[EXOFFI FREELANCE] Will You be There (Chapter 4)

CYMERA_20171116_000432

Title |  Will You be There

Author|RHYK

Cast|               Rose [Blackpink]         as Ra Joona

Park Chanyeol [EXO] as Jo Chanyeol

Han Sunhwa as Han Jina

Additional Cast| Ong Seungwoo [Wanna One] as Ha Seungwoo

Length| Chapter

Rate | PG 17 (terserah kalian aja sih mau rate berapa. Baca aja. Jangan di contoh kecuali udah dihalalin *eehh)

Genre| Alternate Universe – Drama – Romance –Sad –Life –Marriage life

Disclaimer| Seluruh bagian dalam fiksi ini adalah milik penulis. Jika ada kesamaan dalam garis cerita, kejadian dan setting itu hanyalah kebetulan dan bukan bentuk PLAGIAT. Jika ada yang menemukan fiksi ini bukan di blog yang aku cantumkan dibawah tolong segera lapor ke penulis! Seluruh fiksi ini dilindungi oleh Hak Cipta @1005iyu.Aku mengijinkan baca tapi tidak untuk di co-paste apalagi dijadikan dokumen private. Thanks!

Keseluruhan cast hanya sebagai visualisasi, mohon untuk tidak men-judge secara negatif para pemain yang ada di fiksi penulis! Cast milik TUHAN YME, dan Ortu serta agensi masing-masing.

“Menuangkan pikiran dalam tulisan tidak semudah men-judge karya orang!So, jadilah bijak kawan.. makasih!” _RHYK, 2017

Quotes| Dalam kisah ini, akankah seseorang menantiku di sana?

 

 

Meragukan bisa menjadi sebuah petaka dalam hidup, entah untuk jangka panjang ataukah jangka pendek. Ragu dapat membuat pihak sebelah salah paham dengan mengabaikan fakta yang ada. Alih-alih kau menyalahkan orang lain karena keputusan bersalahmu, itu karena kau menutup fakta bahwa kau sebenarnya ragu dengan pilihan yang ada. Dan, keraguan itu dapat menghancurkan hidupmu sendiri ataupun hidup orang lain dengan sekejap mata.

[4]

4 years a go..

Pohon sakura itu tumbuh di belakang kampus mereka, lantas musim semi yang datang diikuti dengan bunga-bunga daun yang mulai bermekaran. Terasa begitu menghangatkan dan menyejukkan dengan sepoi-sepoi angin yang bertiup pelan mengusap permukaan kulit wajah Seungwoo yang berjalan di bawahnya, lalu setelah mengedarkan pandang pada anak-anak yang sedang duduk di bangku yang tersedia, namun begitu menemukan sosok yang ia cari lelaki itu segera kembali melangkah kemudian mengambil tempat lesehan di atas beton pipa saluran air di mana orang yang ia cari duduk di sana.

Ia menyerahkan sebuah cokelat dengan hiasan chestnut di atasnya, yang diberikan cokelat baru menoleh dan menatap Seungwoo dengan sorot tanya, “Apa ini? Untuk hari Valentine?”tanyanya bersuara dengan mengocok-ngocok pelan cokelat itu, namun ia terlihat senang dengan pemberian Seungwoo, lelaki itu lantas hanya tersenyum dengan mengedarkan pandangannya ke arah lain dengan santai ia menjawab, “Bukan. Itu masih dua minggu lagi. Aku hanya iseng saja membuatnya.”

Yang diberi hanya tersenyum remeh tak percaya, lantas tanpa berucap lagi ia membuka cokelat itu dan mencobanya, lantas –detik berikutnya mata gadis itu membulat sempurna dengan apa yang ia rasakan di lidahnya, kemudian ia berbinar. “Wah!Aku tak percaya kau yang membuat ini. Enak.”pujinya sambil mengacungkan jemari jempolnya dan membuat si pemberi cokelat tertawa renyah, “Lalu, bagaimana kalau kau menjadi kekasihku, Ra Joona?”tanyanya lagi dengan nada cuek, membuat Joona menoleh padanya dengan menatapnya tak percaya –ekspresi itu sungguh kelewat cuek untuk dibilang mengatakan cinta.

