[KAISOO BIRTHDAY PROJECT] allazfah – Ugly Duckling

Ugly Duckling

[kim jong-in, a man called “Hyung”, xi luhan] [allazfah]

[brothership, life] [pg-13]

 

Ketika pertama bertemu, baik aku maupun kamu tahu: kita sama-sama itik buruk rupa dalam keluarga.

 

 

Pesta telah disiapkan; undangan sudah berdatangan; tetapi sang tokoh utama urung buat datang. Semenit-dua menit bukan pasal. Masalahnya, ini lebih dari dua jam dan itu membikin panik orang-orang di sana.

 

Jong-in menghela napas. Sial, hyung kembali berulah.

 

*

 

Ketika mereka bertemu di salah satu acara keluarga, Jong-in berpikir Tuhan telah mengirimkannya “saudara”: seseorang yang juga ingin bebas, lepas dari tuntutan orangtua mereka untuk menjadi paramedis serta pebisnis. Lakonnya tidak ramah (Jong-in pun yakin pemuda itu menganggap dirinya gila) tetapi, entah mengapa, mereka bisa dekat. Entahlah; mungkin itu karena Jong-in merasa bak melihat refleksinya sendiri sehingga mereka bisa saling mengerti.

 

Ada banyak hal yang mereka sepakati: bahwa mimpi adalah kebebasan yang patut diperjuangkan. Sayangnya, kekuatan dua orang bocah tidaklah cukup untuk mendobrak doktrin keluarga, jadi mereka sepakat untuk diam, diam, dan diam.

 

Pada satu momen di masa remaja, mereka berdua kembali sepakat bahwa itik buruk rupa tidaklah mesti menunggu untuk ditemukan sekawanan angsa; justru, mereka harusnya berani untuk menemukan kawanan angsa itu sendiri.

 

“Jika aku bisa bebas, aku akan naik ke gedung tertinggi dan berteriak sepuasnya pada rembulan.”

 

“Kau gila, tapi aku setuju.”

 

Bagi orang dewasa, mereka serupa binatang buas yang dilepas di belantara masa remaja: liar, naif, dan kekanakan. Namun, mereka tidak menghiraukannya sebab orang-orang pasti bakal menulikan telinga atas pendapat mereka. Hanya sesama itik buruk rupa yang saling mengerti bahwa tinggal di lingkungan yang berbeda denganmu sama saja dengan mati perlahan.

 

Secepatnya, mereka harus lahir kembali.

 

Jong-in masih bisa bernegosiasi dengan idealismenya—jadi ia menetap di rumah sembari mempersiapkan rencana pelarian terapik—sedangkan hyung-nya lebih meledak-ledak. Ia bisa hilang selama seminggu dan muncul tanpa rasa bersalah. Orangtuanya tidak bisa berbuat apa-apa (mungkin mereka sibuk meluruskan opini publik tentang kesintingan anaknya), sedangkan Jong-in lebih dari tahu apa yang Hyung inginkan atas hal tersebut.

 

Jong-in menghampiri samchon dan imo-nya. “Aku akan membawa Hyung pulang. Samchon tenang saja.”

 

*

 

Peron Stasiun Yongsan—hanya Jong-in yang tahu dan memang itulah yang mereka mau. “Datang saja ke sini. Kalau aku masih mau hidup sekaligus kembali, aku akan ada di sini.”

 

Udara dingin yang menggigit; Jong-in nyaris kehabisan napas ketika akhirnya sampai di tempat itu. Selalu begitu: ketika keluarga sepupunya meributkan keberadaan sang anak, Jong-in pasti turun tangan menyelesaikannya; bedanya, bau ubi bakar terbawa hingga stasiun bagian dalam.

 

Sembari berjalan ke tempat itu, Jong-in berdoa semoga hyung-nya terbentur tembok, amnesia, lantas berhenti melakukan perjalanan panjang demi cita-citanya; atau, minimal, penghangat ruangan bekerja normal dan ia bisa menemukan hyung-nya di dalam sana.

