[EXOFFI FREELANCE] PROMISE (약속) – (Chapter 15)

Tittle        : PROMISE (약속)
Author        : Dwi Lestari
Genre        : Romance, Friendship

Length        : Multi Chapter

Rating        : PG 17+

Main Cast    : Han Sae Ra (Elena), Park Chan Yeol (Chanyeol)

Support Cast    : Byun Baek Hyun (Baekhyun), Oh Sehun (Sehun), Kim Jong Dae and other cast. Cast dapat bertambah atau menghilang seiring berjalannya cerita.

Summary:

Park Chanyeol adalah pewaris tunggal S&C Group yang baru saja kembali ke Korea setelah sekian lama tinggal di Amerika untuk mengelola perusahaannya, dan juga dalam rangka mencari teman kecilnya Minnie karena janji yang telah dibuatnya sewaktu kecil. Akankah dia dapat menemukannya dan menepati janjinya?

Disclaimer    : Alur dan ceritanya murni buatan saya. Juga saya share di wattpad pribadiku: @dwi_lestari22

Author’s note    : Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa komentarnya. No kopas, no plagiat. Sorry for typo. Happy reading.

Chapter 15 – I Remember You

“Terima kasih sudah mengantarku Chanyeol-ssi”, ucap Saera saat mobil pria itu berhenti di depan gedung apartemennya.

“Jadi kau tinggal disini?”, ucap pria itu.

Saera mengangguk. “Lantai 7 unit 707”, ucapnya lagi. “Mau mampir?”, lanjutnya.

“Lain kali saja”, jawab pria itu.

Saera menundukkan kepalanya setelah keluar dari mobil. Tersenyum ramah sebelum menutup pintu mobil. Dia berjalan menjauh bahkan sebelum mobil itu melaju. Dia merasa cukup lelah setelah makan malam tadi. Dia ingin cepat-cepat menuju apartemennya untuk mengistirahatkan diri.

“Saera”, sapa seseorang. Dia juga bisa melihat jika orang itu tengah melambai padanya.

Saera tersenyum mengenalinya. Berjalan cepat menghampiri orang itu. “Baekhyun-ah”, ucapnya kemudian.

“Kau baru pulang?”, tanya orang yang dipanggil Baekhyun olehnya.

Saera mengangguk sebagai jawaban. Dia memeluk lengannya, udara malam itu cukup membuatnya kedinginan.

“Kau kedinginan”, entah itu pertanyaan atau pernyataan. Tapi yang pasti orang itu melepas coat yang dipakainya, memakaikannya untuk Saera kemudian. “Ayo masuk. Disini dingin”, ajaknya.

Saera mengangguk dan mengikuti langkah orang itu.

Pria yang masih duduk di kursi kemudi itu tersenyum. “Kau memiliki sahabat yang baik Minnie”. Dia melajukan mobilnya kemudian.

***

Saera mencoba memejamkan matanya. Namun lagi-lagi tak berhasil. Dia berharap dapat segera tertidur. Sepertinya dia harus bersabar. Matanya masih enggan terpejam. Meski dia mencoba dengan berbagai cara tetap saja, matanya masih terbuka lebar.

Tubuhnya sudah berbalut selimut sejak tadi. Dia menutup wajahnya dengan bantal. Kali ini berharap usahanya akan berhasil. Selama menunggu sekitar lima belas menit, tetap saja rasa kantuk tak juga menghampirinya.

Dia memilih duduk. Menghela nafas panjangnya. Kenapa dengan dirinya? Tidak biasanya dia terkena insomnia. Sebanyak apapun masalah yang datang dalam hidupnya, dia selalu bisa tertidur lelap. Tapi kenapa kali ini berbeda? Dia memijat pelan pelipisnya, mencoba melupakan sejenak masalahnya.

Ini adalah cara terakhir yang terlintas dalam fikirannya. Jika cara ini masih belum berhasil, sepertinya dia harus begadang malam ini. Tangannya terulur membuka laci nakas samping tempat tidurnya. Mencari botol yang berisi obat tidur.