Namun, Joona meragukan itu ketika bagaimana iris coklatan itu menatap mata Joona yang cantik. Joona tidak yakin meski katanya tatapan seseorang memang bukanlah kebohongan. Joona sendiri adalah gadis yang skeptis terhadap apa yang dinamakan cinta dan juga lelaki yang begitu mudah menaruh hati pada wanita. Gadis itu berfikir bahwa cinta dari kedua orang tuanya sudah lebih dari cukup. Joona kemudian menaruh cokelat itu di pahanya, lalu memegang tangan Seungwoo. “Kau terlewat serius dengan perasaanmu. Aku menghargai itu, dan aku harap kau juga menghargaiku sebagai teman –menurutku, itu lebih dari cukup.”ucap Joona terang-terangan. Seungwoo lantas kembali tertawa renyah mendengar ucapan Joona, “Baiklah. Mari kita hanya berteman dan kedengarannya memang lebih baik seperti itu.”ucapnya dengan suara lepas-lepas saja, seakan-akan ia tidak mengatakan sesuatu yang memalukan tadi, padahal yang Joona lihat di drama, ketika lelaki ditolak oleh wanita rasanya bukankah sangat memalukan.

“Lain kali, perbaiki ekspresimu jika ingin mengungkapkan perasaan, Seungwoo –ya. Jangan membuat orang ragu denganmu.”saran Joona sambil tertawa dan memakan coklatnya kembali. “Aku juga sempat ragu untuk mengatakan itu padamu.”ungkap lelaki itu lalu ikut memakan cokelat buatannya. “Kenapa?”tanya Joona menatap temannya itu dengan rasa ingin tahu. “Rasanya andai saja tadi jawabanmu adalah ya aku akan mengabaikan fakta lain dan membuat seseorang terluka.”ucap Seungwoo yang membuat Joona hanya tertawa, walau gadis itu tahu benar –bahwa hanya dengan melihat tatapan lelaki itu tadi saat mengatakan tentang kencan saja tatapnya pada Joona penuh keraguan, seakan ia sendiri tidak memiliki keyakinan dengan apa yang baru saja ia katakan untuk itu Joona lebih menjawab untuk menjadi teman baik saja.

Karena, menurutnya –untuk apa menjalani hubungan dengan keraguan sebesar lubang hitam seperti itu? Benar kata Seungwoo –itu hanya mengabaikan fakta bahwa mereka tidak benar-benar dalam perasaan suka dan itu dapat menyakiti mereka berdua, entah Joona akan menyakiti Seungwoo jika memang mereka berkencan, ataupun sebaliknya.

Flashback end.

∞∞∞

Orang-orang yang tinggal dikediaman Jo sudah mulai meninggalkan tempat yang mereka duduki di kursi makan masing-masing satu per satu, ada yang sudah berangkat ke sekolah ataupun ke tempat kerja masing-masing yang berprofesi tak jauh-jauh dari pengusaha, dan pengelola hotel. Namun, ketika Jina dan Chanyeol ingin beranjak dari tempat mereka tetua keluarga Jo bersuara, “Aku ingin berbincang lebih banyak dengan kalian –anakku dan juga menantuku.”titahnya dengan suaranya yang menyerak karena sudah tua. Lantas, pasutri itu hanya saling lempar pandang dan kembali duduk. Bahkan, pengurus rumah tangga yang ingin masuk di larang oleh tetua Jo –ayah Chanyeol.

“Apa kalian sedang bertengkar akhir-akhir ini?”tanya itu terlontar dari ayah mertua Jina dengan suaranya yang keras, maklum saja –karena beliau juga merupakan veteran militer sehingga keluarganya dididik sangat keras di samping semua keturunan keluarga Jo yang memiliki penampilan fisik dan rupa begitu luar biasa menakjubkan.

