[KAISOO BIRTHDAY PROJECT] Eternal Tink – Monster

38

Monster – Eternal Tink

Kim Jong In, Jung Yoo Ra (OC) 

Angst, Crime, Fantasy | PG-15

“Kau sudah gila? Di mana kau sekarang?” Jung Yoo Ra berjalan menelusuri lorong dengan langkah cepat. Ketika yang lain menuju ke kelas masing-masing karena sebentar lagi jam kuliah pertama akan dimulai, gadis itu malah menerobos ke arah yang berlawanan.

 

Tangannya masih menempelkan ponsel di telinga, mendengarkan laki-laki di seberang sambungan sedang berbicara dengan terengah-engah.

 

“Bicaralah yang jelas, Jong In-ah. Aku tidak mengerti sama sekali kau bicara apa.”

 

“Pokoknya tunggulah aku di tempat biasanya.” Dengan begitu, sambungan berakhir.

 

Oh Tuhan, apa yang sahabatnya itu lakukan? Ia tahu benar bahwa Kim Jong In susah sekali bangun pagi, tapi ia tidak pernah menduga laki-laki itu akan kehabisan napas di pagi hari seolah baru saja lari dari kejaran polisi.

 

Ia bersandar pada dinding belakang gedung kampus yang tidak ada orang lain selain dirinya; bersendekap dan menunggu. Gadis itu sudah terbiasa menunggu, mengkhawatirkan, dan memerhatikan Kim Jong In sampai ia merasa ia lebih mengenal laki-laki itu ketimbang dirinya sendiri.

 

Jung Yoo Ra benar-benar memerhatikan Kim Jong In.

 

Sungguh-sungguh memerhatikannya, tanpa bosan.

 

“Yoo Ra-ya!” Tiba juga yang ditunggu setelah sekian menit berlalu. Kim Jong In kini terlihat berantakan. Pakaian dan rambutnya acak-acakan, keringat membasahi pelipis, napas tidak beraturan, dan ia tidak membawa tas yang biasa ia gunakan untuk kuliah.

 

“Ada apa denganmu?” tanya gadis itu tidak bisa menutupi kekhawatirannya.

 

“Sesuatu terjadi padaku,” ujarnya. Sedetik kemudian, Jong In menyudutkan Yoo Ra hingga punggung gadis itu menempel pada dinding. Jong In menyendarkan kedua telapak tangannya di dinding, di kedua sisi Yoo Ra, hingga gadis itu merasa terperangkap.

 

Ini bukan seperti Kim Jong In biasanya. Jantung gadis itu berdegup kencang, tidak bisa mengalihkan pandangan dari kedua bola mata yang kini hanya beberapa sentimeter di hadapannya. “J-Jong In-ah …”

 

“Sesuatu yang aneh terjadi padaku,” ujar Jong In sedikit gemetar. Laki-laki itu tampak khawatir, takut, gelisah, dan menahan napas di waktu yang bersamaan. “Kurasa … aku bukan manusia biasa.”

 

“A-Apa?”

 

“Aku bisa menjelajah waktu.”

 

Perlahan, Jung Yoo Ra menarik ujung-ujung bibirnya ke atas; berusaha menahan tawa. “Jong In-ah, kurasa kau belum sepenuhnya bangun dan sadar dari mimpimu. Kau masih mengantuk?”

 

“Aku terdengar gila, kan? Aku tahu, tapi saat ini aku mengatakan yang sesungguhnya padamu. Aku benar-benar bangun di tahun 1874 pagi ini.”

 

Yoo Ra tidak percaya. Omong kosong macam apa ini? Sekarang bukan bulan April, jadi bukan April Mop. Apa yang Jong In katakan? Ia tidak paham sama sekali.

 

“Kumohon.” Kali ini suara laki-laki itu bergetar hebat. Perlahan kedua mata Jong In digenangi air yang tampak enggan keluar dari tempatnya. “Pecayalah padaku, Yoo Ra-ya. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan.”

 

Detik itu juga, Jung Yoo Ra membelalakkan mata. Menatap kedua mata Kim Jong In yang seketika memerah seolah darah akan keluar dari sana. Mata yang pernah Jung Yoo Ra lihat sebelumnya; dulu sekali.

 

***

 

Tiga belas tahun yang lalu.

 

Jung Yoo Ra kecil memeluk boneka beruangnya dan turun dari tempat tidur. Malam ini ia tidak bisa tidur nyenyak seperti malam sebelum-sebelumnya, karena hujan turun deras dan petir terus-terusan menampakkan diri di jendela kamar. Tanpa ragu, gadis berusia tujuh tahun itu berjalan menuju kamar tidur orangtuangnya. Tangan mungilnya memutar kenop pintu, menimbulkan bunyi yang menggema cukup keras karena malam sudah larut.

