GAME OVER – Lv. 45 [The Truth] — IRISH

G    A   M   E       O   V   E   R

‘ Baekhyun x Jiho (known as HongJoo) ’

‘ AU x Adventure x Fantasy x Romance x Science Fiction ’

‘ Chapterred x Teenagers ’

‘ prompt from EXO`s — Can`t Bring Me Down & EXO CBX`s — Crush U

Game Level(s):

ForewordPrologue A SidePrologue B Side — [ Level 1Level 10 ] — Tacenda CornerEden’s Nirvana — [ Level 11Level 20 ] — Royal Thrope — [ Level 21Level ??Level 30 ] — Spotlight Effect —  [ Level 31Level 40 ] — My Dimension, My Rules — Level 41Level 42Level 43Level 44 — [PLAYING] Level 45

Welcome the new unkown world

Catatan penulis: level 40 dan seterusnya, merupakan cerita lanjutan dari kesinambungan antara cerita yang ada di level 1 s/d 29 dan flashback yang ada di level 30 s/d 39. Jika Anda mengalami gagal paham selama membaca cerita, sangat disarankan untuk menekan close tab yang ada di perangkat elektronik Anda. Salam sehangat kulit ayam, Irish.

2017 © GAME OVER created by IRISH

♫ ♪ ♫ ♪

Level 45 — The Truth

In Author’s Eyes…

“Apa yang sedang kau lakukan, Baek?” tanya itu menguar dari bibir Seungwan begitu ditemukannya Baekhyun tengah sibuk berkutat dengan keyboardnya sambil sesekali menarik dan mengembuskan nafas panjang.

“Berusaha meretas NPC yang ada di dalam game ini.” sahut Baekhyun tanpa mengalihkan pandangnya. Lantas, Seungwan melangkah mendekati pemuda itu. “Siapa yang hendak kau retas?” tanyanya penasaran.

“Red Hair Witch.”

Sontak Seungwan membulatkan mulut, dia ingat bagaimana tadi Baekhyun sempat meluncurkan belasan protes begitu dia menemukan karakter yang serupa dengan Seungwan tersebut. Padahal Seungwan sendiri tidak tau bagaimana dia bisa berujung menjadi visualisasi dari salah satu karakter di dalam game tersebut.

“Untuk apa kau meretasnya? Kudengar, ini hari terakhir demo version. Artinya, dalam beberapa jam semua player yang ada di dalam game ini akan terbangun—well, yang masih bertahan tentunya—sedangkan semua sistem dalam game akan direset ulang.” tutur Seungwan kemudian.

“Setidaknya aku harus tahu siapa yang menciptakan karakter ini. Tidak bisa kuterima bagaimana dia menciptakan karakter dengan meminjam wajahmu tanpa meminta izin.” kembali Baekhyun menyahut.

“Kau cemburu, ya?” tanya Seungwan iseng-iseng memancing kesabaran si pemuda bermarga Byun tersebut. Baekhyun sendiri hanya melengos. “Tidak, aku penasaran.” jawabnya.

“Baiklah, terserah kau saja kalau begitu. Tapi yang jelas aku pikir kau tidak seharusnya berfokus untuk meretas karakter itu saja, Baek. Masih ada masalah lain yang jauh lebih penting, bukan?

“Kita belum menemukan Sehun di dalam sana. Dan kau belum memberitahuku apapun yang kau dapatkan dari karakter ciptaanmu itu. Sekarang, mau bagaimana? Mereka berencana merestart sistem begitu demo survival mode ini berakhir.”

Segera Baekhyun tersadar, kalau dia sudah membuang beberapa jam waktunya untuk berkutat dengan hal yang kurang penting. Lantas Baekhyun mengalihkan atensinya, menatap Seungwan sebelum dia akhirnya berucap. “Kau benar, aku sudah menomor duakan tujuan utamaku di sini.”

Lega, Seungwan kemudian tersenyum. “Itu baru Baekhyun yang kukenal. Sekarang, bisa aku memberitahumu tentang apa yang sudah kudapatkan di luar sana?” kata Seungwan.

“Tentu, duduklah di sini. Aku akan mendengarkanmu.” sahut Baekhyun.

Seungwan melangkahkan tungkainya mendekati Baekhyun, duduk di sebelah pemuda itu sambil menyusun deret kalimat dalam benaknya. Ia menarik dan mengembuskan nafas panjang sebelum mulai berkelakar.

“Beberapa player yang terbangun sekarang dirawat di rumah sakit perusahaan ini. Mereka ingat beberapa detil yang ada di dalam permainan itu—tapi tidak semuanya, karena kebanyakan dari mereka terluka parah dan bahkan game over di awal permainan.

“Yang lainnya sudah dalam keadaan yang cukup baik, well menurutku mereka sudah baik-baik saja. Tetapi mereka semua belum diperbolehkan pulang dari rumah sakit tersebut. Tidakkah kau merasa ini aneh? Maksudku, mengapa mereka tidak mengizinkan playerplayer tersebut pulang?”

Baekhyun terdiam, tampak berpikir. “Apa alasan mereka tidak membiarkan playerplayer tersebut pulang?” tanyanya dijawab Seungwan dengan sebuah kedikan bahu. “Tidak tahu juga, kurasa mereka beralasan kalau playerplayer tersebut harus pulang saat demo version ini berakhir.”

“Ah, masuk akal juga.” Baekhyun mengangguk-angguk pelan. “Kau tidak punya akses untuk masuk ke dalam rumah sakit itu?” tanyanya lagi.

“Tidak—satu-satunya aksesku hanya Tarin—dia seorang pegawai sambilan di perusahaan ini yang juga bekerja sebagai asisten perawat di rumah sakit itu, player WorldWare juga. Tapi masalahnya, dia masih terjebak di dalam WorldWare saat ini.” Seungwan menjelaskan.

“Apa Tarin yang kau bicarakan ini tahu tentang banyak hal juga?”

Yep, dia mengenal beberapa orang ‘penting’ di sini, dan tahu tentang masalah politik yang ada di dalam WorldWare juga. Kau tahu Baekhyun, kita harus menghentikan reset sistem pada WorldWare.

“Kalau reset itu dilakukan, kita sudah tidak lagi bisa merebut hak cipta atas game ini.” penuturan Seungwan akhirnya berhasil membuat Baekhyun terdiam.