“Kami baik-baik saja, abeoji.”tanggap Chanyeol jengah, lelaki itu benci ketika orang lain mencampuri kehidupan pernikahannya tanpa mengerti batas. Ia dan Jina bukanlah anak kecil yang harus selalu dicekoki oleh umpama-umpama bodoh yang kadang memang benar adanya. Apalagi persoalan mereka selalu saja sama, anak, anak dan lagi anak. “Lantas, apa yang kalian tunggu dan menunda –‘

“ –Abeoji, aku tidak mengerti mengapa kau begitu menantikan cucu dari kami –maksudku, sudah ada Channi, Gayoung, Sewoon apa mereka tidak cukup untuk menghibur kalian?”

“Mereka itu sudah SMA dan hampir kuliah dan sibuk dengan dunia mereka masing-masing.”sahut sang ayah yang membuat Chanyeol hampir frustasi mendengar alasannya yang faktanya benar-benar tidak dapat diterima. Ini hanya soal cucu, dan perkara selalu berakhir di Chanyeol dan Jina karena belum punya anak, maksud Chanyeol adalah ini bahkan baru dua tahun pernikahan –kenapa mereka begitu tergesa sekali untuk menimang cucu kembali, toh jika sudah agak besar juga mereka akan repot untuk mencari pengasuh.

“Itu benar, anakku.” Ibu Chanyeol ikut menimpali, sedangkan ketika Ibunya yang berbicara lelaki itu terdiam, karena satu kalimat yang keluar dari mulut Chanyeol maka, akan mendengarkan seribu kalimat petuah dengan makna yang sama segeralah kalian punya anak. Yang bisa-bisa mereka tidak berangkat kerja hari ini,sementara Jina hanya tersenyum manis saja melihat ekspresi Chanyeol yang telak, begitu sang ibu datang.

Eomoni..tunggulah sebentar lagi saja, Tuhan mungkin belum berkehendak untuk itu.”bujuk Jina akhirnya membuka suara, merasa terselamatkan Chanyeol memberikan sebuah jempol pada Jina diam-diam, untung saja gadis itu melihatnya dan tertawa kecil. Mendengar itu, ibu mertuanya tersenyum lantas memeluk Jina erat, namun lebih dari makna pelukan wanita tua itu membisikkan sesuatu. “Kau ingat dengan janji kita bukan?”

Jina tersenyum ramah menyambut pertanyaan sang ibu mertua, “Eomoni,aku memiliki panggilan mendesak untuk ke Rumah Sakit karena ada seorang anak yang terkena serangan panik.”jawabnya justru mengalihkan topik, Jina memiliki sebuah perjanjian dengan sang ibu mertua sebelum pernikahan terlaksana, namun, Chanyeol tidak mengetahui sama sekali tentang itu. “Kajja, Chanyeol –ssi. Aku sedang buru-buru. Eomonim dan abeonim kami pergi bekerja dulu.”pungkas Jina lalu menundukkan kepalanya singkat, dan melenggang pergi dari ruang makan kediaman Jo tak perduli bagaimana reaksi kedua mertuanya itu –Jina sedang dalam masa pre-menstruation syndrome dan itu membuat hormon sensitifitasnya bekerja lebih nyata daripada biasanya. Jika bukan karena siklus bulanan wanitanya pasti, kini Jina sudah menjadi melankolis dihadapan keluarga Jo.

“Sampai nanti –abeoji, eomoni.” Jina sudah pergi lebih dulu meninggalkan Chanyeol sementara Chanyeol masih mencium kening kedua orang tuanya dan setelahnya baru keluar mengekori Jina ke pintu keluar yang menembus langsung ke garasi.

∞∞∞

Seungwoo membuatkan teh hangat untuk Joona, sementara gadis itu sedang berbaring diatas kasur empuknya, bukan ingin bermanja-manja dengan sahabatnya yang kelewat care ini, hanya saja Joona tidak enak merepotkan Seungwoo lantaran lelaki itu juga sudah memiliki seorang kekasih –dan hubungan mereka sudah terjalin cukup lama.

“Seungwoo –ya?”suara gadis itu menggema sampai ke dapur dimana lelaki itu berada, “Hmm? Wae?”responnya singkat, seperti biasa Seungwoo memang tipe yang talk-less do more yang membuat Joona kadang merasa menyesal karena ragu dengan perasaannya pada lelaki itu saat 4 tahun lalu. Kini, lelaki itu masuk ke kamar Joona dengan membawa nampan yang berisi bubur dan teh hangat. “Hubunganmu dengan Soojin baik-baik saja,kan?”tanya Joona seraya menerima nampan itu dari tangan Seungwoo.