Tangannya sibuk mengubrak-abrik isi laci tersebut. Tidak ada disana. Dia teringat sesuatu, tersenyum miring kemudian. Dia tak pernah menyediakan obat-obatan seperti itu. Dia kembali membuang pasrah nafasnya. Dia benar-benar harus begadang malam ini.

Dia turun dari ranjangnya. Berjalan pelan menuju dapurnya. Mengambil air mineral untuk membasahi tenggorokannya. Netranya menelisik ruang remang di apartemennya. Dia tertarik pada tumpukan buku disebelah meja TV. Tungkainya membawanya berjalan mendekat. Menyalakan saklar lampu. Mendudukan dirinya disana.

Tangannya terulur mengambil salah satu buku barunya yang belum sempat dibaca. Sepuluh menit pertama dia masih tetap dalam posisinya, duduk dengan tenang sambil membaca. Dia kadang tersenyum saat membacanya. Ya, novel bertuliskan True Love itu mampu membuatnya melupakan niat awalnya ingin tidur.

Jam dinding sudah menunjuk di angka dua. Tapi gadis itu masih setia dengan buku bacaannya. Dia memutar pelan kepalanya untuk menghilangkan rasa pegalnya. Tangannya terulur menutup mulutnya ketika menguap. Rasa kantuk mulai datang menghampirinya.

Dia mengabaikannya kali ini. Lagi seru-serunya, sayang jika harus ditinggalkan. Matanya mulai terasa berat. Bahkan kini dia lebih sering menguap. Kadang dia terpejam sebentar. Dan kaget saat terbangun. Membenarkan posisi duduknya kembali dan melanjutkan bacaannya.

Dan saat jarum panjang jam menunjuk di angka lima, Saera benar-benar memejamkan matanya. Tubuhnya oleng ke samping. Novel yang dipegangnya juga ikut terjatuh. Dia tertidur dengan posisi miring dimana kakinya menggantung di udara.

Baekhyun yang menginap di apartemen Saera terbangun. Tenggorokannya terasa kering. Dia menuju dapur untuk mengambil minuman. Kaget saat melihat lampu ruang TV masih menyala. Setelah melepas rasa hausnya, dia berniat mematikan lampu. Namun tertahan kala melihat Saera terbaring si sofa dengan posisi yang tak mengenakkan menurutnya.

“Kenapa dia tidur disini?”, tanyanya pada diri sendiri.

Baekhyun membenarkan posisi tidur Soah. Memberinya bantal. Bingung, membiarkannya tetap tidur di tempat itu atau menggendongnya ke kamarnya. Dia menggaruk rambutnya yang tak gatal. Mengambil novel Saera yang terjatuh dan meletakkanya di meja.

Melihat wajah damai Saera saat tertidur, Baekhyun tersenyum. Dia merapikan anak rambut Saera yang menutupi wajahnya. Menyelipkannya di belakang telinga. “Kau masih manis seperti dulu Saera”, ucapnya kemudian. Tangannya mengusap pelan surai panjang Saera.

Wajahnya mendekat. Mengecup singkat puncak kepala Saera. Dia kembali tersenyum. Mengusap kembali surai panjang gadis itu. “Aku selalu berdo’a untuk kebahagiaanmu”. Setelah mengatakan itu, tangannya tergerak mengangkat tubuh Saera. Memindahkannya ke kamar gadis tersebut.

Jalja”, ucapnya setelah membaringkan tubuh Saera. Menarik selimut hingga sebatas dada.

***

“Selamat pagi sayang”, sapa seorang wanita paruh baya pada putranya. Dia yang kini tengah sibuk menata makanan di meja makan tersenyum. Putra semata wayangnya sudah terbangun.

“Pagi eomma”, pria itu memeluk sebentar ibunya. Wajahnya terlihat segar. Raut bahagia juga tergambar disana.

“Kau tampak berbeda hari ini”, jelas ibunya. Dia menarikan salah satu kursi untuk putranya. “Duduklah. Kita sarapan dulu”.

