[EXOFFI FREELANCE] Universe in His Eyes – Chapter 5

Universe in His Eyes POSTER

Title        : UNIVERSE IN HIS EYES – Chapter 5

Author        : Arifia Pahlawan (Wattpad: @arifiart)

Length        : Chaptered

Genre        : AU, Friendship, Romance, School-life.

Rating        : PG 15

Main cast    :

  • Oh Serin (oc)
  • Do Kyungsoo
  • Byun Baekhyun
  • Park Chanyeol

Summary    : “Kau- suka padanya?”

Disclaimer    : Cerita ini merupakan bentuk dari imajinasi author. Jika terdapat kemiripan pada nama tokoh, tempat ataupun jalan cerita, hal itu merupakan unsur ketidaksengajaan.  Dilarang keras untuk memplagiatkan atau merepost karya ini tanpa seizin author. Please leave comment after reading. Thank you so much and happy reading! ❤

CHAPTER 5

-Penasaran-

 

    “Sedang memikirkan apa?” tiba-tiba saja Baekhyun menepuk pundaknya.

    “Eh?” Serin tersadar dari lamunan dan mendapatkan Baekhyun yang sudah berdiri di sampingnya.

    “Chanyeol mana?” tanya Baekhyun yang menyadari Serin berjalan sendirian dari tadi.

    Ia sendiri baru tersadar kalau selama ini ia benar-benar berangkat sekolah sendirian tanpa Chanyeol. Serin mengangkat bahunya. Entahlah, ia sendiri tidak tahu dimana Chanyeol berada. Padahal biasanya mereka akan berpapasan di depan belokan rumahnya setiap akan berangkat sekolah.

    Belakangan ini Chanyeol jarang sekali terlihat. Apakah ia merasa tidak enak karena hampir saja membahayakan Serin saat kejadian di atap waktu itu? Baekhyun juga kelihatannya akhir-akhir ini tidak berbicara dengan Chanyeol, sepertinya ia masih kesal. Entahlah, mereka bertiga seperti sedang memikirkan diri masing-masing.

    Serin juga akhir-akhir ini sedikit tidak terlalu merespon sahabat-sahabatnya. Belakangan ini Serin terlihat agak diam, mungkin karena ada sesuatu yang terus menguasai pikirannya. Ia juga bingung kenapa ia harus selalu teringat sosok itu, pemilik sepasang mata tajam yang berhati dingin. Kenapa orang itu terus saja muncul di pikirannya. Serin sungguh membenci tatapan itu. Tatapan yang selalu mengintimidasinya.

    Serin segera menggelengkan kepalanya, mencoba untuk menyingkirkan pikirannya dari lelaki menyebalkan itu. Ia hampir saja berhasil namun mendadak pandangannya menangkap sosok yang sangat ingin dihindarinya.

    Do Kyungsoo, pria itu berada beberapa meter di depannya. Berbagai ide liar muncul di benak Serin, namun ia memilih untuk tidak peduli karena melihat sosoknya dari belakang saja sudah membuatnya malas.

    Ia mendekatkan kepalanya ke telinga Baekhyun, “Baekhyun-ah, Do Kyungsoo itu- kau tahu seperti apa dia?” tanya Serin yang tiba-tiba penasaran.

    Baekhyun langsung menatap Serin bingung karena gadis itu biasanya jarang bertanya mengenai orang yang bahkan ia tidak tahu wajahnya.

    “Wae?” kemudian Baekhyun menunjuk ke arah depan menggunakan kepalanya. “Tuh, orangnya ada di depan, yang memakai backpack hitam polos-”

    Serin melirik sebentar. Ia tahu betul sosok mana yang dimaksud Baekhyun. Memang benar itu orangnya, lelaki yang sama ketika berbicara dengannya kemarin.

