[XIUMIN BIRTHDAY PROJECT] Who You – bebhmuach

timeline_20170412_115038

Who You?
A fiction by bebhmuach

[EXO] Kim Minseok || [AOA] Shin Jimin || [Anneandreas’s OC] Reen

Oneshot || little a bit Romance, Angst, Friendship || PG15

.
.
.

“Semoga harimu menyenangkan ♡”

Ini sudah ketiga kalinya Minseok mendapat memo di pintu lokernya. Ia memijat pelipis sambil mengedarkan pandangan ke sekitar. Tidak ada yang mencurigakan, lebih tepatnya semua tampak normal.

Namun akhir-akhir ini, Reen selalu muncul di pikiran Minseok. Gadis berambut sepinggang itu mulai mendominasi kandidat ‘pengagum rahasia’-nya. Bagaimana tidak, ia ingat Reen pernah memberinya cokelat saat valentine beberapa bulan lalu. Minseok dengan suka cita menerimanya. Bukan sifatnya menolak pemberian orang lain apalagi dari seorang gadis cantik.

Belum lagi perhatian-perhatian kecil yang sering ia berikan untuk Minseok. Semua bukti itu sudah jelas mengarahkan Reen menjadi pelaku-penulis-kata-kata-semangat-misterius yang tiga hari ini menggelitik urat ingin tahu Minseok.

“Hai, Minseok.”

Yang dipikirkan ternyata sudah berdiri di sampingnya.

“Hai, Reen.”

Gadis itu menyunggingkan senyuman sebelum bicara lagi.

“Mm … apa kau sudah melihat ….” Kentara sekali Reen dengan sengaja menggantung kalimatnya. Kedua bola matanya membesar, mengisyaratkan sesuatu yang sudah dikerjakannya untuk Minseok.

Entah kenapa, isyarat terselubung Reen diartikan lain oleh Minseok. Cukup masuk akal dan tidak dapat dipungkiri, jika Reenlah tersangka utamanya.

Dengan cepat pemuda itu mengangguk. “Sudah.”

Kedua mata Reen berbinar.

“Terima kasih, ya.”

——

“Jimin-a.”

Si empunya nama tidak menjawab panggilan tersebut. Ia bergumam mengikuti lirik lagu yang ia dengar dari earphone-nya.

Minseok, sang pemilik suara lalu menepuk bahu kanan Shin Jimin. Raut kegundahan seketika muncul pada wajah Minseok tepat saat Jimin berbalik menghadapnya.

“Ya?”

Minseok bergeming. Ia masih saja merasakan desir aneh yang bergelayut manja di hatinya. Rasanya tak mau pergi, sama seperti sebelum tiga bulan lalu Jimin memutuskan untuk mengakhiri hubungan.

“Minseok?”

Pemuda itu lekas-lekas kembali ke alam sadarnya. “Junmyeon memintaku untuk memberikan buku ini.”

Jimin mendengus pelan. “Kenapa bukan dia sendiri yang berikan?”

“Dia sakit.”

Entah sengaja jahil lantaran ia tahu kalau Minseok adalah ‘sang ex-boyfriend’ atau karena Minseok orang terdekat yang bisa dimintai bantuan (kau bisa menyebutnya tetangga).

Jimin mengucap ‘oh’ seraya meraih buku tugasnya dari tangan Minseok.

“Ada lagi?”

Pemuda itu masih mematung, kedua matanya tak lepas memerangkap bayangan Jimin. Oh, sangat sulit melepas sosok gadis itu dalam benaknya.

“Minseok.”

Minseok sedikit terhenyak dan buru-buru menggeleng sebagai jawaban.

“Sepertinya kau banyak melamun. Itu tidak baik.”

Jimin seharusnya tahu alasan kenapa Minseok seperti itu.

“Semoga harimu menyenangkan.”

Satu tepukan lembut pada bahu Minseok, refleks membuatnya seketika menggenggam lengan Jimin.

“Apa kau yang menulis pesan di lokerku, Jimin-a?”

“Hei, hei, tidak baik memegang lengan mantan yang sudah punya pacar baru.”

Suara Kris membahana di lorong kelas Jimin. Keduanya menoleh ke arah presensi Kris yang berjalan menghampiri mereka.

Jimin langsung melepas genggaman Minseok dan beralih bergelayut manja di tangan Kris.

“Sudahlah, Sayang. Dia hanya mengantarkan buku. Ayo, kita ke kantin dulu,” rayu Jimin dan langsung diamini Kris.

Selagi sepasang kekasih baru itu berjalan pergi, Minseok masih dibuat bingung oleh teka-teki ini.

——–

Seperti biasa, Minseok dan teman-temannya sepulang sekolah berkumpul di rumah makan sederhana milik orang tua Luhan. Jjangmyeong di sini terkenal enak dan membuat mereka ketagihan untuk datang lagi.

Mulanya baik Baekhyun, Chanyeol dan Luhan dapat menikmati makanan mereka dan mengunyahnya perlahan-lahan dengan penuh kelezatan. Namun pada akhirnya mereka menyerah dan menolehkan wajah ke arah Minseok yang sedari tadi tidak menyentuh makanannya.

“Kau kenapa, Hyung?” tanya Baekhyun dengan pipi yang masih menggembung akibat menyimpan segumpal mie.

“Tumben sekali kau tidak langsung menyambar jjangmyeon,” celetuk Luhan.

Berbeda dengan dua temannya yang dipenuhi rasa ingin tahu, Chanyeol malah terlihat khidmat menikmati makanannya.

