //ditimpuk//

    Ini umin kebanyakan gaul sama kkamjong makanya jadi gk beres, tapi aku baper baper Bayangin umin yg berlagak kayak dilan. Dan kupikir hadiah buat mia tuh TTS yg udah diisi biar mia gak pusing mikirin jawabannya, eh ternyata dikasih cincin. Pas mereka pulang naik motor tuh aku bayangin pas adegan dilan mau berantem sama genk sekolah sebelah. Kan ke mana2 milea selalu ikut biar dilan gajadi tawuran (efek dilan)

    Aku Gatau mau komen apa lagi. Tulisan kakak bagus & rapih bgt. Alurnya mengalir. Bikin betah baca & gk kerasa udah abis wkwkwk

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s