Mendengar tanya Joona justru membuat lelaki berahang tegas itu tertawa, “Soojin tahu seperti apa aku. Kau yang bilang sendiri untuk jangan ragu. Aku tidak meragukan kepercayaan Soojin dan begitu juga Soojin yang juga tidak pernah meragukanku.”jelasnya seperti menerawang tentang konversasi masa lalu mereka pada empat tahun silam. Joona hanya mengangguk paham dengan apa yang Seungwoo katakan, artinya lelaki itu juga mengerti bahwa perasaan Joona sedang ragu, takut keperdulian besar Seungwoo menganggu hubungannya dengan Soojin.

Joona mulai menyuap buburnya dikala perutnya yang begitu mual ketika dimasukkan sesuatu, lelaki ini memang jago memasak –karena ia punya restaurant dan toko roti yang letaknya tak jauh dari flat Joona berada, “Makanlah yang banyak, kau pasti kelelahan bekerja part-time –ingatlah, tubuhmu juga perlu istirahat dan asupan gizi yang cukup.”nasihat Seungwoo lagi, mendengar itu Joona hanya menggeleng saja, “Aku terdengar seperti sedang hamil, kau menasihatiku begitu.”gurau Joona yang disambut tawa keduanya.

Namun, getar interval yang masuk ke smartphone Seungwoo menghentikkan tawa keduanya yang sempat pecah beberapa saat. Joona hanya menatap Seungwoo mengerti dan kembali memakan masakan Seungwoo –meski enak, perut Joona sedang tidak sinkron. Lelaki itupun menjawab telfonnya, sedikit membelakangi Joona, “Halo, wae Soojin –ah?

Seungwoopun akhirnya mengaktifkan mode handsfree sehingga Joona dapat mendengarnya, “Joona –ya~, Seung bilang kau sakit –aku ingin ke sana, tapi dia melarangku.” Joona hanya menatap Seungwoo dengan memicingkan mata, aturan darimana ia melarang-larang orang untuk menjenguk dirinya. “Aku hanya sedikit mual, Soojin –ah. Oh ya, bagaimana ujian praktikum di sekolahmu?”tanya Joona mengalihkan topic –Soojin memang gadis yang mudah sekali di distorsi otaknya dengan hal lain yang lebih menarik perbincangannya daripada hanya sekedar konservasi biasa, mungkin –karena ia adalah seorang guru IPA di Sekolah Menengah Pertama. “Sudah, tapi kau tahu anak-anak muda sekarang sulit di atur.Oh ya, jika kau perlu sesuatu nanti sebaiknya hubungi aku saja –mungkin nanti agak malam aku akan ke flatmu.”suara Soojin yang agak sedikit sengau membuat Joona dan Seungwoo sama-sama menahan tawa. “Baiklah, kau bisa kembali bekerja karena sudah tahu keadaanku.”ujar Joona lantas mengisyaratkan lelaki itu untuk menonaktifkan mode handsfreenya. Lalu, akhirnya Seungwoo keluar dari kamar Joona dan melanjutkan perbicangan di sana.

Huuk..huuk.’ Joona kembali berdiri dan terbirit menuju toilet, lagi, ia memuntahkan bubur yang baru ia masukkan ke dalam perut.Ia mengunci pintu toilet begitu tahu Seungwoo kembali ke kamarnya dengan wajah cemasnya. “Joona, sepertinya kita tak bisa membiarkan mualmu –ayo –kita ke Rumah Sakit!”

Joona lantas hanya mengabaikan teriakkan lelaki itu yang benar-benar memohon, gadis itu terududuk di lantai toilet itu, wajahnya sudah pucat dengan keringat dinginnya –rasa badannya benar-benar buruk lebih dari yang tadi. ‘Ya Tuhan, ada apa ini.’ Bathin Joona lantas meraih handuk kecilnya.

Tok. Tok.