    “-dia itu ketua kedisiplinan sekolah.” tambah Baekhyun setengah berbisik. “Tapi sepertinya banyak anak-anak yang tidak mengetahuinya. Mungkin karena tidak terlalu banyak yang mengenalnya dan setahuku ia selalu melakukan tugasnya diam-diam.”

    “Kenapa begitu?”

    Baekhyun menarik napasnya seperti sedang berpikir. “Entahlah, mungkin karena ia pendiam. Aku pun jarang melihatnya bersama anak yang lain.”

    “Geurae (benarkah)?” Serin menatap punggung Kyungsoo tajam dari kejauhan. “Aku jadi penasaran.” ujarnya sangat pelan.

    “Mwo?” Baekhyun sedikit tidak mendengar ucapan Serin.

    Serin menggeleng dengan cepat. “Aniya (tidak), bukan apa-apa.”

***

    Serin melihat Kyungsoo sedang duduk di salah satu bilik komputer di perpustakaan. Ia sudah mengamati gerak-gerik lelaki itu sepanjang jam istirahat ini. Serin sama sekali tidak menyadari bahwa ia terus saja kepikiran tentang lelaki bermarga Do itu. Awalnya ia sungguh membenci sikap Kyungsoo yang selalu dingin padanya dan ia juga dendam karena Kyungsoo lah yang membuat ia dan teman-temannya mendapat pengurangan poin karena laporannya itu.

    Tapi semakin hari, perilaku Serin lebih seperti mengekori Kyungsoo kemana-mana. Lelaki itu sungguh misterius. Serin jadi merasa tertantang untuk mencari di mana kelemahannya. Walaupun yang ia lakukan saat ini lebih mirip seperti penguntit. Apakah ia justru malah terobsesi pada lelaki itu? Oh, konyol sekali, yang benar saja!

    Diam-diam Serin berjalan mendekati Kyungsoo dan ia ikut duduk di samping bilik yang ditempati Kyungsoo dengan tenang. Entah apa yang akan dilakukan gadis ini, tapi diam-diam mata Kyungsoo sebenarnya telah menangkap gadis itu ikut duduk di sebelahnya. Tapi ia memilih untuk diam saja pura-pura seolah tak menyadarinya.

    Sesekali Serin melirik pria itu yang nampak sedang serius sekali memandangi komputer. Ia mendadak merasa ragu, terus mengutuk dirinya sendiri. Sebenarnya apa yang sedang ia lakukan?

    “Kyungsoo-ya,” Serin memanggil lelaki itu pelan. Namun lelaki itu tidak menoleh. Pandangannya sangat fokus dengan benda di depannya. “Kyungsoo-ya…” panggil Serin lagi dengan suara lebih keras.

    Kyungsoo menoleh ke samping kanannya. Dar! Tatapan itu lagi. Serin hanya bisa mengedip sedikit menatap Kyungsoo yang juga sedang menatapnya. Lelaki itu tidak bergeming. Matanya terus mencoba mengintimidasi Serin yang terlihat mulai gugup.

    “Kau sedang apa?” tanya Serin agak berbisik. Ia menjaga nada bicaranya terdengar seramah mungkin.

    Kyungsoo mengedipkan matanya pelan, sedikit heran dengan perubahan sikap gadis itu padanya. “Ah-” ia menjeda kalimatnya. “-aku sedang mengirim sesuatu.”

    “Mengirim apa?” tanya Serin lagi penasaran dan langsung menggerakkan tubuhnya mendekat ke arah Kyungsoo. Lelaki itu agak terkejut hingga tanpa sadar ia sedikit menjauhkan tubuhnya dari Serin.

    Serin melihat tampilan di layar komputer milik Kyungsoo dan sedikit melebarkan matanya tidak percaya. “Kau ikut lomba menulis? Daebak! (keren)”

    Kyungsoo yang masih sedikit terkejut dan bingung harus merespon apa hanya bisa tersenyum paksa sambil memerhatikan wajah gadis itu yang hanya berjarak beberapa senti di depannya. “O-oh- begitulah-”

    “Tulisan macam apa yang akan kau buat?” Serin terus saja bertanya ingin tahu tanpa melepaskan tatapannya dari layar komputer. Sedetik kemudian ia mengarahkan wajahnya kembali ke arah Kyungsoo.

