[XIUMIN BIRTHDAY PROJECT] LADIES’ MAN – Len K (Part 2/3)

 

Minseok boleh saja seorang casanova, tapi ada sisi yang tidak diketahui oleh kebanyakan orang

LADIES’ MAN

Storyline © Len K. Standard disclaimer applied. No profit taken from this fiction

 

Starring : Kim Minseok – Xiumin EXO, Ren Wu (OC) | Rate : T | Genre : Drama, Slice of Life

 

 

WARNING!!

Non-canon!AU, possibly OOC, typo(s), Part of Problematic Gentlemen Series(AU)

 


 

Sudah lewat tengah malam dan Ren belum tidur. Dirinya sudah berjanji akan tidur setelah satu episode lagi, tapi salah satu serial yang ia ikuti di Netflix selalu berakhir dengan adegan yang membuatnya penasaran dan dirinya tidak cukup kuat untuk menahan godaan itu. Sudah bisa dipastikan jika malam ini Ren akan maraton serial lagi sampai pagi dan tertidur di sekolah, seperti biasa.

Kekhusyukan Ren menonton terganggu oleh bunyi pintu yang dibuka. Sejenak kemudian terdengar gerutuan kecil dan suara sepatu yang dikembalikan ke raknya. Sudah pasti itu Minseok.

“Kau belum tidur?” tidak ada keterkejutan dalam pertanyaan Minseok. Sudah jadi hal lumrah untuk melihat Ren tetap terjaga di jam-jam seperti ini.

“Satu episode lagi,” jawab Ren cuek.

Dan Minseok tertawa karenanya. “Oh, hentikan dustamu itu.” Ren ikut tertawa, tapi setelah itu sepi.

Minseok sudah berjalan ke dapur. Mengeluarkan bubuk kopi yang sudah digilingnya pagi ini dari tempat penyimpanan dan mulai menyeduhnya. Aroma kopi segera menguar dan Ren tergoda untuk meminta satu gelas kopi lagi tapi ia urungkan.

“Ekstra susu seperti kesukaanmu. Super manis.” Segelas cappucino latte kemudian tersaji di hadapan Ren.

Oh, sungguh, meski pamannya yang satu ini sering disebut sebagai pria kejam yang tidak punya hati dan suka memainkan hati wanita, tapi bagaimana bisa Ren juga menjuluki pamannya seperti itu ketika pamannya tidak melupakan detail-detail kecil seperti hal-hal favoritnya? Ren menekan tombol jeda. Kopinya tidak bisa diabaikan. Tidak ketika pamannya sudah membuatkannya kopi kesukaannya tanpa ia minta. Dan ketika Ren melihat latte art di kopinya, Ren tertawa.

“Paman, kau yang terbaik.” Senyum Ren masih menempel ketika ia membaca tulisan pada kopinya; why don’t you sleep? “Tapi kau tahu aku tidak bisa tidur sekarang,” sambung Ren sebelum menyesap kopinya.

“Kau harus tidur,” tegas Minseok. “Kau harus tinggal di sekolah jika kau sering tertidur di sana dan mengerjakan tugas-tugasmu di sini. Hidupmu sungguh terbalik. Lagipula, sering begadang tidak baik untuk kesehatanmu.”

“Oh, dan semua nasehat itu keluar dari mulut orang yang selalu memberiku kopi di pagi hari sebagai minuman wajib dan kopi-kopi lain di siang atau sore hari. Belum lagi dengan secangkir kopi di malam hari seperti sekarang. Bagaimana aku bisa sehat dan … tidur?” balas Ren. Mulut Minseok terbuka. Yah, sebagai pecinta kopi tentu ia ingin orang-orang terdekatnya ikut mencintai kopi. Termasuk keponakan kesayangannya. “Yah, dengan ada atau tidaknya kafein tidak akan berpengaruh pada kesadaranku.” Ren termasuk dalam kategori orang yang kebal terhadap efek kafein.

“Tetap saja, Paman khawatir padamu.”

Ren tersenyum. “Aku juga khawatir pada Paman.”

Minseok tersenyum, mengacak rambut Ren pelan sebelum beranjak ke balkon. Tempat favoritnya untuk menikmati kopi dan angin malam hari, tenggelam dalam pikiran-pikirannya sendiri. Dan Ren kembali pada maraton serialnya. Namun Ren tidak bisa berhenti mencuri pandang pada pamannya yang duduk memunggunginya sekarang.

Pamannya boleh saja dicap sebagai casanova, Don Juan, playboy, dan sejenisnya yang sanggup memikat, menaklukan hati banyak wanita. Orang-orang melihat hidup pamannya sebagai hidup yang penuh adrenalin, penuh tantangan, karena yah, itu memang benar. Tapi Ren menyadari jika sebenarnya pamannya itu merasakan kesepian yang amat sangat. Di saat-saat seperti ini, Ren semakin dapat melihatnya dengan jelas.