Pemuda itu lantas menarik dan mengembuskan nafas panjang sebelum akhirnya bersuara. “Kau benar, banyak yang harus aku ketahui dari game ini sebelum direset ulang.” ujarnya, dia lemparkan pandang ke arah Seungwan, meski benaknya sekarang tertuju pada karakter hologram yang ada di dalam hologram tube di belakang mereka.

“Kau bisa tinggalkan aku sendiri di sini, Seungwan. Berusahalah mendapatkan informasi mengenai mereka yang ada di rumah sakit. Aku akan melakukan retasan kecil pada battle terakhir yang ada di dalam mode ini.

“Dan juga, kupikir aku perlu bicara secara pribadi dengan seseorang.”

“Seseorang, siapa?” tanya Seungwan tak mengerti. Heran juga kenapa Baekhyun berkata bahwa dia ingin sendirian tetapi dia malah berkeinginan untuk bicara dengan seseorang.

“Ada, sekutu sementaraku.” sahut Baekhyun, dia membalik badan, membelakangi Seugnwan yang sekarang terdiam dengan pandang penuh tanya. Tetapi, Seungwan sendiri tidak tampak berkeinginan mengusik Baekhyun.

Jadi gadis itu hanya mengangguk mengiyakan. “Baiklah, akan kutemui kau begitu final battle dimulai.” ujar Seungwan.

“Terima kasih, Seungwan.” kata Baekhyun.

“Tidak perlu berterima kasih,” Seungwan menjawab, dia kemudian beranjak meski dengan belasan tanya masih mengudara dalam benaknya, Seungwan memutuskan untuk meninggalkan Baekhyun sendirian di dalam ruang sempit pengap tersebut.

Sepeninggal Seungwan, dehaman kecil terdengar dari balik kain hitam yang menutupi hologram tube tersebut.

Well, kau tidak ingin bertanya padaku? Kalian mungkin tidak tahu, jika reset dilakukan pada WorldWare, bukan hanya hak ciptamu yang melayang, tetapi juga ingatan yang kau inginkan dariku. “

Seolah memahami kebingungan yang membuat Baekhyun terdiam, Invisible Black yang ada di balik tirai tersebut justru menguarkan kelakar yang membuat Baekhyun sadar tentang banyaknya informasi yang ditelan Invisible Black tanpa mau dia bagi dengan Baekhyun.

“Apa maksudmu?” tanya Baekhyun tanpa berkeinginan untuk membuka tirai tersebut.

“Permainan ini akan dimulai dari nol lagi, Byun. Semua karakter NPC di dalamnya akan kehilangan ingatan. Dan sudah seharusnya kau mencegah hal itu terjadi—bukan karena aku tidak ingin kehilangan memoriku, karena sebenarnya kaulah yang dirugikan jika ingatanku menghilang—tapi, karena ada hal lain yang tidak kau ketahui tentang permainan ini.” mendengar ucapan Invisible Black, akhirnya Baekhyun menyerah.

Tangan kanan pemuda itu bergerak menarik tirai yang menutupi hologram tube tersebut, lantas dia biarkan pandangnya bertemu dengan manik kelam Invisible Black yang sekarang menatapnya dengan sebuah senyum di wajah.

“Mereka berusaha memperjual-belikan permainan ini dengan negara.”

Tawa sarkatis lolos dari bibir Baekhyun sebagai sahutannya. “Jangan bercanda, kau pikir negara kita akan peduli pada permainan semacam ini?” tanya Baekhyun dijawab Invisible Black dengan senyum lainnya.

“Kau benar-benar tidak tahu, rupanya…” Invisible Black pura-pura menghela nafas panjang, memberi simpati atas ketidak tahuan yang dialami Baekhyun saat ini. “…, Atau kau sebenarnya pura-pura tidak tahu? Kau sudah menciptakan sebuah alat pembunuhan massal, Byun. Playerplayer yang ada di rumah sakit, mereka yang cedera karena mode survival game ini, tidakkah kau merasa keadaan mereka begitu aneh?

“Mereka bisa terluka secara nyata hanya karena sebuah game—haruskah aku mengatakannya secara terang-terangan? Kau sudah membunuh empat orang, Byun. Empat orang player yang selama beberapa hari ini terjebak di dalam survival mode, mereka terbunuh oleh NPC yang ada di dalam WorldWare.

“Bisa kau bayangkan apa yang akan terjadi pada negara ini jika permainanmu jatuh ke tangan yang salah? Mereka bisa menggunakan WorldWare sebagai mesin pembunuh massal. Dari informasi yang kudapatkan di dalam game—aku yakin kau kenal orang ini, karena dia juga salah seorang programmer WorldWare—game ini akan dijual pada negara.

“Sudah jelas, apa yang akan terjadi selanjutnya Byun. Mereka akan menggunakan WorldWare sebagai mesin pembunuh. Karena mereka bisa membunuh seseorang di dalam tidur mereka, hanya dengan mengetahui ID seseorang dan menghubungkan permainan ini ke alam bawah sadar mereka.”

Penuturan Invisible Black sekarang berhasil membuat Baekhyun tersentak. Ingatannya sontak berputar kembali pada masa-masa yang begitu ingin dia lupakan. Masa ketika dia terkurung di dalam ruang sempit dan dipaksa untuk menciptakan deretan program yang ‘hidup’ dan bagaimana Baekhyun akhirnya berusaha melepaskan diri dari rantaian politik-militer tersebut sebab dia dipaksa untuk mengakhiri hidup rekan-rekannya.

Baekhyun ingat, dia tak ingin mengulang kesalahan yang sama lagi. Tetapi, kenapa dia sekarang justru berujung menciptakan sesuatu yang sama lagi? Menciptakan mesin pembunuh dengan karakter berbasis program yang jumlahnya tak hanya satu, tetapi puluhan.

Ya, semua karakter NPC dalam WorldWare berpotensi menjadi pembunuh, bukan?

“Apa kau tidak ingat, Byun? Alasan yang membuatmu memutuskan untuk memberi nama game ini Rule The World daripada WorldWare?” pertanyaan yang lagi-lagi menguar dari bibir Invisible Black lantas membuat Baekhyun mengerjap cepat, tersadar.

“Ya… tentu aku ingat.” Baekhyun tersenyum tipis, “…, Apa kau juga mengingatnya? Saat itu, ketika aku memutuskan untuk menamainya Rule The World?” dia balik bertanya pada karakter ciptaannya tersebut.