“Joona, jawab aku.”suara Seungwoo terdengar cemas, lebih dari biasanya. Joona mengatur nafasnya, lantas mencari sesuatu di kotak P3Knya. “Ya, Seungwoo –ah lebih baik kau pergi ke apotek terdekat dan belikan obat penghilang mual. Aku tidak bisa ke Rumah Sakit dengan kondisi begini.”titah Joona sedikit berteriak pada Seungwoo, lantas ia mendapatkan apa yang ia cari sementara Joona hanya mendengar pintu yang telah tertutup yang menandakan lelaki itu sudah berada di dalam flatnya.

Kini, di tangan cantiknya ada sebuah test-pack atau alat tes kehamilan. Setelah mengeluarkan urinnya di sebuah tempat, ia mencelupkan alat berwarna pink itu ke air seninya sendiri. Ia menelan salivanya, nafasnya begitu resah menunggu hasil yang diberikan oleh test-pack itu. Ia memejamkan mata dengan kening yang berkerut, berharap garisnya hanya satu –menandakan ia tidak sedang hamil.

Tes. Tes. Tes.

Bulir bening itu terjatuh tanpa mengalir di pipi Joona yang chubby lebih dari sebelumnya, ia bahkan mengecek lagi –barangkali ia salah lihat garisnya. Namun, setelah ia tegasi kembali dengan kedua matanya yang hampir keluar tetap sama.

Sebuah garis dua muncul di alat tes kehamilan itu yang katanya akurat 100%.

Ya, itu menandakan bahwa Joona kini positif hamil.

Joona menggigit bibirnya khawatir, masih memegang test-pack itu ia bolak balik di toiletnya yang tak begitu besar. Isi kepalanya buntu, seperti suasana hening yang ada di flatnya. Seungwoo belum kembali karena Joona tahu betul apotek cukup jauh dari flatnya. Joona masih cukup waras, oke –anggaplah begitu. Lalu, ini hanyalah hasil dari sex-nya hari itu bersama lelaki bernama Jo Chanyeol. Mereka tidak bertemu lagi sejak hari itu, lelaki itu juga tidak meninggalkan kontak apapun untuk dihubungi.

Ini gila.

Joona menyingkap rambutnya ke belakang, otaknya serasa panas namun fikirannya hampa dan buntu. Bahkan, ia masih bergurau tentang ia yang seperti ibu hamil ketika Seungwoo sedang menasihatinya. Lantas, apa Tuhan mengabulkan do’a hambanya secepat itu? Bahkan konversasi itu masih kurang dari satu jam yang lalu, dan realita baru saja mengatakan apa? Lewat test-pack itu Joona kini positif hamil?

Dan, ia tengah hamil anaknya bersama Jo Chanyeol? Ya Tuhan, ini gila. Sungguh, Joona ingin menbenturkan kepalanya saja sekarang. Joona menutup matanya, mencoba memutar otak mencari jalan keluar, lantas –ia menghitung dengan jari kapan terakhir siklus pre-menstruation syndromenya datang dan Joona baru sadar bahwa ia juga sudah lama tidak menandai kalendernya. Ia kacau. Sungguh, Joona tidak tahu harus bagaimana. Okay, tidak masalah dengan orang tua karena sekali lagi –gadis itu hanya sebatangkara, maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan soal mengecewakan orang tuanya, masalah pertama –selesai.

Lalu, apa yang harus ia jelaskan pada Seungwoo? Apa iya bicarakan saja dengan gamblang bahwa Ra Joona tengah hamil, lantas harus bagaimana lagi? Jelas, itu tidak mungkin –selain Seungwoo sesungguhnya lebih galak dari ayahnya Joona, pasti Soojin akan salah paham dengan situasinya. Dia bisa mencari orang yang menghamili Joona untuk memberikan sebuah tinju mentah dan telak kalah, karena lelaki itu juga sabuk hitam –taekwondo.

Ditengah Joona yang sedang bertarung dengan otaknya yang buntu, rasa gelisah bagaimana memberi penjelasan pada Seungwoo dan Soojin tiba-tiba saja pin accurate itu kembali terbuka. Lantas, dengan cepat Joona meletakkan test-pack itu diatas cermin toiletnya. Dan keluar dari toilet.

