DREAM — #6: Flashback (1) ►► IRISH

⁛  DREAM  ⁛

►  Byun Baekhyun x Lee Hyerin  ◄

►  Fantasy x Slight! Mythology x Romance x School-life ◄

►  Chapterred x Teenager(s)  ◄

Vivid Dream(s):

ForewordPrologue ► Baekhyun’s SidePrologue ► Hyerin’s Side#1: Her Problem#2: A Friend#3: Rival#4: Chronopshyra#5: Academy — [tonight] #6: Flashback (1)

♫ ♪ ♫ ♪

#6 — Flashback (1)

█ █ █ ████████████████████████

In Hyerin’s Eyes…

“Aku akan menjemput Ibuku dulu, kau pulanglah duluan Seolmi-ah.”

“Aish, kau ini, kau bilang mau menemaniku ke toko buku…,” Seolmi mengerucutkan bibirnya dan membuatku tertawa geli. “Bodoh. Aku akan menyusul ke rumahmu setelah mengantar Ibuku.” ucapku sambil mencubit pipi Seolmi. Satu hal yang selalu membuatnya marah padaku.

Ya! Ya! Hyerin! Hentikan!”

Aku tertawa keras, yakin jika Seolmi sekarang sangat kesal padaku. Biar saja, toh dia tidak akan bertahan marah padaku lebih dari satu menit.

“Kau marah?” godaku pada Seolmi.

Ia hanya melirikku sekilas, dan mengalihkan pandangannya. Aku kembali tertawa geli, Seolmi selalu bertindak kekanak-kanakkan saat dia marah seperti ini.

“Mana mungkin kau bisa marah padaku, kau tidak akan punya teman sepertiku lagi.” ucapku dan berhasil membuat Seolmi mencubit lenganku kesal.

“Ih! Kau menyebalkan sekali!” ucap Seolmi marah, tapi aku tahu dia tidak marah padaku. Seperti ini lah Seolmi yang selalu aku kenal. Tidak pernah marah padaku apapun kejahilan yang aku lakukan padanya. Walaupun aku mengerjainya dengan segala macam cara, dia tidak pernah marah.

Seolmi terlalu baik untuk bisa marah padaku.

“Haha! Aku tahu kau tidak akan marah! Ya sudah, aku akan menyusulmu nanti jam setengah 7, jangan terlambat!” ancamku pada Seolmi sambil berlari kecil meninggalkannya.

Ya! Harusnya aku yang berpesan seperti itu padamu!”

Aku hanya membalas Seolmi dengan lambaian tanganku. Seolmi merengut, tapi kemudian dia melonjak kecil.

“Hati-hati di jalan Hyerin-ah!!” teriaknya dengan suara melengking yang sangat kukenal dan kusukai. “Kau juga Seolmi! Jangan rindu padaku!!” balasku berhasil membuat raut wajah Seolmi berubah.

Aku lagi-lagi harus menahan tawaku saat tahu Seolmi sekarang kesal lagi padaku. Biarlah. Nanti saat bertemu dia pasti sudah tidak marah lagi.

Seolmi selalu begitu.

Aku kemudian berlari kecil ke arah sebuah restoran, dan langkahku terhenti saat melihat sosok yang tadinya ingin kudatangi dengan perasaan bahagia, sekarang sudah berjalan dengan seorang pria seusiaan dengannya.

“Ibu!” panggilku membuat perhatian sosok tersebut langsung teralihkan.

“Hyerin!” Ia melambai, senyum terukir di wajahnya, dan membuat rasa kecewaku hilang. Meluap seketika. Hanya dengan melihat senyumannya saja sudah menjadi kebahagiaan bagiku. Kebahagiaan yang lebih dari segalanya. Walaupun sekarang dia—

“—Kau baru pulang?” tanya Ibu membuyarkan lamunanku.

“Aku tadi ada—”

“—Siswi macam apa yang baru pulang di jam segini.”

Aku melemparkan pandanganku ke arah sosok yang sebenarnya sangat tidak kuinginkan untuk ada di dekat Ibu. “Aku tadi ada kelas malam. Apa kau tidak pernah sekolah? Tidak tahu tentang kelas malam?” ucapku dengan nada dingin.

“Hyerin!” sergah Ibu padaku.

“Tetap saja, kau harus mengabari orang tuamu jika kau akan pulang sore.” ucap sosok itu. “Aku sudah mengabari Ibu.”

“Tapi kau tidak mengabariku,”

“Untuk apa aku mengabarimu? Aku sudah mengabari Ibuku. Dan mengabari Ayahku lewat doa.” ucapku santai. Aku tahu sosok di depanku ini sangat tidak senang dengan sikapku. Dan aku juga tidak suka padanya. Entah bagaimana bisa Ibu begitu tergila-gila padanya.