    DEG!

    Baik Kyungsoo dan Serin sama-sama terkejut menyadari wajah mereka yang tiba-tiba menjadi sedekat ini. Jaraknya mungkin hanya selebar telapak tangan. Mata Kyungsoo yang besar… ternyata tidak semengerikan yang ia pikirkan jika dilihat dari dekat. Untuk pertama kalinya Serin tidak merasa terintimidasi oleh tatapan lelaki itu. Ada sisi lain di balik mata itu yang tidak ia ketahui.

Keduanya begitu terpaku dan hanya saling menatap selama beberapa detik. Hingga akhirnya Kyungsoo tersadar lebih dulu dan mencoba mengalihkan matanya dari wajah polos Serin.

“Ah- i-itu… aku-” Kyungsoo begitu terbata-bata sulit mengucapkan kalimat yang muncul di otaknya. Ia baru pertama kali menatap wajah seorang gadis sedekat ini. Ia berdehem, mencoba menghilangkan kecanggungan antara dirinya dan gadis kepo ini.

“-hanya sebuah cerpen.” lanjutnya singkat. Serin hanya menatap dan membuka mulutnya seperti menjawab ‘ah’.

Kyungsoo kembali menatap layar komputer dan segera menyelesaikan tujuannya. Serin tidak melakukan apa-apa lagi selain melihat kegiatan Kyungsoo. Kyungsoo yang tidak nyaman karena merasa terus diperhatikan akhirnya langsung mempercepat kegiatannya. Tak lama setelah itu Kyungsoo menatap Serin dengan tajam.

Serin yang merasa Kyungsoo menyadari dirinya terus memerhatikan lelaki itu tergelak tiba-tiba. Kemudian perasaan canggung kembali menguasai dirinya. Gadis itu bergerak canggung buru-buru segera mematikan komputer di depannya.

Lelaki Do itu terus melihat gerakan canggung Serin. Gadis aneh, ternyata ia lucu juga jika sedang gugup seperti ini. Begitulah pikir Kyungsoo. Sebenarnya ia juga tidak kalah canggung dengan Serin. Mengapa tidak, kemarin ia baru saja hampir dilabrak olehnya dan gadis itu entah kerasukan setan mana tiba-tiba saja mendekatinya seperti ini. Mendekat seperti apa maksudnya? Entahlah.

Kyungsoo ingin segera mengakhiri kecanggungan antara dirinya dan Serin dengan buru-buru mematikan komputer dan segera beranjak pergi dari tempat itu. Entah kenapa gadis itu benar-benar membuatnya tidak nyaman.

“A-aku duluan, ya.” pamit Kyungsoo dengan canggung dan buru-buru meninggalkan Serin.

Kyungsoo berjalan dengan cepat. Ribuan pikiran berebut masuk ke kepalanya. Ada apa dengan gadis itu? Apakah ia diam-diam sengaja mendekatiku supaya bisa membalas perbuatanku padanya tempo hari? Kyungsoo bergidik ngeri. Mendadak ia membayangkan gadis licik itu akan menganggunya seperti di film-film psikopat. Ia menggeleng cepat. Tidak, tidak, mana mungkin. Kelihatannya Serin terlalu bodoh untuk melakukan hal seperti itu.

Setelah terbengong-bengong melihat Kyungsoo yang terburu-buru meninggalkannya, Serin diam-diam juga ikut menyusul Kyungsoo. Ia melihat lelaki Do itu berjalan dengan langkah terburu-buru. Kyungsoo terus mempercepat langkahnya dan sengaja tidak menoleh ke belakang karena ia tahu betul bahwa gadis aneh itu pasti diam-diam sedang mengikutinya.

