Le Dernier Arret [Chapter 7-End]

LDA

Le Dernier Arret

Minseok / Sehun / Reen / Runa

AU / lil!Comedy / Fantasy / Friendship / Romance / Sad / Teen

anneandreas & l18hee

We own the plot and OC

.

.

Hanya manusia kolot yang tidak sadar jika vampir benar-benar ada di sekitar mereka

.

⇓ PREVIOUS ⇓

Teaser – Chapter 1 – Chapter 2 Chapter 3 Side Story 1 “Ahn Chi” [1/2] – Side Story 1 “Ahn Chi” [2/2]Chapter 4 Chapter 5 – Chapter 6

.

= Chapter 7 (End) =

.

.

Rasanya seperti déjà vu, tapi dalam ketegori buruk. Runa tidak suka ingatan tentang ini; perpaduan ruang sidang dengan sang kawan. Ruangannya masih sama, memberi efek yang bisa membuat bulu kudukmu berdiri tiba-tiba. Apalagi ditambah dengan cahaya temaram yang ada. Tidak ada kaca jendela, karena―yah, vampir tidak suka cahaya matahari. Kendati ada serum yang biasanya mereka suntikkan ke pembuluh nadi untuk melindungi kulit dari sinar matahari―SPA, tapi bukankah lebih baik jika melakukan aktivitas bebas tanpa perlu bersusah menggunakannya? Beberapa menyebutnya sebagai usaha menghemat.

Jadi semua yang ada di kantor pusat hampir seluruhnya tidak menggunakan SPA, termasuk seluruh kepala yang kini berada di ruang sidang.

Sehun memandang Minseok dengan keadaan fisik yang sama persis layaknya sekian belas tahun ke belakang. Yang bebeda selain pakaiannya adalah kehadiran satu lagi vampir di kursi dakwaan. Itu Reen, dan Sehun tahu mata Runa tertuju padanya.

Sang lelaki menatap gambaran wajah Runa dari samping. Gadis itu mengerutkan alis, bibirnya terlipat seperti digigit dari dalam secara diam-diam. Lantas Sehun menyenggol lengan si gadis.

“Bernapaslah.”

Yang didapat malah tepukan kesal di paha. Runa menatap sebal pada lelaki di sampingnya. Untuk mengucapkan sesuatu dirinya masih tak sampai. Jadi yang ia lakukan hanya kembali menghadap muka seraya menaikkan kaki ke kursi untuk dipeluk, wajahnya tertekuk begitu jelek. Lagi, Sehun menghela napas. “Jangan menggigit bibirmu.”

Runa bergeming.

“Runa,” tangan Sehun terulur untuk menepuk pelan pucuk kepala gadis tersebut, “jangan gigit bibirmu, nanti berdarah.”

“Sehun!” Akhirnya suara Runa terdengar, ditatapnya tajam si pemilik tangan yang masih menekan kepalanya. Dia baru akan mengenyahkan tangan Sehun saat lelaki ini berucap, “Kau akan membuat semua makin khawatir. Tenanglah sedikit, semua akan baik-baik saja.”

“Bohong.” Tak lagi menolak tepukan Sehun yang mulai terasa menenangkan, Runa bergumam kecil penuh penekanan, “Seberapa keras pun aku menyusun banyak kemungkinan, semua berakhir dengan tidak baik-baik saja!” Sehun tahu persis ia tak bisa menampis ini, maka yang dilakukannya hanya mengembus napas panjang, “Maaf karena tidak berhasil membuat dirimu tenang.”

“Jangan mulai membuatku merasa bersalah padamu juga.” Runa menyerah pada egonya, lantas dikungkungnya telapak tangan Sehun dalam genggaman. “Apa pun hukuman yang ayahmu berikan, jangan merasa bersalah, Oh Sehun. Itu bukan salahmu,” lanjutnya tanpa menatap si lawan bicara. Pandangannya justru tertuju pada beberapa orang yang mulai menempatkan diri di kursinya masing-masing.

Sekarang giliran Sehun yang bergeming. Dia tak bisa mengucapkan hal lain lagi, sudah terlanjur beku lidahnya kala mendengar tutur kata Runa yang terlampau pas padanya. Sungguh, Sehun merasa ada beberapa beban yang diangkat dari pundaknya saat ucapan dari sang gadis menguar. Karena, yah, bagaimanapun juga yang sedang mengambil alih penuh sidang kali ini lagi-lagi adalah sang ayah.