“Dua nama yang kau inginkan saat itu, Rule The World, dan WorldWare. Keduanya memiliki arti serupa, tapi makna berbeda.” Invisible Black berkata, mengenang kembali bagian dari mosaik ingatan Baekhyun yang ada di dalam dirinya.

“Dengan Rule The World, kau ingin mengendalikan dunia ini. Rule The World adalah permainan di mana setiap player di dalamnya bebas untuk mengatur dunia mereka sendiri, menciptakan dunia yang mereka inginkan.

“Tetapi WorldWare… adalah singkatan dari world aware—dunia yang sadar akan eksistensi tak nyata mereka—bukan?” kembali Invisible Black berkelakar.

“Ya, tidak kusangka mereka mencuri nama WorldWare dariku, dan benar-benar membuat sebuah dunia fiktif di mana semua karakter fiktif tersebut sadar akan keberadaan tidak nyata mereka—termasuk kau juga.” sahut Baekhyun.

Invisible Black terdiam sejenak, sebelum dia lantas tersenyum muram.

“Kau sudah berhasil menciptakannya, Byun. Rule The World, maupun WorldWare, kau sudah berhasil memaknainya dalam permainan ini. Kau telah menciptakan dunia bagi karakter-karakter tak nyata yang bisa hidup bebas, berpikir mandiri, dan mengendalikan dunia mereka sendiri.

“Sayang, kau bukan satu-satunya orang yang menyadari dunia ke-dua ini. Sialnya lagi, dunia yang kau ciptakan dengan tujuan baik… malah hendak mereka gunakan untuk membunuh satu sama lain.” Invisible Black kali ini menghela nafas panjang, benar-benar merasa tak nyaman pada fakta yang menanti di depan sana.

Jika reset benar-benar terjadi pada WorldWare saat dirinya masih berada di dalam sistem dan bukannya kembali pada benak Baekhyun, Invisible Black juga akan jadi salah satu mesin pembunuh.

Dia tidak ingin begitu, dia tak ingin melukai siapapun sebab nurani yang telah Baekhyun bagikan padanya melalui mosaik memori telah mengubah karakter Invisible Black sepenuhnya. Dari seorang villain keji yang membawa command sebagai pembunuh berdarah dingin, menjadi seorang pembunuh yang membalut diri dalam aksi heroik.

“Kita harus menghentikannya, Black.” akhirnya Baekhyun berucap. Sebuah senyum kecil lantas muncul di wajah Invisible Black. “Kalau begitu, apa kau mendengarkan rencanaku sekarang? Aku tahu semuanya, Byun. Dan dengan rencanaku, kita mungkin bisa menghentikan reset yang mereka rencanakan.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Gila! Berapa lama kau mengawasi WorldWare sebelum memutuskan untuk masuk dan bermain di dalamnya?” ujar Taehyung, dia melangkah ke dekat Sehun, memerhatikan satu persatu rekaman virtual yang ada di monitor Sehun sementara pemuda bermarga Oh itu memamerkan senyum bangga yang sama.

“Ini yang sejak tadi aku bicarakan. Rencana pertamaku sudah gagal. Karena ada kalian berdua sebagai partner, sekarang saatnya aku beraksi dengan Plan B.”

Bukannya Taehyung meragukan pengetahuan yang dikuasai oleh Sehun, tapi saat ini mereka tidak berada dalam situasi yang cukup nyaman untuk saling bekerja sama dengan gamblang. Well, bagaimana tidak? Ketiganya kabur secara diam-diam dari rumah sakit.

“Tidakkah kau pikir kita akan dicari oleh mereka di rumah sakit?” tanya Ashley mewakili pemikiran Taehyung barusan. “Mereka memang akan mencari kita, ada atau tidak ada kita di sana. Sebenarnya, mereka justru tidak diperbolehkan untuk membiarkan salah satu dari kita untuk pergi dari rumah sakit.

“Aku pikir, kita akan jadi sumber informasi yang berusaha mereka sembunyikan, atau mereka manfaatkan. NG Company benar-benar licik, merawat semua orang yang sudah terluka karena kegagalan sistem game mereka, lalu berusaha menutupi fakta yang ada.” Sehun berkelakar santai, jemarinya sekarang sibuk di atas keyboard.

Sementara itu Ashley dan Taehyung mendengarkan dalam diam, tanpa sadar ingatan keduanya sama-sama terlempar kembali pada satu mosaik samar yang masih dapat mereka ingat dengan jelas.

Konversasi macam ini pernah mereka alami.

Hey, aku pikir orang-orang yang terluka itu bukan bagian dari kegagalan sistem.” kata Taehyung kemudian. “Taehyung benar. Royal Thrope—kau kenal dia, bukan?—adalah salah satu programmer pengembang WorldWare, ternyata. Kami semua tahu darinya, tentang apa yang sebenarnya terjadi pada WorldWare.” Ashley menambahkan.

Dahi Sehun sekarang berkerut. Dia tahu siapa Royal Thrope, dia hanya tidak mengetahui kalau leader yang seringkali terlibat dalam rencana curangnya untuk melibatkan diri pada Invisible Black—yang dalam pengetahuan Sehun merupakan karakter dengan ingatan Baekhyun terjebak di dalamnya—itu merupakan bagian dari tim pengembang game ini.

“Apa yang sedang kalian berdua bicarakan? Sejauh apa kalian tahu tentang game ini?” pertanyaan Sehun itu kemudian berhasil membuat ketiganya sedikit lebih terbuka satu sama lain. Taehyung mulai berkelakar tentang apa saja yang sudah mereka lakukan untuk bertahan di dalam WorldWare.

Tidak melupakan bagian di mana White House ikut terlibat dalam menambah kekacauan tentu saja. Ashley sendiri mengulang kembali konversasi berat yang pernah dibuka oleh Royal Thrope, mengenai WorldWare yang hendak dijual pada negara sebagai mesin pembunuh.

Setengah jam berselang, Sehun rupanya sudah bisa menata mosaik-mosaik kecil yang Taehyung dan Ashley berikan kepadanya. Dia mengerti kini, alasan yang membuat Baekhyun tak bisa hidup dalam ingatan karakternya. Alasan yang membuat semua karakter NPC di dalam WorldWare tampak begitu hidup dan nyata.

Semuanya berujung pada ulah sang pencipta prototype itu sendiri: Baekhyun. Namun, berhubung Sehun sendiri tidak tahu di mana keberadaan Baekhyun sekarang, dia tidak bisa berbuat banyak.