Do Kyungsoo benar-benar membuat Serin penasaran. Matanya tidak pernah lepas dari punggung lelaki itu. Serin terus berjalan mengikuti langkah Kyungsoo dari belakang. Namun tiba-tiba saja seorang dari arah berlawanan menarik tangannya dengan cepat.

“Kau mau ke mana?”

Serin berbalik. Ia sedikit mendengakkan kepalanya untuk melihat sosok yang sedang menahan tangannya. “Chanyeol-ah,” Serin menatap lelaki tinggi di hadapannya karena lelaki itu tiba-tiba saja menangkap lengannya. “apa yang kau lakukan?” tanyanya bingung namun tidak dijawab oleh lelaki itu.

    “Ada yang ingin kubicarakan denganmu.” jawab Chanyeol singkat sambil menarik tangan Serin agar mengikutinya.

    “Tu-tunggu, Chanyeol-ah, aku-” untuk sesaat Serin sempat menoleh ke arah punggung Kyungsoo namun lelaki bertubuh pendek itu terus berjalan menjauh, sedangkan dirinya tak berdaya melawan tenaga Chanyeol yang besar dan saat ini sedang memaksa dirinya untuk mengikuti lelaki itu.

    Kyungsoo menghentikan langkahnya, dengan cepat ia menyadari Serin tak lagi mengikutinya. Ia membalikkan punggungnya dan melihat gadis itu justru telah berbalik dan mengikuti lelaki yang sedang menarik tangannya. Kali ini ia yang sedang menatap punggung gadis itu.

    Serin menatap Chanyeol sedikit kesal karena telah menginterupsi rasa penasarannya terhadap Kyungsoo. Apa-apaan dia ini? Sudah berhari-hari Chanyeol tidak mengajaknya bicara dan tiba-tiba saja ia bertingkah seperti ini.

Chanyeol menggiringnya ke ujung koridor kemudian melepas tautannya dari tangan Serin. Ia hanya menunduk, bola matanya terlihat mondar-mandir seperti sedang ragu.

“Kau ingin mengatakan apa?” tanya Serin akhirnya memecah keheningan di antara mereka berdua.

Chanyeol begitu misterius. Auranya dapat berubah sewaktu-waktu. Serin sendiri juga kadang tidak mengerti apa yang ada dalam kepala lelaki itu. Terkadang ia begitu hangat dan dapat menjadi tempat bersandar seperti seorang kakak, namun di lain waktu ia juga bisa berubah menjadi begitu dingin dan kasar, atau tak berdaya seperti anak kecil. Persis seperti saat ini.

“Mianhae, Serin-ah, (maafkan aku)” katanya pelan sambil tertunduk. Kemudian Chanyeol mengangkat kepalanya, memberanikan diri menatap Serin. “maafkan aku.”

Serin menaikkan sudut bibirnya, “Mwoga? (untuk apa)”

“Tentang kejadian di atap tempo hari, aku hampir membahayakan dirimu melawan Han Gongtae,” Chanyeol terdiam sesaat. “aku tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi jika Baekhyun tidak segera datang waktu itu. Hal itu terus mengangguku. Aku bodoh sekali, bertindak seperti pengecut.”

Serin memandang lelaki itu dengan sedikit rasa iba. Chanyeol yang ia  kenal biasanya sangat kasar dan garang sampai dihindari siswa-siswa lain. Namun kali ini ia melihat sisi Chanyeol yang berbeda. Saat ini lelaki yang biasanya tangguh itu mendadak terlihat seperti anak kecil yang sedang minta maaf pada orang tuanya.

Serin sedikit tertawa mendengarnya. “Yah, kau baru tahu kalau dirimu itu bodoh?”

“Apa?”

Serin menepuk bahu Chanyeol. “Gwaenchana (tidak apa-apa), aku sama sekali tidak memikirkannya.”

Chanyeol menatap Serin, mencari kejujuran di balik matanya.