Kemudian sidang dimulai dalam suasana yang begitu hening.

Dakwaan yang dituduhkan tanpa cacat langsung dibenarkan oleh Minseok. Semua berjalan terlalu cepat. Tidak ada sanggahan atau debat berkepanjangan yang Sehun suka dari sebuah sidang. Termasuk bagian penghapusan memori secara diam-diam oleh kaum vampir terhadap Chanyeol dan Junmyeon tentang kejadian yang terjadi di taman belakang sekolah kemarin. Ini kelewat lancar. Minseok, dengan wajah yakin yang tak pernah luput darinya, menyuguh tatap tenang tatkala hukumannya dibacakan.

“… adalah pemberian hukuman Ahn Chi selama 60 tahun.”

Reen hampir pingsan jika saja ia tak melihat Minseok menguatkannya lewat tatapan sejenis aku baik-baik saja. Gadis itu masih mencoba meredam gemetar dengan menggenggam tangannya sendiri. Secara teknis dia sama sekali tidak bersalah karena berusaha membela diri. Namun karena dianggap lalai berkat beberapa manusia yang hanya curiga padanya, tetap saja ia mendapat masalah tentang itu. Para hakim setuju Reen tidak bersalah, akan tetapi mereka menganggap sang gadis perlu diberi penanganan khusus untuk menghindari trauma yang lebih dalam terhadap segala hal mengenai manusia.

Saat mendengar penjelasan panjang dari hakim mengenai permasalahan Reen, mulailah Minseok gelisah dalam diamnya. Dia sudah terlalu banyak pengetahuan kalau hanya sekadar untuk tahu apa-apa saja yang harusnya dilakukan untuk mengobati trauma pada kaum vampir. Kemudian kemungkinan terburuk itu terjadi secara beruntun.

“… memutuskan bahwa Reen Do akan melakukan regenerasi memori. Semua memori sampai satu hari seusai sidang berhak untuk dihilangkan…”

“Tidak! Kenapa harus semua memorinya?!” Minseok bangkit, sebelum dia sempat melakukan apa pun dua orang petugas sudah menahan lengannya. “Kalian hanya perlu menghapus bagian manusianya!”

“Hukuman akan dilakukan satu hari setelah sidang ditutup. Kedua vampir yang terlibat akan ditempatkan di sel isolasi untuk sementara waktu. Tidak diperkenankan untuk bertemu.” Pembacaan penutup lumayan tenggelam oleh suara lantang Minseok, “Dia korbannya! Kenapa kalian menjatuhkan hukuman berat?!”

Suasana sidang memanas berkat Minseok yang tak dapat menahan diri. Sedang Reen hanya dapat memandang sang kekasih dalam diam. Dia tidak mau melakukan ini, tapi entah kenapa ada satu sudut hatinya yang ingin melihat Minseok lebih lama. Otaknya sudah kosong, tak ada sedikit pun hal yang melintas di dalamnya.

Reen hanya ingin melihat Minseok lebih lama. Menyimpan rapat-rapat segala memori yang kemungkinan besar akan hilang dalam beberapa jam ke depan. Dia tidak suka ini, bahkan benci sampai ingin menangis sejadi-jadinya. Hingga akhirnya ia bisa merasakan seseorang meraih lengannya, melantunkan kata bahwa dirinya harus segera meninggalkan ruang sidang. Reen tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Dia cuma memandang ruang sidang yang ricuh dalam diam. Minseok yang masih memberontak dan terus berseru dengan segala vokal yang dipunya, dua petugas yang mencoba menenangkannya, beberapa hakim yang masih membacakan tetek-bengek keputusan akhir disertai alasan dan dasar hukum yang jelas, dan Sehun yang panik akibat baru sadar jika Runa sudah hilang kesadaran.

“Syukurlah hal mengerikan seperti ini tidak akan kuingat.”

Segaris air mata jatuh dari kelopak mata Reen sebelum ia benar-benar keluar dari tempat sidang.

.

.

.

Kesadaran yang pulih dengan perlahan membawa pandangan Runa lebih fokus ketimbang di saat ia pertama kali membuka mata usai pingsan. Dia tahu ini pertama kalinya ia sampai begini. Mungkin karena terlalu tertekan dan khawatir berlebihan, ditambah ia tidak sempat minum darah beberapa waktu yang lalu. Maka dari itulah yang pertama Sehun ulurkan padanya adalah segelas darah. Tanpa ucapan, sang gadis menghabiskan makanannya.