“Dia Ayahmu sekarang Hyerin.” ucap Ibu, terdengar marah.

“Ibu! Aku tida—”

“—Bukankah kau ada janji dengan Seolmi? Ibu akan pulang dengan Ayahmu. Jangan pulang terlalu larut.” ucap Ibu memotong ucapanku.

“A-Arraeso…”

“Hati-hati di jalan…,” ucap Ibu, menggandeng lengan sosok—yang sangat tidak ingin untuk kusebut sebagai Ayahku, atau kusebut sebagai bagian dari keluargaku karena nyatanya dia hanya Ayah tiriku! Bukan siapa-siapa! Dia hanya orang asing!—itu dan berjalan masuk ke dalam mobil.

Aku berdiri diam saat melihat Ibu dan sosok itu pergi. Diam-diam aku merasa sakit karena Ibu lebih memihak orang itu dibandingkan aku. Aku tidak suka orang itu. Aku tidak akan pernah suka padanya.

Bagiku… selamanya, dia adalah orang asing.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Aku ingin pulang, tapi aku tidak ingin melihat orang itu. Tidak ingin terluka lagi karena melihat Ibu yang selalu berpihak padanya. Aku tidak ingin sakit hati karena untuk kesekian kalinya Ibu menyalahkanku.

Dan karena hal itu, aku sama sekali menghilangkan niatanku untuk pulang ke rumah. Aku akan pulang nanti, setelah menemani Seolmi. Setidaknya… beberapa jam menjauh dari rumah mungkin akan membuat keadaanku bisa jadi lebih baik.

Ya!!”

Aku mendongak, dan memandang Seolmi yang berdiri di depan rumahnya dan menunjuk ke arahku dengan raut sangat kesal. Seketika itu juga melihat ekspresi Seolmi berhasil membuatku tertawa geli.

“Apa?” sahutku dari jauh.

Seolmi langsung berlari kecil menghampiriku, dan menghadiahiku dengan pukulan-pukulan kecil kekesalannya.

Akh! Akh! Seolmi-ya! Kau mau membunuhku!?”

“Apa sakit? Ah, mianhae, aku tidak bermaksud memukul sungguhan…”

“Mana mungkin pukulan bodohmu akan terasa sakit huh?” kataku sambil kemudian mengalungkan lenganku di leher Seolmi, dan menariknya untuk berjalan mengikutiku.

Ya! Lepaskan! Ish! Lee Hyerin!”

“Apa?” balasku santai.

“Lepas! Ish! Aku tidak bisa bernafas! Hey!”

“Biasanya juga kau selalu bisa bernafas.” ledekku sambil tertawa pelan.

Ya! Hyerin!” Seolmi bergerak mengambil kacamataku, dan membuatku dengan segera mengalihkan lenganku dari leher Seolmi.

“Haha! Rasakan!” ucap Seolmi penuh kemenangan.

Aku berusaha mengejar Seolmi. “Hey! Kembalikan kacamataku! Aku akan menggigitmu jika aku menemukanmu nanti!” ucapku pada Seolmi.

Aku hanya mendengar suara tawa geli Seolmi. Aku yakin dia sangat senang karena berhasil mengerjaiku. Aku menghentikan langkahku. Membuat tawa Seolmi hilang.

“Aku tidak akan menemanimu.”

Aish, kau ini pemarah sekali…,” aku bisa melihat dengan jelas sekarang saat Seolmi sudah memasangkan kacamataku.

“Siapa suruh kau berteman dengan orang pemarah sepertiku.” balasku tak mau kalah olehnya. “Entahlah. Bagaimana kita bisa berteman?” ucap Seolmi sambil menyejajari langkahku.

Aku berpikir. Sejak kapan aku mengenal Seolmi?

“Dulu aku hanya tahu kau itu gadis cupu yang selalu duduk di belakang kelas.” kataku.

“Apa!?”

“Benar ‘kan? Kau tidak ingat? Kau selalu datang pagi dan malah duduk di belakang. Dasar bodoh.” ledekku.

Tsk. Daripada jadi sepertimu!” balasnya. “Memangnya aku kenapa?”

“Selalu datang terlambat, dan tidur saat pelajaran!”

“Haha! Yang penting aku sekolah!”

Aish, kau boleh tidur begitu kalau kau itu murid pintar. Ini, saat kau di suruh seonsaengnim mengerjakan soal di papan, kau sama sekali tidak bisa.” ledekan Seolmi sekarang berhasil membuatku merengut kesal.

