[KAISOO BIRTHDAY PROJECT] The Future-cedarpie24

timeline_20180302_230656.jpg

 

[KAISOO BIRTHDAY PROJECT] The Future-cedarpie24
Kyungsoo, Baekhyun|Friendship|PG15

 

 

“Waktu itu jarak temanku dan kematian cuma sebesar ini.” Baekhyun mengangkat tangannya, menunjukan jarak sekitar satu sentimeter antara jari telunjuk dan jempolnya.

“Omong kosong apa lagi ini.” Kyungsoo yang duduk di hadapannya mendengus agak mencela.

Sejak dulu sahabatnya ini memang senang mengocehkan hal tak penting. Ia bahkan pernah mengaku bisa melihat masa depan, yang mana sangat tidak mungkin.

Baekhyun berdecak sambil menutup buku Kalkulusnya, lalu menatap Kyungsoo dengan mata memicing. “Wah, kau tidak percaya padaku, ya?”

“Tentu saja tidak.” Kyungsoo menjawab cepat tanpa perlu berpikir, atensinya masih terfokus pada angka-angka rumit yang tersaji di buku catatannya.

“Keterlaluan sekali,” desis Baekhyun.

Kyungsoo membalik halaman buku catatannya seraya berujar datar, “Jangan banyak bicara. Cepat selesaikan bagianmu. Aku harus menemui Gong Saem setelah ini.”

Kedua alis Baekhyun berjingkat. “Kau mau berlatih menyanyi lagi?”

“Hm. Kompetisinya tinggal sebulan lagi, Gong Saem tidak membiarkanku bersantai.” Kyungsoo menjawab lagi-lagi tanpa menatap Baekhyun. Laki-laki itu melewatkan ekspresi janggal yang kini bermain di wajah sahabatnya.

Baekhyun lalu mengembuskan napas pelan.

Ia membuka kembali buku yang tadi telah ditutupnya. Namun sesuatu dalam benaknya terus mengganggunya sehingga ia tak bisa berkonsentrasi sama sekali, belum lagi kesunyian perpustakaan mulai membuat telinganya berdengung ngilu. Maka Baekhyun kembali mendongak, menatap Kyungsoo sambil mengesah keras.

“Kyung, kau harus dengar ceritaku. Aku serius kali ini,” ujarnya.

Untuk pertama kalinya gerakan pensil Kyungsoo terhenti. Pemuda itu mendongak, menatap Baekhyun tanpa ekspresi. Jujur saja ia ingin segera menuntaskan tugas mereka dan menemui guru Seninya. Kyungsoo didapuk menjadi perwakilan sekolah untuk mengikuti kompetisi menyanyi bulan depan nanti. Namun Baekhyun yang terus mengoceh sama sekali tak membantu. Maka Kyungsoo memilih meladeni kemauan sahabatnya saja terlebih dahulu. Ia bisa memaksa Baekhyun mengerjakan tugas mereka lagi setelah sesi berceritanya selesai.

“Baiklah. Apa?”

Baekhyun menghela napas lega. “Kau harus dengarkan ceritaku baik-baik, ya. Janji?”

Kyungsoo mendecak lalu mengangguk.

“Jadi beberapa hari lalu, di perpustakaan ini aku mengerjakan tugas dengan seorang temanku.” Baekhyun berhenti sejenak, kemudian cepat-cepat meralat, “Ah, tidak. Dia bukan temanku. Mungkin lebih tepat jika kusebut … rival.”

Sebelah alis Kyungsoo berjingkat. “Kau punya rival?”

Baekhyun memasang raut tersinggung mendengar ini. “Memangnya aku semenyedihkan itu sampai tak pantas jadi rival orang lain?” Ia berdecak kemudian melanjutkan, “Kami bekerja sampai sore, nyaris malam. Kira-kira waktunya sama seperti sekarang. Rivalku itu akan mengikuti sebuah olimpiade dalam waktu dekat, sehingga dia harus berlatih dan memintaku menyelesaikan tugas kami hari itu juga.”

Kyungsoo menelengkan kepala. Ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi lalu menatap Baekhyun lekat sambil bersilang dada.

“Akhirnya kami pulang setelah langit benar-benar gelap. Kami keluar lewat gerbang belakang karena gerbang depan sudah dikunci, dan kau tahu jalanan di sana benar-benar sepi. Temanku itu berjalan mendahuluiku, karena sepertinya dia ingin cepat-cepat pulang dan berlatih soal olimpiade. Saat itu sebuah mobil melaju di belakangnya dengan kecepatan tinggi, dia tak sempat menghindar dan aku tak sempat menyelamatkannya.” Baekhyun berhenti sejenak untuk menarik napas, raut wajahnya tegang. “Saat ini dia tengah dirawat intensif di rumah sakit. Untunglah dia masih sempat terselamatkan, meski akhirnya harus membuang kesempatannya ikut olimpiade.”