“Tadi aku bicara pada ibumu dan ayahku.” Sehun membuka suara. Dia sudah melakukan segala yang dibisa. “Reen dan Minseok, mereka akan sulit dikunjungi sampai pelaksanaan hukuman. Ada beberapa pemeriksaan lagi yang harus dilakukan. Aku sudah berusaha membujuk, sungguh. Tapi kita tidak bisa tidak mengikuti prosedur,” ia menarik napas. “Kita hanya bisa menemui mereka besok, sebelum hukuman diberlakukan. Lebih tepatnya saat mengantar mereka ke ruang hukuman.”

Runa tahu Sehun sudah melakukan apa pun yang bisa lelaki itu lakukan. Jadi gadis tersebut menangis dalam diam, menutupi seluruh wajahnya dengan telapak tangan dan sesenggukan. “Kenapa harus seperti ini?” ia berujar sendiri di sela isak tangis.

Di sisi lain, Reen sudah mulai merasakan gelisahnya meningkat kuat. Tinggal menghitung jam saja hingga ia dapat megosongkan kotak memori yang ada di otak. Barangkali setelah itu ia akan menjalani kehidupan vampir biasa di kantor pusat atau kantor cabang lain sebagai pribadi yang baru. Bertemu, berteman, mengobrol, dan bahkan jatuh cinta pada orang baru. Ah, tidak, bagaimanapun juga kehilangan memori bukan hal yang bagus untuknya. Segala hal yang telah digoreskan Tuhan untuknya sampai sekon ini adalah sebuah keberuntungan tersendiri, kendati tak semua manis ia cicipi. Kenangan yang terikat dalam memori otaknya bukan hanya perihal trauma terhadap manusia, namun ada jutaan kejadian bahagia. Bertemu Runa dan menjalin tali pertemanan ala vampir wanita, menggoda Sehun sampai lelaki itu marah karena terlampau malu, kemudian … bertemu Minseok. Kim Minseok. Segala hal tentang pemilik nama tersebut kepalang berefek bagi setiap jengkal nadinya. Dari mulai bertemu sampai sekarang.

Oh, apakah berlebihan? Kalau kau bilang iya, coba tukar posisi dengan gadis yang segala jenis ingatannya akan hilang dalam hitungan jam ini. Rasakan sendiri.

Reen ingin lari, jelas. Namun jikalau bekalnya hanya sebuah keberanian, menjebol sel isolasi bukan perkara yang dapat ia selesaikan dengan mudah. Anggaplah Reen putus asa, karena nyatanya memang tak ada celah untuk menghindar.

Kecuali …

Tunggu sebentar, sepertinya ide dengan persentase keberhasilan kecil yang baru saja terpikir bukan hal yang buruk untuk dicoba esok hari. Yang perlu Reen lakukan cuma bersiap dan mengendalikan diri sebaik mungkin sampai di mana saat itu tiba.

Dia akan lari, ke mana pun, bagaimanapun caranya ia akan menghilang.

-0-

Ada banyak hal yang ingin Runa utarakan saat bertemu Reen, namun kala berjumpa dengan sang karib yang ada malah bisu menyapa.

“Padahal aku ingin memintamu untuk tidak menangis. Tapi aku melakukannya lebih dulu.” Reen tersenyum pias, membuat air matanya menetes. Dia terkekeh pelan dan mengangguk, “Tidak apa-apa. Tidak apa-apa.” Dan Runa cuma menggeleng, “Aku tidak mau begini.” Lalu tangannya digandeng sang karib, seiring dengan petugas yang meminta mereka untuk mulai melangkah.