“Memangnya kau pintar? Kau selalu datang sangat pagi dan duduk sendiri di kelas, tapi saat pelajaran kau juga tidak pernah aktif.” balasku.

Aku dan Seolmi akhirnya sama-sama diam. Bungkam dengan fakta yang masing-masing dari kami ketahui sekarang. Dan sekarang aku berpikir, kenapa aku tahu banyak hal tentang Seolmi padahal dia selalu duduk di belakang? Kurasa… ah! Ya. Benar… Sejak kejadian itu.

“Annyeong!” sapa Seolmi pada seisi kelas, dan seolah angin lalu, kelas cuek ini mengabaikannya.

“Seolmi-ya! Di sini!” ucap Siyoon, salah seorang teman yang dekat dengan Seolmi, setidaknya dia dan beberapa teman yang lain mengakui keberadaan Seolmi, walaupun gadis itu selalu duduk di belakang kelas.

“Kau sudah kerjakan tugasmu?” tanya Siyoon.

“Tentu. Bagaimana denganmu?” ucap Seolmi, membuatku segera melemparkan pandanganku ke arahnya.

Siyoon menggeleng. Membuat Seolmi dengan cepat segera mengeluarkan buku tulis dari dalam tas, dan mengulurkan nya pada Siyoon. Dengan tanggap Siyoon langsung mengambil buku itu, dan mengeluarkan bukunya. Tentu saja dia menyalin jawaban Seolmi. Apa gadis itu tidak memikirkan jika mungkin jawaban Seolmi salah?

Tsk… Aneh sekali mereka…

“Kami semua percaya pada jawabanmu dan ternyata jawabanmu salah. Aish.”

“Mengecewakan sekali. Kami sudah sangat percaya padamu. Ayo pergi.”

Lihat saja. Sekarang semua teman dekat Seolmi marah pada gadis itu karena jawabannya yang salah. Padahal jika di pikir-pikir, mereka yang terlalu bodoh untuk langsung menyalin jawaban itu begitu saja tanpa berpikir jika jawaban itu benar atau salah.

“Sudah jangan dipikirkan ucapan mereka. Besok juga mereka akan menganggap semuanya angin lalu.”

Aku mendongak, memandang teman sekelasku, Kyungsoo, ia berdiri di depan kelas, tersenyum menyemangati Seolmi.

“Gomawo Kyungsoo-ah.”

“Pulanglah Seolmi, hari sudah akan sore.” ucap Kyungsoo saat dia beranjak ke tempat duduknya dan mengambil tasnya.

“Terkadang… Aku berharap aku bisa jadi lebih dari mereka… Dan membuat mereka merasakan sakit yang sama seperti rasanya ketika mereka saat memperlakukanku seperti ini…”

Langkah Kyungsoo terhenti. Ia memandang Seolmi sebentar.

“Kurasa kau akan mengubah harapan semacam itu jika kau tahu apa yang akan terjadi jika kau berubah,” ucapnya, tersenyum.

Apa mereka tidak memperkirakan keberadaan beberapa orang yang masih ada di sini dan mendengar pembicaraan mereka?

“Ayo Hyerin, kau menunggu apa?” tanya Chanyoung, mewakili beberapa temanku yang lainnya.

“Arraseo, kajja.” ucapku sambil melangkah keluar kelas. Tidak sempat mendengar apa Kyungsoo dan Seolmi bicara lagi.

“Kau sudah mengerjakan tugas hari ini?” tanya Siyoon dan kudengar saat aku baru datang hari ini.

“Belum.”

“Aku tidak yakin kau belum mengerjakan.” ucap yang lain sambil menarik tas Seolmi, dan mengeluarkan buku tugas Seolmi.

“Aku sudah bilang aku tidak—”

“—Apa ini!?”

Aku tersentak saat dia membentak Seolmi.

“Hah. Jadi kau sekarang membohongi kami?”

PLAK!

Aku terkesiap. Haruskah mereka memperlakukan Seolmi dengan cara seperti ini? Tidakkah mereka tahu jika Seolmi akan merasa sangat malu?

“Kau pembohong Seolmi!”

“Apa yang kalian lakukan?”

Tanpa sadar aku berucap. Mana mungkin aku membiarkan Seolmi diperlakukan memalukan seperti itu?

“Kalian berisik sekali. Pergilah keluar kalau kalian mau bertengkar.” ucapku, samar tapi aku sebenarnya memberi mereka ancaman Aku akan mengadu pada seonsaengnim’ di pendengaran mereka.

“Urusan kita belum selesai!”

