[KAISOO BIRTHDAY PROJECT] ATTABOY SERIES: Universe

[KAISOO BIRTHDAY PROJECT] ATTABOY SERIES: Universe — Audrey_co’s Story
Starring by: Kim Jongin and You
With Genre: Drama
And Rate: Teen

※※※
Aku tidak akan melepasmu lagi, Kim Jongin. Tetaplah jadi semesta dalam hidupku, selamanya.
※※※
Kim Jongin, entah seberapa keras aku ingin melupakan nama ini. Nama yang dulunya sekadar angin lewat, kini menyerang pikiranku yang penuh akan sosoknya. Ia yang tinggi dengan kulit tan menggoda, netra binar coklatnya yang menawan, rahang indahnya, tak lupa bibir plum yang sering tersenyum itu. Dan karena sebuah alibi, aku ingin melupakan sosoknya.
Pada musim semi, minggu ketiga. Aku sudah menduga kalau tetesan dingin itu akan menghantam bumi sejak hendak melangkah pergi. Payung lipat ini kugenggam erat, karena saat ini sedikit berangin. Juga tak lupa jaket tebalku terkancing rapi. Pandanganku menghambur, menatap satu persatu orang-orang yang tengah berlarian mencari tempat berteduh. Aku di sini, di emperan toko dengan sekumpulan Mahasiswa lainnya. Kami berdesak-desakan hingga rasanya aku hanya ingin berteduh di bawah payungku saja.
Kim Jongin, pria yang terburu-buru menghindari hujan. Aku melihatnya tepat di depan mataku. Ia berlari dengan hati-hati, mencari tempat berteduh. Barangkali ia tak punya pilihan lain selain berteduh di tempat yang sama denganku—di ujung kanan emperan toko. Memberinya sedikit ruang untuk berteduh, aku bergeser ke arah kanan. Pilihan yang salah, sebenarnya. Karena tepat di sebelah kananku, ramai orang berdesakan hingga beradu mulut karena tak sudih terkena setiap bulir dingin yang jatuh dari langit.
Kim Jongin, menyentuhnya saja membuatku tersengat hebat. Tubuhku kembali terdorong, hingga tak sengaja lengan kami bersentuhan. Aku meliriknya malu, dan aku tahu ia merasa tak nyaman. Pria tinggi semampai itu merapat ke arah yang berlawanan, membiarkan tubuhnya setengah basah, sedang aku berdecak gemas melihatnya. Kutarik lengan kekar itu tanpa permisi, mendekat ke arahku. Kubuka payungku lebar, menampik bulir air yang turun membasahi sebagian tubuhnya. Tanganku kembali meraih lengannya, memberi petunjuk agar ia yang memegang payung. Kami bertatap muka sejenak, nampaknya ia bingung dengan perlakuanku. Aku hanya tersenyum dan kembali menatap jalanan.
Aku tak pernah menyadari satu hal; di bawah payung hijau tua ini, terlukis sebuah kisah yang tak terduga. Kisah klasik percintaan antara pria penuh kharisma dan gadis biasa—antara aku dan Kim Jongin.
Kim Jongin, pria yang merupakan Mahasiswa di kampus tempatku mengenyam pendidikan Kedokteran. Hampir tak terhitung pertemuan singkat kami sejak hari itu; saling bertukar pandang, melempar senyum, atau sapaan hangat dengan embel-embel ‘-ssi’ tepat di belakang nama masing-masing. Lagi, aku merasakan sebuah gejolak perasaan aneh sedang memberontak di hatiku. Aku tak bisa memvonis bahwa diriku memiliki penyakit tertentu, meskipun aku adalah calon Dokter. Kali ini, sebuah gejala yang tak pernah kumengerti.
Kim Jongin, pemuda rendah hati dengan segala keunikan. Hingga beberapa waktu setelahnya kami berteman. Ia yang tak pernah absen untuk bertemu denganku, memberi segelas kopi atau teh lemon kesukaanku seraya tersenyum hangat. Setiap hari terus seperti itu. Padahal kutahu dia sangat sibuk dengan kuliahnya. Dia tipikal Mahasiswa tingkat akhir seperti yang lainnya, sibuk mencari lapangan pekerjaan. Aku tak pernah lupa untuk memberinya kalimat penyemangat, lalu ia akan mengacak suraiku seraya tertawa ringan.
