[EXOFFI FREELANCE] Room Full of Arts

cover.jpg

Room Full of Arts

a fanfiction by Tsuru

Do Kyungsoo/Original Female Character. | Slice of Life. | G-Rated. | Oneshot. | Written in Second Point of View.

EXO © SM Entertainment. Isi cerita murni hasil pemikiran penulis dan tidak ada keuntungan materiil yang diambil penulis dalam pembuatan karya fiksi ini.

“Dan kau adalah salah satu musainya.”

.

Kyungsoo pernah bercerita tentang The Persistence of Memory milik Salvador Dali saat kau tengah memandangi lukisan itu di salah satu museum yang kalian kunjungi. Dengan simbol-simbol acak yang ada di dalamnya, Kyungsoo menjelaskan bahwa kita mungkin memiliki tafsiran sendiri mengenai hal itu.

Kau mengatupkan bibirmu dengan mata yang masih terpaku di sana. Sebuah bukit, jam, gurun, dan semut, apa esensinya? Kyungsoo hanya menambahkan tentang latar lukisan merupakan sebuah bukit yang berada di Cape Creus, Catalonia, sebuah tempat di mana sang pelukis dilahirkan; dan kau cukup familier dengan tempat itu karena ternyata kau pernah mengunjungi Kota Figueres—kota di mana bukit itu ada—saat karya wisata.

“Menurutmu, apa lagi yang bisa diartikan?” Kyungsoo berdiri tepat di sebelahmu, memasukkan kedua tangan dalam kantung celananya.

Menafsirkan makna lukisan bukanlah keahlianmu, terlebih lagi lukisan beraliran abstrak ini. Banyak sekali persepsi yang mengartikan apa makna dari lukisan ini, dan mungkin, kau memang harus mencoba untuk memahami dan merasakan apa yang Dali rasakan ketika ia melukis lukisan ini.

“… Aku belum mengerti sepenuhnya, terutama di bagian semut itu.”

Kyungsoo menelengkan kepalanya, turut mematuti lukisan. “Aku memiliki pengertian sendiri menyangkut itu, tapi mungkin akan terdengar cukup aneh bagimu, atau bagi orang lain.”

Setelah menatap lama mahakarya itu, kau memutar kepala dan memandang ke arah Kyungsoo. “Kalau begitu, kau bisa menyimpannya sendiri untukmu.”

Dan Kyungsoo mengangguk. Setelah berlama-lama di sana, kau pun yang ingin menjelajahi sudut museum yang lain kemudian dengan halus mengamit lengan sang pemuda, menariknya sedikit untuk beranjak ke tempat selanjutnya.

“Ayo, aku mau melihat lukisan yang lain.”

.

Beberapa minggu yang kemudian, kau tidak sengaja melihat Kyungsoo di ruangannya termangu menatap kanvas putih di hadapannya. Perempuan itu mengintipnya dari balik daun pintu yang terbuka setengah, mengamati Kyungsoo selama kurang lebih lima belas menit tidak bergeming dari tempat duduknya. Cat akrilik yang ada di paletnya sama sekali belum tersentuh oleh ujung kuas dan nyaris mengering di sana.

Tadinya, kau berpikir bahwa Kyungsoo hanya sedang berpikir mengenai ide-ide baru—atau mengolah inspirasi yang telah ia dapat. Namun, ketika kau meniliknya lagi, Kyungsoo tidak pernah seperti itu ketika hendak melukis. Seniman Kyungsoo tidak akan pernah menatap kanvasnya—dunia yang selalu siap ia warnai—dengan tatapan kosong yang tak pernah kau kenal.

Dan entah mengapa, kau mengurungkan niatmu untuk masuk pada saat itu.

.

Kyungsoo menepuk-nepuk salju yang ada di mantel dan mengibaskan lengannya sebelum menekan bel apartemenmu. Ia kira pintunya terkunci, namun kau meneriakinya dari dalam untuk langsung masuk saja.

Ia mendorong pintu ke dalam dan memasuki ruangan tengah. Kyungsoo lupa sudah beberapa kali ke tempat ini, ruangan berdesain minimalis yang didominasi oleh warna hijau pastel pada perabotnya, ada beberapa pot tumbuhan di dekat jendela dan Kyungsoo mengenali salah satu tumbuhan di sana—yaitu bunga bakung biru yang pernah ia hadiahkan untukmu.

Kyungsoo menyampirkan mantel dan topinya di gantungan yang berada di pojok pembatas ruangan sebelum memasuki ruang bersantai, menemui kau yang tengah duduk salah satu sofa sambil bersila.

“Untung saja kau memberi tahuku sebelum datang ke sini. Aku harus beres-beres sedikit tahu.”

Kyungsoo memutar matanya dan lalu duduk di sofa bersebrangan denganmu. Ternyata, baru-baru ini kau mengubah letak perabotan. Seingat Kyungsoo, televisimu itu dulu berada di sudut kanan, bukan berada di sudut yang berlawanan. Begitu juga dengan rak buku yang dipindahkan ke seberang ruangan, dan kini digantikan oleh meja kaca yang dihasi oleh figura foto. Kyungsoo ternyata mengingat tempat ini lebih dari yang ia kira.

