[KAISOO BIRTHDAY PROJECT] Schicksal

Schicksal

Kyungsoo, Ayah Kyungsoo | Life, Psychological, Surrealism | G

“Beri tahu padaku satu alasan kenapa aku tidak bisa melakukan hal itu !”

***

“Mundur, Nak. Kau bisa mati !”

Kyungsoo mengambil langkah mundur, setelah suara serak pria tua di belakangnya merambat ke udara.

“Aku lupa, maaf.” kata Kyungsoo pada pria tua di sampingnya.

Pria tua itu tak membalas, hanya membingkai senyuman. Netranya sibuk menikmati hiruk pikuk jalanan malam ini. Kyungsoo heran dengan pria tua di sampingnya, padahal tidak ada hal menarik yang bisa diamati. Hanya beberapa manusia yang berlalu lalang tak ada hentinya.

Kyungsoo menatap rintik hujan yang menjatuhi sebagian tubuhnya, pun juga dengan pria tua di samping Kyungsoo. Mereka sedang berteduh di depan pelataran toko tua yang sudah tak terpakai. Berdiri di sana, menunggu rintik hujan reda.

Sudah 1 jam Kyungsoo menunggu, rintik hujan tak kunjung reda. Ia menggeram kesal. Apalagi saat beberapa orang yang berjalan di depan mereka memberikan tatapan tidak suka sekaligus jijik pada Kyungsoo dan pria tua di sampingnya.

Kyungsoo menatap pantulan wajahnya sendiri dari serpihan kaca. Sang empu menyadari jika wajahnya saat ini memang lusuh dan kotor. Begitu juga dengan pria tua di sampingnya. Ini terjadi karena mereka baru saja bekerja keras untuk bisa menunjang kehidupan di kota orang-orang berkantong tebal. Waktu 24 jam di sini hanya digunakan untuk mencari makan, tak jarang juga mereka mengais makanan sisa di tong sampah atau restaurant.

Kehidupan memang sangat berat, mereka yang mampu hidup adalah mereka yang mampu berusaha. Kyungsoo sudah diajarkan bagaimana usaha menjadi kunci utama kehidupan. Jadi hidup Kyungsoo hanya dipenuhi usaha, usaha, dan usaha, jika ia ingin bertahan.

Kyungsoo sudah terbiasa dan terlatih, entah mengapa semuanya terasa bertambah berat saat orang-orang yang tak mengerti seberapa besar usahanya untuk hidup, malah memaki atau meludah di depan mereka.

“Ayah, kenapa kau diam saja ? Beberapa dari mereka sedang menghina kita ! ” Kyungsoo mulai mengadu pada pria tua di sampingnya―yang ternyata merupakan ayah Kyungsoo.

Pria itu lagi-lagi membingkai senyuman, tanpa berniat membalas pengaduan Kyungsoo yang sering sekali didengarnya.

“Mereka menghina kita, Ayah !”

“Mereka mengatakan orang seperti kita tidak pantas hidup di sini,  melalui tatapan yang mereka berikan pada kita ! ” lanjutnya.

Lagi-lagi Kyungsoo mengeluarkan rasa ketidaksukaannya. Tapi nyatanya si pria tua masih sibuk mengamati hiruk pikuk jalan raya. Ternyata mengamati orang berlalu lalang dengan― barang-barang branded yang menempel di tubuh mereka―lebih menarik dibandingkan mendengarkan keluhan Kyungsoo yang mungkin tidak akan ada habisnya.

“Ayah !” Kyungsoo mulai geram, si pria tua tidak menggubris ucapannya sedari tadi.

“Kau lapar, ‘kan ?”

“Jangan mengalihkan pembicaraan !” potong Kyungsoo.

“Baiklah.”

“Kenapa kau selalu diam melihat orang-orang itu menghina dan tak menginginkan keberadaan kita ?”

Si pria tua yang masih membingkai senyuman, kini mengalihkan netranya pada pria bermata bulat di sampingnya itu.

“Karena ini takdir.” Jawab si pria tua, singkat.

“Aku tidak suka, aku ingin membalas mereka semua suatu saat nanti !” Kyungsoo tetap bersikeras.

“Itu tidak mungkin.”

“Kenapa ? Karena takdir ? Ibu bahkan mati karena ulah orang-orang yang besar kepala itu. Dan reaksimu tetap sama saja ketika mereka masih menghina kita sampai sekarang ! ”

“Nak !”

“Aku tidak suka jika mereka merendahkan kita dan tidak menyukai keberadaan kita. Bukankah kita juga punya hak untuk hidup ?”

“Iya, aku tahu.”

“Aku akan membuat perhitungan dengan orang-orang itu. Aku akan membuat mereka menyesal karena telah merendahkan kita, suatu saat nanti aku akan berdiri di atas mereka semua !”

“Kyungsoo, cukup !” si pria tua mulai kehilangan kesabaran.

“Apa lagi ?”

“Kau tidak akan pernah bisa melakukan hal itu !”

Hening sejenak. Kyungsoo berusaha meredam semua emosi yang menutupi akal sehatnya.

“Beri tahu padaku satu alasan kenapa aku tidak bisa melakukan hal itu !” tanyanya setelah nafasnya sudah kembali normal.

Si pria tua yang menatap keramaian, terlihat menarik nafas dalam. Sebelum suaranya memecah keheningan dan membisukan Kyungsoo hingga tak mampu melontarkan suaranya lagi.

“Karena ini takdir, Kyungsoo. Kita hanya tikus jalanan.”

 

End

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s