Di lain sisi Sehun hanya memandang punggung kedua gadis tersebut dalam diam. Otaknya sudah buntu memikirkan segala cara. Tindakan kabur dari kantor pusat yang teramat ketat hanya akan membawa hal lebih buruk. Tapi itu satu-satunya cara yang bisa dicoba. Sehun tahu ia nekat jika benar-benar melakukannya. Rencananya ia akan melumpuhkan kedua petugas yang mengiring Reen ke ruang hukuman, kemudian membuat dua gadis itu keluar kawasan kantor sebelum kembali mengurus Minseok. Tidak tahu bagaimana caranya, pokoknya Sehun―

“Ada tahanan kabur.” Salah seorang petugas yang bersama mereka mendadak memberi informasi pada kawan kerjanya. Sekian detik kemudian petugas berseragam hitam berhenti di depan mereka, “Tahanan Ahn Chi yang akan dihukum hari ini kabur ke lapangan, salah satu dari kalian ikut aku!” Sementara petugas yang tersisa hanya satu, Reen bisa merasakan seluruh kulit tubuhnya merinding. Sehun sudah lebih dulu berlari mengikuti dua petugas berseragam hitam yang pergi.

“Kim Minseok.” Reen berbisik takut, ia merasakan lengannya makin digenggam kuat, dipaksa berjalan lagi. “Kim Minseok!” hampir menjerit, kakinya sudah gemetaran. “Dia tidak pakai SPA!”

Runa sadar dengan cepat apa alasan Sehun langsung berlari. “Tidak…” Dia belum menyelesaikan kalimat saat sadar Reen sudah ditarik paksa oleh petugas. Runa bingung setengah mati, dia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. “Kumohon, jangan sekarang!” dia berusaha tak melepas genggaman tangannya pada Reen, tak mengindahkan tarik-menarik yang tengah ia lakukan dengan petugas pengantar. Namun apa daya tenaga seorang vampir muda dibandingkan dengan petugas yang sudah dilatih bertahun-tahun? Yang ada malah Runa ikut terseret. Pada akhirnya ia hanya bisa mengerahkan seluruh tenaga untuk mengejar Reen yang ditarik lebih cepat.

“Tolong, sebentar saja,” bisik permohonan yang Reen udarakan tak hinggap di indera pendengar petugas. “Aku harus memegang tangannya, dia bisa jatuh,” lanjutnya tak memedulikan kakinya yang sesekali tersandung. Mereka sudah memasuki lorong terakhir menuju ruang hukuman. Reen masih saja terus dibawa. “Sebentar saja, aku juga harus memastikan Minseok Oppa baik-baik saja.” Rungunya bisa mendengar Runa meneriakkan namanya saat pintu ruang hukuman ditutup. Vampir itu sudah ditahan di depan pintu kaca oleh petugas lain.

“Sungguh, hanya sebentar, sampai kabar Kim Minseok baik-baik saja tiba. Aku tidak bertemu tidak apa-apa, aku hanya butuh kabarnya, Demi Tuhan,” permohonan Reen tak digubris. Bagaimanapun juga hukuman tetaplah hukuman. Sulit melanggar waktu disiplin yang sudah biasa berputar di dunia vampir. “Kumohon, kumohon, kumohon,” Reen tidak bisa begini, rasa sakit di hatinya makin menganga karenanya.

Dan gelengan petugas yang membawanya mampu memicu Reen kembali terisak. Sudah tidak ada jalan lagi. Wanita berjas putih sudah masuk ke ruangan diikuti beberapa yang lain. Reen dibaringkan paksa di sebuah kursi, dipegangi kuat-kuat. Dua sisi pelipisnya ditempeli sesuatu yang memberi hawa super dingin sampai meresap ke kulit. Reen tahu, dalam hitungan berpuluh detik atau kurang, ia sudah mati. Memorinya hilang, bukankah itu sama saja dengan memberi sapa pada akhir kehidupan?

Matanya ditutup sesuatu yang tipis dan punya hawa seperti alat di pelipis, namun air matanya masih ada. “Aku sudah mati,” bisiknya putus asa. Beberapa bagian tubuhnya sudah merasa dingin. Dia ingin meronta, tapi barang bergerak menelengkan kepala pun sudah susah. “Aku benar-benar sudah mati,” ucapnya berulang. Sebuah cahaya yang datang secepat kilat memakan pandangannya, menenggelamkan seluruh tubuh dalam dingin yang menyakitkan. Reen tahu ia berteriak, tapi anehnya tak setitik suarapun ditangkap otaknya.

Semuanya hanya dingin.

Dan kemudian hening.

Melihat Reen tak bergerak usai menjerit keras, Runa sudah sepenuhnya tak punya harapan. Ia meringsut di lantai, menyandarkan punggung ke pintu kaca dan menggenggam lututnya sendiri. Memejamkan mata untuk membiarkan air matanya mengalir tanpa jeda. Kelopak matanya baru terbuka saat bau Sehun tercium kuat. Lelaki itu tengah memandangnya pias.