Dan aku tahu, sepertinya akan ada hal buruk terjadi pada Seolmi

“Hiks… Hiks…”

Entah sudah berapa lama aku berdiri di depan toilet. Menunggu Seolmi keluar dari dalam sana. Aku tahu mereka mengerjai Seolmi. Dan sudah yakin Seolmi malu untuk keluar. Kurasa aku harus mengadukan tindakan mereka pada seonsaengnim.

“Shin Seolmi!” ucapku tak sabar.

“Siapa…”

“Ini aku Hyerin.” ucapku padanya.

Seolmi terdiam. Sepertinya dia berusaha menghentikan tangisannya. Tak lama, pintu toilet terbuka, dan aku bisa melihat Seolmi yang basah kuyup.

“Ini, pakailah seragamku. Aku yakin kau tidak bawa seragam lagi.” ucapku, mengulurkan seragamku yang kutinggal di loker, padanya.

Seolmi bergeming. Membuatku berdecak kesal karena tindakannya.

“Aku tidak akan mengerjaimu seperti mereka. Cepat!”

Seolmi memandangku, lalu mengambil seragam yang ada di tanganku.

“Gomawo… Hyerin-ah…”

“Kau melamun?”

“Aku tidak melamun.” kataku pada Seolmi.

Sekarang aku ingat sejak kapan aku memperhatikan keberadaan Seolmi. Dan kurasa, sejak aku menolongnya di hari itu, aku jadi sering menyapanya di kelas, dan membuat teman-teman Seolmi—sebenarnya aku tidak suka menyebut mereka sebagai teman karena sikap mereka sangat tidak seperti teman—menjauhinya.

Dan sepertinya, teman-temanku juga tidak terlalu suka pada kehadiran Seolmi. Mereka semua terlalu egois karena tidak mau menerima keberadaan orang baru. Jadi, sejak itu, tercipta kedekatan aneh antara aku dan Seolmi. Membuat dia tanpa sadar selalu mencariku, dan membuatku… tidak bisa mengabaikannya.

Karena Seolmi sering terjebak dalam keadaaan menyedihkan! Seolmi sering terkena masalah! Dan walaupun dia satu tahun lebih tua dariku, dia tampak seolah tidak bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Pertama, karena dia mudah panik. Dan kedua, karena dia bergerak dengan sangat lambat, berpikir dengan sangat lambat, dan merespon dengan sangat lambat.

Entah karena apa, sejak itu aku selalu beranggapan bahwa aku harus melindungi Seolmi. Memastikan dia tidak akan terjebak masalah.

Hey, Hyerin-ah,”

“Apa?”

“Kau tidak mau mencoba lasik?”

“Hah? Lasik apa?” tanyaku bingung.

“Mata Hyerin-ah. Minus mu itu sudah parah…,” ucap Seolmi.

“Ah, tidak mau. Kalau aku tidak pakai kacamataku, pasti semua orang akan kaget…,” ucapku berhasil membuat Seolmi tergelak.

“Mana mungkin!” bantahnya.

“Benar. Lihat saja, nanti aku akan lasik mataku, dan kau jangan kaget, kalau temanmu ini akan didekati oleh banyak orang.”

Seolmi tertawa. Aku tidak berniat membuatnya untuk tertawa, entah mengapa hal seperti ini menggelikan bagi Seolmi. Padahal aku bicara serius.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

BRUGK.

Aku terhenti saat melihat seorang pemuda terjatuh di depan sekolahku. Apalagi karena dia mengenakan seragam sekolah sepertiku. Apa dia baru saja jadi korban pemukulan? Astaga!

“Kau baik-baik saja?” tanyaku sambil menghampiri pemuda itu.

Aku terkesiap saat pemuda itu mendongak, matanya lah yang membuatku kaget. Mata pemuda itu berwarna keperakan. Dan tatapannya sangat tajam. Membuatku segera terhuyung mundur.

“T-Tolong aku…”

“Apa kau habis di pukuli?” tanyaku

Pemuda itu mengerang kesakitan, membuatku memandangnya khawatir. Aku terkesiap saat melihat lengan pemuda itu mengeluarkan darah, tapi darahnya aneh. Warnanya tidak merah pekat seperti darah seharusnya. Darahnya lebih cair, dan warnanya merah keperakan. Darahnya berkilau seperti ada perak di darahnya.

“Kenapa darahmu sepe—”

“—Jangan bilang pada siapapun… Kumohon…”

Aku mengangguk paham. Dan kemudian aku segera menariknya menjauh saat mendengar derap langkah mendekati tempat kami sekarang.

“Apa mereka mengejarmu?”

