Vēnor Chapter 3 – [Misunderstanding] by Heena Park

Venor (4)

a FanFiction by Heena Park

cover by l18hee

.

x Han Leia

x Alexander Maximilian de Frankai [Kim Jongin]

x Lee Taeyong

x Richard Tyroon Alcender [Park Chanyeol]

x Stephen Davon Alardo [Oh Sehun]

x etc

.

Fantasy – Romance // PG-15 // Chaptered

.

Instagram : heenapark.official

Line@ : @fbo0434t

.

Summary;

Alexander Maximilian de Frankai, seorang Dewa Laut—putra Poseidon—diusir dari Olympus ke Bumi karena dituduh berusaha membunuh putra Zeus, Stephen Davon Alardo sang Dewa Petir dan Cuaca.

Untuk bisa kembali ke Olympus, Alexander harus menemukan keberadaan El Dorado, lalu mengambil sebuah pedang emas milik Kronos dan mendapatkan sesuatu yang paling murni di dunia. Di mana pada akhirnya hal ini mampu menunjukkan takdir dan siapa dia sebenarnya.

.

ps : Nanti mereka bakal tetep make nama Kim Jongin, Park Chanyeol, dll kalau sudah di bumi. Kalau sebagai Dewa mereka tetap menggunakan nama Dewa masing-masing.

.

PrologueChapter 1Chapter 2

.

 

ᴥᴥᴥ MISUNDERSTANDING ᴥᴥᴥ

 

 

Jung Chaeyeon ♠

jcy

 

 

Kim Doyeon ♠

dy

 

 

Kwon Jieun ♠

sw

 

.

 

Hari-harinya di sekolah terasa datar. Datang, duduk, melamun, makan, kembali mendengarkan sembari melamun. Seringkali Leia tak mendengarkan sama sekali pelajaran yang diterangkan oleh gurunya. Pikirannya kosong, bukan, lebih tepatnya hidupnya kosong. Ia benar-benar hampa.

Untunglah ada Chaeyeon yang dengan suka rela meminjamkan catatan dan menerangkan apa yang dilewatkan Leia tiap kali kehilangan semangatnya. Mereka berteman sejak pertama kali masuk SMA. Sifat Chaeyeon yang tidak banyak bicara dan terkesan tak acuh pada yang lain membuat Leia merasa nyaman, setidaknya Chaeyeon tak pernah memaksanya untuk menceritakan sesuatu yang tak ingin Leia katakan. Dalam kata lain, Chaeyeon akan dengan senang hati mendengar keluh kesah seseorang bila orang itu memang berniat menceritakannya.

Namun ada yang aneh hari ini. Sejak jam pertama sampai ketiga Leia tak melihat Chaeyeon sama sekali sehingga ia harus duduk seorang diri. Bangku di sampingnya kosong, gadis itu juga tidak mengirim kabar sama sekali. Mungkinkah Chaeyeon sedang sakit? Apa lebih baik sepulang sekolah Leia langsung pergi ke rumah Chaeyeon untuk memastikannya?

“Doyeon! Doyeon dan gengnya sedang membalas dendam pada Chaeyeon!”

Leia mengerjap, teriakan salah satu temannya ke seluruh kelas membuatnya terkejut. Keadaan yang semula sepi berubah ramai. Berbondong-bodong mereka keluar kelas menuju ke halaman. Dari jauh nampak segerombolan wanita berdiri melingkar di tengah lapangan basket, sementara seorang wanita berbaju olahraga terduduk lemas di tengahnya.

Astaga, bukankah itu Chaeyeon?

Apa yang terjadi? Kenapa Doyeon dan gengnya melakukan itu?

Leia tidak bisa membiarkannya terjadi, betapa jahatnya mereka menyiksa Chaeyeon yang hanya seorang diri. Refleks tanpa menunggu lama, Leia langsung berlari menembus keramaian dan menarik lengan Doyeon yang berniat mengguyur Chaeyeon dengan sekaleng susu. Ia tak hanya menarik lengan gadis itu, melainkan juga mendorongnya hingga terjatuh ke tanah.

“Apa yang kalian lakukan? Apa kalian sudah gila?!” teriak Leia tak terima. Kemudian ia membantu Chaeyeon yang tengah menangis untuk berdiri. Gadis itu gemetar. Tentu saja, siapa yang tidak ketakutan saat di-bully?

Doyeon mendecih kesal, ia berkacak pinggang. “Berhentilah ikut campur urusan kami, lama-lama aku kesal melihatmu bertindak sok menjadi pahlawan.” Ia berdiri dan menepuk pundak Leia. “Pergilah, aku tidak ada urusan denganmu. Urusanku hanyalah dengan si pengkhianat itu.”