Satu-satunya yang bisa dia lakukan hanyalah bersikap sama terbukanya seperti dua orang koleganya sekarang; menceritakan apa yang dia ketahui.

Well, sebenarnya… WorldWare adalah sebuah game curian.” tatapan Taehyung dan Ashley sontak membulat begitu didengarnya Sehun berkata seperti itu.

“Curian? Maksudmu… game ini adalah ciptaan orang lain tetapi hak ciptanya direbut secara paksa oleh NG Soft?” tanya Taehyung memperjelas informasi yang baru saja diterimanya dengan tiba-tiba tersebut.

“Iya, penciptanya adalah saudara tiriku, Byun Baekhyun. Yang kalian kenal dalam karakter Invisible Black di dalam WorldWare. Tapi, Invisible Black bukan saudaraku, dia hanya satu dari sekian banyak karakter yang diciptakan saudaraku di dalam game tersebut.” pelan-pelan Sehun menuturkan.

Tetapi dua pendengarnya terlihat tidak mengerti. “Sebentar, jadi maksudmu… Invisible Black benar-benar ada? Tidak, bukan ada—lebih tepatnya, dia adalah karakter yang diciptakan berdasarkan keadaan fisik seseorang yang benar-benar ada?” tanya Ashley memberanikan diri.

“Ya.” jawab Sehun mantap. “Dan kau sudah tahu tentang hal ini sejak awal?” tanya Taehyung, dia ingat benar bagaimana White Tiger adalah salah seorang player yang sering membuat masalah dengan Invisible Black.

Sekarang, mendengar penjelasan santai si pemuda yang bersembunyi di balik ID White Tiger itu tentu saja membuatnya bertanya-tanya.

“Aku sudah tahu. Semuanya, sejak awal. Sebelum WorldWare dirilis, permainan ini bernama Rule The World, yang diajukan oleh saudara tiriku pada NG Soft, dan berujung direbut secara paksa. Saudaraku kehilangan pekerjaan dan hak miliknya atas Rule The World.

“Belakangan, dia sendiri yang tahu jika ada yang salah pada WorldWare. Dia menemuiku, empat tahun yang lalu, meminta bantuanku untuk mengungkap apa yang terjadi di dalam NG Soft sebenarnya, dia bahkan melibatkan dirinya sendiri secara langsung.

“Saudaraku, masuk ke dalam WorldWare secara ilegal melalui karakter Invisible Black yang dia ciptakan. Saat itu, kupikir dia berhasil. Tapi ternyata dia gagal, dia justru terkurung dalam kesadaran Invisible Black, dan sampai saat ini belum kembali.” Sehun menghentikan penjelasannya, dia biarkan lawan bicaranya mencerna informasi tersebut satu demi satu.

“Jadi maksudmu… alasan yang membuat Royal Thrope sama sekali tidak mengenal Invisible Black sebagai karakter NPC di dalam WorldWare itu, karena Invisible Black masuk secara ilegal ke dalam WorldWare? Karena dia adalah bagian dari rencana saudaramu, begitu?” Taehyung dengan cepat bisa menyusun mosaik tersebut dalam benaknya.

Dia paham benar pemikiran sesama penggila cyber seperti ini, tidak seperti Ashley yang mengedepankan rasionalitas, mudah bagi Taehyung untuk memasukkan hal tak masuk akal—tentang bagaimana Baekhyun dapat memasukkan ingatannya dalam ingatan sebuah karakter fiksi—dalam nalarnya.

“Benar, itu maksudku. Itu juga rencana A yang kumaksud pada kalian. Aku dan saudaraku, Baekhyun, telah sama-sama gagal memecahkan masalah yang ada di dalam WorldWare. Nyatanya, masalah yang ada di sini tidak sesimpel yang kami pikirkan.

“Sekembalinya aku di sini, tidak kutemukan satupun orang yang aku kenal. Baekhyun, atau dua rekanku yang lain. Aku tidak yakin, apa mereka masih menjalankan rencana kami atau malah sudah menciptakan rencana lainnya.

“Tapi, kalian berdua adalah partnerku saat ini, jadi bagaimana kalau kita sama-sama berusaha untuk mendapatkan informasi tentang WorldWare dari NG Soft sendiri?” tawaran Sehun sekarang terdengar menggiurkan sekaligus mematikan.

Melihat dari bagaimana selama empat tahun ini Sehun tidak mendapatkan apa-apa dan malah berujung pada kehilangan semua rekannya, Taehyung dan Ashley tahu, melibatkan diri pada masalah ini bisa saja berujung pada sesuatu yang fatal.

Tetapi membayangkan apa yang akan terjadi di kemudian hari juga sama tidak menyenangkannya bagi kedua orang itu.

“Aku ikut. Aku punya akses ke dalam NG Soft karena ayahku juga menjalankan perusahaan game serupa dengan NG Soft.” Taehyung dengan berani angkat bicara, memutuskan untuk melibatkan diri di dalam rencana gila yang bahkan belum diutarakan Sehun.

Ashley sendiri ragu-ragu, dia tidak ingin terlalu jauh melibatkan diri pada masalah yang tidak dipahaminya, tapi dia tahu Taehyung ingin terlibat, dan sahabatnya bahkan masih terjebak di dalam game yang mungkin saja berujung mematikan ini.

“Aku ikut. Aku ingin membuat perhitungan dengan saudara tirimu juga.” kata Ashley, ucapannya malah membuat Sehun menyernyit bingung. “Membuat perhitungan dengan Baekhyun, untuk apa?” tanyanya.

Ashley terdiam sejenak, ingatannya sekarang berputar pada Jiho dan keadaan menyedihkan yang sudah menjebak sahabatnya tersebut. Sejak Ashley tahu kalau Jiho menjadi pair dari seorang NPC yang ada di dalam WorldWare, dia sudah merasa kasihan pada sahabatnya.

Sekarang, mengetahui bahwa pencipta karakter NPC tersebut benar-benar bisa ditemuinya, Ashley justru merasa dongkol.

“Aku ingin tahu, apa motivasinya menciptakan Invisible Black dan membuat Jiho-ku terjebak dalam dilema tak masuk akal.” Sehun adalah orang pertama yang tergelak saat mendengar ucapan Ashley.

Dia paham benar apa yang tengah gadis Kim itu bicarakan. Song Jiho yang terjebak dalam cinta virtual, Sehun juga tahu itu.