 

Untungnya, Tuhan sangat baik hati sehingga, sekali lagi, Jong-in dapat menemukannya tidur dengan menyedihkan di kursi ruang tunggu. Orang-orang berlalu lalang, tidak peduli, demi mengejar kereta yang selalu tepat waktu. Mirip ironi.

 

Jong-in menghela napas lega ketika tahu kesadaran pemuda itu masih berkuasa. Ia memindahkan tubuh itu dengan hati-hati saat, tiba-tiba, sebuah cutter lolos dari genggaman tangan hyung-nya. Jong-in terdiam menyadari tangan Hyung membiru dan kaku.

 

“Sial.” Ia menendang cutter itu hingga menghuni rel kereta api. Ketika sepupu dinginnya terbangun, tidak ada yang membahas keberadaan si cutter. Jong-in paham apa yang hyung-nya pikiran dan ia tidak melarang. Mereka sepakat untuk menghargai privasi (meskipun Jong-in kerap mengintervensi isi kepala hyung-nya).

 

Sedangkan Hyung: pastilah pura-pura tidak tahu.

 

“Appa mencariku, ya?”

 

“Hyung, ini hari ulangtahunmu, sebagai informasi.”

 

Hyung terkekeh, sedangkan Jong-in, untuk kesekian kalinya, termenung, sembari memandang gedung pencakar langit yang mengerdilkan mereka berdua. Jujur, ia dapat dengan mudah pergi dari negara ini. Namun, rencananya selalu gagal tiap ia memikirkan konsekuensi atas hal tersebut. Tidak ada orang yang tahan dengan kesendirian dalam tekanan. Ia beruntung bisa punya teman tetapi bagaimana dengan sepupu pendiamnya? Bagaimana… jika itik itu tidak bisa menemukan koloni dengan berakhir di salah satu stasiun negara ini?

 

Aku seperti pembunuh.

 

Ketika hampir sampai di halte bus, pemuda berkulit hitam itu akhirnya buka suara, “Hyung, kau tidak bisa begini terus. Kau tahu, kan, aku bisa pergi kapan saja… Kalau kau tidak memberitahukan ini ke orang rumah, siapa yang bakal menyelamatkanmu?”

 

Karena sama-sama dipasung, Jong-in tahu hyung-nya lebih menderita… sebab ia bertarung dengan suara-suara dalam kepala. Itulah yang membuat Jong-in benar-benar protektif; sebab tidak ada yang mau memperhatikan kecuali ia seorang. Cuma dirinya.

 

“Aku yakin mereka malah tidak akan mengizinkanku pergi,” sergah pemuda berambut arang itu cepat, “Jong-in, kau yang paling tahu seperti apa kita. Jika terang-terangan, tidak akan ada yang bisa mengerti kita. Hanya kau dan aku.” Langit menggelap, “Jadi, diam saja dan jemput aku selama kau masih bertahan di rumah. Urusan setelah kau pergi itu masalah kesekian. Yang penting berjanji saja padaku.”

 

Menyedihkan, menyadari hanya segelintir orang yang dapat kaupercaya di dunia.

 

“Kau bisa, kan?”

 

Jong-in menatap langit berbintang di pantulan kubangan air. Bus telah datang dan, sekali lagi, hyung-nya menjadi alasan untuk bertahan di tengah doktrin kekuasaan keluarga.

 

“Iya, iya,” Jong-in menyerah, memilih mencari alternatif untuk merayakan hari bersejarah yang berakhir kurang dari dua jam, “omong-omong, mau kutraktir sesuatu? Berhubung pesta ulang tahunmu batal.”

 

Ada beberapa hal yang hanya bisa dijawab bersamaan dengan berjalannya waktu dan sampai itu terjadi, Jong-in tidak tahu bagaimana ini akan berakhir.

*

Dua hari kemudian, Xi Luhan menerima telepon dari nomor yang sangat ia hafal. “Hei, Lu, sepertinya aku batal kabur ke China… lagi.”

 

“Syukurlah, setidaknya indekosku tidak tambah penuh gara-gara kedatanganmu.”

Jong-in tertawa, lagi dan lagi.

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s