Bukannya minggir, Leia malah tersenyum menantang. “Kau membawa teman-temanmu untuk ikut campur dalam urusanmu, jadi aku akan ikut campur dalam urusan Chaeyeon karena dia temanku.”

“Oh, sialan,” umpat Doyeon pelan. “Han Leia, berhentilak sok berkuasa hanya karena kau adalah anak dari pemberi donatur paling besar di sekolah kita. Kau pikir sekolah ini milikmu? Enyahlah!”

PLAKK!

Doyeon melepaskan sebuah tamparan keras pada Leia sampai gadis itu hampir terjerembap ke belakang. Untunglah Leia memiliki keseimbangan yang baik.

Pipinya memerah bekas tangan Doyeon. Emosi yang sempat ditahannya serasa memuncak begitu saja. Sekali lagi Doyeon melakukan kesalahan, mungkin Leia tak akan bisa terkontrol lati.

“Kenapa? Kau mau mengadukanku pada ayahmu? Adukan saja! Aku yakin dia bahkan tidak peduli padamu!”

“Brengsek!”

BUKK!

Leia membalas tamparan Doyeon dengan sebuah pukulan keras di wajahnya, tidak hanya itu, ia bahkan menendang perut Doyeon hingga terpelanting ke belakang. Masih dalam keadaan yang berapi-api, Leia menunduk dan menarik kerah baju Doyeon.

“Sekali lagi kau menyinggung soal ayahku, kau akan mati,” gertaknya lalu mendorong tubuh Doyeon lagi.

Leia tidak suka seseorang menyinggung orang tuanya. Leia tidak suka dibilang sok berkuasa hanya karena kekayaan ayahnya. Dia benci mulut orang yang mengeluarkan perkataan tanpa berpikir terlebih dahulu seperti Doyeon!

“Ada apa ini?” Teriakan khas milik seorang wanita yang tiada duanya di sekolah ini membuat Leia mendesah kesal. Ia menjauh dari Doyeon dan berbalik. Tepat di ujung sana Kwon Jieunguru Biologi—atau mereka biasa memanggilnya harimau betina karena terkenal akan sifatnya yang keras dan tanpa ampun tengah memandang Leia tak mengerti. Pasti dalam pikirannya terbesit pertanyaan masalah seperti apa yang membuat dua gadis belia ini bertengkar hebat di sekolah. Apa mereka sudah tidak menganggap adanya peraturan yang harus dipatuhi?

Jieun mengelus dadanya, berusaha mengontrol emosi dan memandang satu-persatu gadis pembuat masalah tersebut. “Saya yakin kalian tahu di mana ruangan saya, atau saya harus menunjukkan jalannya?”

Hening.

Selama beberapa detik tidak ada suara yang keluar, bahkan dari orang-orang yang mengerumuni mereka. Semua siswa memang takut pada Jieun. Tidak ada seorang pun yang mau membuat masalah dengan guru killer sepertinya.

Tidak ada yang bergerak, terpaksa Leia mendahului. Ia membantu Chaeyeon yang masih ketakutan di tanah untuk berdiri, kemudian membantu gadis itu berjalan, disusul oleh Doyeon dan gengnya. Terpaksa mereka mengikuti kemauan Kwon Jieun, setidaknya Leia bisa menceritakan bila yang dilakukannya barusan benar, yah, walaupun tidak seratus persen. Tapi perbuatan Doyeon memang sangat keterlaluan.

Setelah Leia dan yang lainnya masuk ke ruangan, Jieun menyandarkan pinggang di meja sambil menyilangkan kedua tangannya.

“Apa yang terjadi? Kenapa kalian bertengkar?” tanyanya.

Sebelum Doyeon membuka mulut, Leia sudah lebih dulu berbicara, “Doyeon dan gengnya mengeroyok Chaeyeon, saya hanya membantunya dan Doyeon mulai mengejek saya. Dia juga menampar saya, jadi saya rasa bukan suatu kesalahan jika membalasnya.”

Kwon Jieun nampak tak setuju dengan argumen Leia. Ia mendecih, “Apa kau pikir kekerasan dapat menyelesaikan masalah? Saya akan menghubungi orang tuamu dan memintanya untuk datang. Sebelum orang tuamu datang ke sekolah, kau tidak boleh mengikuti pelajaran.”

“Apa?” Leia mengangkat kedua tangannya dan menggoyang-goyangkan telapaknya tak setuju. “Kenapa harus memanggil orang tua? Saya hanya membantu Chaeyeon, ssaem.”

