Vēnor Chapter 4 – [Savior] by Heena Park

Venor (4)

a FanFiction by Heena Park

–cover by l18hee

.

x Han Leia

x Alexander Maximilian de Frankai [Kim Jongin]

x Lee Taeyong

x Richard Tyroon Alcender [Park Chanyeol]

x Stephen Davon Alardo [Oh Sehun]

x etc

.

Fantasy – Romance // PG-15 // Chaptered

.

Instagram : heenapark.official

Line@ : @fbo0434t

.

Summary;

Alexander Maximilian de Frankai, seorang Dewa Laut—putra Poseidon—diusir dari Olympus ke Bumi karena dituduh berusaha membunuh putra Zeus, Stephen Davon Alardo sang Dewa Petir dan Cuaca.

Untuk bisa kembali ke Olympus, Alexander harus menemukan keberadaan El Dorado, lalu mengambil sebuah pedang emas milik Kronos dan mendapatkan sesuatu yang paling murni di dunia. Di mana pada akhirnya hal ini mampu menunjukkan takdir dan siapa dia sebenarnya.

.

ps : Nanti mereka bakal tetep make nama Kim Jongin, Park Chanyeol, dll kalau sudah di bumi. Kalau sebagai Dewa mereka tetap menggunakan nama Dewa masing-masing.

.

PrologueChapter 1Chapter 2Chapter 3

.

.

ᴥᴥᴥ SAVIOR ᴥᴥᴥ

ᴥ Jung Jaehyun ᴥ

22d089bbb60969d7cb3227a9293018b8

 

ᴥ Jung Yunho ᴥ

19417e80a43e9c1adc29c1aa196a2543

 

ᴥ Poseidon ᴥ

4001b25c9c8fda158090a6cf9da7888f

 

Gemuruh petir menggelegar, kilat terus menyambar tanpa henti. Seorang pria bermata menyala dikelilingi kobaran api tampak marah. Tidak ada kehidupan di sekelilingnya, hanya api, hanya ada hitam dan merah. Kegelapan bergulir ditemani panas yang bisa menghanguskan siapa saja.

Dari langit turun seorang pria bersenjatakan pedang berbentuk petir. Ia melemparkan pedang tersebut ke arah pria yang terus mengobarkan api dari tubuhnya. Namun, bukannya menghindar, pria itu malah melebarkan kedua lengan dan mendongakkan kepala. Tepat saat pedang yang dilemparkan tadi menusuk ke dalam jantungnya, api di sekelilingnya berubah menjadi gumpalan ombak layaknya berada di lautan.

Pria itu masih hidup, perlahan ia menarik pedang yang tertancap di dadanya, lalu berteriak, “Aku akan membunuhmu!”

“KIM JONGIN, HENTIKAN!”

Leia hampir terpental dari kasur gara-gara menghentakkan tubuhnya keras-keras. Matanya melirik ke kanan dan ke kiri, berusaha mengenali apakah sekarang ia masih berada dalam mimpi atau sudah di dunia nyata.

Jantungnya berpacu kencang, entah kenapa mimpi yang barusan ia dapat terasa begitu nyata. Apakah mimpi tersebut memiliki arti? Kenapa pula ia memanggil nama yang diberikannya pada Tuan Mabuk tempo hari? Bukan, lebih tepatnya, kenapa dalam mimpinya, tubuh Tuan Mabuk mampi mengeluarkan api? Kenapa ia ditusuk dengan pendang petir? Leia benar-benar tak mengerti.

Ia merasa ada yang aneh, bahkan Leia menangis ketika bermimpi. Ia baru menyadari saat merasa ada sesuatu di pipinya. Leia menggeleng pelan dan menatap jari yang barusan ia gunakan untuk mengusap air matanya. “Ada apa denganku? Kenapa aneh sekali?” tanyanya pada diri sendiri.