“Kim Minseok…” rasanya berat, namun Sehun tahu Runa sudah mengerti. Maka, ia mengubah tatanan kalimatnya, “Kita diizinkan membawa debunya.”

Runa memejamkan mata lagi dan mengangguk dalam isaknya.

.

.

.

-0-

.

.

.

“Sudah sampai.” Runa menyuguh senyum, menatap Reen yang berdiri di sampingnya. Di belakang mereka ada Sehun mengikuti. Manik lelaki ini beralih pada Reen, “Mau duduk?” yang ditanya menoleh sebentar, lalu memandang sofa.

Langkah Reen mulai tercipta, “Jadi, ini tempat tinggalku dahulu?” Usai pembenaran Sehun, gadis itu berucap lagi, “Untuk apa kalian mengajakku kemari? Bukankah hanya Kwon Runa yang bertugas di luar kantor? Tak ada hubungannya denganku, bukan?” Dia tak mencoba membuat tatapan, memilih berjalan menyusuri setiap ruangan, meninggalkan Sehun serta Runa di ruang depan.

“Aku tahu ini tidak akan berhasil.” Ada gumpalan teriak kesal karena nyeri di hati yang ingin Runa muntahkan. Namun cepat-cepat ditiupnya udara sebelum menghindar dari genggaman tangan Sehun, “Sebentar saja, biarkan aku sendiri.”

“Mau ke mana?” tanya Sehun, kecewa akibat niat menenangkannya ditolak.

“Pura-pura beli kopi,” jawaban Runa menguap seiring dengan sosoknya yang menghilang di balik pintu. Giliran Sehun yang mendengus. Seperti dugaan, membawa Reen yang baru pulih benar ke apartemen tak akan memiliki ending yang bagus. Baru saja dirinya berniat menjatuhkan bokong di sofa, sosok Reen muncul kembali.

“Kau pacarku?”

Rahang Sehun rasa-rasanya mau meluncur dari tempatnya. Dia menunjuk dadanya sendiri, “Aku?” Hening dua detik dan buru-buru ia meralat, kepalanya menggeleng-geleng cepat, “Bukan. Kau―”

“Berarti ada vampir lelaki lain yang bersama kita.”

“Hm?” Lagi, Sehun lekas memutar otak. “Apa kau melihat sesuatu?” Sejemang pertanyaan tersebut menimbulkan tatapan tajam dari pihak Reen. Awalnya Sehun kira akan ada debat lain, namun gadis tersebut malah melengos pergi.

Sementara Sehun melongo tak mengerti, Reen dengan cepat sampai di depan cermin, tepatnya di kamar. Dipandanginnya lama bayangan diri di sana.

“Jadi, benar. Tidak tahu apa yang terjadi, tapi orang itu punya peran besar di hidupku sebelumnya.”

Dalam pikirannya, terdapat sebuah gambaran Runa dan Sehun yang tengah berduka beberapa hari yang lalu. Kedua orang itu baru menerima sebuah guci kecil berwarna kelabu, sekelabu raut wajah mereka. Kemudian, seperti yang terjadi di hari yang lalu kala lidahnya mengucap nama yang tertera di guci, Reen merasakan gores air mata di pipinya.

“Kim Minseok.”

Reen menangis, tapi tak tahu penyebabnya. Hanya saja terasa sakit di ulu hati. “Siapa pun kau, mungkin ada baiknya aku melupakanmu.”

Gadis itu terus memandang pantulan sosok menyedihkan di kaca, menangis sampai dada sesak tanpa tahu alasannya.

.

.

Runa tidak langsung pulang usai membeli kopi. Ia malah menyandarkan siku ke tepi jembatan kecil tak jauh dari kompleks apartemennya.

“Setidaknya, setiap orang akan mendapat satu kisah cinta manis di hidupnya. Bisa Kau memberi satu lagi untuk temanku, Tuhan?” Senyumnya sedih, mengingat saat-saat dirinya dan Sehun menebarkan sedikit bagian debu Minseok di halaman kantor pusat. “Aku akan menyukuri segala yang kupunya sekarang. Termasuk Oh Sehun, tentu saja.”

.

.

