Vēnor Chapter 2 – [My Name] by Heena Park

Venor (4)

a FanFiction by Heena Park

-cover by l18hee

.

x Han Leia

x Alexander Maximilian de Frankai [Kim Jongin]

x Lee Taeyong

x Richard Tyroon Alcender [Park Chanyeol]

x Stephen Davon Alardo [Oh Sehun]

x etc

.

Fantasy – Romance // PG-15 // Chaptered

.

Instagram : heenapark.official

Line@ : @fbo0434t

.

Summary;

Alexander Maximilian de Frankai, seorang Dewa Laut—putra Poseidon—diusir dari Olympus ke Bumi karena dituduh berusaha membunuh putra Zeus, Stephen Davon Alardo sang Dewa Petir dan Cuaca.

Untuk bisa kembali ke Olympus, Alexander harus menemukan keberadaan El Dorado, lalu mengambil sebuah pedang emas milik Kronos dan mendapatkan sesuatu yang paling murni di dunia. Di mana pada akhirnya hal ini mampu menunjukkan takdir dan siapa dia sebenarnya.

.

ps : Nanti mereka bakal tetep make nama Kim Jongin, Park Chanyeol, dll kalau sudah di bumi. Kalau sebagai Dewa mereka tetap menggunakan nama Dewa masing-masing.

.

PrologueChapter 1

.

ᴥᴥᴥ MY NAME ᴥᴥᴥ

 

 

Selama ini Leia memang sering melakukan hal-hal bodoh dan ceroboh, namun tidak ada yang lebih parah daripada sekarang. Entah kerasukan setan apa sampai ia memiliki keberanian untuk membawa pria yang kemarin malam pingsan di dekat kelab malam ke rumahnya.

Meskipun ia berhasil membangunkan pria itu semalam, tetap saja kesadarannya tidak seratus persen kembali, sehingga dengan susah payah Leia merangkul pria mabuk itu ke rumahnya. Kalau ayahnya tahu bila Leia membawa pria tak dikenal ke rumah, entah sebesar apa kemarahannya nanti. Untung saja Leia tidak begitu dekat dengan sang ayah, dan lelaki itu juga sangat jarang berkunjung ke rumahnya.

Ia mengamati pria yang masih tertidur di atas ranjang tersebut. Bukankah seharusnya pria yang melakukan ini? Menolong gadis yang sedang mabuk dan diamankan ke rumahnya, tapi kenapa sekarang malah terbalik? Kenyataan yang terjadi adalah sang gadis yang membantu pria itu.

Detik berlalu, menit berjalan, lelaki itu mulai mengerjap-kerjapkan matanya. Tubuhnya menggeliat, ia berusaha untuk duduk dan memegang kepalanya, menahan pusing yang cukup menyiksa.

“Kau bangun juga akhirnya,” celetuk Leia. Ia masih setia pada posisinya, duduk di kursi sembari bersilang kaki dan mengamati pria yang sepertinya mulai kebingungan tersebut.

Pria itu meringis, ia menekan sebentar pelipisnya dan mengamati keadaan sekitar. “Di mana aku?” tanyanya tanpa sadar.

Pertanyaan mainstream. Leia sudah menebaknya. Ia bangkit dan meraih jas milik pria itu yang tergeletak di atas sofa, kemudian menyodorkannya.

“Aku harus pergi ke sekolah sekarang, lebih baik paman segera pergi.”

“Paman?” Pria itu memicingkan matanya. Bagaimana mungkin gadis SMA ini memanggilnya paman? Wajah mereka bahkan tidak jauh berbeda! Ia tidak suka dianggap tua. “Aku belum pernah dipanggil setua itu. Pasti ada kesalahan di matamu,” jawabnya tak suka.

Tunggu, apa pria ini sedang mengajaknya berdebat? Kenapa mereka harus meributkan masalah panggilan sepagi ini?

“Astaga, sulit dipercaya.” Leia menyilangkan kedua lengannya. “Oke, Tuan mabuk, sebaiknya anda pergi sekarang karena saya harus pergi ke sekolah.”

Tuan mabuk?

Yang benar saja!

“Tuan mabuk? Apa kau tidak punya sebutan yang lebih baik dari itu?”

