Vēnor Chapter 1 – [Destiny] by Heena Park

Venor (4)

a FanFiction by Heena Park

-cover by l18hee

.

x Han Leia

x Alexander Maximilian de Frankai [Kim Jongin]

x Lee Taeyong

x Richard Tyroon Alcender [Park Chanyeol]

x Stephen Davon Alardo [Oh Sehun]

x etc

.

Fantasy – Romance // PG-15 // Chaptered

.

Instagram : heenapark.official

Line@@fbo0434t

.

Summary; 

Alexander Maximilian de Frankai, seorang Dewa Laut—putra Poseidon—diusir dari Olympus ke Bumi karena dituduh berusaha membunuh putra Zeus, Stephen Davon Alardo sang Dewa Petir dan Cuaca.

Untuk bisa kembali ke Olympus, Alexander harus menemukan keberadaan El Dorado, lalu mengambil sebuah pedang emas milik Kronos dan mendapatkan sesuatu yang paling murni di dunia. Di mana pada akhirnya hal ini mampu menunjukkan takdir dan siapa dia sebenarnya.

.

ps : Nanti mereka bakal tetep make nama Kim Jongin, Park Chanyeol, dll kalau sudah di bumi. Kalau sebagai Dewa mereka tetap menggunakan nama Dewa masing-masing.

.

 

 

Han Leia ᴥ

62da2915632cb30ac95d29e5458d303b

 

Alexander Maximilian de Frankai

DS_lf3IUQAAbIWT

 

Lee Taeyong

2cd1f85fe0e0b964048c90c84aad66a0

 

Kim Jaejoong

jj

 

Stella Williams

sl

 

ᴥᴥᴥ DESTINY ᴥᴥᴥ

 

Rasanya menyenangkan bisa memutar lagu dengan volume sekeras ini. Setidaknya itulah yang ada dalam pikiran Alexander sekarang. Tubuhnya masih berbalut jubah mandi, rambut basahnya dibiarkan acak-acakan. Sementara Kim Jaejoong sudah berpakaian rapi, sangat berbanding terbalik dengan pria yang berada di hadapannya sekarang.

“Apa kau memiliki rekomendasi kelab malam yang cocok untuk kudatangi?” tanya Alexander tanpa memalingkan wajahnya dari kaca. Tangan kanannya sibuk menyisir rambut, sementara tangan kirinya membantu merapikan.

Jaejoong menggeleng. “Aku tidak pernah pergi ke tempat seperti itu,” jawabnya.

Mendengar jawaban Jaejoong, Alexander mendesah berat. Ia berjalan ke arah pria itu menepuk beberapa kali pundak kanan Jaejoong. “Santailah, kau sudah hidup di Bumi lebih dari seratus tahun dan tidak mencoba kesenangan duniawi ini? Bersenang-senanglah.”

Jaejoong mengangguk. Ia memang bukan tipikal pembuat onar seperti Alexander yang malah kegirangan saat diusir dari Olympus. Memang pada dasarnya pria itu tidak mau mengalah dan menganggap dirinya hebat, sehingga ia berpikir diusir ke bumi bukanlah hal yang buruk, meskipun ia masih memiliki keinginan untuk kembali ke Olympus.

“Bagaimana kalau kau ikut denganku malam ini? Bukankah manusia Bumi pasti berpikir jika kau tampan? Aku yakin kau bisa mendapatkan wanita dan tidak hidup seorang diri sampai mati,” celoteh Alexander sambil mengambil setelan jasnya.

“Kenapa kau tidak memikirkan dirimu sendiri? Bukankah kau diusir dari Olympus dan jika ingin kembali harus berhasil mendapatkan pedang Kronos?”

Alexander mendecak, “Ah. Kau benar-benar tidak bisa diajak bersenang-senang.” Ia kembali mendekati Jaejoong dan membalik tubuh pria itu hingga membelakanginya, kemudian mendorong punggung Jaejoong agar keluar dari kamarnya. “Kau bisa mengurus bisnis sesukamu, aku tidak akan mengganggumu.”

Mengesalkan sekali. Entah kenapa Alexander selalu merasa kesal tiap kali Jaejoong menyinggung soal hukuman dari Zeus. Memangnya kenapa kalau dia tidak berniat mencari pedang kronos dan terus menetap di Bumi? Toh di Olympus sangat membosankan. Lagipula Alexander sudah tidak memiliki alasan untuk tinggal di sana.

Setidaknya di Bumi ia menemukan banyak kesenangan. Empat bulan di sini agaknya sudah mampu membuat Alexander beradaptasi. Makanan yang beragam, gadis-gadis cantik di setiap sudut, dentuman musik yang membuatnya tak bisa berhenti menari dan masih banyak lagi.

Apa ada tempat lain yang jauh lebih baik dari Bumi?

“Siapa yang peduli dengan pedang Kronos? Jika Zeus menginginkannya, lebih baik dia mencari benda itu sendiri,” ujar Alexander pada dirinya sendiri yang kemudian meraih kunci mobil.