Pria itu menuruti permintaan ibunya. Dia duduk di kursi yang ditarik ibunya. Seulas senyum juga menghiasi wajah tampannya. Senyum yang jarang sekali ia tunjukan. Ketampanannya bertambah kalilipat karenanya. Netranya menelisik ke setiap hidangan yang tersaji di depannya. Itu adalah makanan favoritnya. Ibunya memang yang terbaik, selalu tahu apa yang disukainya.

“Jadi apa yang membuat putraku yang tampan ini akhirnya menunjukan senyum manisnya?”, jelas wanita paruh baya itu. Dia duduk berhadapan dengan putranya. Tangannya terulur menyuapkan makanan ke mulutnya.

Pria itu masih sibuk mengunyah makanan. Dia menjawab setelah menelannya. Tapi sepertinya tidak jadi, karena tak ada kata yang keluar dari mulutnya. Padahal sebelumnya dia terlihat akan mengatakan sesuatu.

“Apa kau senang karena ternyata dokter yang dijodohkan oleh kakekmu adalah gadis itu?”, tanya ibunya ragu.

“Bukan”, jawab pria itu sambil menggeleng.

“Lalu?”.

Pria itu kembali tersenyum. “Aku menemukannya eomma”, ucapnya kemudian. Wajahnya benar-benar menggambarkan kebahagiaan.

Ibunya terlihat sedang berfikir. Mencoba mencaritahu siapa yang dimaksud putranya. “Teman kecilmu”.

“Iya”, jawab pria itu sambil mengangguk.

“Syukurlah! Kapan-kapan, kenalkan eomma padanya”.

Eomma sudah mengenalnya”.

Ibunya mengangkat alisnya. “Siapa?”.

“Dokter Han”.

“Benarkah!”.

Pria itu kembali mengangguk. “Hanya saja dia kehilangan ingatannya”, jelasnya.

“Itu bukan masalah besar. Kau hanya perlu membuatnya ingat”, ucap ibunya. Seulas senyum juga menghiasi wajah senjanya. “Park Chanyeol, fighthing!”, lanjutnya lagi memberi semangat. Tangannya juga ia angkat sebagai pendukung perkataannya.

Pria itu hanya tersenyum melihat tingkah ibunya. Tapi pada akhirnya dia mengangguk mengiyakan.

***

“Wah, kau yang memasak ini semua?”, tanya Saera. Dia menatap takjub makanan yang tertata rapi di meja makan. Ya, dia terbangun dari tidurnya setelah mencium bau wangi masakan.

“Kau sudah bangun”, ucap Baekhyun. Dia masih membereskan dapur yang tadi dikotorinya. “Duduklah! Akan aku ambilkan nasi”.

“Aku baru tahu kau bisa masak”, ucap Saera. Dia sudah duduk di salah satu kursi tersebut.

“Sejak lulus SMA aku sudah hidup terpisah dengan keluargaku. Jadi aku harus bisa memasak untuk membuat diriku kenyang”, jelas Baekhyun. Dia meletakkan semangkuk nasi untuk Saera. Dan semangkuk lagi untuk dirinya. Ikut duduk kemudian.

“Taerin pasti sangat beruntung memiliki kekasih sepertimu. Sudah tampan, mapan, bisa masak lagi”, ucap Saera. Tangannya terulur mengambil sumpit, memasukan beberapa makanan ke mulutnya. Dia mengangguk pelan sambil mengunyah. “Mashita. Ini benar-benar enak”. Ibu jarinya juga ia acungkan memuji kelezatan masakan Baekhyun.

“Tetu saja”, jawab Baekhyun.

Saera memandang aneh ke arah Baekhyun.

“Kenapa! Jangan bilang kalau kau menyesal karena tidak menerimaku sejak dulu”, ucap Baekhyun. Dia sedang melayangkan candaan pada Saera.

“Emmh”, jawab Saera.

