[ KAISOO BIRTHDAY PROJECT] Blinded Love – onebili_1

timeline_20180302_230624.jpg

 

[ KAISOO BIRTHDAY PROJECT] Blinded Love – onebili_1

D.O Exo, Reha (oc) | Romance | PG15

 

 

Kata orang, cinta itu buta, tapi kurasa itu salah. Rasa itu buta bagi orang normal, tetapi kenapa orang buta sepertiku tidak merasaksn cinta?

Aku merasakan udara yang terhalang sesuatu, aku tahu dia datang lagi, selalu, dan setiap saat. Bukan maksudku untuk mengabaikannya, tapi aku takut dia seperti orang pada umumnya.

Aku berjalan kemanapun 3 kaki ini melangkah. Benar, ada 3 kaki pada diriku karena salah satunya adalah besi penuntun kehidupanku.

“Kyungsoo-ah.. tunggu aku” teriaknya

Aku berhenti, selalu seperti ini saat aku mendengar suaranya. Seperti ada jutaan gelombang pasang dalam diriku yang membuatku tenggelam.

Dia, gadis bernama Reha itu selalu bersamaku. Setelah pertemuan pertama kami di sekolahku, dia salah satu panitia dalam kegiatan sekolahku waktu itu. Caranya menunjukkan ekspresi secara gamblang dan terbuka membuat diriku yang pendiam merasa cocok dengannya.

Sebenarnya Reha sudah menyatakan perasaannya padaku, tapi aku selalu menghindarinya. Aku belum memastikan apakah dia benar-benar tulus padaku.

“kau baru pulang sekolah?” tanyanya saat aku merasakan dia menyentuh bahuku.

“eum..” jawabku singkat.

Aku tidak bisa terus menerus berada di sisinya, itu bisa membuatku semakin sesak dan memerah. Aku melangkah mendahuluinya, dan beberapa saat terdengar dia menghela napasnya dengan kasar.

Dia berlari mengejarku yang masih berusah pergi darinya. Sepertinya dia kelelahan karena suaranya terengah-engah. Dengan usaha yang aku lakukan, tanganku ini meraba ransel dan mencari sesuatu yang bisa aku berikan padanya.

“minumlah..” ujarku sambil menghadapnya.

Hampa, botol minum ini masih setia dalam tanganku setelah beberapa saat. Kupikir dia pergi, tapi ternyata terdengar suara gelak tawa darinya.

“Kyungsoo-ah, aku di belakangmu..” jelasnya sambil terus tertawa.

“Maaf tapi aku tidak bisa melihat, kau puas?” jawabku

Aku lapar dan lelah, jadi aku begitu sensitif begitu mendengar ucapannya. Bukankah seharusnya aku terbiasa dengan remehan seperti itu? memang.

Tapi, rasanya sakit begitu gadis yang aku sukai mengatakan itu padaku, keraguan itu muncul lagi dalam benakku. Aku melempar botol itu secara asal, lalu mulai jalan kembali. Aku cukup tenang karena ini ruang lingkupku, jadi aku tidak terlalu khawatir jika aku akan nyasar.

“Kyungsoo-ah..”teriaknya

Kudengar dia mengambil botol minumku dan mencoba mengejarku. Gadis,tetaplah seorang gadis yang tidak mungkin bisa mengalahkan laki-laki, jadi bagaimanapun dia berusaha mengejarku, dia tidak akan bisa.

“aaagh..” teriaknya yang kini semakin kecil.

Aku sedikit tergetar untuk berhenti begitu mendengarnya meringis. Aku menduga dia terjatuh, karena aku sudah hafal tinghak cerobohnya.

Tidak, aku masih terus berjalan mengabaikannya. Bisa saja dia hanya berpura-pura mencari perhatianku.

“Kyungsoo-ah… berhenti.. aku bilang BERHENTI!” suaranya meninggi dan aku seperti anjing yang jinak pada perintah sang tuan.

“mianhae.. aku tidak bermaksud berkata seperti itu.”suaranya terisak.