Dan, Seungwoo muncul dari luar membuka pintu kamar Joona yang tertutup. Ia membawa kantong plastic putih yang berisi obat, lelaki itu lantas berkata “Sepertinya kau sudah membaik,” Joona menaikkan kedua alisnya dan tersenyum membenarkan, “Ya, kau benar. Aku masih bisa mengurus diriku sendiri, kau bisa kembali ke toko. Pegawaimu pasti sudah menunggumu.” Joona kemudian mendorong Seungwoo untuk keluar dari kamarnya, diikuti Joona di belakangnya. Seungwoo sempat menatap Joona dengan pandangan yang sedikit –abstrak, maksudnya seperti mencurigai atau seperti bertanya-tanya akan sesuatu namun ia tetap tinggal dalam diam. Bagaimanapun lelaki itu selalu menghormati keputusan Joona, ia pun berjalan ke ambang pintu dan tak lupa memakai sepatunya, “Baiklah hubungi aku jika kau memang ingin mengatakan sesuatu padaku.”ujar Seungwoo sebelum pergi meninggalkan flat Joona. Lantas, Joona hanya mengangguk cepat dan membawa lelaki itu menuju pintu keluar flatnya.

Dan, setelah Seungwoo berlalu, Joona berteriak sekencang-kencangnya untuk meluapkan perasaannya yang tertahan. Di dalam elevator Seungwoo menulis sebuah pesan teks untuk Soojin, seperti ini isinya.

To: Soojinnie

[Sebaiknya kau pulang lebih cepat dan  ke flatnya Soojin, sepertinya ia menyembunyikan sesuatu dariku, mungkin denganmu yang sesama perempuan ia ingin berbagi.]

Dan, kurang dari 3 menit ada balasan dari orang yang dikirimkan pesan.

From: Soojinnie

[Ne, algeseyo.. Tuan Ha..]

To be Continued..

a.n : hello..

udah lama gak posting, hampir mau dua bulan. Selain sempet hectic juga bener – bener lagi demam drama dan film, jadi cerita sempat terabaikan beberapa saat, sekarang udah nulis lagi. Buat di wattpad, nanti di posting ulang dengan kategori fiksi umum, karena aku memakai nama original, kecuali Chanyeol yang hanya ganti marga. Rencana bakal ada 15 chapter mungkin, gak tau juga –cerita ini agak fantasi juga nantinya. Bukan fantasi juga sih, mungkin supranatural kali ya yang bener hahaha

udah gitu aja, let me in ada yang baru silahkan cek di wattpad aku, dan buat extra chapter mungkin bisa ku posting di sini, liat aja nanti.

Nb: do not forget to leave your comments! I need your mind about this chapter!

13 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Will You be There (Chapter 4)”

  1. ughhhh
    duh eonnn sreggg banget alurnya., btw mian baru komen di part ini soalnya keburu bacanya,,
    disatu sisi kasian si Jina tapi kalo si Joona keadaannya udah gtu yah kasian juga,. Keep write ajah,, next chap.

  2. uh…
    kak.. akhirnya update jga setelah sekian lma diriku menunggu…
    seneng bgt.
    Dh kangen bgt sma crita ini
    jdi joona beneran hamil.
    omg jdi kyk mn dengan chanyeol klw tw. ok klw joona kn mgkin gk da mslh. jdi chanyeol apa dia akn berpling dari istriny.
    knp sich anak yg dihrpkn oleh chanyeol dan istriny tk kunjung ada. lh ini dgn joona lgsung ada.
    mgkin orgtu jdoh ya
    Ditunggu trus y kk kelanjutan critany..
    semangt nulis critany y kk

  3. Aaaaaaaaaa akhirnyaaaa setelah dtnggu tunggu…
    Klo s joona bisa hamil brarti ga ad mslah sma yeolie dong?ato blm rejekiny aja sma jina???aahh ga sbar nunggu nextnyaaaaaa
    Figting!!!!:)

  4. OMG….!Akhirnya RahayK update juga ditunhguin nih fanfic kok kgk muncul ²,haduh kyk nya bakal ada masalah nih di rumah tangga jina and channyeol.kira ² chanyeol pilih siapa ya?nextchapternya jangan lama² lagi ya.hwaiting…

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s