Baekhyun justru tertawa mendengarnya. “Salahmu sendiri”.

“Kalau begitu kau meu menikah denganku!”, ucap Saera. Entah itu serius atau tidak, tapi yang pasti kini Saera memandang aneh ke arah Baekhyun.

Baekhyun yang tadi mengunyah terdiam. Dia menelan kasar makanannya. Dia tidak salah dengarkan. Gadis itu baru saja melamarnya. Namun dia tersenyum kemudian. Entah itu bercanda atau tidak, dia tak ingin menganggapnya seirus. Dia mendorong pelan kening Saera dengan jari telunjuknya. “Habiskan saja makananmu”.

“Kau tak lihat aku sedang melakukannya”, ucap Saera. Dia mengunyah makanannya dengan keras di hadapan Baekhyun.

Mereka terdiam setelahnya. Menikmati makanan yang tersaji dihadapannya.

***

“Dokter Byun datang. Dokter Byun datang”, begitulah teriakan anak-anak yang tinggal di Love House saat Baekhyun memasuki halaman panti asuhan tersebut. Mereka berlari kecil menghampirinya.

Saera yang masih terdiam di mobil tersenyum. Senang rasanya melihat hal tersebut. Dia mengambil nafas dalam, membuangnya perlahan. Menata diri. Dia berharap bisa tahu masa lalunya setelah ini.

Tangannya terulur membuka pintu mobil. Berjalan pelan menghampiri pria bermarga Byun tersebut. “Annyeong semuanya”, sapanya pada anak-anak yang sudah menempel pada Baekhyun.

“Dokter Han”, teriak seorang gadis kecil. Gadis kecil itu berlari menghampiri Saera.

Annyeong Seulbi-ya. Bagaimana kabarmu?”, sapa Saera pada gadis itu. Dia mengusap pelan kepala gadis kecil itu.

“Aku baik dokter, bagaimana dengan anda?”, jawab Seulbi yang diikuti dengan pertanyaan.

“Aku juga baik”, jawab Saera. Dia juga tersenyum pada gadis kecil itu.

“Ayo masuk dokter Han”, ajak Seulbi. Dia menarik lengan Saera.

***

“Dokter Han. Ini”, kata direktur Kim. Dia menyerahkan album foto pada Saera.

Saera yang duduk di ruang tamu menoleh. Tersenyum manis setelah menerimanya.

“Kau bisa melihat-lihat. Aku akan memeriksa anak-anak dulu”, ucap Baekhyun yang duduk di sebelahnya.

Saera mengangguk. “Iya”, jawabnya.

Baekhyun berdiri meninggalkan ruang itu setelah persetujuan Saera.

Saera mulai membuka album foto tersebut. Dia tersenyum senang melihat beberapa pose lucu dari foto-foto tersebut. Meski kualitas gambarnya tak seindah sekarang, tapi foto-foto tersebut masih bisa dikenalinya.

Dia menemuka foto anak laki-laki itu. Ya, foto yang sama dengan apa yang dilihatnya di rumah besar kakek yang pernah dirawatnya dulu. Jadi benar pria itu pernah tinggal di tempat tersebut.

“Direktur Kim, bukankah ini Park Chanyeol-ssi?”, tanyanya ragu.

Direktur Kim mencoba mendekat. Dia mengambil album foto tersebut. Mengamati foto yang dimaksud Saera. Dia mengangguk kemudian. “Iya. Ini memang Park Chanyeol”, jelasnya. Dia mengembalikan album foto tersebut.

Saera yang telah menerima album foto itu kembali memeriksa. Membuka lembar berikutnya.

“Bagaimana dokter Han bisa tahu?”, tanya direktur Kim yang merasa janggal.

“Aku melihatnya di foto keluarga saat diundang makan malam di rumah kakeknya”, jelas Saera.

“Aaa”, direktur Kim mengangguk paham.

Saera kembali mengamati foto tersebut. “Jika boleh tahu, kenapa dia tinggal disini? Bukankah dia cucu kandung dari Lee Hwejangnim, pemilik S&C Corporation”.

