[KAISOO BIRTHDAY PROJECT] Eternal Tink – 00:00

37

00:00 – Eternal Tink

Do Kyung Soo, Kim Hye Bin (OC) 

Romance, Angst | T

“Untuk album baru kali ini judulnya cukup unik dan singkat, 00:00. Do Kyung Soo-ssi, apakah ini ada hubungannya dengan konser-konser Anda yang selama ini selalu digelar tengah malam?”

 

“Benar.”

 

“Wah, kalau begitu apa makna dari 00:00 sendiri?”

 

Do Kyung Soo tersenyum samar.

 

***

 

23.02 KST.

 

Suara tapak sepatu yang berbenturan dengan lantai terdengar samar-samar ketika Do Kyung Soo, bintang utama konser malam ini, melangkah menuju ruang ganti. Wajahnya sudah dipoles dengan riasan, wawancaranya sudah selesai, ia tidak punya tanggungan lagi sebelum naik ke atas panggung.

 

“Selamat malam, Do Kyung Soo-ssi. Saya Han Jin Woo, asisten manajer—”

 

Ia menoleh. Mendapati laki-laki canggung dengan kacamata bundar dan senyum sumringah. “Asisten manajer?” potongnya.

 

“Asisten manajer,” sahut pria yang lebih tua darinya seketika muncul. Manajer Park. “Seminggu yang lalu aku sudah bilang padamu kalau kita butuh asisten manajer karena jadwalmu yang semakin padat. Kau tidak ingat?”

 

Kyung Soo hanya diam. Ia tidak ingat. Tak lama kemudian, ia mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan bersiap untuk melakukan panggilan. Laki-laki itu memasuki ruang ganti, meninggalkan dua orang yang tadi berbicara dengannya.

 

“Do Kyung Soo-ssi sedang menelepon pacarnya?” bisik Asisten Manajer Han.

 

Ada keheningan yang terasa tidak nyaman setelah itu. Ekspresi wajah Manajer Park sulit digambarkan. Pria yang hampir memasuki usia lima puluhan itu bergumam pelan, “Aku tidak tahu.”

 

“A-Apa?”

 

“Aku selalu melihatnya menelepon seseorang sebelum konser tapi aku tidak pernah bertanya siapa,” jelas Manajer Park. Ada semburat kekhawatiran di tatapan matanya. “Mengherankan sekali, karena tidak seharusnya ia menelepon seseorang.”

 

“Ah, Manajer Park. Tentu saja dia ingin menelepon seseorang yang penting baginya sebelum tampil di atas panggung,” sahut Asisten Manajer Han tertawa kecil.

 

“Bukan begitu.” Setelah pernyataan itu, mata Asisten Manajer Han membelalak tidak percaya pada apa yang kemudian dikatakan oleh Manajer Park. “Do Kyung Soo …”

 

 

23.27 KST.

 

“Sebentar lagi aku akan naik ke atas panggung untuk entah yang ke-berapa kalinya. Kau datang, kan, hari ini?” tanyanya sembari menyungging senyum tipis. “Seperti biasa, lagu pembukaannya adalah lagu yang sering kita nyanyikan dulu.”

 

Suara Kim Hye Bin terdengar di telinganya. Melengking, dihiasi tawa yang seolah tidak akan pernah hilang.

 

“Hye Bin-ah, kau masih memanggilku Kyung Soo? Kau seharusnya memanggilku Oppa, kau tahu.”

 

Gadis itu protes. Kyung Soo hanya dilahirkan lima bulan lebih dulu dari Hye Bin.

 

“Walau pun misalnya aku hanya lebih tua sehari darimu, kau tetap harus memanggilku Oppa.”

 

Diam-diam ia tersenyum tipis. Kim Hye Bin, gadis yang selalu berada di sampingnya meski orang lain satu-persatu meninggalkannya. Nama Do Kyung Soo yang dikenal publik sebagai musisi sukses dengan tiket konser yang selalu terjual habis hanya dalam beberapa detik saja, pada nyatanya, punya masa lalu yang mengenaskan.

 

Saat masih berusia dua hari, ia dibuang dengan sengaja oleh orangtuanya di sebuah tong sampah milik sepasang suami-istri yang hidup di tahun keenampuluhan mereka. Kyung Soo dipungut oleh mereka yang kemudian ia panggil Kakek dan Nenek. Beranjak menuju lima tahun, ia bertemu dengan gadis itu, Kim Hye Bin, tetangga barunya. Namun tidak lama setelah itu, Kakek meninggal.

 

Dan disusul oleh Nenek pula, ketika ia sepuluh tahun.

