Vēnor Chapter 5 – [Important] by Heena Park

Venor (4)

a FanFiction by Heena Park

–cover by l18hee

.

x Han Leia

x Alexander Maximilian de Frankai [Kim Jongin]

x Lee Taeyong

x Richard Tyroon Alcender [Park Chanyeol]

x Stephen Davon Alardo [Oh Sehun]

x etc

.

Fantasy – Romance // PG-15 // Chaptered

.

Instagram : heenapark.official

Line@ : @fbo0434t

.

Summary;

Alexander Maximilian de Frankai, seorang Dewa Laut—putra Poseidon—diusir dari Olympus ke Bumi karena dituduh berusaha membunuh putra Zeus, Stephen Davon Alardo sang Dewa Petir dan Cuaca.

Untuk bisa kembali ke Olympus, Alexander harus menemukan keberadaan El Dorado, lalu mengambil sebuah pedang emas milik Kronos dan mendapatkan sesuatu yang paling murni di dunia. Di mana pada akhirnya hal ini mampu menunjukkan takdir dan siapa dia sebenarnya.

.

ps : Nanti mereka bakal tetep make nama Kim Jongin, Park Chanyeol, dll kalau sudah di bumi. Kalau sebagai Dewa mereka tetap menggunakan nama Dewa masing-masing.

.

PrologueChapter 1Chapter 2Chapter 3Chapter 4

.

.

ᴥᴥᴥ SAVIOR ᴥᴥᴥ

Alexander tidak tahu apa yang merasuki jiwanya sampai rela menghampiri Leia ke lokasi kejadian. Ia bisa saja mengacuhkan perasaan Leia yang tentu dirasakannya juga ketika gadis itu tengah berada dalam masalah, namun mutiara Ellena seolah terus menariknya untuk menyelamatkan gadis itu. Padahal, jika Leia meninggal, Alexander akan mendapatkan kembali mutiara Ellena tanpa harus suah-susah memintanya.

Ia cukup terkejut melihat tubuh Leia yang hampir seluruhnya melepuh. Tanpa banyak berkata, pria itu langsung membawa Ellena dalam gendongannya sebelum kobaran api semakin membesar dan tubuh Leia benar-benar habis karenanya.

“Kim… Jongin?”

Suara lemah Leia yang penuh akan pertanyaan tak membuat Alexander membuka mulut. Ia terus membiarkan gadis itu dan berjalan melewati api, sampai akhirnya Leia kehilangan kesadarannya. Sekarang yang ada dalam pikirannya adalah secepat mungkin membawa Leia ke rumah Jaejoong dan segera mengobati gadis itu sebelum terlambat.

Detik berikutnya, tubuh Alexander dan Leia menghilang digantikan dengan keluarnya asap bewarna biru laut. Tak perlu banyak waktu, kekuatan Alexander untuk berteleportasi membuat keduanya sampai di rumah Jaejoong hanya dalam hitungan detik. Segera Alexander membaringkan tubuh lemah Leia di atas ranjangnya dan mengamati sesaat seberapa parah luka gadis itu.

Rambutnya terbakar, seluruh bagian kaki kirinya melepuh, sementara kaki kanan dan tubuh bagian atasnya memerah. Kalau terus dibiarkan seperti ini, Leia bisa mati!

Alexader menaruh telapak tangannya di atas rambut Leia, pusaran air berukuran kecil keluar dari tangannya, di mana berkat ujung dari pusaran tersebut rambut Leia kembali seperti semula.

Kemudian, digerakkannya tangan Alexander ke bawah secara perlahan. Bersamaan dengan lewatnya pusaran tersebut, semua luka yang ada pada tubuh Leia berangsur membaik tanpa meninggalkan bekas. Bahkan kaki Leia yang melepuh pun kembali mulus seperti semula, seolah ia tidak pernah terperangkap dalam lautan api. Gadis itu benar-benar kelihatan sehat.

Setelah selesai mengobati Leia, Alexander duduk di pinggir ranjang dan kembali menatap gadis yang masih terlelap tersebut. Ia mendesah, “Kenapa lagi-lagi aku menyelamatkanmu?”

Ia menarik selimut sampai ke dada Leia sambil berpikir mungkinkah semua ini memang keinginan Ellena, mengingat mutiara Ellena terus-terusan memanggilnya agar datang dan menyelamatkan Leia.