Direktur Kim terdiam. Dia menatap aneh Saera. Seolah dia enggan menjawabnya.

“Aku hanya penasaran. Jika anda memang tak ingin menjawabnya, tak apa”, jelas Saera hati-hati.

Direktur Kim tersenyum. Dia tahu maksud Saera. Hanya saja, dia masih bimbang memilih menceritakannya atau tidak.

Saera menatap sebentar Direktur Kim. Karena dia tak kunjung bersuara, dia memilih mengamati foto-foto di album itu kembali.

“Ada masalah keluarga saat itu. Kedua orang tuanya menyembunyikannya disini. Dia tinggal disini sekitar…..”, Direktur Kim mencoba mengingatnya. “….. tiga tahun. Ya, sekitar itu”, jelasnya lagi.

Saera mengangguk paham. Pandangannya kini ia fokuskan pada foto seorang gadis kecil. Ya, gadis kecil itu. Gadis kecil yang selama ini diimpikannya. “Siapa gadis kecil ini?”, tanya Saera kembali.

Waeyo?”, jawab Direktur Kim setelah melihat foto gadis kecil tersebut.

“Dia terlihat tidak asing”, jawab Saera.

“Namanya Lee Nami”, jelas Direktur Kim. Dia terlihat menghela nafas. “Dia tinggal disini sejak berumur dua tahun. Orang tuanya meninggal karena kecelakaan”, lanjutnya setelah membuat jeda lama dengan diam.

Saera masih terdiam. Jadi kepingan ingatan yang muncul beberapa waktu lalu benar. Dia menghela nafas panjang, mencoba menenangkan diri. Dia membuka lembar berikutnya, dia melihat foto gadis kecil itu bersama pria kecil yang juga muncul dalam mimpinya.

“Mereka terlihat dekat”, jelas Saera.

“Iya”, Direktur Kim mengangguk membenarkan. “Awalnya Chanyeol memang selalu menyendiri. Dia tidak ingin mengenal maupun dekat dengan siapapun. Tapi karena kegigihan Nami mendekatinya, mereka akhirnya menjadi teman baik”, jelas Direktur Kim kembali.

Saera ikut mengangguk karena paham. Dia kembali membuka lembar berikutnya. “Lalu, dimana Lee Nami sekarang?”, tanya Saera ragu. Dia ingin lebih memastikannya.

“Dia diadopsi. Dan kecelakaan dalam perjalannya pindah ke Seoul. Mayatnya belum ditemukan hingga sekarang. Aku tak yakin, apa dia masih hidup atau tidak”, jelas Direktur Kim kembali.

Saera terdiam. Mimpi yang dialaminya benar. “Mereka memiliki nama keluarga Go?”, tanya Saera kembali.

“Iya”, jawab Direktur Kim refleks.

Saera memejamkan matanya sebentar. Sekarang semuanya sudah jelas. Gadis kecil bernama Lee Nami memanglah dirinya.

“Tapi bagaimana anda bisa tahu?”.

Saera terdiam. Dia masih mencoba menenangkan dirinya. Ini sungguh mengejukan. Perasaannya sedikit terguncang.

“Saera, bagaimana?”, tanya Baekhyun yang baru hadir. Dia ikut duduk di samping Saera. Dia mengambil album foto tersebut. “Saera, bukankah ini kau”, jelas Baaekhyun yang melihat foto gadis kecil tersebut.

Direktur Kim mengangkat alisnya tak paham. “Maksud dokter Byun?”.

“Ini foto masa kecilnya Saera. Aku pernah cerikan jika kami berteman dari kecil”, jelas Baekhyun diselingi senyuman. Dia kembali membuka lembar demi lembar album tersebut.

Direktur Kim terdiam. Masih mencoba memahami apa yang dikatakan Baekhyun.

Sedang Saera, mulai merasakan sakit dikepalanya. Ingatan-ingatan kecil mulai muncul di kepalanya.