Leia tidak ingin ayahnya datang ke sini! Ia pasti akan sangat marah jika nama baiknya tercoreng gara-gara Leia. Andai saja ayahnya bukan orang penting dan terkenal, mungkin Leia bisa memalsukan identitas ayahnya dengan orang lain.

“Baiklah kalau begitu. Bagaimana jika poinmu dikurangi saja? Mungkin kau tidak akan bisa melanjutkan ke perguruan tinggi setelah lulus, Leia?”

Ancaman gurunya berhasil membuat Leia terdiam dan mengaku kalah. Jika poinnya dikurangi dan gagal masuk ke perguruan tinggi, tingkat kemarahan ayahnya akan jauh lebih besar, dan Leia malas berdebat. Ia tidak suka mendengar ocehan ayahnya.

Kwon Jieun tersenyum puas akan kemenangannya. Ia berdiri tegak dan menepuk pundak Leia. “Bagaimana, Leia Rosiana Stark?”

Leia benci seseorang memanggil nama panjangnya. Leia benci dengan kata Stark yang didapat dari ayahnya. Leia benci dengan masa lalunya!

Tidak ada pilihan kecuali mengikuti permainan gurunya. Pada akhirnya yang bisa dilakukan Leia hanya mengangguk pasrah. “Baiklah. Ssaem bisa memanggil orang tua saya,” jawabnya pelan. Leia melirik sebentar ke arah Chaeyeon, memastikan gadis itu baik-baik saja, kemudian kembali memandang Kwon Jieun. “Kalau begitu saya permisi dulu, mungkin orang tua saya tidak akan bisa datang sekarang, jadi lebih baik saya pergi.”

Ingin rasanya Chaeyeon meminta maaf pada Leia karena telah melibatkan temannya tersebut dalam masalah yang cukup besar, namun ia tidak bisa melakukan apa-apa, saat ini pun Chaeyeon juga kebingungan memikirkan masa depannya dan kemarahan sang ibu yang kecewa akan perbuatannya.

Seolah mengerti penyesalan yang dirasakan Chaeyeon, Leia menggeleng dan tersenyum simpul, mengisaratkan bahwa dia baik-baik saja, meskipun pada kenyataannya tidak.

Leia berjalan menuju kelasnya dan mulai mengemasi barang-barangnya. Seluruh siswa ramai membicarakan kejadian tadi. Sepanjang perjalanan keluar gedung, tak henti-hentinya Leia mendengar bisikan orang-orang yang tengah membicarakannya.

Ia tidak punya tujuan. Ia juga tidak ingin menghubungi ayahnya dan meminta maaf karena telah membuat masalah. Yang dilakukannya saat ini hanya duduk di halte bus dan melamun.

Saat-saat seperti ini, orang yang paling dibutuhkan Leia adalah Taeyong. Tapi seberapa banyak pun ia berusaha menghubungi Taeyong, pria itu tidak mengangkatnya sama sekali.

“Kenapa kau tidak mengangkatnya?” keluh Leia setelah membatalkan panggilannya pada Taeyong. Ia menunduk, berusaha menutupi air matanya yang mulai keluar. Ia benar-benar butuh Taeyong saat ini. Ia butuh tempat untuk menceritakan keluh kesah serta meminjamkan pundak untuknya. Tapi pria itu tidak ada. Kenyataannya, Taeyong memang tidak pernah ada bagi Leia saat gadis itu membutuhkannya… sama sekali…

Hatinya sakit, sangat sakit. Ia merasa keberadaan Taeyong tidak berpengaruh sama sekali pada hidupnya. Yang dilakukan pria itu hanya bersenang-senang tanpa peduli dengan kesedihan Leia.

Seharusnya pasangan tidak seperti itu, seharusnya mereka saling berbagi kisah dan menemani bila salah satu membutuhkan dukungan.

Leia memandang pilu kontak Taeyong di ponselnya. Ia memiliki niat untuk mencoba menghubungi pria itu sekali lagi, namun penolakan dari sisi hatinya yang lain membuat Leia gentar. Percuma jika Taeyong tidak mengangkatnya, percuma jika ia terus berusaha tanpa ada kejelasan. Lebih baik Leia menyerah dan berusaha menerima kenyataan.

 

 

“Di situ kau rupanya.”

Alexander memandang gadis itu dari dalam mobil. Tangan kirinya masih sibuk mengusap dada yang tiba-tiba terasa sakit tersebut. Bukan sakit seperti biasanya, namun lebih ke arah sedih yang mendalam dan Alexander tahu apa alasannya.

