[EXOFFI FREELANCE] Universe in His Eyes (Chapter 3)

Title                 : UNIVERSE IN HIS EYES – Chapter 3

Author             : Arifia Pahlawan (Wattpad: @arifiart)

Length             : Chaptered

Genre              : AU, Friendship, Romance, School-life.

Rating              : PG 15

Main cast        :

  • Oh Serin (oc)
  • Do Kyungsoo
  • Byun Baekhyun
  • Park Chanyeol

Summary         : Serin bertemu dengannya lagi, pemilik mata tajam yang selalu membayangi pikirannya selama bertahun-tahun. Ia selalu ingin menghindar dari ingatan akan lelaki itu, namun semesta justru membuatnya semakin terjebak dengan kehadiran pria itu.Disclaimer       : Cerita ini merupakan bentuk dari imajinasi author. Jika terdapat kemiripan pada nama tokoh, tempat ataupun jalan cerita, hal itu merupakan unsur ketidaksengajaan.  Dilarang keras untuk memplagiatkan atau merepost karya ini tanpa seizin author. Please leave comment after reading. Thank you so much and happy reading! ❤  ●●●

CHAPTER 3

-The Eyes-

 

 

Serin tersentak dan langsung mengangkat kepalanya. Oh, aku tertidur. Ia mengucek matanya sebentar dan menyadari keadaan di sekelilingnya. Ia telah tertidur sesaat ketika kelas tengah berlangsung. Ia selalu begini setiap kelas pagi, karena itu ia sungguh benci jika harus menghadiri kuliah dalam keadaan belum cukup tidur.

Ia menopang dagunya sambil mendengarkan kuliah dari professor. Ah, sampai mana tadi penjelasannya? Aku sudah tertinggal jauh. Pikirnya dalam hati.

Serin memandang langit yang kerap menggodanya dari balik jendela ruang kampus. Ia sungguh tidak bisa berkonsentrasi hari ini. Mungkin karena ia terbangun kaget saat ketiduran tadi. Sebenarnya ia tipe yang sulit fokus, atensinya mudah terdistraksi oleh hal lain. Dan detik ini, perhatiannya sedang teralihkan oleh cantiknya pemandangan langit pagi.

Awan bergerak lambat, sepertinya hari ini akan cerah seharian. Ia terus menatap langit itu selama beberapa detik dan tiba-tiba saja ia mendadak menaikkan sebelah alisnya. Baru saja ia merasa menemukan sepasang mata seperti sedang mengawasinya di antara awan-awan itu. Sepasang mata tajam yang sepertinya ia pernah lihat. Serin mengerjapkan matanya dan kembali membelokkan matanya ke langit tempat ia menaruh lamunannya tadi.

Aku pikir aku baru saja melihat sesuatu. Sepasang mata tajam yang tidak asing bagiku.

Entah mengapa tiba-tiba Serin terbesit akan seseorang yang mengingatkan pada mata itu.

Apakah aku…

Lamunannya terhenti saat professor menyudahi kelas. Ia melihat teman sekelasnya sudah membereskan meja dan hendak keluar dari ruangan. Ia pun langsung ikut membereskan buku-bukunya di atas meja dan memasukkannya ke dalam tas, kemudian langsung berjalan keluar dari gedung kampus.

Serin melirik ponselnya dan tidak mendapat satupun pesan. Mungkin Chanyeol dan Baekhyun masih ada kuliah. Ia berjalan menuju sebuah kursi kayu di antara pohon rindang di dekatnya. Taman kampus juga masih terlihat sepi karena sebagian besar mahasiswanya masih mengikuti perkuliahan.

Serin merekatkan mantelnya. Dingin. Tapi entah kenapa ia benar-benar ingin duduk di luar di tengah cuaca yang lumayan menusuk tulang seperti ini. Sekarang sudah musim gugur dan sebentar lagi akan memasuki musim dingin. Tiba-tiba ia merasa sepi. Apakah pergantian musim benar-benar memiliki pengaruh sebesar ini terhadap perasaan seseorang?