“Tapi bagaimana bisa fotomu ada disini?”, tanya Baekhyun ragu. Dia menoleh ke arah Saera.

Saera masih diam. Pandangannya kini mengabur. Kilatan-kilatan kecil dari ingatan masa kecilnya perlahan mulai muncul. Memenuhi kepalanya. Membuatnya merasakan sakit yang lebih. Dia memegang kepalanya.

“Saera kau baik-baik saja?”, tanya Baekhyun. Dia mengguncang pelan tubuh Saera karena dia hanya diam.

“Kepalamu sakit?”, tanyanya lagi.

Flash back

“Mikky”, ucap gadis kecil tersebut.

“Kenapa kau memanggilku seperti itu?”, tanya pria kecil yang duduk di sampingnya.

“Mulai sekarang aku akan memanggilmu dengan nama itu”, jelas gadis kecil itu kembali.

“Waeyo?”, tanya pria kecil itu penasaran.

“Karena aku kesulitan saat menyebutkan namamu”.

“Baiklah. Aku juga akan membuat nama panggilan khusus untukmu. Minnie, aku akan memanggilmu dengan nama itu mulai sekarang”.

Mereka sama-sama tersenyum setelahnya.

Flash back end

Baekhyun memegang kedua sisi bahu Saera. Mengguncangnya dengan keras. Mencoba menyadarkan sahabatnya yang hanya terdiam. Berkali-kali dia memanggil nama sahabatnya tersebut. Namun tampaknya gadis itu masih belum fokus. “Saera, kau bisa dengar aku. Saera jawab. Saera sadarlah. Han Saera”.

Saera mendengar suara Baekhyun. Dia memejamkan matanya sebentar. “Iya”, jawabnya setelah membuka mata.

“Kau baik-baik saja?”, tanya Baekhyun kembali. Dia menghentikan guncangannya. Melepas genggaman tangannya.

Saera mengangguk. Mengalihkan pandangannya pada Baekhyun. mencoba meyakinkannya jika dia memang baik-baik saja. Meski sebenarnya dia belum paham dengan apa yang baru saja terlintas dalam fikirannya.

“Minum ini”, Baekhyun memberikan segelas air pada Saera.

Saera menerimanya dengan senang hati. Tangannya terulur meminum air tersebut.

“Anda baik-baik saja dokter Han. Anda terlihat pucat”, ucap Direktur Kim.

“Iya. Aku baik”, jelas Saera. Dia meletakkan gelasnya.

“Kau kenapa? Kepalamu sakit lagi!”, tanya Baekhyun lagi. Dia tak dapat menyembunyikan raut khawatir di wajahnya.

Saera terdiam. Dia masih mencoba mengumpulkan kepingan ingatan masa kecilnya di tempat tersebut.

“Kita pulang ke Seoul ya. Aku akan memeriksa keadaanmu disana?”, jelas Baekhyun. Dia berniat berdiri, namun ditahan oleh Saera.

Saera menggeleng.

Waeyo?”, tanya Baekhyun.

“Baekhyun-ah”, ucap Saera lirih, namun masih dapat didengar oelh Baekhyun.

“Ada apa?”.

“Aku mengingatnya. Aku mengingat semuanya”, jelas Saera.

“Apa maksudmu?”, tanya Baekhyun yang tak paham. Dia mengangkat alisnya. Menatap Saera tajam. “Ingatanmu kembali?”, ucap Baekhyun menyimpulkan.

Saera mengangguk. “Emmmh”.

Baekhyun membuang lega nafasnya. “Syukurlah!”, ucapnya. Dia mengenggam tangan Saera. “Jadi, kau siapa?”.

Saera tersenyum. “Namaku……”, ada jeda panjang sebelum Saera melanjutkan kalimatnya. “…. Lee Nami”.

Ye~”, direktur Kim yang mendengarnya sedikit terkejut. “Benarkah!”, tanyanya kemudian. Dia masih meragukan pengakuan Saera.

“Iya. Ini aku, Nami. Xiumin oppa”, jawab Saera diselingi senyum khasnya.