Saat Alexander berniat untuk bangkit dan memberitahu Jaejoong soal Leia, tiba-tiba mata gadis itu bergerak seolah akan terbuka, dan benar saja, belum sempat Alexander berdiri, Leia sudah lebih dulu sadar dan memandangnya lemah.

“Kau sudah sadar?” tanya Alexander yang kemudian kembali ke posisinya semula. “Apa kau baik-baik saja?”

Leia tidak menghiraukan pertanyaan Alexander, bola matanya bergerak dari ujung kiri ke kanan, mencoba untuk mengenali keberadaannya.

“Di mana aku?” tanyanya balik.

“Di rumahku.”

Leia mengerjap, kepalanya masih pusing akibat trauma, tapi tubuhnya tidak merasa kesakitan sama sekali. Ia memfokuskan pandangan ke arah Alexander yang duduk tepat di sampingnya dan berucap, “Tuan… menyelamatkanku?” Ia berhenti sebentar dan meringis sambil menekan pelipisnya. Kedua matanya disipitkan. “Aku melihatmu menerobos api tapi tidak terbakar sama sekali.”

Selama beberapa saat Alexander terdiam. Ia tidak tahu bagaimana caranya untuk menjelaskan pada Leia bahwa dirinya adalah Dewa. Well, ada kemungkinan Leia akan menertawakannya dan menganggap pria itu tak sopan karena bercanda di saat seperti ini.

“Siapa Tuan sebenarnya?”

Kali ini Alexander mengukir senyum tipis. “Seseorang yang memiliki keistimewaan.” Ia menggerakkan dagu ke arah tubuh Leia. “Apa kau baik-baik saja?” tanyanya berusaha mengubah pembicaraan untuk sesaat.

Leia menggeleng. “Tidak, tubuhku pasti sudah mele—Hah?” Ia refleks berteriak saat menyadari tangannya baik-baik saja. Dalam otaknya mulai bertanya-tanya, bukankah tadi dia terluka serius? Kenapa sekarang tubuhnya tidak terluka sedikit pun?

Untuk membuktikan argumennya, Leia berusaha duduk dan memindahkan selimutnya ke samping. Mulutnya membulat tak percaya. Bahkan kedua kakinya pun tidak terluka sedikit pun, padahal seingatnya tadi hampir seluruh tubuhnya melepuh karena kebakaran.

Apa dia sedang bermimpi?

Apa dia sedang berhalusinasi?

“Ba-bagaimana mungkin tubuhku?” Ia menengok cepat ke arah Alexander. “Apa yang terjadi padaku? Kenapa tubuhku baik-baik saja? Maksudku ta—“

Belum selesai mengucapkan pertanyaannya, Alexander sudah memotong ucapan Leia dengan berkata, “Bersyukurlah. Mungkin seorang Dewa sedang berbaik hati untuk menolongmu.”

Leia langsung terdiam mendengar jawaban Alexander. Keningnya mengerut. “Aku tidak mengerti.”

“Kau tidak akan pernah mengerti.” Alexander menyilangkan kedua lengannya di depan perut. “Istirahatlah dulu, sebentar lagi dokter akan datang untuk memeriksa keadaanmu. Kalau kau baik-baik saja, aku akan mengantarmu pulang.”

Ucapan pria itu semakin membuat Leia bingung. Kenapa dia bilang jika Leia tidak akan pernah mengerti? Apa yang sebenarnya terjadi? Siapa dia sebenarnya? Kenapa tidak langsung to the point sih?

Menyadari ekspresi kebingungan Leia, Alexander tersenyum simpul, lantas menumpu lutut kaki kirinya di pinggir kasur dan membungkukkan tubuh bagian atasnya hingga melewati tubuh Leia dan membuat gadis itu terpekik karena mengira Alexander hendak melakukan sesuatu yang buruk kepadanya. Padahal, kenyataannya Alexander sedang mengambil ponsel yang layarnya sudah tak berbentuk dari samping bantal, lalu mundur sedikit sampai tubuhnya seolah siap untuk menindih Leia, dan menunjukkan ponsel tersebut tepat di depan mata gadis itu.

“Aku tidak bisa menyelamatkan ponselmu,” katanya.

Tubuh Leia otomatis menegang karena jarak antara mereka hanya terpaut beberapa centi, ditambah lagi Alexander menatapnya dengan begitu serius, seolah berniat menerkam Leia dan tak mau melepaskannya.