Sehun memijit pelipisnya usai mendesah lelah. Mengucap doa agar setidaknya Minseok bahagia jika lelaki itu diberi kesempatan untuk hidup kembali di lain hari.

“Aku akan merawat debumu … hyung.” Senyumnya mengembang kecil. Ternyata dunia masih sama kunonya. Diskriminasi terhadap rasnya tak akan pernah hilang tanpa korban.

Tapi tercipta sebagai vampir, bukan awal yang akan Sehun kutuk sampai mulutnya berbusa.

“Sampai kapan kita di sini?” suara Reen menginterupsi hening. Tepat detik selanjutnya pintu depan terbuka dan memunculkan sosok Runa, “Pulang, yuk! Ayah sudah menelepon.”

Hangat menjalar ke tubuh Reen, dia tersenyum tipis.

Reen Do, lebih suka saat langkahnya berada di sekitar kantor pusat, terutama di halamannya. Tanpa beban. Tanpa pikiran. Tanpa rasa menyakitkan. Dan―oh! Dia juga suka tiupan angin yang membisikkan namanya di sana. Seperti sebuah rindu yang bertebaran di mana-mana.

.

.

.

End.

.anne’s notes.

8 Juni 2016 sampai 2 Maret 2018
Dari seorang gadis pemuja Kim Minseok sampai jadi seorang istri yang sekarang sedang menunggu kelahiran dedek mungil yang pas kemarin di USG katanya mirip Seulgi /plak.
Dari seorang fangirl yang setiap keluar PO Album EXO langsung pesen sampai jadi seorang calon ibu yang berkata “Dari pada ikutan PO Universe, mendingan beli kantong tidur bentuk hiu biar bisa ngepost ‘baby shark dudududu’ di instagram.”
Dari seorang author yang FanFicnya absurd semua sampai jadi… yah masih jadi author yang FanFicnya absurd semua sih. Wakwak.
AKHIRNYA LE DERNIER ARRET TAMAT. YEAAAYYY!!!

Seneng tapi ada sedih-sedihnya gitu.
Semua komentar yang masuk dari Teaser, semuanya dibaca dan membawa kebahagiaan tersendiri yang rasanya jadi bikin semangat untuk terus menulis. Walaupun efek hamil ini rasanya mager banget buat ngapa-ngapain sih.

Doakan aku secepatnya bisa menulis lagi ya!!

Terakhir kumau mengucapkan terimakasih untuk semua pembaca, yang udah baca dari awal, dari teraser terus lanjut ke chapter-chapter yang awalnya sih lancar, lalu ngadat sebentar lalu jalan lagi lalu libur sepanjang jalan kenangan lalu kami datang lagi membawa dua chapter yang tersisa.
TERIMA KASIH!!!

.

.nida’s notes.

Monggo yang mau mengumpati karena dua chap terakhir ini lama banget munculnya HAHA.

Gengs, segala sesuatu kadang gak berjalan lurus banget kek target ya wkwk Semua kendala dari teaser awal sampai ending chapter ini akhirnya bisa kami lewati wkwk /ea berasa apa ae lu ah/

TAPI GENGS SERIOUSLY KUSENANG INI RAMPUNG, TAPI SEDIH JUGA MENYADARI BAHWA DD KANGEN VAMPIR VAMPIRAN PLZ :’)

Yang masih lupa-lupa tentang cerita sebelumnya (lebih tepatnya chapter 5, dan lebih tepatnya lagi satu setengah taun yang lalu WAKAKA BUSET WKWK baru sadar aku kalok udah lama hiatus ni ff) bisa baca ulang kok gaes. Kalok mau, gak maksa kok yaampun jangan masukin ke ati /lu aj nid/

BTW Kak Nean lagi hamil nich, mau punya dd bayiiii. Doakan lancar ya sodara-sodara sekalian. Terus Nida masih jomblo aja nich, doakan cepet taken sama pangeran berkuda putih ya gengs (apasih ini, gaguna bgt si nida :v) (abaikan)

Terus… MAKASIH JUGA BUAT KALIAN SAYANG-SAYANGKU SEKALIAN!! Semua huruf di komentar kalian bikin kusenang kok, serius. Makasih udah baca, makasih udah kasih dukungan, makasih banget pokoknya. Jangan kapok baca karya-karya kami yak ❤ Tetep sayang sama EXO yak ❤ Terima kasih banyak semua ❤ lafyu! Pan kapan kalok kesambet entar pingin bawa pampir lagi, tapi yang lebih ganas /lho lho