Ia sudah berganti baju dan siap untuk menikmati malam yang indah ini dengan mendatangi salah satu kelab malam paling terkenal di Seoul. Koneksi serta harta melimpah yang dimiliki Jaejoong membuat Alexander tidak perlu hidup susah di Bumi. Tempat ini benar-benar sangat sempurna, mungkin Alexander tidak akan pernah berpikir untuk kembali ke Olympus lagi.

 

Pasti dia sudah gila.

Ya, pasti seperti itu.

Bagaimana tidak? Hampir setiap pulang sekolah Leia akan menyusul Taeyong ke tempat latihannya sambil membawakan bekal makan malam dan menunggu sampai Taeyong selesai berlatih, padahal selama ini Taeyong tidak memperlakukannya sebagai kekasih dengan cukup baik.

Taeyong bahkan sering pergi dengan gadis lain saat malam Minggu. Leia sempat memergokinya beberapa kali, dan pria itu selalu berhasil mengambil hatinya untuk kembali memberi maaf dan terus menjalani ikatan ini.

Jujur saja, Leia sebenarnya lelah. Ia ingin lepas dari Taeyong, tapi susah. Apalagi wajah tampan Taeyong akan membuat banyak gadis bertekuk lutut jika Leia melepaskannya. Ia tidak suka melihat Taeyong dimiliki orang lain, tapi ia tidak ingin terus bertahan dalam hubungan memuakkan ini. Meskipun dalam hati Leia masih memiliki rasa pada Taeyong.

“Kau benar-benar akan pergi bersamanya?”

Leia mengerutkan keningnya kecewa. Gurat wajah lelah dan kesalnya bercampur menjadi satu. Kalau memukul bukan lah suatu kejahatan, mungkin dia sudah melayangkan pukulan keras ke wajah Taeyong sekarang.

“Mau bagaimana lagi? Stella masih baru di Seoul, dia belum hafal rute bus atau pun jalan untuk pulang. Aku harus mengantarnya, lagipula dia juga trainee di agency-ku.”

How can I believe with his shit?” Dagunya mengeras. “Kenapa kau tidak mencarikan taksi saja untuknya? Aku yakin dia sudah cukup dewasa untuk hafal alamat rumahnya.”

Taeyong menggeleng, ia melirik sebentar gadis yang berdiri tak jauh dari mereka. “Tidak bisa, kalau seperti itu dia tak akan hafal jalan di sini.” Ia meraih tangan kanan Leia dan menggenggamnya. “Aku yakin kau akan baik-baik saja pulang sendiri, kau pemegang sabuk hitam Taekwondo, tidak akan ada orang yang bisa macam-macam padamu. Tapi lihat lah Stella, dia bahkan belum fasih berbahasa Korea. Aku tidak mungkin membiarkannya pulang sendirian.”

Leia mendecak, dilihatnya ekspresi polos Stella. Gadis itu kelihatannya memang belum tahu terlalu banyak tentang Seoul. Mungkin Taeyong benar, akan sangat berbahaya jika Stella dibiarkan pulang seorang diri.

Tidak ada hal lain yang bisa ia lakukan selain membiarkan Taeyong pergi. Leia melepaskan genggaman Taeyong dan berucap, “Baiklah. Hubungi aku kalau kau sudah sampai rumah. Aku pulang dulu.”

“Oke, hati-hati di jalan,” balas Taeyong. Kedua ujung bibirnya ditarik bersamaan, melemparkan senyum yang tak jelas apa artinya.

Mungkinkah dia tersenyum karena Leia memberikan izin untuk mengantar Stella pulang? Ugh, Leia tidak mengerti kenapa ada pria seperti itu. Dia bahkan tidak malu menunjukkan rasa senangnya untuk pergi bersama gadis lain pada kekasihnya sendiri. Leia jadi berpikir apakah dia terlalu memaksakan diri untuk terus bersama Taeyong.

Ada rasa kesal juga kecewa melihat Taeyong dan Stella meninggalkannya. Mencoba untuk mengabaikan pemandangan mengesalkan ini, Leia meraih ponsel di saku dan mengerjap beberapa kali ketika menyadari sekarang pukul 01:15 pagi.

“Astaga, aku bahkan belum mengerjakan tugas,” omelnya pada diri sendiri sambil memukul kepala.

Leia merasa kacau. Ia berlari sendirian, sudah tidak ada bus saat ini. Ia juga tidak ingin menggunakan taksi karena jarak rumahnya dengan tempat latihan Taeyong tidak begitu jauh. Hanya saja ia harus melewati beberapa kelab malam dan tidak jarang beberapa orang mabuk di sana mengganggunya.

Beberapa hari terakhir Leia sudah berusaha agar pulang di bawah jam 12 malam, tapi lagi-lagi ia gagal. Melihat Taeyong berlatih sangat menyenangkan, ia bisa terus memandang wajah tampan pria itu. Well, orang tua Leia adalah pemilik agency di mana Taeyong menjadi trainee, jadi Leia bisa datang ke tempat itu kapan pun. Meskipun sebenarnya ia tidak begitu menyukai orang tuanya karena kejadian di masa lalu.