“Ti-tidak apa-apa,” jawabnya terputus. “Te-terima kasih sudah menyelamatkan saya,” lanjutnya sambil mengambil ponselnya dari tangan Alexander yang dilanjutkan dengan mendorong pelan dada pria itu agar menjauh darinya.

Oke.

Gadis mana yang tidak tegang ketika seorang tampan tak dikenal tiba-tiba memposisikan diri sedekat itu dengannya?

Jantungnya bahkan berdebar dua kali lebih cepat. Leia sampai takut jika pria itu mendengar debarannya.

Lagi-lagi Alexander terkikik geli. Ia bisa menebak apa yang dirasakan Leia sekarang. Well, ia memang suka menggoda seseorang, terlebih lagi gadis polos seperti Leia.

“Tidak perlu tegang begitu, dalam pikiranku bahkan tidak pernah terbesit untuk melakukan hal apa pun yang mungkin kau duga itu.”

Oh ayolah. Apa Alexander harus mengatakan dengan sejelas itu? Tiba-tiba Leia merasa tersinggung sekarang. Apa dia benar-benar tidak menarik sampai Alexander tak memiliki sedikit getaran terhadapnya?

Berusaha untuk membalas Alexander, Leia membuang mukanya dan berdalih, “Aku juga tidak berpikir Tuan akan melakukannya,” dustanya.

Bahkan hanya dengan melihat wajah merona Leia pun, Alexander bisa menebak gadis itu sedang berbohong, tapi ia tidak ingin memperpanjang pembicaraan bodoh mereka atau Leia akan berpikir Alexander adalah pria yang mesum.

“Kenapa kau memanggilku Tuan? Bukankah kau sudah memberiku nama?”

Pertanyaan aneh macam apa ini? Apakah masuk akal jika Alexander bertanya seperti itu?

“Apakah Tuan tidak punya nama? Kenapa harus menggunakan nama dariku?”

“Karena aku tidak ingin memberitahu siapa namaku padamu.”

“Apa?” Leia mendengus tak terima. Apa pria ini gila? Apa alasannya masuk akal? Kenapa dia menyebalkan sekali? “Bailklah. Lagipula aku jika tidak ingin bertanya siapa nama Tuan. Jadi aku akan mulai memanggil Tuan dengan Kim Jongin.”

Sungguh pembicaraan yang tidak masuk akal. Dan bodohnya, Leia tak menyadari jika Alexander sedang berusaha mengalihkan pembicaraan mereka. Entah terlalu naif atau bagaimana, pada akhirnya Leia akan tetap mengikuti alur pembicaraan Alexander tanpa bisa mengelak.

Dan sekali lagi, Leia lupa untuk meminta penjelasan soal kejadian beberapa hari lalu, di mana Alexander membuat dua orang pemabuk terbang dan bagaimana pria itu bisa menemukannya saat tengah menangis kemarin.

 

 

Sudah hampir dua malam Taeyong selalu menginap di apartemen Stella. Gadis itu berkali-kali merengek meminta agar ditemani karena takut tinggal seorang diri, yah, tentu saja Taeyong tidak keberatan, ia malah sangat senang ketika Stella memintanya.

Have you finished making music video?” tanya Stella sembari menaruh dua gelas coklat hangat di meja, kemudian duduk di samping Taeyong.

Pria itu mengangguk cepat, pandangannya tak pernah lepas dari berita di televisi yang tengah membahas kebakaran minimarket di dekat rumah Leia. “Yes.”

Tak suka jika Taeyong mengacuhkannya. Stella menyandarkan kepalanya pada lengan pria itu dan mendongak. “How about your girl? Did you tell her if you were staying here?”

No. She would be angry if she know about this.”

Do you love her?”

Taeyong terpaku. Ia tak menyangka Stella akan bertanya seperti itu. Kepalanya menunduk, otaknya mulai berpikir apakah selama ini dia memang mencintai Leia atau sekadar formalitas agar tidak menyakiti perasaan gadis itu belaka.

Namun, sedalam apa pun Taeyong berpikir, ada dua sisi dalam dirinya yang bertolak belakang. Ia tidak yakin tentang perasaannya pada Leia, tapi ia juga tidak yakin bila tak memiliki rasa sedikit pun padanya. Entahlah, susah untuk menggambarkan bagaimana perasaan Taeyong sekarang.

You don’t love her, do you?”

Taeyong bisa membacanya, dia yakin Stella memiliki harapan besar untuk kemajuan hubungan mereka berdua, mengingat akhir-akhir ini Taeyong memang lebih sering menghabiskan waktu bersama gadis itu daripada Leia. Namun, sekali lagi Taeyong tak yakin pada perasaannya.