Setelahnya keheningan menyelimuti mereka. Kyungsoo menatap Baekhyun lama dengan raut tak terbaca.

Ia mengerti maksud Baekhyun.

“Kau sedang membicarakan aku,” ujarnya setelah beberapa saat. “Temanmu yang kaubilang berjarak sedemikian kecil dengan kematian itu aku. Benar ‘kan?”

Kedua mata Baekhyun mengerjap cepat. Ia tak sempat mengatakan apa pun ketika Kyungsoo mendadak membereskan barang-barangnya, lalu berujar, “Aku tidak mengerti apa maksudmu membicarakan ini, Baekhyun.” Ia berhenti sejenak mengingat bualan Baekhyun tentang dirinya yang bisa melihat masa depan. Dengusan lolos dari mulutnya. “Apa pun tujuanmu, perkataanmu hari ini akan kuanggap sebagai omong kosongmu yang sudah kelewatan. Ayo pulang.”

Setelahnya Kyungsoo berlalu lebih dulu, tak berniat menunggu bagaimana reaksi Baekhyun.

Di tempat duduknya Baekhyun terpekur. Ia mendengus, lalu bergumam pada punggung Kyungsoo yang menjauh, “Itu bukan omong kosong, Kyungsoo. Aku sedang memperingatkanmu.”

Mereka terpaksa keluar lewat gerbang belakang malam itu. Gerbang depan dikunci dan tak ada satpam yang berjaga di pos. Kyungsoo berjalan beberapa langkah di depan Baekhyun. Ia tak mau mengakui ini, tapi cerita Baekhyun kini mengisi kepalanya. Bagaimana kalau itu benar? Bagaimana kalau Baehyun memang bisa melihat masa depan? Bagaimana kalau ….

Ponselnya tiba-tiba bergetar panjang pertanda panggilan masuk. Fokus Kyungsoo terpecah, ia merogoh saku celananya, lalu membaca sederet nama yang terpampang di layar ponselnya.

Gong Saem is calling …

“Halo, Saem? Ya, saya sedang di perjalanan–”

Ketika itu jerit klakson diiringi decitan ban mobil mendadak memecah keheningan malam. Kyungsoo cepat-cepat berbalik, matanya seketika silau oleh seberkas cahaya dari lampu mobil yang tepat mengarah padanya.
Mobil sedan dengan kaca gelap itu melaju kencang ke arahnya.

Kakinya mendadak kaku.

Ini persis seperti yang dikatakan Baekhyun.

Ia tak sempat menghindar, segalanya terjadi begitu cepat. Hal selanjutnya yang diketahuinya adalah rasa sakit luar biasa ketika tubuhnya terpental jatuh, sebelum kesadarannya perlahan mengabur hilang.

Di tempatnya Baekhyun terpaku.

Ia memandang mobil sedan yang kini melaju menghilang di kelokan sambil mengangguk kecil.

“Kerja bagus,” gumamnya.

Ia lalu berjalan menghampiri Kyungsoo yang kini terkapar tak sadarkan diri. Membungkuk, dipungutnya ponsel Kyungsoo yang tergeletak beberapa meter dari tubuhnya. Panggilan telepon masih tersambung. Sekilas didengarnya suara panik Gong Saem dari seberang sana.

“Kyungsoo? Do Kyungsoo, apa yang terjadi?”

Baekhyun meletakan ponsel itu di telinganya. “Halo, Saem. Ini aku, Byun Baekhyun.”

“Baekhyun? Apa yang–”

“Kau bilang kau akan menunjukku sebagai perwakilan sekolah di kompetisi itu kalau aku berhasil menyingkirkan Kyungsoo ‘kan?” Baekhyun menyambar pertanyaan guru Seninya dengan tenang. “Kalau begitu kau bisa mengganti perwakilannya sekarang, Saem. Kyungsoo sudah kusingkirkan.”

Di seberang sana hening beberapa lama. Suara Gong Saem bergetar ketika ia berujar, “Byun Baekhyun, kau tahu benar bukan itu maksudku–”

“Aku tutup dulu, Saem. Aku harus segera berlatih untuk kompetisi bulan depan nanti.” Baekhyun berujar sambil tersenyum miring. Tanpa menunggu jawaban, diputuskannya sambungan.

Ia lalu berjongkok di samping tubuh Kyungsoo yang tak bergerak. Disentuhnya wajah sahabatnya itu yang kini berlumuran darah.

“Aku memang tak bisa melihat masa depan, Kyungsoo. Tapi aku bisa merencanakan masa depanku sendiri.” Matanya berkilat ketika ia menambahkan, “Dan … menghancurkan masa depanmu.”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s