Ting…

Ponselnya berbunyi menandakan pesan masuk. Diraihnya benda kecil tersebut dan nama Chaeyeon tertera di layar.

 

“From : Jung Chaeyeon

Apa kau tidak di rumah? Aku menekan bel tapi tidak ada yang menjawab.”

 

“Bel?”

Leia terhenyak, ia baru sadar jika bel rumahnya memang berbunyi. Lantas, gadis itu segera turun dari ranjang dan berlari keluar untuk membukakan pintu bagi Chaeyeon yang mungkin sudah menunggunya cukup lama.

Dan benar! Begitu Leia membuka pintu, seorang lelaki dan wanita berdiri di hadapannya sambil membawa sesuatu.

“Jung Chaeyeon?” Leia mengamati gadis berbaju biru tersebut, ia nampak rapi dan cantik. Kemudian pandangannya beralih pada seorang pria di samping gadis tersebut. Leia terdiam sejenak, ia terlalu terkejut untuk menyadari siapa yang mendatanginya saat ini. Seorang pria yang hampir setahun tidak pernah ditemuinya.

“Jaehyun sunbae?”

Pria yang dipanggil Jaehyun sunbae itu mengangguk dan tersenyum simpul. “Sudah lama kita tidak bertemu. Bagaimana kabarmu, Jenderal Leia Organa?”

Rupanya Jaehyun tidak berubah. Leia tersipu malu. “Sunbae masih sama seperti dulu rupanya. Sudah lama aku tidak mendengar sebutan itu,” gumamnya.

Jaehyun memang selalu memanggil Leia dengan nama tokoh Star Wars, Jenderal Leia Organa. Selain memiliki nama yang sama, dulu Leia pernah bercerita bahwa ibunya adalah penggemar Star Wars, sama seperti Jaehyun.

“Omong-omong, kenapa kalian ke sini?” tanya Leia akhirnya.

Jaehyun melirik sebentar ke arah Chaeyeon. “Aku baru pulang kemarin dan mendengar kabar kalau adikku menyeretmu dalam masalah sehingga kau juga ikut diskors sampai orang tuamu datang ke sekolah. Aku benar-benar minta maaf karena itu.”

Leia menggeleng. “Aku hanya melakukan apa yang harus kulakukan.”

Tiba-tiba Chaeyeon mengangkat tas di tangannya. “Untuk permintaan maaf serta terima kasih, ibuku membuatkan ini untukmu. Bagaimana kalau kita sarapan bersama?”

Tentu saja Leia menerima dengan sangat senang. Ia melangkah ke belakang untuk memberikan ruang yang cukup bagi Chaeyeon dan kakaknya agar bisa masuk. “Masuklah, kebetulan aku belum sarapan,” jawabnya sumringah.

Mereka langsung menuju ke dapur. Chaeyeon dan Leia sibuk memasukkan makanan yang telah dibuat orang tua Chaeyeon ke kulkas, sementara Jaehyun menata sarapan bagi mereka.

“Apa ayahmu sudah menelepon kapan akan menemui Jieun ssaem?”

Leia mengangkat kedua pundaknya bersamaan. “Belum. Mungkin dia tidak akan melakukannya,” ia berhenti sebentar dan menghela napas panjang. “Aku bahkan tidak yakin dia peduli padaku,” lanjutnya sambil tersenyum miris.

“Kau tidak boleh berkata seperti itu,” tegas Chaeyeon. Ada perasaan bersalah yang membekas di hatinya. Kalau saja Leia kemarin tidak membelanya, mungkin sekarang gadis itu tidak perlu mengalami hari berat seperti ini. “Aku yakin ayahmu akan datang.”

Seolah bisa membaca rasa bersalah yang didera Chaeyeon, Leia mengusap lengan gadis itu. “Tidak perlu merasa bersalah. Aku senang bisa membantumu, setidaknya hanya ini yang bisa kulakukan sebagai temanmu. Aku tidak ingin Doyeon selalu bersikap seenaknya.”