Pemuda ini menjawab dengan anggukan pelan. Ia masih tampak berusaha menghentikan darah yang mengalir di lengannya. Aku melepaskan syal tipis yang kugunakan, dan menarik lengannya.

“Pakailah dulu,” ucapku sambil membebat luka di lengan pemuda itu dengan syalku.

“Terima kasih.”

Aku mengangguk. Beberapa lama kami bersembunyi, sampai akhirnya pemuda itu bergerak untuk berdiri. “Kurasa keadaannya sudah aman,” ucap pemuda itu sambil berdiri. “Dimana rumahmu? Mau kuantarkan pulang?”

Pemuda itu menggeleng, dan tersenyum kearahku. “Tidak perlu. Terima kasih Hyerin…,” ucapnya membuatku mengerjap kaget. “Kau tahu namaku?” kataku tak percaya.

Aku bisa tahu.” ucapnya membuatku tersenyum tipis.

“Lalu, siapa namamu?” tanyaku

Pemuda itu sudah membuka mulutnya, tapi tatapannya seolah terarah pada hal lain. Dan secara otomatis membuatku memandang ke arah yang dia lihat. Tidak ada apa-apa.

“Aku akan memberitahumu lain kali.”

Saat aku melempar pandang ke arahnya, dia sudah lenyap.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Entah karena aku baru saja bertemu dengan korban pemukulan, atau memang sebenarnya aku diikuti, tapi rasanya saat aku pulang hari ini benar-benar tidak menenangkan. Aish. Seharusnya tadi aku pulang bersama Seolmi saja, lagipula arah pulang kami sejalan. Sekarang aku rasanya benar-benar berjalan seperti hampir berlari karena khawatir.

Atau jangan-jangan aku memang di ikuti? Tapi, oleh siapa? Sudahlah sudahlah, kau hanya berpikir terlalu panjang Hyerin.

Sesampainya di rumah, aku sudah melihat sepeda Jongin terparkir di halaman. Walaupun Jongin hanya saudara angkatku, tapi aku sangat dekat dengannya, sudah seperti saudara kandung.

Aku sudah akan berteriak dengan nada tinggi untuk memanggil Jongin, tapi langkahku terhenti saat mendengar suara teriakan dari dalam rumah. Orang itu pasti marah-marah lagi.

Dia bisa marah seenaknya pada kami karena Ibu tidak ada di rumah. Jika Ibu ada di rumah, dia akan bisa marah-marah diwakili oleh Ibu.

“Kau pikir dengan nilai seperti ini kau akan bisa masuk ke SMU terkenal!?” teriak orang itu. “Kau mau berbuat apa!?” teriakku saat melihat tangan orang itu terayun akan memukul Jongin. Dia bukanlah Ayah kami, dan dia tidak berhak sedikit pun untuk memperlakukan kami seperti itu!

Hah. Kau berani berteriak padaku!?”

“Untuk apa aku takut? Kau bukan siapa-siapaku!”

Orang itu mendatangiku, dan mendorongku dengan kasar ke lemari. “Hentikan!!” kali ini Jongin yang berteriak. “Kau tidak boleh menyakiti Hyerin seperti itu!!” teriaknya marah.

“Kalian berdua! Benar-benar kasar! Apa Ayah kalian tidak pernah mendidik kalian huh!?” ucapnya marah. “Lalu kau mau apa?! Kau kira kau bisa mendidik kami!? Dengan cara seperti ini!?” teriakku tak mau kalah.

Orang itu memandangku dan Jongin bergiliran.

“Lihat saja apa yang akan Ibu kalian lakukan!” teriaknya marah dan melangkah keluar dari rumah dengan membanting pintu cukup keras.

“Kau baik-baik saja?” tanya Jongin. “Bukankah seharusnya aku yang tanya seperti itu?” kataku padanya. “Dia tidak memukulku, dia memukulmu. Apa sakit? Apa kau terluka?” ucap Jongin sambil membantuku berdiri.

“Aku baik-baik saja, kenapa dia marah padamu?”

“Oh, karena ujianku jelek.”

Whoah, dia hanya belum tahu bagaimana jeleknya nilaiku.” aku terkekeh pelan, Jongin lebih pintar dariku, dan nilainya saja sudah membuat orang itu marah, apalagi jika orang itu tahu nilaiku seperti apa.

“Jangan menantangnya Hyerin, tahu sendiri Ibu jadi seperti apa kalau sudah di dekatnya…,” ucap Jongin membuatku berdecak kesal. “Dia benar-benar jadi penyakit yang harus dimusnahkan.” ucapku menggerutu, dan tanpa kuduga Jongin malah menjitakku.

