[KAISOO BIRTHDAY PROJECT] Specious

Specious

Kim Jong In, Yue (OC) | Romance, Psychological | PG-15

Kim Jong In tidak sebaik yang orang-orang kira, dan hanya Yue yang tahu.

***

Setelah memarkirkan mobilnya, Jong In mulai merajut langkah memasuki kedai, tempat di mana ia akan menunggu pujaan hatinya senja ini. Tak heran jika senyum manis di bibirnya tak henti menjuntai, bahkan ketika Jong In sudah terduduk di salah satu meja di dekat jendela kaca.

“Ternyata di sini kau rupanya, Jong In.”

Seorang gadis pemilik sumber suara sudah berdiri di samping Jong In. Gadis itu terlihat sangat manis dengan casual shirt dan rok pendek yang jatuh di atas lutut.

“Aku sudah mengatakan padamu, Yue. Aku tidak suka jika kau membiarkan benda itu menempel di tubuhmu.”

Yue, gadis itu langsung menarik satu kursi di depan Jong In. Ia juga menarik nafas panjang ―langsung mengerti―jika yang dimaksud oleh Jong In adalah rok pendek yang ia kenakan.

“Ini trend, Kim Jong In sayang,” nadanya terdengar tenang, namun penuh dengan sindiran.

“Aku tahu,”

“Bukankah kau pernah mengatakan jika kau menyukai ini ?”

“Tentu saja, tapi tidak di keramaian. Aku takut jika pria hidung belang berbuat macam-macam padamu, Yue.”

Yue tahu, Jong In sangat benci pada tingkah laku para pria mesum di Melbourne. Apalagi jika sampai melukai wanita dengan mengganggahinya tanpa suatu ikatan. Biasanya pria-pria seperti itu tidak akan mempertanggung jawabkan perbuatan mereka. Jongin tidak suka melihat wanita dicampakkan. Tidak suka melihat wanita-wanita di rendahkan, ditinggalkan begitu mereka sudah mendapatkan apa yang mereka inginkan. Dan paling tidak suka jika melihat wanita sengsara seumur hidupnya hanya karena seorang pria.

“Wanita yang menjadi korban kejahatan oleh kaum pria, akan menanggung malu sepanjang hayatnya dan melukai psikis wanita itu sendiri. Sedangkan anak dari hasil kejahatan itu ? Aku bahkan tak bisa membayangkan bagaimana jika anak itu kelak bertanya pada ibunya kemana ayahnya pergi.”

“Iya Kim Jong In, aku salah. Aku minta maaf.”

Jong In berdiri sembari melepaskan coat-nya. Pria tan itu dengan sigap melilitkan coat miliknya ke pinggang Yue dengan amat hati-hati. Yue dapat melihat wajah Jong In dari dekat saat ini. Ia suka mengamati wajah Jong In dari jarak sedekat ini.

Tampan, seperti biasanya.

Gadis itu bahkan secara tidak sadar mengecup pipi Jong In yang berada tepat di sampingnya. Jong In tentu tidak terlalu terkejut dengan hal ini, Yue sudah sering kali mencuri kecupan di pipinya tanpa izin darinya.

“Nakal. Jangan diulangi !” kata Jong In, sembari menarik sudut bibir Yue cukup kencang menggunakan tangan pria itu.

“Iya, iya. Maaf.”

Jong In akhirnya melepaskan tarikannya dari sudut bibir Yue. Setelah itu menarik satu tisu dari kotak, benda itu mendarat di bibir Yue. Jong In menghapus lipstick merah menyala yang dikenakan gadis itu.

“Aku juga tidak menyukai yang satu ini.” kata Jong In, sebelum melemparkan tisu ke tempat sampah. Setelah itu duduk kembali di tempat semula.

“Kau berlebihan, Kim Jong In. Ada apa denganmu ?”

“Aku tak mau hal buruk terjadi padamu, Yue .” kata Jong In, matanya kembali tertuju pada keramaian kota Melbourne.

“Kenapa ? Karena kau mencintaiku ?”

“Semua wanita memang patut dicintai.” sepasang mata Jong In kini menatap ke arah Yue. Tangan pria itu terulur untuk merapikan surai Yue yang menutupi wajahnya.

“Jadi, kapan kau membalas cintaku ?” Yue memang semudah itu dalam menyatakan sesuatu yang menurut Jong In bukan main-main.

Jong In yang mendengar itu, hendak menarik tangannya dari surai Yue. Namun tidak sampai karena Yue menahannya, dan mendaratkan kecupan singkat di telapak tangan si pria tan.

“Aku mencintaimu, Kim Jong In.”

Jong In menatap Yue dengan tatapan itu lagi. Tatapan penyesalan yang sangat mudah dikenali oleh Yue. Tatapan rasa bersalah yang amat kentara di mata sayunya.

Yue mengikuti arah pandang Jong In, yang terfokus pada seorang wanita yang menenteng beberapa paper bag di luar jendela. Rambut hitamnya tergerai panjang, dress sederhana yang dikenakan wanita itu juga terasa sangat pas di tubuhnya. Wanita itu terlihat sederhana, namun penuh dengan sejuta pesona.

“Kau gila, Kim Jong In―”

“―kau lebih buruk dari pria hidung belang yang sering  kau  ceritakan selama ini.”

Ternyata hingga saat ini Jong In belum bisa lepas dari wanita yang berdiri di luar jendela itu. Jong In masih sangat mencintai wanita itu. Yue tahu, seharusnya ia tak perlu repot-repot untuk mengemis cinta pada Kim Jong In, setelah ia tahu cinta Kim Jong In pada wanita di luar jendela itu tidak main-main. Dan mungkin wanita itu juga yang menjadikan alasan Jong In membeci semua pelaku kejahatan terhadap wanita.

“Maafkan aku.” kata Jong In, pandanganya masih belum lepas dari sosok wanita yang sedang berbincang dengan rekannya di samping jalanan Melbourne itu.

Yue tidak mau ambil pusing dengan Kim Jong In, ia tahu hasilnya akan tetap sia-sia. Yue lebih memilih untuk mengambil tasnya di atas meja dan beralih meninggalkan Jong In―yang masih setia mengamati wanita yang sangat dipuja-puja oleh pria tan itu. Yue berjalan dengan anggun, menghampiri si wanita pujaan hati Jong In. Tak lupa membentuk senyuman sebelum membuka suara.

“Kim Jong In ada di dalam, dia sudah menunggu anda.”

Wanita itu mengukir senyuman tulus di bibirnya. Ia meraih bahu Yue, sebelum membalas, “Terima kasih, Yue. Terima kasih sudah menemani putraku.”

 

End

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s