Beginilah Leia. Dia keras kepala, pemberani, tapi sangat rendah hati. Sifat ini juga lah yang membuat Leia menarik. Jaehyun bahkan pernah mengakui perasaannya pada Leia beberapa tahun lalu, tentu saja tanpa sepengetahuan Chaeyeon.

“Kemarilah, aku ingin memelukmu,” ujar Chaeyeon yang sudah melebarkan kedua lenganya.

Leia terkikik geli. Dipeluknya Chaeyeon erat-erat. Jujur, Leia sangat bersyukur memiliki teman seperti Chaeyeon, terlebih lagi Jaehyun juga baik terhadapnya. Kedua kakak-beradik tersebut selalu memperlakukan Leia dengan baik seolah Leia adalah bagian dari keluarga mereka.

Tiba-tiba sekelebat ingatan tentang mimpinya tadi lewat begitu saja. Leia merasa bercerita pada Chaeyeon pasti membuat hatinya jauh lebih tenang. Setidaknya nanti Chaeyeon akan mengingatkan bila mimpi hanyalah bunga tidur yang tidak sepatutnya dikhawatirkan.

“Aku mimpi buruk tadi.”

Chaeyeon melepaskan pelukan mereka dan menatap Leia penuh tanya. “Kau sering mimpi buruk akhir-akhir ini?”

“Begitulah, tapi yang ini terasa sangat nyata. Aku melihat api di mana-mana, seperti neraka. Api itu tidak muncul begitu saja, seorang pria bermata menyala lah yang melakukannya, tubuh pria itu bisa mengeluarkan api. Di sisi lain, ada seorang pria yang membawa pedang petir, kemudian melemparkan benda itu sampai menusuk dada pria penuh api tadi, lalu api itu berubah menjadi gulungan ombak.”

“Bagaimana denganmu? Apa yang terjadi padamu di mimpi itu?”

Leia terdiam selama beberapa saat. Ia menerawang keluar jendela. “Aku adalah api dan air dalam mimpi itu. Aku memiliki firasat buruk tentang semua ini.” Ia menengok ke arah Chaeyeon dan mengerutkan kening. “Apa aku harus pergi ke penafsir mimpi? Aku merasa tidak tenang.”

Chaeyeon paham kenapa Leia merasa takut. Siapa pun pasti takut jika mendapatkan mimpi seperti itu. Aneh dan menyeramkan. Namun, mimpi hanyalah bunga tidur. Ia yakin Leia tidak perlu khawatir.

“Kau tidak perlu pergi ke penafsir mimpi, aku akan menemanimu di rumah malam ini. Mungkin mimpi tersebut hadir karena rasa cemasmu. Bagaimana?”

Leia mengangguk setuju. “Terima kasih.”

 

 

Bukan hanya manusia, terkadang para Dewa pun memiliki hubungan keluarga yang tidak terlalu harmonis. Sebenarnya Alexander tidak membenci atau pun dendam dengan Poseidon, ia hanya kesal karena Poseidon jarang mempedulikan dirinya atau pun ibunya. Padahal secara teknis Alexander adalah keturunan terakhir Poseidon yang biasanya dianggap anak kesayangan karena paling muda.

Ia melangkah ragu memasuki sebuah ruangan besar dalam mansion mewah milik seseorang bernama Jung Yunho. Sekali lagi, pria itu bukan lah manusia, melainkan seorang siren—setengah duyung, setengah manusia.

“Alexander?”

Yunho memanggilnya dari ujung ruangan yang otomatis membuat Alexander menghampirinya. Mereka berdiri di depan sebuah pintu besar dengan motif trisula. Well, Alexander sudah bisa menebak ruangan milik siapakah ini.

“Poseidon sudah berada di dalam, dia menunggumu sejak tadi,” ujar Yunho lagi.