 

Ia berjalan masuk.

 

Namun langkahnya terhenti, tubuhnya terpaku, ketika ia melihat begitu banyak cairan merah mengalir di lantai kamar tidur tersebut. Matanya ikut bergerak mengikuti dari mana cairan merah itu berasal.

 

Jung Yoo Ra mendongak.

 

Saat itulah ia menemukan dua orang berpakaian serba hitam baru saja menjatuhkan ayahnya ke lantai. Tak lama kemudian, salah satu dari dua orang tersebut mengacungkan pistol yang hanya pernah ia lihat di televisi ke arah ayahnya dan suara keras itu pun terdengar menggema bersamaan dengan petir di luar jendela.

 

DOR!

 

Suara itu menyadarkan Jung Yoo Ra. Ia baru sadar, bahwa ibunya sudah tergeletak tidak sadarkan diri di atas tempat tidur dan mengucurkan cairan merah yang mengalir sampai di ujung kedua kaki Yoo Ra. Ayahnya juga kini tergeletak di lantai dengan mata terbuka dan cairan merah keluar dari dada dan mulutnya.

 

Gadis tujuh tahun itu memeluk erat beruangnya; gemetar.

 

Hujan masih deras, tirai jendela kamar orangtuanya beterbangan tertiup angin karena jendela terbuka lebar. Yoo Ra melihat laki-laki yang mengacungkan pistol pada ayahnya kini berjalan ke arahnya. Laki-laki itu berlutut di hadapannya; menyamakan tinggi badan mereka.

 

Ruangan itu gelap sekali, hingga ia tidak bisa melihat jelas wajah di hadapannya.

 

“Kai, cepatlah. Waktu kita tidak banyak. Kita tidak ada kepentingan dengan gadis itu juga, kan?” tanya laki-laki yang masih berdiri di dekat jendela.

 

“Sebentar saja, Chen,” ujar laki-laki di hadapan Yoo Ra.

 

Ia terpaku. Ia gemetar, ketakutan, tapi lidahnya kelu dan tidak bisa berteriak. Ia ingin segera menghambur pada ayah dan ibunya tapi kedua kakinya tidak sanggup berjalan. Yang ia tatap kini hanya sepasang mata di hadapannya. Sepasang mata yang memerah hingga tidak menyisakan warna putih sedikit pun.

 

“Jung Yoo Ra,” panggil laki-laki itu. “Aku sungguh-sungguh minta maaf karena kau menyaksikannya seperti ini. Seharusnya kau tidur dengan nyenyak di kamarmu.”

 

Gadis itu terdiam.

 

“Kuharap suatu saat nanti kau mengerti alasanku melakukan ini. Kuharap kau bahagia dan tetap tersenyum seperti sebelumnya.” Laki-laki itu mengusap lembut pipi Jung Yoo Ra sebelum beranjak.

 

“S-Siapa?” Ia berhasil menemukan suaranya.

 

Laki-laki itu menoleh.

 

“K-Kau siapa?” ulang Yoo Ra.

 

“Monster,” jawab laki-laki itu, tersenyum tipis. “Aku monster yang menjelajah waktu.”

 

Setelah itu, dua orang berpakaian hitam itu pergi meninggalkan Jung Yoo Ra terpaku sendirian di sana. Hujan sudah berhenti, petir juga menghilang pergi. Di ruangan gelap dan dingin itu Jung Yoo Ra terpaku menatap kedua orangtuanya berlumuran darah.

 

***

 

“K-Kau siapa?”

Sekujur tubuhnya kini terasa dingin dan gemetar. Walau waktu itu terasa tidak jelas karena kegelapan, Yoo Ra masih bisa mengingat sedikit potongan-potongan wajah laki-laki yang membunuh kedua orangtuanya. Dan ia baru tersadar, potongan-potongan itu kini menjadi sempurna setelah ia menatap wajah Kim Jong In baik-baik.

 

“A-Aku juga tidak tahu. Aku—”

 

“Aku tahu, Kim Jong In.” Dadanya sesak sekali. Sakit.

 

Laki-laki di hadapannya itu terdiam; bertanya-tanya.

 

“Kau adalah monster.”

 

Detik itu juga, sepasang mata di hadapannya memerah hingga tidak menyisakan warna putih sedikit pun.

 

Sepasang mata yang sama seperti malam itu.

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s