 

Sejak saat itu, Hye Bin beserta keluarganya yang menganggap dan merawat Kyung Soo. Di saat orang lain tidak ingin menatap matanya, orangtua Hye Bin dengan rajin memasangkan selimut untuknya di malam hari. Di saat teman-teman sekolah menjauh karena mengetahui Kyung Soo berasal dari tong sampah, Hye Bin berani membentak mereka semua dan menggenggam tangannya.

 

Kim Hye Bin adalah penyelamatnya.

 

Kim Hye Bin adalah malaikat mungilnya.

 

Kim Hye Bin adalah musiknya.

 

“Sekarang aku mau bersiap-siap. Sampai ketemu, Hye Bin-ah. Jangan lupa janjimu!”

 

 

00:00 KST.

 

Laki-laki itu mulai menyentuh tuts piano di hadapannya; satu-persatu membentuk nada. Matanya terpejam, merasakan dingin angin malam menyentuh lembut wajahnya. Diiringi dengan teriakan penonton yang menggema bebas dan bersatu dengan alam. Do Kyung Soo, dikenal sebagai musisi yang selalu menggelar konsernya tengah malam, di tempat terbuka tanpa atap yang mengganggu di atas kepala.

 

Alasannya satu. Ia ingin bernyanyi sembari menatap bintang-bintang. Bermusik sembari disaksikan bintang-bintang.

 

Janjimu, Hye Bin-ah, gumamnya dalam hati. Sudah sekian konser yang kugelar tapi kau masih tidak kunjung menepati janjimu.

 

Tuhan, kenapa jemarinya kini gemetar hebat. Anginnya tidak terlalu dingin, tapi ia kedinginan sampai nyeri tulangnya. Kedua matanya terasa basah dan ia tidak ingin membuka mata. Sesuatu di dalam dadanya memberontak.

 

Sakit.

 

“OPPA!”

 

Do Kyung Soo terpaku. Jemarinya berhenti menekan tuts, matanya membelalak dan jantungnya serasa berhenti berdetak. Ia menoleh, menatap sekerumunan penonton yang menatapnya keheranan. Kyung Soo lebih heran lagi, dari mana suara yang tidak asing lagi di telinganya itu berasal.

 

Ia ingin bertemu dengan si pemilik suara. Ia ingin menyentuh dan bernyanyi untuknya.

 

Namun Do Kyung Soo tidak menemukan seseorang yang ia cari di kerumunan penonton itu. Hingga ia perlahan mengalihkan pandangannya pada langit malam bertabur bintang tepat di atas kepalanya.

 

“Kau kejam sekali, Kim Hye Bin.”

 

 

00:00 KST.

 

Asisten Manajer Han menatap penuh simpati pada Do Kyung Soo yang kini berada di atas panggung. Ia kembali teringat apa yang dikatakan Manajer Park. “Do Kyung Soo … tidak punya pacar, teman, orangtua, bahkan kerabat. Laki-laki itu tidak punya siapa-siapa. Aku pernah mendengarnya menyebut nama Kim Hye Bin ketika menelepon, tapi … setelah kuselidiki, Kim Hye Bin yang tinggal di dekat rumah Kyung Soo, sudah meninggal.”

 

“M-Meninggal?”

 

“Meninggal, dalam perjalanan pulang setelah membeli piano.”

 

“Untuk …?”

 

“Do Kyung Soo.”

 

***

 

“Kyung Soo-ya, kau tahu tidak? Di buku cerita yang kubaca, orang yang sudah meninggal akan menjadi bintang.”

 

Ia tertawa. “Dan kau percaya? Bodoh sekali.”

 

“Yak!” seru Hye Bin kesal. “Aku percaya! Aku akan menjadi bintang paling terang saat aku sudah pergi dari dunia ini.” Do Kyung Soo hanya terdiam, memejamkan mata, dan menikmati angin yang berhembus di halaman belakang rumah Hye Bin. “Wah! Sekarang sudah pukul 00:00!”

 

Laki-laki itu mendengus pelan. “Bodoh.”

 

“Dengarkan aku, Do Kyung Soo. 00:00 sangat spesial karena ia merupakan akhir dan awal di saat yang bersamaan, bergantung bagaimana cara kau melihatnya. 00:00 bisa menjadi akhir dari hari sebelumnya, dan juga awal dari hari berikutnya. Kaulah yang memilih, apa 00:00 bagimu adalah sebuah akhiran, atau awalan.”

 

“Lalu, bagimu?”

 

Gadis itu tersenyum lebar.

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s