“Jangan bicara begitu, Ibu menyukainya. Kau mau melihat Ibu kecewa karena kita terus melawannya?” tanya Jongin segera membuatku teringat pada Ibu.

Aku tidak bisa dan tidak ingin melihat Ibu terluka karena sikapku dan Jongin yang jelas sangat membenci orang itu. Terutamanya sikapku. Karena sebenarnya Jongin anak yang baik, dan dia cenderung penurut. Bukan seorang sepertiku.

“Kau sudah makan?” tanyaku pada Jongin. Ia mengangguk. Walaupun aku tidak yakin dia benar-benar sudah makan.

“Bagaimana denganmu?” tanya Jongin. Aku mengangguk cepat. “Ya, aku sudah makan tadi.” ucapku. “Benarkah?”

“Aku tidak berbohong.”

“Jelas kelihatan kalau kau bohong.”

Dengan segera aku menjitaknya. Walaupun Jongin beberapa bulan lebih tua dariku, tapi dia sudah sangat biasa jika kujitak seperti ini. Dan dia tidak marah. Dia mirip seperti Seolmi. Sangat jarang menanggapi tindakan jahilku.

“Aku akan ke kamar dulu,” ucapku pada Jongin kemudian.

“Baiklah.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Aku menggerakan tanganku mengikuti alunan lagu bernada tinggi yang sekarang sedang kudengarkan. Setiap jam kosong aku selalu mendengarkan lagu seperti ini. Karena aku bisa setidaknya meregangkan otot-ototku.

BUGK!

Aku segera membuka mataku, dan mendapati Seolmi berdiri dengan kesal di dekatku. Ekspresi wajah Seolmi mengirimkan sinyal bahwa baru saja tanganku tanpa sengaja mengenainya.

Ups. Maaf. Tanganku sedang dalam proses perbaikan.” kataku padanya.

JTAK!

Auw! Ya! Kau mau membunuhku!?” ucapku kesal karena Seolmi selalu menjitakku dengan bersungguh-sungguh dan rasanya sakit sekali. “Rasakan! Siapa suruh kau selalu mendengarkan lagu aneh begitu.” gerutunya sambil menghempaskan dirinya di kursi kosong sebelahku.

“Daripada kau yang selalu menari balet aneh.” ledekku.

Ya!”

Arraseo arraseo. Aku salah.” ucapku menyerah.

“Kau jelas-jelas menyerah karena terpaksa.” balasnya kesal.

“Memang. Kau sudah tahu ‘kan? Kenapa bertanya?” kataku pada Seolmi, membuatnya hanya memandangku sekilas sebelum dia mengalihkan pandangannya, tampak kesal setengah mati padaku.

“Kau sudah kerjakan tugasmu?” tanyaku membuat emosi Seolmi langsung hilang. Ia selalu seperti ini jika aku sudah mengalihkan pembicaraan. “Matilah. Aku belum mengerjakannya.” ucap Seolmi mulai panik, dia langsung memandangku, sementara aku hanya bisa mengangkat kedua tanganku.

“Apa aku terlihat seperti aku sudah mengerjakannya?”

“Kau ini, selalu saja melanggar aturan sekolah.” gerutu Seolmi membuatku terkekeh pelan. Aku mengeluarkan bukuku, dan menaruhnya di depan Seolmi.

“Lihat? Aku sudah mengerjakannya sampai larut malam.” ucapku bangga.

“Apa kau yakin jawabanmu benar?” tanya Seolmi.

Aku mengangkat bahu.

“Mungkin saja aku beruntung dan jawabanku benar…,” kataku sekenanya membuat Seolmi memukulku dengan bukuku.

Hey! Kalau memukul jangan pakai punyaku!” kataku sambil berusaha merebut bukuku, tapi dengan cepat Seolmi mengalihkannya. “Tidak apa-apa sesekali memukulmu.” ucap Seolmi sambil tertawa geli.

“Dasar kekanak-kanakkan.”

Seolmi tidak menanggapiku. Ia mulai sibuk menulis di catatannya.

Whoah… Catatanmu rapi sekali…” kataku sambil memerhatikan tulisan tangan Seolmi. “Tentu saja! Aku kan tidak sepertimu!” katanya meledek.

Aku tertawa pelan.

“Buat apa aku repot-repot menulis dengan rapi, walaupun tulisanku jelek begitu kau masih bisa membacanya ‘kan?”

“Sst! Berisik. Aku mau fokus mencatat.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Hyerin!”

Auw! Lepaskan! Aku tidak bisa bernafas!”

Aku segera melepaskan tangan Seolmi dari leherku. Heran sekali kenapa ia memelukku dengan cara mencekik seperti itu. Dia berniat membagi kesenangannya denganku atau malah membuatku menderita?