Lantas, Alexander mengangguk dan menepuk pelan lengan Yunho. “Terima kasih,” gumamnya kemudian masuk ke kamar tersebut.

Yunho adalah salah satu orang kepercayaan Poseidon. Semua siren yang hidup bersama manusia selalu memiliki ruangan khusus bagi Poseidon karena tak jarang ia akan berkunjung untuk mengamati banyak hal di Bumi.

“Apa karena terlalu lama bersama manusia membuatmu tertular kebiasaan mereka?”

Alexander terdiam di balik pintu. Poseidon langsung menyambutnya dengan sindiran karena terlambat datang. Pria itu berpakaian layaknya manusia biasa, wajahnya tampan dan tubuhnya gagah, pantas saja banyak Dewi mengincarnya.

“Mungkin memang seharusnya aku menjadi manusia,” balas Alexander tak kalah sengit. Ia berjalan mendekati Poseidon hingga jarak mereka hanya terpaut beberapa centi. “Ada apa memanggilku ke sini?”

Poseidon tahu bagaimana sifat putranya. Alexander hanya berusaha bersikap tegar, ada rasa marah dalam hatinya sehingga menanggapi seperti itu. Namun, keseharian ayah dan anak memang tidak lengkap tanpa dibumbui love-hate relationship.

“Aku merindukanmu. Apa ada yang salah bila seorang ayah merindukan putranya?”

Ingin Alexander mengatakan ia tak tertipu oleh omong kosong Poseidon. Namun ia tak mau berubah menjadi seorang anak yang tidak sopan. Ia hanya bisa mendecih, “Entahlah.”

Pada akhirnya basa-basi mereka memang tidak pernah berhasil. Seharusnya sejak awal Poseidon langsung mengatakan maksud kedatangannya. Ia memang terlalu banyak berusaha padahal tahu jika Alexander memiliki amarah besar padanya.

“Lakukan keinginan Zeus, dapatkan pedang Kronos dan kembalilah ke Olympus. Ibumu sangat khawatir pada keadaanmu saat ini. Mengakulah lalu tebus kesalahanmu.”

Ini dia yang Alexander tunggu-tunggu. Kebiasaan Poseidon yang menganggapnya bersalah tanpa mau mencari tahu. Ia menatap kesal ke lantai sembari menggertakkan gigi. “Sudah kubilang aku tidak bersalah,” ujarnya pelan. Ia mengangkat wajah dan menatap Poseidon sungguh-sungguh. “Aku tidak pernah mencoba untuk membunuh Stephen dan aku tidak akan mencari pedang Kronos. Jika aku melakukan apa yang Zeus mau, sama saja aku mengakui kesalahan yang tidak kulakukan.”

Poseidon mengusap wajahnya kacau. Ia menekan kedua pundak Alexander. “Semua bukti mengarah padamu, percuma kau mengelaknya, Zeus tidak akan pernah percaya kecuali kau memiliki bukti bila kau bukan lah pelakunya.”

Bukti, Zeus membutuhkan bukti. Baiklah, tidak ada salahnya Alexander mencoba untuk membuktikan bahwa dia memang tidak bersalah!

Dilepaskannya pegangan Poseidon pada kedua pundaknya, lalu Alexander kembali berucap, “Jika itu yang Zeus butuhkan, maka aku akan datang sambil membawa bukti.” Ia berbalik, namun sebelum mulai melangkah, Alexander lagi-lagi berucap, “Katakan pada ibu jika aku baik-baik saja di sini. Aku akan selalu baik-baik saja,” katanya lalu menghilang begitu saja.

Poseidon mengerjap, ia mengacak rambut frustasi. Alexander terlalu keras kepala. Masalah ini terlalu rumit. Di satu sisi, Poseidon ingin melindungi Alexander dan membawanya kembali ke Olympus, tapi pria itu tidak pernah mau mendengar nasihatnya. Kalau saja dulu Poseidon tidak melakukan kesalahan dan lebih peduli pada Alexander, pasti hubungan mereka tidak akan seperti ini.