Ia tidak menjawab, melainkan menengok sebentar dan mengusap rambut Stella sambil memberikan senyuman penuh makna. Senyum ambigu yang bahkan tidak Taeyong ketahui artinya.

Tapi bagi Stella yang memiliki pandangan instan, senyuman Taeyong dapat diartikan sebagai tanda persetujuan akan argumennya barusan. Dalam kata lain, Taeyong memang tidak mencintai Leia, melainkan dirinya.

I’m glad you’re here,” gumam Stella lagi. Ia memejamkan kedua matanya, membiarkan kepalanya nyaman dalam lengan Taeyong. Hubungan mereka memang tidak memiliki status, tapi setidaknya Taeyong selalu ada untuknya.

Detik berikutnya ponsel Taeyong berdering, tak perlu menunggu lama ia langsung merogoh sakunya dan melihat siapa yang menelepon. Terteranya nama Chaeyeon di layar sudah cukup membuat Taeyong bertanya-tanya sebelum mengangkatnya.

“Halo?” ujarnya memulai percakapan.

Taeyong sunbae, di mana sunbae sekarang?” tanya Chaeyeon tanpa basa-basi.

Oke, tenang. Tidak mungkin Chaeyeon menaruh curiga soal keberadaannya sekarang. Tapi, hei! Kenapa dia bertanya seperti itu? Tiba-tiba saja jantung Taeyong berdebar lebih cepat. Atau mungkin saat dalam perjalanan ke apartemen Stella, Chaeyeon melihatnya?

Ah! Menyebalkan sekali!

“Ke-kenapa?”

Deru napas Chaeyeon terdengar tak beraturan, saat ini juga Taeyong merasa ada yang tidak beres. Sekali lagi ia bertanya, “Kenapa? Apa yang terjadi?” tanyanya dengan nada yang cukup tinggi hingga Stella menjauhkan kepalanya dari lengan Taeyong karena terkejut.

Chaeyeon tidak langsung menjawab, gadis itu mulai terisak, suaranya menjadi tidak begitu jelas. “Leia… Leia dia…

Sialan!

Apa yang terjadi pada Leia?

Kenapa Chaeyeon menangis?

Refleks Taeyong berdiri dan menjauh dari Stella. Ia berjalan ke ujung ruangan sembari menggigit bibir bawahnya khawatir.

“Ada apa dengan Leia?”

Detik itu juga tangisan Chaeyeon pecah. Ia dengan terpatah-patah menjelaskan apa yang terjadi. “Leia… dia pergi ke minimarket dan membeli ayam goreng, tapi… tapi saat aku melihat berita di televisi, minimarket di dekat rumah Leia kebakaran.” Chaeyeon berhenti sejenak, ia berusaha menenangkan diri. “Aku langsung menyusul ke minimarket, tapi semuanya habis, semua yang ada di dalam meninggal terbakar. Maksudku…

Ia tak sanggup lagi, tangisan Chaeyeon semakin keras. “Aku tidak bisa menemukan Leia di mana pun… jadi… jadi aku yakin Leia juga ikut menjadi korban dalam kebakaran itu…

“APA?!” Taeyong membelalakkan kedua matanya bersamaan. Tubuhnya menegang. Apa dia tidak salah dengar? Leia? Tidak! Taeyong yakin Leia tidak akan meninggalkannya!

Ia buru-buru berlari ke sofa dan mengambil mantelnya, kemudian kembali berbicara pada Chaeyeon, “Kau di rumah Leia kan? Jangan ke mana-mana, aku akan pergi ke sana,” perintah Taeyong kemudian memutus panggilan.

Stella tidak ingin Taeyong pergi. Ia menahan lengan pria itu ketika hendak berbalik. “Where are you going?”

Ia tidak punya banyak waktu sekarang. Dilepaskannya cengkeraman Stella dari lengannya. “I’m sorry. I need to go.”

No! Don’t leave me! I’m afraid to be alone.”

Taeyong mendecak, ia mengacak rambutnya kesal. Suaranya meninggi, “Stella, please. I need to go!”

Why? Is there any important thing than me?”

Demi apa pun!

Kenapa gadis ini tidak bisa diajak bekerja sama di saat genting seperti ini? Taeyong tidak memiliki pilihan lain.

