[KAISOO BIRTHDAY PROJECT] UNLUCKY-Nano

timeline_20180303_100028.jpg

 

[KAISOO BIRTHDAY PROJECT] UNLUCKY-Nano

Kai, Krystal, Kyungsoo|Friendship, Mistery|PG15

Ketuk di sini untuk mulai menulis.

 

 

Satu kalimat itu terpapar di layar sentuh ponsel pintar, hanya kupandangi selama dua jam atau mungkin lebih tanpa disentuh–bahkan diketuk–oleh jemariku. Entahlah, aku terlalu pusing untuk menumpahkan alur cerita yang berada di dalam benak. Mungkin kalian bertanya-tanya apa yang sedang kulakukan saat ini. Jadi, begini ceritanya. Siang tadi di lorong kampus saat berniat pergi ke kantin, yang mana jalan ke kantin harus melewati koridor fakultas ilmu budaya, yang mana mau tidak mau harus melewati papan mading, yang mana aku tidak sengaja melirik selebaran yang tertempel di sana, yang mana aku dibuat tertarik olehnya karena selebaran itu berisi informasi tentang lomba menulis cerpen.

Langkahku otomatis berhenti dan aku mendekati papan mading untuk melihat lebih jelas. Netraku langsung menari-nari melangkahi setiap abjad yang tertera, dan itu berakhir pada nominal hadiah untuk sang juara. Aku tidak bisa berhenti mendesah kagum, lebih dari cukup menyewa flat untuk dua bulan. Di sinilah aku sekarang, terdampar di atas kasur dengan memelototi layar ponsel sampai bola mata hampir keluar. Aku berniat untuk menjadi peserta lomba tersebut.

Aku memang bukan mahasiswa jurusan sastra ataupun seorang penulis, tetapi lomba menulis itu terlalu sayang untuk dilewatkan begitu saja. Ada beberapa alasan penyebabnya. Pertama, karena hadiahnya–meski aku tak yakin bisa memenangkannya. Kedua, karena aku berencana untuk menyerahkan hasil tulisanku nanti kepada Kristal sebagai bentuk modal dusta agar dia terkesan–mengingat Kristal sangat suka sekali membaca fiksi. Ketiga, karena aku ingin. Keempat, karena aku mau. Dan terakhir karena aku menghendakinya.

Untungnya lomba itu bertema bebas, otakku langsung tertuju memilih tema pembunuhan, tetapi pilihan itu langsung terhapus mengingat Kristal sangat tidak suka yang berdarah-darah apalagi bunuh-membunuh. Akhirnya tema romansa menjadi pilihan. Bung, dua minggu lagi menjelang hari valentine, memberi bunga dan atau cokelat sudah terlalu biasa dilakukan. Memberi kalimat adiktif yang disusun sedemikian indah lebih romantis dari kedua barang itu.

Tubuhku berguling ke kanan, mencari posisi nyaman. Ini tidak semudah seperti yang telah direncanakan. Aku tidak mempunyai ide dalam merangkai kalimat romantis. Ya, meski sebenarnya sering menggombal, tetapi entah mengapa otakku tidak bisa memproduksi kalimat itu sekarang.

Berbagai film dan musik telah keluar masuk dari kepala, tetap saja layar ponselku masih putih bersih belum ternodai satu huruf pun. Oke, ini mulai menyebalkan. Saran yang Kyungsoo berikan–menonton film dan sebagainya–tidak ampuh sedikit pun, yang ada perutku bergejolak liar, mual, dan kepala jadi pusing oleh kalimat terlewat manis dari film dan musik tadi. Rasanya seperti sekarat, bukan secara harfiah. Omong-omong sekarat, mulutku kering sekali, aku haus dan lapar.

“Mengapa Kyungsoo belum juga kembali?”

Tanpa bisa ditahan aku berdecak sebal. Teringat Kyungsoo yang keluar mencari makan namun tak kunjung datang hingga sekarang. Dia meninggalkanku setelah memberi saran tidak berfaedahnya tentang memancing inspirasi.

Jika kalian bertanya-tanya, ya, aku dan Kyungsoo ialah teman sekamar sekaligus teman satu sekolah namun beda jurusan. Kami menempati flat di daerah Wonju, pilihan itu jatuh dikarenakan harga sewanya terjangkau dan tentunya tak jauh dari kampus kami. Lupakan itu, tubuhku semakin lemas rasanya. Aku butuh asupan gizi sekarang. Maka dari itu aku berniat menyusul Kyungsoo yang pergi entah ke mana.

