[SHIN TAMA production] – Satnight [ficlet]

SHIN TAMA

Production

Satnight

|| Oh Sehun X Han Yoshie ||

Ficlet || Angst / Friendship || Teen

Yoshie membetulkan letak kacamata baca minus satu miliknya yang menyangkut di hidung bangirnya. Agak risih memang, karena biasanya perempuan itu memakai contact lens. Kelopak matanya sakit dan bola matanya perih. Sungguh kaca mata itu sangat membantu menyamarkan mata Yoshie yang sembab karena menangis semalaman.

“Boss Baby untuk jam 2 siang.” Yoshie berkata kepada petugas kasir bioskop ketika tiba gilirannya membeli tiket.

“Maaf, untuk berapa orang?”

“Satu.”

Yoshie tersenyum masam seusai menerima tiketnya. Ia tahu arti pandangan yang diberikan petugas kasir perempuan tadi ‘Satu tiket? Kau yakin ingin menonton sendirian?’ . Tepat seperti itu jika pandangan si petugas kasir menyuarakan pikirannya. Kemudian ia mengambil tempat di kursi tunggu di depan studio 4. Filmnya akan dimulai setengah jam lagi. Mata Yoshie menyisir sekitar. Lalu berfikir ‘pantas saja petugas kasir itu memberikan pandangan agak aneh ketika ia membeli satu tiket. Itu karena kebanyakan orang yang datang adalah sepasang kekasih, beberapa kuarga, dan segerombolan teman.’ Sepertinya hanya dia yang datang seorang diri.

 

***

 

Film sudah hampir habis. Namun perempuan yang duduk disebelah Sehun belum berhenti menangis. Perempuan itu terisak sejak menit ke 15 film diputar. Di saat semua penonton di studio tertawa geli melihat aksi boss baby di layar lebar, wajah perempuan itu tetap sendu dan menitikan air mata tanpa suara. Hanya samar-samar terdengar dia menarik napas berat karena meredam isaknya. Sehun tahu hati perempuan itu sedang kacau sejak ia melihat dia hendak masuk ke area bioskop. Kalau saja Sehun tidak sigap membuka pintu kaca bioskop, mungkin kepala perempuan itu akan menghantam kaca yang tebalnya 12mm. Cukup tebal untuk membuat kepala memar. Saking sibuknya perempuan itu dengan pikiran dan pandangan kosongnya, dia tidak sadar jika ada seseorang yang membukakan pintu untuknya.

Karena penasaran akan satu hal. Sehun mengambil tempat duduk disebelah perempuan itu. Hanya ingin tahu dan memastikan.

Sehun berdiri di pintu keluar studio 4.

“Nona berbaju biru.” Panggil Sehun. “Ini untukmu. Tenggorokanmu pasti kering karena menangis sepanjang film diputar.” Ia menyodorkan satu cup ice lemon tea.

Yoshie tampak bingung. Ia tidak mengenal laki-laki itu. “Terimakasih, aku sedang ingin sendiri. Jangan menggodaku.” Respon Yoshie sekenanya. Lalu ia melanjutkan langkahnya.

“Aku tidak percaya pada Love at first sight. Aku menawarkan pertemanan tidak bermaksud menggodamu.”

“…” Langkah Yoshie tertahan. Butuh waktu 5 detik untuk mencerna kalimat laki-laki itu. Ia berbalik, berjalan ke arah laki-laki itu. Lalu mengambil cup ice lemon tea yang memang sengaja dibeli untuk Yoshie.

 

***

 

Sehun dan Yoshie memilih restoran ala Jepang untuk menu makan malam. Tempat itu masih satu gedung dengan bioskop. Hari ini mereka saling menyebutkan nama masing-masing, hari ini juga mereka duduk berhadapan dan mengobrol seperti teman lama yang sedang reuni.

“Apakah aku tampak sangat menyedihkan? Sampai kau kasihan padaku dan menawarkan sebuah pertemanan.” Yoshie menuang sake ke gelas, lalu meminumnya sampai habis.

“Kau akan tahu jawabannya ketika kau mengetahui kesedihan orang lain. Semua hal butuh perbandingan, nona.” Sehun mengambil alih botol sake dari tangan perempuan itu. Itu adalah botol yang ke 3, 2 botol lainnya sudah kosong.

“Laki-laki itu membatalkan pernikahan kita.” Air mata Yoshie mengalir lagi. Walaupun sudah ditutupi dengan kaca mata, Sehun masih bisa melihatnya. Air mata yang sebenarnya ingin Yoshie tahan. “Dia bilang takut tidak bisa membahagiakanku dimasa depan karena rasa cintanya belum cukup untukku.” Yoshie berusaha menjaga nada bicaranya agar tidak bergetar.

“Laki-laki berengsek itu berbohong. Dia egois dan ingin melarikan diri darimu.” Komentar Sehun.

“…” Yoshie tersenyum getir. Tali tambang raksasa yang mengikat dadanya terasa mengendur ketika Sehun memaki laki-laki itu.

“Kau juga pasti punya alasan kenapa nonton bioskop sendirian.” Ucap Yoshie untuk mendapatkan pengakuan dari Sehun.

“Ibuku meninggal.”

“….” Otot wajah Yoshie terasa menegang, matanya tidak berkedip untuk beberapa detik.

“Sudah setahun berlalu. Tapi rasanya semakin sedih. Kenangan itu lebih intents datang ke pikiranku. Itu sangat sulit bagiku untuk merelakannya. Padalah, dihari kepergian ibu, aku tidak menangis. Harusnya aku menangis sampai air mataku habis saat itu, agar sekarang aku tidak berlarut-larut dalam kesedihan.”

 

Yoshie terenyuh. Setengah nyawanya seakan ditarik paksa ketika kekasihnya pergi. Sedangkan Sehun? Dia kehilangan ibunya. Seseorang yang dianggap Yoshie seperti Ratu dalam kerajaan kecilnya. Ia tidak dapat membayangkan jika ia ada diposisi laki-laki itu. Apakah ia masih bisa bernapas?

Yoshie meraih botol sake dari tangan laki-laki itu yang sejak tadi hanya digenggam tanpa ada niat untuk menuangkan isinya dalam gelas miliknya. Lalu menuangkan sake itu ke gelas milik Sehun. “Aku sudah mendapatkan jawabannya, apakah aku menyedihkan atau tidak. Dan akan ku simpan jawaban ini tanpa seorangpun yang tahu, termasuk kau.”

 

mereka bisa saja memiliki perasaan sedih yang sama, namun dengan proporsi yang berbeda.

-FIN-

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s