Seperti yang telah ia duga sebelumnya, sekumpulan pria baru saja keluar dari kelab malam. Bahkan dari jauh Leia bisa mencium bau alkohol yang sangat menyengat. Ia tidak percaya harus melewati orang-orang itu, mereka pasti akan menggoda gadis SMA yang masih berseragam dan berkeliaran lewat tengah malam. Mereka mungkin berpikir Leia bukan gadis baik-baik.

“Oke, tenang. Aku pasti bisa mengatasinya,” yakin Leia pada diri sendiri.

Ia menarik napas dalam-dalam, kemudian menghembuskannya perlahan. Dipegangnya erat-erat tali ranselnya, kemudian berjalan secepat mungkin melewati segerombolan orang mabuk itu.

Sayangnya, saat Leia hendak berbelok ke pertigaan, dua di antara mereka menghalangi. Oh ayolah, ia hampir selamat dan tiba-tiba orang itu mendatanginya? Kenapa mereka sangat menyebalkan sekali sih?

“Kusarankan agar kalian tidak menggangguku,” cetus Leia. Ia memandang seksama dua orang pria setengah sadar yang sekarang tengah menertawakan ucapannya. “Ayolah, aku harus segera pulang,” lanjutnya lagi.

Karena tak tahan terus mendengar gelak tawa kedua orang itu, Leia memilih untuk maju. Ia mengambil ancang-ancang dan berlari, namun tiba-tiba tangannya ditarik oleh seorang pria dan didorong hingga menabrak dinding.

Rasa takut yang mendera berhasil membuat jantungnya berdegup kencang. Leia ingin bangkit dan membalas pria itu dengan tendangannya, namun ia gagal, rupanya rasa takut dalam hatinya jauh lebih besar.

Taeyong bodoh!

Seharusnya ia tidak membiarkan Leia pulang seorang diri!

Kedua orang tadi makin mendekat, Leia hanya bisa menyembunyikan wajahnya di balik kedua lengan, berharap akan ada keajaiban yang membantunya untuk terbebas dari keadaan ini.

Ada yang aneh, hampir semenit berlalu dan Leia tak merasakan seseorang menyentuhnya. Perlahan ia memberanikan diri untuk membuka mata, and seriously? How could they fly? I mean, kedua pria itu benar-benar terbang dan tidak bisa turun!

Leia kehabisan kata-kata, saking terkejutnya ia sampai melompat ke belakang dan lagi-lagi menabrak dinding. Detik berikutnya, kedua pria itu terlempar ke kanan dan terjatuh tepat di atas mobil.

Leia tak mengerti apa yang terjadi, apakah dia salah lihat? Tidak. Leia benar-benar yakin jika kejadian barusan memang nyata!

Ia menengok ke kiri, seorang pria berjas hitam berdiri tak jauh darinya, tangannya bergerak dari atas ke bawah.

Mungkinkah? Mungkinkah pria itu yang melakukannya? Yang menerbangkan kedua orang tadi?

Tapi…

Tapi bagaimana mungkin seorang manusia bisa melakukannya?

Apa dia adalah seorang tukang sulap atau semacamnya?

Menyadari jika Leia sedang melihatnya, pria itu lekas berlari. Leia tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Rasa penasaran yang besar muncul di benaknya sehingga ia memilih untuk mengejar pria itu.

Untunglah pria itu tidak berlari terlalu jauh, Leia berhenti tepat di balik tiang listrik, ia mengintip diam-diam pria yang saat ini sedang memuntahkan isi perutnya tersebut. Ah, kelihatannya pria itu juga mabuk.

Apa sebaiknya Leia pergi sekarang?

Tidak. Setidaknya ia harus memastikan apakah pria itu yang menolongnya.

Iya. Leia harus melakukannya.

Ia berjalan mengendap, takut kalau pria itu terkejut dan kembali berlari. Baru berniat untuk menepuk pundak pria itu, ia sudah lebih dulu berbalik dan menatap kedua mata Leia dalam-dalam.

Napas lelaki itu tidak beraturan, tubuhnya bergetar, sementara Leia tak tahu harus melakukan apa. Ia terdiam kaku membalas tatapan pria itu sampai tangan kanannya merasakan sentuhan hangat yang membuatnya semakin bingung harus melakukan apa.

Mata pria itu hampir tertutup, ia tersenyum kecil sambil berucap, “Long time no see, Ellena,” gumamnya yang sedetik kemudian terjatuh ke tanah dan kehilangan kesadaran.

 

TO BE CONTINUED

 

 

12 tanggapan untuk “Vēnor Chapter 1 – [Destiny] by Heena Park”

  1. jangan bilang wajah leia mirip ellena.. atau leia yg ditolong jongin pake mutiara ellena waktu dlu pernah tenggelam???

  2. Kamjong kamjong..awalnya aja nolak k bumi pas tahu ad kelep kelep malam lngsung betah..jong jong..dmna2 karakter sma jong..suka dujem huahahahahahahahaahhahaaa
    Etapi degem taeyong jdi playboy amat disini..hiks noona tak rela dek hiks

Tinggalkan Balasan ke Nurtiara Syafitri Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s