 

 

***

 

 

Sore ini sepulang sekolah Ren langsung diseret Minseok ke pusat perbelanjaan. Tidak ada ayahnya yang menjemputnya karena ayahnya masih di Amerika, tidak ada Paman Junmyeon yang sering menjemputnya karena Junmyeon masih ada kelas, dan tidak ada Moon Bin kekasihnya karena Moon Bin harus mengikuti ekstrakurikuler renang. Yang ada adalah Minseok yang langsung menyeretnya ke toko perhiasan—masih berseragam lengkap—dengan iming-iming akan mentraktir apapun yang ia minta.

“Menurutmu kalung ini bagus tidak?” Minseok bertanya pada Ren, menunjuk pada sebuah kalung bertahtakan batu rubi.

“Untuk kekasih Paman yang lain?” Ren balas bertanya. Bukan jadi rahasia lagi jika Minseok adalah orang yang royal pada kekasih-kekasihnya. Ia tidak segan-segan merogoh kocek demi menyenangkan gadis-gadisnya. Minseok hanya mengangguk, masih menimbang-nimbang. “Kekasih yang mana?” tidak ada racun atau sinisme.

“Heejin. Empat hari lagi dia berulang tahun.”

“Heejin?”

“Si penyiar berita.”

“Oh.”

Dalam hati Ren mengagumi betapa kuatnya ingatan pamannya itu terhadap nama-nama kekasihnya dan detail-detail kecil yang mengikuti. Pasangan paman dan keponakan itu berkeliling bersama mencari perhiasan yang sesuai.

“Aku merekomendasikan ini.” Ren menunjuk kalung emas putih dengan liontin batu safir yang membentuk setetes air. “Safir akan cocok untuk kekasihmu.”

“Oh ya?”

“Ya. Safir adalah batu lahir kekasihmu itu, Paman.”

“Oh.”

“Dan juga desainnya sederhana, tidak berlebihan.”

Minseok mengamati kalung itu sejenak sebelum tersenyum penuh. “Kau benar. Tidak salah aku membawamu ikut denganku,” ujar Minseok. “Dan kurasa tidak ada salahnya kau mempertimbangkan desainer atau stylist sebagai jenjang karirmu kedepannya. Tao benar, kau punya selera fashion yang bagus.”

Ren hanya mengangguk.

 

 

“Kenapa Paman begitu royal terhadap semua kekasih Paman?” pertanyaan itu terlontar dari mulut Ren saat mereka makan di sebuah restoran Jepang.

“Kenapa? Kau cemburu? Bukankah Paman juga royal padamu?” goda Minseok sebelum melahap sushi-nya.

“Pamaaaannnn…” Ren mengerang sebal. “Aku kan bukan kekasih Paman! Dan kenapa aku harus cemburu ketika aku punya Moon Bin?” Minseok tertawa senang. “Serius Paman, jawab pertanyaanku.”

Ada jeda sejenak yang diisi suara sumpit yang bertabrakan dengan mangkuk.

“Untuk menghilangkan penat, salah satunya,” jawab Minseok pada akhirnya. Kiranya Minseok bisa membaca ekspresi yang-benar-saja dari wajah Ren sehingga ia melanjutkan. “Ada kepuasan tersendiri ketika Paman bisa membahagiakan kekasih-kekasih Paman. Paman tidak akan segan-segan memberikan apapun—“

“Kecuali hati Paman,” potong Ren.

Senyum miris muncul di bibir Minseok. “Ya, kecuali hati. Anggap saja laki-laki yang satu tipe dengan Paman sering melakukan sedekah terselubung.” Tawa hambar mengikuti.

Sejenak, Ren memandang pamannya yang tengah tertunduk dan duduk di depannya. “Meski pada akhirnya Paman akan patah hati lagi?”

Ren tahu, selama pamannya belum bisa berkomitmen, hanya patah hatilah yang ada pada akhirnya. Hubungan mereka boleh kelihatan bahagia. Ketika berakhir pamannya boleh terlihat tidak apa-apa, tapi Ren tahu pamannya patah hati. Bagaimanapun juga pamannya tetap manusia.

“Ya. Meski harus patah hati.”

 

Go to part 3

8 tanggapan untuk “[XIUMIN BIRTHDAY PROJECT] LADIES’ MAN – Len K (Part 2/3)”

  1. Waktu nama heejin muncul kupikir itu heejin nya LOONA tau aku syok dia kan 00line .-.
    Anyways Min-seok lu pingin anak org tidur tapi lu kasih kopi gimana seh
    Min-seok jadi lebih kyk papanya ren sekarang hahaha
    Trs ada yg agak ngganjel aku sih, itu kan si ren bisa tau batu lahirnya mbak heejin tapi gimana bisa? Bukannya akan lebih masuk kalo Min-seok yg tau ya?
    Dan isn’t it ‘loyal’ not ‘royal’?
    Otw chap 3!

    1. Nama itu random, serius nggak pake black
      Ren tau dari bulan lahir. Kan nggak perlu tau tanggal buat tau batu lahir karena patokannya bulan
      Loyal kan setia kak, kalo royal dermawan. Cmiiw

    2. Walah maksudnya suka ngasih2 gitu? Kirain maksudnya emang setia ternyata maksudnya ren tuh knp umin suka ngasih2? Yo wislah.
      That ‘serius tanpa black’ tho. Saya mikir bacanya hahahaha geblek ga sih aku

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s