Leia merasa tidak tahan. Ia kehabisan kesabaran dan menarik paksa pria itu untuk berdiri, kemudian tanpa permisi mendorong punggungnya agar mau berjalan keluar rumah.

“Aku tidak punya waktu untuk obrolan tidak penting ini. Tuan, sebaiknya anda segera pergi!” tegasnya sekali lagi.

Lelaki bertubuh tingga-tegap di depannya tersebut membalik badan dan menatap Leia kesal. “Bukankah kau yang kemarin membawaku ke rumahmu? Kenapa kau sekarang mengusirku?”

“Aku bisa gi—“

“Han Leia!”

Keduanya menengok bersamaan. Leia refleks membelalakkan matanya begitu menyadari Taeyong sudah berdiri di depan pagar rumahnya sambil menatap gadis itu penuh tanya.

Gawat, bagaimana caranya ia menjelaskan mengenai pria asing ini kepada Taeyong? Leia tidak mungkin mengatakan apa yang terjadi kemarin, lagipula Leia juga belum bertanya apakah pria itu adalah orang yang membuat dua orang mabuk kemarin terbang dan terjatuh di atas mobil. Bisa saja dia salah lihat, kan?

Tidak perlu menunggu balasa dari Leia, Taeyong sudah lebih dulu berjalan mendekati keduanya. Ia secara terang-terangan melemparkan tatapan penuh tanya pada pria asing yang berdiri di samping Leia.

“Siapa dia?” tanyanya sembari menggerakkan dagu.

Tiba-tiba seluruh tubuh Leia terasa kaku. Ia tidak tahu harus mengatakan apa pada Taeyong. Beberapa kali ia berdehem, berusaha untuk mencairkan suasana.

“Ah? P-pria i-ini?” Ia melirik pria di sampingnya dan tertawa hambar. “Mmmm… dia…” ayo, pikirkanlah sesuatu! Taeyong tidak boleh sampai tahu! “dia… dia adalah sekretaris ayahku. Ya, ayahku menyuruhnya ke sini untuk memastikan bahwa aku baik-baik saja.”

“Sekretaris ayahmu?”

Sekali lagi Leia menggerakkan tubuhnya dengan kaku, tak lupa tawa hambar masih menyertainya. “I-iya, benar kan, Sekretaris Kim?”

Pria yang dipanggil Sekretaris Kim itu hanya mengerutkan keningnya tak senang, ia hampir membantah ucapan Leia, namun gadis itu sudah lebih dulu menginjak kaki kiri pria di sampingnya agar tidak mengatakan apa yang sebenarnya terjadi pada mereka.

“Ya, aku adalah sekretaris ayahnya,” jawab pria itu ketus. Ia meringis dan melemparkan tatapan marah pada Leia.

Apakah gadis itu mau bertanggung jawab kalau kakinya terluka?

Nampaknya penjelasan yang diberikan Leia tidak cukup memuaskan bagi Taeyong. Ia merasa aneh kalau ayah Leia memiliki sekretaris semuda ini. Kalau dilihat-lihat, pria yang sedang bersama Leia sepertinya masih berusia awal dua puluhan.

“Bukankah terakhir kali sekretaris ayahmu adalah Tuan Lee? Aku tidak tahu kalau Tuan Lee sudah berhenti bekerja.”

“Ah? Tuan Lee?” Sial! Kenapa dia masih ingat sih? “Tidak, Tuan Lee tidak berhenti bekerja. Maksudku… Sekretaris Kim adalah pegawai baru ayahku dan ya, ayahku memiliki dua orang sekretaris sekarang hahahaha.”

“Oh, begitu.” Taeyong mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia kemudian berdiri tegap dan membungkukkan tubuhnya selama beberapa saat untuk memberikan salam pada orang yang dipanggil Sekretaris Kim tersebut. “Senang bertemu dengan anda, Sekretaris Kim?”

“Kim Jong In! Sekretaris Kim Jong In!”

Lagi-lagi Leia mengarang nama. Ia tidak tahu mendapat ide dari mana untuk menggunakan nama itu. Semoga saja si Tuan mabuk tidak keberatan melakukan sandiwara dan mengikuti alur yang dibuat Leia sekarang.

Okay,” Taeyong berhenti sebentar, ia meraih tangan Leia dan menariknya hingga gadis itu berdiri tepat di sampingnya. “Maaf karena aku tidak mengantarmu pulang kemarin malam. Aku akan mengantarmu ke sekolah hari ini, bagaimana?”