“Aku tidak percaya kau mengerjakan tugas itu sendirian/”

“Kau pikir aku di ajari oleh siapa huh?” kataku dengan nada tidak terima. Seolmi merengut. “Jadi… benar kau yang mengerjakan?” tanyanya.

“Tentu saja! Memangnya Jongin yang mengerjakan?”

Seolmi tertawa pelan.

“Aku hanya tidak menyangka saja, ternyata kalau rajin, kau pintar juga.” ucapnya membuatku menyernyit bingung.

“Memangnya kenapa?” tanyaku.

“Eh? Kau belum lihat nilai di buku tugasmu? Jawabanmu itu benar semua! Hebat sekali ‘kan? Untuk pertama kalinya kau dapat nilai sempurna!” ucap Seolmi dengan nada meledek yang sangat kental dalam suaranya.

“Ya ya. Terima kasih. Sindiranmu baik sekali.” ucapku kesal.

“Aku tidak menyindirmu bodoh!”

“Lalu? Apa namanya? Menghina?” balasku tak mau kalah. “Aish! Mana buku tugasmu?” tanpa seizinku, Seolmi langsung mengobrak-abrik tasku dan mengambil buku tugasku.

“Lihat? Kita dapat nilai sempurna!” ucap Seolmi membuatku memandang ke arah nilai di buku tugasku.

Whoah! Apa guru kita sedang kena rabun? Bagaimana bisa nilaiku jadi begini? Ini pasti kesalahan.” ucapku tak percaya karena nyatanya nilai sempurna benar-benar ada di buku tugasku.

Aigoo!” Seolmi kembali mencekikku dengan lengannya. “Ya! Lepaskan!” ucapku sambil memukul-mukul pelan tangan Seolmi. “Aish, kau ini! Aku kan senang, pada akhirnya aku punya teman yang pintar.” ucapnya membuatku merengut.

“Memangnya selama ini kau tidak senang berteman denganku?”

“Bukan begitu. Maksudku, aku semakin senang karena nyatanya kau ternyata pintar. Kau harus lebih rajin lagi belajar Hyerin-ah! Jadi kita bisa dapat nilai sempurna terus!”

“Apa? Itu namanya tindakan menguntungkan di satu pihak. Aku yang belajar, dan kau mencontek. Tsk, mana adil.” gerutuku.

“Kau ‘kan sering belajar di rumahku!”

Menyerah, aku akhirnya hanya bisa mengangguk pasrah menanggapi Seolmi. “Aish, baiklah. Aku akan belajar lagi nanti.” ucapku.

“Benarkah? Kau akan mengalahkan Sunmi ‘kan?”

“Hah? Sunmi?” aku membelalak membayangkan wajah Sunmi—murid terpintar di kelas kami itu. “Pasti kau bisa! Aku ingin kau jadi rangking satu di kelas untuk semester ini! Untuk semester ini saja!” pinta Seolmi.

Aku memperhatikan wajah Seolmi, ia tampak benar-benar berharap jika aku bisa lebih rajin belajar dan bisa mengalahkan Sunmi.

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Mana hasil ujianmu?”

Aku mendongak. Tidak biasanya orang ini peduli pada hasil ujianku. “Untuk apa?” kataku. “Mana?!” Aku berdecak pelan, dan mengeluarkan kertas ulangan harianku.

“Hanya 80!? Selama ini kau tidak belajar huh!? Bagaimana bisa nilaimu hanya 80!?”

PLAK!

Aku terjerembap jatuh saat orang itu dengan kasar menamparku dan hebatnya membuatku jatuh menabrak tembok.

“Apa-apaan kau!?” teriakku marah.

PLAK!

Satu tamparan kasar lagi bersarang di pipiku.

“Jangan sampai ada nilai seperti ini lagi di ujianmu!”

Aku memandang benci orang itu. Betapa dia sangat membencikan. Betapa aku sangat ingin Ibu berpisah saja dengan orang it—tidak… Ibu akan sangat terluka jika tahu aku bertengkar lagi dengan orang itu.

“…Hyerin, nak, Ibu mohon, jangan bertengkar dengan Ayahmu lagi…”

“…Dia satu-satunya orang yang bisa membiayai sekolah kalian nak…”

“…Bisakah kau menganggapnya sebagai Ayahmu? Dan jangan berdebat lagi dengannya? Hyerin… Ibu mohon…”

Aku berusaha mengatur nafasku, walaupun rasanya aku sangat ingin berteriak marah pada orang itu. Aku tahu dia sudah keluar dari rumah. Dan aku masih sangat tidak terima pada perlakuannya.