Tangisan Leia yang membuat hatinya ikut sakit sampai-sampai ingin menangis. Hal ini terjadi karena cabikan jiwa Alexander tersimpan dalam mutiara yang ada dalam tubuh Leia.

Untungnya rasa sakit yang didera langsung hilang saat ia berhasil menemukan Leia. Apakah Alexander harus menghibur Leia? Atau paling tidak menemaninya? Ia tidak mungkin langsung meminta agar mutiara tersebut dikembalikan tanpa memperhatikan bagaimana perasaan Leia saat ini, bukan?

Ia menelusuri seluruh bagian mobil. Tidak ada bunga atau coklat di sini. Yang ada hanya sekaleng permen. Ia mengambil dua buah permen dan memasukannya ke saku, kemudian keluar dari mobil.

Alexander mengulurkan tangan kosong ke depan wajah Leia. “Trick or treat?”

Mendengar kalimat barusan, tanpa sadar Leia sontak merogoh sakunya untuk mencari apakah ia memiliki perman, namun nihil, ia tidak menemukan apa pun.

Tanpa mengangkat wajah, Leia mengibas-kibaskan tangannya dan menjawab dengan suara serak, “Maafkan aku. Aku tidak punya permen.”

Alexander mengambil permen dalam sakunya dan kembali mengulurkan tangan di depan wajah Leia. “Aku punya dua, kau mau satu?”

Kali ini Leia mendongakkan wajahnya. Dua buah permen di atas tangan lembut seorang pria membuatnya sedikit tersentuh. Ia menengok ke kanan, keningnya mengerut begitu menyadari siapa yang berada di sampingnya saat ini.

“Tuan Mabuk?” Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulutnya. Leia mengerjap-kerjapkan matanya tak percaya.

Sungguh?

Benarkah dia adalah Tuan Mabuk?

Ada rasa senang ketika mengetahui Leia belum melupakannya. Alexander memberikan salah satu permennya pada Leia sambil berkata, “Bukankah kau sudah memberiku nama Kim Jongin tadi? Kenapa masih memanggilku dengan nama Tuan Mabuk?”

Sementara Leia masih memandang tak percaya. Dalam pikirannya berkecamuk pertanyaan apakah pria ini memang nyata atau sekadar ilusi saja?

Karena tak kunjung mendapatkan balasan dari Leia, Alexander mengibas-kibaskan tangannya di depan wajah gadis itu. “Kenapa kau diam saja? Apa kau sakit?”

Kelakuan Alexander berhasil menyadarkan Leia bahwa pria itu memang nyata. Ia menggeleng kaku dan menjauhkan tangan Alexander dari wajahnya. “Apa yang anda lakukan di sini?”

Kali ini Alexander membungkukkan badannya hingga wajahnya sejajar dengan wajah Leia. Jarak mereka hanya terpaut beberapa centi, sontak Leia membelalakkan matanya dan menarik wajahnya ke belakang, namun Alexander terus mengikuti hingga gadis itu tak bisa bergerak.

“A-apa yang anda lakukan?” tanya Leia lagi, kali ini lebih kaku karena berusaha menjauhkan wajah dari Alexander.

Bukannya menjauh, Alexander malah terpaku di tempatnya dan mengukir senyum miring. “Aku mencarimu,” katanya lalu menggerakkan dagu. “Aku harus mengambil sesuatu milikku yang tertanam dalam tubuhmu.”

“Milikmu?”

Leia mencoba mencerna ucapan pria itu. Sesuatu miliknya yang tertinggal dalam tubuh Leia? Apa maksudnya? Tunggu, kemarin malam mereka tidak melakukan apa pun selain tidur kan? Atau jangan-jangan?

“Dasar mesum!”

PLAK!

BUKK!

Tanpa pikir panjang, Leia menampar pria itu dan menendangnya hingga jatuh ke tanah. Ia bangkit, lalu melakukan posisi kuda-kuda, seolah siap untuk menyerang kapan saja. “Aku akan membunuhmu jika kau berani menemuiku lagi! Dasar mesum!”

Alexander tak mengerti kenapa ia ditampar dan ditendang sekeras ini oleh gadis muda itu. Matanya membulat tak terima saat disebut mesum oleh Leia.

“Mesum? Sungguh, aku tak pernah dipanggil seperti itu sebelumnya! Siapa kau be—“

“Ah! Diam!” Leia menarik kerah Alexander dan menatapnya galak. “Ingat perkataaku baik-baik, Tuan. Aku melepaskanmu kali ini. Jika kau berani menemuiku dan berkata tak senonoh lagi, aku benar-benar akan membunuhmu.”