“Baiklah, kau bisa bebas membuat perhitungan dengannya. Aku sendiri juga tidak mengerti, bagaimana karakter yang serupa dengannya itu bisa begitu hidup dan membuat seorang player menaruh hati padanya.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“Tidak, seharusnya kau tidak merasa senang karena menemuiku.”

“Apa maksud ucapanmu?” tanya Jiho, ada rasa curiga yang kental dalam vokalnya, tapi ada juga rasa ingin tahu. Bertahun-tahun dia ada di WorldWare, Jiho tahu benar player satu ini hidup seperti dirinya: tidak aktif dalam kelompok sosial, tidak juga senang terlibat dalam hal-hal konyol.

“Invisible Black.” tatapan Jiho membola saat mendengar nama itu lolos dari bibir Yuta. “…, Sebelum Black Radiant merebut kuasa atas kesadaranku, aku perlu bicara denganmu tentang Invisible Black.”

Jiho tahu dia seharusnya menarik diri ke dalam battle lagi, daripada meladeni kelakar Yuta yang baru ditemuinya—oh, tidak, Jiho pikir dia pernah bertemu dengan Yuta sebelumnya.

“Ada apa dengannya?” pertanyaan itu Jiho utarakan tanpa tahu malu. Meski sekarang dia diam-diam merasa konyol sendiri, lantaran menyadari sepenuhnya tentang keadaan yang sekarang menjebaknya.

Semua orang mungkin sedang membicarakan bagaimana konyolnya Jiho yang menaruh ketertarikan pada seorang NPC, kalau saja Jiho tidak ingat tentang bagaimana sempurnanya Baekhyun, dia mungkin sudah mengumpat pada diri sendiri tentang kekonyolan yang terjadi pada dirinya.

“Kau tidak boleh game over dalam permainan ini.” Yuta berkata, menyadarkan Jiho dari lamunannya. “Aku tidak boleh game over?” ulang Jiho, tidak mengerti. Yuta menjawab dengan anggukan mantap.

Kami semua sudah membicarakannya, termasuk Black Radiant. Menyerang kalian—para player—sudah jadi naluri kami yang diciptakan sebagai villain. Tetapi, kalian tidak boleh game over. Setidaknya satu dari kalian harus bertahan sampai akhir, jika tidak… dunia ini berakhir.” penuturan Yuta berhasil membuat dahi Jiho berkerut bingung.

Tidak salah kalau Yuta menariknya ke sini sekarang, Jiho bahkan dengan jelas bisa mendengar suara battle di belakang sana. Dia yakin benar, Black Radiant sedang membantai habis playerplayer yang berusaha menyerangnya.

“Mengapa begitu? Maksudku, dunia apa yang sedang kau bicarakan?” tanya Jiho menuntut penjelasan secara detil dari lawan bicaranya.

“WorldWare, yang kubicarakan. Jika kalian semua game over dalam mode survival ini, reset otomatis akan terjadi pada sistem game ini, sebab tidak ada satupun player yang bertahan hidup di dalamnya.

“Setelah reset dilakukan, semua level akan terulang dari nol. Game ini akan mulai dari awal lagi, ingatan kami semua akan terhapus, hilang bersama sistem yang direset. Ada kemungkinannya Invisible Black juga akan kembali masuk ke dalam sistem, tetapi… dia tidak akan mengingat apapun.

Kami tidak ingin mengulang semuanya dari awal. Ingatan yang sudah tertanam selama beberapa musim di sini, adalah bagian dari kehidupan kami juga. Itulah sebabnya aku menarikmu ke sini, meski kau tidak terlibat dalam battle… kau harus bertahan hidup sampai akhir.”

Jiho sekarang tersentak. Tidak salah kecurigaannya pada Yuta tentang bagaimana pemuda itu tiba-tiba saja menariknya pergi dari battle yang hendak Jiho hadapi dengan keberanian penuh.

Pemuda itu tidak mau Jiho terlibat dalam battle. Bukan karena alasan Invisible Black seperti yang dia ucapkan untuk mengalihkan perhatian Jiho, tetapi karena dia hendak mengusahakan satu player untuk dipaksa bertahan sampai detik terakhir.

“Tapi, bukankah Black Radiant akan terus memburu semua player yang masih bertahan? Meski aku bersembunyi, dia akan memburuku juga.” Jiho berkata, nalarnya masih bisa bekerja dengan baik, memahami bahaya yang menunggunya sekaligus berusaha mencari jalan keluar paling aman.

Yuta sendiri memahami hal yang sama, dia tahu meminta seorang player untuk bertahan saat player tersebut sebenarnya telah begitu lelah untuk bertahan adalah sesuatu yang salah. Tapi dia tidak punya pilihan lain. Jiho adalah satu-satunya player yang sudah tahu begitu banyak tentang NPC, terlebih, telah melakukan kontak begitu banyak dengan NPC, dan setidaknya dapat mereka percaya.

“Kami akan membantumu. Aku, dan NPC lainnya yang tidak memiliki program sebagai NPC, kami akan membantumu untuk bertahan dari Black Radiant.” Jiho terkesiap. Dia bisa bayangkan bagaimana dirinya dan player lain berjuang dalam satu battle untuk melawan Black Radiant.

Yang tak bisa dia bayangkan, bagaimana jadinya jika NPC yang bertarung melawan sesama NPC? Sungguh konyol dalam bayangan Jiho, membayangkan dirinya akan dilindungi oleh NPC hanya karena para NPC tersebut tidak ingin ingatan mereka dihilangkan saat terjadi reset ketika semua player sudah game over.

“Tidak.” tiba-tiba saja Jiho berkata. “Apa?” Yuta mengulang tak mengerti. “Aku tidak bisa membiarkan kalian saling bertarung. Aku sudah cukup terpukul saat melihat Invisible Black game over. Dan aku tahu… NPC yang telah game over tak akan bisa kembali lagi kecuali dengan sistem reset tersebut.

“Tidak mungkin juga, beberapa NPC diperjuangkan dengan mengorbankan ingatan semua NPC. Katamu, salah satu player harus bertahan sampai mode ini berakhir, bukan? Tanpa memandang siapa player itu… yang jelas harus ada player yang bertahan sampai akhir. Begitu maksudmu?” Jiho dengan hati-hati mengutarakan pemahaman yang ada dalam benaknya saat ini.