“Ada yang mengirim pesan di pintu lokerku tiga hari belakangan ini.”

“Secret admirer,” ucap Baekhyun dengan aksen lucu yang membuat Chanyeol dan Luhan terkikik geli.

Minseok yang kesal, memukul kepala Baekhyun dengan sumpit. Seraya mempertahankan tatapan ketus, Minseok melanjutkan ucapannya.

“Ada yang aneh dari pesan ini.” Minseok bersikukuh dengan pendapatnya.

Keiga kertas memo itu tergeletak di atas meja. Ketiga temannya mengamati benda itu dengan cermat.

“Sudah pasti perempuan yang menulisnya,” ucap Luhan santai beberapa menit setelahnya, lantas kembali sibuk mengapit mie dengan sepasang sumpit. Hipotesa Luhan diamini Baekhyun yang mengangguk-anggukkan kepala.

Untuk beberapa saat Minseok diam, mengunci ekspresi di wajah Chanyeol. Ia tak bereaksi, seolah kawannya itu tidak peduli.

Yah, Chanyeol memang begitu. Ia tidak tertarik pada masalah orang lain, terutama milik Minseok.

Akhirnya obrolan mereka ditutup dengan suara Baekhyun.

“Ya Tuhan, aku terlambat pergi les. Aku duluan, ya.” Baekhyun langsung melesat keluar setelah berpamitan juga pada kedua orang tua Luhan yang berada di meja kasir.

——

“Semoga harimu menyenangkan.”

Minseok kembali mendapat pesan misterius itu pagi tadi. Kali ini, tanda hati menghilang dari pesan itu. Simbol cinta itu hilang satu per satu.

Sambil berjalan menyusuri trotoar, Minseok mencoba mencocokkan nama-nama yang mencurigakan untuknya.

Reen, Jimin, dan Chanyeol.

Entah mengapa hanya karena sebaris kalimat biasa itu, pikiran Minseok berhasil dibuat seperti benang kusut. Tak henti-hentinya Minseok menerka-nerka siapa pelakunya. Ini konyol dan membuatnya frustasi sendiri.

“Minseok.”

Suara seorang perempuan mengalihkan atensinya.

“Reen.”

“Kau sendirian? Kemana teman-temanmu?”

“Mereka duluan.”

Reen menganggukkan kepala dan beralih menatap lurus jalanan. Lain halnya Minseok, ekor matanya mengamati perempuan di sisinya itu.

Barangkali Reen yang menulis pesan itu.

“Reen.”

Si gadis menoleh.

“Kau pernah bertanya padaku, apa aku sudah melihat? Mm, maksudmu memo di lokerku? Kaukah yang menulisnya?”

Alih-alih menjawab, Reen tersenyum malu-malu. Ia menjawab dengan gelagat. Minseok melihat percikan hangat pada tatapan gadis itu.

Ternyata dia. Minseok membatin, seulas senyum simpul mengembang dari bibirnya.

Tiba-tiba Minseok merasakan tubuhnya ditabrak sesuatu hingga menghantam tembok sebuah bangunan.

Sebuah mobil sedan yang hilang kendali melesat menembus trotoar. Menabrak Minseok yang sedang berjalan di sana.

Ia bisa merasakan sakit di seluruh bagian tubuhnya. Pandangannya buram, hingga kedua matanya kembali fokus dan menangkap sesosok yang dikenalnya.

Reen tersenyum, namun kali ini Minseok tak merasakan kenyamanan di sana.

“Tolong,” lirih Minseok tak berdaya.

Perlahan Reen mendekati Minseok, lambat laun ekspresinya berubah serius. Ia berjongkok dan mendekatkan wajahnya.

“Aku tidak pernah mengirimu pesan itu.” Setelahnya Reen tersenyum sengau. “Terlalu Kekanak-kanakan.”

Minseok mendengarkan dengan seksama, meski tubuh dan perasaannya remuk redam.

“Itu Jimin. Omong-omong, aku tidak menyukainya. Dan aku jadi tidak menyukaimu karena kau terlalu memikirkan Jimin,” protes gadis itu dengan menatap tajam Minseok yang berpayah-payah bertahan. “Sampai jumpa … eh, tidak. Maksudku, selamat tinggal Minseok.”

Reen berlalu, meninggalkan Minseok yang kesadarannya sudah di ambang batas. Dadanya lama-lama semakin sesak, kedua matanya kembali buram. Akhirnya ia menyerah.

EPILOG

“Kecelakaan terjadi di wilayah Cheongdamdong. Korban Kim Minseok, pemuda tujuh belas tahun, meninggal di tempat kejadian. Dan pelaku tabrakan, Shin Jimin, gadis tujuh belas tahun, yang juga ditemukan tewas di dalam mobilnya. Sampai sekarang belum ditemukan penyebab mobil hilang kendali.”

Reen menyunggingkan senyuman sedetik setelah pembawa berita itu menyelesaikan laporannya.

END.

3 tanggapan untuk “[XIUMIN BIRTHDAY PROJECT] Who You – bebhmuach”

  1. Um…. Now wait a minute, aku menyangka emang reen lah ternyata Jimin? Beneran? Epilognya agak mencurigakan… Aku memikirkan alternatif endingnya kyk gini: jadi yg ngirim itu reen. Tapi jimin yg gamon tau klo Min-seok dikirimin reen dan jadi marah, sehingga nabrak Min-seok deh dianya out of anger.
    Tapi gatau sih ya riddlenya susah bgt
    Anyways. Maaf baru baca tulisan kak Della lagi ~ Keep writing kak!

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s