Saat keluar dari flat, seperti biasa pemandangan yang kudapat ialah pejalan kaki yang ramai sibuk dengan dirinya masing-masing walau malam semakin larut. Bulu roma meremang seketika, rasa hausku semakin menggelora. Oh, sial.

Merapatkan jaket, bergegas berjalan menyusuri trotoar, aku harus segera menemukan Kyungsoo. Hidup dan matiku kini ada di tangannya. Bukannya berlebihan, tetapi ini benar-benar gawat, percayalah.

Langkah kaki terus berpacu entah ke mana, hanya mengikuti insting. Pendar lampu tiang jalan bahkan tak terlihat lagi, tetapi aku masih menyusuri jalan. Berbelok ke kanan, memasuki gang sempit yang sepi, indera pendengaranku tiba-tiba menangkap suara erangan dan decapan. Otomatis langkah terhenti. Bung, aku tidak sebodoh itu untuk tidak menyadari bahwa ada sepasang kekasih yang sedang bermesraan. Rasa lapar kini menguap. Seperti ada yang meniupkan angin ke telingaku, sebuah ide muncul secara tiba-tiba.

Imajinasiku melayang-layang tentang seorang vampir yang jatuh cinta pada manusia. Mereka pun saling mencinta, tanpa tahu sebenarnya salah satu dari mereka berasal dari makhluk yang berbeda, dan saat mengetahui fakta tersebut kesetiaan mereka diuji. Ternyata si manusia menerima si vampir apa adanya, tanpa memandang takut ataupun menjauhinya, justru si manusia ingin menjadi seperti si vampir agar hidup abadi bersamanya. Awalnya si lelaki tidak setuju, tetapi lama-kelamaan dia pun berubah pikiran. Akhirnya si manusia diubah menjadi vampir, dan mereka kemudian hidup bahagia, tamat. Ini ide yang menakjubkan. Terima kasih pada sepasang kekasih yang bermesraan di keremangan malam, tanpa kalian aku tidak akan dapat ide secemerlang ini.

“Kai? Apa yang kaulakukan di sini?”

Mendongak, netraku menemukan presensi Kyungsoo di hadapanku. Sepertinya aku terlalu banyak melamun hingga tidak menyadari Kyungsoo berdiri dengan menjinjing makanan.

“Aku menyusul kau. Dapat dari mana makanan itu?” tanyaku seraya menggerakkan dagu ke tangan Kyungsoo.

Kyungsoo melihat ke arah tangannya kemudian beralih kembali padaku.

“Bukan urusanmu. Ayo pulang, kau lapar, bukan?”

Aku berdecih mendapati jawaban sarkas Kyungsoo, namun pada akhirnya tetap mengikuti Kyungsoo, berjalan di belakangnya.

“Hey, kau sudah selesai menulisnya?” Kyungsoo memulai konversasi di tengah perjalanan ke flat. Aku pun menjawab malas.

“Belum, tapi aku sudah menyusun alurnya, sampai tamat.”

Kulihat bahu Kyungsoo bergetar, dia tertawa kecil.

“Tapi sepertinya kau harus menelan kecewa karena tidak dapat memberikan naskahmu ke kekasihmu itu,” kata Kyungsoo dengan nada datarnya. Aku diam tidak menjawab, hanya menatap ke bawah, tepatnya ke jemari Kyungsoo yang menyeret daging besar yang segar. Itu pernyataan yang sedikit sadis.

“Dia menggodaku dan berkata akan putus denganmu. Lalu kami berciuman dan aku tanpa sengaja mengggit lehernya. Aku benci wanita ular seperti dia.”

Aku tahu Kyungsoo sangat menyayangiku, dia bahkan sudah menganggapku sebagai adiknya. Aku tahu apa yang dilakukannya ialah untuk kebaikan diriku.

“Tidak apa. Hal terpenting sekarang adalah mengisi perut agar tenagaku penuh dan aku bisa mengetik naskah,” ucapku santai seraya menyejajarkan langkah dengan Kyungsoo, lalu memberikan senyum miring padanya. Ya, meski begitu, ada satu hal yang sangat kusayangkan. Kristal sungguh tidak beruntung.

.

.

.

.

.

FIN

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s