Kebetulan sekali Taeyong menawarkan untuk mengantarnya ke sekolah. Kesempatan ini bisa ia gunakan untuk menghindari pria aneh yang kemarin dibawahnya ke rumah.

Leia mengangguk antusias. “Baiklah, ayo kita pergi,” balasnya cepat. Untuk mengakhiri sandiwara, Leia membungkukkan badan di depan pria asing itu lalu kembali berkata, “Sekretaris Kim, aku pergi dulu. Terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk mampir.”

Buru-buru Leia menarik tangan Taeyong agar berjalan bersamanya. Ia tidak menengok ke belakang sama sekali, terserah apa yang akan dilakukan oleh pria asing itu, tapi semoga saja dia langsung pergi.

Tidak ada percakapan antara Leia dan Taeyong sepanjang perjalanan. Pria itu nampaknya sibuk dengan pikirannya sendiri. Hanya dengan meliriknya, Leia sudah tahu jika ada sesuatu yang mengganjal dalam hati Taeyong. Mungkin nanti ia akan bicara jika saatnya dirasa sudah tepat.

Sesampainya di depan gerbang sekolah Leia, Taeyong tidak langsung pulang. Ia menahan lengan Leia agar tetap berdiri di hadapannya. Hal ini membuat Leia bertanya-tanya.

”Ada apa?” tanyanya.

Taeyong menggigit bibir bawahnya, ia sudah memikirkan segalanya kemarin malam. Mungkin apa yang akan dikatakannya setelah ini dirasa berat bagi Leia, tapi Taeyong tidak punya pilihan lain. Lagipula agency tempatnya bernaung sudah meminta Taeyong untuk mulai berhati-hati sejak dirinya terpilih sebagai salah satu anggota idolgroup yang akan segera debut.

“Kau sudah tahu kan kalau sebentar lagi aku akan segera debut?” Taeyong mengawali pembicaraan seriusnya. Ia mengerutkan kening, menunggu balasan dari Leia.

“Aku tahu.”

“Sebentar lagi aku akan mulai syuting music video, dan setelah debut mungkin aku akan cukup sibuk untuk promosi. Aku tidak bisa berjanji bisa sering menemuimu, aku juga tidak berjanji kita bisa berjalan berduaan sebebas ini. Maksudku, kau tahu kan? Sebagai rookie aku harus menjauhi skandal.”

Leia terdiam, dia tidak langsung menjawab, melainkan menghela napas gundah. Air mukanya berubah, ada kesedihan yang berusaha ia sembunyikan di sana. Dalam satu sisi Leia tidak ingin menjauh dari Taeyong, tapi di sisi lain ia tidak boleh menghalangi jalan pria itu untuk mencapai mimpinya. Leia tidak boleh egois, Taeyong sudah menanti-nantikan kesempatan debut sejak lama.

Leia mengangguk kaku, kedua ujung bibirnya ditarik bersamaan secara terpaksa. “Tidak apa-apa.” Ia mencoba untuk mengubah pembicaraan dengan melirik sebentar ke layar ponsel yang berada dalam genggamannya, kemudian kembali berkata, “Aku harus masuk. Berhati-hatilah di jalan,” ujarnya yang kemudian langsung membalik badan tanpa mempedulikan Taeyong yang berniat mengatakan sesuatu.

Kalau saja Leia tidak langsung berbalik, mungkin akan muncul perasaan egois dalam hatinya yang meronta agar Taeyong terus menemuinya. Mungkin kalau Leia masih berdiri dan mendengarkan ucapan Taeyong, bukan tidak mungkin ia malah meminta sang ayah untuk membatalkan rencana debut Taeyong.

Ia tidak ingin hal itu terjadi. Ia harus bisa merelakan Taeyong untuk meraih cita-citanya. Ia tidak ingin menjadi benalu yang hanya bisa menyusahkan orang lain. Dari awal mengenal Taeyong pun, Leia sudah tahu konsekuensinya. Ia jatuh cinta pada seorang trainee yang suatu saat harus debut dan menjaga dirinya agar tidak terkena skandal.

“Han Leia!”

Oh ya ampun, kenapa Taeyong harus berteriak memanggilnya sih?