Hingga pada saatnya, seeseorang berkata padaku.
“Kau tentu tahu, itik dan angsa itu berbeda. Ya, ‘kan?”
Aku terdiam membisu.
Kim Jongin, pria yang lancang mengakui perasaannya padaku. Tak serta merta aku merasa senang, melainkan gelisah. Perasaanku cintaku padanya terlalu meluap-luap, namun suatu hal menampung perasaan itu. Tak jua aku membalas pernyataan cintanya. Hingga musim panas tiba, membuat ia menunggu begitu lama dengan segala ketidakjelasan yang kuberikan. Aku akui dia cukup tangguh.
Lalu, suatu hari, aku terbangun dari lamunanku.
‘Mengapa terus berada dalam semestanya, jika pada akhirnya aku merasa tak pantas untuknya?’
Memutar kembali semua kenangan, aku memukul keras kepalaku. Untuk itulah aku hendak menghapus semua memorabilia yang menumpuk. Sikap pesimis—yang sayangnya sudah mendarah daging—selalu menyurutkan langkahku untuk memutuskan sesuatu. Bahkan ia, Kim Jongin, masih terus menemuiku seperti biasa. Malu, sangat malu diriku yang seakan-akan dituntut olehnya sebuah jawaban; kejelasan atas perasaan ini. Tak banyak yang kulakukan selama berpikir, selain menghindar dan melamun.
Aku merasa tak pantas, itu saja.
Kim Jongin,  pria yang sanggup membuatku jatuh sedalam-dalamnya. Inilah yang aku takutkan, mencintainya. Ia menaruh pemikiran yang melenceng dari kenyataan; aku tak mencintainya. Barangkali, habis sudah waktu yang ia beri untukku, untuknya menunggu jawaban. Barangkali, ia sudah menyerah menanti diriku yang tak pasti. Barangkali, ia kecewa karena tak berbalas.
Setidaknya, itu adalah pemikiran cetek yang terlintas di kepalaku.
Karena sebenarnya, pria tegap nan eksotis itu tengah berdiri di sana—di tengah hujan—menungguku membalas perkataannya. Aku yang berdiri di emperan toko, memperhatikannya sama seperti hari itu. Namun bedanya ia tak berlari mencari perlindungan, melainkan menatapku sendu dari radius tujuh meter.
Ia tak berujar, aku tak berkutik.
Kim Jongin, sampai kapan kau akan bertahan di sana? Mengapa hati ini merasa teriris saat kau menatapku begitu? Apa kau benar-benar kecewa padaku? Apa aku jahat karena telah melepasmu? Jawablah dengan lantang! Berteriak lah padaku, atau hina aku sepuasmu!
Asal, jangan pernah keluarkan air matamu untukku.
Itu menyakitkan.
Kim Jongin, hati ini tak rela harus melepasmu, meski ego ingin. Kaki ini menapak terburu, membuka cepat payung lipat hijau yang sejak tadi kugenggam, tangan kiriku mengacung tinggi melindunginya dari hujan saat kami berhadapan. Tatapan kami beradu, penuh emosi. Mata sembab dengan bulir air hujan dan air mata yang bercampur membuatku sedih. Sebegitu kecewanya kah kau padaku?
Mengabaikan persepsiku selama ini, aku menangis dengan tidak tahu malunya. Tunduklah kepalaku sedalam-dalamnya. Tangis yang awalnya perlahan kini berubah menjadi isakan. Aku malu, sangat! Harga diriku hilang bak ditelan bumi. Salahkan saja perasaan ini yang jauh lebih besar daripada egoku. Karena hingga detik ini aku tak bisa berpaling dari Kim Jongin sejak hari pertama kita bertemu.
Kim Jongin, pemuda yang selalu sukses membuatku tercengang. Dengan sekali hentakan, ia merengkuh tubuhku dalam. Dapat kurasakan tubuhnya bergetar, entah menahan dingin atau emosi. Jantungnya berdegup kencang, aku bisa mendengarnya. Ia mengecup pucuk kepalaku, sayang. Keputusan yang kuambil ini benar-benar diluar dugaan. Pria itu berbisik, membuat tangisku mereda sejenak.
“Jangan merasa tak pantas. Karena sebenarnya tak ada yang lebih pantas darimu untuk menjadi milikku.”
END

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s