“Yes! There is something more important than you! Chaeyeon bilang, kemungkinan Leia menjadi korban kebakaran dan aku harus pergi sekarang! Kumohon, berhentilah bersikap egois untuk kali ini! Aku harus mencari tahu bagaimana keadaan Leia!”

Stella tak menyangka Taeyong akan berkata sekasar itu padanya. Matanya mulai berkaca-kaca, tapi ia tidak bisa menahan Taeyong untuk tetap tinggal. Akhirnya yang bisa ia lakukan hanyalah membiarkan Taeyong pergi, dan saat itu juga Stella tersadar bahwa dalam hati Taeyong masih ada nama Leia. Bahwa kemungkinan Taeyong memang mencintai Leia, hanya saja pria itu tidak mau mengakuinya.

Ternyata rasanya sesakit ini ketika menyadari jika orang yang kita sukai rupanya memiliki rasa pada orang lain. Stella malu pada dirinya sendiri, ia terlalu percaya diri dan menganggap Taeyong telah jatuh dalam pesonanya, padahal kenyataannya tidak.

 

 

Sesekali Leia melirik Alexander dan dokter yang tengah berbincang di ambang pintu. Tidak lama kemudian dokter tersebut pergi dan Alexander kembali menghampirinya di kamar. Pria itu menyodorkan kertas resep pada Leia.

“Dokter bilang keadaanmu baik-baik saja, tapi kau bisa saja trauma. Sebelum pulang lebih baik kita mampir ke apotek dulu.”

Leia menggeleng samil menerima kertas resep dari Alexander, kemudian memasukkannya ke saku celana. “Tidak perlu, aku bisa menebus resepnya nanti.” Ia berhenti sebentar, berusaha untuk tidak menatap Alexander terlalu lama. “Aku harus pulang, temanku sudah menunggu di rumah. Dia pasti khawatir.”

“Baiklah kalau begitu.”

Lantas, Leia menyingkirkan selimut dari kakinya dan berusaha untuk bangkit dari kasur, namun entah kenapa tubuhnya masih bergetar hingga ia terjatuh kembali ke kasur. Mungkin efek dari rasa takut berlebihan ketika terjebak dalam kebakaran tadi.

Alexander menghela napas panjang melihat kejadian itu. Ia membungkuk dan menggendong Leia secara bridal. Sontak gadis itu membelalakkan kedua matanya, ia bahkan hampir memukul wajah Alexader karena terkejut, untunglah Leia bisa mengontrol diri.

“Apa yang kau lakukan?” protesnya.

Seolah tak peduli akan ekspresi penolakan Leia, Alexander mulai melangkah keluar kamar. Tanpa melirik gadis itu sama sekali, ia menjawab, “Kau masih bertanya padahal sudah tahu bagaimana keadaanmu.”

“A-apa?”

Alexander memutar kedua bola matanya, tidak berniat untuk menjawab pertanyaan Leia. Beberapa pelayan di rumah ini tidak mengabaikan mereka berdua begitu saja. Leia bahkan merasakan pipinya memanas karena malu menjadi pusat perhatian. Untunglah Alexander memiliki dada yang bidang, sehingga Leia bisa menyembunyikan wajahnya di sana.

Menyadari Leia tengah menjadikannya benteng persembunyian, Alexader terkekeh pelan. Sebenarnya, kalau diamati ternyata gadis ini imut juga. Pipinya bahkan mudah merona saat Alexader menggodanya.

“Buka pintunya!” perintah  Alexander saat mereka sudah sampai di samping mobil. Seorang pelayan langsung membukakan pintu mobil tersebut, sehingga Alexander bisa langsung memasukkan Leia ke mobil.

Berkali-kali Leia mengerjapkan matanya. Ia tak menyangka akan duduk dalam mobil Alexander—pria aneh yang akhir-akhir ini selalu menolongnya—dan membiarkan pria itu mengantarnya pulang.

Ia tidak tahu siapa pria ini sebenarnya. Gaya dan perbuatannya memang mirip dengan manusia, tapi kenapa Leia merasa ada yang berbeda dengan pria itu?

Leia teringat kemarin Alexander mengatakan soal sesuatu milik pria itu yang ada dalam tubuh Leia. Haruskah ia menanyakannya?

“Begini… waktu itu kau bilang ada sesuatu milikmu yang ada dalam tubuhku… kalau boleh tahu, apa yang sebenarnya kau maksud?”