Sebagai jawaban, Yuta mengangguk. “Aku dan Seana berencana menyembunyikanmu di Temple, sampai beberapa menit terakhir mode ini. Dalam tiga puluh menit terakhir, Black Radiant akan punya akses koordinat semua player yang tersisa, dan saat itu juga dia akan menyerang tanpa ampun.

“Semua player harus dibunuhnya, itu adalah command seorang villain utama seperti Black Radiant. Tapi sama seperti kami semua, dia juga sebenarnya tidak menginginkan hal semacam ini terjadi. Dia tidak ingin ingatannya direnggut juga. Apa… kau mengerti situasinya?

“Semua villain yang ada di dalam permainan ini… tidak ingin ingatan mereka direnggut, tapi tidak bisa berbuat apa-apa karena membunuh semua player sudah jadi tujuan mereka diciptakan. Mereka tidak bisa melawan, tapi ingin bertahan.”

Lagi-lagi Jiho harus memutar otak dan mencerna tiap kata yang Yuta ucapkan dengan perlahan-lahan. Dia takut dia mungkin akan salah paham terhadap salah satu kalimat yang Yuta ucapkan. Tapi Jiho bisa menangkap garis besarnya.

Villain dalam WorldWare sebenarnya juga tak ingin membunuh siapapun, mereka hanya diharuskan menjadi pembunuh.

“Aku mengerti. Menyembunyikanku di Temple, berarti bahwa di menit terakhir Black Radiant akan menemukanku di sana, sementara kalian para NPC akan berusaha menghentikannya demi membuang waktu dan membiarkanku bertahan sampai akhir, bukan?”

Yuta terdiam sebentar, tapi dia kemudian mengangguk mengiyakan. “Ya, kami sudah membicarakan hal ini sebelumnya. Semua NPC yang ada di tempat ini telah setuju. Termasuk Invisible Black. Dia bahkan membantu kami menyusun rencana.

“Sebab dia tahu, jika NPC di dalam game ini game over karena ulah NPC lainnya, NPC itu akan tersimpan di dalam sistem backup, dan bisa diaktifkan kembali oleh programmer game ini.”

“Baekhyun sudah tahu?” tiba-tiba saja Jiho terkesiap. Jelas dalam pendengarannya sekarang Baekhyun tahu tentang dirinya yang sebenarnya bisa muncul kembali di dalam WorldWare kalau saja dia dibunuh oleh Black Radiant.

Tapi mengapa dia justru meminta Jiho membunuhnya?

“Kenapa Baekhyun—”

“—Dia ingin bunuh diri.” memahami kebingungan Jiho sekarang, Yuta lekas memotong. “Dia tahu dia akan benar-benar lenyap dari game ini jika seorang player membunuhnya. Jadi, dia memintamu untuk mengakhiri kehidupannya. Dia bunuh diri, HongJoo. Sebab dia tahu… dia tidak seharusnya ada di dalam WorldWare.”

Sekarang, Jiho tidak hanya bingung, dia juga kecewa, teramat kecewa pada semua kebohongan rapi yang sudah Baekhyun suguhkan padanya secara sempurna. Dari Yuta, Jiho tahu kalau Baekhyun sudah merencanakan bunuh diri dengan menggunakan tangan Jiho.

NPC itu tahu Jiho menaruh hati padanya, dan bahkan membuai Jiho dalam sketsa romansa begitu sempurna yang sudah membuat Jiho lupa diri, kemudian dia tinggalkan Jiho dalam perpisahan menyakitkan yang ternyata sudah dia rencanakan.

“Lalu… apa maksudmu tentang Baekhyun yang tidak seharusnya ada di dalam WorldWare?” hati-hati Jiho bertanya, takut kalau dia sendiri tidak akan siap mendengar jawaban yang Yuta berikan.

“Invisible Black bukan bagian dari karakter-karakter NPC yang ada di dalam WorldWare. Dia telah dihapus dari sistem, sebelum game ini disebarluaskan. Tetapi, secara tiba-tiba dia kembali. Kami semua tahu, seseorang pasti telah menggunakan Invisible Black sebagai perantara untuk membuka batas antara duniamu dan dunia kami.

“Jadi, kami tidak akan membiarkan batas itu ditutup kembali, HongJoo. Sudah sepantasnya, kalian kembali ke dunia kalian. Dan sudah sepantasnya juga, kami dibiarkan untuk bertahan di dunia kami, tanpa ada orang-orang lain yang mengetahui tentang dunia ini.”

Terdiam adalah hal berikutnya yang bisa Jiho lakukan. Bukan karena dia tidak memahami maksud dari ucapan Yuta. Dia paham benar, semua hal kelewat nyata yang ada di dalam WorldWare bukan sekedar delusinya saja, tetapi semua karakter fiktif dalam permainan ini memang telah benar-benar hidup.

Yuta adalah bagian kecil yang dengan lantang berani menyebut WorldWare sebagai dunianya, kuasanya, tempat dimana seharusnya playerplayer seperti Jiho tidak ada di sana dan mengusik mereka.

Yang tidak bisa Jiho terima adalah keharusannya untuk bertahan. Dia bukan seorang player yang kuat, dan dia juga tak mau membiarkan NPC-NPC hancur hanya karena melawan kawannya sendiri, demi mempertahankan seorang penyusup di dunia mereka; Jiho.

“Biar aku tarik satu kesimpulan, seorang player setidaknya harus bertahan sampai akhir, bukan? Kalau begitu, para NPC tidak perlu ikut campur dan mengorbankan diri, Yuta. Aku dan segelintir player yang tersisa dari battle ini, akan bertahan sampai akhir.

“Kami akan mengakhiri mode survival, membiarkan kalian hidup dalam dunia kalian… tanpa kami harus mengusiknya kembali esok hari. Itu yang kalian inginkan, bukan? Kalian… ingin semua player meninggalkan WorldWare tanpa harus terluka.”

— 계속 —

IRISH’s Fingernotes:

Hallo! Hampir satu bulan kita enggak berjumpa—iya, beberapa hari lagi kan pas satu bulan, wkwk—dan bener-bener maaf, karena aku enggak bisa ngepublish satupun level dari Game Over selama Februari sebab aku amat-sangat disibukkan sama ORI yang menyita separuh waktu aktifku (fyi, saking banyaknya sasaran di sini aku sampe merelakan jam istirahatku di atas jam 19.00 buat berjuang ORI di pondok pesantren, huhu).