Tampang sangar yang dipasang Leia memang meyakinkan. Ia bersikap seperti gangster yang siap menyerang siapa saja. Dilepaskannya kerah Alexander dengan kasar dan mengangkat tangan kanan yang dikepalkan, menandakan bahwa ia memang serius dengan perkataannya barusan.

Seharusnya Alexander bangkit dan membalas Leia dengan kekuatannya, padahal ia hanya perlu menggerakkan tangannya sedikit dan gadis itu pasti akan ketakutan, atau setidaknya Alexander harus menggertak gadis itu sedikit saja, bukannya malah melongo tak percaya akan perlakuan yang barusan ia dapatkan.

Bagaimana mungkin seorang manusia berani memukul Dewa dan Alexander hanya menerimanya? Apa dia sudah mulai gila? Lagipula, kenapa gadis itu bisa memiliki kekuatan yang bisa dibilang besar untuk ukuran manusia? Mungkinkah gara-gara mutiara yang tertanam di dalamnya? Kalau iya, Alexander harus segera bergerak sebelum mutiara tersebut disalah gunakan.

 

 

12 missed calls.

Taeyong menggulir perlahan layar ponselnya dari atas ke bawah, dua belas kali panggilan tak terjawab dari Leia hanya diacuhkannya. Taeyong bukannya tidak memiliki perasaan pada Leia selama mereka berhubungan. Hanya saja Leia sedikit kuno, mereka bahkan jarang melakukan kontak fisik. Ia juga tidak tahu apa alasan Leia membatasinya setebal itu.

Setiap kali Taeyong mencuri kesempatan untuk memberikan ciuman pada bibir Leia, gadis itu selalu menarik diri dan menahan Taeyong. Bahkan mungkin Leia belum mendapatkan first kiss-nya.

Taeyong jenuh, ia merasa kencan tanpa kontak fisik hanyalah membuang-buang waktu belaka. Apakah ia hanya dianggap robot yang hanya bisa berbicara? Taeyong juga butuh perwujudan rasa cinta Leia melalui kontak fisik, dan gadis itu sangat jarang melakukannya.

Berbeda dengan Stella, meskipun mereka baru saling mengenal selama beberapa bulan, Stella selalu menggenggam tangan Taeyong ketika mereka pergi ke suatu tempat. Stella juga tidak jarang memberikan kecupan singkat di pipi Taeyong, padahal mereka tidak memiliki hubungan sama sekali. Yah, atau mungkin selama ini mereka menjalani Friends With Benefits tanpa sadar. Bukan tidak mungkin jika beberapa bulan ke depan Taeyong dan Stella akan melakukan sesuatu yang lebih, mengingat mereka berada di bawah agency yang sama.

Ia tidak akan menampik jika disebut brengsek, karena kenyataannya memang begitu. Pria mana yang bersedia berkencan tanpa keuntungan? Apalagi di zaman yang sudah maju ini. Hanya orang-orang idiot yang akan mengandalkan cinta semata, bersikap seolah-olah mereka tidak memiliki nafsu.

Kemungkinan Taeyong untuk meninggalkan Leia kecil, ia hanya sedang rehat sejenak dan mencari hiburan. Ia yakin beberapa bulan ke depan akan muncul rasa rindu yang dalam pada Leia sehingga akhirnya Taeyong akan kembali. Ia hanya butuh waktu untuk merasakannya.

Berhubung sekarang belum terlalu malam, Taeyong mencoba untuk menghubungi Stella, mungkin gadis itu butuh teman malam ini. Ia tinggal seorang diri sampai dua minggu ke depan karena kedua orang tua dan saudaranya pergi ke Kanada. Meskipun tidur di apartemen Stella, Taeyong belum pernah merebut kesucian gadis itu. Ia tidak mungkin menodai gadis di bawah umur.

“Stella, do you need a friend, right now? I can go to your apartment and stay until tomorrow.”

 

TO BE CONTINUED

11 tanggapan untuk “Vēnor Chapter 3 – [Misunderstanding] by Heena Park”

  1. Salut sama leia yang membela chaeyeon walaupun dia tau pasti ada konsekuensinya. Kasihan alexander dibilang mesum sama leia, padahal maksudnya bukan itu.

  2. Hiks..jahat amat sih itu saem ny..msa si doyoen napa ga dihukum?kesel hayati jdinya..
    S tae tae juga ganjen amat nginep tmpat ank perawan bduaan doang..ntr trjdi hal hal yg diinginkn taeee

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s