 

 

“Kau yakin ini sudah cukup untuk kita?” Chaeyeon melirik sebentar ke arah dua mangkuk jjajangmyeon. Tubuhnya masih dibalut apron bewarna biru muda milik Leia, sementara matanya memberi kode bahwa apa yang ada di meja sekarang masih kurang untuk membuat kenyang perutnya.

Leia bangkit dari sofa dan meraih mantelnya. “Aku akan membeli ayam dan dua kaleng soda. Bagaimana?”

Chaeyeon menyilangkan kedua lengannya sambil menimbang-nimbang saran Leia. “Karena ini malam Minggu dan kemungkinan kita akan menonton film atau menggosip sampai fajar, kurasa soda dan ayam goreng cocok untuk menemani,” ia menepuk kedua tangan bersamaan, “Ah! Jangan lupa beli snack!”

Leia berlari ringan keluar rumah dan berteriak, “Oke!”

Ia langsung meluncur ke restoran ayam goreng yang berada tak jauh dari rumahnya, sambil menunggu pesanannya jadi, Leia berinisiatif untuk pergi sebentar ke minimarket yang berada tepat di seberang restoran tersebut untuk membeli beberapa kaleng soda dan snack.

“Bibi, aku akan pergi ke minimarket dulu, nanti aku akan kembali untuk mengambil pesananku,” pesan Leia kepada pemilik restoran ayam.

Memang pada dasarnya Leia dan Chaeyeon suka makan, mereka bisa menghabiskan tiga porsi jjajangmyeon dan sekotak ayam goreng. Hal ini pula lah yang mendorong Leia untuk mengisi penuh ranjang belanjanya dengan berbagai macam snack dan beberapa kaleng soda. Coba kalau usianya sudah setahun lebih tua sekarang, mungkin Leia akan memilih bir untuk menemaninya makan ayam goreng.

Ia berpikir untuk membeli beberapa ramyeon untuk antisipasi ketika kelaparan dan malas keluar. Mungkin es krim juga diperlukan, siapa tahu Leia tiba-tiba ingin makan yang manis-manis. Ah! Permen. Biasanya ketika mengerjakan tugas, Leia akan merasa bosan dan ngantuk, siapa tahu permen bisa membuatnya terjaga.

Ia beralih ke rak berisi puluhan pack permen. Tiba-tiba terlintas sosok pria yang diberinya nama Kim Jongin kemarin dalam pikirannya. Astaga, kenapa hanya melihat permen saja ia bisa teringat pria itu?

Tapi, kalau dipikir-pikir aneh juga. Bagaimana caranya pria itu menemukan Leia kemarin? Ia juga berhasil melumpuhkan dua pemabuk yang berusaha menyakiti Leia, dan ia benar-benar ingat kalau pria itu menerbangkan pemabuk tersebut, lalu melemparkannya tepat ke atap mobil.

Siapa dia sebenarnya?

Apakah malam itu Leia salah lihat? Mungkin saja pemabuk yang mengganggunya terbang karena angin atau bahkan mereka tidak terbang? Mungkin saja Leia berhalusinasi!

Tapi tidak mungkin! Leia sangat sadar waktu itu! Ia seratus persen sadar.

Leia menggeleng, berusaha untuk membuyarkan lamunannya yang bisa jadi tak berujung, kemudian mengambil satu pack permen dan menatapnya selama beberapa detik.

“Siapa kau sebenarnya? Kenapa aku bahkan bermimpi tentangmu?” bisiknya pelan, terkesan lebih untuk diri sendiri.