Oh ya! Hampir lupa dd. Jadi, ini cuma ngingetin ajasih wkwk Masalah judul. Judulnya kan bikin lidah belepotan tuh, nah ada artinya wkwk (iyalah ege :’)) Le Dernier Arret diambil dari gugel translate, bahasa Prancis, artinya perhentian terakhir. Jadi mengacu ke pilihan Minseok buat akhir hidupnya, dia mutusin buat hmmm bunuh diri dengan ngebiarin dirinya kena sinar matahari tanpa SPA. Tragis, emang :’) Ini konsep udah dari awal LDA ditulis, jadi gak ada sangkut pautnya sama kejadian apa pun ya kawan, catet. Perhentian terakhir ini aslinya bukan terakhir-terakhir banget, apalagi buat Reen yang notabene kek memulai hidup baru. Yaa, gitu deh intinya. Kami bikin fiksi ini dengan banyak imajinasi, pertimbangan, dan ide-ide yang muncul tiba-tiba wkwk Makasih banyak udah ngehargain fiksi ini ya. Kami seneng bagi-bagi tulisan begini jadinya wkwk Semoga ini bukan fiksi terakhir kolaborasi aku sama Kak Nean! ❤

Sayang kalyad :3

*ceritanya abis baca Notesnya Nida, Anne mau nambah /plak*

Iya, jadi begitu sodarah-sodarah yang bingung sama arti Le Dernier Arret dan kenapa kami akhirnya memutuskan memakai judul itu ketimbang ‘Vampir Collab’ (iya, di folder judul FFnya bukan LDA tapi Vampir Collab WAKWAKWAK). Udah dijelasin sama Nida, ya /plak. Yuk mari berdoa juga supaya Nida ketemu sama pangeran berkuda putih, ihiy. Dan yaah, semoga ini bukan fiksi terakhir kolaborasi aku sama Nida. Laff Laff!!

10 tanggapan untuk “Le Dernier Arret [Chapter 7-End]”

  1. kak ending nya sedih kali.pingin nangis aja bawaannya TT

    Kak sering2 aja buat ff yang fantasy atau cerita tentang saudara gitu,pasti seru kali ^^.

    kak nanti buat ff yang vampir untuk sehun ya kak.pingin lihat sehun jadi vampir yg garang gitu wkwkwkwk
    makasih kak ^^ dan salam kenal ^^

    1. Hehe iya dari awal udah dimantepin buat endingnya sad 🙂
      Waa ini pertama kalinya aku bikin fantasi, itupun kalo gak collab sama Nida mungkin hasilnya gak begini hahaha..
      Noted tapi nggak janji looh, aku lemah banget di genre fantasi..
      Salam kenal jugaa ^^

  2. oh itu toh arti dr jdl ff ni yg French bgt
    sedih.. abu umin disebar di hlmn HO, samar2 Reen bs dngr namanya di tiap hembusan angin di hlmn HO 😥
    moga lncr ya persalinannya anne & moga yg msh pd lajang cpt brtemu dg jdh’ny, amin..
    moga ff2 slnjt’ny smakin kren 🙂

  3. sedih ya ampun.. teringat akan Euntak yang gainget apa2 tapi sedih terus.. sabar ya reen, mari mengingat minseok bersama :’)

  4. keut???
    udahan????
    serius???
    sungguh disayangkan minseok hrs dimatiin, tapi 60th woyyy.. karatan nungguinnya yakk…tapi pengorbanan itu tetap selalu terkenang…
    yaa aku doain buat kehamilannya… semoga baik” saja sampai persalinannya lancar terkendali…
    yang jomblo..aduhh sama” jomblonya, saling mendoakan aja lah..wkwkwkwk
    pokonya tetep semangat buat nulis karya yg lain…

    1. Iyaah keuut.. Wkwk..
      Ini bukan dicepetin karena udah kelamaan dan nyaris basi kok FFnya tapi emang dari awal bikin prolog, kami uda menetapnya ending ngenes yang seperti ini buahahaha..
      Bentar aku mau ngakak dulu ngebayangin vampir karatan wkwkwk..
      Betewe makasih doanyaa, bentar lagi aku melahirkan uye..
      Trimakasih komen dan semangatnyaa, sorry for late response yaaa.. >.<

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s