Sial, dia merusak pertahananku lagi. Aku tidak tahan mendengarnya menangis, dan jujur saja ini pertama kali aku mendengar dirinya menangis.

Aku ragu, tapi aku berbalik melangkah mendekatinya. Aku tidak tahu keberadaannya secara pasti, karena keterbatasanku yang aku punya.

“akhh.. Kyungsoo-ah.. aku di depanmu.” Sepertinya tongkatku mengenainya.

“mian..“

Aku kaget saat dia menarikku secara paksa, membuatku terduduk di jalan. Tangan Reha dingin dan itu begitu terasa menyalur pada diriku.

Dia mendekapku secara tiba-tiba, membuat jantungku berhenti. Dia menangis didadaku yang tidak terlalu bidang dan tangannya erat melingkar di pinggangku. Aku melepaskan tongkat yang melekat ditanganku, lalu aku membalas pelukannya.

“kau jatuh, apa sakit sekali?” tanyaku

Dia tidak menjawab dan hanya menganggukkan kepalanya.

“haruskah kita ke rumah sakit?” tanyaku

Dia berhenti menangis dan melepaskan pelukannya. Dia memukulku ringan dengan tangannya yang halus.

“akhh.. Reha-ya… sakit.”erangku.

“bodoh.. kau itu bodoh..” teriaknya dengan tangan yang masih memukulku.

Aku kesulitan karena tidak bisa melihat, tapi aku berusaha menemukan tangannya, lalu menghentikan kelakuan yang terbilang kekanak-anakan ini.

“bodoh apanya?”

“Kyungsoo-ah.. aku jatuh dan merasa sakit tapi bukan karena itu aku menangis. Aku jatuh cinta padamu tapi kau tidak membalasnya dan itu sangat sakit. Aku tidak mengatakan hal tadi karena sengaja, itu hanya keluar karena kekesalanku padamu. Kyungsoo-ah.. jebal.. saranghae..” ucapnya dengan terisak.

“mianhae, Reha-ya aku tidak bisa..” jawabku

“wae?” aku tidak bisa menjawab, aku tidak tahu jawabannya.

“karena kau pikir perasaanku ini hanya sebatas rasa kasihan? Begitu?” tambahnya

Aku diam, semua yang dikatakan Reha sangat mirip dengan yang ada dalam benakku. Keraguanku padanya hanya karena itu, dan aku sulit mengatasinya.

“Kyungsoo-ah, jawab aku sejujurnya. Apakau juga mempunyai perasaan yang sama sepertiku?”

Aku tak mampu bergerak, aku membeku seperti es. Reha meraih tanganku dan mengusapnya dengan lembut, memberikan aku keyakinan bahwa aku harus jujur kali ini. Aku mendesir, dalam dadaku perlakuan halus ini menyulutkan api bahwa aku jatuh cinta. Aku hanya menaik turunkan kepalaku, karena mulutku rasanya terkunci.

“Kyungsoo-ah, percayalah padaku, aku tulus tentang rasa ini. Sangat sakit tahu bahwa kau meragukanku.” Tangisnya pecah

Aku mendekapnya, aku merasa bersalah. Kebodohanku begitu menyakitinya. Aku sangatlah egois dan ini membuatku frustasi.

“Mianhae Reha-ya, aku bodoh..bisakah kita memulainya?” tanyaku

Aku melepaskan pelukannya, tanganku meraba raihnya. Aku melukiskan wajah cantiknya dalam benakku. Alis tipis, matanya sipit dengan bulu mata lentik, hidungnya sangatlah mancung dan bibirnya sangatlah mungil. Aku menghapus jejak air matanya dengan mengecup matanya. Dia sepertinya tersenyum, karena pipinya mengembang di tanganku yang menangkup wajahnya.

“Kyungsoo-ah gomawo, saranghae..”

Aku tersenyum dan membawanya dalam pelukan. Aku bahagia, seandainya aku melakukan ini sejak lama. Kini aku tahu bahwa cinta itu benar-benar buta, apalagi untuk diriku yang buta.

“Nado saranghae, Reha-ya”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s