[KAISOO BIRTHDAY PROJECT] Kai – Raaa12_exo

timeline_20180303_095800

 

[KAISOO BIRTHDAY PROJECT] Kai – Raaa12_exo

Kai – Haneul – EXO| Brothership, Friendship, Sad| PG-13

 

 

Aku menatap wallpaper lock screen ponselku. Menatap pria yang ada di foto itu, foto yang kini menjadi wallpaperku. Aku menatap ponselku sekali lagi lalu menyimpannya.

Nama pria itu Kai. Ah, tidak, namanya Kim Jongin. Hanya aku yang boleh memanggilnya Kai—panggilan khususku untuknya. Sama sepertinya yang memanggilku Luen—hanya Kai yang boleh memanggilku begitu. Luen, dari kata Neul yang ada di namaku yang dibalik olehnya.

Kai, rambut kecoklatannya, alisnya yang bertaut apabila ia marah, mata indahnya yang selalu mengawasiku, tangannya yang suka sekali mendekap tubuhku, dadanya yang menjadi kesukaanku, ah, semua yang ada dalam diri Kai adalah kesukaanku.

Kai, kakak laki-lakiku kesayanganku. Kejahilannya, kata-katanya yang terkadang bijak—hanya terkadang, jarang sekali terjadi sebenarnya.

Pikiranku seakan hanya dipenuhi oleh Kai. Senyumnya yang selalu kuabadikan dengan kedua mataku, siluet tubuhnya yang aku gambar di dalam otakku, atau perilakunya yang selalu terbayang dalam benakku.

Aku bersimpuh, membiarkan lututku terjatuh di tanah. Nisan di depanku merebut seluruh atensiku. Nisan itu, bertuliskan nama Kim Jongin.

Kim Jongin, kakak laki-laki terhebat yang aku tahu. Dan juga terbodoh. Dia bodoh karena mengorbankan dirinya untukku. Memilih menyelamatkanku daripada dirinya sendiri.

‘Kau bodoh, Kai.’

Kakak laki-lakiku telah pergi. Untuk selamanya. Tadi malam, tidurnya tak hanya untuk beberapa jam, tapi untuk selamanya. Dia membohongiku tentang ia yang katanya baik-baik saja. Dia merelakan nyawanya demi diriku yang tak berarti apa-apa. Dia mengkhianati kepercayaanku dengan bilang ia akan sembuh. Dia mengingkari janjinya tentang ia yang akan selalu bersamaku.

‘Kai, kau pembohong. Kau pengkhianat. Kau pengingkar janji. Aku membencimu. Tapi sayangnya, aku lebih membenci fakta bahwa aku takkan pernah bisa membencimu.’

Kenangan pahit tentang kecelakaan itu kembali menyergapku. Kai yang terbentur sambil menyerukan namaku, tangannya yang reflek memeluk untuk melindungiku—mengorbankan dirinya untukku.

Darah-darah segar berceceran, api, bau yang menyengat, semua itu seakan nyata, seperti baru terjadi sekarang. Juga teriakan orang-orang dan perkataan terakhir Kai yang menyatakan bahwa aku sama sekali tak bersalah dan Kai menyayangiku—aku benci mengatakan terakhir dan membenci diriku yang terbalut rapat oleh penyesalan.

Aku menutup mataku, berusaha merasakan semilir angin yang menerpa wajahku. Tiba-tiba aku merasakan seseorang menepuk bahuku, membuatku menoleh.

“Berhenti menyalahkan dirimu, Kim Haneul. Ini bukan salahmu. Aku jelas tahu apa yang ada di pikiran Jongin, dia menyayangimu lebih dari dia menyayangi dirinya sendiri. Dia yang memutuskan untuk menyelamatkanmu di kecelakaan itu, bukan kau yang meminta. Berhenti menyalahkan dirimu, Haneul. Jongin akan sangat membenciku jika aku membiarkanmu menangis.”

Sehun, sahabat Jongin. Dia menepuk bahuku sekali lagi. Dia jelas tahu apa yang kurasakan, karena aku yakin, dia juga merasakan hal yang sama.

Kehilangan

Aku mengusap air mataku kasar, menatap jam tangan di pergelangan kiriku. Sudah dua jam aku berada di sini. Tapi perasaan menyesal ini tak kunjung pergi.

“Haneul, semuanya akan baik-baik saja. Percayalah padaku. Kai sudah tenang. Luka pasca kecelakaan itu benar-benar sudah sembuh untuknya. Kai tak perlu merasakan sakit lagi karena benturan yang dia alami saat kecelakaan.” Vokal Chanyeol—sahabat Kai ikut menyapa indra pendengaranku. Intonasinya terkesan datar, enggan menunjukkan perasaan dukanya padaku, jauh dari Chanyeol yang selalu pandai menunjukkan perasaannya atau Chanyeol yang selalu ceria.

“Kim Haneul, kalau kau mengizinkan, kami, sebagai sahabat-sahabat kakak laki-lakimu akan menggantikan posisinya.” Suho ikut bersimpuh di samping Haneul.

Apa yang Suho bilang? Menggantikan posisi Kai? Tidak mungkin. Kai hanya satu di dunia, dan dia telah pergi. Meninggalkanku. Dan dia juga pergi karena diriku.

Aku yang membuatnya pergi, bila ada orang yang pantas disalahkan, itu aku. Bukan orang lain. Seharusnya dia tak perlu menyelamatkanku dari kecelakaan itu, cukup aku yang pergi.

“Ehm, mungkin tidak dengan menggantikan posisi Kai. Tapi, di antara kami berdua belas, EXO, hanya Jongin yang memiliki adik. Kau bukan hanya adik dari seorang Kim Jongin yang sangat spesial itu, Haneul. Tapi, kau, Kim Haneul yang memiliki sebelas kakak laki-laki lainnya. Izinkan kami memiliki peran kakak laki-laki untukmu, ya? Biarkan kami yang menjadi malaikat penjagamu seperti yang Jongin lakukan.” Jongdae, atau yang sering dipanggil Chen meralat perkataan Suho.

Aku mengangguk. Berusaha berdiri setelah memeluk nisan Kai.

“Selamat tinggal, kakak laki-lakiku tersayang dan terbodoh. Kau bodoh karena menyelamatkanku, Kai. Kau bodoh. Tapi sepertinya aku harus berterimakasih untuk kebodohanmu. Aku menyayangimu, Kim Jongin. Dan juga, yeah, maaf karena membuatmu pergi. Haneul menyayangimu, Kai. Selalu.”

-Fin-

 

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s