Beberapa orang terlihat berlalu-lalang sambil mengeratkan syalnya masing-masing. Mereka juga pasti merasa kedinginan sama sepertiku. Tapi entah mengapa hanya aku yang terlihat sedang menikmatinya. Dan di sisi lain, aku seperti merasa kosong di waktu yang sama. Seperti ada kerinduan yang melekat di musim ini. Tapi… apa? Serin terus bergumam dalam hatinya. Ia melihat daun-daun yang jatuh berguguran beberapa meter di depannya seakan sedih melihat dedaunan itu berjatuhan seperti itu.

Tiba-tiba Serin merasakan sesak. Ia memegang dadanya. Ah, sesak sekali. Rasanya seperti orang yang baru patah hati saja. Namun ia sendiri tak mengerti akan perasaan-perasaan yang sedang menguasai tubuhnya. Ia seperti merasa sedih tapi ia sendiri tak dapat mengingat sedih karena hal apa.

Serin mengeluarkan ponselnya dan menulis pesan di grup untuk Chanyeol dan Baekhyun.

Kalau kalian sudah selesai, cepat temui aku. Aku begitu kesepian 😦

Ia menghela napas kemudian memejamkan matanya sambil menguatkan indera lainnya. Sepi sekali. Ia jadi teringat momen ketika Baekhyun pindah rumah dan pergi meninggalkan dirinya. Rasanya mirip seperti itu. Tapi perasaan itu hanya berlangsung sementara karena sampai sekarang Baekhyun masih tetap dekat dengannya dan selalu menemaninya seperti tak ada yang berubah sama sekali.

Entah dari mana datangnya, Serin seperti mendengar suara riuh dari kejauhan. Tapi ia tetap memjamkan matanya seolah tak ingin peduli dengan keadaan di sekitarnya. Tapi suara riuh itu lama-lama semakin mendekat. Ia membuka matanya dan menoleh ke arah datangnya suara.

Oh? Suara itu suara para wanita sedang berteriak. Berisik sekali, mereka seperti sedang bertemu idol saja.

Ia diam saja dan tiba-tiba kepikiriran sesuatu. Tunggu dulu, apakah kampusnya sedang kedatangan idol? Serin langsung membuka matanya lebar-lebar dan melihat gerombolan wanita itu seperti sedang mengejar seorang pria. Apa pria itu seorang artis?

Seorang pria yang tidak terlalu tinggi terlihat berjalan cepat menghindari gerombolan wanita yang sedang menjerit histeris. Ia memakai pakaian serba hitam. Serin tak dapat melihat wajahnya dengan jelas karena pria itu menutupi kepalanya dengan topi baseball warna hitam dan masker dengan warna senada.

Serin terus memerhatikani gerak pria itu hingga ia tak sadar kalau pria bermasker itu sedang berjalan cepat ke arahnya.

“Tolong aku,” ujar pria asing itu mendadak. Serin hanya membelalak bingung karena ia sungguh tidak mengerti apa yang terjadi. “tolong sembunyikan aku. Aku harus pergi dari sini.” katanya lagi yang membuat Serin kebingungan sungguh tidak tahu harus berbuat apa. Sedetik kemudian ia langsung tersadar bahwa pria ini sedang membutuhkan pertolongan darinya. Kemudian ia spontan bergerak dan meminta pria itu untuk mengikuti dirinya.

Serin berlari menuju gedung perpustakaan dan pria itu berlari mengikuti arahnya. Ia sungguh tak mengerti kenapa mendadak harus terlibat hal seperti ini. Ia biasanya bukan tipe yang selalu membantu orang tapi entah kenapa pria asing ini datang kepadanya dan ia sungguh terlihat seperti benar-benar butuh pertolongan. Apakah pria di belakangnya ini benar-benar seorang artis?