“Jinjjaya (aku serius), gwaenchana.” ujarnya lagi meyakinkan Chanyeol.

Tiba-tiba Serin melipat tangannya dan memasang wajah pura-pura kesal. “Tapi- sebenarnya aku tidak kesal mengenai hal ini,” Serin menyipitkan matanya kemudian memukul bahu Chanyeol berpura-pura marah. “kalau kau merasa bersalah, lakukan dengan benar!”

Chanyeol menaikkan alisnya.

“Kalau kau benar-benar merasa bersalah, datanglah padaku, bukannya malah menghindariku!”

Chanyeol menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Itu- karena aku begitu merasa bersalah padamu.”

Sebenarnya beberapa hari belakangan ini Chanyeol menghindari Serin karena ia benar-benar merasa bersalah pada gadis itu. Sesungguhnya ia sendiri sudah lelah berurusan dengan Han Gongtae. Namun entah kenapa si preman sekolah itu terus saja mencari gara-gara dengan anak-anak di sekolah. Chanyeol yang tidak biasa ditindas sudah pasti akan melawan, namun ia tak menyangka waktu itu Serin hampir saja menjadi korban Han Gongtae. Ia sungguh merasa tidak enak pada gadis itu.

“Sudahlah. Itu sama sekali tidak menggangguku.” Serin mengembangkan senyumnya yang kemudian dibalas oleh wajah sok cemberut Chanyeol.

“Dan jangan pernah pasang wajah seperti itu lagi. Kau sungguh tidak keren.” canda Serin kemudian memukul kepala Chanyeol dengan keras. Chanyeol melotot tak menyangka gadis itu akan memukul kepalanya.

Serin hendak beranjak dari hadapan Chanyeol namun lelaki itu kembali menahan lengannya. Serin menatap Chanyeol, menunggu apa yang akan dikatakan lagi olehnya.

“Tadi- sebelum aku datang, kau sedang apa?” tanya Chanyeol hati-hati.

Serin mendadak gugup, bingung harus menjawab apa. Apakah Chanyeol memergokinya sedang mengikuti Kyungsoo tadi? Ia melirik Chanyeol ragu, lelaki itu terus menatapnya seolah sedang menunggu jawaban darinya.

“Apa maksudmu aku sedang apa?” Serin balik bertanya pura-pura tidak mengerti.

“Apanya yang apa?” tiba-tiba Chanyeol sedikit membungkuk mendekatkan wajahnya ke Serin. “Kau- sedang menguntitnya kan?” kali ini Chanyeol memasang wajah sedikit mengejek.

“Si-siapa?”

Chanyeol mengembalikan posisi tubuhnya semula, melipat tangannya dan memandang Serin penuh curiga. “Aku tidak menyangka kau akan tertarik pada pria seperti itu.”

Serin memasang tampang bingung. “Eh? K-kau ini sedang bicara apa, sih?”

“Yah, kupikir tipemu itu yang tinggi, keren, jantan seperti aku.” ujar Chanyeol tiba-tiba saja membanggakan dirinya.

“Jantan, pantatku.” Serin berbisik sendiri menatap lelaki itu dengan malas.

Chanyeol kembali mendekatkan wajahnya ke hadapan Serin. “Kau- suka padanya?”

A-apa? Serin sungguh tidak mengerti apa yang sedang dikatakan Chanyeol barusan. Serin menelan ludahnya. Maksudnya, ia menyukai Kyungsoo? Apakah yang ia lakukan tadi menunjukkan kalau ia menyukai Kyungsoo? Ia sama sekali tidak pernah berpikir seperti itu. Yang ia lakukan tadi benar-benar hanya karena penasaran dengan Kyungsoo.

Serin sedikit tertawa mendengar pertanyaan Chanyeol. “Ha-ha-ha, jangan bercanda. Kau ini bodoh, ya?” Serin mendekatkan dirinya ke Chanyeol dan memukul kepala pria itu lagi. Kali ini pukulannya lebih keras.