Apa dia berniat membunuh Leia dan perasaannya?

Otomatis Leia berhenti, ia menengok perlahan. Dilihatnya Taeyong sedang melambaikan tangan di ujung sana. Ya, pria itu benar-benar menganggap hari ini sebagai saat terakhirnya bersama Leia.

Tunggu dulu, bukankah seharusnya perpisahan memberikan arti tersendiri bagi mereka yang terpisah? Taeyong bahkan tidak memberinya apapun kecuali penjelasan basi yang sudah diketahuinya sejak lama. Mungkin selama ini Leia memang terlalu keras pada dirinya sendiri. Ia terlalu percaya pada kesemuan semata. Mungkin saja Taeyong memang tidak memiliki perasaan sedalam itu padanya, mungkin saja hanya Leia yang terlalu menyukai Taeyong.

Terpaksa Leia memberikan segurat senyum pada Taeyong, tak lupa gadis itu membalas lambaian tangan pria yang berdiri di ujung sana sebelum kembali berbalik dan melangkah masuk ke sekolah.

 

 

Alexander berbaring di ruang tengah, beralaskan karpet ia menatap langit-langit dengan pandangan kosong. Otaknya berlarian ke sana ke mari. Di satu sisi, ia teringat Ellena, namun di sisi lain, sosok gadis SMA bernama Han Leia itu mulai menyergapi kepalanya.

Ia tak menyangka akan bertemu gadis kecil yang dulu pernah ditolongnya. Tidak, sebenarnya Alexander hanya berusaha menebus kesalahannya karena telah menciptakan badai dan membuat ibu gadis itu meninggal dengan memberikannya mutiara perak dari abu Ellena.

Gara-gara mutiara itu pula Alexander bisa merasakan bila sesuatu yang buruk terjadi pada gadis itu, karena pada kenyataannya, mutiara perak tersebut tidak hanya terbuat dari abu Ellena, melainkan juga secabik jiwa Alexander yang menyatukan abu Ellena hingga membentuk tiga butir mutiara. Dalam kata lain, gadis itu memiliki jiwa Ellena dan Alexander.

“Apa yang harus kulakukan sekarang?” tanya Alexander pada dirinya sendiri.

Tangan kanannya diangkat, kemudian telapaknya diputar sambil dikepalkan. Saat dibuka, duah butir mutiara berada dalam genggamannya.

“Apa kau ingin aku mengambil mutiaramu dari gadis itu?”

Alexander bergeming selama beberapa saat. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan.

“Atau kau ingin kembali hadir dalam hidupku melalui gadis itu?”

Hatinya sakit setiap kali teringat perlakuan Zeus pada Ellena. Andai saja waktu itu Zeus tidak menuduh Ellena dan membunuhnya, andai saja waktu itu Alexander bisa melindunginya dan bukannya malah terdiam karena tak bisa melakukan apa-apa, andai saja waktu itu Alexander bisa menemukan bukti bahwa Ellena tidak bersalah… andai saja waktu itu bisa terulang kembali…

Memori perjalanannya bersama Ellena terputar begitu saja. Alexander teringat bagaimana ia bisa jatuh cinta pada gadis itu, seberapa besar usaha yang dilakukan untuk mendapatkan balasan dan setianya Ellena untuk menemani hari-hari Alexander.

Terlalu menyakitkan untuk mengingat saat itu. Saat paling indah dalam hidup Alexander, memori yang sampai sekarang tidak akan pernah tergantikan.

“Ada apa denganmu?” suara Jaejoong memecah lamunan Alexander. Pria itu duduk di sofa, tepat di samping Alexander yang masih berbaring di atas karpet.

Alexander menggeleng pelan, pandangannya masih lurus ke atas. “Entahlah, aku juga tidak tahu.”

“Ck.” Jaejoong menghela napas panjang, kemudian menyilangkan kedua lengannya. “Apakah kau sudah memiliki niat untuk mencari pedang Kro—“

“Aku bertemu gadis itu kemarin malam.”

Jaejoong otomatis terdiam saat Alexander tiba-tiba memotong ucapannya. Ia mengerutkan kening penuh tanda tanya mengenai siapa gadis yang sedang Alexander bicarakan.