Belum lagi sebagai seorang ibu bidan yang secara ilegal masih aja bertahan di dunia fanfiksi, Februari jadi bulan penuh cobaan. Kayaknya tiga hari sekali aku harus ngerujuk pasien ke rumah sakit, ngurusin administrasinya ke Kelurahan, dll, dll. Belum lagi harus kunjungan rumah, harus stand-by 24 jam juga meski ada di rumah.

Jadi aku bener-bener kehabisan energi dan enggak bernafsu buat ngelirik fanfiksi selama Februari ini. Huhu, maafkan daku ya, mianek beneran mianek. Berhubung Maret udah menyambut, laporan bulanan, tahunan dan tugas mengentryku udah selesai… jadi inshaa Allah kita akan bisa berjumpa lagi dua kali seminggu (aku enggak janji dua kali seminggu tapi aku usahain yaa) kecuali di akhir bulan mungkin bakal sedikit molor, soalnya ketemu lagi sama laporan bulanan, wkwk.

Semoga kalian masih inget sama cerita Baek-Black di sini, semoga kalian masih sabar menanti pertemuan dua sejoli beda dunia yang aku sayangi di sini, semoga juga kalian masih berharap mereka bisa bersama meskipun sebenernya enggak bisa.

Lastly, terima kasih banyak buat semua pembaca Game Over yang masih sabar menunggu level-level game over berakhir padahal levelnya abnormal banget sampe 60 (WOI SADAR RISH INI BUKAN AFTERWORD), huhu mianek part dua ya, aku kangen sama kalian soalnya.

Sampai ketemu di level berikutnya! Salam ketjup, Irish.

Ps: LEVEL INI LEVEL DENGAN INFORMASI SUPER BANYAK TENTANG WORLDWARE. BACANYA PELAN-PELAN YA BIAR PAHAM SEPENUHNYA, WKWK. NANTI DI LEVEL BERIKUTNYA ENGGAK AKAN ADA PENJELASAN SERINCI DI SINI LAGI. MWAH.

Pps: jangan lupa tinggalkan jejak kalian atau aku mogok kerja dari Game over deh :’)

kontak saya  Instagram  Wattpad  WordPress

40 tanggapan untuk “GAME OVER – Lv. 45 [The Truth] — IRISH”

  1. Dear Rishnim,

    Sumpah!
    Kangen mantan aja ga sesakit ini /plakk/
    Aku kangen BaekBlack dkk.
    Astagahhㅠㅠ
    Penggemarmu masih nunggu, Cloverdale Citizen masih nunggu hiks.
    Kalo kambek kasih kabar yaaa.
    Biar jadi grandeu kambek 💃
    Smangat Rishnim!
    /ngumpet sesenggukan nunggu lebeul 46 tayang/

    Sincerely,
    Shannon 😢

  2. PUJA KERANG AJAIIIB
    ini update bulan MARET dan aku baru tau bulan AGUSTUS??????????
    OH MY GOOOODDDDDD..
    padahal aku udah sering bukain web ini cuma buat ngecek, tapi malah kelewatan T_T

    OK, ntar aku baca
    Welcome back author tercyintah

    1. OK semakin menegangkan

      Krn udh lama g update emang jd agak2 lupa jg sih kronologinya hehe
      Walopun makin ke sini makin berat critanya, tp justru itu yg bikin nikmat 👍👍👍
      Gak sabar nunggu momen2 mereka battle lg.. 🔥🔥🔥🔥 (kangen juga..)

      Fighting thor!!! Jgn lupa istirahat, relaks, biar g oleng..

  3. Why IB pengen bunuh diri??

    Ps: sebenernya diriku inginnya bae-jiho. Tpi Nurut ajalah sma kak irish (ya ialah kan kak irish autornya, hehe)
    Yg penting game over nya lanjut… kapan Dilanjut kak? Kangen banget nih sama kak irish.

  4. Aku merindukan mu Rish.. Dan aku juga merindukan para player dan NPC terlebih untuk Black-Baek😘😘😘

    Semangat terus di real life dan dunia perfanfiksian Rish😊😊

  5. Bacanya udah lama kak, tapi baru sekarang aku tulis komentar:(, mianhe. Jadi bakal ada battle besar antara NPC(Black Radiant) dan player ya? Terkesan kayak perangnya naruto. Heheh, bercanda kak. Semangat kak!

  6. Where are you kak Irish, d tunggu tunggu kok gak posting posting. Jgn lma lma lah hiatusnya, readers merana smua nihhh…
    Di tunggu comeback nya kak irish..
    hiks hiks…♡♡

  7. Aslinya baca ff dari ka irish yang satu ini tuh bikin dag dig dug serr.. Menegangkan, baper jadi campuraduk :’v
    Kalo bisa nawar pengennya sih baekhyun jadinya sama jiho, tapi kasian seungwan jadi korban perasaan. Deuhh andai andai invisible black nyata, kebayang betapa mempesonanya si cabe 😂

  8. Eh ini tuh Baekhyun dengan berat hati mempertimbangkan buat mempertemukan Black-jiho,karena itu bisa menguak keberadaannya yang nyata di hadapan jiho
    Dan Liv juga sama,nggak mau bilang ke jiho kalau Baekhyun itu bener2ada didunia nyata.EH Sehun nya malah bilang ke Kim bersaudara ..eh tapi gak papa deng,kan itu bisa jadi pintu awal terbukanya jalan perjodohan antara Barkhyun-jiho..

    Salam dariku kak Irish.. 🙂

  9. Daeeebaakkk!! Heoolll!!
    Demi apa aku pusing setelah baca level ini 😂😂 tapi puas banget sumpaahhh..
    Ini tuh kayak yang WOW dan WOAHHH..
    Sampe yg g bisa berkata kata aku tu pokoknya..
    Dahh aku mah bakal yg baper bangeett gitu kalo jadi Jiho, jahat bener itu si Black bunuh dirinyaa..
    Good job kak Irish, di tunggu next levelnya yaa..
    Nungguin moment Black-Jiho lagi nihh.. Kayaknya baekhyun udah mau setuju kan nemuin Black sama Jiho biar ingatannya aman 😂😂😂
    Sa ae yaa si IB ngibulin penciptanyaa..
    Okee see you next level kakak 😘😘
    Fighting~~~

  10. IB-Jiho itu mau ketemu kan? Aku kangen IB-Jiho monent
    Ketemu aja kak kasian jihonya kalo bisa baek-jiho juga ketemu 😀
    Itu ash dendam bat ke baek :v
    Nungguin ni ff tuh kaya nungguin doi yang ga peka2 😤