“Kau memang benar. Hanya satu orang yang memanggilku seperti itu. Nami”, jelas Direktur Kim.

***

Di halaman belakang Love House, terlihat seorang pria tengah menggali tanah di bawah pohon. Dia menemukan kotak yang disimpannya selama ini.

“Aku menemukannya”, ucapnya.

Dia membuka kotak tersebut. Semua barang yang disembunyikannya masih tersimpan utuh disana. Dia tersenyum melihatnya. Mendudukan dirinya di bangku taman setelahnya.

Sementara itu Baekhyun dan Saera kini berpamitan akan kembali ke Seoul, setelah beramah tamah dan mengobrol beberapa hal perihal ingatan Saera yang telah kembali.

“Kami pamit dulu Direktur Kim”, ucap Baekhyun. dia juga menunduk memberi salam pada pria itu.

“Iya, hati-hati dokter Byun. Terima kasih banyak atas kunjungannya”, jelas Direktur Kim. “Sering-seringlah datang kemari”, ucap Direktur Kim kembali, namun kali ini ia tujukan pada Saera.

“Iya, pasti. Jika ada waktu luang aku pasti akan kemari. Annyeong Xiumin oppa”, pamit Saera.

“Hati-hati di jalan”, ucap Direktur Kim.

Mereka memberi salam sebelum meinggalkan Direktur Kim. Sebari berjalan menuju mobilnya Saera mengobrol ringan dengan Baekhyun. Saera kadang tersenyum mendengar penuturan Baekhyun.

Setelah mendudukan dirinya di kursi penumpang, Saera teringat sesuatu. “Baekhyun, sebentar ya”, ucapnya sebelum menuruni mobil.

“Kau mau kemana?”, tanya Baekhyun yang sudah memasang sabuk pengamannya.

“Ada barang yang harus aku ambil. Aku ingat telah menguburnya di halaman belakang. Tunggu sebentar”, jawab Saera. Dia berjalan meninggalkan mobil.

Baekhyun yang melihat hal itu hanya membuang pasrah nafasnya. Dia melepas kembali sabuk pengamannya. Membuka pintu mobil, menyusul kepergian Saera.

Saera menghentikan langkahnya kala melihat seorang pria tengah berdiri di bawah pohon. Pria itu tak menyadari keberadaannya, karena memang dia berdiri membelakangi Saera. Saera membeku melihatnya. Tangannya mengepal kuat.

Pria itu berbalik. Ada raut kaget saat melihat keberadaan Saera. Untuk sesaat mereka saling terdiam. Hanya saling menatap. Tanpa berucap.

Seulas senyum tercetak di wajah tampan pria itu. Dia menunduk memberi salam pada Saera. “Annyeong haseyo, dokter Han”, ucap pria itu kemudian.

Saera hampir menangis. Pandangannya mulai mengabur karena menahan air mata. Dia berjalan mendekati pria itu secepat yang dia bisa. tangannya terulur memeluk pinggang pria itu.

Pria itu membeku. Dia masih terlihat kaget dengan apa yang Saera lakukan padanya. Kotak besi yang bibawanya jatuh begitu saja ke tanah.

Mianhaeyo. Jeongmal mianhaeyo”, ucap Saera. Dia terisak. Sekarang dia sudah tak dapat membendung air matanya. “Maaf karena baru mengingatmu, Mikky”, ucapnya lagi disela isakannya.

Pria itu kembali tersenyum. Dia mendengar suara Saera meski lirih. Tangannya terulur mengusap surai panjang Saera. “Gwenchanayo. Ini bukan salahmu, Minnie. Syukurlah, ingatanmu sudah kembali”.

Baekhyun menghentikan langkahnya. Dia tersenyum miring melihat hal itu. “Kalian akhirnya bertemu”.

to be continue…..

Hai, saya kembali setelah sekian lama.

Terima kasih sudah membaca.

Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya…….

4 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] PROMISE (약속) – (Chapter 15)”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s