Sebelum Jaejoong sempat kembali membuka mulutnya, Alexander sudah lebih dulu berucap, “Bertahun-tahun lalu, setelah kematian Ellena dan Richard membawanya ke dunia bawah, aku menyusul mereka. Aku bersikeras kembali membawa tubuh Ellena ke Olympus dan mencari bukti bahwa Ellena tidak bersalah. Tapi Richard mengejarku, sehingga aku memilih untuk berlari ke Bumi. Akhirnya aku meminta Richard agar membakar tubuh Ellena, lalu abu perak lah yang kudapatkan.”

“Abu perak? Bukankah itu tandanya jika ia adalah orang yang baik? Maksudku, berarti tuduhan Zeus memang salah?”

Alexander mengangguk. “Iya. Lalu dengan secabik jiwaku, kubuat abu tersebut menjadi tiga butir mutiara. Aku marah, benar-benar marah. Aku berjanji akan membunuh siapa pun yang sebenarnya telah menimbulkan keributan dan menuduh Ellena sebagai tersangkanya. Tanpa sadar, kugunakan kekuatanku untuk membuat badai yang cukup besar karena emosiku yang semakin tersulut. Tiba-tiba aku mendengar suara teriakan seorang anak kecil yang memanggil ibunya, kau tahu kan aku sangat sensitif dengan kata ibu? Suara anak kecil itulah yang berhasil menyadarkanku agar kembali tenang. Aku mencari asal suara tersebut dan menemukan seorang anak kecil dan ibunya tenggelam. Kuselamatkan mereka, kubawa ke tepi pantai. Sayangnya, aku gagal menyelamatkan nyawa ibunya, hanya anak kecil itu yang masih bernapas. Aku tidak ingin membuat kesalahan lagi, akhirnya kuputuskan untuk memberikan sebutir mutiara perak Ellena padanya.”

Jaejoong menatap Alexander tak percaya. Suaranya memelan, “Itu berarti… dalam tubuh gadis itu… terdapat jiwamu dan Ellena?”

“Begitulah… karena itu pula aku bisa merasakan jika dia berada dalam bahaya.” Alexander bangkit, ia duduk bersila. “Sayangnya aku hanya memberikan dia sebutir mutiara, jadi hubungan batin kami tidak terlalu jelas. Aku hanya bisa merasakan keberadaannya jika kami berada dalam jarak yang cukup dekat.”

“Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang?”

Haruskah Alexander mengambil mutiara tersebut dari tubuh gadis itu? Mengingat sepertinya gadis yang ditolongnya sekarang sudah baik-baik saja. Pasti tubuhnya telah membaik, seharusnya tidak apa-apa kalau Alexander mengambilnya.

Ia menengok ke arah Jaejoong. “Mungkin aku akan mengambil mutiara itu. Sudah saatnya bagi Ellena untuk pulang.”

Jaejoong menaikkan kedua alisnya. “Kau yakin? Bukankah sesuatu yang diberikan Dewa kepada Manusia tidak bisa diambil kembali kecuali manusia itu dengan sukarela memberikannya?”

Alexander berdiri, ia meraih mantel yang disampirkan ke sofa, kemudian memakainya. “Tidak apa-apa, aku akan memintanya dengan baik-baik. Aku yakin dia akan mengembalikan mutiara tersebut padaku.”

Lantas, ia mengambil kunci mobil dan mengangkatnya di depan wajah. “Kubawa mobilmu, mobilku berada di bengkel karena kemarin malam dua orang pria terlempar ke atapnya. Oke?”

 

TO BE CONTINUED

11 tanggapan untuk “Vēnor Chapter 2 – [My Name] by Heena Park”

  1. oooooh gitu. i see i see
    jadi bukan karena leia itu adalah ellena tapi karna mutiara yg di kasih jongin. tapi kan kalo mutiara itu di ambil apa leia gak masalah? dia kan dapat kehidupan lagi lewat mutiara itu????
    hmmmm???

  2. Benar kan kalo leia itu gadis kecil yang dielamatin alexander. Kalo alexander minta mutiaranya sama leia, apa leia percaya sama alexander ? Ditunggu kelanjutannya kak

  3. Hem….konflik mulai trlihat pemirsah…
    Ntr jgn jgn kai malah suka beneran nee..trus ga jd ngambil mutiara mlah dksihkan semuaaaaa
    Arghhg tak sbar nunggu selanjutnyaaaaaa

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s