    Semangat ya ka rish /kecuo basah

  11. Yaaampun dah lama nungguin updet wlopun akunya juga nelat baca 😂
    Cuma penasaran aja sma jiho gimana perasaannya nnti pas liat baekhyun yg real

  12. Daebak..!!! Aku ngerti pokok masalahnya apa, tapi aku pusing sama penjelasannya karna ya menurut aku itu ga masuk akal.. Tapi kayaknya kalo emang dunia ini bakalan ada di dunia nyata, gue ga sanggup ngejalaninnya 😂
    Pokoknya mah keren lah semangat lanjutnya mbarish 😍

  13. akhirnya di post juga..berasa ubanan nunggu game over..wkwkwkw..tapi level ini bener2 rinci serincinya..aku pun jadi dong bgt bacanya..hihi
    tenang rish..aku masih setia nunggu game over darimu kok..
    tetep sehat ya kamu hiar bisa nulis ff lagi..dan juga one and only nya dong..tanggung..kan tinggal beberapa chapter lagi tamat…huhu..
    oke deh rish..
    semangat ya

  14. Ehhh.. kak irish ancaman nya merontokan gigiku. jangan lah mogok mogok kerja kak irish. Ini nih kutinggal ke jejak ku yang super duper abstrak.

    Btw kk, si black itu niat bunuh diri pke jiho. Itu jahat kak irish, jhat bungitsss

    Udah deh. Ckup sekian.
    Jgn lama lama lg ya postingnya, rindu soalnya 🙂 ♡♡

  15. Ga ngerti mau komen apa thor,,, di level ini mozaik nya udah mulai pada timbul tapi mozaik di otak ku malah blur 😩 tapi paham sih walaupun ga 100% paham juga 😣

  16. Satu kata abis baca chapter ini
    …*sigh* pusing…
    Hahhaha penjelasannya sangat banyak dan penting semua..
    Bingung tpi paham/loh/
    Pokoknya rumit tpi seru..greget.. kangen
    Fighting ae wes ya ka rish
    Salam sayang mwah mwaahhh😘😚😚

  17. cie yang sekarang udah jadi rival.. cieeeeeee.. uhuyyyy akhirnya..baekhyun sama invisable black akur juga EAAKKKKK..
    walaupun cuman rival sementara ane udah bahagia kak.bahagianya itu setara kek ketika ngeliat game over up.. bahagia ku itu sederhana kan hehe 😀
    ada kemungkinan ya ini, invisable black bakal ketemu lagi sama jiho di WW, selalu ada kemungkinan.iyakan,iyakan 😀

  18. Uwah…level ini memang penuh dengan kejutan..
    Kira2 apa rencana baek- black ya..penasaran nih ka…lanjut dong oke…
    Gumawo🤗

  19. akhirnya yg ditunggu tunggu pun muncul dan sekalinya muncul bikin jantung dugeun dugeun plus bikin aku jadi mikir. Tapi memang ini yg suka.
    ditunggu next lv.nya kakak..

  20. AKHIRNYA!! ASTAGA GAME OVER UP JUGA!!
    Sumpah aku nunggu ini ga muncul muncul… Ternyata muncuknya lebih cepat dari yang aku duga.
    Di chap ini banyak penjelasan ya. Mantap
    Baru up lsg dikasih penjelasan..
    Semoga worldware ga makan korban lagi dah. Dan juga itu jiho blm keluar jangan sampe jiho mati disana… Kasian black

  21. Yeheeyyy akhirnya kita jumpa lagi sama Game Over,,, bener ini infonya banyak banget Rish,, dan tanda tanya nya jga makin buanyak😂😂😂 Btw itu thehun dan baekhyun kapan ketemunya, udah gak sabar saya, rencana apa lagi yg bakalan mereka buat klau udah ktemu nanti😃😃

  22. Gilaaak. Ini part banyak banget informasinya. Yaaah akhirnya ada yg tau kalau si cabe itu sebenernya asli.
    Si ashley dendam banget gitu sih sama cabe 😂😂😂

  23. Waaahh, akhirnya update 😊
    Makin seruuu kak…
    Akhirnya Black sma Baek bisa kerja sama juga 😂. Ga sabar pengen liat rencana nya mereka..
    Dan hampir semua tokoh disini pnya rencana sendiri”, mulai dri Baek-Black, Sehun-Tae-Ashley, sma Jiho. Penasaran jadinya sma rencana mereka semua, dan semoga rencana mereka semua berhasil, biar Worldware ga jadi di reset ulang 😊.

    Buat kak rish, Semangat terus ya kak 😊.

  24. Yeiiiii akhirnya di up juha ini ff “smart people” wkwkk

    Kangen auuu ama black-byun sumpahhh, jihyo dkk juga dehhh, kak irish juga heheh

    Ini panjang bgt kakk tkhx for long chap.

    Ini chap kebanyakn jelasin ttg game dan bagaimana bisa tercipta dah, dan di chap ini kenalaranku cepat nangkap mudah paham. Wkwk

    Jadi ini nantinya baek-black kerjasama gitu buat nyelidikin worldware aka rule the worldd, suka dahhhh

    Buat kak irishhh semangat teruss buat updetnyaaa, dilancarkan aktifitas real lifenya. Wkwkk

  25. Chapter ini bner” buka semuanya yg jd pertanyaan ku slma ini jd terang seterang wajah Sungwoon.. *eakk
    Mbak Jiho akhirnya krg udah ngerti siapa invisible black ini sbnernya, daku berharap kau bisa legawa mba Jihoku..

  26. apaan hampir sebulan????yang bner itu sebulan 2 minggu!!!iyak aku ngitung tiap minggu tiap jumat tiap hari tiap saat mantengin namamu muncul!!!!!ah sialul….sekalinya apdet bikin palaku puyeng rish…huaaaaaaaaaaaaa
    kalo emang ga bisa bersatu ngapain dipertemuin rish…wae???Wae????wae?????????!!!!!!!!
    kayaknya aku harus baca ulang dari awal biar bisa lebih nerima kalo ujung2nya mereka ga bersatu……sungguh inginku berkata kasaaaarrrrr tapi ga boleeehhh hahahahahahhahaha
    lapyuuuu!!!!!!!!fighting!!!!!!! kecup kecup irish :*

Tinggalkan Balasan ke Lirae_byunners Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s