Bagian kiri dinding berwarna krim yang kosong diisi dengan figura-figura fotomu yang digantung dan sebuah lukisan yang lagi-lagi Kyungsoo kenal, yaitu lukisannya sendiri. Kau yang semulanya duduk kemudian beranjak dan menggumamkan tunggu pada Kyungsoo sebelum berlalu ke dapur. Kyungsoo masih menekuri ruang santaimu, mencoba memetakannya lagi karena ia sudah hampir lupa akibat kesibukannya di pertengahan tahun dan baru memiliki waktu  luang di bulan Desember ini sehingga bisa sempat mampir ke tempatmu.

“Aku baru memanggangnya pagi ini,” kau muncul kembali sembari membawa piring berisi potongan-potongan kecil brownies cokelat dan secangkir kopi di tangan yang satu lagi. “Masih hangat, kok.”

Kyungsoo menangguk dan membiarkanmu meletakkan piring dan cangkir itu di atas meja kecil dekat kalian, menuturkan terima kasih setelahnya.

“Jadi, bagaimana dengan proyekmu, Kyungsoo-ah?”

Kyungsoo mendekatkan cangkir kopi ke bibirnya, menyeruputnya sekali. “Yah, begitulah.” Kalimatnya tidak cukup jelas, suara Kyungsoo terdengar sedikit parau dan serak.

Kau menghela napas, mengurungkan niat sejenak untuk mencomot satu potong kue cokelat manis. “Kau seharusnya bercerita padaku sejak awal.”

Kyungsoo ikut-ikutan menghembuskan napasnya. “Maaf.”

Kau lantas mengedarkan pandangan ke sekitar ruangan sebelum bermuara lagi pada pemuda itu. Wajahmu melembut ketika beradu pandang dengan Kyungsoo. “Tak apa,” kau melambaikan tanganmu. “Jadi, kali ini kenapa?”

Kyungsoo diam sebentar. Jarinya sibuk mengusap-usap bagian luar porselen itu dengan mosi sirkular, seketika memutuskan kontak mata saat ia lebih memilih untuk memandang ke bawah. Kau menyanarkan diri pada sandaran sofa, menunggu pemuda itu untuk berbicara.

“Aku akhir-akhir ini hanya … merasa dikejar oleh waktu.” Kyungsoo mengangkat kepalanya, memandang lurus ke arahmu sejurus meletakkan cangkirnya ke atas meja. Kau mengetuk-ngetukkan jari pada pahamu, masih diam membiarkan Kyungsoo untuk melanjutkan kalimatnya.

“Aku terkadang lelah, harus mengejar tiap keterlambatan yang ada . Aku merasa begitu tertinggal saat tidak bisa memproduksi apa-apa. Permintaan dari kolektor yang belum aku penuhi, aku rasa aku membutuhkan waktu lebih. Lebih dari apa yang aku miliki.”

“Hei, terkadang tidak semua berotasi pada satu hal.”

Selang beberapa dekit, tanpa Kyungsoo duga, kau meraih tangannya dan memberi remasan pelan untuknya, menggunakan ibu jarimu untuk mengusap kulitnya.  “Ketahuilah, kamu tidak pernah terlambat ataupun tidak lebih cepat. Kau punya zona waktu sendiri begitu pula dengan orang lain, kau hanya perlu menyesuaikan saja terkadang.”

Dan Kyungsoo merasa kau sudah memaknai tentang lelehan jam dan gurun pada lukisan yang kalian lihat itu. Ia pun memberi tafsirannya sendiri—ia mungkin hanya perlu mengikuti alur saja, mencoba untuk mengosongkan diri dari apapun sebelum membiarkan semuanya luruh dibawa lini masa, tanpa perlu takut akan waktu yang meninggalkan.

Pun seutas senyum tipis terbit di bibir Kyungsoo sembari membalas remasan tanganmu.

“Kau tahu? Aku rasa kau memang benar.”

.

Kau kembali mengintip ruang kerja Kyungsoo ketika berkunjung ke sana. Tidak seperti hari-hari sebelumnya, ruangan itu sekarang kosong—maksudnya tidak ada siapa-siapa di dalamnya. Namun, ada salah satu hal yang menarik perhatianmu ke dalam; sebuah lukisan yang di gantung di tengah ruangan, tepat di belakang meja kerja Kyungsoo.

Kau mendekat dan berhasil mendapat pemandangan penuh akan lukisan itu. Tidak kau sangka, kau akan menjadi begitu familier dengan lukisan itu. Dalam bingkai persegi itu, sapuan kuas membentuk imaji jam berwarna hijau di antara ratusan jam yang berwarna perunggu mengelilinginya, Kyungsoo membekukan waktunya sendiri.

end.

2 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Room Full of Arts”

  1. Cantik diksinya, walaupun typo masih ada sih hehe. Tapi aku suka temanya dan jarang2 lho seseorg menjadikan kyungsoo pelukis. Aku merasa elit dan artsy bacanya ehe
    Keep writing!

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s