“Aak!” pekik Chanyeol.

Detik itu juga Serin langsung pergi meninggalkan Chanyeol yang sedang mengusap kepalanya sendiri akibat pukulan Serin tadi. Serin berjalan dengan tergesa-gesa. Ia melangkah dengan cepat agar segera menjauh dari Chanyeol. Ia sungguh tidak tahan mendengar perkataan tidak jelas dari lelaki itu.

Chanyeol melihat tingkah canggung sahabatnya tersebut sedang berjalan menjauhinya. “Kaulah yang bodoh, Oh Serin.” bisiknya pelan.

***

Tangga di sisi barat bangunan sekolah memang sedikit lebih sepi dibanding sisi satunya. Serin berdiri di antara tangga yang menuju lantai dua dan tiga. Matanya memandang ke luar gedung sekolah. Ia melihat beberapa anak sedang bermain basket di luar. Musim semi akan berakhir dan udara akan semakin menghangat keesokan harinya.

Ribuan pikiran muncul dalam kepalanya. Ia terus terngiang-ngiang dengan perkataan Chanyeol barusan. Do Kyungsoo, benarkah ia menyukainya? Serin menggeleng dengan cepat. Ditepuknya wajahnya keras-keras. Ah, apa yang baru saja aku pikirkan? Lelaki aneh dan misterius seperti itu? Tidak mungkin!

Pikirannya kembali ke beberapa saat sebelumnya. Sudah jelas ia diam-diam menguntit Kyungsoo, memerhatikan kegiatannya, bahkan mengikuti langkah lelaki itu. Tidak, ia mengikuti lelaki itu bukan karena menyukainya. Hanya saja, ia sedikit penasaran. Do Kyungsoo itu terlalu misterius baginya. Ia seperti tipe yang diam-diam menghanyutkan. Diam-diam memerhatikan gerak-gerik setiap anak di sekolah, tak terkecuali pada dirinya.

Serin kembali melamun. Ia berpikir sejujurnya pada awalnya ia sedikit takut pada lelaki Do itu. Lelaki itu memiliki sorot mata yang tak akan pernah bisa ia lupakan. Matanya bulat seperti Chanyeol namun dengan aura yang sangat berbeda. Walaupun Chanyeol merupakan tipikal yang judes namun sebenarnya wajahnya masih cukup termasuk friendly. Berbeda dengan si Do Kyungsoo itu. Ia kelihatannya bukan pembuat masalah seperti sahabatnya, namun lelaki itu sungguh berbeda. Tatapannya begitu dingin seakan ia memiliki rasa tidak suka pada Serin.

Serin menghembuskan napasnya. Ia memegang dadanya sesaat. Sebenarnya apa yang sedang ia lakukan? Kenapa pria itu terus muncul di pikirannya. Do Kyungsoo…

Diam-diam Kyungsoo memandangi seorang gadis yang tengah berdiri sendirian di sisi barat gedung sekolah. Ia bersembunyi balik undakan tangga yang menuju lantai tiga. Diam-diam ia mengintip gadis itu lagi melalui celah pagar tangga yang membatasinya. Ia melihat gadis itu menghembuskan napasnya, diam selama beberapa detik sebelum akhirnya gadis itu melangkahkan kakinya ke anak tangga yang membawanya menuju lantai bawah. Kyungsoo tidak melepaskan tatapannya pada sosok itu sampai gadis tersebut lenyap dari pandangan.

-To Be Continued-

4 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Universe in His Eyes – Chapter 5”

  1. Aaaaaa to twiiittt deh ucooooo doam diam memperhatikaaaannnn…
    Ahh serin..si uco mah emg bkin terpikat…tapi pilihan berat ne antara cabe caplang n uco…aahhh yg mana aj q mau kokk thor huahahaahahah
    Fighting!!!😊

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s