Tapi, jika aku mengadu pada Ibu, orang itu akan punya lidah yang sangat pintar untuk berkelit dan membohongi Ibu. Dan Ibu… akan percaya padanya.

Lagi-lagi fakta itu membuatku sedih. Kenapa Ibu lebih percaya padanya dibandingkan aku? Kenapa Ibu percaya pada orang lain? Dan tidak percaya pada anaknya? Ibu… Kenapa Ibu memperlakukanku seperti ini…

۩۞۩▬▬▬▬▬▬ε(• -̮ •)з To Be Continued ε(• -̮ •)з ▬▬▬▬▬▬▬۩۞۩

IRISH’s Fingernotes:

Hola!

Maaf banget karena udah beberapa pekan lagi-lagi aku menghilang tanpa jejak dan enggak update fanfiksi apapun. Fyi, aku sedang dalam tahap depresi—what?—karena writer’s block berkepanjangan yang ngebuat aku males banget berurusan sama tulisan. Mau ngetik aja rasanya mual, wkwk.

Dan berhubung aku enggak bisa terus-terusan mogok kerja begini—karena yang ada nanti kerjaannya enggak kelar-kelar—di tengah weekend panjang ini aku coba sedikit ngedit-ngedit draft fanfiksi yang ada. Ini aja baru sejam ngedit rasanya udah lelah sekali, mana daku lagi kena penyakit paling elite di dunia: ba-pil-nas. Tapi enggak masalah, Parasetamol banyak membantuku.

Belum lagi cobaan lain yaitu over-excited sama comebacknya NCT yang ngebikin aku labil bias dan beberapa draft-draft kecil di hape justru jadi ceritanya anak-anak NCT bukannya si cabe. Duhai SM Ent., tolong dong jangan buat comeback dadakan yang bikin anak perawan jadi ngelupain cinta lama.

Lately karena keadaanku ngedrop beberapa hal di kehidupan aku jadi selangkah lebih congkak dalam hal horror. Mulai dari bolak-balik ketindian, mimpi buruk—di mana susah banget mau bangun dari mimpinya—sampe hal-hal astral yang mengganggu di rumah bikin aku semakin enggak nyaman buat melek sampe tengah malem. Apa ini efek karena terlalu doyan horror dan thriller? Entahlah… yang jelas aku lagi dalam tahap halusinasi astral super yang akhirnya ngebuat aku enggak mau ditinggal sendirian di rumah soalnya horror, wkwk.

Ya udahlah, daripada yang ngebaca jadi ikutan merinding karena pasti pada ngebaca di rumah (atau di kamar?) mending aku undur diri dulu, wkwk. See you around, gengs. Salam rindu, Irish.

kontak saya  Instagram  Wattpad  WordPress

8 tanggapan untuk “DREAM — #6: Flashback (1) ►► IRISH”

  1. Jongin sodara angkatnya hyerin? Beneran kak? Astaga! Ga nyangka aku tuh
    Trus yang ditolongin hyerin itu chanyeol bukan? Soalnya kan pas hyerin pingsan dia keliatan khawatir gitu di depan uks

  2. Kangen sama cerita ini. Berarti jongin kenal sama hyerin dan mereka belum pernah ketemu lagi. Kehidupan hyerin lama-lama terkuak juga dan semakin penasaran sama kelanjutan cerita ini

  3. woaahhhh xD udh lama nyariin ka Irish kok gapernah dapet notif di Email krn updatean FF ka Irish nih ><

    keep writing ka Irish, dan jaga kesehatan dn jaga kuota juga biar bisa update xD
    sampe ketemu di next chap yaaa ^^

    1. aku juga pernah sih, mimpi yg kaya pas mau dimelekin itu susah bngt.. mesti dipaksa wlpn bnr” sulit bngt T^T dan kenpa itu bisa terjadi? :”v kalo mimpiin Bias mah gausah dipaksa bangun juga gpp xD lah kalo mimpi yg horor kan serem juga ㅠㅠ

      btw, Dream nya lgi flashback nih yaa 💞💛 dan rada gangerti juga.. tapi dicoba baca berulangkali smpe paham xD krn ini sebenrnya seruuuu ><

  4. Betol sekaleh…jungwo yuta mark taeyong jaehyun bkin hilang kendali..tp cpt cpt liat video cabe lg biar cinta k cabeny ttap utuh hahahahahhahahaha
    Tiaannnyaaaaaaa..sni q temenin biar km ga tkut sndrian trus bisa nulis lanjutan lgi huahahahahah
    Micumaattt auhtor tercintakkuuuuuuuu

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s