Ia hampir tidak percaya dengan apa yang baru saja dipikirkannya. Serin menarik pria bermasker itu menuju sisi gedung perpustakaan. Gedung perpustakaan itu bersebelahan dengan area hijau kampus. Di sampingnya banyak semak-semak tinggi yang terawat. Tinggi semak-semak itu lebih tinggi dari kepala orang dewasa. Entah mengapa ia membawa pria itu ke sini.

Serin berjongkok menyandarkan bahunya di sisi gedung perpustakaan yang juga tertutup oleh semak-semak tinggi itu untuk bersembunyi. Napasnya terengah-engah.

“Ah, sebenarnya apa yang sedang aku lakukan, sih?” Serin bertanya pada dirinya sendiri sambil mengatur napasnya. Ia sungguh tidak percaya harus berlari di tengah udara dingin yang sudah membuat otot-ototnya kaku. Mengapa juga ia mau repot-repot seperti ini? Padahal biasanya kan ia tidak pernah peduli.

Pria itu sedang dalam posisi berdiri dan terengah-engah sambil memegangi pinggangnya. Pria ini pasti juga lelah karena sudah berlari agak jauh, pikirnya. Ia menatap pria asing itu sekali lagi namun tetap tidak berhasil melihat tampangnya. Wajahya benar-benar tertutup masker dan mata pria itu terhalang oleh topi baseball hitamnya.

Belum ada semenit ia mengontrol napasnya, tiba-tiba suara langkah kaki yang mengejar mereka kembali mendekat. Serin langsung panik dan menarik tangan pria itu untuk jongkok di dekatnya agar keberadaannya tidak terlihat. Lelaki itu sungguh terkejut tangannya ditarik seperti itu hingga hampir terjatuh.

Serin menarik tangan pria itu dengan mendadak sekali sehingga lelaki asing itu kehilangan keseimbangan. Lelaki itu hampir saja terjatuh namun ia berhasil menahannya dengan menyandarkan tangannya di tembok yang sedang dipunggungi Serin. Serin begitu terkejut karena ia menyebabkan pria ini hampir terjatuh sehingga wajah mereka tiba-tiba menjadi begitu dekat. Kalau pria ini tidak menahan tangannya di tembok itu, mungkin wajah pria itu sudah menyeruduk Serin.

Wajah lelaki asing ini begitu dekat dengan wajahnya. Ia sangat terkejut hingga membelalakkan matanya saat melihat mata pria itu. Lelaki asing ini pun juga tidak kalah terkejut sama seperti Serin. Mereka saling menatap selama beberapa detik.

Samar-samar suara pemilik langkah kaki-kaki itu kembali menjerit seperti mencari sosok yang sedang mereka kejar. “Kyaaaaa!!! Dio! Dio oppa!!!”

Di saat yang sama, suara itu menyadarkan lamunan Serin yang terus beradu tatap dengan lelaki itu.

Nama itu…

Nama itu membuat Serin sepenuhnya tersadar seakan langsung mengenali sosok lelaki yang sedang berjarak hanya beberapa senti di depannya.

Nama itu…

Serin mendapatkan sebuah pasang mata yang sungguh tidak asing di hadapannya.

Ah, mata itu…

 

 

-To Be Continued-

 

 

Author’s note  : Mohon maaf kalau cerita per chapter terlalu pendek, karena saat aku menulis cerita ini sebenarnya aku masih memikirkan plot seperti apa yang akan kubawakan di judul ini karena Universe in His Eyes merupakan fanfic pertama yang kubuat. Aku sangat terbuka dengan kritik dan saran dari para readers, kalian bebas berikan masukan di bawah. Terima kasih banyak sudah mampir ke fanfic-ku. Semoga hari kalian menyenangkan! Luv!

2 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Universe in His Eyes (Chapter 3)”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s