Baru saja Leia berbalik untuk menuju ke kasir, tiba-tiba matanya mendapatkan pemandangan tak mengenakkan. Di belakang penjaga kasir, sebuah kabel yang menjalar dari atas mengeluarkan percikan api, detik berikutnya api tersebut makin membesar dan membuat penjaga kasir terkejut. Namun, sebelum bisa keluar, tubuh penjaga kasir tersebut sudah lebih dulu tersetrum dan ikut terbakar.

Leia langsung menjatuhkan keranjangnya dan berniat untuk berlari keluar minimarket, namun baru selangkah, tiba-tiba bagian depan minimarket meledak dan semakin memperbesar kobaran api.

Ia semakin kebingungan. Tidak ada jalan lain untuk keluar kecuali melewati kobaran api. Orang-orang di dalam ruangan berlari tak beraturan. Suara tangisan bayi dalam pelukan ibunya membuat Leia semakin takut, ia melihat ke kanan dan kiri, semua orang mulai berkumpul ke tengah, berusaha untuk menjauhi api.

Kepulan asap semakin memperburuk keadaan. Beberapa orang mulai terbatuk-batuk dan kehilangan kesadarannya kemudian termakan kobaran api. Suara permintaan tolong yang bersaut-sautan seolah tak mendapat jawaban. Ricuh dan sirine pemadam kebakaran belum juga terdengar.

“Tolong! Tolong kami!” teriak Leia karena tak tahu harus bersikap bagaimana.

Api semakin mendekat, mereka bisa terbakar hangus jika tidak ada bantuan. Karena tempat perlindungan yang semakin sempit, seseorang tiba-tiba mendorong Leia ke dalam kobaran api tanpa rasa bersalah.

Sontak Leia berteriak dan berusaha menjaga keseimbangannya, namun gagal. Tubuhnya ambruk dan terbakar begitu saja.

“TOLONG! TOLONG AKU! TOLONG AKU!” teriaknya kepanasan, tapi tak seorang pun mau mengulurkan tangan.

Leia merasakan tubuhnya terbakar hidup-hidup. Panas, sangat panas dan menyakitkan. Ia bahkan belum sempat mengucapkan kalimat perpisahan untuk ayah dan teman-temannya.

Ia tak bisa merasakan kakinya lagi, Leia menangis, hanya ini yang bisa dia lakukan. Ia menyesali hidupnya yang penuh kemalangan. Ia menyesali perbuatannya selama ini. Ia menyesal.

Ia kesakitan, namun sulit untuk bergerak. Air matanya terus mengalir. Ia terisak dan menutup mata, bersiap untuk menjumpai ajal, namun hati kecilnya berteriak meminta pertolongan serta kesempatan untuk diselamatkan.

Segalanya seolah berjalan slow motion, kepulan asap yang menyelimutinya tiba-tiba terpecah. Mata sayu yang hampir tetutup karena tak sanggup untuk hidup itu tiba-tiba melihat bayangan seorang pria mendekat melewati kobaran api tanpa rasa takut.

Pria itu langsung membungkuk dan mengangkat tubuh Leia tanpa berkata-kata. Leia bahkan bisa melihat kaki dan tangannya yang melepuh karena terbakar ketika digendong oleh pria itu. Tapi, untuk sejenak ia terlalu terkejut pada kenyataan yang ada. Mulutnya berusaha untuk terbuka dan mengeluarkan kata-kata.

“Kim… Jongin?”

Tepat setelah memanggil nama itu, kepalanya didera pusing yang amat hebat dan seketika… segalanya gelap.

 

 

TO BE CONTINUED

4 tanggapan untuk “Vēnor Chapter 4 – [Savior] by Heena Park”

  1. Apa yunho itu ayahnya chaeyeon dan jaehyun ya ??
    Mungkin kalo leia gak ada mutiara yang setengah jiwa jongin, mungkin leia gak bisa diselamatin jongin

  2. Aku kira leia neuin taeyong lg jalan berdua sama stella ehehehhe
    Eh ternyata kebaran, untung jong in cepet dateng
    Di tunggu terus next chapter nya semangat

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s