“Ah itu…” Alexander mengangguk-anggukkan kepalanya. “Aku akan memberitahumu nanti. Sekarang kubiarkan benda itu tetap bersamamu. Lagipula kau tidak akan mempercayaiku kalau kuceritakan kebenarannya sekarang.”

“Memang ada apa sebenarnya?”

Alexander melirik sebentar ke arahnya dan menarik salah satu ujung bibirnya. “Kau akan tahu sendiri nanti.” Pandangannya kembali fokus ke depan. “Kalau kau berada dalam masalah, panggil namaku dalam hatimu dan aku pasti akan datang.”

“Kenapa aku harus memanggilmu? Memang kau malaikat pelindungku?”

“Kau tidak mau?”

Leia menggelengkan kepalanya. “Tentu saja tidak mau. Aku tidak ingin merepotkan siapa pun.”

Andai saja gadis itu tahu bahwa ia sudah beberapa kali merepotkan Alexander. Bahkan saat masa kecilnya pun ia hampir mati jika Alexander tidak memberikan mutiara itu.

Sepanjang sisa perjalanan tak ada percakapan yang terdengar antara mereka. Kerumunan orang masih memadati minimarket yang barusan kebakaran, Leia bergidik ngeri saat mengingat kejadian itu.

Setelah sampai di depan pagar rumah Leia. Alexander buru-buru keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk gadis itu. Sekali lagi ia membungkukkan badan, berniat untuk menggendong Leia, namun lagi-lagi Leia menunjukkan ekspresi terkejutnya. Dia benar-benar tidak peka.

“Apa kau mau merangkak sampai di dalam rumah?” celetuk Alexander.

Leia mendorong tubuh pria itu menjauh. “Aku sudah bisa berdiri,” tegasnya yang kemudian memegang pintu mobil dan keluar dari sana. Untunglah ia tidak jatuh lagi sekarang.

“Aku pergi dulu kalau begitu.”

Leia mengangguk-anggukkan kepalanya. “Terima kasih sudah menolongku.”

“Aku tidak melakukannya dengan cuma-cuma.” Alexander menutup pintu mobil tempat Leia duduk tadi. “Aku hanya ingin melindungi sesuatu milikku yang berada dalam dirimu,” lanjutnya lagi tanpa memberikan clue yang jelas. “Jaga dirimu baik-baik, Han Leia.”

Detik berikutnya, Alexander berjalan masuk ke mobilnya dan melaju pergi. Sementara Leia masih diam di tempat, memandangi mobil tersebut menghilang di pertigaan. Ada rasa tak percaya dan takjup dalam dirinya, menganggap pertemuannya dengan pria itu bukanlah ketidak sengajaan belaka, melainkan takdir yang sudah digariskan.

Pria itu terlalu penuh misteri, banyak hal tak masuk akal yang meliputinya. Aneh memang, tapi kenapa Leia tidak merasa takut sama sekali? Kenapa hatiya terus berkata bahwa pria itu akan melindunginya?

Mencoba untuk menghentikan pikiran melencengnya, Leia menggeleng dan memilih untuk masuk ke rumah. Dan betapa terkejutnya Leia ketika mendapati Taeyong dan Chaeyeon sudah berdiri di depan pintu, dengan keadaan Chaeyeon yang menangis tersedu-sedu. Gadis itu langsung berlari menghampiri Leia dan memeluknya erat-erat, seolah takut Leia akan meninggalkannya. Sementara Taeyong berjalan pelan menghampiri mereka. Ada segaris ekspresi cemas yang tergambar pada wajah Taeyong, dan Leia bisa melihatnya.

Tunggu dulu, sejak kapan mereka berdua ada di sana? Jangan-jangan Taeyong dan Chaeyeon melihatnya datang bersama pria tadi?

 

TO BE CONTINUED

6 tanggapan untuk “Vēnor Chapter 5 – [Important] by Heena Park”

  1. Kalo leia beneran mati di tkp nyesel dah tuh si taeyong dah nyia2in leia gt aja
    Takut diaa tuh sebenernyaa wkwkwk
    Ditunggu next chapter nya hehehhe

  2. Wuaaahhh ini crita yg paling cepet apdet…jd smkin penasaran…
    Taetae klo suka mah suka aja..jgn plin plan gitu dundd..untung km cakep hahahahahah

  3. Karna ada mutiara ellena ditubuhmu leia makanya kalian sering ketemu. Semoga momen mereka makin banyak nantinya, ceritanya makin seru dan gak sabar nunggu kelanjutannya lagi

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s